Bab 16: Malam Bulan Purnama

Tengah malam, suasana semakin mencekam. setelah menyaksikan ritual persembahan keluarga Wijaya, akal sehat ku sudah tak berjalan normal. Jarak pandang ku terbatas tanpa ada nya pencahayaan sedikit pun, seharusnya aku tidak akan tersesat dalam perjalanan kembali menuju ke tempat teman teman ku berada.

Saat itu aku tak ingin banyak berfikir, tubuh masih belum menerima dengan apa yang terlihat di depan mata.

Garis waktu semakin memburu menagih setiap janji yang telah ku buat. Tidak peduli mau bagaimanapun keadaannya, masalah ini harus segera tuntas.

Hal yang paling menakutkan adalah sisi lain dari manusia itu sendiri, jika kalian bertanya apakah itu, aku sendiri masih belum memahami nya.

Manusia yang diciptakan sebagai mahkluk paling sempurna tapi banyak di antaranya yang tak mencerminkan sikap yang mulia, perilaku mereka melebihi binatang yang tak mau patuh dan selalu menyangkal sang penciptanya.

Aku berjalan di bawah pepohonan rindang dalam pandangan yang gelap, Suara hewan malam menemani malam bulan purnama yang menjadi saksi kekejian keluarga ini.

Jika orang lain berfikir aku adalah sosok yang pemberani, mereka salah besar dalam menilai. Aku ketakutan dan berulang kali melarikan diri, menyangkal kemampuan yang sedari kandungan sudah tertulis dalam garis hidup ku, melihat mereka yang tak seharusnya terlihat tentu menyiut kan nyali siapapun yang terlibat.

Jika bisa memilih tentunya aku tak ingin terlibat, terlebih lagi keluarga ini merupakan iblis itu sendiri. Namun bagaimana nasib zainal dan yang lainya, mereka sejak awal sudah terjebak, kemanapun mereka pergi iblis dari Alas Ruwah tak akan pernah mau melepaskan mereka.

...***...

"Nal bukak!" berulang kali aku mengetuk pintu .

Tak ada sedikitpun jawaban, suasana masih sunyi dan semakin hening. Handle pintu terputar otomatis menarik perlahan pintu kayu yang tak terkunci.

Mematung!

Mereka semua tergeletak tak sadarkan diri, namun anehnya zainal tak ada disana.

"Rip! Syarif.. tangi!! " Namun tak ada respon.

Yang lain juga tidak merespon mas yanto dan doni, mereka semua pingsan tanpa ku ketahui penyebab nya.

Syarif mengerang, memegangi kepalanya dalam posisi yang masih telentang. Ia menatap ku keheranan tanpa berkedip, lalu memejamkan mata nya untuk menelaah ingatan sebelum ia pingsan.

"Zainal mas.. ilang bocah e!!" Ucap syarif tiba tiba dengan raut wajah yang panik.

Aku terkejut mendengar penuturan nya, zainal seorang pria dewasa bisa menghilang?

"Ilang pie?" (Hilang gimana?)

Syarif masih belum menjawab,ia mengatur nafas nya yang tak beraturan.

"Ada perempuan pakai kebaya merah terbang di depan sana!" Jawab syarif sembari menunjuk Lorong gelap di depan kamar.

Perempuan berkebaya merah, mungkinkah itu kemuning?

Makhluk itu tak bisa di anggap sepele, dia secara terang terangan menculik zainal. Apa Yang begitu istimewa dari dia? kenapa banyak mahkluk yang mengincar nya.

Bude rumi membesarkan zainal seorang diri, kami tumbuh bersama di desa terpencil. Jika hanya karena dia memiliki indera ke enam itu tidak mungkin, mungkinkah ada yang kulewatkan?

Aku tidak banyak berfikir dan segera mencari, tak lupa mereka bertiga pun turut serta. Kami tidak bisa berpencar terlebih lagi untuk saat ini kondisi tak memungkinkan.

Tidak ada satupun dari kami yang mengetahui keberadaan nya, namun ada tempat yang paling mencurigakan yaitu paviliun utama. Mungkin zainal mereka sandra untuk mereka jadikan tumbal berikutnya, atau apapun itu aku tak mengerti yang jelas itu bukanlah hal yang baik.

Saat di pertengahan jalan, terdengar suara kepakan sayap burung terbang. Burung apa yang suara kepakan nya terdengar begitu keras?

Ribuan burung gagak bertengger di dahan dahan pohon besar, berbaris rapi membentuk Perisai bersiap mempertahankan wilayah kekuasaan nya.

