Gayatri mengangguk mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Mereka segera berbelok ke kanan, menuju ke arah Kota Kadipaten Tanggulangin.
Kuda kuda kekar itu nampak berlari sekuat tenaga menuju ke arah barat. Menyusuri jalan raya berbatu yang menghubungkan wilayah wilayah Kadipaten Tanggulangin, mereka menyaksikan kemajuan wanua wanua kecil di sepanjang jalan.
Selepas Kerajaan Panjalu di perintah oleh Prabu Jayengrana, kemajuan memang terasa di semua wilayah. Tidak ada lagi kelaparan maupun wabah penyakit yang merebak di daerah kekuasaan Panjalu. Lahan pertanian sebagai penyokong terbesar kehidupan rakyat benar benar di perhatikan oleh pemerintah. Lumbung lumbung pangan di bangun di setiap keraman (desa) yang menjadi dasar ketersediaan pangan di masing masing wilayah. Pasar desa di hidupkan untuk mempercepat perputaran roda perekonomian.
Selain itu masalah keamanan juga sangat terjaga di wilayah seluruh kadipaten kerajaan Panjalu. Sistem peradilan juga tertata rapi baik di tingkat Pakuwon, Kadipaten hingga Kotaraja. Meski masih ada beberapa laporan perampokan namun itu sangat sedikit sekali terjadi di wilayah Kadipaten Tanggulangin. Itu sebabnya daerah ini menjadi makmur sebagai penghasil beras, palawija, ketela juga dengan hasil laut nya.
Oleh karena itu hijau nya lahan persawahan semakin membuat wilayah ini begitu indah, apalagi dengan bukit bukit tinggi yang seolah menjadi pagar alam yang menjulang tinggi
Panji Tejo Laksono tersenyum tipis melihat kemajuan daerah di selatan Kota Kadipaten Tanggulangin.
Namun keindahan itu di rusak oleh sebuah pemandangan yang menyebalkan.
Seorang wanita paruh baya nampak menangis tersedu-sedu sambil berlutut dihadapan seorang lelaki berpakaian bagus dengan empat orang prajurit berbadan besar di belakangnya. Sementara dua lainnya mencekal lengan seorang gadis remaja yang memiliki paras ayu khas gadis desa. Gadis itu meronta-ronta mencoba melepaskan diri namun dia kalah tenaga dengan dua prajurit berbadan besar itu.
Seorang lelaki paruh baya yang sebagian rambutnya telah memutih nampak pingsan tersungkur di sudut halaman.
"Huhuhuhuhuhuu..
Lepaskan anak saya Ki Condro. Anak saya masih kecil, belum pantas menjadi selir bangsawan", ujar perempuan paruh baya itu sembari menangis tersedu-sedu.
"Tutup mulut mu, Nyi Murti..
Anak mu akan di jadikan selir oleh Gusti Akuwu Sastrogalih, penguasa Pakuwon Widoro sini. Kau seharusnya bangga dengan ini semua Nyi Murti, bukan malah menangisinya", hardik seorang lelaki berpakaian bagus yang bernama Ki Condro itu.
"Tapi Ki Condro, Kantil itu masih kecil. Umur belum genap 2 windu. Mohon lepaskan dia Ki", Nyi Murti mendekap erat kaki Ki Condro, memohon agar lelaki itu melepaskan Kantil.
Para warga yang berkerumun menonton peristiwa itu pun tak berani untuk membantu Nyi Murti. Mereka semua tahu watak Ki Condro, Punggawa Istana Pakuwon Widoro yang menjadi antek Akuwu Sastrogalih, penguasa Pakuwon Widoro. Lelaki bertubuh gempal itu tidak segan segan menganiaya orang orang yang berani menentang nya.
Setiap 1 purnama sekali, Ki Condro wajib mencarikan gadis muda untuk menjadi pemuas nafsu birahi sang Akuwu Widoro yang terkenal doyan daun muda. Dia selalu berkelana dari satu wanua ke wanua lain di wilayah Pakuwon Widoro untuk mencari gadis muda baru bagi sang Akuwu.
