bab 18: Kebenaran

Alingga tersungkur. Meskipun lemah ia masih berusaha untuk berdiri, ia merangkak menjauh dari jangkauan lasmi.

Tidak ada yang tahu asal muasal keluarga ini, terutama istri wijaya, lasmi. Darimana ia berasal tidak ada satupun yang mengetahui nya.

Namun Alingga bisa merasakannya, terdapat aura hitam yang begitu kuat dalam tubuh lasmi. Ia sudah menyadari sejak pertemuan mereka saat undangan diruang makan, meskipun lasmi bersikap ramah namun tetap saja ada celah yang menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.

Bayang bayang kematian terlintas dalam penglihatan Alingga, semua kekejian keluarga ini nampak begitu jelas setiap detailnya. Alingga menggelinjang jijik, hampir saja ia memuntahkan isi perutnya.

"Wijaya niku putra ne__ "

Belum sempat Alingga menuntaskan ucapan, Lasmi sudah lebih dulu mencengkeram leher Alingga, tubuhnya terangkat sedikit mengimbangi lengan lasmi yang semakin meninggi.

Namun kali ini Alingga tidak tinggal diam, ia mengeluarkan seluruh kemampuan nya untuk lepas dari cengkeraman lasmi. Alingga memusatkan pikiran nya mencari titik terang dalam kegelapan, mata nya menyorot tajam hingga urat urat nadinya terlihat jelas.

Tangan lasmi menghitam saat Alingga mengucapkan mantra, lasmi mundur menahan sakit lalu pergi menjauh. Beberapa saat berlalu tidak ada tanda-tanda Lasmi akan kembali, ia masih menghilang atau mungkin dia sama terluka nya dengan Alingga.

Alingga terduduk mengatur nafas, ia memegangi dadanya menahan sesak yang teramat menyiksa, Ia memuntahkan darah kehitaman dari luka dalam nya yang cukup parah.

Alingga mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat, langkah tergesa gesa dari kaki kurus nan tinggi.

Rina, wanita yang menjadi kepala pelayan dirumah tersebut berdiri tegak di ambang pintu. Tatapan nya sendu mengiba akan nasib yang dialami Alingga, meskipun ia tahu Alingga tidak mungkin mati semudah itu.

"Mas Ali?"

Alingga mendongak menatap Rina yang semakin mendekat, Alingga tersenyum tipis menyambut sapaan dari wanita dihadapan nya, berbeda dengan Rina wajah nya masih Tampak sendu.

"Alingga mbak!" balas Alingga singkat.

"Nggih mas. Mas Alingga!"

"Njenengan__ " sambung rina namun tak sempat menyelesaikan ucapannya. Rina tampak berfikir kemudian membantu Alingga berdiri, ia membawa Alingga keluar dari bangunan utama melewati jalan rahasia.

"Sampean kok iso masuk ketempatnya ndoro putri sih mas?"

Alingga tidak menjawab ia masih menahan sakit akibat pertempuran batin dengan lasmi tadi.

"Mas Ali nyari mas zainal ya?" ucap Rina lagi

Alingga menoleh menatap tajam, ia terkejut bagaimana mungkin Rina tau tujuannya.

"Mas nya gak usah bingung, mas zainal ada sama mbak Laras!" jelas Rina menjawab kebingungan Alingga.

Alingga yang mendengar penuturan Rina segera beranjak menuju ke tempat kediaman Laras, namun Rina menghentikan nya.

"Kenapa?"

"Mas janji ya sama saya, bawa mbak laras juga pergi dari sini." pinta Rina kepada Alingga.

Alingga Masih bingung dengan ucapan Rina.

"Kenapa saya harus bawa wadah iblis iku?" tanya Alingga keheranan.

"Karena__ "

"Karena apa? kalo ngomong di selesaiin!" jawab Alingga dengan nada tinggi.

Sttt..

Mbak Rina mengisyaratkan agar Alingga tidak berbicara dengan keras.

"Laras iku bukan anak nya Wijaya."

Alingga terkejut dengan penuturan mbak Rina, bagaimana mungkin laras bukanlah anak nya wijaya.

"Dia tidak diperlakukan baik disini, bawa dia pergi ya mas!" Mbak Rina memelas.

"Lalu? Laras itu siapa?"

Mbak rina tampak berfikir, ia enggan menjawab namun, Alingga terus memaksa. Mbak Rina tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya.

"Lara niku seko keluarga Darmoloyo, putri ne ki sedo!!" (Laras itu dari keluarga Darmoloyo, Putri nya ki sedo!!).

"Wijaya memutar balikkan fakta, ia bertingkah seolah olah korban. Sebenarnya yang melangkahi garis perjanjian itu Wijaya sendiri, dia menghabisi Darmoloyo agar dapat menguasai bolo pathi," mbak Rina menjelaskan semuanya secara rinci.

