Dua wajah dalam satu keterikatan, batas antara kegelapan dengan cahaya mulai tersamarkan. Tidak penting lagi siapa yang berdiri di sisi yang benar atau siapakah yang berdiri disisi yang salah, ketika hari itu tiba manusia akan terjerat ke dalam tipu muslihat.
Bahkan diri ini, masih belum memahami kemana arah jalan yang selama ini di pilih, hingga tersesat dan tak menemukan jalan untuk kembali.
Kami selamat, berhasil melewati malam yang paling mengerikan sepanjang aku hidup.
Fajar telah menyingsing, mentari yang cerah menghangatkan tubuh yang membeku sepanjang malam, kami semua dapat bernafas lega. Termasuk Zainal yang saat ini sudah siuman, seperti biasa ia duduk di kursi bambu dengan secangkir kopi hitam nya.
Kami tak banyak berbicara, saling berdiam seolah tak pernah terjadi apapun semalam, saling membuang muka dengan alasan mengembalikan tenaga yang habis terkuras.
Aku menghubungi Alingga, teman dekat ku selama bertahun-tahun. hanya kami tak akan menyelesaikan apapun, terpaksa aku harus menyeret nya kedalam masalah ini. Beruntung ia tak keberatan membantu, meski sedikit malu sudah berkali-kali menyulitkan nya, ia akan datang nanti.
"Nal Golek mangan sek, ket wingi weteng urung ke isi!" ( Nal cari makan dulu,dari kemarin perut belum ke isi! ).Aku menghampiri nya
Zainal Menoleh, " Yok lah ."
"Sek yo tak ngomong ambek seng liyane." (Nanti ya aku bilang sama yang lain.) ucap ku Sembari pergi meninggalkan nya.
Aku melangkah menuju kamar nomor 15, mereka disana Doni dan mas Yanto sedang membetulkan pintu yang hampir Rusak. Aku menyapa, mereka setuju untuk pergi, Setidaknya kami harus bersiap bila malam nanti teror kembali berulah.
"Biasa mas neng warung e bulek Dariati, sampeyan eroh kan?" ( Biasa di warung bulek Dariati kamu tau kan?) tanya ku pada mereka.
Mas yanto mengangguk paham, segera menyelesaikan pekerjaannya.
Kami pergi, meninggalkan area kost kost an yang baru baru ini menoreh kenangan dalam ingatan, Kenangan buruk yang seumur hidup tak akan sudi untuk kami ulang.
...***...
Di dalam warung kopi yang tak terlalu besar, Zainal sibuk mengisi daya baterai nya yang kosong, Sedangkan mas yanto dan Doni sudah lebih dulu memesan makanan.
Segera ku habiskan makanan yang tersaji, akan memburuk bila kenangan piring di atas meja kembali diputar, mengingat sesuatu yang berlendir itu masuk kedalam mulut , selera makan sudah pasti hilang.
"Nal aku mau wes ngomong ambek Ali, wong e setuju Bantu awak e dewe". ( Nal tadi aku udah bilang sama ali, dia setuju bantu kita.) ucap ku setelah selesai makan.
"Ali sopo? " (Ali siapa?) ucap nya bingung.
"Alingga lo, konco ne dewe pun lali." (temen sendiri pun lupa.) balas ku
"Udu lali, wong biasane angga iki ko ganti dadi Ali." (Bukan nya lupa, biasanya juga manggil nya angga kok ini ganti jadi Ali.)
"Kan bener Ali..ngga "
"Iyo iyo karep mu." ucap nya sembari menghabiskan nasi.
Aku menatap mas Yanto dan Doni, mereka tak mengeluarkan suara sedikitpun, saling berdiam meskipun duduk bersebelahan.
"Mas Yan, sampeyan kan wis suwi ngekost neng kono, emang e mbiyen ra ono kejadian koyo ngene opo?" (mas yan, kamu kan udah lama ngekost disana, memang dulu gak ada kejadian kek gini apa? ) tanya ku
Mas yanto melirik, menatap ku diam.
" Enek sih,tapi yo ora separah iki." ( Ada sih tapi nggak separah ini.) jawab nya Sembari menggigit pisang goreng.
"Gini lo mas, aku mulai di ganggu ngeliat itu yang tadi malam pas habis makan yang di atas piring,apa gara gara itu ya" ucap ku yang malas menyebutkan apa yang kami lihat semalaman.
"Pie? seng jelas lo lek ngomong" (Gimana? yang jelas kalo ngomong.) ucap mas Yanto.
"Aku di weruhi lagek mau mbengi mas, opo gara gara mangan seng neng duwur piring kae?" ( aku di nampak i baru tadi malem, apa gara gara makan yang di atas piring itu ya? ) ulang ku lagi.
