Bab 2: Bolo Pathi

Malam itu terasa berbeda dari malam malam sebelumnya, sejauh Laras melangkah terasa keheningan di kediaman keluarga besar Wijaya, bahkan para abdi yang biasanya berseliweran terlihat kosong tak ada satupun yang menampakkan wujudnya.

Laras masih menelusuri lorong di dalam paviliun Jati, sebuah bangunan yang khusus di buat untuk laras gunakan sebagai tempat tinggal nya. Cukup aneh bukan satu keluarga namun tidak tinggal pada satu atap, begitupula dengan mayang adiknya, yang juga tinggal terpisah dari bangunan utama.

Lorong semakin gelap saat satu persatu lampu minyak di dinding rumah mulai padam, angin berhembus melewati sela sela ukiran kayu. Laras menghentikan langkahnya menatap pintu yang terbuka lebar menampakan koridor panjang yang menghubungkan paviliun Jati dengan bangunan utama.

Diluar terang Bulan, Aroma bunga melati menyebar ke segala penjuru dari hamparan taman bunga di halaman paviliun. Laras menatap Barisan tiang di kanan dan kiri koridor, bercak bercak hitam tercecer di lantai marmer dan tiang penyangga.

Laras mengikuti jejak bercak yang tampak sudah mengering, tidak biasanya hal ini terjadi. Abdi keluarga nya tidak akan membiarkan sedikit pun noda di bangunan utama. langkah laras terhenti di muka pintu kayu setinggi 2 Meter, terdapat banyak ukiran bunga yang menambah kesan mewah dari bangunan utama.

"Nduk!"

Laras terhenyak mendengar suara bisikan, ada ketakutan dari raut wajahnya.

"Siapa!!" Laras panik tak ada seorang pun di sana.

"Bapak? Pak" panggil laras

"Mrene o nduk!" terdengar suara bisikan lagi

Pintu kayu perlahan terbuka, terdengar bunyi berderit dari engsel engselnya yang sudah berkarat. Tercium bau anyir dari dalam ruangan yang gelap, Laras tak segera melangkah kan kaki nya, ada keraguan yang tak terbaca dari wajah oval nya, wajah ayu dengan kelopak mata ganda.

"Pak?" panggil Laras lagi.

"Mrene o gowonen bapak mu!" (*Kesini bawalah Bapak mu*) Suara itu terdengar lagi.

"Njenengan sinten?"( Anda siapa? ) tanya Laras yang masih mematung di depan ruangan.

Terdengar suara tawa yang menggelegar, Suara berat yang menggema di seisi ruangan. Nyali Laras semakin menciut, ia membalikkan tubuhnya menuju paviliun Jati. Namun, langkahnya terhenti saat melihat tumpukan abdi keluarga Wijaya yang sudah tergeletak tak bernyawa menghalangi jalan koridor.

Laras ingin sekali berteriak namun Suaranya tertahan di pangkal tenggorokan, kaki nya membeku tak bisa di gerakan.

Hembusan angin menyapu kulit tubuhnya, angin dingin menusuk hingga ke ruas ruas tulang rusuk. Suasana berubah, mayat mayat yang tergeletak kembali berdiri, berjalan tertatih menghampiri Laras .

"Bapak Tulungi Laras pak". Laras tak henti-hentinya berucap meskipun tak sepatah katapun terdengar.

"Wes di kandani ,mrene o jipuk en Bapak mu"(Sudah di bilangin, kesini Ambil Bapak mu)

Arggrrrrrr!!

Suara mengerang terdengar jelas dari dalam ruangan gelap, Laras tak punya pilihan lain, ia setuju dan mengikuti kemana suara itu akan menuntunnya.

Kaki nya dapat di gerakkan kembali, tanpa sadar ia melangkah menuju ruangan gelap yang sangat ditakutinya itu. Sebenarnya Ruangan ini adalah Aula tempat berkumpul nya seluruh anggota keluarga saat ada acara besar. Namun, terkhusus malam ini hawa tidak mengenakkan muncul dari dalam ruangan yang di dominasi ukiran bunga bersulur.

Didalam kegelapan, Laras berusaha keras menghentikan langkahnya. Namun, usaha nya sia sia.

Lilin di atas meja tiba-tiba menyala terang, tepat di hadapan nya Laras menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri orang orang yang tergantung di langit langit Aula dengan luka luka menganga di setiap tubuhnya.

Darah menetes setiap detiknya membanjiri lantai marmer yang kini penuh genangan darah.

"Apa yang terjadi?"

Laras tak henti hentinya bertanya penuh kebingungan, entah Kepada siapa ia bertanya. Belum pernah laras melihat keganjilan seperti ini.

Namun ada yang lebih membuat laras terguncang, di atas sebuah kursi besar, duduk Seseorang yang mengenakan pakaian khas jawa, sosok itu terlihat sangat berwibawa dan berkharisma .

