Di dalam Istana Pakuwon Widoro, seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal yang telah di tumbuhi uban nampak tersenyum puas mendengar laporan Ki Condro mengenai Kantil sang gadis desa yang di bawa Ki Condro tadi siang. Pria berusia sekitar 4 dasawarsa setengah ini langsung merogoh kantong baju nya, mengeluarkan sekantong kepeng emas dan melemparkannya pada Ki Condro. Dia adalah Sastrogalih, Akuwu Widoro yang terkenal dengan kegemarannya menikmati gadis muda.
Dengan sigap Ki Condro menangkap kantong kepeng emas itu dan tersenyum lebar.
"Kerja mu bagus, Condro..
Purnama depan carikan lagi aku gadis muda. Setelah aku puas bermain dengan nya, terserah padamu mau kau apakan perempuan itu", ujar Akuwu durjana itu segera.
"Condro siap melaksanakan perintah Gusti Akuwu dengan senang hati.
Lantas bagaimana dengan gadis muda yang purnama kemarin aku bawa untuk Gusti Akuwu?", tanya Ki Condro sembari tersenyum simpul.
"Ambil saja. Dia sudah tidak menggigit lagi seperti waktu pertama kali aku bermain dengan nya hahahaha ", Akuwu Sastrogalih tertawa terbahak bahak.
"Condro mengerti, Gusti Akuwu..
Hamba akan segera membawa gadis itu agar tidak menggangu kenyamanan Gusti Akuwu hehe", Ki Condro membungkukkan badannya pada Akuwu Sastrogalih sebelum mundur dari tempat itu. Dengan langkah tenang, dia menuju ke arah bangunan barat Istana Pakuwon Widoro tempat yang di gunakan Sastrogalih sebagai tempat peristirahatan pribadi nya untuk menikmati tubuh gadis muda yang di bawa Ki Condro.
Tak seorangpun di istana Pakuwon Widoro yang diijinkan masuk ke dalam tempat itu kecuali Ki Condro, dua orang pelayan dan dua orang petugas kebersihan. Gapura tempat itu di jaga ketat oleh para prajurit Pakuwon Widoro atas perintah Sang Akuwu.
4 orang prajurit penjaga langsung membungkuk hormat kepada Ki Condro saat pria itu memasuki gerbang bangunan barat. Tanpa menghiraukan mereka, Ki Condro terus melangkah masuk ke dalam puri.
Seorang wanita muda nampak duduk di tepi ranjang tidur besar dengan wajah pucat. Meski mengenakan pakaian bagus dengan perhiasan emas yang banyak, namun tak sedikitpun ada raut kebahagiaan di wajahnya.
Di sampingnya, seorang gadis muda lainnya tengah dalam keadaan terikat. Mulutnya di sumpal kain dan matanya sembab seperti habis menangis. Sisa air mata nampak masih ada di sudut matanya. Gadis itu adalah Kantil, putri Nyi Murti dari Wanua Drenges yang di bawa Ki Condro tadi siang.
"Dengarkan omongan ku, sobat..
Sebaiknya kau pasrah saja menerima nasib. Percuma kau berontak karena tidak seorangpun yang bisa menolong mu. Awal aku datang, aku juga seperti mu. Aku tidak terima dengan keadaan ku seperti ini, tapi aku juga tidak berdaya.
Hari ini aku bebas dan kau yang menggantikan ku. Selama satu purnama ke depan kau akan jadi budak nafsu Akuwu Sastrogalih.
Semoga kamu kuat menerima siksa neraka ini walaupun kita belum mati", ujar si gadis yang mengenakan pakaian serba hijau itu.
Belum sempat si gadis meneruskan omongan nya, tiba tiba pintu kamar tidur itu terbuka lebar dan wajah Ki Condro tersembul di sana dengan senyuman menjijikkan nya.
"Ah Manisri...
Rupanya kau sudah tahu bahwa hari ini kau bebas ya hehehehe... Ayo kita keluar dari tempat ini.
