Bab 13: Laras

Pagi hari di kediaman keluarga Wijaya, Alingga membuka pintu menyambut matahari terbit, sedangkan yang lain masih lelap tertidur.

Pagi itu Juhri mendatangi mereka, ia berbincang dengan Alingga agar membawa teman teman nya menemui tuan rumah.

Alingga langsung setuju karena dia juga sangat penasaran dengan siapa dia berhadapan. Juhri segera membawa mereka ke paviliun utama, tempat kediaman kepala keluarga Wijaya tinggal, seperti anak anak nya ia memang tinggal terpisah.

"Mengko nek ketemu tuan Wijaya gak usah kakehan takon, nurut wae." (Nanti kalo ketemu Wijaya jangan banyak bertanya,nurut aja.) ucap Juhri memimpin jalan.

"Wijaya ki ancen e wong e penak an, gelem manut wae ora bakal angel urip mu." (Wijaya ini sebenarnya orang nya enakan, mau nurut aja hidup kamu gak akan sulit.) lanjut juhri

"Aku wes taunan ngabdi neng keluarga iki," ( Aku sudah Tahunan mengabdi di keluarga ini,) ucap juhri lagi

Alingga tak mendengar kan ucapan juhri, ia lebih tertarik menelisik sekitar, terutama jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan, kira kira menuju kemanakah jalan tersebut. Alingga menepis semua pemikiran nya saat telah tiba di bangunan utama, Ramai abdi keluarga ini berlalu lalang mengerjakan pekerjaan nya masing masing.

"Tuan Wijaya ada di dalem, " ucap juhri mempersilahkan mereka masuk kedalam, Juhri menuntun mereka hingga tiba di sebuah ruangan yang sudah terbuka.

Tampak sebuah meja panjang di tengah tengah ruangan, tersaji berbagai hidangan lezat, Syarif tampak tergoda dengan sajian tersebut.

Di ujung meja terlihat seorang laki laki mengenakan pakaian hitam duduk di kursi paling tengah layak nya seorang raja, di samping sebelah kanan ada dua orang wanita . Wanita yang memakai kebaya hijau tampak sudah berumur, sedang kan wanita di sebelah nya terlihat masih sangat muda. Di sebelah kiri si lelaki duduk seorang wanita yang mengenakan pakaian lusuh, rambutnya acak acakan tak terawat.

Lelaki itu mempersilahkan mereka duduk, mereka mengambil tempat masing masing.

"Mas.. " sapa sang gadis

"Saya mayang, ini ibuk , itu mbak laras." Ucap gadis itu memperkenalkan diri.

Zainal terkejut mendengar bahwa perempuan berpakaian lusuh tersebut bernama Laras, bukan kebetulan bukan namanya sama dengan si wanita bergaun putih sebelum nya.

Zainal ingin bertanya namun di hentikan oleh Alingga, tampak nya Alingga sudah mewanti-wanti hal ini.

Alingga menatap tajam laras, ia melihat ada yang tidak benar dengan gadis ini.

Kepala keluarga Wijaya tidak banyak berbicara, ia diam menghabiskan makanan nya. Sesekali ia melirik ke arah zainal, Alingga menyadari gelagat orang ini. Entah apa yang saat ini difikirkan Alingga, ia tampak tengah menyimpulkan sesuatu.

Brakkk!!!

BRAKKk!!

Tiba-tiba saja perempuan bernama laras mengamuk, semua orang terkejut tapi tidak dengan Wijaya Yang terlihat santai melihat tingkah putri nya. Alingga berusaha menenangkan perempuan tersebut namun di larang oleh Wijaya, ia masih tetap melanjutkan makan nya meskipun anaknya mengacak-acak seisi meja.

"Lungo... !!"

Prang!

Dia melemparkan piring piring keramik kesegala arah, piring piring itu pecah berserakan.

Wijaya memanggil abdi nya untuk membawa laras pergi, mereka segera datang membopong majikan nya tersebut, meskipun sangat sulit menenangkan pada akhirnya laras luluh juga.

"Wes ndelok kan pie kondisi ne anak ku, kui kabeh ulah e Darmoloyo seng nyantet Kabeh keluarga ku." ( Sudah lihat bukan gimana kondisi anak ku, itu semua ulah Darmoloyo yang menyantet keluarga ku.) ucap wijaya setelah menyelesaikan sarapan nya.

"Aku ngorbanke kabeh seng tak dueni ben keluarga ku selamet, opo wae bakal tak lakoni. " (Aku mengorbankan segalanya yang kumiliki agar keluarga ku selamat semua akan aku lakukan.) lanjut nya lagi.

Mereka semua mendengar kan dengan seksama, entah karena mereka takut dengan Wijaya atau karena hal lain.