Sialnya, purnama ini dia masuk ke Wanua Karang Pulut tempat tinggal Nyi Murti, seorang janda beranak satu yang memiliki putri cantik bernama Kantil. Satu bulan ini, Ki Condro menyelidiki latar belakang Nyi Murti. Setelah dia tahu bahwa perempuan itu hanya wanita desa biasa, siang itu Ki Condro membawa anak buah nya untuk menangkap Kantil.
"Dasar perempuan bodoh!
Kau benar benar tidak berguna. Singkirkan perempuan tolol ini dari hadapan ku", teriak Ki Condro dengan lantang. Dua prajurit berbadan besar langsung mencekal lengan Nyi Murti. Dengan kasar mereka melemparkan melemparkan tubuh perempuan paruh baya itu tak peduli dengan jerit kesakitan dan teriakan menghiba Nyi Murti.
Ki Condro lalu membawa Kantil ke atas kereta kuda. Meski Kantil berusaha keras untuk melepaskan diri dan menjerit sembari menangis sesenggukan meminta bantuan, namun Ki Condro tetap membawa kereta kuda itu menuju ke arah Kota Pakuwon Widoro.
Nyi Murti terus meratapi kepergian Kantil sang buah hati yang akan menjadi pemuas birahi Akuwu Widoro yang bejat.
Panji Tejo Laksono yang kebingungan menentukan arah menuju ke Kadipaten Wengker, dia melihat seorang wanita paruh baya menangis sesenggukan di pelataran rumah nya. Ada dua orang tetangga sebelah rumah yang sedang menghibur nya.
Segera Panji Tejo Laksono meloncat turun dari kudanya begitu juga Gayatri yang mengikuti nya.
"Mohon maaf, Kisanak.
Saya mau tanya. Kemana jalan ke arah Kota Kadipaten Tanggulangin?", tanya Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Kalian bukan penduduk sini ya?", seorang lelaki sepuh berkumis tipis balik bertanya dan menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Gayatri.
"Kami pengembara dari jauh. Ingin melihat keramaian kota kota besar di wilayah Kerajaan Panjalu", jawab Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Pantas saja..
Kalian lurus saja ke ikuti jalan ini. Setelah melewati Kota Pakuwon Widoro, kalian lurus terus ke arah Utara. Nanti kalian sudah sampai setengah hari perjalanan di Kota Kadipaten Tanggulangin", balas si lelaki sepuh itu segera.
"Kang Randu,
Bagaimana nasib Kantil, Kang? Aku tidak rela anak gadis ku jadi korban Akuwu Sastrogalih selanjutnya. Aku tidak rela", ujar Nyi Murti menyela pembicaraan Panji Tejo Laksono dan si lelaki sepuh yang di panggil Randu itu.
"Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, Murti..
Kita hanya rakyat kecil, tidak akan punya daya melawan para punggawa Pakuwon Widoro itu. Nasib Kantil memang buruk, kau harus merelakan dirinya", jawab Ki Randu tak berdaya.
"Mohon maaf jika saya ingin tahu. Apa maksud dari ucapan Nyi ini, Kisanak?
Apa telah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan bagi nya?", Panji Tejo Laksono penasaran.
Ki Randu menghela nafas panjang, sebelum menceritakan tentang keadaan Pakuwon Widoro, termasuk kelaliman Akuwu Sastrogalih yang suka main wanita muda. Juga perihal Kantil, anak Nyi Murti yang menjadi korban selanjutnya dari nafsu bejat sang Akuwu.
"Kurang ajar!
Ini tidak bisa di biarkan! Bagaimana mungkin kejahatan seperti ini terus merajalela di wilayah Kadipaten Tanggulangin? Apa Adipati Prangbakat tidak berbuat sesuatu?", Panji Tejo Laksono mengepalkan tangannya erat-erat. Adipati Prangbakat adalah putra sulung Adipati Kalang yang menggantikan kedudukan ayahnya usai sang adipati sepuh meninggal dunia.
