Akuwu Durjana

Di dalam Istana Pakuwon Widoro, seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal yang telah di tumbuhi uban nampak tersenyum puas mendengar laporan Ki Condro mengenai Kantil sang gadis desa yang di bawa Ki Condro tadi siang. Pria berusia sekitar 4 dasawarsa setengah ini langsung merogoh kantong baju nya, mengeluarkan sekantong kepeng emas dan melemparkannya pada Ki Condro. Dia adalah Sastrogalih, Akuwu Widoro yang terkenal dengan kegemarannya menikmati gadis muda.

Dengan sigap Ki Condro menangkap kantong kepeng emas itu dan tersenyum lebar.

"Kerja mu bagus, Condro..

Purnama depan carikan lagi aku gadis muda. Setelah aku puas bermain dengan nya, terserah padamu mau kau apakan perempuan itu", ujar Akuwu durjana itu segera.

"Condro siap melaksanakan perintah Gusti Akuwu dengan senang hati.

Lantas bagaimana dengan gadis muda yang purnama kemarin aku bawa untuk Gusti Akuwu?", tanya Ki Condro sembari tersenyum simpul.

"Ambil saja. Dia sudah tidak menggigit lagi seperti waktu pertama kali aku bermain dengan nya hahahaha ", Akuwu Sastrogalih tertawa terbahak bahak.

"Condro mengerti, Gusti Akuwu..

Hamba akan segera membawa gadis itu agar tidak menggangu kenyamanan Gusti Akuwu hehe", Ki Condro membungkukkan badannya pada Akuwu Sastrogalih sebelum mundur dari tempat itu. Dengan langkah tenang, dia menuju ke arah bangunan barat Istana Pakuwon Widoro tempat yang di gunakan Sastrogalih sebagai tempat peristirahatan pribadi nya untuk menikmati tubuh gadis muda yang di bawa Ki Condro.

Tak seorangpun di istana Pakuwon Widoro yang diijinkan masuk ke dalam tempat itu kecuali Ki Condro, dua orang pelayan dan dua orang petugas kebersihan. Gapura tempat itu di jaga ketat oleh para prajurit Pakuwon Widoro atas perintah Sang Akuwu.

4 orang prajurit penjaga langsung membungkuk hormat kepada Ki Condro saat pria itu memasuki gerbang bangunan barat. Tanpa menghiraukan mereka, Ki Condro terus melangkah masuk ke dalam puri.

Seorang wanita muda nampak duduk di tepi ranjang tidur besar dengan wajah pucat. Meski mengenakan pakaian bagus dengan perhiasan emas yang banyak, namun tak sedikitpun ada raut kebahagiaan di wajahnya.

Di sampingnya, seorang gadis muda lainnya tengah dalam keadaan terikat. Mulutnya di sumpal kain dan matanya sembab seperti habis menangis. Sisa air mata nampak masih ada di sudut matanya. Gadis itu adalah Kantil, putri Nyi Murti dari Wanua Drenges yang di bawa Ki Condro tadi siang.

"Dengarkan omongan ku, sobat..

Sebaiknya kau pasrah saja menerima nasib. Percuma kau berontak karena tidak seorangpun yang bisa menolong mu. Awal aku datang, aku juga seperti mu. Aku tidak terima dengan keadaan ku seperti ini, tapi aku juga tidak berdaya.

Hari ini aku bebas dan kau yang menggantikan ku. Selama satu purnama ke depan kau akan jadi budak nafsu Akuwu Sastrogalih.

Semoga kamu kuat menerima siksa neraka ini walaupun kita belum mati", ujar si gadis yang mengenakan pakaian serba hijau itu.

Belum sempat si gadis meneruskan omongan nya, tiba tiba pintu kamar tidur itu terbuka lebar dan wajah Ki Condro tersembul di sana dengan senyuman menjijikkan nya.

"Ah Manisri...

Rupanya kau sudah tahu bahwa hari ini kau bebas ya hehehehe... Ayo kita keluar dari tempat ini.

Dan kau Kantil,

Nikmatilah hidup mu menjadi gundik Gusti Akuwu Sastrogalih selama satu purnama ke depan hahahaha", ujar Ki Condro sambil tersenyum lebar lalu menarik tangan wanita muda yang bernama Manisri itu keluar dari dalam kamar tidur, meninggalkan Kantil sendirian disana.

Mereka berdua segera menutup pintu kamar dan berjalan menuju ke arah gapura bangunan barat istana Pakuwon Widoro. Setelah melewati para penjaga, Ki Condro terus menggelandang tangan Manisri kearah pintu gerbang istana. Para prajurit penjaga gapura hanya menatap iba kearah Manisri.

"Ki Condro,

Sekarang aku sudah bebas. Aku ingin kembali ke kampung ku", ujar Manisri sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Ki Condro.

"Sudah bebas?

Siapa yang bilang begitu Manisri?", Ki Condro menghentikan langkahnya dan menatap wajah cantik Manisri sambil menyeringai lebar.

"Tempo hari kau sudah berjanji pada ku. Selepas satu purnama kau akan mengantar ku pulang ke kampung ku, Ki Condro. Apa kau lupa?", Manisri menatap wajah Ki Condro.

