Menjelang siang matahari semakin terik,bayang bayang pepohonan terlukis di jalanan yang lenggang. Aku terhenyak menatap barisan bendera di kanan kiri jalan, di pelataran setiap rumah, maupun fasilitas umum seperti lapangan dan taman.
Apakah ada perayaan?
Zainal menghentikan langkahnya, mengamati sejenak bendera hitam dengan motif silang di dalam lingkaran. Bendera bendera ini aku belum pernah melihat nya sama sekali, bahkan semakin lama di pandang bendera ini semakin tampak aneh, Ada apa sebenarnya?
Aku sangat penasaran, namun yang lain bersikap acuh, mereka berlalu begitu saja tanpa mencari tahu lebih lanjut, aku tak punya pilihan lain Selain mengikuti.
...***...
Hari sudah akan senja tapi yang kami tunggu belum juga tiba, terlebih lagi mengingat kejadian semalam. Namun segala ke khawatiran itu lenyap saat sosok yang begitu familiar muncul dari arah jalanan, Lelaki tinggi dengan tas punggung hitam melenggang Santai ke arah kami.
"Ali..ngga.." terlalu senang hingga aku berteriak histeris menyambut nya.
Ia berlalu begitu saja tidak mengindahkan sambutan ku, berjalan menelusuri tanah gersang rerumputan kering menuju halaman belakang kost kostan, 'Sial anak ini 'Gerutu ku dalam hati.
Dalam sekejap telah hilang dari pandangan, dasarnya tidak ada yang bisa menghentikan nya, aku mengikuti, mengekor kemana pun ia pergi. Di bawah pohon beringin tua ia berhenti, menatap tajam mengamati setiap inci pohon tua.
"Zainal mana?" tanya Alingga
"Neng njero kamar." (Di dalam kamar.) jawab ku.
"Panggil"ucap nya singkat.
Jika bukan karena butuh bantuan nya, sudah ku pecah kan kepala batu nya itu. Sabar, anggap saja ia seperti malaikat , jangan membuat malaikat marah jika ingin keluar dari lembah neraka.
Zainal datang, menghampiri Alingga yang berdiri mematung.
"Ngga? " sapa Zainal.
"Syarif udah cerita semuanya, ini pohon yang kalian maksud bukan?" tanya Alingga.
" iya "
"Getih Ireng" ucap Alingga
"Maksud e pie?" (maksud nya gimana?) tanya Zainal.
"Getih ireng kui getih e abdi lelembut, ono Getih Ireng seng mancing ganjang mrene." ( Getih ireng itu adalah darah nya para pengabdi setan, ada darah hitam yang memancing ganjang ke sini. ) jelas Alingga.
"Seng mbukak gerbang Segoro mesti ndue simpul Pati ambk Alas Ruwah," (Yang membuka gerbang Segoro pasti punya simpul dengan alas Ruwah,) lanjut nya lagi.
"Gak sembarang uwong iso ngelakoni lebur sukmo, opo meneh toh e nyowo " (Gak sembarang orang bisa melakukan lebur sukma, apalagi taruhannya nyawa)
"Getih ireng, gerbang Segoro,alas Ruwah,lebur sukmo, punya simpul kematian yang terikat saling berkaitan, jika ingin lepas dari jerat simpul ini kita harus mencari celah di antaranya" ucap Alingga.
"Celah pie ngga? Aku gak mudeng blas seng mbok omong ne," (Celah gimana ngga? aku gak ngerti sama sekali sama ucapan mu,) jawab ku.
"Belum saat nya kamu tau. Yang paling penting untuk lepas dari ganjang roha kalian harus menemukan siapa yang membuka gerbang Segoro, untuk urusan lebih lanjut aku masih belum menemukan jalan keluarnya!" jelas Alingga atas ucapan ku.
Aku hanya manggut-manggut meskipun tak satupun ucapan Alingga yang dapat ku pahami.
"Ada yang aneh nggak di sekitar selain pohon ini?"
"Nggak enek ngga," ucap Zainal.
"Eh.. tapi di lantai atas ada kamar yang di pasangin sajen kan, kamar nomor 16 tempat mbak mbak itu Keluar," jelas ku mengingat kan Zainal.