"Kami sudah pernah melapor masalah ini ke Adipati Tanggulangin, Kisanak.
Namun Gusti Adipati sepertinya menutup mata terhadap hal ini. Karena Akuwu Widoro ini adalah sepupu dari Adipati Tanggulangin", ujar Ki Randu sembari menghela nafas berat.
"Keparat!
Menggunakan kekuasaan untuk menindas orang lain ini benar benar tidak boleh di biarkan.
Kisanak dan Nisanak,
Kalian tenang saja. Aku punya teman di istana Kotaraja Kadiri. Aku jamin dia akan menindak tegas masalah ini. Sekarang yang terpenting Nyi Murti tenang dulu", Panji Tejo Laksono menenangkan pikiran yang berkecamuk di hati Nyi Murti.
Perempuan paruh baya itu langsung tersenyum lega mendengar ucapan Panji Tejo Laksono, begitu pula dengan Ki Randu. Sementara Gayatri mengernyitkan keningnya mendengar ucapan sang pangeran muda.
'Dia punya kawan di pemerintahan Kerajaan Panjalu? Apa yang sedang dia sembunyikan?', batin Gayatri.
Panji Tejo Laksono langsung mencari merpati surat. Dengan bantuan Ki Randu, dia mendapatkan nya di kediaman Lurah Wanua Sumilir. Usai menuliskan beberapa kata pada secarik kain yang diikat pada kaki merpati surat itu, Panji Tejo Laksono melepaskan burung pembawa pesan itu yang segera melesat cepat kearah langit.
Selesai mengirim surat, Panji Tejo Laksono dan Gayatri menuju ke arah kota Pakuwon Widoro sesuai petunjuk Ki Randu. Mereka ingin membebaskan Kantil.
Di tapal batas kota Pakuwon Widoro, Panji Tejo Laksono mencari penginapan untuk menyimpan kuda mereka sekaligus tempat untuk menyusun rencana penyelamatan Kantil.
Sebuah penginapan yang terletak agak jauh dari Istana Pakuwon Widoro, Panji Tejo Laksono dan Gayatri menghentikan kudanya. Mereka segera bergegas masuk usai dua orang pekatik menerima kuda mereka.
"Selamat datang di penginapan kami, pendekar..
Apa kalian ingin menginap di tempat kami?", tanya seorang lelaki pendek gemuk dengan mata sipit dan perut buncit.
"Sediakan dua kamar untuk kami bermalam, juga makanan. Tapi kami nanti ingin jalan jalan sebentar setelah beristirahat sebentar. Ini cukup bukan?", ujar Panji Tejo Laksono sembari mengulurkan 5 kepeng perak ke depan meja tempat sang lelaki pendek gemuk itu berdiri. Mata lelaki itu langsung melebar ketika melihat kilauan perak di depan matanya.
"Cukup pendekar cukup..
Pelayan, antar juragan ini ke kamar terbaik kita. Cepat", perintah si lelaki pendek gemuk itu pada seorang lelaki bertubuh kurus yang dengan sopan mengantar Panji Tejo Laksono dan Gayatri ke kamar penginapan.
****
Nun jauh di Utara, di Kotaraja Kadiri. Seorang prajurit bergegas mendekati Tumenggung Ludaka yang tengah duduk di kursi kayu serambi kediaman nya, berbincang dengan Demung Gumbreg sahabat karibnya.
"Ada apa prajurit? Apa ada yang penting?".
"Mohon ampun Gusti Tumenggung, ada seekor merpati surat yang baru saja sampai. Ini tulisan yang di bawanya", ujar sang prajurit seraya mengulurkan secarik kain putih pada Tumenggung Ludaka. Segera Tumenggung Ludaka menerima dan membaca tulisan di kain itu.