Dan kau Kantil,
Nikmatilah hidup mu menjadi gundik Gusti Akuwu Sastrogalih selama satu purnama ke depan hahahaha", ujar Ki Condro sambil tersenyum lebar lalu menarik tangan wanita muda yang bernama Manisri itu keluar dari dalam kamar tidur, meninggalkan Kantil sendirian disana.
Mereka berdua segera menutup pintu kamar dan berjalan menuju ke arah gapura bangunan barat istana Pakuwon Widoro. Setelah melewati para penjaga, Ki Condro terus menggelandang tangan Manisri kearah pintu gerbang istana. Para prajurit penjaga gapura hanya menatap iba kearah Manisri.
"Ki Condro,
Sekarang aku sudah bebas. Aku ingin kembali ke kampung ku", ujar Manisri sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Ki Condro.
"Sudah bebas?
Siapa yang bilang begitu Manisri?", Ki Condro menghentikan langkahnya dan menatap wajah cantik Manisri sambil menyeringai lebar.
"Tempo hari kau sudah berjanji pada ku. Selepas satu purnama kau akan mengantar ku pulang ke kampung ku, Ki Condro. Apa kau lupa?", Manisri menatap wajah Ki Condro.
"Ah itu ya. Aku tidak lupa, tapi kau itu hanya bebas dari Gusti Akuwu Sastrogalih tapi tidak dengan ku Manisri.
Kau sangat cantik, sayang jika aku tidak sempat mencicipi nya hehehe", Ki Condro tersenyum lebar.
"Apa maksud ucapan mu, Ki Condro?
Apa jangan-jangan kau mau ingkar janji ha?", nada suara Manisri mulai meninggi.
"Pelankan suara mu, gadis cantik. Kita masih di gerbang istana.
Aku pasti akan mengantar mu pulang ke kampung mu asal kau melayani ku selama satu pekan hehehehe", ujar Ki Condro sambil menggelandang tangan Manisri keluar dari istana Pakuwon. Empat orang prajurit penjaga hanya membungkukkan badannya pada Ki Condro yang menarik tangan gadis muda itu.
"Lepaskan aku, bandot tua!
Aku tidak mau melayani mu. Cepat lepaskan aku!", Manisri meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya kalah di bandingkan dengan kekuatan Ki Condro.
Dua orang pengawal pribadi Ki Condro yang menunggu di luar pintu gerbang istana Pakuwon, langsung mencekal lengan Manisri begitu Ki Condro sampai. Dengan paksa, Manisri di masukkan ke dalam kereta kuda yang segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat. Saat melintasi jalan yang sepi, tiba tiba..
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Dua senjata rahasia berwarna putih keperakan melesat cepat kearah leher dua orang pengawal pribadi Ki Condro yang mengendalikan kereta kuda. Dua orang itu langsung roboh tak bernyawa setelah dua senjata rahasia itu menembus leher mereka berdua. Kereta kuda menjadi kehilangan arah dan bergoyang tak beraturan. Dua orang berpakaian serba hitam meloncat ke atas kereta kuda dan melemparkan dua mayat pengawal pribadi itu.
Ki Condro geram dengan ketidaknyamanan nya, langsung berteriak lantang dari dalam kereta.
"Hentikan kereta ini!"
Mendengar ucapan itu, tali kekang kuda langsung di tarik dan kereta kuda langsung berhenti seketika. Dengan penuh kemurkaan, Ki Condro membuka pintu kereta dan mengeluarkan separuh anggota badannya.
"Hei, apa yang sedang ka...."
Belum sempat Ki Condro menyelesaikan omongannya, satu tangan menarik kerah baju Ki Condro dan melemparkannya ke tengah jalan raya yang sepi.
Ki Condro berusaha bangkit namun belum tegak dia berdiri, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Plllaaakkkkk!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Kerasnya tamparan itu membuat Ki Condro langsung kehilangan dua gigi depan nya. Pria itu ambruk ke tanah dengan darah mengalir dari mulut.
"Kurang ajar kalian!
Apa kalian tidak tahu siapa aku ha? Prajurit Pakuwon Widoro akan membunuh kalian jika ber...."
