Matahari sudah tergelam. Aku sudah bersiap tetapi menunggu rian yang belum datang ke rumahnya.
"Laki-laki itu kemana sih? Aku sudah mengingatkan dia untuk datang lebih cepat, kenapa sekarang belum datang?" Kataku sambil mondar-mandir di ruang tamu.
Tidak lama, suara pintu di ketuk. Aku membuka mengira jika rian, tetapi tidak melihat siapapun. Dari kejauhan, aku melihat seorang nenek-nenek yang mengunakan tongkat sambil berjalan menjauhi rumahku.
"Apa lagi ini, siapa dia? Aku akan tau jawabannya sebentar lagi" Gumanku sambil menutup kembali pintu rumah.
Aku kemudian mendengar suara ketukan pintu. Aku tidak mau membuka terburu-buru, aku pastikan terlebih dahulu. Aku mengintip lewat jendela dan ku lihat rian berdiri. Aku merasa lega, ku buka pintu terburu-buru.
"Maaf terlambat, aku makan dulu dan bersiap baru ke sini" Kata rian dengan tersenyum.
"Masuk, aku harus pergi ke rumah temanku. Kau jaga adikku di rumah, aku tidak akan lama" Kataku memberi jalan pada rian. Tetapi dia masih berdiri mematung.
"Aku pergi dengan ayahku. Kau tidak perlu khawatir, kami hanya sebentar" Kataku memberi penjelasan.
Rian mengangguk dan masuk ke rumah, aku kemudian memanggil ayah dan adik-adikku. Setelah mereka datang, aku berpamitan dan menuju rumah pak Rt.
"Kau bilang apa pada rian?" Tanya ayahku di tengah perjalanan.
"Aku mengatakan untuk pergi ke rumah temanku dan hanya sebentar, tidak akan lama"
"Rian tidak boleh tau tujuan kita, dia masih orang baru, belum bisa beradaptasi dengan orang-orang di kampung kita"
Setelah kami diam, aku merasa melihat sesuatu di bawah pohon mangga di depan rumah almarhum pak imam. Aku memegang erat tangan ayahku.
"Ada apa luis, kau kenapa?" Tanya ayahku ketika melihatku ketakutan.
"Ada sesuatu di bawah pohon mangga, aku seperti melihat seseorang sedang duduk di sana" Kataku dengan tangan bergemetar.
Ayahku mengarahkan senter ke bawah pohon mangga, tetapi tidak melihat apapun. Aku tidak mungkin salah liat, aku jelas melihat sesuatu yang duduk di sana.
"Luis, jangan bercanda"
"Aku tidak mungkin salah yah, mataku masih sehat"
"Sudah, jangan bahas apapun lagi. Kita harus segera tiba di rumah pak Rt" kata ayahku berjalan dengan cepat. Aku tetap memegang tangan ayahku, tidak mau melepasnya.
Kami berdua terkejut ketika seseorang tepat berada di depan kami, menghalangi jalan.
Sosok berpakaian serba putih dengan rambut panjang. Aku mulai membaca surah-suara yang aku hafal. Saking takutnya, bacaanku terbalik-balik.
Ayahku menyinari senter ke orang tersebut, seketika dia menoleh ke arah kami berdua dengan memperlihatkan gigi yang putih dan mata putih. Suara tertawa yang khas seperti kuntilanak.
"Astagfirullah Al-azim..." Kata ayahku dengan terkejut.
Aku menutup mataku karena ketakutan. Suara tertawanya begitu mengerikan di dengar. Aku serasa mau mengompol.
"Luis, kita tetap berjalan dan jangan mempedulikan makhluk yang lebih rendah dari kita" Kata ayahku. Aku tau jika ayahku juga ketakutan, tangannya bergetar juga.
Aku melangkah perlahan bersama ayahku. Suasanan malam ini begitu tidak bersahabat dengan kami. Rumah pak Rt sudah terlihat di depan mata. Tetapi aku seperti tidak bisa sampai. Kakiku sangat berat untuk melangkah, aku menoleh dan terkejut.
Kuntilanak tanpa bersuara, sedang menarik kaki mundur. Aku berlari ke rumah pak Rt karena terkejut. Meninggalkan ayahku yang terus memanggilku.
"Luis..."
"Luis....Tunggu ayah" Teriak ayahku yang berlari juga.
"Maaf kan anakmu yang tidak tau diri ini, meninggalkan ayahku di belakang. Tetapi harus bagaimana, aku sangat ketakutan" Gumanku dalam hati sambil menangis dan terus berlari sebisaku.
Tidak tega rasanya meninggalkan ayahku, tetapi rasa takutku jauh lebih besar. Kakiku tidak mau berhenti berlari.
