"Tidak, tolong aku" Teriakku setelah melihat orang yang memeluk kakiku bukan adikku.
"Luis kau kenapa?" Tanya ayahku yang berdiri di depanku.
"Ayah, ada orang mengerikan yang memeluk kakiku. Tolong yah, suruh dia pergi" Kataku sambil menangis.
"Orang mengerikan apa? tidak ada orang yang memeluk kakimu. Berhenti bercanda luis, pak imam baru saja meninggal, jangan membuat ulah" Kata ayahku sambil masuk ke rumah.
Aku melihat ke arah kakiku, sambil mengerakkannya. Benar, sudah tidak ada yang memelukknya. Ku cari sekeliling, tidak ada orang yang terlihat. Apa aku berhalusinasi, karena terlalu panik dan berpikiran negatif tentang adikku?
Oh, aku baru ingat jika aku mau mencari adikku. Aku masuk ke rumah dan mencari ayahku. Ku lihat dia sedang mengganti bajunya.
"Ayah tidak melihat aidil?" Tanyaku yang kini berada di kamar ayahku.
"Ayah melihatnya bermain di rumah temannya, dia pulang nanti sore" Aku lega mendengarnya. Setidaknya aku tidak perlu khawatir dengan adikku.
"Ayah mau ke rumah pak imam?" Tanyaku yang melihat ayahku berpakaian rapi.
Ayahku mengangguk. Aku mengganti pakaianku juga, menggunakan kerudung dan ikut pada ayahku. Kami pergi melayat.
Saat kami datang, bendera berwarna kuning sudah menyambut kami. Banyak orang yang datang berduka, termasuk Ana yang sudah berpakain rapi juga.
"Kami turut berduka cita atas meninggalnya pak imam" kata ayahku sambil bersalaman pada istri pak imam. Aku ikut bersalaman.
Setelah selesai, aku duduk di teras, banyak kursi yang berjejeran. Ana datang menghampiriku dan duduk di dekatku. Kami tidak berbicara, melihat keluarga pak imam bersedih membuat hati kami juga ikut sedih.
Setelah selesai di mandikan, di kafani, dan di shalati, Almarhum pak imam di bawa ke liang lahat. Tangisan keluarga pecah, tidak membiarkan warga membawa almarhum. Ibu Ratna yang kebetulan datang, menjauhkan istri pak imam.
Sebuah kejadian aneh yang tak pernah terjadi, mayat pak imam bergerak sendiri. Warga yang melihatnya jadi takut, mereka menurunkan pak imam kembali ke lantai.
"Ada apa ini pak uztadz?"
Istri pak imam yang melihat mayat suaminya bergerak, menghampirinya. Mengira jika pak imam hidup kembali. Tetapi saat di sentuh, pak imam kembali tidak bergerak.
"Sebaiknya warga-warga sekali memeriksa mayat pak imam" Kata uztadz Jufri yang kebetulan uztadz satu-satunya di kampung.
"Kami takut pak uztadz"
"Anda lebih takut sama mayat apa Allah Swt? Kan banyak orang di sini, anda tidak sendirian. Atau mau di tinggal sendiri baru memeriksanya?"
"Baik pak uztadz. Tetapi semua orang yang ada di sini jangan kabur, tunggu saya dulu"
Satu orang maju perlahan, tangannya bergetar ketika memegang kepala pak imam. Dia membuka tiap ikatan yang menempel. Dan tinggal satu ikatan, saat ingin membukanya, mata pak imam terbuka dan hanya menampilkan mata putih. Semua orang terkejut, berteriak, bahkan banyak yang berlari keluar.
"Aduh pak uztadz, tidak tega saya" Kata orang yang membuka ikatan.
"Tolong tutup mata akmarhum!" Perintah uztadz jufri.
"Saya tidak mau pak uztadz, nanti tanganku menempel"
"Astagfirullah Al-azim, Cepat di lakukan, atau Anda terus berada di situ"
Pak malik yang membuka ikatan tali, membuka matanya dan mengerakkan tangannya ke wajah almarhuman. Belum sampai, tangannya sudah bergetar. Banyak warga yang melihat sambil bersembunyi di belakang yang lain.
Tak...
Akhirnya selesai juga, kini mata pak imam tidak terbuka lagi. Pak malik buru-buru menjauh dari mayat.