Plllaaakkkkk!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Kembali satu tamparan keras menghajar pipi Ki Condro. Darah semakin banyak keluar dari mulut Ki Condro. Saat salah satu sosok berpakaian hitam-hitam itu hendak menampar lagi, Ki Condro langsung bersujud kepada nya.
"Ampuni aku pendekar..
Aku tidak berani lagi. Tolong ampuni nyawa ku. Akan ku serahkan semua harta ku padamu, tolong jangan bunuh aku", ujar Ki Condro sambil menghaturkan dua kantong kepeng emas dan perak pada dua sosok berpakaian hitam-hitam itu. Salah seorang langsung menyambar dua kantong kepeng itu.
"Kantong kepeng ini hanya bisa mengampuni nyawa mu sedikit. Jika kau bisa menunjukkan dimana tempat gadis dari Wanua Drenges yang kau culik tadi siang, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk mengampuni nyawa mu", ujar salah seorang berpakaian hitam-hitam itu dari balik cadar hitam nya. Muka Ki Condro langsung cerah seketika namun satu suara wanita membuat nya pucat kembali.
"Aku tahu dimana gadis itu berada. Asal kalian membunuh lelaki bejat itu, aku akan tunjukkan dimana tempatnya", ujar Manisri sambil melangkah keluar dari dalam kereta kuda. Dua sosok berpakaian hitam-hitam itu saling berpandangan sejenak, mengangguk mengerti dan menoleh ke arah Ki Condro yang pucat pasi.
"Jangan dengarkan ocehan perempuan gila itu!
Aku yang paling tahu dimana tempatnya", Ki Condro mendelik penuh kemarahan pada Manisri.
"Hoh begitu rupa nya..
Penjahat seperti mu memang pantas untuk mendapatkan hukuman yang setimpal", ujar salah seorang sosok berpakaian hitam-hitam itu yang seperti perempuan sembari memegang kepala Ki Condro dan memelintir nya dengan cepat.
Krreeeeekkkkkk!!!
Kepala Ki Condro langsung terkulai lemas setelah lehernya patah. Orang paling di benci di seantero wilayah Pakuwon Widoro itu tewas dengan posisi kepala nya berbeda dari umumnya.
Usai menghabisi nyawa Ki Condro dua sosok berpakaian hitam-hitam itu mendekati Manisri. Dengan seksama, Manisri menceritakan tentang keadaan Si Kantil dan letak tempat yang menjadi arena penyekapan nya.
"Cepatlah kalian bertindak.
Jika tidak segera, aku takut kalian tidak sempat menyelamatkan gadis itu dari nafsu binatang Akuwu Sastrogalih", ujar Manisri menutup omongannya.
"Kalau begitu, kau hati-hatilah pergi dari sini. Kami pergi dulu", setelah salah seorang bicara, dua sosok berpakaian hitam-hitam itu langsung melenting tinggi ke udara dan menghilang di kegelapan malam.
Sedangkan Manisri bergegas berlari menuju ke arah selatan kota Pakuwon Widoro. Kegelapan malam melindungi perjalanannya.
Dua sosok berpakaian serba hitam yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus bergerak cepat diatas bangunan di sekitar istana. Satu gerakan cepat, mereka mendarat di atas tembok istana sebelah barat sesuai dengan petunjuk Manisri.
Dua pasang mata terus mengawasi pergerakan mereka dari atas pohon sawo besar yang ada di selatan bangunan barat Istana Pakuwon Widoro.
"Taji,
Itu tempat yang di bicarakan perempuan tadi. Ayo kita kesana", kata Gayatri usai mengamati situasi sekitarnya. Panji Tejo Laksono mengangguk. Dua orang itu segera melesat cepat ke atas atap bangunan barat.
Taph Taphh!!
Mereka mendarat dengan sempurna di atas atap bangunan istana. Perlahan mereka membuka atap bangunan yang terbuat dari ijuk aren dan daun alang-alang kering untuk mengintip.
