Alingga tersungkur. Meskipun lemah ia masih berusaha untuk berdiri, ia merangkak menjauh dari jangkauan lasmi.
Tidak ada yang tahu asal muasal keluarga ini, terutama istri wijaya, lasmi. Darimana ia berasal tidak ada satupun yang mengetahui nya.
Namun Alingga bisa merasakannya, terdapat aura hitam yang begitu kuat dalam tubuh lasmi. Ia sudah menyadari sejak pertemuan mereka saat undangan diruang makan, meskipun lasmi bersikap ramah namun tetap saja ada celah yang menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.
Bayang bayang kematian terlintas dalam penglihatan Alingga, semua kekejian keluarga ini nampak begitu jelas setiap detailnya. Alingga menggelinjang jijik, hampir saja ia memuntahkan isi perutnya.
"Wijaya niku putra ne__ "
Belum sempat Alingga menuntaskan ucapan, Lasmi sudah lebih dulu mencengkeram leher Alingga, tubuhnya terangkat sedikit mengimbangi lengan lasmi yang semakin meninggi.
Namun kali ini Alingga tidak tinggal diam, ia mengeluarkan seluruh kemampuan nya untuk lepas dari cengkeraman lasmi. Alingga memusatkan pikiran nya mencari titik terang dalam kegelapan, mata nya menyorot tajam hingga urat urat nadinya terlihat jelas.
Tangan lasmi menghitam saat Alingga mengucapkan mantra, lasmi mundur menahan sakit lalu pergi menjauh. Beberapa saat berlalu tidak ada tanda-tanda Lasmi akan kembali, ia masih menghilang atau mungkin dia sama terluka nya dengan Alingga.
Alingga terduduk mengatur nafas, ia memegangi dadanya menahan sesak yang teramat menyiksa, Ia memuntahkan darah kehitaman dari luka dalam nya yang cukup parah.
Alingga mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat, langkah tergesa gesa dari kaki kurus nan tinggi.
Rina, wanita yang menjadi kepala pelayan dirumah tersebut berdiri tegak di ambang pintu. Tatapan nya sendu mengiba akan nasib yang dialami Alingga, meskipun ia tahu Alingga tidak mungkin mati semudah itu.
"Mas Ali?"
Alingga mendongak menatap Rina yang semakin mendekat, Alingga tersenyum tipis menyambut sapaan dari wanita dihadapan nya, berbeda dengan Rina wajah nya masih Tampak sendu.
"Alingga mbak!" balas Alingga singkat.
"Nggih mas. Mas Alingga!"
"Njenengan__ " sambung rina namun tak sempat menyelesaikan ucapannya. Rina tampak berfikir kemudian membantu Alingga berdiri, ia membawa Alingga keluar dari bangunan utama melewati jalan rahasia.
"Sampean kok iso masuk ketempatnya ndoro putri sih mas?"
Alingga tidak menjawab ia masih menahan sakit akibat pertempuran batin dengan lasmi tadi.
"Mas Ali nyari mas zainal ya?" ucap Rina lagi
Alingga menoleh menatap tajam, ia terkejut bagaimana mungkin Rina tau tujuannya.
"Mas nya gak usah bingung, mas zainal ada sama mbak Laras!" jelas Rina menjawab kebingungan Alingga.
Alingga yang mendengar penuturan Rina segera beranjak menuju ke tempat kediaman Laras, namun Rina menghentikan nya.
"Kenapa?"
"Mas janji ya sama saya, bawa mbak laras juga pergi dari sini." pinta Rina kepada Alingga.
Alingga Masih bingung dengan ucapan Rina.
"Kenapa saya harus bawa wadah iblis iku?" tanya Alingga keheranan.
"Karena__ "
"Karena apa? kalo ngomong di selesaiin!" jawab Alingga dengan nada tinggi.
Sttt..
Mbak Rina mengisyaratkan agar Alingga tidak berbicara dengan keras.
"Laras iku bukan anak nya Wijaya."
Alingga terkejut dengan penuturan mbak Rina, bagaimana mungkin laras bukanlah anak nya wijaya.
"Dia tidak diperlakukan baik disini, bawa dia pergi ya mas!" Mbak Rina memelas.
"Lalu? Laras itu siapa?"
Mbak rina tampak berfikir, ia enggan menjawab namun, Alingga terus memaksa. Mbak Rina tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya.
"Lara niku seko keluarga Darmoloyo, putri ne ki sedo!!" (Laras itu dari keluarga Darmoloyo, Putri nya ki sedo!!).
"Wijaya memutar balikkan fakta, ia bertingkah seolah olah korban. Sebenarnya yang melangkahi garis perjanjian itu Wijaya sendiri, dia menghabisi Darmoloyo agar dapat menguasai bolo pathi," mbak Rina menjelaskan semuanya secara rinci.
