Aku tersadar dan di kerumuni orang-orang aneh dengan wajah pucat. Mereka seperti mayat hidup. Tetapi ada satu yang menarik perhatianku. Seorang nenek-nenek yang pernah aku lihat di depan rumah tetangga, dia masih menggunakan tongkatnya.
"Lepas aku, aku tidak ada hubungannya dengan kalian semua" Teriakku. Aku tidak terima menjadi santapan mereka semua. Tubuhku kecil dan tidak akan bisa mencukupi mereka semua yang jumlahnya banyak.
Nenek menggunakan tongkat maju ke depanku. Dia meraih tongkat itu dan seketika ikatan di tubuhku terlepas. Aku tercengah melihatnya.
"Kita pernah bertemu sebelumnya, tetapi kau tidak mau memberiku waktu berbicara denganmu" Kata nenek menggunakan tongkat.
"Aku...aku..." Aku serasa tidak bisa menjawab, lidahku keluh.
"Tenang nak, kami hanya butuh bantuanmu. Kami semua di sini adalah arwah yang tidak bisa tenang akibat pembunuhan yang di lakukan saudara kami. Tolong bantu kami!"
Aku seolah tidak menyangka, justru makhluk mereka yang minta pertolongan padaku. Padahal aku yang membutuhkan bantuan kali ini.
"Maaf nek, aku tidak bisa membantu. Aku saja sedang kesulitan saat ini. Aku terpisah dengan teman-temanku, aku tidak tau bagaimana keadaan mereka saat ini. Lagian, aku tidak mungkin membantu kalian semua, jumlah kalian ratusan" Kataku menolak.
"Jika kau tidak mau membantu, kami juga tidak akan membantumu. Jadi jangan salahkan kami jika kamu dan teman-temanmu menjadi arwah penasaran juga"
Apa? kenapa mereka sangat pendendam. Aku tidak punya pilihan selain menuruti kemauan mereka.
"Baik, aku akan membantumu. Tetapi setelah kau membantuku menemukan teman-temanku dan keluar dalam alam ini, Kau harus menepati janji, jika tidak, kami akan terus meneror keluargamu dan tidak membiarkanmu hidup tenang sampai kau membantuku" Kata nenek tersebut.
"Aku tidak suka ingkar janji, jadi kalian tenang saja. Setelah masalahku selesai, aku yang akan membantu kalian" Kataku mantap, walau diriku juga ragu bisa membantu mereka semua.
"Kami akan mengantarmu bertemu dengan teman-temanmu. Tutup matamu dan ketika kami menyuruhmu membuka, baru kamu membukanya" Kata nenek dan aku pun mengikutinya.
Tidak lama, suara mengerikan terdengar tetapi aku tidak merasa diriku di bawa. Aku tetap menutup mataku sampai suara yang sangat keras datang.
"Buka matamu dan belok ke kanan. Teman-temanmu berada di sana. Jika kau ingin kembali, cari hutan di mana kamu sebelumnya berada"
Setelah suara tersebut hilang, aku mulai membuka mata. Aku serasa berada di pemakaman, banyak makhluk yang melihatku dengan tatapan yang sulit di artikan. Aku berjalan pelan dan mengabaikan semua makhluk yang berada di sekitarku.
Tidak lama, aku tidak melihat jalan apapun lagi. Aku mulai bingung, aku di suruh untuk belok ke kanan tetapi tidak ada jalan satupun di sana.
Aku berhenti sesaat, mencari jalan keluar. Aku melihat satu hantu lewat di depanku. Aku mulai mengangkat tanganku, ingin bertanya padanya. Walau aku takut, tetapi aku harus berani daripada berada di sini terus menerus.
"Permisi bu hantu, aku mau bertanya. Aku mau berbelok ke kanan tetapi tidak melihat jalan di sini" Kataku berusaha menutupi ketakutanku.
Dia menatapku dengan pandangan mengerikan, aku jadi khawatir. Bagaimana jika dia menerkanku di sini, habis aku.
"Kau hantu baru di sini? kenapa tidak bisa melihat jalan?" Tanyanya dengan tatapan mata mengerikan.
Aku tidak tau harus berbicara apa, bagaimana jika dia tau aku bukan hantu. Pasti aku akan menjadi rebutan untuk santapan.
"Iya benar, aku hantu baru. Makanya meminta bantuan pada hantu senior di sini" Kataku dengan ekspresi seolah meniru hantu.
"Kau lihat kuburan yang di sana" Kata hantu tersebut tanpa menunjuk dengan tangan. Hanya wajahnya yang bergerak.
Aku mengerti, kuburan di sana terlihat berbeda dari kuburan lain. Dan arahnya juga berada di kanan. Aku harus terbiasa di alam hantu ini.
