Malam tanpa ujung di kamar persegi yang meremang, Di luar angin ribut mengamuk menghantam pepohonan tinggi, Suara gesekan dahan terdengar jelas dari pohon pohon yang menjulang.
Udara semakin dingin saat butiran butiran air menetes di selingi Guntur yang menggelegar. Syarif meringkuk,ia masih belum mengatakan apapun, tubuh nya bergetar.
"Ngopo awak mu, nggeregesi opo piye?" (kamu kenap, Gak enak badan?) tanya ku
Syarif terdiam menatap ku sangat dalam, bahkan sudah hampir semenit tak sedikit pun melepaskan pandangannya.
"Awak mu kenek opo sih?" ( Kamu kenapa sih?) Tanya ku lagi yang sekarang duduk bersila di hadapan nya.
"Eroh kowe mau seng di omong ne mas Yanto?" (Tau kamu tadi yang di bicarakan mas Yanto?)
Aku menggeleng kan kepala tanda tak tau, Syarif melanjutkan lagi penjelasan nya.
"Ganjang!"
"Hah, Ganjang pie maksud e?" (Hah, Ganjang Gimana maksud kamu?)
" Ganjang Cok!! Awak e dewe iki pakane Ganjang!" (Ganjang!! Kita ini makanan nya Ganjang!) Jelas syarif sedikit mengotot.
Aku berfikir sejenak, perihal ganjang sesuatu yang tampak nya tak asing. aku ingat dulu teman ku Alingga sering menceritakan kisah kisah seram mengenai penguasa kerajaan lelembut, Dan salah satunya mahluk ini.
"Kowe ileng seng mbiyen di ceritakne Lingga?" (Kamu ingat yang dulu di ceritakan lingga?)
"Ganjang kui asline apik, tapi dek ne bakal ngamok lek awak dewe ngganggu omahe." (Ganjang itu aslinya baik,tapi dia akan marah kalau kita menggangu rumah nya.) lanjut nya
"Wit ringin ngguri kae omahe!" (Pohon beringin di belakang itu rumah nya!) ucap Syarif dengan sedikit bergetar.
Aku paham betul ketakutan nya, Ganjang bukan lah perihal yang dapat di sepelekan. mahluk ini keberadaan nya membawa tulah, entah itu penyakit ataupun kematian. Dan jika benar apa yang dikatakan Syarif di belakang adalah Rumah nya, maka kita dalam masalah besar.
"Terus pie solusi ne?" (Terus gimana jalan keluar nya?) tanya ku.
"Gak roh nal, seng di omong ne mas yanto mau jare seng di kek i barang mau wes cedak wektune." (Gak tau nal, Yang dikatakan mas Yanto tadi katanya yang di beri barang itu waktunya sudah tidak lama lagi.) jelas nya dengan Raut ketakutan.
"Pie Nal?" Syarif bertanya memelas.
Jangan kan dia aku sendiri sama panik nya, sedikit ku mundur kan tubuh menyamai pundak Syarif,kami menatap pintu yang tertutup.
"Tapi awak e dewe ra tau ngganggu wit ringin lo rip, la terus masalah e opo kok awak e dewe di wei toh i ki ?" (Tapi kita kan gak pernah mengganggu pohon beringin, terus masalah nya apa kenapa kita di tandai?) tanya ku pada Syarif.
"Bangunan iki nal, yo omahe!" (Gedung ini juga rumah nya!) Ucap Syarif putus asa.
Kami membisu satu sama lain, ucapan Syarif masih terngiang-ngiang ,Ganjang Roha tidak akan pernah melepaskan mangsa nya.
Hampir setengah jam kami membisu, mendengar kan suara tetesan air di atap rumah. Hujan tak kunjung reda, Angin malam berhembus melewati angin angin jendela yang terbuka, Angin yang kencang memadam kan lampu minyak di dinding kamar.
Aku terhenyak, ada rasa tak nyaman yang menyelimuti, Di dalam kegelapan aku berusaha mencari letak pemantik api.
Dapat. Kuhampiri dinding tempat lampu minyak berada, Api menyala melahap sumbu lampu yang sedikit menonjol. Kamar Kembali terang , Namun Syarif nampak tak senang.
Sttt..
Tok.. tok.. tok.. Suara ketukan bertempo lambat mengalun dari pintu kayu di hadapan kami, Ada bayangan dari celah di bawah pintu . Entah siapa orang itu namun seharusnya dia menyapa,tapi sedari tadi hanya terdengar suara ketukan.