Mereka tak gentar sedikitpun, menatap tajam kemudian mengeluarkan suara yang melengking.

"Kami datang dengan damai, kami hanya ingin membawa pulang teman kami." ucapku berulang ulang dalam hati, meski aku sangat tau tidak satupun dari mahkluk berbulu hitam tersebut yang dapat memahami nya.

Namun, siapa sangka mereka mengerti, mereka terbang menjauh menghilang di telan kegelapan dalam lebat nya hutan.

Kami tidak menyia-nyiakan banyak waktu, selagi tidak ada yang menyadari kami segera menyelinap masuk ke dalam paviliun utama.

Bangunan ini sangat luas, terdapat banyak pintu dan kamar kamar bersekat. Aku pernah sekali memasuki bangunan ini, tapi rasanya tempat ini lebih menyeramkan bila dilihat pada malam hari.

Terdapat aula besar yang begitu lenggang, ukiran ukiran kayu tergambar di setiap sudut ruangan. Ada sebuah lorong panjang dengan lukisan lukisan antik terpajang di sepanjang kiri dan kanan, Mas yanto sudah lebih dulu menelusuri lorong tersebut.

Sunyi nan senyap, lukisan lukisan di dinding seolah memiliki banyak mata yang memperhatikan setiap gerak gerik kami, bahkan saat telah sampai di ujung lorong mereka masih enggan mengalihkan tatapannya.

Di ujung lorong masih terdapat banyak ruangan, kamar kamar tertutup yang terkunci. Masih ada lorong lagi, kekiri dan kanan. Masih tidak ada keinginan untuk berpencar, terlebih lagi telah memasuki sarang serigala.

Satu persatu pintu kamar kami periksa, semua terkunci.

Syarif yang sedari tadi berlindung di belakang mas yanto mulai takabur, ia dengan sengaja memprovokasi setiap gerakan yang sedari tadi mencoba menggoyahkan iman kami.

"Wes angel iki!" ucap Syarif sembari berkaca pinggang

"Sttt."

Mas yanto mengisyaratkan agar kami semua diam, ia menajamkan pendengarannya. Bukan hanya dia aku pun mendengar nya, suara berdesis yang cukup nyaring.

Arah nya dari ujung lorong di sebelah kiri, Suara tersebut seperti intonasi intens yang memanggil kami mendekat. Rasa penasaran memuncak memaksa kaki ini melangkah, terutama mas Yanto yang sudah terlebih dahulu berada di ujung lorong.

Dari balik pintu kayu setinggi 2 meter suara tersebut semakin terdengar jelas, Syarif tak banyak berfikir segera memeriksa. Ia masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan di ikuti dengan doni dan mas yanto.

Terakhir aku memasuki ruangan terdapat banyak kotak kotak kaca, Lusinan bahkan ratusan. Semua nya di rendam dalam cairan bening, bentuk-bentuk yang sangat mirip organ manusia.

Dari barisan kotak kaca yang disusun rapi di dinding ruangan, Di paling sudut dekat dengan lemari kayu terdapat bentuk bulat yang terendam dalam cairan pengawet. Wajah yang begitu familiar yang baru beberapa hari yang lalu aku melihat nya, wajah seorang wanita dalam potret Hitam putih yang kami temukan dalam ruangan di lantai atas kamar kost Zainal.

Jika kepala nya berada disini lalu dimanakah letak tubuh nya?

Kami buru buru bersembunyi saat terdengar langkah kaki yang mendekat, derap langkah yang berirama semakin membuat kami was was dari balik lemari tempat kami bersembunyi.

......

Terdengar bunyi pintu yang perlahan terbuka,

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

ilang pie...?