"Terima kasih banyak" Kataku sambil berjalan cepat, takut ketahuan.
"Berhenti manusia..." Teriak hantu tersebut.
Aku serasa tidak mau bergerak, langkah kakiku berhenti. Keringatku bercucuran, hantu tersebut memanggilku dengan sebutan manusia. Berarti penyamaranku terungkap.
"Ya ampun, begini amat nasibku" Gumanku dalam hati.
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, jika hantu tersebut memanggilku manusia maka dia akan segera membawaku pergi dan menjadikan santapan baginya.
Aku berbalik, tetapi hantu tersebut tidak menoleh ke arahku. Melainkan ke arah lain dan tetap membelakangiku.
"Hantu baru, ada manusia yang datang ke alam kita. Saatnya kita memakan mereka tanpa tersisa" Katanya kemudian pergi berjalan. Tidak lama, dia sudah tidak terlihat.
Aku merasa lega, panggilan manusia tadi bukan untukku. Dia tetap memanggilku hantu baru. Aku mempercepat langkahku kembali, ingin menemukan teman-temanku dan segera pergi dari sini. Sudah tidak aman berada di sini, sudah banyak hantu yang mengetahui keberadaan kami.
Saat aku berada di kuburan yang di maksud, aku melihat teman-temanku diikat dengan di kelilingi api yang melayang sambil memutarinya.
"Ana..." Teriakku pada ana karena hanya dia yang masih tersadar. Sementara yang lain, masih pingsan.
Ana menoleh ke arahku, tidak percaya. Aku melangkah mendekat tetapi api tersebut menyerangku. Aku berusaha menghindar, karena terlalu banyak api, aku terkena dan tersungkur di tanah.
"Aduh sakit, api apa ini, aku serasa terbakar sampai ke dalam" Kataku merintih kesakitan.
"Luis, gunakan kekuatanmu untuk menyembuhkan lukamu. Setelah itu, bantu kami untuk bebas dari sini. Sebelum kuntilanak kembali" Teriak ana dari kejauhan.
Aku duduk bersila, mulai memancarkan cahaya dari tanganku. Aku juga terkejut, dari mana asal cahaya itu. Padahal aku hanya membaca tiga Qul saja. Setelah tidak merasa kesakitan lagi, aku melepas ikatan ana dan teman-temanku yang lain.
"Bagaimana cara membangungkan mereka semua?" Tanyaku setelah ikatan ana, dion, rahmat, dan fani terlepas. Tetapi mereka tidak bergerak sama sekali.
Ana memegang tangan dion, dia menutup matanya. Tidak lama, ana terlihat kesakitan dan membuka mata perlahan. Dion mengerakkan tangannya dan mulai membuka mata.
"Aduh, aku di mana? kenapa kita masih berada di sini?" Tanya dion sambil memperhatikan aku dan ana bergantian.
"Ceritanya nanti saja, aku bangunkan fani dan rahmat terlebih dulu" Kata ana bergesar ke depan fani dan rahmat.
Ana memegang kepala rahmat dan fani dengan kedua tangannya, dia terlihat kesakitan membuat aku dan dion bingung. Apa yang terjadi padanya.
"Luis, bantu aku. Berikan aku sedikit energi tambahan" Perintah ana.
Dengan cepat, aku memegang pundak ana dan menutup mata. Rasa sakit ana berpindah ke tubuhku. Seolah tubuhku di lempar berkali-kali dan di pukul. Bukan hanya tubuhku, kepalaku mulai pusing juga. Aku mundur karena tidak kuat menahan rasa sakit.
"Kita tidak bisa membangunkan rahmat dan fani. Energi kita sangat sedikit" Kataku pada ana.
Ana menganguk, sepertinya dia paham. Dion hanya menghela nafas, dia tidak bisa ikut membantu karena energinya belum pulih. Dion baru saja sadar dan tubuhnya masih lemah.
Tidak lama, suara kuntilanak terdengar di telinga kami. Aku, Ana dan Dion kaget. Sepertinya kuntilanak sudah kembali.
"Apa yang harus kita lakukan, kuntilanak sudah datang. Dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja" Kata dion yang mulai panik. Aku dan ana ikut panik, di tambah energi kami tidak cukup kuat untuk melawan makhluk tak kasat mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
semoga ada yang lekas menolong
2022-07-14
0
Nurhalimah Al Dwii Pratama
semoga nene tua tdi membantu
2022-06-14
2
UNI NANNI
Aku tidak up malam ini, lagi ada acara pengantin keluargaku. Tetapi in sha Allah, up bezok. Tetap tunggu bezok, aku up 2 bab.
2022-05-10
4