POV RIAN
Ketika melewati sebuah hutan, aku begitu tidak bisa melajukan motorku. Terasa sangat berat aku bawa.
"Rian kau baik-baik saja?" Tanya om tamrin.
"Baik om, hanya saja motornya sepertinya tidak baik. Tiba-tiba saja motorku sangat berat aku bawa" Kataku tetap fokus mengendarai motor.
"Astagfirullah Al-azim..." Kata om tamrin yang membuat aku terkejut.
"Ada apa om?"
"Ada orang ngikut di belakang"
Aku menoleh, yang aku lihat sosok kuntilanak yang menakutkan dengan mata melotot ke arahku. Karena terkejut, aku tidak bisa menahan motorku dan membuat aku dan om jatuh.
"Aduh...." Kataku kesakitan.
"Rian, kau baik-baik saja?" Tanya om tamrin yang sudah berdiri.
"Maaf om, aku tidak benar mengendarai motornya. Aku kaget melihat kuntilanak, ini pertama kalinya aku melihat penampakan yang dekat denganku" Kataku dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa rian, kita sebaiknya buru-buru segera sampai di desa seberang" Kata om tamrin membantuku memperbaiki posisi motorku.
Kami melanjutkan perjalanan, tetapi di tengah jalan terdapat pohon yang tumban. Aku semakin penasaran, sepertinya kedatanganku dan om tamrin tidak di terima dengan baik di sini.
"Om, apa kita sebaiknya pulang saja?" Tanyaku memberi saran.
"Tidak, kita harus tetap melanjutkan perjalanan. Jaraknya sudah tidak jauh lagi" Kata om tamrin dengan tegas.
"Tetapi om, kita melanjutkan perjalanan bagaimana? pohon ini begitu besar dan menghalangi jalan"
"Kita jalan kaki saja, lagian sudah dekat" Kata om tamrin dengan santai.
"Motorku di simpan dimana om? kalau ada yang ambil bagaimana?" Tanyaku sedikit bingung.
"Simpan di sini saja, tidak akan yang ambil juga. Kalau kita pulang, kita akan tetap pakai motormu" Kata om tamrin.
Aku memarkir motorku, semoga saja apa yang dikatakan om tamrin benar. Tidak akan ada yang mau mengambil motorku, jika hilang bisa-bisa aku terkena siraman jahanan dari mama. Belum lagi cicilannya belum lunas.
"Diakan yah om, swmoga motorku tidak ada yang ambil" Kataku sebelum berjalan.
Baru saja di tengah perjalanan, banyak bayangan yang berlalu di depanku. Aku hiraukan semua itu, tetapi tiba-tiba saja bulu kudukku merinding.
"Om, boleh aku pegang tangan om? aku merasa sedikit takut" Kataku walau malu-malu.
"Kau tidak perlu takut, tetap jalan saja dan abaikan semua yang mengganggumu" Kata om tamrin dengan entengnya.
"Om sudah biasa datang ke tempat ini, tetapi aku belum pernah. Ini pertama kalinya aku datang ke sini" Kataku sambil mengengam tangannya om tamrin. Aku tidak peduli, om mau mengejekku sebagai penakut. Aku tidak bisa menahan rasa takutku.
"Kalian mau ke mana?" Tanya seseorang yang berdiri di depan kami.
Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi dia hanya menggunakan sebuah daster dan membawa boneka anak-anak.
"Rian tetap maju" Perintah om tamrin yang membuat aku heran. Ada orang di depan, tetapi kita malah hiraukan.
Seketika, tatapan orang tersebut menatap ke arah kami. Sangat mengerikan, dia tersenyum lebar tetapi mulutnya seperti terpisah. Mungkin ini yang dinamakan hantu.
"Mimpi apa aku semalam, aku sudah melihat penampakan saja. Apa mata batinku sudah terbuka?" gumanku yang lebih tepatnya sebuah keluhan.
Tanganku sampai bergetar karena rasa takut. Kakiku seolah tidak mau melangkah lagi. Tetapi saat aku menoleh ke arah om tamrin, dia terlihat santai dan terus menatap hantu itu. Aku semakin heran, om tamrin tidak gemetar sama sekali. Mungkin dia sudah pernah melihat hantu sebelumnya.
