Bab 12: Kemuning

Mereka duduk bersila saling berhadapan, menyibukkan diri dengan pikirannya masing-masing.

Zainal termenung memikirkan banyak hal yang telah terjadi, Alingga yang menyadari gelagat aneh nya mencoba mengorek informasi dari sahabat nya tersebut.

"Kenapa?"

"Ileng ibuk." ( ingat ibuk.) ucap Zainal.

Alingga menepuk pundak Zainal, mencoba memahami perasaannya saat ini. Meskipun tidak sedarah, Alingga dan Zainal sangat dekat mereka sudah seperti adik dan kakak, terlebih lagi mereka memiliki kemampuan khusus yang tak dimiliki orang lain.

"Mas, mbak e ket mau ngadeg neng kono." ( Mas mbak nya dari tadi berdiri disana.) bisik Zainal di dekat telinga Alingga, ia berbicara lirih agar yang lain tidak panik.

Alingga mencari cari di sekeliling, mata nya tertuju pada sudut ruangan dekat dengan jendela yang di segel. Alingga mengabaikan si wanita dan fokus mengamati jendela yang tertutup, ia bingung mengapa jendela nya disegel.

"Wes gak usah di urusi, gur iseng wae kui." ( Udah gak usah dipedulikan, cuma iseng aja dia.) ucap Alingga lirih.

Alingga masih mengamati ,tak lama setelah nya ia berdiri melangkah kan kaki nya meninggalkan mereka yang masih sibuk merenung.

"Arep nandi?" (mau kemana?) tanya zainal.

"Metu, enek seng arep tak golek i" ( Keluar, ada yang ingin kucari.)

"Gak oleh metu ngga, gak krungu omongan e mbak rina" ( Gak boleh keluar ngga, gak denger omongan nya mbak rina) cegah Zainal.

"Koyo lagek kenal aku awak mu, " ( kayak baru kenal aku kamu) Alingga menatap tajam kemudian segera pergi.

"Aku melu." (Aku ikut.) Zainal tak lagi menghalangi dan segera mengikuti Alingga ke luar kamar.

...***...

Sayup sayup terdengar kidung dari arah wetan, pilu dan menyayat hati. Zainal mengikuti asal suara tersebut, Suaranya tersamar kan oleh angin, zainal bisa memastikan bahwa seseorang tengah menembang kan kidung lawas Gondo Kembang, dari sepatah dua patah syair Tampak seseorang tersebut sangat putus asa.

Zainal mengikuti suara hingga tiba di dekat bangunan utama, namun langkahnya terhenti saat suara kidung tersebut terdengar jelas dari arah bangunan lain, bangunan yang letaknya tak terlalu jauh dari bangunan utama.

*Nyanding...***...awit siro...

Suara kidung semakin terdengar jelas.

" Sampean neng endi mas?" ( mas,kamu dimana?)

Bulu kuduk Zainal meremang, Ia bergidik mendengar suara yang teramat pilu.

Zainal menghampiri bangunan di sebelah, gelap tak ada penerangan. Ia berkeliling mencari jalan masuk.Langkah nya terhenti saat menatap seorang wanita yang tengah duduk di tengah-tengah kebun melati.

Zainal terdiam, ia tahu persis mahluk apa itu, wanita berpakaian kebaya berwarna merah dengan rambut yang di sanggul terduduk anggun di tengah tengah hamparan bunga.

Kemuning , ia pernah bertemu sebelumnya di alas Ruwah. Benar, tidak salah lagi itu memang Kemuning penghuni alas Ruwah.

Zainal terheran mengapa ia bisa ada disini, Mahluk ini tidak bisa disepelekan, ia suka menyesatkan orang di dalam hutan,tapi apa yang dilakukan nya disini.

"Nggeerrrr..."

Zainal terkejut saat wanita itu memutar kepalanya berbalik menatap Zainal yang tengah bersembunyi.

Wanita itu berdiri berjalan perlahan mendekati Zainal, paras ayu nan elok membuat zainal tergoda. Namun ia segera sadar sebelum makhluk tersebut melahap jiwa nya, Zainal mundur melarikan diri.

Dalam pelarian nya Zainal melihat kemarahan si kemuning, mahluk itu terbang dengan penampilan terburuk nya. Zainal ketakutan larinya dipercepat, ia melihat kamar mulai terlihat, namun dimatanya jarak yang hanya sejauh 100 meter terlihat seperti ratusan kilo meter.

Ia sudah mencapai batas nya, namun si kemuning masih enggan melepaskan mangsanya.

"Mas, Ali.. " Zainal tak henti-hentinya meracau karena ketakutan.

Jika saja ia tak mengikuti Alingga keluar, seharusnya ia tak akan bertemu mahluk ini. Sekarang nyawanya di ujung tanduk,tanpa Alingga ia bukanlah siapa siapa.

