"Ana ada apa?" Tanyaku pada Ana ketika sudah berada di rumah rizki.
Aku juga mendengar suara teriakan yang membuatku tambah penasaran. Dion, rahmat lebih dulu datang.
"Rizki kesurupan luis, kami sudah melakukan segala cara tetapi hasilnya nihil" Kata rahmat sambil menunduk.
"Lalu rizki di mana?" Tanyaku karena yang ada di ruang tamu hanya dion, rahmat, dan ana.
"Di kamarnya, kau kesana dan lihat. Aku sama sekali tidak mengerti dengan tingkahnya" Kata Ana yang terdengar pasrah.
Aku buru-buru masuk ke kamar rizki. Aku melihat rizki di ikat di tepi ranjang. Dia seolah memberontak, sementara ibunya menangis di dekatnya.
"Luis, tolong bantu rizki. Paman tidak tau harus berbuat apa lagi" kata pak Ali, ayah rizki.
Aku menyentuh rizki. Baru saja tanganku menyentuh dahinya, tanganku serasa terbakar. Aku menjauhkan tanganku darinya.
"Bagaimana luis? apa yang terjadi pada rizki?" Tanya ibu Esse, selaku ibu rizki.
"Aku bicara dengan teman-temanku dulu di luar" Kataku melangkah ke ruang tamu.
"Apa yang terjadi dengannya luis?" Tanya rahmat ketika melihatku keluar dari kamar rizki.
"Aku merasa dia arwah baru di kampung kita. Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya"
"Semakin hari kampung kita terkendali. Kita harus waspada, kejadian seperti ini bisa terjadi pada kita" Kata Ana.
"Tanganku sangat panas ketika menyentuh dahi rizki. Seolah dia jauh lebih kuat"
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya dion.
"Nak, apa kalian tidak bisa mengeluarkan orang yang merasuki rizki?" kata pakk Ali yang tiba-tiba datang.
"Apa yang dilakukan rizki sebelum kejadian paman?" Tanya rahmat.
"Dia kemarin baru saja pergi dengan teman-temannya ke tempat wisata. Aku tidak tau pasti di mana tempatnya, kalau tidak salah tidak jauh dari kampung kita" Jelas pak Ali.
"Aku rasa rizki dirasuki sewaktu berada di sana. Paman Ali tidak perlu khawatir, kami akan berusaha mengeluarkannya dari tubuh rizki" Kataku dengan mantap.
"Terima kasih luis"
Aku menuju dapur dan mengambil air segelas. Aku membacakannya ayat kursi. Jika dia hantu atau arwah, dia bisa dengan mudah keluar dari tubuh rizki.
"Ibu bisa kasih minumkan air ini pada rizki, dia mungkin haus" Kataku sambil menyodorkan air minum.
Rizki meminumnya dengan sekali tegukan. Setelah itu, dia memuntahkan semuanya sambil tertawa. Matanya kini berubah menjadi putih dan tubuhnya tidak memberontak lagi.
"Luis apa yang terjadi dengan rizki?" Tanya ibu esse.
"Tenang bu, mungkin obatnya sedang bekerja" Kataku dengan santai, walau pak Ali dan ibu Esse terlihat panik.
Rizki membuka matanya dan memanggil ibunya. Aku merasa lega, arwah yang merasuki rizki sudah keluar.
"Pak Ali, rizki sudah sadar. Aku minta permisi dulu, adik akan segera pulang dari sekolah. Dia bisa menangis jika melihat tidak ada orang di rumah" kataku.
"Terima kasih banyak nak luis, aku tidak tau jika tidak ada nak luis" Kata paman Ali sambil memegang erat tanganku.
Aku begitu senang, rasanya berbunga-bunga melihat kita dihargai oleh orang lain. Setelah berpamitan, aku dan teman-temanku pulang bersama.
"Fani kemana, kenapa dia tidak terlihat?" Tanyaku pada Dion yang bertetangga dengan fani.
"Entahlah, aku tidak tau. Tadi saat aku memanggilnya, dia tidak menyahut walau aku memanggil dengan keras. Mungkin dia lagi badmood"
"Lah dion, kamu tidak ngecek. Jangan-Jangan fani sakit, kasian fani tinggal sendirian di rumah yang lumayan besar" Oceh rahmat.
