Menjelang magrib mobil kijang hitam memasuki area kost kost-an, lelaki kekar setinggi +- 170 cm keluar dari dalam nya. Kami yang berada di lantai atas segera turun ke bawah untuk memastikan siapa orang tersebut.
Zainal yang lebih dulu berada di bawah menghampiri orang asing tersebut, entah apa yang terjadi ia segera meluncur kan bogeman kepada orang itu hingga membuat nya tersungkur ke tanah.
Kami segera memisahkan mereka sebelum terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Raut wajah zainal merah padam , entah iblis mana yang tengah merasukinya.
Alingga menengahi, tak lama setelah nya Zainal yang sudah tenang mulai mengutarakan maksudnya.
"Ngopo? Nanggung men mk nggo tangan, Nah parang!" (Kenapa? Nanggung kali cuma pake tangan, nih parang!) ucap Alingga sembari mengeluarkan golok yang ia ambil di bawah tangga.
Zainal terdiam, apapun yang dikatakan Alingga Zainal tak pernah melawan, ia begitu menghormati Alingga.
"Iki wong seng tak ceritakne mau, Seng ndudoh i foto hitam putih " (ini orang yang aku ceritakan tadi, yang ngasih tau foto hitam putih.) ucap Zainal sembari mengendalikan amarahnya.
"Pasti dia tau sesuatu." lanjut Zainal.
Alingga mendengar kan Zainal, ia tak segera mengambil keputusan , menjauhkan kedua orang yang tengah di kuasai amarah. Setelah keduanya bisa di ajak berbicara baru lah Alingga bertanya.
"Mas nya siapa ? mas nya kenal sama temen saya?" tanya Alingga.
"Juhri. Saya kesini bukan untuk mencari masalah, majikan ku yang meminta ku membawa kalian dari tempat ini." jawab si lelaki misterius.
"Siapa majikan mu?" tanya Alingga.
Orang tersebut tak menanggapi, Zainal hampir saja memukul nya Kembali. Alingga mendekati juhri, ia membawanya menjauh, Mereka bercakap-cakap sangat lirih sedikit pun aku tak dapat mendengar nya.
Setelah mereka selesai berbincang Alingga meminta kami berkemas, tak terkecuali mas Yanto dan Doni. Zainal sempat memprotes namun sekali lagi ia hanya menurut saat Alingga sudah mengambil keputusan.
...***...
Hari semakin gelap , matahari telah tenggelam seluruhnya, sebuah mobil kijang melintasi area hutan yang pekat, Rimbunnya pepohonan menghalangi cahaya senja memasuki celah dedaunan .
Kami berenam saling membisu, terutama zainal yang masih kesal dengan keputusan Alingga.
"Kita mau dibawa kemana mas?" tanya ku memecahkan suasana.
"Ke suatu tempat!" ucap Juhri.
"Sampean gak bawa kita buat di tumbal kan bukan?" Tanya ku menyelidiki.
"Huss lambe mu rip, meneng o!" (Huss mulut mu rip, diam aja!) tegur Alingga.
Juhri tiba tiba saja tertawa keras, kami semua heran dengan respon nya yang spontan.
"Njenengan wedi tenan mati, Rogo iki ora ono opo² ne lek wes gak ono nyowo ne. Ra usah kuatir aku muk butuh sukmo mu, karep arep mbok apakno awak mu!" ( kamu sangat takut mati,Raga ini gak ada apa apanya jika sudah tak ada nyawanya. Gak usah khawatir aku cuma butuh sukma mu , terserah mau kamu apakan tubuh mu!) ucap Juhri yang melanjutkan tawa nya.
Amarah Zainal kembali memuncak , Alingga segera menenangkan nya kembali.
"Ngga? ngopo sih awak e dewe kudu melu dek e?" ( Ngga? kenapa sih kita harus ikut dia?) Tanya ku.
"Kalian sudah mengambil uang mereka, jika kalian tidak ikut malam nanti kalian sudah tak bernyawa lagi!" jelas Alingga, mendengar itu membuat Zainal semakin marah.
"Sampean Belum cerita bukan tujuan majikan mu?" tanya Alingga.
"Bukan nya kamu sangat tau tujuan nya!"
"Hubungan nya apa dengan kami, untuk apa melibatkan teman teman ku."
