Bab 17:Ruang penyimpanan

Lima orang merunduk bersembunyi dari apapun yang ada di balik pintu, menahan nafas masing masing yang sedari tadi tidak teratur. Suara langkah kaki semakin mendekat, Sepanjang lorong gelap di depan ruangan penyimpanan seorang wanita berkebaya merah berjalan terseok-seok menyeret helaian rambutnya yang menyentuh lantai.

Wanita itu berjalan mendekat, Gondo kembang sayup sayup terdengar beriringan dengan suara gamelan yang mengitari bangunan itu.

Lebet jagat lelembut...Ngampil sedoyo..

Ingkang ratri..

Malam yang semula Sunyi menjadi ramai akan pesta, pesta dari alam sebelah yang tak memiliki batas lagi dengan dunia fana.

Ribuan bayangan hitam berkelebat an di langit malam menutupi seluruh bangunan dengan kegelapan abadi, Suara hewan malam tak lagi berani menggangu ke sakralan ritual nya para pengabdi.

Alingga memejamkan mata merasakan bahaya yang kian mendekat, ia tahu aura hitam begitu kuat hingga ia tak dapat menggunakan kemampuan nya. Semua orang terdiam menanggapi suasana yang teramat mencekam, Lima orang menunduk bersebelahan saling menggenggam ketakutan masing-masing.

Tunggu.

Bukankah yang masuk ke dalam ruangan hanya 4 orang, Syarif menelan liur menyadari orang di sebelahnya bukan lah salah satu dari ketiga teman nya. Ia begitu tenang tidak terdengar suara nafas sedikit pun, Syarif tidak berani melihat, ia tahu yang di sebelahnya mungkin bagian dari pesta ini.

Syarif mencengkeram kuat lengan Alingga, mulutnya terkunci dengan keringat yang sudah mengucur deras, jantung nya berdegub kencang hampir terlepas dari tempat nya.

Alingga sebenarnya tau , namun ia tak bisa berbuat banyak terhadap mahluk tanpa kepala di sebelah syarif. Mahkluk itu sebenarnya tidak berniat mengganggu,ia hanya menyampaikan pesan akan kedatangan nya Tuan mereka.

Itulah mengapa Alingga tak berniat mengusik, tapi berbeda dengan Syarif ia sudah seperti balita yang merengek meminta gula gula, memohon agar Alingga membantu menyingkirkan mahkluk tersebut dari sisi nya.

Alingga mengeluarkan sebuah kembang kantil dari sakunya, entah darimana itu berasal ia mengisyaratkan agar Syarif memberikan bunga tersebut kepada mahluk tanpa kepala. Syarif menurut melirik sedikit menjulurkan tangan nya perlahan, sedikit ia melihat tangan hitam penuh borok meraih kembang yang ada ditelapak tangannya.

Tangan itu masih enggan pergi, secara spontan mencengkeram pergelangan tangan Syarif yang membuat Syarif terpaksa menoleh.

Prank!!

Tiba tiba saja salah satu dari kotak kotak kaca di dinding ruangan terjatuh, mengeluarkan isinya yang kini menggelinding bak bola ke bawah kaki Syarif, kepala itu menyeringai memamerkan kemenangan nya. Bola matanya berputar putar dari wajah busuk yang sudah tak berbentuk, perlahan mulutnya terbuka mengeluarkan cairan kuning kental bercampur putih.

Seolah di sambar petir ia terkejut dengan apa yang dilihatnya, Aliran listrik menyengat merambat di pembuluh darah, penglihatan Syarif menggelap lalu ambruk kehilangan kesadaran.

Tubuh Syarif menimpa Alingga disebelah nya, Alingga menggoyang kan tubuh syarif berkali-kali namun sedikitpun tidak ada respon.

"Cah iki seneng tenan pingsan, nambahin beban wae!" (Anak ini suka kali pingsan, nambahin beban aja!) keluh Alingga lirih.

Alingga menatap mas yanto, ia berbisik kepada mereka berdua.

"Mas sampean weroh dalan ne kan? Gowo nen syarif metu soko kene. Awak e dewe wes salah nggon, tapi ileng ojo sekali sekali noleh lek enek seng nyeluk i, sopo wae bahkan suara ku ojo wani wani ne noleh!" ( Mas kamu tau jalan keluar kan? Bawa Syarif keluar dari sini. Kita udah salah tempat, tapi ingat jangan sekali-kali noleh jika ada yang memanggil, Siapa aja bahkan aku sekalipun jangan pernah berani Menoleh!)

"Ada urusan yang harus kuselesaikan!"lanjut Alingga.

Doni membantu menaikkan Syarif ke punggung mas Yanto, setelah di rasa pas mereka segera pergi melewati pintu kayu lalu menghilang dalam pandangan Alingga.

