Apakah lumpuh?

Aku ingin menghampirinya, aku sangat penasaran dengan sosok tersebut. Tetapi teriakan adikku dari dalam membuat aku langsung masuk ke rumahku.

"Idar, kau kenapa berteriak?" Tanyaku yang lebih dulu sampai di kamar adikku.

"Kak, kakiku tidak bisa di gerakkan. Apa yang terjadi?" Tanyanya.

Aku mencoba memijat kakinya, tetapi adikku tidak merasakan apapun. Aku memijak dengan keras, adikku tetap mengelengkan kepalanya tidak merasakan apapun.

"Aneh, padahal aku sudah memijat kakimu dengan keras" Kataku berhenti memijat.

"Ada apa luis, idar, kenapa kalian berteriak?" Tanya ayahku yang baru datang. Di susul rian dan adik kecilku.

"Kakiku yah, tidak bisa di gerakkan. Kak luis sudah memijatnya dengan keras, tetapi aku tidak bisa merasakan apapun" Idar mulai menangis.

"Tenang dulu, ini masih magrib. Luis, kau sudah tutup pintu?"

Aku langsung berlari ke depan. Saking terburu-burunya, aku lupa menutup pintu rumah. Aku kemudian mencari sosok yang menangis tadi, tetapi dia sudah tidak ada. Aku menutup pintu dan menguncinya dengan rapat. Setelah itu, kembali ke kamar adikku.

"Ayah shalat magrib dulu. Luis kau jaga adikmu" Kata ayahku kemudian keluar dari kamar.

"Kak, bagaimana ini, kenapa kakiku tidak bisa di gerakkan?" Tanya idar padaku. Jujur, aku juga tidak mengerti. Tetapi sebagai seorang kakak, aku harus membuat adikku tenang dan tidak panik.

"Kakimu tidak apa-apa. Kau tidak dengar perkataan ayah, setelah shalat magrib, ayah akan mencarikan obat untuk kakimu" Kataku sambil tersenyum agar adikmu merasa tenang.

Rian hanya bengong melihat kami berdua. Mungkin dia berpikir, bagaimana bisa kami tetap tenang di saat situasi seperti ini.

Ayahku sudah shalat magrib. Aku kemudian melangkah ke kamar mandi dan mengambil air wudu. Aku dikejutkan dengan suara cakaran dari atas genteng. Aku mempercepat wuduku dan berlari ke kamar adikku.

"Luis, kau ini kenapa lari?"

"Tidak apa-apa yah" jawabku. Aku tidak mau membuat seisi rumah takut.

Setelah aku mengerjakan shalat magrib, perasaanku semakin tenang. Kini ayahku terlihat serius memijat kaki adikku.

"Kau belum merasakannya?" Tanyaku.

"Belum kak"

"Rian, kau mau menemaniku pergi ke desa seberang?" Tanya ayahku kepada rian yang berada di belakangnya.

"Bisa om. Tetapi kita ke sana pake apa om?" Tanya rian balik.

"Naik motor. Kau kan punya motor" Kata ayahku.

"Oh iyya om, aku lupa"

"Luis, ayah pergi ke desa seberang. Ayah akan suruh nenek untuk datang ke sini menemanimu. Mungkin bezok pagi ayah pulang" Kata ayahku sambil mengulurkan tangannya.

"Ayah hati-hati, ini malam jum-at. Apa tidak sebaiknya bezok saja?"

"Kaki adikmu harus segera di obati. Jika tidak, dia bisa lumpuh. Kau tenang saja, ada rian yang membantu ayah" Kata ayahku sambil keluar dari rumah.

"Aku titip ayahku, kau harus menjaganya dengan baik" Kataku pada bocah yang sering membuat ulah ini.

"Kau tidak perlu khawatir. Kami hanya pergi ke desa seberang, bukan ke luar kota" Kata rian sambil tertawa.

"Kau tidak tau saja apa yang akan kamu lalui. Walau dekat, akan terasa sangat jauh" Kataku memperingati rian. Tetapi dia hanya mengangguk dengan percaya diri.

"Maklum, dia orang kota. Sepertinya dia tidak pernah mendengar rumor di desa seberang" gumanku dalam hati.

