Tengah malam, suasana semakin mencekam. setelah menyaksikan ritual persembahan keluarga Wijaya, akal sehat ku sudah tak berjalan normal. Jarak pandang ku terbatas tanpa ada nya pencahayaan sedikit pun, seharusnya aku tidak akan tersesat dalam perjalanan kembali menuju ke tempat teman teman ku berada.
Saat itu aku tak ingin banyak berfikir, tubuh masih belum menerima dengan apa yang terlihat di depan mata.
Garis waktu semakin memburu menagih setiap janji yang telah ku buat. Tidak peduli mau bagaimanapun keadaannya, masalah ini harus segera tuntas.
Hal yang paling menakutkan adalah sisi lain dari manusia itu sendiri, jika kalian bertanya apakah itu, aku sendiri masih belum memahami nya.
Manusia yang diciptakan sebagai mahkluk paling sempurna tapi banyak di antaranya yang tak mencerminkan sikap yang mulia, perilaku mereka melebihi binatang yang tak mau patuh dan selalu menyangkal sang penciptanya.
Aku berjalan di bawah pepohonan rindang dalam pandangan yang gelap, Suara hewan malam menemani malam bulan purnama yang menjadi saksi kekejian keluarga ini.
Jika orang lain berfikir aku adalah sosok yang pemberani, mereka salah besar dalam menilai. Aku ketakutan dan berulang kali melarikan diri, menyangkal kemampuan yang sedari kandungan sudah tertulis dalam garis hidup ku, melihat mereka yang tak seharusnya terlihat tentu menyiut kan nyali siapapun yang terlibat.
Jika bisa memilih tentunya aku tak ingin terlibat, terlebih lagi keluarga ini merupakan iblis itu sendiri. Namun bagaimana nasib zainal dan yang lainya, mereka sejak awal sudah terjebak, kemanapun mereka pergi iblis dari Alas Ruwah tak akan pernah mau melepaskan mereka.
...***...
"Nal bukak!" berulang kali aku mengetuk pintu .
Tak ada sedikitpun jawaban, suasana masih sunyi dan semakin hening. Handle pintu terputar otomatis menarik perlahan pintu kayu yang tak terkunci.
Mematung!
Mereka semua tergeletak tak sadarkan diri, namun anehnya zainal tak ada disana.
"Rip! Syarif.. tangi!! " Namun tak ada respon.
Yang lain juga tidak merespon mas yanto dan doni, mereka semua pingsan tanpa ku ketahui penyebab nya.
Syarif mengerang, memegangi kepalanya dalam posisi yang masih telentang. Ia menatap ku keheranan tanpa berkedip, lalu memejamkan mata nya untuk menelaah ingatan sebelum ia pingsan.
"Zainal mas.. ilang bocah e!!" Ucap syarif tiba tiba dengan raut wajah yang panik.
Aku terkejut mendengar penuturan nya, zainal seorang pria dewasa bisa menghilang?
"Ilang pie?" (Hilang gimana?)
Syarif masih belum menjawab,ia mengatur nafas nya yang tak beraturan.
"Ada perempuan pakai kebaya merah terbang di depan sana!" Jawab syarif sembari menunjuk Lorong gelap di depan kamar.
Perempuan berkebaya merah, mungkinkah itu kemuning?
Makhluk itu tak bisa di anggap sepele, dia secara terang terangan menculik zainal. Apa Yang begitu istimewa dari dia? kenapa banyak mahkluk yang mengincar nya.
Bude rumi membesarkan zainal seorang diri, kami tumbuh bersama di desa terpencil. Jika hanya karena dia memiliki indera ke enam itu tidak mungkin, mungkinkah ada yang kulewatkan?
Aku tidak banyak berfikir dan segera mencari, tak lupa mereka bertiga pun turut serta. Kami tidak bisa berpencar terlebih lagi untuk saat ini kondisi tak memungkinkan.
Tidak ada satupun dari kami yang mengetahui keberadaan nya, namun ada tempat yang paling mencurigakan yaitu paviliun utama. Mungkin zainal mereka sandra untuk mereka jadikan tumbal berikutnya, atau apapun itu aku tak mengerti yang jelas itu bukanlah hal yang baik.
