Pagi Hari....
Aku menjemur pakaianku di depan. Tidak lama, suara langkah kaki membuat aku terkejut. Terdengar begitu jelas di telingaku, pada saat aku berbalik, tidak ada siapapun di belakangku. Aku mulai ketakutan, bulu kudukku berdiri.
Tak...
Tak...
Suara langkah kaki terdengar lagi, aku tetap fokus menjemur. Berusaha mengabaikan suara aneh itu. Tetapi, sebuah tangan menepuk pundakku. Aku teringat dengan kejadian kemarin, di mana aku melihat sepotong tangan menempel.
"Ah....." Aku berteriak walau tidak melihat terlebih dulu. Sudah cukup aku merasa takut.
"Anak aneh, kau kenapa lagi?" Tanya seorang laki-laki yang membuatku berhenti berteriak.
Aku menoleh ke belakang dan melihat anak tetanggaku tepat berada di belakangku. Pikiranku mulai tenang, rasa takut kian menghilang.
"Kau membuatku kaget. Kenapa langsung menepuk pundakku, seharusnya beri salam dulu" kataku dengan kesal. Orang yang berada di depanku terlihat santai dan tersenyum.
"Aku ke sini, hanya ingin melihat keadaanmu. Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya memperhatikan tubuhku.
Aku mulai bingung dan malu, niat ingin membantu dia kemarin, malah aku yang membuatnya repot. Tidak enak hati, aku berteriak di rumahnya juga.
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengantarku pulang kemarin" kataku sambil menunduk karena malu.
"Bagus kalau begitu, namaku rian" katanya dengan lembut sambil mengulurkan tangannya.
Aku mendongak, laki-laki ini langsung mengajakku berkenalan. Padahal dia baru saja mengatakan aku orang aneh, pikiran laki-laki memang tidak bisa di tebak.
"Terima kasih rian" kataku sambil membawa jemuran masuk. Bukannya aku sombong berkenalan dengannya, hanya saja aku tidak begitu akrab dengan laki-laki. Biar saja dia mengatakan apapun tentangku, aku tidak peduli.
"Namamu luis bukan?" Teriak rian. Aku hanya mengangguk sambil masuk ke rumah.
Baru saja masuk, suara pintu di ketuk. Di tambah suara teriakan dari luar. Aku menghampiri dengan terburu-buru.
"Luis, ayahmu di mana?" Tanya pak Ali, tetangga rumah kami.
"Ayahku belum pulang dari sawah paman. Mungkin sebentar lagi" kataku dengan ramah. Tetapi pak ali terlihat khawatir dan panik.
"Ya sudah, kalau ayahmu datang, katakan padanya jika pak imam sekarat" kata pak Ali sebelum pergi.
Otakku mulai mencerna, perasaan tidak tenang kian datang. Apa maksud pak Ali?
Aku mengambil ponselku dan menelpon ayahku. Pagi-pagi sekali, ayahku berangkat ke sawah. Katanya mau memberi pupuk. Untung dia membawa ponsel, jadi bisa di hubungi.
"Halo ayah, paman Ali datang ke sini, katanya pak imam sekarat" Kataku memberi penjelasan.
Aku mengakhiri panggilan dan bergegas ke rumah pak Imam. Saat sampai di sana, sudah banyak orang yang menangis. Ada juga mondar mandir terlihat panik.
Aku tidak bisa masuk, di dalam sudah penuh sambil mengurumuni pak imam. Aku melihat ana yang duduk di bawah pohon mangga.
"Ana, kau datang ke sini juga?" Tanyaku.
"Iya, pak Ali datang ke rumah tadi" Kata Ana.
Begitulah hidup di kampung, sakit sedikit sudah heboh. Rasa membantu terlalu besar.
"Apa yang terjadi dengan pak imam?" Tanyaku sambil duduk di dekat ana.
Ana menatapku lekat-lekat, aku hanya mengerutkan alisku tidak mengerti.
"Kau tidak pernah merasa hal aneh baik siang maupun malam?" Ana malah balik bertanya.
"Iya sedikit, tetapi aku pikir semua itu hanya perasaanku saja" kataku yang menepis semua kejadian yang aneh. Tidak ingin membuat diriku kepikiran.
"Semua warga juga merasakannya, pak mus sempat melihat sosok kuntilanak yang berjalan mampir di setiap rumah di kampung kita. Pak mus waktu itu baru pulang dari masjid bersama pak imam"
"Apa ini semua ada hubungannya dengan kuntilanak yang di lihat pak mus?" kataku sambil menebak.