"Ah itu ya. Aku tidak lupa, tapi kau itu hanya bebas dari Gusti Akuwu Sastrogalih tapi tidak dengan ku Manisri.

Kau sangat cantik, sayang jika aku tidak sempat mencicipi nya hehehe", Ki Condro tersenyum lebar.

"Apa maksud ucapan mu, Ki Condro?

Apa jangan-jangan kau mau ingkar janji ha?", nada suara Manisri mulai meninggi.

"Pelankan suara mu, gadis cantik. Kita masih di gerbang istana.

Aku pasti akan mengantar mu pulang ke kampung mu asal kau melayani ku selama satu pekan hehehehe", ujar Ki Condro sambil menggelandang tangan Manisri keluar dari istana Pakuwon. Empat orang prajurit penjaga hanya membungkukkan badannya pada Ki Condro yang menarik tangan gadis muda itu.

"Lepaskan aku, bandot tua!

Aku tidak mau melayani mu. Cepat lepaskan aku!", Manisri meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya kalah di bandingkan dengan kekuatan Ki Condro.

Dua orang pengawal pribadi Ki Condro yang menunggu di luar pintu gerbang istana Pakuwon, langsung mencekal lengan Manisri begitu Ki Condro sampai. Dengan paksa, Manisri di masukkan ke dalam kereta kuda yang segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat. Saat melintasi jalan yang sepi, tiba tiba..

Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!

Aaauuuuggggghhhhh!!!

Dua senjata rahasia berwarna putih keperakan melesat cepat kearah leher dua orang pengawal pribadi Ki Condro yang mengendalikan kereta kuda. Dua orang itu langsung roboh tak bernyawa setelah dua senjata rahasia itu menembus leher mereka berdua. Kereta kuda menjadi kehilangan arah dan bergoyang tak beraturan. Dua orang berpakaian serba hitam meloncat ke atas kereta kuda dan melemparkan dua mayat pengawal pribadi itu.

Ki Condro geram dengan ketidaknyamanan nya, langsung berteriak lantang dari dalam kereta.

"Hentikan kereta ini!"

Mendengar ucapan itu, tali kekang kuda langsung di tarik dan kereta kuda langsung berhenti seketika. Dengan penuh kemurkaan, Ki Condro membuka pintu kereta dan mengeluarkan separuh anggota badannya.

"Hei, apa yang sedang ka...."

Belum sempat Ki Condro menyelesaikan omongannya, satu tangan menarik kerah baju Ki Condro dan melemparkannya ke tengah jalan raya yang sepi.

Ki Condro berusaha bangkit namun belum tegak dia berdiri, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

Plllaaakkkkk!!

Aaauuuuggggghhhhh!!!

Kerasnya tamparan itu membuat Ki Condro langsung kehilangan dua gigi depan nya. Pria itu ambruk ke tanah dengan darah mengalir dari mulut.

"Kurang ajar kalian!

Apa kalian tidak tahu siapa aku ha? Prajurit Pakuwon Widoro akan membunuh kalian jika ber...."

Plllaaakkkkk!

Aaaarrrgggggghhhhh!!

Kembali satu tamparan keras menghajar pipi Ki Condro. Darah semakin banyak keluar dari mulut Ki Condro. Saat salah satu sosok berpakaian hitam-hitam itu hendak menampar lagi, Ki Condro langsung bersujud kepada nya.

"Ampuni aku pendekar..

Aku tidak berani lagi. Tolong ampuni nyawa ku. Akan ku serahkan semua harta ku padamu, tolong jangan bunuh aku", ujar Ki Condro sambil menghaturkan dua kantong kepeng emas dan perak pada dua sosok berpakaian hitam-hitam itu. Salah seorang langsung menyambar dua kantong kepeng itu.

"Kantong kepeng ini hanya bisa mengampuni nyawa mu sedikit. Jika kau bisa menunjukkan dimana tempat gadis dari Wanua Drenges yang kau culik tadi siang, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk mengampuni nyawa mu", ujar salah seorang berpakaian hitam-hitam itu dari balik cadar hitam nya. Muka Ki Condro langsung cerah seketika namun satu suara wanita membuat nya pucat kembali.

"Aku tahu dimana gadis itu berada. Asal kalian membunuh lelaki bejat itu, aku akan tunjukkan dimana tempatnya", ujar Manisri sambil melangkah keluar dari dalam kereta kuda. Dua sosok berpakaian hitam-hitam itu saling berpandangan sejenak, mengangguk mengerti dan menoleh ke arah Ki Condro yang pucat pasi.

"Jangan dengarkan ocehan perempuan gila itu!

Aku yang paling tahu dimana tempatnya", Ki Condro mendelik penuh kemarahan pada Manisri.

"Hoh begitu rupa nya..

Penjahat seperti mu memang pantas untuk mendapatkan hukuman yang setimpal", ujar salah seorang sosok berpakaian hitam-hitam itu yang seperti perempuan sembari memegang kepala Ki Condro dan memelintir nya dengan cepat.

Krreeeeekkkkkk!!!

Kepala Ki Condro langsung terkulai lemas setelah lehernya patah. Orang paling di benci di seantero wilayah Pakuwon Widoro itu tewas dengan posisi kepala nya berbeda dari umumnya.

