Pov Syarif
Suara teriakan menggema dari balik pintu, masih belum terdengar jelas Segalanya tersamar kan oleh hujan. Ada keraguan dalam diri saat pintu di hantam berkali kali, Suara yang tak asing lagi, milik pemuda jangkung yang tengah menggila di koridor depan kamar .
Suara teriakan menggema, "Bukak.. cok!! bukak!"
BRAK!! Brak..Brak!
"Nal.. kowe kui?" (Nal, itu kamu?) tanya ku penuh kepanikan.
Sayangnya zainal tidak menanggapi dia masih asyik menggedor-gedor pintu. Doni meraih handle, berkali-kali ia memaksa namun tak kunjung terbuka. ia semakin di buat panik sebab Zainal yang tak henti hentinya meracau .
Mas Yanto turut membantu karena dialah yang terkuat di antara kami, terlihat dari postur badan nya yang tinggi besar. Nihil, Pintu masih kokoh menghalangi, kehilangan kesabaran Hampir saja pintu kayu ku hancur kan.
Brukk!
Seseorang roboh. Zainal terkapar tak sadar kan diri, tangan nya mengepal penuh luka, terjawab sudah keributan yang sedari tadi ia buat.
Aroma busuk sangat menyengat dari arah luar.
Pemandangan diluar sangat mengejutkan, Lusinan pocong berbaris rapi mengelilingi kami, Menatap tajam ke arah Zainal penuh kebencian. Tidak ada yang tau pasti alasannya, kedatangan mereka sangat mengejutkan .
Ada satu pocong yang berdiri tak jauh dari kami, wajah nya hancur dengan beberapa bagian yang telah menghitam, bahkan daging di pipi sebelah kanan nya sudah hilang, menampakan tulang tengkorak nya yang hitam kemerahan.
Segera ku tarik Zainal dengan paksa , untuk keluar mengangkat nya akupun tak berani, bukan hanya aku, bahkan sekelas mas Yanto sekalipun nyali nya menciut.
Susah payah aku menarik tubuh zainal, Doni segera menutup pintu setelah aku Berhasil membawa Zainal masuk. Ia duduk menekuk di depan pintu, menghela nafas lega setelah beberapa saat jantungnya di pacu kencang, sedikit tekanan darah kami meningkat.
Aku berusaha menyadarkan Zainal, "Nal.. Tangi nal!" (nal bangun!).
Ia masih bergeming dari posisi nya yang tengkurap, kutatap jari jari tangan nya yang terluka, ngilu bukan main melihat kulit kulit nya yang mengelupas,darah mengalir dari bekas Luka nya yang masih baru.Entah kesulitan apa yang terjadi kepadanya, namun yang jelas itu sangat menyakit kan .
"Mas?" ku tatap mas Yanto yang berdiri di sudut ruangan, ia melipat tangannya serta menyandar kan kepalanya ke dinding.
Saat mendengar panggilan ku ia tak segera menjawab, ia menghela nafas sejenak kemudian membuang nya perlahan.
"Besok kita cari solusinya!" ucap mas Yanto
"Sesok? gak ndelok konco ku wes koyo ngene iki! " (Besok? gak lihat temen aku udah kaya gini!) aku berbicara lantang.
"La opo mbok pikir perkoro iki iso rampung gor njalok Tulung neng uwong sekitar?" (Apa kamu fikir masalah ini akan selesai hanya dengan meminta tolong ke warga sekitar?) tanya mas Yanto.
"Lek gur ngono wes ket wingi kae aku metu seko omah setan!" ( Kalo cuma gitu sudah dari kemarin aku keluar dari rumah hantu ini!) lanjut nya lagi.
"Gak segampang iku , Ganjang iki omah e neng Segoro, lek awak mu nemokno neng Kene ngene iki, mesti ono sebab e. tapi udu Segoro banyu Rip, seng liane " (tidak semudah itu, Ganjang itu tinggal di lautan,kalau kamu menemukan nya di disini pasti ada sebabnya. tapi bukan lautan air, melainkan sesuatu yang lain)
"Dulu ada yang pernah bercerita, Ganjang iki njogo gerbang Segoro, Gerbang batas antara kehidupan dan kematian. Kowe ngerti opo isine neng njero segoro?" tanya mas Yanto di sela sela penjelasan nya, aku menggeleng kan kepala dan tetap berfokus pada ceritanya.
