...----------------...
"Ayah, kemana kak Lenka pergi?"
"Kamu tau dimana dia sekarang, Noah."
Bahu Noah turun ketika menerima jawaban singkat dari ayahnya yang sering membuat otaknya bekerja. Tapi Noah memakluminya karena ayahnya itu sibuk setiap harinya.
Saat ini Noah dan Duke Donovan sedang duduk di ruang baca. Jendela yang terbuka memberikan akses pada sinar matahari pagi. Ditambah beberapa makanan penutup yang menemani mereka.
Hari ini adalah hari dimana mereka bebas melakukan apa saja atau bisa disebut dengan hari istirahat. Mereka tidak terikat jadwal sama sekali.
Tetapi hari istirahat ini sepertinya tidak berlaku untuk Duke Donovan dan Lenka. Mereka tetap bekerja meskipun tidak ada jadwal kegiatan. Itu membuat Noah heran.
"Khawatirkan dirimu dulu sebelum mengkhawatirkan kakakmu," ujar Duke Donovan kepada Noah sambil mengambil secangkir kopi.
"Hm? Mengkhawatirkan diri sendiri?" tanya Noah.
"Yang kamu lakukan beberapa hari lalu. Mengerjakan tugas tambahan sampai tidak tidur. Kamu sedang menyiksa dirimu sendiri," jelas Duke Donovan.
Noah hanya bisa tertawa malu mendengar penjelasan ayahnya. Laki-laki dengan rambut abu-abu itu tidak ingin dan tidak akan mengakui alasan dibalik tindakannya saat itu kepada siapapun.
"Ayah, saya akan mengambil teh lagi. Saya permisi!" Dengan tergesa-gesa Noah pergi ke dapur. Dia tidak terbiasa dengan situasi barusan dan membuatnya tidak nyaman.
Noah menghela napas panjang setelah sampai di dapur. Pelayan yang masih ada di sana menatapnya penuh dengan kebingungan. Apa yang sedang terjadi pada tuan muda mereka?
"Selamat pagi Tuan Muda! Bagaimana hasil dari perjuangan Anda?" tanya seorang pelayan dengan bersemangat.
"Eve menceritakan perjuangan Anda dan kami ingin tau hasilnya. Benarkan, Eve?" lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya dan didukung dengan anggukan kepala dari Eve.
Pipi Noah mengeluarkan sedikit semburat merah muda. Laki-laki itu sedang mengingat apa hasil dari perjuangannya beberapa hari lalu.
Lenka mengkhawatirkan dirinya dan gadis itu mengizinkan dirinya beristirahat di kamar.
Itu membuatnya senang, sampai-sampai dia sulit untuk tidur.
Para pelayan yang memberikan perhatian penuh mereka kepada Noah terkikik pelan. Mereka sangat senang memperhatikan reaksi Noah jika berkaitan dengan Lenka, nona muda mereka.
"Ey ey ey, lihat pipi Tuan Muda yang sudah merah ini," ledek Eve.
"Apa-apaan kalian ini?! Mukaku tidak merah tau!" Reflek Noah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Suara tawa pun terdengar dari para pelayan. "Kalau tidak merah, kenapa Tuan Muda menutupi muka Anda?" ledek seorang pelayan lagi.
"Diam kalian! Jangan meledekku seperti anak kecil!"
"Anda kan memang masih kecil, karena Anda belum cukup umur untuk upacara kedewasaan."
Ahhh! Kenapa malah jadi seperti ini??!!! Teriak Noah dalam hati.
Tawa yang tadinya memenuhi dapur mendadak hilang dan digantikan dengan kesunyian. Noah membuka tangannya dan perasaan gugup muncul saat dia mendengar suara seseorang.
"Ayah sudah menunggu tehnya," kata orang itu datar.
Ya. Siapa lagi jika bukan Lenka!
"A-ah maaf, aku terlalu asik mengobrol dan melupakan tehnya!" balas Noah gugup masih dengan wajah semerah tadi.
"Sudahlah, lupakan teh itu dan ikut denganku. Ayah membutuhkan kita berdua sekarang." Noah meletakkan teko yang sempat dia pegang, kemudian berjalan mengikuti Lenka .
