Aku tertidur, tetapi suara pintu di ketuk membuat aku terbangun.
"Luis buka pintunya" teriaknya dari luar.
Aku seperti tidak asing dengan suaranya, aku berfikir jika ayahku sudah pulang. Tetapi jam di dinding menunjuk angkat tiga, berarti tidak mungkin ayahku pulang secepat ini.
"Luis tolong buka pintunya" teriaknya lagi yang membuat nenekku terbangun.
"Luis ada apa? siapa yang berteriak?" tanya nenekku yang setengah bangun.
"Tidak tau nek, seperti suara rian. Tetapi diakan pergi bersama ayahku, tidak mungkin pulang jam segini" kataku terus menguping.
"Coba buka pintu, siapa tau penting" kata nenekku yang kini berdiri.
"Jangan nek, bagaimana kalau dia hantu" kataku dengan menakuti nenekku.
"Kita lawan saja, kamu ambil air di baskon"
Aku langsung berlari ke dalam mengambil air, setelah itu aku dan nenekku menuju ke pintu.
Nenekku membuka kunci rumah dengan perlahan, aku yang akan menyiram hantunya.
Tut.. Suara pintu yang dibuka. Bayangan seseorang terlihat dari balik pintu. Tanganku bergetar, air di baskon bertambah berat.
"Cepat siram luis" Teriak nenekku yang sudah membuka pintu secara keseluruhan. Dengan sigap dan cepat, aku menyiram air ke orang tersebut.
"Mampus kamu hantu, kau akhirnya mandi juga" kataku penuh kemenangan.
"Apa-apa ini?" katanya yang membuat aku sadar. Ternyata benar, dia adalah rian. Bukan hanya suaranya saja yang mirip tetapi orangnya juga.
"Luis, kenapa kau menyiramku?" tanyanya yang terlihat kesal.
"Maaf, aku pikir hantu" kataku dengan rasa bersalah. Seharusnya aku melihat dulu dari balik jendela, tidak main menyiram saja.
"Luis yang salah, padahal nenek sudah bilang bukan hantu. Tetapi dia nekat melakukannya" kata nenekku yang membalikkan fakta. Padahal dia yang menyuruhku untuk mengambil air di baskon.
"Loh, anakku ke mana? kenapa tidak ikut pulang denganmu?" tanya nenekku yang juga membuat aku melihat sekeliling. Mencari keberadaan ayahku, tetapi aku tidak melihatnya sama sekali.
"Kita bicara di dalam saja" kata rian dengan gugup sambil menunduk. Aku jadi curiga, pasti terjadi sesuatu.
Setelah rian masuk, aku dan nenek duduk menunggu jawaban darinya.
"Begini nek, luis, kami mendapat kendala sewaktu dalam perjalanan. Dengan terpaksa, aku berlari pulang sendirian" kata rian yang terus menunduk.
"Kendala apa? apa yang terjadi dengan anakku?" teriak nenekku yang terlihat panik.
"Rian, coba jelaskan semuanya. Kami berhak untuk tau" kataku yang tidak kalah kerasnya.
"Saat kami di tengah perjalanan, kami dihadang oleh pohon yang tumban. Om tamrin menyuruhku untuk tidak mengendarai motor, makanya aku menyimpannya. Tetapi-" rian seperti tidak ingin melanjutkan perkataannya. Itu semakin membuatku kesal, aku sangat penasaran apa yang terjadi dengan ayahku.
"Rian, jika bercerita jangan sentengah-tengah. Jelaskan secara detail" teriakku dengan berdiri.
"Tidak lama kami berjalan, para hantu datang. Ada kuntilanak, genderuwo dan sosok yang sangat tinggi seperti pencakar langit. Kami sebenarnya baik-baik saja, tiba-tiba mereka mencekik leher ayahmu"
"Apa? lalu kau meninggalkan ayahku sendirian di sana?" tanyaku yang tidak habis pikir. Bagaimana bisa rian tega meninggalkan ayahku dan memilih menyelamatkan dirinya sendiri.
"Om tamrin yang menyuruhku untuk lari, aku menolaknya tetapi mereka tiba-tiba maju ingin mencekikku. Makanya aku terpaksa lari"
"Nek, bagaimana sekarang? aku sangat khawatir dengan kondisi ayahku" kataku yang sudah tidak tau harus berbuat apa.
"Kita tunggu sampai bezok pagi. Jika ayahmu tidak pulang, kita akan mencarinya" kata nenek yang terlihat santai.
"Tetapi nek, apa tidak kelamaan? bagaimana jika ayahku butuh pertelongan sekarang?" Aku tidak sabar menunggu pagi.
