Aku menemui Ana, seperti perkataanku kemarin. Aku berniat menceritakan pada Ana tentang kejadian kemarin. Orang yang meneror keluargaku susah keterlaluan. Aku kurang tidur semalam, takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
Pas sekali, Ana sedang berada di depan rumahnya. Dia terlihat memperhatikanku dari kejauhan. Seperti melihat sesuatu di belakangku. Aku menoleh memastikan, tidak ada siapapun di belakang. Pandangan Ana bukan ke arahkan, tetapi kebelakangku.
"Ada apa ana, kok kamu liatnya kebelakang aku?" Tanyaku yang semakin penasaran.
"Aneh saja, aku melihat seseorang mengikutimu tadi. Tetapi dia langsung pergi ketika melihatku" Kata Ana masih menatap ke belakangku.
"Mana ada orang mengikutiku, dari tadi aku sendirian ke sini"
"Oh" Ana tidak suka banyak bicara, dia terkadang hanya bicara sesingkat mungkin.
"Aku ngak di ajak masuk ni?" Tanyaku mengoda ana.
Ana orangnya sangat dingin, jadi wajar jika aku suka mengodanya. Terkadang ekspresi marahnya sangat imut menurutku. Entah kalau menurut yang lain.
"Di luar saja"
"Masa tamu di suruh di luar, suruh masuk dong biar sopan" kataku sedikit kesal.
"Masih mending aku menyuruhmu, daripada aku mengusirmu?" Tanya Ana yang kini menghadap padaku.
Aku kesal mendengarnya, sudah datang pagi-pagi, di usir pemilik rumah. Tidak dapat apapun, selain lelah dan capek berjalan kaki. Lebay amat, padahal masih berjalan di kampung bukan di kota lain.
"Aku melihat kejadian aneh kemarin" Kataku memulai pembicaraan dan duduk di teras rumah Ana.
"Kau juga merasakannya?" Kata Ana membuatku kaget. Apa Ana mendapat kejadian yang sama juga?
Mata Ana terlihat sedih, ingin menangis. Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi. Ini pertama kali Ana menampakkan wajah sedihnya padaku. Selama ini Ana di kenal kuat, karena tidak mau menangis di depan umum. Termasuk padaku, walau kami bersahabat sejak kecil.
"Apa kau di teror makhluk gaib?" Tanyaku menebak. Aku begitu tidak percaya, aku pikir hanya rumahku yang di teror tetapi Ana juga.
"Iya, aku bisa merasakan energi negatif yang sangat kuat. Entah berasal dari mana"
"Aura negatif, sama seperti yang aku rasakan sewaktu sore hari. Tetapi kenapa aura negatif itu datang bersamaan dengan datangnya tetangga baruku?" gumanku dalam hati. Rasa penasaranku semakin tinggi. Walau aku takut, tetapi aku suka memecahkan misteri.
"Luis, aku yakin kampung kita sebentar lagi akan menjadi angker" kata Ana yang refles membuatku terkejut.
"Apa maksudmu, Ana?" Aku semakin tidak mengerti, Ana langsung saja mengatakan seperti itu. Membuatku semakin penasaran.
"Ana, apa maksudmu?" Tanyaku suara tinggi. Ana membuatku penasaran tetapi tidak memberi penjelasan. Aku jadi kesal karenanya.
"Banyak darah yang akan tumpah, aku sarankan kau sebaiknya tidak ikut campur. Atau keluargamu yang akan jadi mangsa" Kata Ana sangat serius.
****
Aku kembali pulang ke rumah, perasaanku campur aduk. Khawatir, takut, dan penasaran. Ana saja tidak berani mengatakan apapun padaku, padahal dia sangat suka bermain-main dengan makhluk halus.
"Hei, kau yang duduk di sana. Bisa bantu aku?" Lamunanku terhenti ketika tetangga baruku memanggilku. Aku menatap ke arahnya dengan bingung. Apa benar dia memanggilku?, aku menoleh mencari seseorang tetapi hanya aku yang berada di teras rumahku.
"Tentu saja kau, bisa bantu aku sebentar?" Tanyanya lagi.
Aku melangkah menghampiri laki-laki di depanku. Perasaan kemarin aku tidak melihat dia di rumah ini. Siapa dia?
"Kak, apa kau sudah mencari orang yang bisa membantu kita?" Anak perempuan yang seumuran dengaku muncul dari dalam.