Sesampainya di ruang baca, wajah Noah masih belum kembali seperti semula. Bahkan Duke Donovan menatapnya cukup lama. Beruntunglah Lenka mengalihkan perhatian Duke Donovan.
"Saya sudah membawa Noah, Ayah. Apa yang Anda butuhkan dari kami?" tanya Lenka.
Tanpa mengatakan apapun, Duke Donovan menyerahkan satu lembar kertas yang baru saja dia terima kepada putrinya. Itu adalah sebuah surat.
Noah lebih mendekatkan diri ke Lenka sehingga dia bisa ikut membaca isi surat tersebut.
"Ulang tahun Yang Mulia?" gumam Noah begitu selesai membaca surat yang ternyata berasal dari istana.
Duke Donovan menganggukkan kepalanya, pria itu menatap Lenka dan Noah bergantian. "Ayah ingin kalian pergi untuk membeli hadiah untuk Yang Mulia," katanya.
"Gunakan uang yang kalian punya dan beli barang yang menurut kalian pantas untuk dijadikan hadiah. Karena ini masih pagi, kalian juga bisa berjalan-jalan sesuka kalian," tambahnya.
"Baik Ayah, saya mengerti. Kami pergi dulu." Lenka berbalik, berjalan keluar dan Noah mengikutinya di belakang.
Donovan bersaudara pergi ke kota terdekat untuk membeli sebuah hadiah. Mereka berjalan berdampingan sambil melihat sekitar mereka.
Tidak butuh waktu yang lama mereka sudah mendapatkan barang yang mereka perlukan. Hanya saja, suasana hati Noah tidak begitu baik.
Laki-laki itu mengeluarkan aura menyeramkan di sekitar tubuhnya, sehingga membuat orang-orang enggan untuk berdekatan dengannya.
"Nona Donovan adalah Gadis Monster yang sedang dibicarakan itu?"
"Ini dari pelayan kediaman Baron Rowein dan mereka melihatnya sendiri."
"Apalagi banyak tuan muda bangsawan yang membicarakan itu."
"Kamu mau mendengar ceritanya? Jadi-"
Orang yang sedari tadi berbicara seketika terdiam ketakutan oleh Noah. Jelas saja mereka ketakutan karena Noah memberikan mereka tatapan yang mengerikan, setengah mengutuk dan setengah ingin membunuh.
Rasanya kesal sekali kakak satu-satunya yang dia suka- sayangi!!! Menjadi bahan perbincangan. Apalagi mereka membicarakan hal yang tidak-tidak.
Yang bengis. Yang menakutkan. Yang buruk rupa.
Semua itu omong kosong bagi Noah.
"Jangan keluarkan aura yang menyeramkan seperti itu. Itu malah membuatmu jadi pusat perhatia di sini." Lenka menegur adiknya yang sedari tadi terlihat tidak bersahabat.
Wajah menyeramkan itu melunak, kemudian menampilkan ekspresi sedih.
"Apa Kakak tidak terganggu dengan apa yang mereka bicarakan tentang Kakak? Mereka tidak tau yang sebenarnya dan mudah percaya para rumor," balas Noah mengungkapkan unek-uneknya selama berjalan di kota itu.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan? Apa yang seharusnya diriku lakukan? Berteriak kepada mereka dan mengatakan kalau Nona Donovan seperti ini, seperti itu, dan lain sebagainya? Kamu malah akan dianggap aneh oleh mereka."
"Tapi Kakak-"
"Sudahlah Noah. Apapun usaha yang kamu lakukan, itu tak bisa mengubah pemikiran mereka." Lenka memotong kalimat adiknya. Gadis itu memberikan satu buah apel hijau ke tangan Noah supaya dia berhenti. Berhenti untuk marah dan berdebat.
Noah terkejut dan merasa senang secara bersamaan. Tak disangka kakaknya akan memberikan dirinya apel hijau yang merupakan kesukaannya.
Mereka berjalan-jalan lagi dan melewati orang-orang yang juga membicarakan Lenka. Rumor tentang Gadis Monster itu telah menyebar dengan cepat dan juga mengalami pembaruan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
dk
biarkan lah para pembenci berbicara apapun
toh mau di jelaskan mereka yg tak suka tetep tak aka suka
lenka 👍👍👍
2024-05-26
1
Reirin Mitsu
Hmm, demi Lenka, ya.
2022-05-16
5