Jalan raya riuh, kendaraan berlalu lalang Tak satupun dari mereka yang mau mengalah, Suara mesin Saling bersahutan menciptakan kebisingan di pagi hari. Tahun itu Indonesia pertama kali nya memperingati tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional, beberapa daerah menggelar pawai Imlek yang sangat meriah.
Zainal berdiri di trotoar jalan menatap Gerombolan Remaja yang tengah mencari nafkah di lampu merah. Sesekali ia melirik jam tangannya sembari mendengus kesal, Sudah satu jam berlalu dari apa yang di janjikan Syarif melalui Saluran telepon, Zainal mulai kehilangan kesabaran nya.
Sebuah handphone Nokia yang sedang tren pada masa nya berdering keras, Zainal menyambungkan panggilan yang berasal dari Syarif, Mereka berbincang layaknya pebisnis yang sedang menyepakati harga.
Tak lama setelah nya Syarif datang, Pemuda berkulit kuning langsat dengan kumis tipis menyapa Zainal dari atas motor Vespa . Zainal tak menanggapi dan segera naik ke atas motor yang masih berasap.
...***...
"Jek nesu Kowe?" (masih marah kamu) ucap syarif yang mengimbangi jalan Zainal.
"Jare sejam, tibak e sedino Asu," (Katanya sejam, rupanya sehari)
"Yo ora sedino juga Nal"(Ya nggak sehari juga Nal)
Mereka menuju ke sebuah warung kopi di tepian jalan yang tidak terlalu ramai, tempat langganan Syarif sejak awal dia tinggal di kota pelajar ini.
"Wes lah mangan sek ,awak mu iki asline luwe misuh misuh wae ket mau , Aku seng traktir" (udah lah makan dulu, kamu itu sebenernya lapar dari tadi marah terus , Aku yang traktir)
Ia tersenyum merangkul sahabat sedari kecil nya itu, mereka melangkah masuk ke dalam warung yang menyajikan beraneka ragam jajanan tradisional mulai dari goreng gorengan, hingga kue kue yang di kukus terbungkus daun pisang.
Zainal menelisik sekeliling , meskipun hanya warung kecil tempat ini lumayan terjaga kebersihannya.
Mata nya tertuju pada pria yang sedang menyantap nasi goreng di meja paling sudut , ia penasaran dengan perempuan yang duduk berhadapan dengan pria berbadan kekar, Cukup aneh untuk ukuran manusia biasa, ia duduk tegap di seberang sang pria tak bergeming sedikitpun.
Wanita itu memiringkan sedikit kepala nya ke arah Zainal , rambutnya tersibak, Samar zainal menatap si wanita yang wajah nya tertutup rambut gimbal .Satu detik kemudian ia terhenyak melihat Sebelah wajah nya yang Rata tanpa ada nya Bola Mata.
"Jancok "Umpat nya menarik perhatian seluruh orang yang ada di dalam ruangan
"Nyapo Kowe?" syarif terkejut mendengar sahabat nya
Lenyap.
Tidak ada siapapun di sana si wanita telah tiada , sedangkan si pria menatap Zainal dengan senyum menyeramkan.
Si pria kekar menghentikan kegiatannya,nasi yang masih tersisa setengah ia singkirkan kesudut meja persegi. ia melangkah mendekati Zainal yang masih berdiri mematung tidak percaya.
"Kenapa mas? Liat mbak Laras ya?" Tanya si pria yang masih menyeringai
"Laras! Laras siapa?" Tanya Zainal kebingungan
"Yang sampeyan barusan lihat"
Lelaki itu tersenyum seolah olah tau segalanya, ia mengeluarkan sebuah foto usang, seorang wanita cantik yang tengah berpose memeluk anak laki laki berusia tiga tahun.
"Ini mbak Laras ibuk e Sampeyan"
Zainal masih tidak percaya dengan ucapan pria asing tersebut, tidak mungkin kebetulan ia bertemu seseorang yang mengetahui masa lalunya di tempat umum seperti ini, mungkin saja pria asing ini sudah sejak lama menguntit nya.
"Saya tau Semuanya." zainal terpaku mendengar ucapan pria ini.