Alingga tidak tau tentang keluarga Darmoloyo, namun ia pernah mendengar Wijaya membicarakan keluarga ini, dari cerita mbak rina masih ada keganjilan yang membuat Alingga terus bertanya tanya.
"Lalu, kenapa Wijaya membesarkan laras di kediaman nya?" tanya Alingga penasaran.
Mbak Rina tertunduk lesu, Ia ingin sekali menjawab namun ia khawatir karena saat ini nyawanya sedang dipertaruhkan.
"Ngene mas, tak kasih tau jalan keluar nya tapi mas harus pergi sejauh mungkin. Bawa mbak laras ke tempat yang tidak bisa di jangkau Wijaya."
Alingga menatap tajam mbak rina, bulan purnama teramat terang namun di dalam kediaman tersebut keseluruhan nya adalah kegelapan, bayangan hitam semakin menebal membalut tempat ini dalam kegelapan abadi.
"Jelaskan semuanya!!" ucap Alingga dingin.
Mbak Rina masih berpegang teguh pada prinsipnya, namun lagi lagi ia tak bisa menolak berada dibawah tekanan Alingga. Ia menghela nafas panjang lalu mengambil gulungan kertas yang ia simpan di dalam jarit.
"Niki silsilah keluarga Wijaya." Mbak Rina menyodorkan gulungan tersebut kepada Alingga.
Kertas itu sangat lusuh, beberapa bagian nampak mengelupas, terutama sudut sudutnya yang terlalu sering terkena gesekan. Alingga memeriksa satu persatu daftar nama yang tertera dalam kertas tersebut, entah itu akan membantu atau tidak, namun ia tetap memeriksa nya
Mata Alingga tertuju pada satu nama di bawah nama wijaya,
"Laras? tadi bukanya mbak bilang laras bukan anaknya Wijaya, ini kenapa nama laras ada di dalam daftar?" Ucap Alingga penasaran.
"Nggih mas, Laras memang bukan anaknya tuan Wijaya," mbak rina mengangguk pelan
" Laras yang ini iku putri ne sardi Wijaya, Adik kandung wijaya sendiri." ( Laras yang ini anak nya sardi Wijaya, adik kandungnya Wijaya sendiri.)
Alingga terkejut dengan penjelasan mbak rina, ia memang tidak mengenal siapa Laras yang dimaksud mbak Rina, tapi ia yakin ada sesuatu yang masih tersembunyi dari keluarga biadab ini.
" Lalu, dimana sekarang dia?" Alingga bertanya tanpa ragu.
"Sudah mati!"
"Wijaya membunuh nya, Seluruhnya." lanjut mbak rina menjelaskan.
"Bagaimana mungkin ia membunuh keluarga nya sendiri?"
Alingga tampak tak percaya, ia tidak mengerti apakah ia harus mempercayai cerita ini, atau semua ini hanyalah bagian dari rencana Wijaya untuk memperdayanya.
" Njenengan liat sendiri bukan perempuan yang selalu mengikuti mas zainal, iku laras mas. Sampean belum sadar juga?" jelas mbak rina lagi.
Alingga terbelalak, ia tidak menyangka semua ini masih dalam garis yang terhubung dalam simpul pati.
"Kalau begitu, zainal dan wijaya_" Alingga terdiam tak sanggup melanjutkan perkataannya,
Teman yang sedari dulu ia kenal bahkan masih belum ia ketahui dengan jelas latar belakang nya, Alingga masih belum memercayai cerita ini namun bagaimanapun ia berfikir semuanya masuk akal.
Mbak rina berdiri, " Kehidupan yang ada didalam rahim Laras yang akan memutuskan simpul pati, bolo pathi akan memilih majikannya sendiri. Darah dari keluarga Wijaya dan Darmoloyo lah yang harus menutup kembali gerbang segoro." ucap mbak rina tegas menyadarkan Alingga dari lamunan.
Alingga hanya menurut, jika ditarik garis zainal merupakan keponakan dari wijaya jika memang benar laras yang selalu menguntit nya adalah ibu kandungnya sendiri.
"Akan terlahir kehidupan baru, jaga bayi di dalam kandungan laras mas. jangan sampai Wijaya mengusik nya, bawa mereka sejauh mungkin." ucap mbak rina Sembari berjalan menjauh menuntun Alingga menuju ketempat tujuan nya.
Alingga mematung, membenah kan kembali akal sehatnya. Ia mengikuti mbak rina yang menuntun nya menuju tempat kediaman laras, ia berharap semua ini belum terlambat. Dalam kegelapan tersebut, dengan berbekal tekat, Alingga menelusuri paviliun jati untuk membawa kembali harapan nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
kalea rizuky
kaet paham alurnya q jd zaenal. keponakan Wijaya trs laras ini anak ki sedo akirnya punya anak yg bs memecahkan semua misteri ini
2024-11-13
0
anggita
top..
2022-08-30
1