Usai menghabisi nyawa Ki Condro dua sosok berpakaian hitam-hitam itu mendekati Manisri. Dengan seksama, Manisri menceritakan tentang keadaan Si Kantil dan letak tempat yang menjadi arena penyekapan nya.

"Cepatlah kalian bertindak.

Jika tidak segera, aku takut kalian tidak sempat menyelamatkan gadis itu dari nafsu binatang Akuwu Sastrogalih", ujar Manisri menutup omongannya.

"Kalau begitu, kau hati-hatilah pergi dari sini. Kami pergi dulu", setelah salah seorang bicara, dua sosok berpakaian hitam-hitam itu langsung melenting tinggi ke udara dan menghilang di kegelapan malam.

Sedangkan Manisri bergegas berlari menuju ke arah selatan kota Pakuwon Widoro. Kegelapan malam melindungi perjalanannya.

Dua sosok berpakaian serba hitam yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus bergerak cepat diatas bangunan di sekitar istana. Satu gerakan cepat, mereka mendarat di atas tembok istana sebelah barat sesuai dengan petunjuk Manisri.

Dua pasang mata terus mengawasi pergerakan mereka dari atas pohon sawo besar yang ada di selatan bangunan barat Istana Pakuwon Widoro.

"Taji,

Itu tempat yang di bicarakan perempuan tadi. Ayo kita kesana", kata Gayatri usai mengamati situasi sekitarnya. Panji Tejo Laksono mengangguk. Dua orang itu segera melesat cepat ke atas atap bangunan barat.

Taph Taphh!!

Mereka mendarat dengan sempurna di atas atap bangunan istana. Perlahan mereka membuka atap bangunan yang terbuat dari ijuk aren dan daun alang-alang kering untuk mengintip.

Di dalam kamar, Akuwu Sastrogalih sudah merobek sebagian pakaian Kantil. Pria paruh baya itu menyapukan lidahnya ke bibir dengan pandangan penuh nafsu melihat kemolekan tubuh gadis muda di depannya.

"Kantil,

Malam ini akan ku nikmati tubuh molek mu. Nikmatilah sentuhan ku", ucap Akuwu Sastrogalih sembari melepaskan sabuk celana nya.

Saat yang bersamaan, dua sosok berpakaian hitam-hitam meluncur turun dari atap bangunan istana usai membongkar sebagian atap.

Kedatangan mereka membuat kaget Akuwu Sastrogalih.

"Kurang ajar!

Siapa kalian? Berani beraninya menerobos masuk ke istana Pakuwon Widoro", hardik Akuwu Sastrogalih dengan cepat.

"Siapa kami itu tidak penting, yang pasti kami akan menghajar pejabat bejat seperti mu!", teriak Gayatri sambil mengayunkan pukulan ke arah Sastrogalih.

Pria paruh baya yang setengah bajunya sudah terlepas itu segera menangkis, lalu membalas mengibaskan tangan kanannya ke arah Gayatri. Perempuan yang menyamar sebagai laki laki itu merunduk sedikit, memutar badannya, lalu dengan cepat menyikut pinggang Sastrogalih dengan keras.

Bhhhuuuuuuggggh!!

Sastrogalih nyaris terjungkal saat sikut Gayatri menghajar pinggangnya. Akuwu Widoro itu dengan cepat jungkir balik menggunakan bahu, lalu menyambar keris nya yang tergeletak di meja. Segera dia mencabut keris nya, kemudian menyerang maju ke arah Gayatri.

Shreeeeettttthhh!!

Gayatri berkelit ke samping, lalu memutar tubuhnya sembari menyapu kaki Sastrogalih dengan kaki kanan nya.

Whuuutt!!

Penguasa Pakuwon Widoro itu melompat menghindari sapuan kaki Gayatri. Kemudian menerjang turun dengan tusukan keris. Gayatri berguling ke lantai, sembari melemparkan dua belati perak kecil nya ke arah Sastrogalih dengan cepat.

Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!

Dengan cepat Sastrogalih membabatkan kerisnya untuk menangkis dua senjata rahasia itu.

Thrangg thrangg!

Dua belati perak berbelok arah dan menancap pada dinding kamar tidur. Namun gerakan cepat Gayatri yang mengayunkan tangannya kearah dada Sastrogalih yang merupakan serangan utama tak sempat di tangkis oleh Akuwu Pakuwon Widoro itu.

Bhhhuuuuuuggggh bhuuukkkhhh!!

Aaauuuuggggghhhhh!!

Sastrogalih menjerit keras. Saat dia masih merasakan kesakitan akibat dua pukulan Gayatri, gadis cantik yang menyamar sebagai laki laki itu segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah dada sang Akuwu durjana.

Dhiiieeeessshh...

Tubuh Akuwu Sastrogalih melayang dan menghantam pintu kamar tidur hingga pintu itu jebol.

Brrruuuaaaaakkkkh!!!

Aarrrggghhhhhhhhh!!!

Jerit kesakitan terdengar keras bersamaan dengan terlemparnya tubuh Sastrogalih ke halaman. Keributan itu segera memancing perhatian para prajurit penjaga gapura bangunan barat Istana Pakuwon Widoro untuk masuk.