Di dalam kamar, Akuwu Sastrogalih sudah merobek sebagian pakaian Kantil. Pria paruh baya itu menyapukan lidahnya ke bibir dengan pandangan penuh nafsu melihat kemolekan tubuh gadis muda di depannya.
"Kantil,
Malam ini akan ku nikmati tubuh molek mu. Nikmatilah sentuhan ku", ucap Akuwu Sastrogalih sembari melepaskan sabuk celana nya.
Saat yang bersamaan, dua sosok berpakaian hitam-hitam meluncur turun dari atap bangunan istana usai membongkar sebagian atap.
Kedatangan mereka membuat kaget Akuwu Sastrogalih.
"Kurang ajar!
Siapa kalian? Berani beraninya menerobos masuk ke istana Pakuwon Widoro", hardik Akuwu Sastrogalih dengan cepat.
"Siapa kami itu tidak penting, yang pasti kami akan menghajar pejabat bejat seperti mu!", teriak Gayatri sambil mengayunkan pukulan ke arah Sastrogalih.
Pria paruh baya yang setengah bajunya sudah terlepas itu segera menangkis, lalu membalas mengibaskan tangan kanannya ke arah Gayatri. Perempuan yang menyamar sebagai laki laki itu merunduk sedikit, memutar badannya, lalu dengan cepat menyikut pinggang Sastrogalih dengan keras.
Bhhhuuuuuuggggh!!
Sastrogalih nyaris terjungkal saat sikut Gayatri menghajar pinggangnya. Akuwu Widoro itu dengan cepat jungkir balik menggunakan bahu, lalu menyambar keris nya yang tergeletak di meja. Segera dia mencabut keris nya, kemudian menyerang maju ke arah Gayatri.
Shreeeeettttthhh!!
Gayatri berkelit ke samping, lalu memutar tubuhnya sembari menyapu kaki Sastrogalih dengan kaki kanan nya.
Whuuutt!!
Penguasa Pakuwon Widoro itu melompat menghindari sapuan kaki Gayatri. Kemudian menerjang turun dengan tusukan keris. Gayatri berguling ke lantai, sembari melemparkan dua belati perak kecil nya ke arah Sastrogalih dengan cepat.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Dengan cepat Sastrogalih membabatkan kerisnya untuk menangkis dua senjata rahasia itu.
Thrangg thrangg!
Dua belati perak berbelok arah dan menancap pada dinding kamar tidur. Namun gerakan cepat Gayatri yang mengayunkan tangannya kearah dada Sastrogalih yang merupakan serangan utama tak sempat di tangkis oleh Akuwu Pakuwon Widoro itu.
Bhhhuuuuuuggggh bhuuukkkhhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!
Sastrogalih menjerit keras. Saat dia masih merasakan kesakitan akibat dua pukulan Gayatri, gadis cantik yang menyamar sebagai laki laki itu segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah dada sang Akuwu durjana.
Dhiiieeeessshh...
Tubuh Akuwu Sastrogalih melayang dan menghantam pintu kamar tidur hingga pintu itu jebol.
Brrruuuaaaaakkkkh!!!
Aarrrggghhhhhhhhh!!!
Jerit kesakitan terdengar keras bersamaan dengan terlemparnya tubuh Sastrogalih ke halaman. Keributan itu segera memancing perhatian para prajurit penjaga gapura bangunan barat Istana Pakuwon Widoro untuk masuk.
Panji Tejo Laksono yang baru membebaskan Kantil, langsung mencekal lengan Gayatri yang hendak memburu Sastrogalih. Dia melihat puluhan prajurit berlari menuju ke arah mereka.
"Cukup Gayatri!
Kita tidak boleh berlama-lama disini", ujar Panji Tejo Laksono sembari menunjuk ke arah para prajurit yang menuju ke arah mereka. Gayatri mendengus keras lalu mengikuti langkah Panji Tejo Laksono yang menyambar tubuh Kantil keatas tembok istana. Mereka menghilang di balik kegelapan malam.