Setelah mereka berdua pergi, aku menutup pintu dan menguncinya. Kemudian kembali menemani kedua adikku di kamar. Ini pertama kalinya kami di tinggal ayahku setelah kepergian ibuku. Aku terasa cangguh dan takut, mataku terus mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tau. Lebih tepatnya waspada.

"Kak, aku laper.." Kata adik kecilku.

Mau tak mau, aku harus memberanikan diri ke dapur. Aku membawa Al-Qur'an untuk berjaga-jaga, terlebih malam ini malam jum'at. Malam yang dikenal sangat angker.

Aku mengambil nasi, tetapi suara ketukan pintu membuat aku kaget sesaat. Setelah itu, tidak terdengar apapun lagi. Aku meneruskan mengambil ikan di kulkas. Aku berusaha tidak berpikiran negatif.

"Ini, kau juga makan idar" Kataku sambil memberikan idar piing yang sudah aku isi dengan nasi, ikan, telur, dan sayuran.

"Kak luis tidak makan?"

"Aku tidak laper" Kataku menepi pertanyaan adikku.

Padahal, perutku dari tadi siang belum di isi. Tetapi karena suara ketutakan tadi, membuat aku cepat-cepat mengambil makanan. Dan hanya membawa dua piring saja. Aku tidak mau lama-lama di dapur.

"Luis....Buka pintunya..." Teriakan seseorang dengan suara mengerikan.

Aku terkejut, idar yang melihatku jadi heran.

"Kak luis kenapa? ketakutan begitu?" Tanyanya.

"Kau tidak mendengar suara aneh?"

"Tidak kak. Apa kak luis ketakutan, kalau takut sebaiknya baca Al-Qur'an saja"

Benar kata adikku, aku buru-buru mengambil Al-Qur'anku yang menjadi senjata rahasiaku. Aku membaca surah Al-kahfi karena malam ini malam jum'at.

Suara pintu di buka terdengar dengan jelas. Bahkan adikku juga mendengarnya. Aidil langsung memelukku. Sementara idar sudah ketakutan.

Aku melangkah ke kasur dan memeluk kedua adikku yang ketakutan. Aku juga sudah ketakutan, tanganku sudah bergetar.

"Kak, kira-kira siapa yang datang. Apa jangan-jangan kuntilanak?" Tanya idar sambil mempererat pelukannya.

"Hust, jangan banyak bicara. Kita sebaiknya tutup mata supaya tidak melihat apapun"

Adikku menutup kedua matanya dengan tangannya. Sementara aku hanya merem. Kini seseorang sudah masuk ke kamar adikku. Aku bisa merasakan dia melangkah mendekat. Tangannya tiba-tiba meraih adikku, membuat kami bertiga berteriak.

"Hust, kalian ini kenapa berteriak?" kami berhenti berteriak setelah mendengar suara tersebut.

Oh ya ampun, aku bisa jantungan. Untung saja yang datang adalah nenekku. Aku lupa jika ayahku akan menyuruh nenek datang.

"Nenek masuk tidak mengetuk dulu. Kami jadi kaget, seharusnya nenek berteriak di luar biar kami buka pintu" Kataku dengan kesal. Aku hampir saja mati ketakutan.

"Nika nenek berteriak, nenek pikir kau akan tambah ketakutan. Lagian nenek punya kunci rumahmu, jadi tidak perlu berteriak. Langsung masuk saja" Kata nenekku. Dia ini adalah ibu dari ayahku.

"Nenek sendirian datang ke sini?"

"Iya, kakekmu yang jaga rumah. Lagian ini, malam jum'at. Tantemu pasti ketkautan di rumah sendirian. Mau gimana lagi, harus sendirian ke sini"

"Yes, nenek sudah datang" Kata aidil dengan senang.

"Lanjutkan makanmu, lihat nasimu belum habis" Kataku pada aidil. Dengan sigap, dia turun dari ranjang dan memakan makanannya.

"Idar, kakimu baik-baik saja?" Tanya nenekku sambil memandang kaki idar.

"Kakiku tidak bisa di gerakaan nek. Aku tidak tau kenapa bisa begini. Tiba-tiba saja, kakiku tidak bisa digerakkan"

"Kakimu pasti mempunyai masalah serius. Jika tidak, dia tidak mungkin pergi ke desa seberang. Kita tunggu ayahmu bezok pagi. Kita akan tau apa penyebabnya" Kata nenek yang dibalas anggukan olehku. Aku sendiri tidak tau apa penyebab adikku. Padahal aku dulu sering mengobati penyakit semua orang yang datang berobat.