Panji Tejo Laksono yang baru membebaskan Kantil, langsung mencekal lengan Gayatri yang hendak memburu Sastrogalih. Dia melihat puluhan prajurit berlari menuju ke arah mereka.

"Cukup Gayatri!

Kita tidak boleh berlama-lama disini", ujar Panji Tejo Laksono sembari menunjuk ke arah para prajurit yang menuju ke arah mereka. Gayatri mendengus keras lalu mengikuti langkah Panji Tejo Laksono yang menyambar tubuh Kantil keatas tembok istana. Mereka menghilang di balik kegelapan malam.

Sastrogalih bangkit dari tempat jatuhnya sambil membekap dadanya yang sesak. Sembari mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, dia berteriak lantang.

"Kejar mereka! Jangan sampai lolos!"

Titir kentongan bertalu-talu tanda adanya bahaya langsung terdengar dari dalam istana. Puluhan prajurit mengejar kearah perginya dua sosok berpakaian hitam-hitam yang membawa kabur Kantil.

Keadaan Kota Pakuwon Widoro yang semula tenang menjadi kacau.

Apalagi setelah mayat Ki Condro dan dua bawahannya di temukan, membuat Sastrogalih semakin marah besar. Dia memerintahkan kepada para prajurit Pakuwon Widoro untuk menyisir seluruh Kota Pakuwon Widoro.

Dari rumah penginapan, para prajurit memperoleh keterangan bahwa ada dua orang asing yang bermalam di tempat itu namun mereka menghilang setelah malam hari tiba.

Sementara Kota Pakuwon Widoro kacau-balau, Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus memacu kuda mereka ke arah selatan.

Hingga menjelang pagi tiba, Sastrogalih yang masih batuk batuk kecil di balai pisowanan Pakuwon Widoro akhirnya menemukan titik terang arah pelarian dua sosok berpakaian serba hitam yang membawa kabur Kantil dari laporan Bekel Prajurit Pakuwon Widoro. Mereka memperoleh keterangan dari seorang penduduk yang melihat dua orang berpakaian hitam-hitam berkuda cepat kearah selatan.

"Gentiri,

Kerahkan seluruh prajurit Pakuwon Widoro untuk mengejar dua bajingan itu uhuk uhuukkkk...

Tangkap mereka hidup atau mati!", perintah Akuwu Sastrogalih dengan keras.

"Baik Gusti Akuwu", Bekel Prajurit Pakuwon Widoro yang bernama Gentiri itu segera menghormat pada sang Akuwu. Dengan segera, puluhan prajurit Pakuwon Widoro bergerak cepat memburu Panji Tejo Laksono dan Gayatri ke selatan.

Sementara itu, lima orang berpakaian hitam-hitam yang mengenakan topeng kayu bercat biru terus mengikuti pergerakan Panji Tejo Laksono dan Gayatri dari kejauhan.

"Sampung,

Kau laporkan situasi kita pada Lembuwana di Kota Kadipaten Tanggulangin. Jika Gusti Tumenggung Ludaka sudah sampai, laporkan langsung padanya.

Kemungkinan pemberhentian Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono adalah Wanua Drenges dan Wanua Tegalan", ujar Guwarsa yang memimpin Pasukan Lowo Bengi yang mengawasi situasi di Istana Pakuwon Widoro sambil terus melesat cepat mengikuti dua orang berkuda di depan nya.

"Aku mengerti Kakang Guwarsa", balas Sampung sembari berbalik arah menuju ke arah Utara.

Panji Tejo Laksono yang menyadari bahwa mereka sedang diikuti, langsung menarik tali kekang kudanya. Gayatri pun mengikuti.

"Ada apa Taji?", tanya Gayatri segera.

"Kau bawa kuda ku dan Kantil. Ada yang perlu aku urus sebentar.

Kau langsung saja ke rumah Nyi Murti. Tunggu aku disana", jawab Panji Tejo Laksono sembari melompat turun dari kudanya. Mendengar ucapan itu, Gayatri mengangguk mengerti dan segera melompat ke atas kuda Panji Tejo Laksono. Dengan cepat ia memacu kudanya menuju ke arah Wanua Drenges.

Sementara itu Panji Tejo Laksono mendengus keras sambil melesat cepat kearah 4 orang berpakaian hitam-hitam yang mengenakan topeng kayu bercat biru. Kecepatan tinggi Ajian Sepi Angin membuatnya dengan cepat muncul di hadapan Guwarsa dan kawan-kawan nya.

"Kenapa kalian mengikuti ku?"