"Keluarga ku wes suwi di wei Pakuningbumi," (Keluarga ku sudah lama diberi Pakuningbumi.)

"Gelar seng di songgo nyowo ne leluhur ku," (Gelar yang di sangga nyawanya leluhur ku.)

Wijaya kemudian pergi tanpa menyelesaikan ucapannya, ia bergegas pergi seolah olah sedang mencari sesuatu.

Berbeda dengan yang lain, Zainal tampak muak dengan orang ini, semua yang dia katakan hanya masuk sebentar lalu keluar lagi. Sepertinya Zainal punya dendam pribadi yang ia simpan dengan baik.

...***...

"Kamu liat tadi perempuan bernama Laras?" tanya mas Yanto.

Zainal menggangguk, ia masih menyimpan banyak pertanyaan , jika saja tidak dihentikan Alingga dia pasti sudah banyak mengintrogasi keluarga itu.

"Ngga?"

Alingga diam meninggalkan mereka yang berjalan lambat dibelakang. ia pergi entah kemana menjelajahi tempat ini sendirian, Zainal sangat ingin ikut namun ia masih kesal dengan Alingga, dia tidak habis fikir kenapa Alingga bersikap begitu.

"kowe kenopo Nal? rai mu kok ruwet ngono." (Kamu kenapa nal? muka kamu kok rumit gitu.) tanya Syarif

"Gak ngerti aku opo seng ono neng otak e Alingga," jawab Zainal.

"Koe nesu karo dek e ?" (kamu marah sama dia?)

" Ngene lo nal awak e dewe ki ojo berprasangka buruk ambek konco ne dewe, " (Gini lo nal kita itu jangan berprasangka buruk dengan Temen sendiri.)

"Mungkin bocah e punya rencana kan, " ucap syarif lagi.

"Rencana opo, ancen e Alingga ki angel." (Rencana apa? dasar nya Alingga itu susah).

"Koe krungu dewe kan omongan e wijaya pie, wes pesti kui sekutu ne setan kabeh." ( kamu denger sendiri kan Wijaya bilang apa,udah pasti itu mereka budak nya setan semua.) ucap zainal dengan nada tinggi.

"Kalo pun bener emang kamu bisa apa,mau nantangin Wijaya? Kamu bisa apa Nal! kita ini gak punya apa apa, sedangkan musuh kita sesuatu yang tidak terlihat." ucap Syarif.

"Bahasa Indonesia mu kok apik?" tanya zainal keheranan.

Syarif mengayun kan tangan nya menampar Zainal, ia sedang berbicara serius Zainal malah membuat lelucon.

"Wong di ajak ngomong tenanan malah di gae guyon." (orang diajak ngomong serius malah bercanda.)

"Wes lah gak usah dibahas disek, Muak aku" (Udah lah gak usah dibahas dulu,muak aku.) ucap zainal.

Mereka segera pergi, terutama zainal ia bergegas ke kamar entah apa yang sedang ia buru buru.

Yang lain mas yanto,Doni dan Syarif mereka pergi menyapa pekerjaan di sekitar bangunan, mereka mngeorek informasi dari para abdi keluarga ini. informasi apapun yang mungkin nanti berguna untuk mereka.

Tapi berbeda dengan yang lain, Syarif malah asyik mengganggu seorang wanita yang tengah membersihkan halaman. mas Yanto yang menatap dari kejauhan hanya geleng-geleng kepala mengahadapi tingkah syarif.

Tiba tiba saja Doni berbisik pada mas Yanto dan menunjuk ke arah jalan setapak di belakang bangunan, mereka penasaran dengan jalan itu tampak sangat menarik. namun mas Yanto tidak segera menelusuri, ia mengajak Syarif untuk kembali ke dalam kamar.

Terpopuler

Comments

Machan

Machan

zainal. wes, manut ae omongan ali. meneng ae lah koe, nal.
laras mesti nyeremin ya pas ngamuk👻