Namun Bukan itu, Laras melihat sesuatu yang lain, Sebuah tangan hitam mencengkeram bahu jenjang Wijaya, Menyeringai dari balik bulu bulu lebat yang menutupi seluruh tubuhnya. Sesaat kemudian mahkluk itu mendekati Laras yang hanya berjarak 10 meter dari singgasana, Laras berjalan mundur menjauhi mahluk itu yang kini tepat di depan wajah nya.

"Ora pengen takon koe, Nduk!"(Tidak ingin bertanya kamu, Nak!)

Makhluk itu membelai kepala Laras dengan jari jari tangan nya yang membusuk. Laras bergidik namun tubuh nya membeku.

" Bolo Pathi, ndoro ku darmoloyo wes roto lemah kabeh!" ( *Bolo Pathi, majikan ku Darmoloyo sudah rata dengan tanah semua*!) Lanjut nya lagi

"Darmoloyo?"Laras tampak bingung dengan ucapan mahluk tersebut.

"Welasan taun Darmoloyo nyekel Lemah Segoro, Ora ono seng wani ganggu mergo nyowo taruhane. Bapak mu ancen kemendel, ngelangkahi garis gerbang Segoro seng wiwit mbiyen ketutup rapet di jogo Ganjang Roha!" (Belasan tahun Darmoloyo menguasai tanah lautan, tidak ada yang berani menggangu karena taruhan nya nyawa. Bapak mu dasarnya sok berani, melewati garis gerbang samudera yang sedari dulu tertutup rapat dijaga Ganjang Roha!)

"Gerbang Segoro?" Beribu pertanyaan berkutat di kepalanya, sama sekali tak mengerti apa maksud dari perkataan mahluk yang mengaku sebagai Bolo Pathi.

"Tak kandani ndukk, gowonen bapak mu seko Alas Ruwah. Ganjang liyane bakal nuntut bales Ratu Ranggas."( Saya kasih Nasehat, Nak. Bawa pulang Bapak mu dari Alas Ruwah. Ganjang yang lain akan menuntut balas Ratu Ranggas.)

Lagi lagi laras terdiam, semua yang di ucapkan bolo pathi tampak membingungkan.

Jlebb..

Tidak terduga, tangan hitam itu menghujam jantung Laras hingga menembus tulang punggung nya, Darah kental membasahi lantai merah yang mengering, Laras terjatuh kehilangan keseimbangan.

...***...

Di dalam kamar Paviliun Jati, Laras terhenyak. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dia berteriak histeris membuat kebisingan di tengah malam bulan purnama. Para abdi yang mendengar teriakkan Laras tergopoh-gopoh menghampiri majikan nya yang baru saja terbangun dari mimpi buruk.

Tak berapa lama berselang, Wijaya ayahnya pun datang menghampiri paviliun Jati yang sudah ramai para abdi, di belakangnya nya dua orang perempuan membawa mangkuk tembaga yang ditutupi kain merah. Langkah penuh wibawa dari seorang kepala keluarga terhenti di hadapan sebuah ruangan yang penuh jeritan.

"Segoro!! Gerbang Segoro" Teriakan laras.

Perempuan yang membawa mangkuk tembaga masuk meletakkan barang bawaannya di atas sebuah meja kayu berukir bunga Kamboja. Ia Membantu menenangkan Laras yang masih meronta ronta di atas Ranjang bertirai Merah.

Wijaya melangkah maju, menekan Lima titik syaraf kepala Laras. Suara teriakan nya semakin keras, Mata nya melotot penuh Amarah.

Setelah cukup tenang Wijaya memaksa laras meminum cairan Merah kental dari mangkuk tembaga, Laras menurut meneguk habis seluruhnya.

Cairan itu masuk ke dalam tubuh laras, ia menggelinjang kesakitan. Para abdi menahan tubuh Laras yang meronta ronta kesetanan. Cairan bening mengalir dari pelupuk matanya, akibat sakit yang sedari tadi mengiris iris setiap inci tubuhnya.

Wijaya menyumpal mulut Laras dengan tangannya agar ia tak memuntahkan cairan itu. Laras pasrah tak ada yang bisa ia lakukan. Setiap bulan purnama ia harus mengalami hal yang serupa, Mimpi yang sama terus terusan terulang. Tidak ada jalan lain, itulah harga yang harus dia terima sebagai Wadah iblis Alas Ruwah.

Terpopuler

Comments

TDT Angreni

TDT Angreni

waaahhhh.... ceritanya buat terhayut untuk terus baca... serem tapi penasaran.