Saat di pertengahan jalan, terdengar suara kepakan sayap burung terbang. Burung apa yang suara kepakan nya terdengar begitu keras?
Ribuan burung gagak bertengger di dahan dahan pohon besar, berbaris rapi membentuk Perisai bersiap mempertahankan wilayah kekuasaan nya.
Mereka tak gentar sedikitpun, menatap tajam kemudian mengeluarkan suara yang melengking.
"Kami datang dengan damai, kami hanya ingin membawa pulang teman kami." ucapku berulang ulang dalam hati, meski aku sangat tau tidak satupun dari mahkluk berbulu hitam tersebut yang dapat memahami nya.
Namun, siapa sangka mereka mengerti, mereka terbang menjauh menghilang di telan kegelapan dalam lebat nya hutan.
Kami tidak menyia-nyiakan banyak waktu, selagi tidak ada yang menyadari kami segera menyelinap masuk ke dalam paviliun utama.
Bangunan ini sangat luas, terdapat banyak pintu dan kamar kamar bersekat. Aku pernah sekali memasuki bangunan ini, tapi rasanya tempat ini lebih menyeramkan bila dilihat pada malam hari.
Terdapat aula besar yang begitu lenggang, ukiran ukiran kayu tergambar di setiap sudut ruangan. Ada sebuah lorong panjang dengan lukisan lukisan antik terpajang di sepanjang kiri dan kanan, Mas yanto sudah lebih dulu menelusuri lorong tersebut.
Sunyi nan senyap, lukisan lukisan di dinding seolah memiliki banyak mata yang memperhatikan setiap gerak gerik kami, bahkan saat telah sampai di ujung lorong mereka masih enggan mengalihkan tatapannya.
Di ujung lorong masih terdapat banyak ruangan, kamar kamar tertutup yang terkunci. Masih ada lorong lagi, kekiri dan kanan. Masih tidak ada keinginan untuk berpencar, terlebih lagi telah memasuki sarang serigala.
Satu persatu pintu kamar kami periksa, semua terkunci.
Syarif yang sedari tadi berlindung di belakang mas yanto mulai takabur, ia dengan sengaja memprovokasi setiap gerakan yang sedari tadi mencoba menggoyahkan iman kami.
"Wes angel iki!" ucap Syarif sembari berkaca pinggang
"Sttt."
Mas yanto mengisyaratkan agar kami semua diam, ia menajamkan pendengarannya. Bukan hanya dia aku pun mendengar nya, suara berdesis yang cukup nyaring.
Arah nya dari ujung lorong di sebelah kiri, Suara tersebut seperti intonasi intens yang memanggil kami mendekat. Rasa penasaran memuncak memaksa kaki ini melangkah, terutama mas Yanto yang sudah terlebih dahulu berada di ujung lorong.
Dari balik pintu kayu setinggi 2 meter suara tersebut semakin terdengar jelas, Syarif tak banyak berfikir segera memeriksa. Ia masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan di ikuti dengan doni dan mas yanto.
Terakhir aku memasuki ruangan terdapat banyak kotak kotak kaca, Lusinan bahkan ratusan. Semua nya di rendam dalam cairan bening, bentuk-bentuk yang sangat mirip organ manusia.
Dari barisan kotak kaca yang disusun rapi di dinding ruangan, Di paling sudut dekat dengan lemari kayu terdapat bentuk bulat yang terendam dalam cairan pengawet. Wajah yang begitu familiar yang baru beberapa hari yang lalu aku melihat nya, wajah seorang wanita dalam potret Hitam putih yang kami temukan dalam ruangan di lantai atas kamar kost Zainal.
Jika kepala nya berada disini lalu dimanakah letak tubuh nya?
Kami buru buru bersembunyi saat terdengar langkah kaki yang mendekat, derap langkah yang berirama semakin membuat kami was was dari balik lemari tempat kami bersembunyi.
......
Terdengar bunyi pintu yang perlahan terbuka,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
anggita
ilang pie...?
2022-08-30
1
Wherr Latajan
padahal siang bacaya kok bulu kuduk ku berdiri
2022-08-09
1