Panji Tejo Laksono tersenyum lebar. Tahi lalat kecil di atas bibir nya terlihat jelas. Kaligenjong yang melihat itu teringat pada perintah pembunuhan yang pernah mereka terima, langsung melepaskan dua hantaman kearah Nyi Sekar Mirah.
Whuuutt whuuthhh!!
Dua larik sinar hitam redup disertai asap putih berhawa dingin menerabas cepat kearah Nyi Sekar Mirah. Perempuan berjuluk Dewi Selendang Merah itu segera berjumpalitan ke arah samping kanan menghindari Ajian Tapak Setan Pencabut Nyawa yang dilepaskan oleh Kaligenjong.
Blllaaammmmmmmm blammmmm!!
Dua ledakan keras beruntun terdengar. Dua lobang sebesar batu besar tercipta di tempat sinar hitam redup menghantam tanah. Nyi Sekar Mirah berdiri tegak dan mencari keberadaan Kaligenjong yang menjadi lawannya. Rupanya pria bertubuh tinggi kurus itu melesat ke arah Mantrayaksa usai melepaskan ilmu kesaktian nya.
"Mantrayaksa..
Kepala bocah itu punya nilai besar. Kau harus membunuh nya untuk mendapatkan hadiah", ucap Kaligenjong yang sudah berdiri di samping Mantrayaksa yang hendak melesat maju.
"Apa maksud mu Kaligenjong? Mana mungkin bocah tengik seperti dia punya nilai hadiah besar?", sahut Mantrayaksa seakan tak percaya.
"Sudah turuti saja apa omongan ku. Perempuan tua itu tak mungkin membiarkan ku membantu mu, jadi bisa tidaknya kita memperoleh hadiah besar itu semua tergantung pada mu", ujar Kaligenjong yang melihat Nyi Sekar Mirah melesat cepat kearah nya.
Mendengar ucapan Kaligenjong, Mantrayaksa tersenyum lebar sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada golok besar nya. Senjata besar lagi berat itu mengeluarkan semacam pamor aneh berwarna hijau kehitaman. Setelah itu Mantrayaksa melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari membabatkan golok besar nya.
"Golok Pembelah Badai..
Hiyyyyaaaaaaaatttttt.....!!!"
Sinar tipis setajam pedang berwarna hijau kehitaman di sertai angin kencang menderu layaknya badai menebas ke arah Panji Tejo Laksono.
Whhhuuuuuttttthhhh!!!
Panji Tejo Laksono menghentak tanah dengan keras, tubuh tegapnya langsung melenting tinggi ke udara menghindari sabetan sinar hijau kehitaman yang di lepaskan oleh golok besar Mantrayaksa. Sinar hijau kehitaman itu terus bergerak cepat ke arah belakang.
Adijaya yang baru saja menghantam kepala seorang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah, terkejut bukan main melihat sinar tipis hijau kehitaman yang menerabas cepat kearah nya. Menggunakan tongkat bambu kuning nya dia melindungi diri nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Hooeeeggghh!!!
Darah segar muncrat keluar dari mulut Adijaya saat ledakan dahsyat tercipta ketika sinar hijau kehitaman itu membentur tongkat bambu kuning nya. Murid Perguruan Bambu Kuning itu langsung terpental ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Arini langsung memburu ke arah Adijaya yang terluka dalam serius.
Melihat itu, Panji Tejo Laksono yang baru saja mendarat langsung geram bukan main. Dia segera menyalurkan tenaga dalam nya pada pedang bilah dua warna nya. Dua pamor berwarna hitam dan putih tercipta pada pedang di tangan sang pangeran muda.
Mantrayaksa yang melihat serangan nya tidak sampai pada tujuan, kembali mengayunkan golok besar nya ke arah Panji Tejo Laksono. Selarik sinar tipis hijau kehitaman kembali melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Kali ini Panji Tejo Laksono mengayunkan pedangnya kearah serangan lawan sambil berteriak lantang.
"Jurus pamungkas Pedang Tanpa Bayangan.
Pedang Pemusnah Iblis...
Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt....!!!!"
Dua larik sinar hitam putih bergulung gulung di sertai angin kencang berputar melesat cepat kearah sinar tipis hijau kehitaman dari golok besar Mantrayaksa.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat sinar hitam putih bergulung gulung itu menghantam sinar hijau kehitaman yang dilepaskan golok besar Mantrayaksa. Hebatnya lagi, sinar hitam putih bergulung gulung itu tidak berhenti namun terus merangsek ke arah Mantrayaksa.
Blllaaammmmmmmm!!