"Iyo ngga, enek neng nduwor ," (iya ngga,ada di atas). ucap zainal
Alingga berlalu, masih dengan tas punggung nya semakin mempercepat jalan nya. kami tiba di depan kamar nomor 16, Pintu masih terkunci.
Disana mas yanto masih sibuk dengan pintu kamar nya, sedangkan doni duduk di pembatas sedang membaca buku.
"Mas yant, iki Alingga konco ku seko kampung" (mas yant, ini Alingga teman ku dari kampung) ucap ku memperkenalkan mereka, mas Yanto segera merespon.
"Don, " Sentak ku. Doni menghentikan kegiatannya kemudian menyambut jabatan tangan Alingga.
"Ngopo rip meng nduwor?" (Kenapa rip ke atas?) tanya mas yanto.
"Kamar sebelah bukan e mau mbengi kebuka?" (Kamar sebelah bukan nya tadi malem kebuka?) tanya zainal.
"Jek di gembok kui," (masih di gembok itu) jawab mas Yanto
Kami semua terdiam menelaah kembali ingatan, jelas tadi malam pintu ini terbuka,lalu Siapa yang menyegelnya kembali?
"Udah buka paksa aja!" ucap zainal
"Edan,mau tanggung jawab kamu kalo yang punya minta ganti rugi." bantah ku.
"Wes gak urus," Zainal segera merusak gembok yang menyegel pintu.
"Wes rusak saraf e bocah iki" (Udah rusak saraf nya anak ini).
Saat pintu terbuka aroma busuk tercium dari dalam kamar, di dalam tak ada dipan maupun lemari layak nya kamar pada umumnya, Hanya ada beberapa meja dengan mangkuk tembaga yang isinya telah mengering.
Debu tebal menempel pada lantai dan dinding ruangan, seolah olah tak pernah ada tanda-tanda kehidupan. Aku menelisik, Ada sebuah kotak di sudut ruangan, kotak kayu yang penutup nya sudah sedikit terbuka.
Saat ku hampiri, aroma busuk semakin kuat, Ada keraguan sebelum kotak kayu tersentuh. Di dalam terdapat potongan rambut yang sangat Panjang, aku tersentak mundur selangkah meyakinkan diri apa yang terlihat di depan mata.
Tumpukan rambut ini siapa yang menyimpan nya, apa penghuni kost sebelumnya? atau orang lain? Banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak ku, begitupula dengan yang lain, mereka terkejut dengan penemuan yang nampak di hadapan .
Alingga mendekat memeriksa kotak kayu, ia menyibak tumpukan rambut menggali lebih dalam apa yang tersembunyi, ia masih sibuk mencari mengabaikan segala macam aroma menyengat dari dalam kotak.
Kami melihat nya, selembar kertas yang tersembunyi di bawah tumpukan. Alingga membawanya ke hadapan kami, memperlihatkan sebuah foto usang seorang wanita yang tengah memeluk anak lelaki.
Zainal terperanjat, ia tampak mengetahui sesuatu,entah apa yang dia ketahui.
"Aku tau ndelok foto iki, pas pertama kali aku ketemu ambk mbak mbak kae." (Aku pernah melihat foto ini, waktu pertama kali aku ketemu sama mbak mbak itu) kami semua menoleh ke arah nya, aku bahkan baru mengetahui fakta ini.
"Kok ora tau cerito awak mu?" (kok gak pernah cerita kamu?) tanya ku.
Zainal mengambil selembar foto tersebut, ia mengingat kembali kejadian sebelumnya. ia mengkonfirmasi bahwa itu foto yang sama yang ia lihat di dalam warung bulek Dariati. ia menjelaskan segala nya secara rinci mulai dari si lelaki kekar hingga si wanita ia ceritakan sedetail mungkin.
Jika si wanita aku mengingat nya, namun si lelaki yang Zainal sebutkan sama sekali aku tidak pernah bertemu.
Zainal berlari dengan terburu-buru, entah apa yang akan ia lakukan,aku hanya menatap nya nanar sebelum akhirnya menghilang dari pandangan ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Machan
fav ma jempol dulu, kak ul. nanti lanjut baca ya
2022-06-14
0
Wherr Latajan
masih jadi misteri akhiran nya kak
2022-05-28
0
Ranran Miura
Misteri semakin terkuak. Hebat Ali.. lanjutkan. 👍👍
2022-05-24
1