Pagi hari matahari terlihat samar, Di kursi bambu di bawah pohon jambu Zainal duduk menikmati secangkir kopi hitam dengan sepiring Ubi rebus buatan nya sendiri, ia menatap kamar Nomor Lima tepat di hadapan nya, ingatannya tergambar jelas setiap bentuk tubuh siwanita ia rekam dalam memori di kepalanya untuk dia putar kembali di kemudian hari.
Secangkir kopi itu ia seruput sampai habis, gelas kosong di singkirkan ke sudut kursi bambu. pandangan nya masih belum teralih kan, bertanya tanya dalam benak nya. Siapa? lalu mengapa?
Syarif menghampiri Zainal di kursi bambu, membawa tumpukan kertas bertinta hitam, tubuh nya masih basah dengan keringat namun keringat keringat itu malah menambah kesan sensual di setiap lekuk tubuhnya.
Zainal masih melamun memikirkan kejadian tadi malam, wanita itu tampak tak asing , namun semakin ia mencari, ingatannya semakin samar.ia tidak percaya bahwa perempuan itu adalah ibunya.
Syarif Menatap heran Zainal, ia sedari tadi melamun menatap pintu kamar miliknya, Syarif yang tak tau akar permasalahannya memberanikan diri bertanya, namun sayang nya tak ada tanggapan dari Zainal, pandangan nya malah kosong tidak merespon kehadiran Syarif di dekatnya.
"Nal?"
Zainal memutar kepalanya menatap Syarif yang masih berusaha menyadarkan, meski sedikit ngeri Syarif tidak menyerah, sekali lagi ia menggoyangkan tubuh Zainal yang Semakin menatap tajam kearah nya
Zainal tersentak linglung sesaat.
"Rai mu kok pucet Nal?"(Wajah mu kok pucat?)
Zainal diam masih tidak merespon, ia pergi meninggalkan Syarif yang masih kebingungan.
...***...
Zainal menelusuri bangunan persegi asrama , melewati lorong lorong pembatas,lalu tiba di bagian belakang bangunan gedung ini. Tak ada tujuan, hanya mengikuti kakinya melangkah hingga berakhir di bawah pohon Beringin yang terlihat sudah sangat tua.
Pohon beringin tidak terawat,daun daun kering menumpuk terendam genangan air, bau amis bercampur aroma lumpur tercium dari tumpukan sampah di dekat pohon, Zainal menutup hidung nya sebab aroma yang sangat mengganggu menciuman nya.
Zainal mendekat , melewati genangan air keruh dan tumpukan sampah, berhenti sejenak menatap sulur sulur pohon beringin yang berantakan.
Aroma kemenyan sangat kuat saat Zainal sudah hampir tiba di bawah nya, diantara batang batang pohon, berjejer sesajen yang sepertinya baru saja di pasang. ia terperangah, siapakah yang memasangnya nya disini?
Di antara jejeran sesajen ada sesuatu yang aneh, Sebuah kain berwarna putih terlipat rapi di letakkan di antara tumpukan bunga tujuh rupa. Zainal mendekat mengamati lebih seksama, lipatan itu diikat dengan daun pandan yang sudah mengering.
Srekk!!
"Ngopo neng kene le?" (Ngapain disini nak?)
Suara asing mengejutkan Zainal, Suaranya serak terdengar seperti orang tua yang sudah usia lanjut.
Zainal celingak-celinguk mencari asal suara tersebut.
Dibawah pohon beringin berseberangan dengan tempat nya berdiri, nampak orang tua tengah berjongkok membersihkan ubi yang masih basah. kulit nya keriput rambutnya banyak beruban, ditatapnya orang tua tersebut lekat lekat , Zainal menghampiri sekedar menyapa atau berbasa basi semata.
"Mbah! kulo ambi rencang kulo nembe mawon pindah kost neng mburi," (mbah!, saya sama temen saya baru saja pindah ke kost di belakang sana,)
"Kulo rewangi nggih mbah!" (Saya bantu ya mbah!)ucap nya lagi.
Zainal menunduk membantu orang tua tersebut membersihkan ubi, meskipun Zainal terkenal ndablek namun dia sangat mengerti unggah ungguh, pantang baginya bertindak tidak sopan terhadap orang yang lebih tua, apalagi bersikap arogan dan meninggikan suaranya.
"Wes ra usah wis rampung iki!" (udah gak usah Udah selesai ini!)