Doni memimpin di depan, menuntun mereka berdua melewati lorong yang gelap. lorong yang semula tak terlalu panjang kini terlihat seperti puluhan kilometer yang tak memiliki ujung, mas Yanto terengah engah sedari tadi masih belum juga keluar dari bangunan ini, belum lagi ia harus menahan beban diatas punggung nya.

Tenaganya sudah hampir habis, namun lorong lorong ini seperti enggan melepaskan mereka begitu saja, semakin lama semakin menyiut kan nyali mereka.

Suara suara di belakang semakin keras terdengar, Mas yanto hampir saja goyah saat mendengar suara ibunya yang memanggil meminta pertolongan. Ia sadar itu bukan ibunya, ia berusaha mengabaikan dengan air mata yang tak kuat lagi ia tahan.

Bagaimana bisa ia mengabaikan ibunya, Hatinya begitu sakit mendengar suara pilu yang menyayat hati. Namun ia masih ingat dengan pesan Alingga, siapa pun jangan dengarkan ucapan nya.

"Lee.. "

Suara itu masih enggan pergi, mas Yanto berusaha mempercepat langkah kaki nya, namun sialnya sebuah tangan kurus mencengkeram pergelangan kaki nya, membuat langkahnya kian memberat.

Ia berhenti sejenak menarik keras kaki sebelah kanannya, ia berhasil lepas namun tangan itu masih menyangkut di kaki nya. Ia tak memperdulikan hal itu, ia segera berlari menyusul doni yang sudah sedikit jauh.

"Djancok!!" umpat nya

Tentu bukanlah hal yang menyenangkan bila mendapati pergelangan kaki nya tumbuh tangan.

Doni penasaran kenapa mas Yanto begitu berisik di belakang, ia ingin menoleh namun dihentikan oleh mas yanto.

"Wes lurus wae gak usah mbok delok!" (Udah lurus aja gak usah kamu tengok!) ucap mas yanto memperingatkan Doni.

Akhirnya setelah beberapa saat terjebak mereka tiba di aula, namun bukan berarti bahaya telah usai. Mereka harus segera keluar sebelum sosok sosok disudut ruangan menyadari keberadaan mereka, Mas yanto segera berlari menyusul Doni yang sudah lebih dahulu keluar dari pintu.

...***...

Alingga berdiri setelah mereka pergi, Ia berjalan mengikuti arah suara dari tembang yang mengalun pelan, Melewati lorong lorong yang kini sepenuhnya gelap.

Ia melihat sebuah cahaya redup di ujung lorong, tampak seperti setitik harapan dalam keputusasaan. Alingga mempercepat langkahnya, mengabaikan setiap tatapan dari dinding dinding kayu.

Ia tiba di depan sebuah kamar, ia melihat cahaya tersebut berasal dari kamar ini. Alingga mendorong perlahan pintu kayu, Suara berderit mengiring kidung yang sedari tadi menggema di seluruh bangunan.

Alingga menatap ruangan yang terdapat banyak sekali tirai, terdapat pula dipan besar di tengah tengah ruangan. Alingga menatap cermin di samping meja, ia memfokuskan pikiran namun belum sempat Alingga menyadari sebuah kain tipis membelat lehernya erat.

Alingga kehabisan nafas ,ia melirik ke arah cermin, di belakangnya seorang wanita berkebaya merah menatapnya marah dengan wajah yang sangat pucat.

"Lasmi" gumam nya lirih.

Alingga berusaha melepaskan kain yang mencekik leher nya, ia beberapa kali merapal kan doa meminta pertolongan sang pencipta.

Gelak tawa menggelegar dari wanita yang kini setengah melayang.

"Bocah cilik kemendel!!" ( Anak kecil sok berani!) ucap lasmi marah.

"Ilmu mu mung segaler arep nantangin seng ndueni jagat lelembut!" (Ilmu kamu cuma segaris mau menantang yang menguasai Dunia lelembut)

Alingga Hampir mencapai batas, namun ia tetap merapalkan doa doa yang ia pelajari saat dulu berguru dengan mbah ladi. Wanita itu semakin murka, ia memerintahkan Alingga untuk berhenti, namun sedikitpun Alingga tidak goyah.

"Sejatinya.. Kalian sama fana-a nya dengan kami, ada batasan yang tidak boleh di lewati, kembalilah!!" ucap Alingga sembari menahan rasa sakit.

"Ora ono seng iso nutup gerbang segoro!" ( Tidak ada yang bisa menutup gerbang segoro!) ucap mahkluk itu dengan angkuh.

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

lebet jagat lelembut...