2023-03-30

0

Maya●●●

Maya●●●

udah aku masukin fav ya kak.
semangatttt😊😊😊

2022-08-25

1

Kak Ya

Kak Ya

mantab kaa .. salam dr 'santri pilihan' ka🤩

2022-06-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bolo Laru
2 Bab 2: Bolo Pathi
3 Bab 3:Penghuni baru
4 Bab 4: Sajen
5 Bab 5: Kamar sebelah
6 Bab 6: Piring kenikmatan
7 Bab 7: Gelap
8 Bab 8: Ganjang
9 Bab 9: Mentari bersinar
10 Bab 10: Teman lama
11 Bab 11: Gerbang besar
12 Bab 12: Kemuning
13 Bab 13: Laras
14 Bab 14: Terjebak
15 Bab 15: Omah Dongko
16 Bab 16: Malam Bulan Purnama
17 Bab 17:Ruang penyimpanan
18 bab 18: Kebenaran
19 Bab 19: Dalam pekat
20 Bab 20: Pelarian
21 Bab 21: Masa lalu
22 Bab 22: Ruang tersembunyi
23 Bab 23:Hutan
24 Bab 24:Sisi lain
25 Bab 25: Kota sebelah
26 Bab 26: Kotak misterius
27 Bab 27: Seimbang
28 Bab 28: Lewung
29 Bab 29: Perjalanan ke desa
30 Bab 30: Tamu tak diundang
31 Bab 31: Desa Laweh
32 Bab 32: Jagat lelembut
33 Bab 33: Cahaya terang
34 Bab 34: Kematian
35 Bab 35: Rumah sakit
36 Bab 36: Kampung
37 Bab 37: Gubuk
38 Bab 38: Meminta miliknya
39 Bab 39: Malam hari
40 Bab 40: Pagi yang cerah
41 Bab 44: Bantuan
42 Bab 41: Langit senja
43 Bab 42: Buku tua
44 Bab 43: Penyesalan
45 Bab 45: Hujan Gerimis
46 Bab 46: Ladang jagung
47 Bab 47: Rumah Guru
48 Bab 48: Kembali
49 Bab 49: Tersadar
50 Bab 50: Gadis Kecil
51 Bab 51: Perundingan
52 Bab 52: Hilang
53 Bab 53: Kesepakatan
54 Bab 54: Kosong
55 Bab 55: Gosib
56 Bab 56: Alasan
57 Bab 57: kesepakatan bersama
58 Bab 58: Terjatuh
59 Bab 59: Gudang
60 Bab 60: Peti Mati
61 Bab 61: Hutan Barat
62 Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63 Bab 63: Waktu yang Salah
64 Bab 64: Kembali Lagi
65 Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66 Bab 66: Pantulan Wajah
67 Bab 67: Wanita Itu
68 Bab 68: End
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1: Bolo Laru
2
Bab 2: Bolo Pathi
3
Bab 3:Penghuni baru
4
Bab 4: Sajen
5
Bab 5: Kamar sebelah
6
Bab 6: Piring kenikmatan
7
Bab 7: Gelap
8
Bab 8: Ganjang
9
Bab 9: Mentari bersinar
10
Bab 10: Teman lama
11
Bab 11: Gerbang besar
12
Bab 12: Kemuning
13
Bab 13: Laras
14
Bab 14: Terjebak
15
Bab 15: Omah Dongko
16
Bab 16: Malam Bulan Purnama
17
Bab 17:Ruang penyimpanan
18
bab 18: Kebenaran
19
Bab 19: Dalam pekat
20
Bab 20: Pelarian
21
Bab 21: Masa lalu
22
Bab 22: Ruang tersembunyi
23
Bab 23:Hutan
24
Bab 24:Sisi lain
25
Bab 25: Kota sebelah
26
Bab 26: Kotak misterius
27
Bab 27: Seimbang
28
Bab 28: Lewung
29
Bab 29: Perjalanan ke desa
30
Bab 30: Tamu tak diundang
31
Bab 31: Desa Laweh
32
Bab 32: Jagat lelembut
33
Bab 33: Cahaya terang
34
Bab 34: Kematian
35
Bab 35: Rumah sakit
36
Bab 36: Kampung
37
Bab 37: Gubuk
38
Bab 38: Meminta miliknya
39
Bab 39: Malam hari
40
Bab 40: Pagi yang cerah
41
Bab 44: Bantuan
42
Bab 41: Langit senja
43
Bab 42: Buku tua
44
Bab 43: Penyesalan
45
Bab 45: Hujan Gerimis
46
Bab 46: Ladang jagung
47
Bab 47: Rumah Guru
48
Bab 48: Kembali
49
Bab 49: Tersadar
50
Bab 50: Gadis Kecil
51
Bab 51: Perundingan
52
Bab 52: Hilang
53
Bab 53: Kesepakatan
54
Bab 54: Kosong
55
Bab 55: Gosib
56
Bab 56: Alasan
57
Bab 57: kesepakatan bersama
58
Bab 58: Terjatuh
59
Bab 59: Gudang
60
Bab 60: Peti Mati
61
Bab 61: Hutan Barat
62
Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63
Bab 63: Waktu yang Salah
64
Bab 64: Kembali Lagi
65
Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66
Bab 66: Pantulan Wajah
67
Bab 67: Wanita Itu
68
Bab 68: End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!