"Demit!" jawab mas Yanto Singkat.
"Kekuatan Hitam yang sangat pekat, mboh sopo seng wani mbukak gerbang segoro ngantek gawe seng jogo kebakar dendam" ( Kekuatan Hitam yang sangat pekat, entah siapa yang berani membuka nya hingga membuat penjaga nya murka) jelas mas yanto
"Tapi awak e dewe ora terlibat mbek perkoro iki ngopo ora di culno wae?" ( Tapi kita nggak terlibat dengan masalah ini, kenapa tidak dilepas kan saja?) tanya ku
"Aku yo ora weroh rip, mungkin ada detail yang kita lupakan." ( aku juga nggak tau, mungkin ada detail yang kita lupakan).
Entah apa yang kita lupakan sampai sampai terlibat dengan makhluk ini, kami berdiam terutama Doni yang tak berbicara sedikit pun.
"Don?" tanya ku
Doni menoleh menatap ku bingung,ada ketakutan dari raut wajahnya,dia pasti menyembunyikan sesuatu.
"Tau sesuatu kamu?" Doni masih diam tak menjawab
BRAk!! BRAk..!
Tiba tiba saja terdengar suara keras dari pintu, Doni yang duduk di depan pintu terkejut segera menjauh. Zainal telah masuk lalu siapa lagi yang menggedor-gedor pintu? ini salah ,pasti salah.
Kami saling memandang satu sama lain,tak ada satupun yang berani mengambil tindakan, termasuk aku yang masih terdiam di samping zainal. pintu masih di gedor , Suara suara ribut di luar semakin menambah suasana mencekam.
Semenit kemudian semuanya hening, Tak ada suara apapun sampai saat pintu di dobrak dari luar.
Brakk!
Pintu terbanting keras, menampakan wujud hitam tinggi yang membungkuk , tangan nya panjang sampai kelutut sedangkan kaki nya menekuk dengan telapak kaki yang sangat besar. makhluk ini aku tak dapat melihat wajahnya, karena posisinya yang membelakangi kami.
Saat kami sedang berfokus mengamati mahkluk ini, tiba tiba saja tubuh Zainal bergerak dengan sendirinya, ia seperti di tarik oleh sesuatu . Semuanya terjadi begitu cepat sampai sampai kami tidak menyadari kini Zainal sudah berada di pembatas lantai.
Ia berdiri di sana, bersiap untuk terjun bebas . mas Yanto yang menyadari bahaya segera menyusul Zainal dan menarik nya, beruntung waktunya tepat kami masih sempat menyelamatkan.
Kami membawa Zainal kembali masuk ke dalam, namun belum sampai kami ke dalam kamar, di lorong gelap muncul sesosok wanita bergaun putih, tubuh nya lusuh dengan rambut yang acak acak an.
Wanita itu berdiri mematung menutupi wajahnya dengan rambut yang panjang, ia sedikit mengangkat kepalanya rabmbut nya tersibak.
Wanita ini tak memiliki bola mata, wajah nya pucat dengan beberapa luka yang memerah. Kami tertegun, berapa banyak lagi makhluk yang harus kami temui untuk persoalan yang kami sendiri tidak tahu apa, aku segera membawa Zainal masuk di ikuti dengan mas Yanto, ia mempercepat langkahnya menuju pintu yang berjarak dua meter.
Namun satu hal yang pasti, Wanita ini tak berniat mencelakai, ia hanya mematung disana memastikan kami kembali ketempat nya. Sebelum Doni menutup pintu samar samar aku melihat si wanita berdiri di depan membelakangi, seolah olah tengah menghalangi si mahluk hitam masuk ke dalam ruangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Valiant Mahemba
bingung !! Aku itu itu siapa?? awalnya di kira Zainal. terus Syarif nasib nya gimana??
2022-09-21
1
Wherr Latajan
wah wah wah itu kenangan dalam ingatan apa kenangan sama mantan kak
2022-05-21
0
Wherr Latajan
coba aja setan nya cantik udah ku bungkus ku bawa pulang tu,, mantap kak
2022-05-20
2