Terpopuler

Comments

Mahayabank

Mahayabank

Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌

2024-04-03

0

Mahayabank

Mahayabank

Karena kami anak buah pangeran /Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-04-03

0

rajes salam lubis

rajes salam lubis

lanjutkan

2023-09-18

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Jurang Menjing
2 Begawan Ganapati
3 Samaran
4 Kota Pakuwon Palah
5 Gerombolan Serigala Abu-abu
6 Tanah Perdikan Lodaya
7 Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8 Gending Pemikat Sukma
9 Pertarungan Di Tengah Sawah
10 Menuju Kadipaten Karang Anom
11 Makam Keramat Gunung Budeg
12 Makam Keramat Gunung Budeg 2
13 Kawan Baru
14 Hutan Jati Perbatasan
15 Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16 Pertapaan Bukit Rance
17 Pertapaan Bukit Rance 2
18 Pakuwon Widoro
19 Akuwu Durjana
20 Akuwu Durjana 2
21 Rahasia Gayatri
22 Tantangan
23 Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24 Kidung Cinta Endang Patibrata
25 Mimpi
26 Tuduhan Mata-mata
27 Setan Gunung Wilis
28 Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29 Panggil Aku Wiro
30 Guru Untuk Wiropati
31 Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32 Salah Paham
33 Palupi dan Luh Jingga
34 Melawan Jerangkong Api
35 Pencuri
36 Istana Kotaraja
37 Ayah dan Anak
38 Pedang Naga Api
39 Bagian
40 Pertempuran Sungai Lawor
41 Pertempuran Sungai Lawor 2
42 Pertempuran Sungai Lawor 3
43 Pertempuran Sungai Lawor 4
44 Perayaan
45 Pangeran Dari Kadiri
46 Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47 Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48 Pengelana dari Jauh
49 Sama Gilanya
50 Perguruan Tapak Suci
51 Luh Jingga dan Gayatri
52 Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53 Utusan Istana Kadiri
54 Taruhan
55 Karena Arak
56 Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57 Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58 Kembar Tapi Beda
59 Kejutan Besar
60 Lelaki Tua Berjari Buntung
61 Pertarungan yang Melelahkan
62 Maling Hati
63 Tahanan
64 Istana Kadipaten Kalingga
65 Tantangan dari Danapati
66 Adu Jago Ilmu Beladiri
67 Tugas
68 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71 Berangkat ke Tanah Tiongkok
72 Pelabuhan Tumasik
73 Perompak Bendera Hitam
74 Pangeran Suryavarman
75 Kecantikan Putri Champa
76 Malam Panjang
77 Kota Lin'an
78 Penginapan Musim Semi
79 Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80 Siapa Kau Sebenarnya?
81 Gumbreg Melawan Gu Heng
82 Pesta
83 Tubuh Emas
84 Dewa Pedang Wang Chun Yang
85 Putri Lan
86 Raja Serigala Gosong
87 Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88 Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89 Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90 Stempel Giok Naga
91 Nona Besar Song
92 Pertarungan
93 Pencuri Angin
94 Pencuri Angin 2
95 Menuju ke Kota Kaifeng
96 Hati Tiga Wanita Cantik
97 Hua Mei dan Gui Wu
98 Sekte Lembah Hantu
99 Ayu Ratna Palsu
100 Tamu Tak Diundang
101 Melawan Hauw Tian
102 Melawan Hauw Tian 2
103 Lawan Lama Ayah
104 Pertarungan di Kuil Shaolin
105 Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106 Tiga Pukulan
107 Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108 Ilmu Semesta Yin Yang
109 Di Tepi Jurang Terjal
110 Masalah di Kota Luoyang
111 Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114 Rumah Makan Bunga Persik
115 Ilmu Sembilan Matahari
116 Dewi Topeng Waja
117 Ajian Gelap Sayuto
118 Melawan Luo Fan
119 Melawan Luo Fan 2
120 Kaisar Huizong
121 Bara Api Dendam dari Rajapura
122 Pendekar Berpedang Butut
123 Mapanji Jayagiri
124 Siluman Rawa Seribu Teratai
125 Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126 Balada Penari Tledek
127 Jasa Pengawalan Bendera Naga
128 Si Ular Kecil
129 Cinta Tak Harus Memiliki
130 Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131 Lawan Yang Sepadan
132 Pimpinan Pasukan
133 Salah Paham
134 Madu
135 Istana Kalingga
136 Ikatan Sepuluh Cincin
137 Ikatan Sepuluh Cincin 2
138 Ikatan Sepuluh Cincin 3
139 Kejutan Yang Tidak Terduga
140 Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141 Suasana Kadipaten Rajapura
142 Bajak Laut Tsang
143 Bajak Laut Tsang 2
144 Gegabah
145 Benteng Pertahanan Karangwuluh
146 Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147 Siapa Dia?
148 Persiapan di Kalingga
149 Bantaran Kali Comal
150 Rajapura adalah Lawan
151 Para Penantang
152 Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153 Pesona Putri China
154 Telik Sandi
155 Pengorbanan Nyi Kenikir
156 Penyerbuan Rajapura
157 Diatas Langit Masih Ada Langit
158 Apa Mau Mu?
159 Ilmu Pangiwa
160 Kematian Junggul Mertalaya
161 Pertempuran Sesungguhnya
162 Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163 Rencana
164 Pilihan
165 Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166 Pertarungan di Malam Buta
167 Rencana Selanjutnya
168 Membangun Kembali Rajapura
169 Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170 Prasangka
