Mereka duduk bersila saling berhadapan, menyibukkan diri dengan pikirannya masing-masing.
Zainal termenung memikirkan banyak hal yang telah terjadi, Alingga yang menyadari gelagat aneh nya mencoba mengorek informasi dari sahabat nya tersebut.
"Kenapa?"
"Ileng ibuk." ( ingat ibuk.) ucap Zainal.
Alingga menepuk pundak Zainal, mencoba memahami perasaannya saat ini. Meskipun tidak sedarah, Alingga dan Zainal sangat dekat mereka sudah seperti adik dan kakak, terlebih lagi mereka memiliki kemampuan khusus yang tak dimiliki orang lain.
"Mas, mbak e ket mau ngadeg neng kono." ( Mas mbak nya dari tadi berdiri disana.) bisik Zainal di dekat telinga Alingga, ia berbicara lirih agar yang lain tidak panik.
Alingga mencari cari di sekeliling, mata nya tertuju pada sudut ruangan dekat dengan jendela yang di segel. Alingga mengabaikan si wanita dan fokus mengamati jendela yang tertutup, ia bingung mengapa jendela nya disegel.
"Wes gak usah di urusi, gur iseng wae kui." ( Udah gak usah dipedulikan, cuma iseng aja dia.) ucap Alingga lirih.
Alingga masih mengamati ,tak lama setelah nya ia berdiri melangkah kan kaki nya meninggalkan mereka yang masih sibuk merenung.
"Arep nandi?" (mau kemana?) tanya zainal.
"Metu, enek seng arep tak golek i" ( Keluar, ada yang ingin kucari.)
"Gak oleh metu ngga, gak krungu omongan e mbak rina" ( Gak boleh keluar ngga, gak denger omongan nya mbak rina) cegah Zainal.
"Koyo lagek kenal aku awak mu, " ( kayak baru kenal aku kamu) Alingga menatap tajam kemudian segera pergi.
"Aku melu." (Aku ikut.) Zainal tak lagi menghalangi dan segera mengikuti Alingga ke luar kamar.
...***...
Sayup sayup terdengar kidung dari arah wetan, pilu dan menyayat hati. Zainal mengikuti asal suara tersebut, Suaranya tersamar kan oleh angin, zainal bisa memastikan bahwa seseorang tengah menembang kan kidung lawas Gondo Kembang, dari sepatah dua patah syair Tampak seseorang tersebut sangat putus asa.
Zainal mengikuti suara hingga tiba di dekat bangunan utama, namun langkahnya terhenti saat suara kidung tersebut terdengar jelas dari arah bangunan lain, bangunan yang letaknya tak terlalu jauh dari bangunan utama.
*Nyanding...***...awit siro...
Suara kidung semakin terdengar jelas.
" Sampean neng endi mas?" ( mas,kamu dimana?)
Bulu kuduk Zainal meremang, Ia bergidik mendengar suara yang teramat pilu.
Zainal menghampiri bangunan di sebelah, gelap tak ada penerangan. Ia berkeliling mencari jalan masuk.Langkah nya terhenti saat menatap seorang wanita yang tengah duduk di tengah-tengah kebun melati.
Zainal terdiam, ia tahu persis mahluk apa itu, wanita berpakaian kebaya berwarna merah dengan rambut yang di sanggul terduduk anggun di tengah tengah hamparan bunga.
Kemuning , ia pernah bertemu sebelumnya di alas Ruwah. Benar, tidak salah lagi itu memang Kemuning penghuni alas Ruwah.
Zainal terheran mengapa ia bisa ada disini, Mahluk ini tidak bisa disepelekan, ia suka menyesatkan orang di dalam hutan,tapi apa yang dilakukan nya disini.
"Nggeerrrr..."
Zainal terkejut saat wanita itu memutar kepalanya berbalik menatap Zainal yang tengah bersembunyi.
Wanita itu berdiri berjalan perlahan mendekati Zainal, paras ayu nan elok membuat zainal tergoda. Namun ia segera sadar sebelum makhluk tersebut melahap jiwa nya, Zainal mundur melarikan diri.
Dalam pelarian nya Zainal melihat kemarahan si kemuning, mahluk itu terbang dengan penampilan terburuk nya. Zainal ketakutan larinya dipercepat, ia melihat kamar mulai terlihat, namun dimatanya jarak yang hanya sejauh 100 meter terlihat seperti ratusan kilo meter.
Ia sudah mencapai batas nya, namun si kemuning masih enggan melepaskan mangsanya.
