Pagi hari di kediaman keluarga Wijaya, Alingga membuka pintu menyambut matahari terbit, sedangkan yang lain masih lelap tertidur.
Pagi itu Juhri mendatangi mereka, ia berbincang dengan Alingga agar membawa teman teman nya menemui tuan rumah.
Alingga langsung setuju karena dia juga sangat penasaran dengan siapa dia berhadapan. Juhri segera membawa mereka ke paviliun utama, tempat kediaman kepala keluarga Wijaya tinggal, seperti anak anak nya ia memang tinggal terpisah.
"Mengko nek ketemu tuan Wijaya gak usah kakehan takon, nurut wae." (Nanti kalo ketemu Wijaya jangan banyak bertanya,nurut aja.) ucap Juhri memimpin jalan.
"Wijaya ki ancen e wong e penak an, gelem manut wae ora bakal angel urip mu." (Wijaya ini sebenarnya orang nya enakan, mau nurut aja hidup kamu gak akan sulit.) lanjut juhri
"Aku wes taunan ngabdi neng keluarga iki," ( Aku sudah Tahunan mengabdi di keluarga ini,) ucap juhri lagi
Alingga tak mendengar kan ucapan juhri, ia lebih tertarik menelisik sekitar, terutama jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan, kira kira menuju kemanakah jalan tersebut. Alingga menepis semua pemikiran nya saat telah tiba di bangunan utama, Ramai abdi keluarga ini berlalu lalang mengerjakan pekerjaan nya masing masing.
"Tuan Wijaya ada di dalem, " ucap juhri mempersilahkan mereka masuk kedalam, Juhri menuntun mereka hingga tiba di sebuah ruangan yang sudah terbuka.
Tampak sebuah meja panjang di tengah tengah ruangan, tersaji berbagai hidangan lezat, Syarif tampak tergoda dengan sajian tersebut.
Di ujung meja terlihat seorang laki laki mengenakan pakaian hitam duduk di kursi paling tengah layak nya seorang raja, di samping sebelah kanan ada dua orang wanita . Wanita yang memakai kebaya hijau tampak sudah berumur, sedang kan wanita di sebelah nya terlihat masih sangat muda. Di sebelah kiri si lelaki duduk seorang wanita yang mengenakan pakaian lusuh, rambutnya acak acakan tak terawat.
Lelaki itu mempersilahkan mereka duduk, mereka mengambil tempat masing masing.
"Mas.. " sapa sang gadis
"Saya mayang, ini ibuk , itu mbak laras." Ucap gadis itu memperkenalkan diri.
Zainal terkejut mendengar bahwa perempuan berpakaian lusuh tersebut bernama Laras, bukan kebetulan bukan namanya sama dengan si wanita bergaun putih sebelum nya.
Zainal ingin bertanya namun di hentikan oleh Alingga, tampak nya Alingga sudah mewanti-wanti hal ini.
Alingga menatap tajam laras, ia melihat ada yang tidak benar dengan gadis ini.
Kepala keluarga Wijaya tidak banyak berbicara, ia diam menghabiskan makanan nya. Sesekali ia melirik ke arah zainal, Alingga menyadari gelagat orang ini. Entah apa yang saat ini difikirkan Alingga, ia tampak tengah menyimpulkan sesuatu.
Brakkk!!!
BRAKKk!!
Tiba-tiba saja perempuan bernama laras mengamuk, semua orang terkejut tapi tidak dengan Wijaya Yang terlihat santai melihat tingkah putri nya. Alingga berusaha menenangkan perempuan tersebut namun di larang oleh Wijaya, ia masih tetap melanjutkan makan nya meskipun anaknya mengacak-acak seisi meja.
"Lungo... !!"
Prang!
Dia melemparkan piring piring keramik kesegala arah, piring piring itu pecah berserakan.
Wijaya memanggil abdi nya untuk membawa laras pergi, mereka segera datang membopong majikan nya tersebut, meskipun sangat sulit menenangkan pada akhirnya laras luluh juga.
"Wes ndelok kan pie kondisi ne anak ku, kui kabeh ulah e Darmoloyo seng nyantet Kabeh keluarga ku." ( Sudah lihat bukan gimana kondisi anak ku, itu semua ulah Darmoloyo yang menyantet keluarga ku.) ucap wijaya setelah menyelesaikan sarapan nya.