171 Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172 Menuju ke Kota Kalingga
173 Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174 Resi Sanggabuana
175 Suara Tanpa Wujud
176 Kedatangan Prabu Jayengrana
177 Wejangan
178 Malam Pertama
179 Tanah Lungguh
180 Ajian Bayu Swara
181 Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182 Kelompok Bulan Sabit Darah
183 Sebelas Bayangan
184 Ksatria Lama
185 Upacara Penyucian Jiwa
186 Persiapan Penobatan
187 Dukungan
188 Paksijandu dan Nalini
189 Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190 Penjara
191 Hidup atau Mati
192 Jimat Keong Buntet
193 Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194 Panji Manggala Seta
195 Pakuwon Weling
196 Di Pertapaan Panumbangan
197 Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198 Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199 Tantangan Ki Pancatnyana
200 Pedang Tulang Iblis
201 Maharesi Padmanaba
202 Syarat dari Dyah Kirana
203 Dyah Kirana
204 Ajian Chanda Bhirawa
205 Istri Kelima
206 Kediaman Lurah Wanua Ranja
207 Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208 Ki Kalawisesa dan Wigati
209 Tawon Raksasa
210 Akhir Sebuah Dendam
211 Iblis Gunung Kawi
212 Nawala dari Prabu Jayengrana
213 Kedewasaan Gayatri
214 Kroco
215 Dewa dari Kahyangan
216 Menuju Pakuwon Tumapel
217 Kawan Baru
218 Lelaki Di Dalam Kabut
219 Malam di Tepi Hutan
220 Titah Prabu Jayengrana
221 Pendekar Golok Angin
222 Sandyakala di Langit Seloageng
223 Sandyakala di Langit Seloageng 2
224 Racun Penghancur Hati
225 Situasi Genting
226 Mengejar Penculik Ayu Ratna
227 Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228 Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229 Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230 Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231 Persiapan
232 Bantuan dari Lodaya
233 Saatnya Telah Tiba
234 Rencana Kedua
235 Senjata Cadangan Jenggala
236 Siapa Dia Sebenarnya?
237 Kemenangan di Selatan
238 Pasukan Gajah
239 Pimpinan Sementara
240 Mimpi Dewi Anggarawati
241 Orang-orang Wanua Karang Pulut
242 Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243 Perang Kota Kunjang
244 Perang Kota Kunjang 2
245 Perang Kota Kunjang 3
246 Perang Kota Kunjang 4
247 Perang Kota Kunjang 5
248 Akhir Perang Kota Kunjang
249 Akhir Perang Kota Kunjang 2
250 Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251 Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252 Bidadari Gunung Arjuna
253 Pangeran Ganeshabrata
254 Bantuan Yang Di Janjikan
255 Akhir Peperangan
256 Tabir Yang Mulai Tersingkap
257 Kembali ke Kotaraja Daha
258 Mulut Seorang Pelacur
259 Putri Akuwu
260 Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261 Intrik Istana
262 Bukan Pendekar Sembarangan
263 Pulang ke Seloageng
264 Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265 Permintaan Eyang
266 Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267 Dewi Anggrek Bulan
268 Gerimis
269 Ki Jatmika
270 Kisah Kelam Anggrek Perak
271 Wangsit
272 Pertapaan Gunung Penanggungan
273 Rajah Smaradahana
274 Menuju Kotaraja Kahuripan
275 Putri Uttejana
276 Adu Jago
277 Bidadari Bertopeng Perak
278 Melawan Nini Raga Setan
279 Ajian Malih Rupa
280 Bahaya Besar
281 Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282 Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283 Mpu Purwa
284 Keruwetan Demung Gumbreg
285 Warung Kembang Sore
286 Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287 Istana Perut Bumi
288 Istana Perut Bumi 2
289 Wanita Berambut Api
290 Jati Diri Dyah Kirana
291 Jati Diri Dyah Kirana 2
292 Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295 Dewi Lembah Wilis
296 Dewi Lembah Wilis 2
297 Dewi Lembah Wilis 3
298 Hutan Larangan
299 Wujud Yang Tidak Berjasad
300 Cerita Sepasang Kekasih
301 Para Penghadang
302 Adipati Arya Natakusuma
303 Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304 Sayembara Panjalu
305 Mencari Pujaan Hati
306 Pendopo Agung Istana Katang-katang
307 Setan Berwujud Manusia
308 Melawan Prabu Gendarmanik
309 Melawan Prabu Gendarmanik 2
310 Gayatri Hamil?
311 Lodaya Menagih Janji
312 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316 Perubahan
317 Singgasana Panjalu
318 Lelaki Tua Berambut Merah
319 Demung Gumbreg
320 Rencana Busuk Para Pejabat
321 Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322 Ulah Rara Kinanti
323 Utusan dari Anjuk Ladang
324 Iblis Bukit Manoreh
325 Malam Pertama Rara Kinanti
326 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328 Keangkuhan
329 Woro dan Wati
330 Menuju Ke Barat
331 Perbatasan Kadipaten Lewa
332 Rampok Kelabang Merah
333 Salah Masuk
334 Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338 Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339 Rencana Selanjutnya
340 Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341 Teka Teki
342 Putri Pertama
343 Murid Padepokan Padas Putih
344 Saudara Seperguruan