2022-08-30

2

Magic Lee

Magic Lee

💪💪

2022-08-14

0

Wherr Latajan

Wherr Latajan

lanjut thor

2022-08-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bolo Laru
2 Bab 2: Bolo Pathi
3 Bab 3:Penghuni baru
4 Bab 4: Sajen
5 Bab 5: Kamar sebelah
6 Bab 6: Piring kenikmatan
7 Bab 7: Gelap
8 Bab 8: Ganjang
9 Bab 9: Mentari bersinar
10 Bab 10: Teman lama
11 Bab 11: Gerbang besar
12 Bab 12: Kemuning
13 Bab 13: Laras
14 Bab 14: Terjebak
15 Bab 15: Omah Dongko
16 Bab 16: Malam Bulan Purnama
17 Bab 17:Ruang penyimpanan
18 bab 18: Kebenaran
19 Bab 19: Dalam pekat
20 Bab 20: Pelarian
21 Bab 21: Masa lalu
22 Bab 22: Ruang tersembunyi
23 Bab 23:Hutan
24 Bab 24:Sisi lain
25 Bab 25: Kota sebelah
26 Bab 26: Kotak misterius
27 Bab 27: Seimbang
28 Bab 28: Lewung
29 Bab 29: Perjalanan ke desa
30 Bab 30: Tamu tak diundang
31 Bab 31: Desa Laweh
32 Bab 32: Jagat lelembut
33 Bab 33: Cahaya terang
34 Bab 34: Kematian
35 Bab 35: Rumah sakit
36 Bab 36: Kampung
37 Bab 37: Gubuk
38 Bab 38: Meminta miliknya
39 Bab 39: Malam hari
40 Bab 40: Pagi yang cerah
41 Bab 44: Bantuan
42 Bab 41: Langit senja
43 Bab 42: Buku tua
44 Bab 43: Penyesalan
45 Bab 45: Hujan Gerimis
46 Bab 46: Ladang jagung
47 Bab 47: Rumah Guru
48 Bab 48: Kembali
49 Bab 49: Tersadar
50 Bab 50: Gadis Kecil
51 Bab 51: Perundingan
52 Bab 52: Hilang
53 Bab 53: Kesepakatan
54 Bab 54: Kosong
55 Bab 55: Gosib
56 Bab 56: Alasan
57 Bab 57: kesepakatan bersama
58 Bab 58: Terjatuh
59 Bab 59: Gudang
60 Bab 60: Peti Mati
61 Bab 61: Hutan Barat
62 Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63 Bab 63: Waktu yang Salah
64 Bab 64: Kembali Lagi
65 Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66 Bab 66: Pantulan Wajah
67 Bab 67: Wanita Itu
68 Bab 68: End
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1: Bolo Laru
2
Bab 2: Bolo Pathi
3
Bab 3:Penghuni baru
4
Bab 4: Sajen
5
Bab 5: Kamar sebelah
6
Bab 6: Piring kenikmatan
7
Bab 7: Gelap
8
Bab 8: Ganjang
9
Bab 9: Mentari bersinar
10
Bab 10: Teman lama
11
Bab 11: Gerbang besar
12
Bab 12: Kemuning
13
Bab 13: Laras
14
Bab 14: Terjebak
15
Bab 15: Omah Dongko
16
Bab 16: Malam Bulan Purnama
17
Bab 17:Ruang penyimpanan
18
bab 18: Kebenaran
19
Bab 19: Dalam pekat
20
Bab 20: Pelarian
21
Bab 21: Masa lalu
22
Bab 22: Ruang tersembunyi
23
Bab 23:Hutan
24
Bab 24:Sisi lain
25
Bab 25: Kota sebelah
26
Bab 26: Kotak misterius
27
Bab 27: Seimbang
28
Bab 28: Lewung
29
Bab 29: Perjalanan ke desa
30
Bab 30: Tamu tak diundang
31
Bab 31: Desa Laweh
32
Bab 32: Jagat lelembut
33
Bab 33: Cahaya terang
34
Bab 34: Kematian
35
Bab 35: Rumah sakit
36
Bab 36: Kampung
37
Bab 37: Gubuk
38
Bab 38: Meminta miliknya
39
Bab 39: Malam hari
40
Bab 40: Pagi yang cerah
41
Bab 44: Bantuan
42
Bab 41: Langit senja
43
Bab 42: Buku tua
44
Bab 43: Penyesalan
45
Bab 45: Hujan Gerimis
46
Bab 46: Ladang jagung
47
Bab 47: Rumah Guru
48
Bab 48: Kembali
49
Bab 49: Tersadar
50
Bab 50: Gadis Kecil
51
Bab 51: Perundingan
52
Bab 52: Hilang
53
Bab 53: Kesepakatan
54
Bab 54: Kosong
55
Bab 55: Gosib
56
Bab 56: Alasan
57
Bab 57: kesepakatan bersama
58
Bab 58: Terjatuh
59
Bab 59: Gudang
60
Bab 60: Peti Mati
61
Bab 61: Hutan Barat
62
Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63
Bab 63: Waktu yang Salah
64
Bab 64: Kembali Lagi
65
Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66
Bab 66: Pantulan Wajah
67
Bab 67: Wanita Itu
68
Bab 68: End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!