Mantrayaksa terpental jauh ke belakang meski sempat menyilangkan golok besar untuk menahan sinar hitam putih bergulung gulung itu. Dia jatuh menghantam tanah dengan keras. Dari mulutnya keluar darah segar terus menerus. Pria bertubuh tinggi besar itu mengejang sesaat sebelum tewas dengan seluruh lobang tubuhnya mengeluarkan darah.
Semua orang terkejut melihat kematian Mantrayaksa, si raksasa tinggi besar yang menjadi orang nomor dua di kelompok Bulan Sabit Darah pimpinan Ki Suratimantra. Tak terkecuali Kaligenjong sahabat karibnya.
Perhatian Kaligenjong sedikit teralihkan oleh kematian Mantrayaksa. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Nyi Sekar Mirah. Perempuan cantik paruh baya itu langsung menghantamkan ujung Selendang Merah nya ke arah dada kurus Kaligenjong.
Whhhuuuggghhhh..
Kaligenjong yang tersadar bahwa dia dalam bahaya berusaha keras untuk menahan hantaman Selendang Merah Nyi Sekar Mirah dengan kedua tangannya bersilangan di depan dada.
Blllaaaaaarrr!!
Pria bertubuh kurus itu terdorong mundur sejauh 2 tombak. Dari mulutnya darah segar muncrat keluar. Belum sempat Kaligenjong berhenti, Nyi Sekar Mirah sudah melompat tinggi ke udara sembari menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna merah kekuningan kearah Kaligenjong.
Whhhuuuggghhhh..
Blllaaammmmmmmm!!!
Pria bertubuh kurus itu hanya bisa pasrah saat sinar merah kekuningan menghantam tubuhnya yang masih terdorong mundur. Kaligenjong terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah becek di pelataran Pertapaan Bukit Rance. Pria itu tewas dengan tubuh menghitam.
Kematian Mantrayaksa disusul dengan Kaligenjong membuat Ki Suratimantra murka. Pria bertubuh gempal dengan wajah aneh mirip babi hutan itu mendengus keras.
"Hahahaha..
Dua orang terkuat mu sudah mampus Suratimantra. Sekarang giliran mu menyusul mereka ke neraka!", Ki Kagendra tersenyum lebar. Meski tadi dia sudah bertarung puluhan jurus dengan Ki Suratimantra, namun masih belum ada tanda tanda kemenangan. Kematian dua orang bawahan Ki Suratimantra akan membuat pria berwajah aneh itu bertarung serampangan.
Dugaan Ki Kagendra ternyata tidak salah. Ki Suratimantra langsung mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk merapal ajian andalan nya. Dia menjatuhkan diri ke tanah seperti merangkak. Tubuhnya perlahan muncul bulu tebal berwarna abu-abu hitam dan perlahan-lahan terus membesar sebesar kerbau. Wajah nya menjorok maju hingga seperti babi hutan dengan dua taring besarnya. Matanya merah menatap liar ke arah semua orang yang ada di tempat itu.
Itu adalah Ajian Wrahapati, sebuah ilmu perubahan wujud yang membuat pengguna nya berubah menjadi babi hutan raksasa yang memiliki tenaga berpuluh kali lipat.
"Celaka!
Itu Ajian Wrahapati. Semuanya mundur!", teriak Ki Kagendra yang membuat kawan nya mundur beberapa langkah.
Ki Kagendra melompat mundur beberapa tombak ke belakang dan berdiri di samping Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Nyi Sekar Mirah yang takjub dengan perubahan wujud Ki Suratimantra.
Sedangkan Adijaya yang terluka dalam parah di papah Arini ke serambi utama Pertapaan Bukit Rance. Mpu Kerta segera menolongnya. Mpu Sumba memilih untuk tidak melanjutkan pertarungan nya dengan dua orang anak buah Ki Suratimantra karena khawatir dengan keselamatan semua orang.
"Ilmu sesat!
Kita tidak bisa mengalahkan babi hutan itu jika bertarung sendiri sendiri. Semuanya serang Suratimantra dari arah yang berbeda", ujar Ki Kagendra yang pernah menghadapi Ki Suratimantra menggunakan ilmu itu.
Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Nyi Sekar Mirah mengangguk mengerti apa maksud Ki Kagendra.
"Aku dan Dewi Selendang Merah akan memancing perhatian babi hutan itu dari depan. Gayatri dan Taji Lelono serang dari samping. Cepat berpencar!", perintah Ki Kagendra yang membuat Panji Tejo Laksono bergerak cepat ke kanan dan Gayatri melesat ke kiri.