Alingga tidak tau tentang keluarga Darmoloyo, namun ia pernah mendengar Wijaya membicarakan keluarga ini, dari cerita mbak rina masih ada keganjilan yang membuat Alingga terus bertanya tanya.

"Lalu, kenapa Wijaya membesarkan laras di kediaman nya?" tanya Alingga penasaran.

Mbak Rina tertunduk lesu, Ia ingin sekali menjawab namun ia khawatir karena saat ini nyawanya sedang dipertaruhkan.

"Ngene mas, tak kasih tau jalan keluar nya tapi mas harus pergi sejauh mungkin. Bawa mbak laras ke tempat yang tidak bisa di jangkau Wijaya."

Alingga menatap tajam mbak rina, bulan purnama teramat terang namun di dalam kediaman tersebut keseluruhan nya adalah kegelapan, bayangan hitam semakin menebal membalut tempat ini dalam kegelapan abadi.

"Jelaskan semuanya!!" ucap Alingga dingin.

Mbak Rina masih berpegang teguh pada prinsipnya, namun lagi lagi ia tak bisa menolak berada dibawah tekanan Alingga. Ia menghela nafas panjang lalu mengambil gulungan kertas yang ia simpan di dalam jarit.

"Niki silsilah keluarga Wijaya." Mbak Rina menyodorkan gulungan tersebut kepada Alingga.

Kertas itu sangat lusuh, beberapa bagian nampak mengelupas, terutama sudut sudutnya yang terlalu sering terkena gesekan. Alingga memeriksa satu persatu daftar nama yang tertera dalam kertas tersebut, entah itu akan membantu atau tidak, namun ia tetap memeriksa nya

Mata Alingga tertuju pada satu nama di bawah nama wijaya,

"Laras? tadi bukanya mbak bilang laras bukan anaknya Wijaya, ini kenapa nama laras ada di dalam daftar?" Ucap Alingga penasaran.

"Nggih mas, Laras memang bukan anaknya tuan Wijaya," mbak rina mengangguk pelan

" Laras yang ini iku putri ne sardi Wijaya, Adik kandung wijaya sendiri." ( Laras yang ini anak nya sardi Wijaya, adik kandungnya Wijaya sendiri.)

Alingga terkejut dengan penjelasan mbak rina, ia memang tidak mengenal siapa Laras yang dimaksud mbak Rina, tapi ia yakin ada sesuatu yang masih tersembunyi dari keluarga biadab ini.

" Lalu, dimana sekarang dia?" Alingga bertanya tanpa ragu.

"Sudah mati!"

"Wijaya membunuh nya, Seluruhnya." lanjut mbak rina menjelaskan.

"Bagaimana mungkin ia membunuh keluarga nya sendiri?"

Alingga tampak tak percaya, ia tidak mengerti apakah ia harus mempercayai cerita ini, atau semua ini hanyalah bagian dari rencana Wijaya untuk memperdayanya.

" Njenengan liat sendiri bukan perempuan yang selalu mengikuti mas zainal, iku laras mas. Sampean belum sadar juga?" jelas mbak rina lagi.

Alingga terbelalak, ia tidak menyangka semua ini masih dalam garis yang terhubung dalam simpul pati.

"Kalau begitu, zainal dan wijaya_" Alingga terdiam tak sanggup melanjutkan perkataannya,

Teman yang sedari dulu ia kenal bahkan masih belum ia ketahui dengan jelas latar belakang nya, Alingga masih belum memercayai cerita ini namun bagaimanapun ia berfikir semuanya masuk akal.

Mbak rina berdiri, " Kehidupan yang ada didalam rahim Laras yang akan memutuskan simpul pati, bolo pathi akan memilih majikannya sendiri. Darah dari keluarga Wijaya dan Darmoloyo lah yang harus menutup kembali gerbang segoro." ucap mbak rina tegas menyadarkan Alingga dari lamunan.

Alingga hanya menurut, jika ditarik garis zainal merupakan keponakan dari wijaya jika memang benar laras yang selalu menguntit nya adalah ibu kandungnya sendiri.

"Akan terlahir kehidupan baru, jaga bayi di dalam kandungan laras mas. jangan sampai Wijaya mengusik nya, bawa mereka sejauh mungkin." ucap mbak rina Sembari berjalan menjauh menuntun Alingga menuju ketempat tujuan nya.

Alingga mematung, membenah kan kembali akal sehatnya. Ia mengikuti mbak rina yang menuntun nya menuju tempat kediaman laras, ia berharap semua ini belum terlambat. Dalam kegelapan tersebut, dengan berbekal tekat, Alingga menelusuri paviliun jati untuk membawa kembali harapan nya.

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

kaet paham alurnya q jd zaenal. keponakan Wijaya trs laras ini anak ki sedo akirnya punya anak yg bs memecahkan semua misteri ini

2024-11-13

0

anggita

anggita

top..