2022-08-30

1

Wherr Latajan

Wherr Latajan

padahal siang bacaya kok bulu kuduk ku berdiri

2022-08-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bolo Laru
2 Bab 2: Bolo Pathi
3 Bab 3:Penghuni baru
4 Bab 4: Sajen
5 Bab 5: Kamar sebelah
6 Bab 6: Piring kenikmatan
7 Bab 7: Gelap
8 Bab 8: Ganjang
9 Bab 9: Mentari bersinar
10 Bab 10: Teman lama
11 Bab 11: Gerbang besar
12 Bab 12: Kemuning
13 Bab 13: Laras
14 Bab 14: Terjebak
15 Bab 15: Omah Dongko
16 Bab 16: Malam Bulan Purnama
17 Bab 17:Ruang penyimpanan
18 bab 18: Kebenaran
19 Bab 19: Dalam pekat
20 Bab 20: Pelarian
21 Bab 21: Masa lalu
22 Bab 22: Ruang tersembunyi
23 Bab 23:Hutan
24 Bab 24:Sisi lain
25 Bab 25: Kota sebelah
26 Bab 26: Kotak misterius
27 Bab 27: Seimbang
28 Bab 28: Lewung
29 Bab 29: Perjalanan ke desa
30 Bab 30: Tamu tak diundang
31 Bab 31: Desa Laweh
32 Bab 32: Jagat lelembut
33 Bab 33: Cahaya terang
34 Bab 34: Kematian
35 Bab 35: Rumah sakit
36 Bab 36: Kampung
37 Bab 37: Gubuk
38 Bab 38: Meminta miliknya
39 Bab 39: Malam hari
40 Bab 40: Pagi yang cerah
41 Bab 44: Bantuan
42 Bab 41: Langit senja
43 Bab 42: Buku tua
44 Bab 43: Penyesalan
45 Bab 45: Hujan Gerimis
46 Bab 46: Ladang jagung
47 Bab 47: Rumah Guru
48 Bab 48: Kembali
49 Bab 49: Tersadar
50 Bab 50: Gadis Kecil
51 Bab 51: Perundingan
52 Bab 52: Hilang
53 Bab 53: Kesepakatan
54 Bab 54: Kosong
55 Bab 55: Gosib
56 Bab 56: Alasan
57 Bab 57: kesepakatan bersama
58 Bab 58: Terjatuh
59 Bab 59: Gudang
60 Bab 60: Peti Mati
61 Bab 61: Hutan Barat
62 Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63 Bab 63: Waktu yang Salah
64 Bab 64: Kembali Lagi
65 Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66 Bab 66: Pantulan Wajah
67 Bab 67: Wanita Itu
68 Bab 68: End
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1: Bolo Laru
2
Bab 2: Bolo Pathi
3
Bab 3:Penghuni baru
4
Bab 4: Sajen
5
Bab 5: Kamar sebelah
6
Bab 6: Piring kenikmatan
7
Bab 7: Gelap
8
Bab 8: Ganjang
9
Bab 9: Mentari bersinar
10
Bab 10: Teman lama
11
Bab 11: Gerbang besar
12
Bab 12: Kemuning
13
Bab 13: Laras
14
Bab 14: Terjebak
15
Bab 15: Omah Dongko
16
Bab 16: Malam Bulan Purnama
17
Bab 17:Ruang penyimpanan
18
bab 18: Kebenaran
19
Bab 19: Dalam pekat
20
Bab 20: Pelarian
21
Bab 21: Masa lalu
22
Bab 22: Ruang tersembunyi
23
Bab 23:Hutan
24
Bab 24:Sisi lain
25
Bab 25: Kota sebelah
26
Bab 26: Kotak misterius
27
Bab 27: Seimbang
28
Bab 28: Lewung
29
Bab 29: Perjalanan ke desa
30
Bab 30: Tamu tak diundang
31
Bab 31: Desa Laweh
32
Bab 32: Jagat lelembut
33
Bab 33: Cahaya terang
34
Bab 34: Kematian
35
Bab 35: Rumah sakit
36
Bab 36: Kampung
37
Bab 37: Gubuk
38
Bab 38: Meminta miliknya
39
Bab 39: Malam hari
40
Bab 40: Pagi yang cerah
41
Bab 44: Bantuan
42
Bab 41: Langit senja
43
Bab 42: Buku tua
44
Bab 43: Penyesalan
45
Bab 45: Hujan Gerimis
46
Bab 46: Ladang jagung
47
Bab 47: Rumah Guru
48
Bab 48: Kembali
49
Bab 49: Tersadar
50
Bab 50: Gadis Kecil
51
Bab 51: Perundingan
52
Bab 52: Hilang
53
Bab 53: Kesepakatan
54
Bab 54: Kosong
55
Bab 55: Gosib
56
Bab 56: Alasan
57
Bab 57: kesepakatan bersama
58
Bab 58: Terjatuh
59
Bab 59: Gudang
60
Bab 60: Peti Mati
61
Bab 61: Hutan Barat
62
Bab 62: Rumah Tengah Hutan
63
Bab 63: Waktu yang Salah
64
Bab 64: Kembali Lagi
65
Bab 65: Lebih banyak Rahasia
66
Bab 66: Pantulan Wajah
67
Bab 67: Wanita Itu
68
Bab 68: End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!