Sementara itu Syarif yang masih memesan makanan menatap Zainal dari arah meja kasir, Tingkah nya aneh, ia berbicara dengan keras meskipun tak memiliki lawan bicara. Hal ini sering terjadi,itulah mengapa Syarif membiarkan nya apabila Zainal mulai berbicara sendirian lagi.
"Wes siap rung acting e? " (udah siap belum akting nya?)Tanya Syarif Sembari menepuk bahu Zainal
"Acting mata mu kui," Zainal kesal dengan Syarif
"La iku mau lek dudu acting terus opo?"(Lah itu tadi kalo bukan acting terus apa?) tanya Syarif lagi
"Mboh lah cok, luwe aku".
...***...
Di dalam kamar persegi tanpa sekat, Zainal mengingat kembali ucapan orang asing tersebut. Dia sangat mengenal perempuan di dalam foto hitam putih, Wanita yang selama ini dirinya cari.
Tak lama terdengar suara pintu berderit, Tubuh nya enggan berdiri ia mengabaikan pintu yang terbuka sedikit.angin malam masuk, Dingin nan lembut. Zainal terpaksa berdiri , mengkokohkan kaki nya yang masih lelah . Hening.
Kemana perginya Syarif, ia mengamati sekeliling tidak ditemukan keberadaan sahabat nya itu. angin masih berhembus mendorong pintu yang semakin terbuka lebar.
Sesuatu berdiri disana, dibalik pintu kayu yang sudah mengelupas. Sosok bergaun putih lusuh berdiri tegap memperlihatkan wajah tanpa bola mata. Zainal mematung darah nya berdesir tatkala sosok itu mulai menyeringai menampakan barisan barisan gigi nya yang telah habis terkikis nanah .
"Ngopo Cok?"Syarif menepuk punggung Zainal membuat nya tersentak.
"Ndelok awak mu mau seng neng ngarep lawang opo ?"(Kamu lihat tadi yang di depan pintu itu apa?)Tanya Zainal Sembari mengatur nafas nya.
Syarif terdiam memikirkan ucapan teman nya, kepalanya celingak-celinguk mencari sesuatu. sedari tadi tak ada apapun disana hanya halaman gelap dengan pepohonan yang sedang berbunga di depan kamar kost nya.
"Enek mbak mbak mau"
"Melek o wit jambu kae lo"( Buka mata mu pohon jambu itu lo) jawab Syarif kesal
"Tenan rip,neng ngarepe kono mau ngadeg jejeg semene duwur e"(Beneran Syarif, di depan situ tadi berdiri tegak segini tinggi nya) Zainal menunjuk tinggi pintu 2 meter dan berusaha meyakinkan Syarif yang tampak tak percaya.
"Nal.. wes to ra usah kakehan cengkunek"(Nal udah lah gak usah banyak berbual)
"Yo wes lah nek ra percoyo."(ya udah lah kalo nggak percaya) akhirnya Zainal menyerah,mau bagaimana pun di jelaskan syarif memang tidak melihat apa yang dirinya lihat.
"Awak mu lo aneh,ket mau tak celuk i nyauri pun ora"(kamu pun aneh dari tadi Kupanggil panggil jawab pun tidak)
"Nyelok pie, neng kene ora eneng wong blas"(manggil gimana, disini gak ada satupun orang)
"Tenanan lek katarak moto mu kui, wong awak lumah lumah neng andinge iso iso ne ora ketok"(beneran katarak mata mu itu, dari tadi baring baring di samping nya bisa bisa nya nggak nampak)
Zainal terdiam, tidak mungkin ia salah.ruangan ini tadi kosong, tidak ada siapapun disini,bahkan saat sosok di depan pintu itu muncul ia benar-benar sendirian.
Kepalanya sakit memikirkan banyak hal, masa lalu, masa kini, dan masa depan saling berkaitan.Zainal menyerah, berdebat dengan syarif tidak ada gunanya ,ia memilih merebahkan tubuhnya menghindari pertanyaan pertanyaan Syarif yang tak ada pangkal ujung nya.
Sedangkan syarif lebih memilih mencari udara segar di luar kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
kalea rizuky
bahasane kek bahasa Jawa Timur an agak kasar/Facepalm/ kebetulan q jatim jg
2024-11-13
0
Mamake Nayla
aku hadir tor ...paling seneng kalo bca novel
bahasa nya campur bhsa jawa...
2024-11-07
0
Sri Bayoe
nyimak
2023-03-08
0