Syarif mengisyaratkan agar kami berdiam, dia mengambil selimut tebal lalu bersembunyi di bawah nya. Aku sama takutnya, lalu mengikuti nya bersembunyi.
Pintu kamar perlahan terbuka, menampakan sesosok bayangan berdiri di ambang pintu. tidak terlihat bentuk nya karena lampu yang kembali padam, Suara gesekan dari lantai tempat bayangan itu melangkah.
Aroma bangkai menyeruak memenuhi penciuman, kami bergetar , terutama Syarif yang tubuhnya sudah basah dengan keringat. Suara nafas nya tak beraturan, Angin dingin semakin membuat Syarif ketakutan.
Dari balik selimut tebal, terlihat bayangan itu melangkah pergi, meninggalkan kamar yang sepenuhnya gelap gulita. Syarif yang bergetar sudah nampak tenang,tubuh nya tak sehangat tadi, bahkan lebih dingin.
Penasaran ingin memastikan sudah aman, sedikit ku sibak selimut yang menghalangi penglihatan. sepertinya memang benar aman, aku berencana memberitahu Syarif, terlebih lagi aku khawatir dengan tubuh nya yang sangat dingin.
Saat selimut itu tak lagi menghalangi, Sosok di sebelah ku terbaring, Hanya saja itu bukan Syarif. Mana mungkin Syarif mengenakan gaun putih, Belum lagi aroma anyir ini tercium dari tubuh yang terbujur di sebelah ku.
Masih ingin kupastikan, sedikit ku mundurkan tubuh menjauhi.
"Rip?"
Tidak ada respon apapun,ku ambil pemantik yang ku simpan di dalam saku sebelah kanan.
Api menyala dari pemantik di genggaman ku.
Djancok , Umpat ku dalam hati.
Si wanita sialan menyeringai memamerkan kemenangan nya, lagi lagi mahkluk itu mengejutkan ku.
Tak banyak menunda waktu, aku pergi. Melarikan diri dari apapun yang tadi terbaring di bawah selimut yang sama dengan ku. Di luar hujan deras, mana mungkin menerobos hujan tanpa perlindungan, Ku lihat kamar di lantai atas menyala, hanya itu satu satunya tujuan ku.
Lari cukup kencang, Saat ku tatap pepohonan dalam pelarian. Bukan hanya satu , terdapat lusinan mahkluk terbungkus kain putih bediri sejajar di bawah hujan deras. Bahkan sebagian di antaranya melayang mengejar dari arah belakang , Edan entah apa kesalahan ku sehingga mereka sedendam ini.
Lari semakin ku percepat saat pintu kamar nomor 15 sudah nampak jelas, ku gedor pintu dengan keras bahkan tak segan segan aku berteriak. Nafasku semakin tidak beraturan saat makhluk berbalut kain putih itu sudah hampir mendapatkan ku.
Hanya bisa berdoa dalam hati aku tak ingin mati hari ini, memang kita tidak berhak bernegosiasi dengan tuhan, namun untuk kali ini saja biar kan aku selamat. Jauh kan lah para penghuni neraka itu dari hadapan ku, wajah wajah hancur mereka sungguh membuat ku tak tahan lagi.
Kaki sangat lemas, Aku semakin berteriak kesetanan, segala umpatan ku keluarkan hanya untuk menutupi rasa takut ku. Yang lebih sialnya Penghuni kamar nomor 15 tak segera membuka kan pintu, Entah dia tuli atau memang tak ada seorang pun di sana.
Di tengah tengah kepanikan, kamar nomor 16 di sebelah terbuka , Sosok bergaun putih keluar dari dalam ruangan yang gelap, mahluk yang sama yang selalu meneror ku setiap hari.
"Mrene o lee ambk ibuk!" (Kesini nak sama ibu!) wanita itu mengangkat sebelah tangan nya melambai.
Brukk!
Segalanya nya menghitam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Morphin
jngn trll bnyk pke bhs daerah Thorr
2023-01-01
0
Kak Ya
olahraga jantung nii 😂
2022-06-21
0
Ranran Miura
Untung aku bacanya pas siang bolong. Coba malem, auto ngompol aja deh, gak berani ke kamar mandi. 😬
2022-05-20
1