Aku baru paham jika anak laki-laki di depanku adalah kakaknya. Dia langsung menarikku masuk ke rumahnya. Aku mencoba melepasnya, aku merasa risih di pegang laki-laki.
"Lepas, kau tidak harus menarikku juga" kataku merasa jengkel. Dia yang meminta bantuan, dia juga yang bersikap kasar. Aku tidak pernah bertemu laki-laki seperti itu sebelumnya.
"Kak, kau bisa menyakitinya" kata adik perempuannya. Dia saja bisa mengerti keadaanku. Entah kenapa kakaknya yang satu ini, tidak mengerti.
"Katakan apa yang bisa aku bantu?" Tanyaku ingin cepat menyelesaikannya dan pergi dari rumah tetanggaku.
"Airnya tidak mau menyala, apa kerannya rusak?" Tanyanya sambil menujuk ke arah kamar mandi. Aku mengerti, bu Ratna dulu selalu bermasalah dengan kram airnya. Aku yang selalu membantunya.
"Aku bisa mengatasinya, siapkan saja obeng" kataku masuk ke kamar mandi.
Dua bersaudara bersamaan pergi ke dapur mencari obeng, sementara aku memeriksa kamar mandi. Tiba-tiba, suara keras jatuh di atasku. Seperti benda keras di gendeng. Aku terkejut. Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar mandi, naas aku melihat bayangan hitam yang lewat dengan cepat.
Bulu kudukku berdiri. Suara benda jatuh kembali terdengar. Tetapi aku tidak tau dari mana asalnya. Tidak lama, seseorang menepuk pundaku dan saat aku berbalik, tidak ada siapapun. Hanya sosok tangan yang mengantung di pundakku. Tangan yang terpotong tanpa ada manusia atau sosok badannya. Darah segar menetes ke lantai. Sontak aku berteriak yang membuat penghuni rumah berlari ke arahku.
"Ada apa? kenapa kau berteriak?"
Aku tetap menutup mataku, aku masih syok melihat penampakan yang mengerikan. Aku membuka perlahan mataku setelah merasa tangan yang berada di pundakku, sudah tidak ada. Tetapi bayangan hitam tepat berada di belakang dua bersaudara ini. Sayup-sayup penglihatanku kabur dan aku pingsan.
Tiga puluh menit kemudian....
Aku tersadar dan melihat sekeliling kamar yang sudah tidak asing. Ini seperti di kamarku, aku mulai mengingat kejadian yang menimpahku.
Ceklek...
Suara pintu di buka, dan ayahku masuk sambil membawa segelas air minum. Aku bangun dan duduk di tepi ranjang.
"Kau sudah sadar?" Tanya ayahku menyodorkan segelas air.
"Siapa yang membawaku?"
"Anak tetangga, ayah dengar kau pingsan di rumahnya. Sebelum kau pingsan kau sempat berteriak. Makanya dia membawamu ke sini"
Aku meminum air yang di berikan ayahku sambil mengingat kejadian di rumah tetangga.
"Sebenarnya ada apa Luis, kau berteria di rumah orang seperti kerasukan?" Ayahku bertanya dengan kebingungan. Setelah beberapa tahun, kebiasaan anehku kembali muncul.
"Tidak ada yah, aku hanya melihat penampakan mengerikan di rumah mereka" kataku perlahan hampir tidak di dengar ayahku.
Ayahku menghela nafas, dia terlihat frustasi. Aku tau apa yang dipikirkan ayahku.
"Kenapa kau kembali bergaul dengan makhluk tak kasat mati lagi? Tiga tahun terkahir ini, kau sudah kembali normal dan tidak pernah beradaptasi dengan mereka lagi"
Aku juga mau berhenti dari semua ini, tetapi apa yang harus aku lakukan? berbagai cara sudah aku coba. Mulai tidak memikirkan penampakan aneh dan mengerikan, dan mengangapnya hanya halusinasiku saja. Siapa yang tidak takut melihat penampakan seperti itu, aku yakin semua orang ketakutan.
"Tetapi ada yang aneh yah, aku melihat penampakan di siang hari, bukan malam. Selama ini kan, aku sering melihat hantu saat malam" Kataku yang membuat ayahku tambah penasaran.
( Jangan lupa beri like, komen, favorit dan vote agar karya author ini bisa berlanjut)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
@krhmd24_
kayaknya bakalan seru nih
2023-07-03
0
Feby Herdiansyah
cukup seru
2022-07-27
0
Lina Sandi
jd anak indigo pasti melelahkan
2022-07-23
0