"Mbah ndaleme teng pundi? ben kulo bantu mbeto keranjang e." (Mbah rumah nya dimana?biar saya bantu bawa kan keranjang nya,)
"Cedak kono le, mboten tebih ben mbah beto ki ambk mawon." (Deket situ nak ,gak jauh biar mbah bawa sendiri aja.)
"Mboten nopo nopo mbah kulo bantu, sekalian kulo bade kenalan kalih tiang tiang mriki." (gpp mbah biar saya bantu, sekalian saya mau kenalan sama orang sekitar sini)
"Nggeh mpun nek mekso, ayok nderek mbah wangsul!" (ya udah kalo maksa,ayok ikut mbah ke Rumah)
Zainal mengangkat keranjang rotan yang sudah lapuk di beberapa bagian, ia mengikuti orang tua tersebut melewati perkebunan menuju kejalan setapak di seberang kebun pisang.
Jalan nya harus diperlambat mengimbangi langkah orang tua yang sudah uzur, sesekali ia berhenti mengamati lingkungan sekitar yang masih sangat asri.meskipun ini daerah perkotaan namun kelestarian nya masih terjaga, Perkebunan sangat luas, Sawah, bahkan hutan masih membentang diarea perbatasan.
Tak lama mereka tiba di sebuah rumah kayu, Halaman nya bersih tanpa adanya rumput rumput liar. Zainal meletakkan keranjang rotan di teras rumah dekat dengan tiang penyangga , sedangkan orang tua tersebut segera duduk di kursi kayu di depan teras rumah.
Mbah Slamet menyandar kan tubuh renta nya Kedinding kayu tanpa cat, ia mengatur nafas nya yang tak karuan, maklum sudah bukan usia nya lagi untuk mengerjakan pekerjaan berat .
"Nami kulo slamet, wong kene biasane manggil mbah met mawon." (Nama saya Slamet, orang orang biasanya manggil nya mbh met aja)
"Kulo Zainal mbah!" (Saya Zainal mbah,) Zainal menghampiri mbah Slamet dan duduk di sebelahnya setelah di persilahkan.
"Mau teng wit ringin kulo ningali enten seng masang sajen, sajk e ngge opo nggih mbah?" ( tadi di pohon beringin saya lihat ada yang masang sajen,itu buat apa ya mbah?)
"biasa iku le , wargi sekitar seng ndeleh teng mriku kadose ben seng nunggoni ayem." (Biasa itu, warga sekitar yang taruh disana katanya biar penunggu nya tenang)
"Seng nunggu pripun nggih mbah?" (yang nunggu gimana maksudnya ya mbah?)
"Orang bijak pernah berkata le, terkadang ketidaktahuan adalah emas. dados e mpun nggolek i seng mboten perlu di ngertosi!" (orang bijak pernah berkata nak , terkadang ketidaktahuan adalah emas, jadi jangan mencari tahu sesuatu yang tidak perlu di ketahui!"
Zainal terpaku mendengar penuturan mbah Slamet, benar yang ia katakan ketidaktahuan adalah emas, semakin mencari tahu kita akan semakin tersesat , terlebih lagi sesuatu yang tabu .
Satu masalah nya belum terpecahkan sekarang muncul masalah lain, meskipun bukan masalah nya sepenuhnya tapi sesuatu yang misterius sangat menarik minat nya untuk mencari tahu lebih dalam, dan pada akhirnya dia akan terlibat .
"Pesen e mbah kamu yang hati hati, mbah lihat ada sesuatu yang sangat hitam menunggu kamu. ileng pesan ne mbah yo le,) mbah Slamet memberi wejangan agar Zainal lebih berhati-hati, Zainal hanya manggut-manggut tanda mengerti.
"Nggih mbah." ( iya mbah.)
Zainal sangat yakin bukan hanya kebetulan rentetan kejadian ganjil tersebut muncul ,pasti ada garis yang menghubungkan satu misteri dengan misteri yang lainya.yang perlu ia lakukan sekarang adalah mencari tahu titik hubung tersebut sehingga tanda tanya besar dalam kepala dapat terjawab.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ning Hari Mulyana
Kita hidup dan tinggal di negara Indonesia, banyak keaneka ragaman di dalamnya... termasuk ke-NUSANTARA-annya... 🙂🙂🙂
2022-09-27
2
Kak Ya
kak othor ini wong jowo kah .. bahasa jowo nya manteb thoor👍😁
2022-06-14
1
Magic Lee
dengan kopi Lambada:v
eh, sory kak becanda biar gak tegang
2022-05-20
2