"Pak malik belum selesai, tolong pasang kembali tali pocong yang sudah pak malik lepas"
"Saya lagi pak uztadz, suruh yang lain. Saya sudah bergetar menahan kencing ini..." Oceh pak malik sambil berlari keluar.
"Apa ada yang mau memperbaiki tali pocong almarhum?"
Semua orang hanya saling memandang, banyak yang berlari keluar menghindar. Uztadz jefri hanya bisa mengeleng kepala. Sampai satu orang maju di dekat uztadz.
"Anda mau membantu?"
"Tidak pak uztadz, saya hanya mau menyarankan, kenapa bukan uztadz saja? uztadz tidak takut sama sekali. Sementara kami ini sudah sangat takut" katanya kemudian mundur kebelakang.
"Kirain maju terus, eh taunya maju mundur"
Uztadz jefri mendekati mayat pak imam, dia kemudian mengikat semua tali pocong yang di lepas pak malik. Setelah selesai, uztadz jefri kembali menunjuk warga laki-laki untuk membawa mayat pak imam ke kuburan.
SKIP...
Setelah selesai pemakaman, semua warga kembali ke rumah. Aku berjalan bersama ayahku, wajah almarhum membuat aku selalu kepikiran. Aku penasaran, apa yang terjadi dengan pak imam, bagaimana bisa mayatnya bergerak sendiri dan membuka matanya. Padahal dia sudah meninggal.
"Ayah tau kejadian aneh yang menimpah pak imam barusan?" Tanyaku yang memulai pembicaraan.
"Kita sebaiknya cerita di rumah saja" Kata ayahku sambil mempercepat langkah kakinya.
Aku terpaksa berlari kecil agar tidak ketinggalan. Ketika sampai di depan rumah, perasaanku jadi lega.
"Luis, jangan beritahu adik-adikku kejadian tadi, mereka bisa saja ketakutan sendirian di rumah" Kata ayahku sebelum masuk.
Aku mengerti yang di katakan ayahku, aku saja sudah ketakutan. Apalagi adikku yang masih duduk di kelas Dua SMA, dia masih perlu belajar sepulang sekolah. Aku juga tidak bisa menemaninya terus menerus. Kalau si bungsu tidak perlu, diakan masih anak-anak jadi belum mengerti apapun.
Langkah kaki terhenti ketika seseorang memanggilku.
"Luis, kesini dulu"
Aku menghela nafas, anak tetangga baru selalu memanggilku. Untuk apa lagi dia memanggilku, aku menghampirinya walau merasa malas berurusan dengannya. Tetapi aku masih punya rasa tolong menolong sesama tetangga. Mungkin yang dia kenal hanya aku saja.
"Jangan berpikiran negatif luis, kau bisa butuh bantuan juga padanya nanti" Batinku.
"Luis, kau dari mana?" Tanya rian ketika aku sudah berada di teras rumahnya.
"Baru melayat, apa ada yang perlu aku bantu?" Tanyaku.
"Oh, aku sendirian di sini. Apa bisa kau menemaniku?" Tanya rian yang membuat aku penasaran. Untuk apa memintanya di temani?
"Kedua orang tuamu ke mana?"
"Dia pergi ke kota tadi pagi. Bezok baru pulang, adikku ikut dengannya juga"
"Kenapa kau tidak ikut juga?"
"Ibuku bilang kau akan menemaniku menginap di sini. Katanya dia sudah memberitahu ayahmu" Kata rian yang membuatku terkejut.
Ayahku tidak memberitahuku apapun, lagi pula ayahku tidak mungkin setuju. Melihat aku menginap berdua laki-laki yang bukan mahramku.
"Tidak mungkin rian, aku kenal ayahku. Sejak sekolah, aku tidak di biarkan bermalam di rumah temanku laki-laki, walau aku bersama teman yang lain. Apalagi di rumahmu yang hanya ada kamu dan aku saja"
"Kalau begitu, tanya saja pada ayahmu. Soalnya ibuku sudah bicara dengan ayahmu tadi" Kata rian seperti tidak mau mengalah.
Aku menghela nafas panjang, rian seperti tidak percaya padaku. Padahal aku yang lebih mengenal ayahku daripada dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Yudi Christian
ustad. nya juga takut..tapi jaga gengsi/Facepalm/
2025-02-02
0
Shyfa Andira Rahmi
knpa malah nyuruh orang ...bukan pa ustaz nya aja yg buka🙄
2023-09-13
0
@krhmd24_
tadi Jufri sekarang Jefri 🤔
2023-07-03
0