'Paman Ludaka,
Ada kejahatan yang dilakukan Akuwu Widoro.
Adipati Tanggulangin melindungi nya.
Mohon bantuannya'.
Demikian bunyi tulisan yang tertera pada tulisan itu. Tumenggung Ludaka langsung tersenyum simpul membaca tulisan yang tertera di sana.
"Guwarsa, Lembuwana..
Kemari kalian!!", teriak Tumenggung Ludaka dengan lantang.
Dua bayangan hitam berkelebat cepat dan segera berjongkok di depan Tumenggung Ludaka. Pakaian mereka serba hitam dan memakai topeng kayu separuh wajah yang bercat biru. Mereka berdua adalah anggota Pasukan Lowo Bengi, pasukan khusus Kerajaan Panjalu yang bertugas sebagai pasukan telik sandi istimewa yang berada di bawah pimpinan Tumenggung Ludaka.
"Gusti Tumenggung memanggil kami? Apa ada tugas yang harus kami kerjakan?", ujar salah seorang diantara mereka dengan cepat.
"Bawa sepuluh orang mu ke Kadipaten Tanggulangin. Lima orang awasi istana Kadipaten Tanggulangin, 5 orang berangkat ke Pakuwon Widoro. Laporkan setiap kejadian penting begitu kalian tiba disana.
Berangkat sekarang!", perintah Tumenggung Ludaka segera.
"Sendiko dawuh Gusti Tumenggung", dua orang itu menyembah pada Ludaka dan kemudian melesat seperti bayangan berkelebat meninggalkan kediaman Tumenggung Ludaka.
"Siwikarna, Jaluwesi..
Ajak dua puluh orang prajurit yang memiliki ilmu beladiri yang mumpuni. Kalian segera bersiap. Setelah aku pulang dari istana, kita berangkat", perintah Tumenggung Ludaka pada dua orang prajurit yang bertugas menjaga kediaman nya. Mereka berdua segera mengangguk-anggukkan kepalanya dan bergegas melaksanakan perintah sang perwira.
Tanpa basa basi, Tumenggung Ludaka menggelandang tangan Demung Gumbreg untuk menemaninya berangkat ke istana. Meski tidak tahu apa apa, Gumbreg menuruti kemauan Ludaka.
Panji Watugunung tengah membaca beberapa surat yang di kirim oleh beberapa utusan dari Kadipaten wilayah Kerajaan Panjalu saat Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg datang menghadap. Dua orang perwira tinggi itu langsung menyembah dan duduk bersila di lantai ruang pribadi Raja.
"Ada apa Tumenggung Ludaka?
Kenapa kau menghadap tanpa aku panggil?", tanya Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sambil menatap ke arah Tumenggung Ludaka.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Ada sesuatu yang perlu Gusti Prabu ketahui", jawab Tumenggung Ludaka sembari mengeluarkan kain surat yang baru dia dapatkan. Dengan kedua tangan Tumenggung Ludaka menghaturkan nya pada Panji Watugunung. Raja Panjalu itu segera berdiri dari tempat duduknya dan mengambil surat di tangan Tumenggung Ludaka.
Selesai membaca surat, Panji Watugunung tersenyum simpul. Dia mengenali tulisan di dalam surat itu sebagai tulisan tangan Panji Tejo Laksono.
Raja Panjalu itu segera mengambil sebuah lencana emas bergambar Candrakapala dari dalam kotak kayu di meja kecil samping kursi kayu nya kemudian mengulurkan benda itu pada Tumenggung Ludaka.
"Pergunakan dengan bijak. Ajak seseorang untuk membantu mu. Berangkatlah sekarang juga", perintah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", Tumenggung Ludaka menyembah pada Prabu Jitendrakara setelah menerima lencana emas kemudian beringsut mundur dari ruang pribadi Raja bersama Demung Gumbreg.
"Mbreg, kau ikut aku..