Saat ia sudah hampir menyerah, Alingga menarik lengan zainal masuk ke dalam kamar. Zainal tampak syok dan emosinya masih belum stabil, Alingga berusaha menenangkan zainal agar tidak panik lagi.

"Mas, Kem.. Kemuning..!!" ucap zainal terbata bata.

"Kuping mu kopok en, wes dikandani ojo metu malah metu!" ( Udah di bilang jangan keluar malah keluar!).

"Aku tadi keluar ngikutin sampean mas," ucap zainal yang masih ngos-ngosan.

"Ngawur.. Gak ono metu aku." ( Ngawur,gak ada keluar aku).

"Tenan mas"

"Liat apa kamu tadi?" tanya Alingga.

"Kemuning ngga, "

"Mustahil ada kemuning disini, kowe juga ngerti kan." (mustahil ada kemuning disini,kamu juga tau kan.)

"Fakta nya!"

Semua terdiam termasuk Syarif, Alingga memutar otak nya untuk menemukan jawaban, namun sayang nya ia tak menemukan hasil.

"Koyo Ganjang iki, " (Seperti ganjang ini) ucap Alingga.

"Siapa kira kira pemilik tanah ini," tanya zainal.

"Seng jelas dudu wong sembarang sampe sampe kemuning seng njogo lemahe" (Yang jelas bukan orang sembarang,sampe kemuning yang jaga tanah ini ) timpal Syarif.

"Emang awak mu ngerti kemuning?" (Emangnya kamu tahu kemuning?) tanya zainal. Syarif hanya menggeleng tanda tak tau.

Mereka mulai mendiskusikan masalah ini, apakah keputusan mereka salah saat datang ke tempat ini,atau bagaimana.

"Mahluk mahkluk ini sangat kuat, Aku sendiri gak sanggup" ucap Alingga.

"Udah gak usah banyak mikir dulu, yang penting kita istirahat. beberapa hari ini kita gak bisa tidur nyenyak, terutama koe Nal." Zainal melirik Syarif.

"Apa?" Tanya Syarif

"Neng nguri mu rip," (Di belakang mu rip). ucap Zainal.

Syarif panik dan segera mencari ke belakang, ia tak melihat apapun lalu apa yang dimaksud kan zainal.

"Opo?" tanya Syarif lagi.

"Mbak e ngajak kenalan kui lo," (Mbak nya ngajal kenalan itu lo ) zainal tersenyum nakal.

Syarif yang mendengar ucapan zainal segera pindah mendekati Alingga, entah kenapa mungkin dia merasa aman bila berada di dekat nya.

"Nal seng tenan," ( Nal yang bener,) ucap Syarif

"Takok o mas mu kui lek gak percoyo!" ( Tanya abang mu itu kalo gak percaya).

Syarif melirik Alingga, ia berharap Alingga menggeleng namun Alingga terus terusan menatap nya ,

"Ha.. " jawab Alingga singkat

Syarif diam tak mampu berkata kata,ia sudah cukup trauma berhubungan dengan mahluk halus, kali ini nyali nya benar benar menciut. lepas dari serigala masuk ke kandang singa, begitulah yang mereka rasakan saat ini, bukan nya lebih baik malah semakin banyak misteri yang menghampiri.

Alingga melangkah ke dipan di dalam kamar, ia merebahkan tubuhnya diatas Ranjang kayu. Zainal menyusul, mereka saling berbaring menatap ke langit-langit kamar.

"Pekat mas,angel iki" ucap zainal sambil telentang.

"Yang penting Jangan Sampai ke hilangan kendali, sekuat apapun mereka, tetap tuhan lah yang maha kuasa." jawab Alingga.

"Aku wedi lek gak iso" (Aku takut jika tidak bisa,")

Alingga melirik zainal, kemudian berbisik . setelah nya zainal tampak lebih tenang di banding kan sebelumnya.

Terpopuler

Comments

Machan

Machan

wuis, ngeri tenan lho. nek di uber setan koyo ngonoh berasa meneng neng tempat. untung ono mas'e sing nyelamatke. nek ora yo wes, emboh jadi opo