"Fani memang sering seperti itu, aku permah melihat dia berbicara sendiri. Mungkin dengan teman gaibnya"
"Aku juga melihat fani tadi pagi. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Ketika melihatku dia diam, biasanya aku baru kejauhan, dia langsung berteriak memanggilku" sahut Ana.
"Sudah lah, nanti sore kita ke rumah fani. Aku mau mencuci pakaian dulu, keburu siang. Aku duluan, rumah kalian sudah dekat" Kataku sambil berjalan lebih cepat.
Setelah sampai di rumah, aku membuka pintu kemudian mencuci pakaian. Setelah menjemur, aku istirahat sebentar karena lelah. Tidak lama, rian datang membawa dua kantong hitam di tangannya.
"Kenapa kau ke sini, rumahmu di sebelah" kataku sedikit judes.
"Sensi amat kamu luis, aku mau memberimu sayuran satu kantong. Yang satunya lagi untukku" Kata rian dengan tersenyum.
"Kau pulang tadi pagi tidak memberitahuku dulu. Aku mencari kemana-mana" Kataku dengan marah mengingat kejadian tadi pagi. Karena rian, aku bertemu dengan si kuntil lagi.
"Lah adikmu tidak memberitahumu? aku memberitahunya tadi pagi. Tetapi dia malah berlari ke dalam"
"Lain kalia kau harus memberitahuku. Jangan adikku, aku yang sah di sini"
"Hahaha, memangnya ijab kabul, pake sah segala" Kata rian yang mengira aku bercanda.
Malas juga aku berurusan dengannya, rasanya ingin aku tutup mulutnya dengan sawi yang dia beli.Tetapi jika aku melakukannya, kurang sopan. Dia bisa mengaduh pada ayahku nanti.
"Terima kasih sayurnya, kau beli banyak sekali" Kataku sambil membuka isi kantong. Yang terlihat hanya sawi.
Saat aku buka, bertapa terkejutnya aku sampai membuang sayuran pemberian rian. Spontan aku mengatakan istigfar.
Rian menatapku dengan heran, dia kemudian melihat isi kantong yang dia berikan padaku.
"Luis ada apa, kenapa kau membuangnya. Tidak suka dengan sayurnya?" Tanya rian dengan tatapan aneh.
"Kau berikan aku apa? rian jangan bersikap kurang ajar" kataku dengan lantang.
"Aku tidak mengerti, yang aku berikan hanya sayur. Coba lihat!" Kata rian sambil membuka isi kantong.
Terlihat jelas hanya wortel, jangung, kentang, dan sawi. Tetapi aku barusaja melihat kelabang yang ratusan jumlahnya. Aku meraih kantong dari tangan rian dan memastikannya. Aku semakin heran, tidak ada kelabang di dalam kantong. Hanya sayuran.
"Maaf, aku tadi melihat kelabang yang banyak di kantong ini" Kataku dengan gugup dan masih syok.
"Kau mungkin salah liat?" kata rian dengan santai.
Jelas aku tidak salah liat, kelabang itu masih hidup. Dia bahkan bergerak-gerak di dalam kantong.
Apa boleh buat, aku hanya meng-iyakan perkataan rian. Dia akan bertanya semakin dalam jika aku memperpanjang permasalahnnya.
"Sekali lagi maaf, aku bawa ke dalam" kataku melangkah masuk. Baru beberapa langkah, aku mendengar suara yang aku dengan di kamar ayahku, ketika mencari rian.
"Luis.... Kemarilah...." Katanya dengan perlahan.
Bulu kudukku berdiri, tiba-tiba saja aku merinding. Aku masih berpikiran positif. Mungkin suara rian yang sengaja menakutiku.
"Rian jangan main-main" kataku tanpa membalikkan badanku. Aku masih ketakutan, terlebih pintu tidak aku tutup.
"Luis...Kemarilah...." Suaranya kini semakin dekat denganku. Seolah berada tepat di belakangku.
"Rian, jika kau mau pergi, pergi saja. Tidak perlu memanggilku seperti itu, suaramu terdengar menyeramkan" Kataku tanpa menoleh.
Tak... Kini tangannya menepuk pundakku. Antar takut atau penasaran, aku berniat menoleh. Dan apa yang aku lihat tidak sesuai dengan harapanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Yudi Christian
gas thor
2025-02-03
0
Elisabeth Ratna Susanti
mampir 😍
2022-07-16
0