345 Bupati Baru Gelang-gelang
346 Hal Yang Ditunggu
347 Kadiri Kesaput Surup
348 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354 Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prahara Jurang Menjing
2
Begawan Ganapati
3
Samaran
4
Kota Pakuwon Palah
5
Gerombolan Serigala Abu-abu
6
Tanah Perdikan Lodaya
7
Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8
Gending Pemikat Sukma
9
Pertarungan Di Tengah Sawah
10
Menuju Kadipaten Karang Anom
11
Makam Keramat Gunung Budeg
12
Makam Keramat Gunung Budeg 2
13
Kawan Baru
14
Hutan Jati Perbatasan
15
Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16
Pertapaan Bukit Rance
17
Pertapaan Bukit Rance 2
18
Pakuwon Widoro
19
Akuwu Durjana
20
Akuwu Durjana 2
21
Rahasia Gayatri
22
Tantangan
23
Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24
Kidung Cinta Endang Patibrata
25
Mimpi
26
Tuduhan Mata-mata
27
Setan Gunung Wilis
28
Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29
Panggil Aku Wiro
30
Guru Untuk Wiropati
31
Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32
Salah Paham
33
Palupi dan Luh Jingga
34
Melawan Jerangkong Api
35
Pencuri
36
Istana Kotaraja
37
Ayah dan Anak
38
Pedang Naga Api
39
Bagian
40
Pertempuran Sungai Lawor
41
Pertempuran Sungai Lawor 2
42
Pertempuran Sungai Lawor 3
43
Pertempuran Sungai Lawor 4
44
Perayaan
45
Pangeran Dari Kadiri
46
Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47
Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48
Pengelana dari Jauh
49
Sama Gilanya
50
Perguruan Tapak Suci
51
Luh Jingga dan Gayatri
52
Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53
Utusan Istana Kadiri
54
Taruhan
55
Karena Arak
56
Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57
Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58
Kembar Tapi Beda
59
Kejutan Besar
60
Lelaki Tua Berjari Buntung
61
Pertarungan yang Melelahkan
62
Maling Hati
63
Tahanan
64
Istana Kadipaten Kalingga
65
Tantangan dari Danapati
66
Adu Jago Ilmu Beladiri
67
Tugas
68
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71
Berangkat ke Tanah Tiongkok
72
Pelabuhan Tumasik
73
Perompak Bendera Hitam
74
Pangeran Suryavarman
75
Kecantikan Putri Champa
76
Malam Panjang
77
Kota Lin'an
78
Penginapan Musim Semi
79
Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80
Siapa Kau Sebenarnya?
81
Gumbreg Melawan Gu Heng
82
Pesta
83
Tubuh Emas
84
Dewa Pedang Wang Chun Yang
85
Putri Lan
86
Raja Serigala Gosong
87
Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88
Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89
Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90
Stempel Giok Naga
91
Nona Besar Song
92
Pertarungan
93
Pencuri Angin
94
Pencuri Angin 2
95
Menuju ke Kota Kaifeng
96
Hati Tiga Wanita Cantik
97
Hua Mei dan Gui Wu
98
Sekte Lembah Hantu
99
Ayu Ratna Palsu
100
Tamu Tak Diundang
101
Melawan Hauw Tian
102
Melawan Hauw Tian 2
103
Lawan Lama Ayah
104
Pertarungan di Kuil Shaolin
105
Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106
Tiga Pukulan
107
Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108
Ilmu Semesta Yin Yang
109
Di Tepi Jurang Terjal
110
Masalah di Kota Luoyang
111
Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114
Rumah Makan Bunga Persik
115
Ilmu Sembilan Matahari
116
Dewi Topeng Waja
117
Ajian Gelap Sayuto
118
Melawan Luo Fan
119
Melawan Luo Fan 2
120
Kaisar Huizong
121
Bara Api Dendam dari Rajapura
122
Pendekar Berpedang Butut
123
Mapanji Jayagiri
124
Siluman Rawa Seribu Teratai
125
Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126
Balada Penari Tledek
127
Jasa Pengawalan Bendera Naga
128
Si Ular Kecil
129
Cinta Tak Harus Memiliki
130
Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131
Lawan Yang Sepadan
132
Pimpinan Pasukan
133
Salah Paham
134
Madu
135
Istana Kalingga
136
Ikatan Sepuluh Cincin
137
Ikatan Sepuluh Cincin 2
138
Ikatan Sepuluh Cincin 3
139
Kejutan Yang Tidak Terduga
140
Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141
Suasana Kadipaten Rajapura
142
Bajak Laut Tsang
143
Bajak Laut Tsang 2
144
Gegabah
145
Benteng Pertahanan Karangwuluh
146
Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147
Siapa Dia?
148
Persiapan di Kalingga
149
Bantaran Kali Comal
150
Rajapura adalah Lawan
151
Para Penantang
152
Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153
Pesona Putri China
154
Telik Sandi
155
Pengorbanan Nyi Kenikir
156
Penyerbuan Rajapura
157
Diatas Langit Masih Ada Langit
158
Apa Mau Mu?
159
Ilmu Pangiwa
160
Kematian Junggul Mertalaya
161
Pertempuran Sesungguhnya
162
Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163
Rencana
164
Pilihan
165
Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166
Pertarungan di Malam Buta
167
Rencana Selanjutnya
168
Membangun Kembali Rajapura
169
Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170
Prasangka
171
Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172
Menuju ke Kota Kalingga
173
Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174
Resi Sanggabuana
175
Suara Tanpa Wujud
176
Kedatangan Prabu Jayengrana
177
Wejangan
178
Malam Pertama
179
Tanah Lungguh
180
Ajian Bayu Swara
181
Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182
Kelompok Bulan Sabit Darah
183
Sebelas Bayangan
184
Ksatria Lama
185
Upacara Penyucian Jiwa
186
Persiapan Penobatan
187
Dukungan
188
Paksijandu dan Nalini
189
Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190
Penjara
191
Hidup atau Mati
192
Jimat Keong Buntet
193
Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194
Panji Manggala Seta
195
Pakuwon Weling
196
Di Pertapaan Panumbangan
197
Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198
Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199
Tantangan Ki Pancatnyana
200
Pedang Tulang Iblis
201
Maharesi Padmanaba
202
Syarat dari Dyah Kirana
203
Dyah Kirana
204
Ajian Chanda Bhirawa
205
Istri Kelima
206
Kediaman Lurah Wanua Ranja
207
Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208
Ki Kalawisesa dan Wigati
209
Tawon Raksasa
210
Akhir Sebuah Dendam
211
Iblis Gunung Kawi
212
Nawala dari Prabu Jayengrana
213
Kedewasaan Gayatri
214
Kroco
215
Dewa dari Kahyangan
216
Menuju Pakuwon Tumapel
217
Kawan Baru
218
Lelaki Di Dalam Kabut
219
Malam di Tepi Hutan
220
Titah Prabu Jayengrana
221
Pendekar Golok Angin
222
Sandyakala di Langit Seloageng
223
Sandyakala di Langit Seloageng 2
224
Racun Penghancur Hati
225
Situasi Genting
226
Mengejar Penculik Ayu Ratna
227
Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228
Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229
Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231
Persiapan
232
Bantuan dari Lodaya
233
Saatnya Telah Tiba
234
Rencana Kedua
235
Senjata Cadangan Jenggala
236
Siapa Dia Sebenarnya?
237
Kemenangan di Selatan
238
Pasukan Gajah
239
Pimpinan Sementara
240
Mimpi Dewi Anggarawati
241
Orang-orang Wanua Karang Pulut
242
Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243
Perang Kota Kunjang
244
Perang Kota Kunjang 2
245
Perang Kota Kunjang 3
246
Perang Kota Kunjang 4
247
Perang Kota Kunjang 5
248
Akhir Perang Kota Kunjang
249
Akhir Perang Kota Kunjang 2
250
Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251
Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252
Bidadari Gunung Arjuna
253
Pangeran Ganeshabrata
254
Bantuan Yang Di Janjikan
255
Akhir Peperangan
256
Tabir Yang Mulai Tersingkap
257
Kembali ke Kotaraja Daha
258
Mulut Seorang Pelacur
259
Putri Akuwu
260
Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261
Intrik Istana
262
Bukan Pendekar Sembarangan
263
Pulang ke Seloageng
264
Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265
Permintaan Eyang
266
Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267
Dewi Anggrek Bulan
268
Gerimis
269
Ki Jatmika
270
Kisah Kelam Anggrek Perak
271
Wangsit
272
Pertapaan Gunung Penanggungan
273
Rajah Smaradahana
274
Menuju Kotaraja Kahuripan
275
Putri Uttejana
276
Adu Jago
277
Bidadari Bertopeng Perak
278
Melawan Nini Raga Setan
279
Ajian Malih Rupa
280
Bahaya Besar
281
Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282
Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283
Mpu Purwa
284
Keruwetan Demung Gumbreg
285
Warung Kembang Sore
286
Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287
Istana Perut Bumi
288
Istana Perut Bumi 2
289
Wanita Berambut Api
290
Jati Diri Dyah Kirana
291
Jati Diri Dyah Kirana 2
292
Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295
Dewi Lembah Wilis
296
Dewi Lembah Wilis 2
297
Dewi Lembah Wilis 3
298
Hutan Larangan
299
Wujud Yang Tidak Berjasad
300
Cerita Sepasang Kekasih
301
Para Penghadang
302
Adipati Arya Natakusuma
303
Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304
Sayembara Panjalu
305
Mencari Pujaan Hati
306
Pendopo Agung Istana Katang-katang
307
Setan Berwujud Manusia
308
Melawan Prabu Gendarmanik
309
Melawan Prabu Gendarmanik 2
310
Gayatri Hamil?
311
Lodaya Menagih Janji
312
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316
Perubahan
317
Singgasana Panjalu
318
Lelaki Tua Berambut Merah
319
Demung Gumbreg
320
Rencana Busuk Para Pejabat
321
Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322
Ulah Rara Kinanti
323
Utusan dari Anjuk Ladang
324
Iblis Bukit Manoreh
325
Malam Pertama Rara Kinanti
326
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328
Keangkuhan
329
Woro dan Wati
330
Menuju Ke Barat
331
Perbatasan Kadipaten Lewa
332
Rampok Kelabang Merah
333
Salah Masuk
334
Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338
Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339
Rencana Selanjutnya
340
Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341
Teka Teki
342
Putri Pertama
343
Murid Padepokan Padas Putih
344
Saudara Seperguruan
345
Bupati Baru Gelang-gelang
346
Hal Yang Ditunggu
347
Kadiri Kesaput Surup
348
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354
Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!