Tidak usah pamitan pada Juminten. Tugas negara ini", ujar Tumenggung Ludaka sambil membawa buntalan kain berisi beberapa kantong kepeng dan baju ganti.
"Kita mau kemana Lu?
Kog buru buru banget. Kalau tugas negara harus banyak bawa bekal perjalanan. Dhek Jum pasti ngamuk kalau aku berangkat gak pamit", Demung Gumbreg menatap wajah sahabat karibnya itu.
"Sudah jangan banyak bicara..
Urusan pamitan, bawahan ku yang akan urus. Keperluan mu aku yang tanggung", ujar Tumenggung Ludaka sembari berjalan keluar dari rumah nya.
"Tapi Lu.."
Belum sempat Gumbreg menyampaikan keberatannya, Tumenggung Ludaka sudah memotong ucapan nya.
"Tidak ada tapi-tapian..
Kau ingin menentang perintah Gusti Prabu Jayengrana? Oh iya, kalau kau menolak ikut dengan ku, akan ku laporkan peristiwa di Tanah Perdikan Lodaya kemarin pada Juminten? Kau tidak mau itu terjadi bukan?", Tumenggung Ludaka tersenyum lebar.
"Ya ya jangan Lu..
Bisa bisa aku digantung sama Dhek Jum. Iya iya aku ikut dengan mu", Gumbreg yang ketakutan dengan ancaman Ludaka langsung bergegas mengikuti langkah sang kawan karib. Di temani 20 orang prajurit pilihan, mereka berangkat menuju ke Kadipaten Tanggulangin.
****
Sepanjang siang hingga sore hari itu, Panji Tejo Laksono dan Gayatri mengamati situasi di sekitar Istana Pakuwon Widoro.
Menggunakan caping bambu untuk menutupi sebagian wajahnya, mereka benar benar lihai menjadi pengamat terutama Gayatri yang sepertinya benar-benar terbiasa menyamar. Ini membuat Panji Tejo Laksono sedikit curiga dengan jati diri Gayatri yang sebenarnya.
Dari pengamatan dan berita yang mereka kumpulkan, kemungkinan besar Si Kantil di tempatkan pada bangunan barat istana yang merupakan tempat para selir Akuwu Sastrogalih. Dari pengamatan itu pula, mereka tahu bahwa para penjaga gerbang istana akan berganti setiap pergantian waktu hari jadi mereka memiliki kesempatan untuk menyusup masuk ke dalam istana pada selepas senja saat pergantian penjaga.
Selepas mandi dan mengisi perut, Panji Tejo Laksono segera berganti pakaian hitam hitam sembari menutup separuh wajahnya dengan kain berwarna hitam.
Thookkk thok thookkk!
Ketukan pintu kamar tidur terdengar nyaring. Panji Tejo Laksono segera membuka pintu kamar. Gayatri yang ternyata sudah siap untuk berangkat langsung masuk ke dalam kamar tidur Panji Tejo Laksono. Segera Panji Tejo Laksono menutup pintu kamar.
"Kau sudah siap, Gayatri?", tanya Panji Tejo Laksono sambil mengalungkan pedangnya ke punggung. Perempuan cantik yang menyamar sebagai laki laki itu segera mengangguk sambil membuka sedikit daun jendela kamar tidur untuk melihat keadaan di luar.
Langit barat memerah pertanda sebentar lagi senja akan berganti dengan malam. Jalanan yang ramai berangsur sepi, menyisakan beberapa orang yang terlihat berlalu lalang. Sedangkan beberapa orang prajurit Pakuwon Widoro nampak berpatroli mengawasi keamanan kota itu sembari memukul bende sesekali.
Saat hari telah gelap, Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Gayatri sebelum melesat cepat dari jendela kamar tidur nya.
"Ayo berangkat"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌
2024-04-03
0
Mahayabank
/Good//Good//Good//Moon//Moon/
2024-04-03
0
rajes salam lubis
mantap
2023-09-18
1