"Penyakit adikku pasti berkaitan dengan makhluk halus yang lebih kuat. Aku bahkan tidak bisa menebak, seperti apa niatnya. Aku harap, adikku baik-baik saja" Gumanku dalam hati.

Terpopuler

Comments

Yudi Christian

Yudi Christian

kasian Napa bocah kecil di kerjain sih

2025-02-03

0

Lina Sandi

Lina Sandi

mungkin ada makhluk tak kasat mata yg menempel di kaki adik luis

2022-07-24

0

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

keren 😍

2022-07-16

0

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Tetangga Baru
2 Di teror
3 Memasuki Rumah Tetangga
4 Kematian Pertama
5 Meminta Menginap
6 Akan Membantu
7 Bermain Dengan Makhluk Tak Kasat Mata
8 Berkomunikasi
9 Janji yang harus di tepati
10 Dikejar Hantu
11 Kedatangan Hantu
12 Pertanda Bahaya
13 Kesurupan
14 Ada Apa Dengan Fani?
15 Apakah lumpuh?
16 Dalam Perjalanan
17 Berlari Menyelamatkan Diri
18 Ayah kembali
19 Kesembuhan Adikku
20 Lemparan Batu
21 Menjengguk Fani
22 Berpetualang di kuburan
23 Sang Penyelamat
24 Rian Yang Datang
25 Ketukan Pintu Di Malam Hari
26 Ketakutan Ketika Anjing Menggaung
27 Panggilan Seram
28 Malu Karena Ketahuan
29 Mayat Yang Membusuk
30 Nenek Terkena Santet
31 Ucapan Selamat Tinggal Untukku
32 Maafkan Aku Rian
33 Bertemu Pocong
34 Siapa Kakek Tua Ini?
35 Berhasil Sampai Di Desa Seberang
36 Desa Yang Lebih Menyeramkan
37 Bertemu Kuntilanak
38 Rian Sudah Tidak Ada
39 Siapa Yang Dilihat Adikku?
40 Ke Rumah Ana
41 Kejelasan Tentang Marni
42 Rain, kembaran Rian
43 Boneka Rian
44 Aku Tumbal Luis
45 Fani Or Dion
46 Uji Nyali, Berakhir Menakutkan
47 Marni Di Jadikan Tumbal
48 Mimpi Adikku
49 Hantu Luis
50 Kesurupan
51 Kehilangan Adik
52 Mayat Siapa?
53 Sikap Rian berubah
54 Boneka Rian Yang Hilang
55 Meminta Bantuan
56 Datang Ke Sekolah Malam-malam
57 Bertemu Putri
58 Kemurkahan Hantu Boneka
59 Surat Misterius
60 Menjadi mangsa
61 Tersadarkan
62 Keluarga Rian Penyebab Masalah
63 Mengunjungi Rumah Putri
64 Hantu Di Angkot
65 Luis Yang Bersalah
66 Siapa Dia?
67 Tersudutkan
68 Bertemu Pelaku Yang Sebenarnya
69 Tidak Tahu Harus Berbuat Apa?
70 Di Usir Warga
71 Keadaan Kampung Setelah Kepergian Luis
72 Kedatangan Pak Rt
73 Menjadi Detektif
74 Mimpi Tentang Marni
75 Petunjuk Di Rumah Marni
76 Di Jebak
77 Masuk Ke Dimensi Lain
78 Bukan Waktu Yang Tepat
79 Telepon Dari Ibu Ratna
80 Bertemu Nenek-Nenek
81 Hantu Boneka Rian Kembali
82 Mendadak Tidak Bisa Bicara
83 Bicara Dengan Warga
84 Di Jengguk
85 Menyelamatkan Diri Sendiri
86 Ballerina Make Me Love
87 Penolakan Rian
88 Mencari Tahu Kebenaran
89 Datang Meminta Bantuan
90 Terungkap Tuyul Marni
91 Kalung Pelindung
92 Nenek Ana
93 Rencana Yang Akan Di Jalankan
94 Roh
95 Panggilan Orang Mati
96 Panik
97 Kesedihan Rian
98 Rain Pembunuh Marni
99 Bertemu Ibu Ratna
100 Perkelahian
101 Jatuh Cinta