Mas Yanto nampak sedang berfikir, ia mencari-cari ingatan beberapa waktu sebelumnya. Tak lama ia menanggapi, namun ia tak setuju dengan ucapan ku ,dia merasa ada persoalan lain yang membuat kami di ganggu.
"Aku gak tau di wei barang koyo ngono kui, la nyapo aku kok kenek. berarti dudu kui masalah e." ( Aku nggak pernah di kasih barang kayak gitu,terus kenapa aku juga terlibat. berarti bukan itu masalah nya.) jawab mas Yanto.
Kami berdiam Karena tak menemukan jawaban apapun. disaat kami gelisah Doni mengutarakan pendapat nya,ini pertama kalinya aku mendengar nya berbicara.
"Ngopo Don?" (Kenapa Don?)
"Duit,aku nemu duit neng arep lawang" ( Uang,aku menemukan uang di depan kamar. ) Kami menatap satu sama lain terbelalak Seolah membenarkan ucapan Doni.
"Aku yo tau nemu, kowe rip?" ( aku juga Pernah dapat, kamu rip?) tanya mas Yanto,aku mengangguk .
Pada akhirnya kami menemukan fakta alasan kami terlibat dengan keganjilan di rumah kost . Bisa jadi uang itu merupakan umpan untuk memancing para korban untuk tumbal pesugihan, atau berkaitan dengan ilmu hitam lainya.
"Udah pasti karena itu,sehabis aku mengambil nya banyak kejadian ganjil di kamar. aku bahkan tidak berani lagi tidur sendiri" Ucap Doni.
"Sek, kowe juga nal oleh duwit?" ( tunggu,kamu juga nal dapet uang? ) tanya ku.
"Gak" Zainal dengan santainya menjawab.
"Aku iso ndelok barang ngono kui kan ket mbiyen" ( aku dari dulu memang bisa melihat mahkluk halus kan ). lanjut nya lagi.
Aku melupakan hal itu, dia dengan Alingga memang memiliki kemampuan khusus, Pantas saja sikap dia aneh semenjak datang ke kost kost an, rupanya dia lebih dulu melihat segalanya.
"Ileng seng tak omong wingi kae enek mbak mbak ngadeg jejeg neng pintu, yo kui mbak mbak e seng mau mbengi." ( Ingat Yang aku bilang ada mbak mbak berdiri tegak di depan pintu,ya itu mbak mbaknya yang tadi malem. ) Ia melanjutkan Sembari menghabiskan makanan nya.
"Asu bocah iki, mbak Lanak jebule Kunt*Lanak." Zainal terkekeh mendengar ucapan ku.
Aku memaki Zainal karena berhasil mengerjaiku, memang gila hal semacam itu ia buat bercandaan.
"Tapi enek seng aneh, pas pertama ketemu jare mbak mbak iku jenenge Laras." ( Tapi ada yang aneh, waktu pertama ketemu ada yang bilang namanya laras.) jelas Zainal.
"Awak mu ketemuan ambek mbak e?" ( kamu ketemuan sama mbak nya?) tanya ku meledek.
"Matane cah iki, Rungokno wae gak usah takon sek" ( dengerin aja gak usah tanya terus).
"Jare mbak Laras ibuk ku, tapi ibuk ku kan jenenge Rumi! " ( katanya laras itu ibuk aku, Tapi ibu aku kan rumi bukan nya laras! ). tambah nya lagi.
Kami saling mematung satu sama lain,
"Seng tenan nal ? Paling kowe dudu anak kandunge bude Rumi?" (Yang bener nal, apa mungkin kamu bukan anak kandung nya bude Rumi? ).
Plakk!!
"Loro cok!" (Sakit tau!) Sentak ku saat tangan nya mendarat mulus di kepala .
"Sembarang lek ngomong , tak sumpeli sendal engko lambe mu ngomong koyo ngono meneh!" (Sembarang kalo ngomong, ku sumpal sendal nanti mulut mu ngomong kayak gitu lagi!) ucap Zainal.
"Maksud ku ki kan kemungkinan." ( maksud aku itu kan kemungkinan.) bela ku.
Kami kembali diam, zainal tampak sedang memikirkan sesuatu , apa ucapan ku tadi salah? Entah lah semoga ia tidak mengambil hati ucapan ku barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Winna
Mgkn kost2 an itu rumah e wijaya pd jaman dl..
2022-06-14
0
Wherr Latajan
lah kok ngegas si sarip nya 🤣🤣
2022-05-28
0
Jennitra
laras itu anaknya wijaya
2022-05-22
1