Sastrogalih bangkit dari tempat jatuhnya sambil membekap dadanya yang sesak. Sembari mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, dia berteriak lantang.
"Kejar mereka! Jangan sampai lolos!"
Titir kentongan bertalu-talu tanda adanya bahaya langsung terdengar dari dalam istana. Puluhan prajurit mengejar kearah perginya dua sosok berpakaian hitam-hitam yang membawa kabur Kantil.
Keadaan Kota Pakuwon Widoro yang semula tenang menjadi kacau.
Apalagi setelah mayat Ki Condro dan dua bawahannya di temukan, membuat Sastrogalih semakin marah besar. Dia memerintahkan kepada para prajurit Pakuwon Widoro untuk menyisir seluruh Kota Pakuwon Widoro.
Dari rumah penginapan, para prajurit memperoleh keterangan bahwa ada dua orang asing yang bermalam di tempat itu namun mereka menghilang setelah malam hari tiba.
Sementara Kota Pakuwon Widoro kacau-balau, Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus memacu kuda mereka ke arah selatan.
Hingga menjelang pagi tiba, Sastrogalih yang masih batuk batuk kecil di balai pisowanan Pakuwon Widoro akhirnya menemukan titik terang arah pelarian dua sosok berpakaian serba hitam yang membawa kabur Kantil dari laporan Bekel Prajurit Pakuwon Widoro. Mereka memperoleh keterangan dari seorang penduduk yang melihat dua orang berpakaian hitam-hitam berkuda cepat kearah selatan.
"Gentiri,
Kerahkan seluruh prajurit Pakuwon Widoro untuk mengejar dua bajingan itu uhuk uhuukkkk...
Tangkap mereka hidup atau mati!", perintah Akuwu Sastrogalih dengan keras.
"Baik Gusti Akuwu", Bekel Prajurit Pakuwon Widoro yang bernama Gentiri itu segera menghormat pada sang Akuwu. Dengan segera, puluhan prajurit Pakuwon Widoro bergerak cepat memburu Panji Tejo Laksono dan Gayatri ke selatan.
Sementara itu, lima orang berpakaian hitam-hitam yang mengenakan topeng kayu bercat biru terus mengikuti pergerakan Panji Tejo Laksono dan Gayatri dari kejauhan.
"Sampung,
Kau laporkan situasi kita pada Lembuwana di Kota Kadipaten Tanggulangin. Jika Gusti Tumenggung Ludaka sudah sampai, laporkan langsung padanya.
Kemungkinan pemberhentian Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono adalah Wanua Drenges dan Wanua Tegalan", ujar Guwarsa yang memimpin Pasukan Lowo Bengi yang mengawasi situasi di Istana Pakuwon Widoro sambil terus melesat cepat mengikuti dua orang berkuda di depan nya.
"Aku mengerti Kakang Guwarsa", balas Sampung sembari berbalik arah menuju ke arah Utara.
Panji Tejo Laksono yang menyadari bahwa mereka sedang diikuti, langsung menarik tali kekang kudanya. Gayatri pun mengikuti.
"Ada apa Taji?", tanya Gayatri segera.
"Kau bawa kuda ku dan Kantil. Ada yang perlu aku urus sebentar.
Kau langsung saja ke rumah Nyi Murti. Tunggu aku disana", jawab Panji Tejo Laksono sembari melompat turun dari kudanya. Mendengar ucapan itu, Gayatri mengangguk mengerti dan segera melompat ke atas kuda Panji Tejo Laksono. Dengan cepat ia memacu kudanya menuju ke arah Wanua Drenges.
Sementara itu Panji Tejo Laksono mendengus keras sambil melesat cepat kearah 4 orang berpakaian hitam-hitam yang mengenakan topeng kayu bercat biru. Kecepatan tinggi Ajian Sepi Angin membuatnya dengan cepat muncul di hadapan Guwarsa dan kawan-kawan nya.
"Kenapa kalian mengikuti ku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2024-04-03
0
Mahayabank
Karena kami anak buah pangeran /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-04-03
0
rajes salam lubis
lanjutkan
2023-09-18
0