"Aku ngorbanke kabeh seng tak dueni ben keluarga ku selamet, opo wae bakal tak lakoni. " (Aku mengorbankan segalanya yang kumiliki agar keluarga ku selamat semua akan aku lakukan.) lanjut nya lagi.
Mereka semua mendengar kan dengan seksama, entah karena mereka takut dengan Wijaya atau karena hal lain.
"Keluarga ku wes suwi di wei Pakuningbumi," (Keluarga ku sudah lama diberi Pakuningbumi.)
"Gelar seng di songgo nyowo ne leluhur ku," (Gelar yang di sangga nyawanya leluhur ku.)
Wijaya kemudian pergi tanpa menyelesaikan ucapannya, ia bergegas pergi seolah olah sedang mencari sesuatu.
Berbeda dengan yang lain, Zainal tampak muak dengan orang ini, semua yang dia katakan hanya masuk sebentar lalu keluar lagi. Sepertinya Zainal punya dendam pribadi yang ia simpan dengan baik.
...***...
"Kamu liat tadi perempuan bernama Laras?" tanya mas Yanto.
Zainal menggangguk, ia masih menyimpan banyak pertanyaan , jika saja tidak dihentikan Alingga dia pasti sudah banyak mengintrogasi keluarga itu.
"Ngga?"
Alingga diam meninggalkan mereka yang berjalan lambat dibelakang. ia pergi entah kemana menjelajahi tempat ini sendirian, Zainal sangat ingin ikut namun ia masih kesal dengan Alingga, dia tidak habis fikir kenapa Alingga bersikap begitu.
"kowe kenopo Nal? rai mu kok ruwet ngono." (Kamu kenapa nal? muka kamu kok rumit gitu.) tanya Syarif
"Gak ngerti aku opo seng ono neng otak e Alingga," jawab Zainal.
"Koe nesu karo dek e ?" (kamu marah sama dia?)
" Ngene lo nal awak e dewe ki ojo berprasangka buruk ambek konco ne dewe, " (Gini lo nal kita itu jangan berprasangka buruk dengan Temen sendiri.)
"Mungkin bocah e punya rencana kan, " ucap syarif lagi.
"Rencana opo, ancen e Alingga ki angel." (Rencana apa? dasar nya Alingga itu susah).
"Koe krungu dewe kan omongan e wijaya pie, wes pesti kui sekutu ne setan kabeh." ( kamu denger sendiri kan Wijaya bilang apa,udah pasti itu mereka budak nya setan semua.) ucap zainal dengan nada tinggi.
"Kalo pun bener emang kamu bisa apa,mau nantangin Wijaya? Kamu bisa apa Nal! kita ini gak punya apa apa, sedangkan musuh kita sesuatu yang tidak terlihat." ucap Syarif.
"Bahasa Indonesia mu kok apik?" tanya zainal keheranan.
Syarif mengayun kan tangan nya menampar Zainal, ia sedang berbicara serius Zainal malah membuat lelucon.
"Wong di ajak ngomong tenanan malah di gae guyon." (orang diajak ngomong serius malah bercanda.)
"Wes lah gak usah dibahas disek, Muak aku" (Udah lah gak usah dibahas dulu,muak aku.) ucap zainal.
Mereka segera pergi, terutama zainal ia bergegas ke kamar entah apa yang sedang ia buru buru.
Yang lain mas yanto,Doni dan Syarif mereka pergi menyapa pekerjaan di sekitar bangunan, mereka mngeorek informasi dari para abdi keluarga ini. informasi apapun yang mungkin nanti berguna untuk mereka.
Tapi berbeda dengan yang lain, Syarif malah asyik mengganggu seorang wanita yang tengah membersihkan halaman. mas Yanto yang menatap dari kejauhan hanya geleng-geleng kepala mengahadapi tingkah syarif.
Tiba tiba saja Doni berbisik pada mas Yanto dan menunjuk ke arah jalan setapak di belakang bangunan, mereka penasaran dengan jalan itu tampak sangat menarik. namun mas Yanto tidak segera menelusuri, ia mengajak Syarif untuk kembali ke dalam kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Machan
zainal. wes, manut ae omongan ali. meneng ae lah koe, nal.
laras mesti nyeremin ya pas ngamuk👻
2022-06-17
0
Ranran Miura
kalo udah berhubungan sama pengabdi setan berat. sikap Zainal masih abu²
2022-06-17
0
Wherr Latajan
apa perlu di pangilkan pasukan nya akatsuki biar bisa bantu
2022-06-14
0