"Entahlah, aku tidak bisa melihat apapun. Kekuatan negatif di kampung kita sudah sangat besar. Entah sejak kapan" Kata Ana yang sudah menyerah. Mukanya terlihat cemberut.
Tidak lama, suara tangisan pecah dari dalam rumah. Semua warga termasuk aku dan ana berlari ke dalam.
"Innalillahi wainnailaihi rajiun" Kata semua orang yang berada di dalam.
Tangisan istri dan anak pak imam pecah, mereka berusaha membangunkan tubuh pak imam berharap untuk hidup kembali. Tetapi tidak daya yang bisa melakukannya selain Allah Swt. Kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dan ikhlas menerima ujian hidup.
Aku keluar kembali bersama Ana. jika terus berada di dalam, bisa-bisa aku ikut menangis. Tidak kuat melihat mereka yang kehilangan. Aku pernah merasakannya sewaktu ibu pergi untuk selamanya.
"Luis, dimana adikmu?" Kata Ana seketika.
"Astagfirullah Al-azim, aku lupa dengan adikku" Aku baru mengingat adikku yang aku tinggal di rumah. Tidak memberitahukannya jika aku pergi.
"Ya ampun luis, adik bisa di lupa. Kamu pikun apa amnesia?"
Aku tidak menghiraukan kata Ana, aku berlari sekencang mungkin agar cepat sampai di rumah. Hanya suara angin yang terdengar. Baru saja di depan rumah, aku lihat seseorang yang tidak aku kenal berada di pintu ingin masuk.
Aku berjalan cepat, perasaanku tidak enak. Apalagi orang tersebut tidak terlihat wajahnya. Rambut yang panjang menutupi semua wajahnya. Di tambah pakiannya serba putih.
karena tidak terlalu fokus, kaki tidak sengaja menabrak batu kecil, membuat aku jatuh. Aku memegang kaki kemudian memaksa diri berdiri. Dan anehnya, sosok tersebut sudah tidak ada.
Aku mulai bingung, tidak mungkin kuntilanak gentayangan siang-siang, biasanya malam-malam.
Pikiranku semakin kacau ketika aku mencari adik-adikku tetapi tidak menemukannya di dalam rumah. Perasaaku tidak tenang, panik dan khawatir.
Aku hanya meninggalkan adikku sebentar, tetapi sudah tidak ada. Adikku yang bungsu sudah berumur enam tahun jadi bukan lagi anak kecil yang pergi tanpa seizin.
Aku keluar dari rumah ingin mencari adikku, mungkin dia pergi main ke rumah temannya atau bagaiaman. Saat memakai sendal, bayangan hitam terlihat jelas sekali di tanah. Bayangan itu membentu seperti manusia tetapi bukan aku. Rambut panjang dan tubuh tinggi. Tidak mungkin aku.
Walau takut, aku paksakan diri untuk menoleh ke belakang. Aku penasaran dengan wajahnya. Aku balikkan wajahku ke belakang dan penampakan tak sedap terlihat pas di depan wajahku.
Seseorang berambut panjang, mata putih dan wajah yang penuh darah di mana-mana. Bahkan menetes. Dan mulut terbuka membuat aku terkejut. Berteriak sambil menutup wajahku agar tidak melihatnya.
Tidak lama, seseorang memegang kaki seperti memeluknya. Aku bertambah berteriak dan minta tolong. Tetapi orang tersebut masih memeluk kaki tidak mau melepaskannya.
"Kakak kenapa?" Suara yang tidak asing bagiku.
Aku buka mataku perlahan dan melihat adik kecilku memeluk kaki. Jantungku masih berdetak kencang. Seolah mau lompat dari tempatnya.
"Kau dari mana?" Tanyaku dengan emosi. Adikku pergi tanpa sepengetahuanku, tentu saja membuaku naik tensi. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?
Tetapi ada yang aneh, pakaian adikku tidak seperti yang dia pakai tadi pagi. baju kaos berwarna putih, dan perlahan kuku tangan berubah menjadi tajam. Wajahnya menjadi pudar aku pandang. Terlebih, suara tertawanya terdengar mengerikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
@krhmd24_
semakin seru dan menegangkan. gak bisa ngebayangin kalau bacanya tengah malem, untuk aku siang😁
2023-07-03
0
IG: _anipri
jantungku
2022-07-17
1
IG: _anipri
gentayangan
2022-07-17
0