Aku langsung masuk ke rumah pak Rt yang tlterbuka. Mereka yang ada di dalam sedang berkumpul jadi terkejut. Pak Rt berdiri menyambutku.
"Luis kau sudah datang? Di aman ayahmu" Kata pak Rt sambil memberiku kursi untuk duduk.
"I..tu ay..ayah..ku, Ka..mi di ke..jar..." Aku seolah tidak bisa meneruskan perkataanku. Nafasku seperti mau terputus.
"Luis tenang dulu, nanti baru bicara" Kata Pak Rt.
"Ay..ayah..." Belum selesai aku bicara, ayahku masuk tanpa permisi. Semua orang yanga datang, menggeleng kepalanya.
"Tidak anak maupun ayahku, datang-datamg langsung masuk. Tidak mengetuk pintu" Kata orang yang duduk.
Pak Rt dan istrinya hanya menggeleng kepala. Mereka tidak habis pikir dengan tingkahku dan ayahku.
"Pak tamrin kenapa berlari? apa ada yang kejar atau bagaimana? atau jangan-jangan, pak tamrin sama luis main kejar-kejaran" Tanya pak Rt yang kini menghampiri ayahku.
"kun...kun...kun..." Kata ayahku terpotong.
"Kun...kun... Apa sih pak? kami semua tidak mengerti"
Ana menghampiriku di saat aku dan ayahku diam berusaha bernafas. Ana memegang tanganku dan menutup matanya. Dia terkejut, buru-buru membuka matanya dan melepas tanganku. Ana menjauh dariku. Semua orang terkejut dan memandang ana untuk menjelaskan semuannya.
"Kuntilanak kentayangan dan mencari korban berikutnya. Kini luis dalam bahaya, dia menjadi target setelah kematian pak imam" Kata ana dengan cepat.
Semua orang terkejut, bahkan aku yang susah bernafas kini sudah normal kembali. Terlihat wajah khawatir pada ayahku.
"Sebaiknya kita duduk dan memperbaiki masalah ini" Kata pak Rt.
Kami semua duduk dan menunggu keputusan pak Rt. Jangtungku berdenyut kencang, aku sangat sedih. Bagaimana jika yang di katakan ana benar. Aku akan menyusul ibu. Air mataku jatuh, ayahku menepuk pundakku.
"Luis, kau tidak perlu khawatir. Ayah tidak akan biarkan itu terjadi" Kata ayahku yang berada di dekatku.
"Itu benar, tidak daya yang lebih besar selain milik pencipta bumi dan langit ini. Kita hanya perlu berserah diri pada yang maha kuasa. Kejadian pak imam, semuanya atas kehendak Allah" Kata pak rt memulai bicarannya.
"Itu benar pak rt, takdir tidak bisa di ubah. Tetapi ada takdir yang bisa di ubah pak rt. Seperti ini, kita tidak boleh lengah dan membiarkan kuntilanak mengambil nyawa lagi. Sudah cukup pak imam jadi korban, sebisa mungkin kita menghindarinya dan melawan kuntilanak itu" Teriak warga yang lain.
"Karena semua orang berkumpul, kita akan berbicara pada makhluk tersebut. Dari mana dia datang dan apa tujuannya. Kita harus tau semuannya" Kata pak rt dengan tegas.
"Kita harus bemain-main dengan makhluk tak kasat mata, hanya itu caranya" Kata Ana dengan santai.
"Kita sudah pernah melakukannya dan mengusir arwah jahat tersebut. Kali ini, kita harus bisa mengusirnya bersama dengan pemiliknya" Teriak warga lain.
"Aku setuju pak rt, tidak ada cara lain. Jika kita hanya diam, semakin banyak korban yang jatuh. Kita sudah kehilangan pak imam, itu sudah cukup" Kata ayahku.
"Aku akan melakukannya, bermain dengan mereka semua dan di saat itu, yang lain seperti ana dan dion bisa mengurung mereka semua. Di saat itu, kita tanyakan kemauan mereka" Kataku yang bicara walau masih di rundung rasa takut.
"Kita coba, bermain dengan mereka semua" Tegas pak rt dan di sambut anggukan semua orang yang berada di sini.
[**Berikan like, hadiah, vote, dan tambahkan ke favorit karya ini agar author semangat menulisnya]
Thank you kalian, jika ada waktu senggang mampir di novelku yang lain. Langsung klik profilku akan muncul**.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Yudi Christian
perang dimulai
2025-02-03
0
Shyfa Andira Rahmi
😅😅
2023-09-13
0
Edi yuzzardy
ke rumah nya harusnya ke rumah ku...kalo ke rumah nya berrti ke rumah rian...ceritanya bagus...mantrpp enak di baca,semangaat thorr
2022-10-04
0