2022-08-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bolo Laru
2 Bab 2: Bolo Pathi
3 Bab 3:Penghuni baru
4 Bab 4: Sajen
5 Bab 5: Kamar sebelah
6 Bab 6: Piring kenikmatan
7 Bab 7: Gelap
8 Bab 8: Ganjang
9 Bab 9: Mentari bersinar
10 Bab 10: Teman lama
11 Bab 11: Gerbang besar
12 Bab 12: Kemuning
13 Bab 13: Laras
14 Bab 14: Terjebak
15 Bab 15: Omah Dongko
16 Bab 16: Malam Bulan Purnama
17 Bab 17:Ruang penyimpanan
18 bab 18: Kebenaran
19 Bab 19: Dalam pekat
20 Bab 20: Pelarian
21 Bab 21: Masa lalu
22 Bab 22: Ruang tersembunyi
23 Bab 23:Hutan
24 Bab 24:Sisi lain
25 Bab 25: Kota sebelah
26 Bab 26: Kotak misterius
27 Bab 27: Seimbang
28 Bab 28: Lewung
29 Bab 29: Perjalanan ke desa
30 Bab 30: Tamu tak diundang
31 Bab 31: Desa Laweh
32 Bab 32: Jagat lelembut
33 Bab 33: Cahaya terang
34 Bab 34: Kematian
35 Bab 35: Rumah sakit
36 Bab 36: Kampung
37 Bab 37: Gubuk
38 Bab 38: Meminta miliknya
39 Bab 39: Malam hari
40 Bab 40: Pagi yang cerah
41 Bab 44: Bantuan
42 Bab 41: Langit senja
43 Bab 42: Buku tua
44 Bab 43: Penyesalan
45 Bab 45: Hujan Gerimis
46 Bab 46: Ladang jagung
47 Bab 47: Rumah Guru
48 Bab 48: Kembali
49 Bab 49: Tersadar
50 Bab 50: Gadis Kecil
51 Bab 51: Perundingan
52 Bab 52: Hilang
53 Bab 53: Kesepakatan
54 Bab 54: Kosong
55 Bab 55: Gosib
56 Bab 56: Alasan
57 Bab 57: kesepakatan bersama
58 Bab 58: Terjatuh
59 Bab 59: Gudang
60 Bab 60: Peti Mati
61 Bab 61: Hutan Barat
62 Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63 Bab 63: Waktu yang Salah
64 Bab 64: Kembali Lagi
65 Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66 Bab 66: Pantulan Wajah
67 Bab 67: Wanita Itu
68 Bab 68: End
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1: Bolo Laru
2
Bab 2: Bolo Pathi
3
Bab 3:Penghuni baru
4
Bab 4: Sajen
5
Bab 5: Kamar sebelah
6
Bab 6: Piring kenikmatan
7
Bab 7: Gelap
8
Bab 8: Ganjang
9
Bab 9: Mentari bersinar
10
Bab 10: Teman lama
11
Bab 11: Gerbang besar
12
Bab 12: Kemuning
13
Bab 13: Laras
14
Bab 14: Terjebak
15
Bab 15: Omah Dongko
16
Bab 16: Malam Bulan Purnama
17
Bab 17:Ruang penyimpanan
18
bab 18: Kebenaran
19
Bab 19: Dalam pekat
20
Bab 20: Pelarian
21
Bab 21: Masa lalu
22
Bab 22: Ruang tersembunyi
23
Bab 23:Hutan
24
Bab 24:Sisi lain
25
Bab 25: Kota sebelah
26
Bab 26: Kotak misterius
27
Bab 27: Seimbang
28
Bab 28: Lewung
29
Bab 29: Perjalanan ke desa
30
Bab 30: Tamu tak diundang
31
Bab 31: Desa Laweh
32
Bab 32: Jagat lelembut
33
Bab 33: Cahaya terang
34
Bab 34: Kematian
35
Bab 35: Rumah sakit
36
Bab 36: Kampung
37
Bab 37: Gubuk
38
Bab 38: Meminta miliknya
39
Bab 39: Malam hari
40
Bab 40: Pagi yang cerah
41
Bab 44: Bantuan
42
Bab 41: Langit senja
43
Bab 42: Buku tua
44
Bab 43: Penyesalan
45
Bab 45: Hujan Gerimis
46
Bab 46: Ladang jagung
47
Bab 47: Rumah Guru
48
Bab 48: Kembali
49
Bab 49: Tersadar
50
Bab 50: Gadis Kecil
51
Bab 51: Perundingan
52
Bab 52: Hilang
53
Bab 53: Kesepakatan
54
Bab 54: Kosong
55
Bab 55: Gosib
56
Bab 56: Alasan
57
Bab 57: kesepakatan bersama
58
Bab 58: Terjatuh
59
Bab 59: Gudang
60
Bab 60: Peti Mati
61
Bab 61: Hutan Barat
62
Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63
Bab 63: Waktu yang Salah
64
Bab 64: Kembali Lagi
65
Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66
Bab 66: Pantulan Wajah
67
Bab 67: Wanita Itu
68
Bab 68: End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!