"Aku fikir kamu pintar, sepertinya majikan ku sudah salah menilai mu." ucap juhri.
"Jangan bertele-tele, katakan yang sebenarnya!"
"Kamu fikir kamu siapa berani bernegosiasi dengan kami." bentak juhri
"Tenang, nyawa kalian tidak akan terancam jika menuruti semua permintaan nya." lanjut nya lagi.
"Terakhir. kamu pernah bertemu dengan teman ku?" tanya Alingga.
"Aku selalu mengawasi Kalian!" ucap nya singkat menutup perbincangan kami.
...***...
Sebuah gerbang besar setinggi dua meter berdiri megah di hadapan kami, lampu lampu minyak terpasang sepanjang jalan setapak yang membentang di seberang gerbang. Mobil melaju perlahan melewati sedikit demi sedikit jalan setapak, pemandangan di kanan kiri jalan hanya pepohonan tinggi yang menjulang tertutupi pekat nya malam.
Mobil masih melaju berbelok ke kanan jalan di pertigaan.
Sebuah bangunan megah yang sepenuhnya adalah kayu terpampang di hadapan kami, ukiran ukiran indah tampak di setiap sudut bangunan yang di dominasi warna coklat keemasan.
Kami turun, menenteng bawaan masing masing menuju bangunan tersebut. Namun, juhri menghentikan kami .
"Udu neng kene nggon ne !" ( Bukan disini tempatnya!) Ucap nya.
Kami hanya menurut mengikuti kemana juhri membawa kami.
"Itu bangunan utama , Kalian tidak boleh masuk kesana, jika majikan kan ku mengizinkan baru kalian bisa masuk." jelas juri menjelaskan panjang kali lebar.
"Terserah,aku sudah muak dengan kamu dan majikan mu!" Sindir Zainal.
Aku menahan mulut nya agar tak berbicara Sembarang lagi, apalagi aura dari tempat ini lebih kelam di banding kan kost kost-an , kita harus menjaga sikap meskipun sangat tidak suka.
Juhri mengantarkan kami menuju ke sebuah bangunan yang jaraknya 400 meter dari bangunan utama, sebuah bangunan yang tak kalah unik dari bangunan utama hanya saja tempat ini terlihat lebih biasa dibandingkan kemegahan bangunan utama.
"Kalian bisa tinggal disini , ingat jangan pernah keluar di tengah malam jika tidak ada kepentingan!" ucap Juhri memperingatkan kami.
"Mbak Rina akan menunjukkan kamar kalian." jelas juhri .
Setelah nya datang seorang wanita yang mengenakan jarit dan kebayang putih menghampiri kami, ia memperkenalkan diri sebagai Rina. Tanpa banyak bertanya kami mengikuti kemana ia akan membawa kami, memasuki bangunan kayu melewati lorong lorong gelap lalu berhenti di sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup rapat.
"Ojo metu pas tas sorop nggih mas, ora apik!" (Jangan keluar setelah Magrib ya mas,gak baik!) ucap perempuan itu.
"Mau tengah wengi,saiki bar sorop. Seng bener seng endi iki?" (Tadi tengah malem, sekarang habis Magrib. Yang bener yang mana ini?) tanya ku keheranan.
Perempuan itu hanya tersenyum lalu berlalu meninggalkan kami di dalam satu ruangan yang di beri penerangan lampu minyak.
"Mboh, ora urus!" Ucap zainal menanggapi ucapan ku. kemudian ia segera masuk membawa tas nya yang cukup besar ke dalam kamar yang sangat luas.
Benar kamar ini memang sangat luas, bahkan untuk lima orang seperti kami masih cukup bersisa.
Aku tak banyak berfikir lagi karena masalah yang kami hadapin semakin rumit, setidaknya untuk saat ini aku merasa aman karena Alingga bersama kami, entah apa yang bisa ia lakukan namun perasaan nyaman ini tak pernah berbohong.
Alingga menoleh ke arah ku, ia menatap tanpa ekpresi. Mungkin kah dia tau yang barusan kufikirkan? Semoga saja tidak karena sedari tadi aku selalu menggunjing nya .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
anggita
ok., smoga sukses novelnya.
2022-08-13
1
Machan
satu kamar berlima
2022-06-17
0
Ranran Miura
ku kira Zainal kesurupan beneran 😅
2022-06-17
0