Sore itu aku dan syarif tidak melakukan banyak hal, hanya duduk termenung di dalam bilik menyambut mentari tenggelam. lampu minyak sudah di nyalakan , suara hewan malam mulai bersahut-sahutan di alam liar.
Aku menatap meja kayu di sudut ruangan redup, Selain buku buku Syarif yang menumpuk ada sepiring makanan di balik tudung saji. kami tidak ada memasak ataupun membeli makanan, darimana makanan itu berasal?
Aku menatap Syarif, ia sudah lelap tertidur . Kututup pintu kamar karena telah sorop , Pamali membuka pintu di waktu magrib. Aku menatap layar handphone yang mulai meredup, hanya tersisa daya baterai 10%, Tidak ada listrik disini bagaimana caranya mengisi daya?
"Rip? Tangi o sek!" (Rip? Bangun dulu!) ku goyangkan tubuh Syarif keras,
"Hmmm.. "respon nya
"Tangi o cok! sorop kae lo, Pamali sorop sorop turu!" (Bangun! Magrib itu lo, Pamali magrib magrib tidur!)
"Diluk engkas!" (Bentar lagi!)
"Asu bocah iki, Batre ku entek! neng endi enek listrik?" (Anjing anak ini, Batere ku habis! dimana ada listrik?)
"Opo sih nal, berisik tenan awak mu!" (Apa sih nal berisik kali!) Syarif duduk termangu di atas tikar , ia masih terpejam meskipun telah duduk.
"Listrik listrik! Budek men kuping mu!" (Listrik listrik! Budek kali kali kuping kamu!)
"Ora enek cok! enek e neng warung geden kae." ( nggak ada lo! Adanya di warung besar itu )
"Yo neng endi warung e? Sekalian golek mangan aku!" (Dimana warung nya? Sekalian cari makan aku!)
"Warung seng pernah awak e dewe mampir kae, pas aku njemput kowe." (Warung yang kita pernah mampir itu lo, waktu aku njemput kamu.)
" Yo wes terno !, wes luwe banget aku." ( Ya udah anterin! Udah laper banget aku. )
"Lek Luwe mangan kae sego neng mejo!" (Kalo lapar makan lah nasi di meja!)
"Awak mu seng tuku?" ( Kamu yang beli? )
"Ogak lah, gak eroh seko endi ket awan mau wes neng kono." (Gak lah, enggak tau darimana udah dari siang tadi disana. )
Aku beranjak dari tempat ku terduduk, ku hampiri meja yang berantakan, ada nasi dan lauk pauk di atas piring keramik. Melihat nya saja selera makan ku sudah hilang, Bukan makanan enak seperti yang kubayangkan namun tumpukan usus busuk dengan banyak nya telur lalat.
"Rip!!"
Hampir saja aku memuntahkan isi perut ku yang kosong, ku lirik Syarif Yang masih duduk mengumpulkan seluruh nyawa nya, ia tampak baik baik saja.
"Mbok pangan iki mau?" (kamu makan ini tadi?"
"Iyo." jawab nya singkat
"Delok o opo seng mbok pangan" (Lihatlah apa yang kamu makan)
"Jelas jelas mie ngono iseh takok lo!" (Udah jelas mie gitu masih ditanya lo!) Jawab Syarif kesal
"Delok en sek gak usah ngedumel neng kono!" (lihat dulu gak usah ngomel disitu!)
"Opo Sih"
Beberapa saat berdiri menghampiri, langkah nya gontai. Saat melihat Tumpukan usus di meja dia terdiam, wajah nya masam. Ia tidak tahan lagi dengan rasa mual nya, Seluruh isi perut dikuras habis.
"Nal?"
Hwekk!
"Djancok!! Opo iki?
Sudah kesekian kalinya dia bolak-balik keluar kamar, baru sejenak merebah ia berdiri lagi menghadapi tubuh nya yang bergidik. Bagaimana dia tidak tahu sesuatu yang busuk ini masuk kedalam lambung nya, Bahkan dari aroma nya saja sudah jelas ini tidak bisa di makan.