2022-06-17

0

Ranran Miura

Ranran Miura

selalu mencekam, ini malah tambah pindah ke kandangnya memedi 😣

2022-06-17

0

Ranran Miura

Ranran Miura

aku belum pernah denger 🙂

2022-06-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bolo Laru
2 Bab 2: Bolo Pathi
3 Bab 3:Penghuni baru
4 Bab 4: Sajen
5 Bab 5: Kamar sebelah
6 Bab 6: Piring kenikmatan
7 Bab 7: Gelap
8 Bab 8: Ganjang
9 Bab 9: Mentari bersinar
10 Bab 10: Teman lama
11 Bab 11: Gerbang besar
12 Bab 12: Kemuning
13 Bab 13: Laras
14 Bab 14: Terjebak
15 Bab 15: Omah Dongko
16 Bab 16: Malam Bulan Purnama
17 Bab 17:Ruang penyimpanan
18 bab 18: Kebenaran
19 Bab 19: Dalam pekat
20 Bab 20: Pelarian
21 Bab 21: Masa lalu
22 Bab 22: Ruang tersembunyi
23 Bab 23:Hutan
24 Bab 24:Sisi lain
25 Bab 25: Kota sebelah
26 Bab 26: Kotak misterius
27 Bab 27: Seimbang
28 Bab 28: Lewung
29 Bab 29: Perjalanan ke desa
30 Bab 30: Tamu tak diundang
31 Bab 31: Desa Laweh
32 Bab 32: Jagat lelembut
33 Bab 33: Cahaya terang
34 Bab 34: Kematian
35 Bab 35: Rumah sakit
36 Bab 36: Kampung
37 Bab 37: Gubuk
38 Bab 38: Meminta miliknya
39 Bab 39: Malam hari
40 Bab 40: Pagi yang cerah
41 Bab 44: Bantuan
42 Bab 41: Langit senja
43 Bab 42: Buku tua
44 Bab 43: Penyesalan
45 Bab 45: Hujan Gerimis
46 Bab 46: Ladang jagung
47 Bab 47: Rumah Guru
48 Bab 48: Kembali
49 Bab 49: Tersadar
50 Bab 50: Gadis Kecil
51 Bab 51: Perundingan
52 Bab 52: Hilang
53 Bab 53: Kesepakatan
54 Bab 54: Kosong
55 Bab 55: Gosib
56 Bab 56: Alasan
57 Bab 57: kesepakatan bersama
58 Bab 58: Terjatuh
59 Bab 59: Gudang
60 Bab 60: Peti Mati
61 Bab 61: Hutan Barat
62 Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63 Bab 63: Waktu yang Salah
64 Bab 64: Kembali Lagi
65 Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66 Bab 66: Pantulan Wajah
67 Bab 67: Wanita Itu
68 Bab 68: End
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1: Bolo Laru
2
Bab 2: Bolo Pathi
3
Bab 3:Penghuni baru
4
Bab 4: Sajen
5
Bab 5: Kamar sebelah
6
Bab 6: Piring kenikmatan
7
Bab 7: Gelap
8
Bab 8: Ganjang
9
Bab 9: Mentari bersinar
10
Bab 10: Teman lama
11
Bab 11: Gerbang besar
12
Bab 12: Kemuning
13
Bab 13: Laras
14
Bab 14: Terjebak
15
Bab 15: Omah Dongko
16
Bab 16: Malam Bulan Purnama
17
Bab 17:Ruang penyimpanan
18
bab 18: Kebenaran
19
Bab 19: Dalam pekat
20
Bab 20: Pelarian
21
Bab 21: Masa lalu
22
Bab 22: Ruang tersembunyi
23
Bab 23:Hutan
24
Bab 24:Sisi lain
25
Bab 25: Kota sebelah
26
Bab 26: Kotak misterius
27
Bab 27: Seimbang
28
Bab 28: Lewung
29
Bab 29: Perjalanan ke desa
30
Bab 30: Tamu tak diundang
31
Bab 31: Desa Laweh
32
Bab 32: Jagat lelembut
33
Bab 33: Cahaya terang
34
Bab 34: Kematian
35
Bab 35: Rumah sakit
36
Bab 36: Kampung
37
Bab 37: Gubuk
38
Bab 38: Meminta miliknya
39
Bab 39: Malam hari
40
Bab 40: Pagi yang cerah
41
Bab 44: Bantuan
42
Bab 41: Langit senja
43
Bab 42: Buku tua
44
Bab 43: Penyesalan
45
Bab 45: Hujan Gerimis
46
Bab 46: Ladang jagung
47
Bab 47: Rumah Guru
48
Bab 48: Kembali
49
Bab 49: Tersadar
50
Bab 50: Gadis Kecil
51
Bab 51: Perundingan
52
Bab 52: Hilang
53
Bab 53: Kesepakatan
54
Bab 54: Kosong
55
Bab 55: Gosib
56
Bab 56: Alasan
57
Bab 57: kesepakatan bersama
58
Bab 58: Terjatuh
59
Bab 59: Gudang
60
Bab 60: Peti Mati
61
Bab 61: Hutan Barat
62
Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63
Bab 63: Waktu yang Salah
64
Bab 64: Kembali Lagi
65
Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66
Bab 66: Pantulan Wajah
67
Bab 67: Wanita Itu
68
Bab 68: End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!