"Mas, Ali.. " Zainal tak henti-hentinya meracau karena ketakutan.
Jika saja ia tak mengikuti Alingga keluar, seharusnya ia tak akan bertemu mahluk ini. Sekarang nyawanya di ujung tanduk,tanpa Alingga ia bukanlah siapa siapa.
Saat ia sudah hampir menyerah, Alingga menarik lengan zainal masuk ke dalam kamar. Zainal tampak syok dan emosinya masih belum stabil, Alingga berusaha menenangkan zainal agar tidak panik lagi.
"Mas, Kem.. Kemuning..!!" ucap zainal terbata bata.
"Kuping mu kopok en, wes dikandani ojo metu malah metu!" ( Udah di bilang jangan keluar malah keluar!).
"Aku tadi keluar ngikutin sampean mas," ucap zainal yang masih ngos-ngosan.
"Ngawur.. Gak ono metu aku." ( Ngawur,gak ada keluar aku).
"Tenan mas"
"Liat apa kamu tadi?" tanya Alingga.
"Kemuning ngga, "
"Mustahil ada kemuning disini, kowe juga ngerti kan." (mustahil ada kemuning disini,kamu juga tau kan.)
"Fakta nya!"
Semua terdiam termasuk Syarif, Alingga memutar otak nya untuk menemukan jawaban, namun sayang nya ia tak menemukan hasil.
"Koyo Ganjang iki, " (Seperti ganjang ini) ucap Alingga.
"Siapa kira kira pemilik tanah ini," tanya zainal.
"Seng jelas dudu wong sembarang sampe sampe kemuning seng njogo lemahe" (Yang jelas bukan orang sembarang,sampe kemuning yang jaga tanah ini ) timpal Syarif.
"Emang awak mu ngerti kemuning?" (Emangnya kamu tahu kemuning?) tanya zainal. Syarif hanya menggeleng tanda tak tau.
Mereka mulai mendiskusikan masalah ini, apakah keputusan mereka salah saat datang ke tempat ini,atau bagaimana.
"Mahluk mahkluk ini sangat kuat, Aku sendiri gak sanggup" ucap Alingga.
"Udah gak usah banyak mikir dulu, yang penting kita istirahat. beberapa hari ini kita gak bisa tidur nyenyak, terutama koe Nal." Zainal melirik Syarif.
"Apa?" Tanya Syarif
"Neng nguri mu rip," (Di belakang mu rip). ucap Zainal.
Syarif panik dan segera mencari ke belakang, ia tak melihat apapun lalu apa yang dimaksud kan zainal.
"Opo?" tanya Syarif lagi.
"Mbak e ngajak kenalan kui lo," (Mbak nya ngajal kenalan itu lo ) zainal tersenyum nakal.
Syarif yang mendengar ucapan zainal segera pindah mendekati Alingga, entah kenapa mungkin dia merasa aman bila berada di dekat nya.
"Nal seng tenan," ( Nal yang bener,) ucap Syarif
"Takok o mas mu kui lek gak percoyo!" ( Tanya abang mu itu kalo gak percaya).
Syarif melirik Alingga, ia berharap Alingga menggeleng namun Alingga terus terusan menatap nya ,
"Ha.. " jawab Alingga singkat
Syarif diam tak mampu berkata kata,ia sudah cukup trauma berhubungan dengan mahluk halus, kali ini nyali nya benar benar menciut. lepas dari serigala masuk ke kandang singa, begitulah yang mereka rasakan saat ini, bukan nya lebih baik malah semakin banyak misteri yang menghampiri.
Alingga melangkah ke dipan di dalam kamar, ia merebahkan tubuhnya diatas Ranjang kayu. Zainal menyusul, mereka saling berbaring menatap ke langit-langit kamar.
"Pekat mas,angel iki" ucap zainal sambil telentang.
"Yang penting Jangan Sampai ke hilangan kendali, sekuat apapun mereka, tetap tuhan lah yang maha kuasa." jawab Alingga.
"Aku wedi lek gak iso" (Aku takut jika tidak bisa,")
Alingga melirik zainal, kemudian berbisik . setelah nya zainal tampak lebih tenang di banding kan sebelumnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Machan
wuis, ngeri tenan lho. nek di uber setan koyo ngonoh berasa meneng neng tempat. untung ono mas'e sing nyelamatke. nek ora yo wes, emboh jadi opo
2022-06-17
0
Ranran Miura
selalu mencekam, ini malah tambah pindah ke kandangnya memedi 😣
2022-06-17
0
Ranran Miura
aku belum pernah denger 🙂
2022-06-17
0