"Kok iso koyo ngene mbok pangan, nek luwe ki ngomong tak tukok ke seng bener neng pecel lele ngarep kae!" (Kok bisa sih kayak gini kamu makan, kalo laper itu ngomong biar aku belikan yang bener di pecel lele depan sana.) Celoteh ku kepada Syarif.
"Ora weroh aku cok, iki mau mie lo Nal." (Gak tau aku, ini tadi mie lo Nal.)
"Terus seng ngekek i iki mau sopo?" (Terus yang ngasih ini tadi siapa?)
"Gak eroh! Bar adus sore mau wes enek neng kono. " ( Gak tau! habis mandi sore tadi udah ada disana.)
"Ora mbok takok ne neng tonggo tonggo mu?" ( Nggak kamu tanyakan ke tetangga kamu?)
Syarif terdiam, ia melangkah keluar meninggalkan ku Sendirian. aku mengikutinya berjalan menuju ke arah timur, tepat ke kamar nomor satu. Suasana sangat gelap,di luar kamar tidak ada penerangan,entah penjaga kost lupa menyalakan lampu atau mungkin lampu lampu telah mati tertiup angin.
BRAk..! BRAk!!
Syarif menggedor pintu kamar sangat keras, tidak ada yang merespon. ia kesal dan mulai berteriak. kamar itu masih gelap seperti malam malam sebelumnya, meski Syarif sudah menggila tidak ada respon sama sekali dari pemilik kamar.
Karena kebisingan yang Syarif buat seseorang datang menghampiri kami.
"Enek opo iki?" ( Ada apa ini?) Tanya lelaki bertubuh kekar.
"Doni neng endi mas?" (Doni di mana mas? )tanya Syarif
"Neng kamar ku, wes Seminggu gak turu neng kamar e" (Di kamar ku, sudah seminggu gak tidur di kamar nya)
"Sampean eroh sopo seng ndeleh piring neng mejo kamar ku?" (Kamu tau siapa yang narok piring di meja kamar ku?"
Lelaki bertubuh kekar itu terdiam, ia tampak menyadari sesuatu.
"Aku weroh,tapi dudu Doni rip." (Aku tau siapa, yang jelas bukan doni )
" Sopo mas?" (Siapa?)
Pria itu celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu, lalu ia mendekat membisikkan sesuatu ke pada Syarif. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak dapat mendengar nya sama sekali.
"Wes ngene wae , masalah piring ben aku seng ngurus." ( Udah gini aja, masalah piring biar aku yang urus.)
"Eling eling seng tak omongno tas wau! Yo wes tak guwak barang e disek." (Inget yang aku bilang barusan! ya udah aku mau buang barang nya dulu.) tambah lelaki kekar itu lagi, kemudian ia pergi meninggalkan kami yang masih saling menatap.
Laki laki itu Keluar dari kamar syarif dengan membawa kantong keresek hitam, ia tersenyum terlihat samar dari pantulan cahaya lampu. Entah apa yang dia bawa, ia pergi lalu menghilang dalam kegelapan.
"Ngomong opo wong mau?" (Bicara apa orang tadi?"
"Sopo? Mas Yanto?" Ucap Syarif
"iyo iku mau" (iya itu tadi)
"Wes ojo neng kene hawane ora penak, engko tak ceritani neng njero." ( Udah jangan di sini hawanya nggak enak,nanti di dalam aku ceritakan.)
Aku hanya menurut mengikuti Syarif yang sudah lebih dulu pergi, kami masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu rapat-rapat.
Perut yang tadi keroncong sudah tidak terasa lagi, bahkan rencana awal ku untuk mengisi daya handphone pun harus ku tunda. aku menatap Syarif yang duduk meringkuk di sudut ruangan, ia tampak syok dengan apa yang barusan terjadi.
Jika aku menjadi dia, sudah pasti Seminggu aku tidak akan berselera makan, bayangkan saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Magic Lee
kakakaakkk 🥰😍
2022-05-20
1
Magic Lee
muntah kan:v
2022-05-20
0
Magic Lee
kena mental si Syarif😂
2022-05-20
1