102 Menerobos Masuk
103 Roh Hitam
104 Akan Membantu
105 Kepanikan
106 Apa Yang Terjadi Dengan Adikku?
107 Bunuh Diri
108 Akhir Dari Sebuah Cerita
109 Karya Baru
110 Cs Terjerat Cinta Pemimpin Vampire
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Kedatangan Tetangga Baru
2
Di teror
3
Memasuki Rumah Tetangga
4
Kematian Pertama
5
Meminta Menginap
6
Akan Membantu
7
Bermain Dengan Makhluk Tak Kasat Mata
8
Berkomunikasi
9
Janji yang harus di tepati
10
Dikejar Hantu
11
Kedatangan Hantu
12
Pertanda Bahaya
13
Kesurupan
14
Ada Apa Dengan Fani?
15
Apakah lumpuh?
16
Dalam Perjalanan
17
Berlari Menyelamatkan Diri
18
Ayah kembali
19
Kesembuhan Adikku
20
Lemparan Batu
21
Menjengguk Fani
22
Berpetualang di kuburan
23
Sang Penyelamat
24
Rian Yang Datang
25
Ketukan Pintu Di Malam Hari
26
Ketakutan Ketika Anjing Menggaung
27
Panggilan Seram
28
Malu Karena Ketahuan
29
Mayat Yang Membusuk
30
Nenek Terkena Santet
31
Ucapan Selamat Tinggal Untukku
32
Maafkan Aku Rian
33
Bertemu Pocong
34
Siapa Kakek Tua Ini?
35
Berhasil Sampai Di Desa Seberang
36
Desa Yang Lebih Menyeramkan
37
Bertemu Kuntilanak
38
Rian Sudah Tidak Ada
39
Siapa Yang Dilihat Adikku?
40
Ke Rumah Ana
41
Kejelasan Tentang Marni
42
Rain, kembaran Rian
43
Boneka Rian
44
Aku Tumbal Luis
45
Fani Or Dion
46
Uji Nyali, Berakhir Menakutkan
47
Marni Di Jadikan Tumbal
48
Mimpi Adikku
49
Hantu Luis
50
Kesurupan
51
Kehilangan Adik
52
Mayat Siapa?
53
Sikap Rian berubah
54
Boneka Rian Yang Hilang
55
Meminta Bantuan
56
Datang Ke Sekolah Malam-malam
57
Bertemu Putri
58
Kemurkahan Hantu Boneka
59
Surat Misterius
60
Menjadi mangsa
61
Tersadarkan
62
Keluarga Rian Penyebab Masalah
63
Mengunjungi Rumah Putri
64
Hantu Di Angkot
65
Luis Yang Bersalah
66
Siapa Dia?
67
Tersudutkan
68
Bertemu Pelaku Yang Sebenarnya
69
Tidak Tahu Harus Berbuat Apa?
70
Di Usir Warga
71
Keadaan Kampung Setelah Kepergian Luis
72
Kedatangan Pak Rt
73
Menjadi Detektif
74
Mimpi Tentang Marni
75
Petunjuk Di Rumah Marni
76
Di Jebak
77
Masuk Ke Dimensi Lain
78
Bukan Waktu Yang Tepat
79
Telepon Dari Ibu Ratna
80
Bertemu Nenek-Nenek
81
Hantu Boneka Rian Kembali
82
Mendadak Tidak Bisa Bicara
83
Bicara Dengan Warga
84
Di Jengguk
85
Menyelamatkan Diri Sendiri
86
Ballerina Make Me Love
87
Penolakan Rian
88
Mencari Tahu Kebenaran
89
Datang Meminta Bantuan
90
Terungkap Tuyul Marni
91
Kalung Pelindung
92
Nenek Ana
93
Rencana Yang Akan Di Jalankan
94
Roh
95
Panggilan Orang Mati
96
Panik
97
Kesedihan Rian
98
Rain Pembunuh Marni
99
Bertemu Ibu Ratna
100
Perkelahian
101
Jatuh Cinta
102
Menerobos Masuk
103
Roh Hitam
104
Akan Membantu
105
Kepanikan
106
Apa Yang Terjadi Dengan Adikku?
107
Bunuh Diri
108
Akhir Dari Sebuah Cerita
109
Karya Baru
110
Cs Terjerat Cinta Pemimpin Vampire

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!