"Luis, ayahmu bukan orang yang lemah. Aku ini ibunya, aku tau seberapa kuat anakku" kata nenekku yang berjalan masuk ke kamar lagi.
Kini aku menatap rian, aku sebenarnya sangat kesal dengannya. Tetapi bagaimana lagi, jika aku di posisinya, aku pasti akan melakukan hal yang sama.
"Rian, bezok pagi kau antar aku di tempat yang kau maksud" kataku berusaha menahan amarahku, takut meledak.
"Oke luis"
"Kau tidur di kamar ayahku, bezok pagi kita berangkat" kataku meninggalkan rian yang masih duduk di sofa.
Aku masuk ke kamar, ku lihat nenekku sudah tidur kembali. Aku sendiri, mataku seolah tidak mau tertutup mengingat ayahku.
"Maafkan luis yah, aku bahkan tidak bisa berbuat apapun di saat ayah butuh bantuan. Semoga saja ayah baik-baik saja" gumanku dalam hati.
Sebelum lanjut tidur, aku melaksanakan shalat tahajjud terlebih dulu. Aku pernah dengar, jika berdoa di sepertiga malam, maka doanya akan di kabulkan. Aku juga berharap jika doaku di kabulkan.
Pagi hari datang, sinar matahari membuat mataku silau. Aku melihat adik-adikku masih tertidur. Tetapi nenekku sudah tidak ada.
Aku berjalan keluar dari kamar, ternyata nenekku sedang masak.
"Nek, apa nenek tidak mengkhawatirkan ayahku?" tanyaku karena nenek terlihat lebih santai.
"Perasaan seorang ibu terhadap anak sangat besar. Nenek mengkhawatirkannya, melebihi rasa khawatir kamu" kata nenekku yang berbicara tanpa menatapku.
"Nek, aku mau mencari ayahku. Perasaanku tidak tenang dari kemarin" kataku.
"Kau akan pergi dengan siapa?"
"Rian, diakan tau dimana tempat ayahku di cekik"
"Apa kita tidak tunggu ayahmu dulu. Nenek yakin jika dia baik-baik saja"
"Apa nenek tidak mendengar perkataan rian? ayahku di cekik. Seseorang jika di cekik, dia bisa mati nek" kataku yang mulai berbicara dengan nada tinggi. Mungkin karena saking kesalnya.
Aku berjalan ke kamar ayahku, mencoba membangunkan rian. Tetapi rian sudah duduk di sofa.
"Kau habis berdebat dengan nenekmu yah?" tanya rian.
"Memangnya kenapa? ini semua salahmu" kataku dengan kesal.
Tidak lama, suara motor berhenti di depan rumahku. Di tambah suara teriakan ayahku.
"Luis, buka pintunya"
Aku buru-buru membuka pintu ketika mendengar suara ayahku. Ternyata benar, yanga datang adalah ayahku.
"Apa rian sudah sampai?" tanya ayahku yang baru datang.
"Aku sudah sampai dari kemarin om" sahut rian dari belakang.
"Syukurlah kalau begitu, aku merasa lega. Kau berhasil menyelamatkan dirimu sendiri" kata ayahku yang langsung masuk. Aku di abaikan di depan pintu.
"Aku baru saja mau mencari ayah, aku dengar dari rian jika ayah di cekik" kataku yang duduk di dekat ayahku.
"itu benar, untung ada pak uztadz reyhan yang menolong ayah. Ayah memang sudah mengabari uztadz reyhan jika ayah mau pergi ke rumahnya" kata ayahku sambil mengelurkan sebuah botol dari kantong hitam.
"Ini obatnya yah?" tanyaku.
"Iya. Apa adikmu sudah bangun?"
"Dia masih tidur, sebaiknya kita bangunkan dia kemudian pasang obatnya. Dari kemarin dia menangis terus, katanya kakinya terasa sakit seperti di tusuk" kata nenekku yang muncul dari dalam.
Aku dan ayahku masuk ke kamar, nenekku sudah membangunkan adikku. Rian hanya melihat dari balik pintu, tidak berani mendekat.
"Minum obatnya, setelah itu usapkan di kakimu" kata ayahku memberikan idar sebotol air.
Idar meminumnya tiga tegukan, kemudian nenekku mengusap pada kedua kaki adikku. Tetapi tiba-tiba air yang berada di kaki adikku berubah menjadi darah.
Aku terkejut melihatnya, bagaimana bisa air berubah menjadi darah yang begitu sangat kental dan bau.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
top😍
2022-07-17
0
Yuli
ngeri² sedap Thor 🤣🤣🤣
2022-07-08
1
Nurhalimah Al Dwii Pratama
seru
2022-06-14
2