2022-06-17

0

Ranran Miura

Ranran Miura

kalo udah berhubungan sama pengabdi setan berat. sikap Zainal masih abu²

2022-06-17

0

Wherr Latajan

Wherr Latajan

apa perlu di pangilkan pasukan nya akatsuki biar bisa bantu

2022-06-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bolo Laru
2 Bab 2: Bolo Pathi
3 Bab 3:Penghuni baru
4 Bab 4: Sajen
5 Bab 5: Kamar sebelah
6 Bab 6: Piring kenikmatan
7 Bab 7: Gelap
8 Bab 8: Ganjang
9 Bab 9: Mentari bersinar
10 Bab 10: Teman lama
11 Bab 11: Gerbang besar
12 Bab 12: Kemuning
13 Bab 13: Laras
14 Bab 14: Terjebak
15 Bab 15: Omah Dongko
16 Bab 16: Malam Bulan Purnama
17 Bab 17:Ruang penyimpanan
18 bab 18: Kebenaran
19 Bab 19: Dalam pekat
20 Bab 20: Pelarian
21 Bab 21: Masa lalu
22 Bab 22: Ruang tersembunyi
23 Bab 23:Hutan
24 Bab 24:Sisi lain
25 Bab 25: Kota sebelah
26 Bab 26: Kotak misterius
27 Bab 27: Seimbang
28 Bab 28: Lewung
29 Bab 29: Perjalanan ke desa
30 Bab 30: Tamu tak diundang
31 Bab 31: Desa Laweh
32 Bab 32: Jagat lelembut
33 Bab 33: Cahaya terang
34 Bab 34: Kematian
35 Bab 35: Rumah sakit
36 Bab 36: Kampung
37 Bab 37: Gubuk
38 Bab 38: Meminta miliknya
39 Bab 39: Malam hari
40 Bab 40: Pagi yang cerah
41 Bab 44: Bantuan
42 Bab 41: Langit senja
43 Bab 42: Buku tua
44 Bab 43: Penyesalan
45 Bab 45: Hujan Gerimis
46 Bab 46: Ladang jagung
47 Bab 47: Rumah Guru
48 Bab 48: Kembali
49 Bab 49: Tersadar
50 Bab 50: Gadis Kecil
51 Bab 51: Perundingan
52 Bab 52: Hilang
53 Bab 53: Kesepakatan
54 Bab 54: Kosong
55 Bab 55: Gosib
56 Bab 56: Alasan
57 Bab 57: kesepakatan bersama
58 Bab 58: Terjatuh
59 Bab 59: Gudang
60 Bab 60: Peti Mati
61 Bab 61: Hutan Barat
62 Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63 Bab 63: Waktu yang Salah
64 Bab 64: Kembali Lagi
65 Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66 Bab 66: Pantulan Wajah
67 Bab 67: Wanita Itu
68 Bab 68: End
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1: Bolo Laru
2
Bab 2: Bolo Pathi
3
Bab 3:Penghuni baru
4
Bab 4: Sajen
5
Bab 5: Kamar sebelah
6
Bab 6: Piring kenikmatan
7
Bab 7: Gelap
8
Bab 8: Ganjang
9
Bab 9: Mentari bersinar
10
Bab 10: Teman lama
11
Bab 11: Gerbang besar
12
Bab 12: Kemuning
13
Bab 13: Laras
14
Bab 14: Terjebak
15
Bab 15: Omah Dongko
16
Bab 16: Malam Bulan Purnama
17
Bab 17:Ruang penyimpanan
18
bab 18: Kebenaran
19
Bab 19: Dalam pekat
20
Bab 20: Pelarian
21
Bab 21: Masa lalu
22
Bab 22: Ruang tersembunyi
23
Bab 23:Hutan
24
Bab 24:Sisi lain
25
Bab 25: Kota sebelah
26
Bab 26: Kotak misterius
27
Bab 27: Seimbang
28
Bab 28: Lewung
29
Bab 29: Perjalanan ke desa
30
Bab 30: Tamu tak diundang
31
Bab 31: Desa Laweh
32
Bab 32: Jagat lelembut
33
Bab 33: Cahaya terang
34
Bab 34: Kematian
35
Bab 35: Rumah sakit
36
Bab 36: Kampung
37
Bab 37: Gubuk
38
Bab 38: Meminta miliknya
39
Bab 39: Malam hari
40
Bab 40: Pagi yang cerah
41
Bab 44: Bantuan
42
Bab 41: Langit senja
43
Bab 42: Buku tua
44
Bab 43: Penyesalan
45
Bab 45: Hujan Gerimis
46
Bab 46: Ladang jagung
47
Bab 47: Rumah Guru
48
Bab 48: Kembali
49
Bab 49: Tersadar
50
Bab 50: Gadis Kecil
51
Bab 51: Perundingan
52
Bab 52: Hilang
53
Bab 53: Kesepakatan
54
Bab 54: Kosong
55
Bab 55: Gosib
56
Bab 56: Alasan
57
Bab 57: kesepakatan bersama
58
Bab 58: Terjatuh
59
Bab 59: Gudang
60
Bab 60: Peti Mati
61
Bab 61: Hutan Barat
62
Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63
Bab 63: Waktu yang Salah
64
Bab 64: Kembali Lagi
65
Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66
Bab 66: Pantulan Wajah
67
Bab 67: Wanita Itu
68
Bab 68: End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!