"Om, kita maju apa mundur sekarang? masih ada waktu untuk mundur" Kataku tetapi di dalam hatiku, aku berharap om mengatakan untuk mundur.
"Tetap maju rian, kita sudah datang sejauh ini" Kata om tamrin.
Aku sedikit getar mendengar om mengatakannya, wajar dia lebih tua dariku makanya sangat pemberani.
"Om, kakiku tidak kuat berjalan lagi. Apa kita tidak istirahat dulu" Tanyaku sambil memegang lututku.
"Baru dua menit, kau sudah lemah. Kakimu tidak akan hilang, cepat jalannya atau aku tinggal kau di sini" Kata om tamrin yang membuat aku tiba-tiba bersemangat. Kakiku sudah tidak lelah lagi.
"Siap, aku akan tetap berjalan. Kita tidak perlu istirahat" Kataku dengan semangat.
"Begitu kalau anak muda, jiwa semangatnya besar. Tidak cemen jadi laki-laki"
Kami tetap melanjutkan berjalan, ketika sampai di depan pohon mangga. Kami dipanggil tetapi tidak melihat siapapun di sana.
"Siapa yang panggil kita om?" Tanyaku dengan bingung. Suaranya terdengar jelas tetapi tidak ada orang di sekeliling.
"Hiraukan saja rian, dia tidak penting" Kata om tamrin dengan santai.
"Tetapi suaranya tidak asing om" kataku mencoba mengingat suara siapa.
"Rian, kau sebaiknya banyak membaca doa. Sebentar lagi kita akan sampai" Kata om tamrin yang lebih dulu membaca doa. Mulutnya komat-kamit membacanya. Entah apa yang dia baca, aku bahkan tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Om sedang membaca doa? kenapa aku tidak mendengarnya?" Tanyaku tetapi hanya dibalas anggukan oleh om tamrin.
"Jika membaca dalam hati om, tidak perlu mulutnya ikut juga"
Tatapan om membuat aku menutup mulutku. Sepertinya dia menyuruhku untuk diam.
"Maaf om menganggu, lain kali tidak akan mengganggu lagi" Kataku sambil menaikkan tanganku sebagai janjiku pada om.
"Baca doa cepat, atau kau akan melihat hantu yang paling mengerikan lagi" Kata om tamrin yang tidak aku tau apa maksudnya.
"Dimana hantu mengerikannya om? aku tidak mau bertemu dengannya. Suruh dia pulang saja" kataku mengenggam erat tangan om tamrin.
"Kalau begitu, baca doa agar kita bisa selamat"
Aku mulai membaca doa. Mulutku juga komat kamit mengeluarkan semua kemampuanku. Tetapi angin kencang dengan tiba-tiba datang menyesak tubuh kami. Aku berhenti membaca doa karena terkejut.
"Terlambat sudah, kita akan bertemu dengannya lagi" Kata om yang membuat aku hanya menatap dengan kebodohan.
Tidak mengerti siapa yang akan datang bertemu dengan kita. Tetapi sepertinya om tamrin sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya.
"Dia sudah datang om?" Tanyaku karena tidak melihat seseorang datang.
"Kau ingin sekali bertemu dengannya?"
"Terserah saja. Yang penting om juga ikut bertemu dengannya" Kataku bercanda.
"Jangan lari jika bertemu dengannya. Belum bertemu saja, kau sudah ketakutan apalagi jika sudah bertemu, mungkin kau akan mengompol di celanamu" Ejek om tamrin.
"Wah om sepertinya tidak percaya dengan kemampuanku. Aku ini sangat profesional dan menepati janji. Jadi om tidak perlu takut, aku tidak akan mengompol"
"Terserah kau saja rian" Kata om tamrin yang mengakhiri percakapan kami ketika seseorang datang dengan sangat tinggi seperti bangunan pencakar langit.
Bukan hanya dia yang aku lihat, kuntilanak, genderuwo dan pocong yang berada di belakangnya. Jadi ini yang om tamrin maksud. Kalau aku tau, pasti tidak akan terlalu percaya diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Yudi Christian
lumayan buat pemula nyali rian
2025-02-03
0
Lina Sandi
gregetan sm rian disuruh berdoa malah bnyk tanya
2022-07-24
0
Elisabeth Ratna Susanti
semangat 😍
2022-07-16
1