Ki Kagendra segera mengerahkan tenaga dalam nya pada cakar tangan nya. Kuku kuku jari jemari tangannya memanjang dengan warna hitam dan setajam kuku rajawali. Dia mengeluarkan Ajian Rajawali Sakti yang membuat nya mampu merobek tubuh lawan dengan kuku jari nya juga mampu bergerak lincah seperti terbang layaknya seekor burung rajawali.
Nyi Sekar Mirah pun mengeluarkan ilmu pamungkas nya. Selendang Merah nya semakin terlihat terang karena perempuan cantik paruh baya itu menggunakan Ajian Selendang Kayangan Api.
Ki Suratimantra dalam wujud babi hutan mendengus keras lalu berlari cepat kearah Ki Kagendra. Nyi Sekar Mirah langsung memutar selendang nya hingga menciptakan angin panas yang berputar cepat. Angin menderu kencang kearah Ki Suratimantra yang berlari cepat kearah nya. Debu beterbangan bersama daun kering menghalangi pandangan mata Ki Suratimantra.
Sekali hentakan, tubuh Ki Kagendra melompat tinggi ke udara bagai terbang dan meluncur turun ke arah babi hutan besar yang melaju ke arah Nyi Sekar Mirah layaknya seekor burung rajawali menerkam mangsa.
Shrraaaakkkkhhhh!!!
Kuku jari tangan Ki Kagendra mencakar moncong babi hutan itu. Darah mengucur deras dari luka cakaran itu namun babi hutan besar itu seperti tidak merasakan sakit meski sempat mengeluarkan suara, terus berlari cepat kearah Nyi Sekar Mirah untuk menabrak nya. Hantaman Panji Tejo Laksono dengan Ajian Tapak Dewa Api pun seperti tidak berpengaruh pada tubuh babi hutan besar itu, begitu pula serangan pisau terbang Gayatri.
"Awas Nyi Sekar Mirah!"
Mendengar teriakan Ki Kagendra, Nyi Sekar Mirah langsung melompat menghindari tubrukan Ki Suratimantra yang berwujud babi hutan besar.
Brrruuuaaaaakkkkh...
Kraaatttaaakkkk... Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Sebuah pohon sawo besar di halaman Pertapaan Bukit Rance langsung patah dan roboh terkena tubrukan Ki Suratimantra. Babi hutan besar itu menggoyang badannya sebelum memutar tubuhnya dan kembali menatap tajam ke arah orang yang mengeroyoknya.
"Nggguuuiiiikkkk....
Nguuuiiikkkkkkk!!!"
Kaki depan kanan babi hutan besar perwujudan dari Ki Suratimantra menggaruk ke tanah beberapa kali sebelum kembali berlari kencang kearah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
Nyi Sekar Mirah kembali memutar selendang nya sementara Ki Kagendra bersiap untuk melakukan serangan seperti tadi. Saat angin panas berseliweran menerbangkan dedaunan dari selendang Nyi Sekar Mirah, Ki Kagendra melompat tinggi ke udara lalu meluncur turun sembari mengayunkan kuku jari tangan nya.
Tiba-tiba gerakan babi hutan besar itu berubah dengan kaki belakang melompat tinggi hingga tubuhnya seperti terbanting sedangkan moncong nya yang bertaring mengibas ke arah Nyi Sekar Mirah. Gerakan ini menghindari cakaran kuku Ki Kagendra sekaligus menyerang Nyi Sekar Mirah dan Gayatri
"Celaka!
Cepat menghindar!!!"
Peringatan Ki Kagendra sedikit terlambat. Nyi Sekar Mirah terlempar jauh arah pagar pertapaan sedangkan Gayatri yang meski terlambat masih sempat menahan hantaman kaki belakang babi hutan besar itu. Dia terdorong mundur beberapa langkah sambil memuntahkan darah segar. Nyi Sekar Mirah pingsan usai muntah darah segar.
Babi hutan besar itu segera berdiri kembali dan seolah tersenyum menatap satu lawan nya telah tumbang.
Nggguuuiiiikkkk!!!
Terdengar suara babi hutan besar itu melengking tinggi yang membuat sakit gendang telinga.
"Taji, Gayatri..
Sepertinya kelemahan nya terletak pada kedua mata. Saat aku menahan gerakan tubuhnya, dengar aba-aba dari ku, kalian serang mata babi hutan itu", ujar Ki Kagendra yang langsung mendapat anggukan kepala dari Panji Tejo Laksono dan Gayatri.
Babi hutan besar perwujudan dari Ki Suratimantra itu kembali menerjang maju ke arah Ki Kagendra. Panji Tejo Laksono dan Gayatri langsung berpencar ke arah berbeda. Ki Kagendra melesat ke arah babi hutan besar itu lalu segera memegang kedua taring nya.
Walhasil gerakan tubuh babi hutan besar itu melambat karena beradu tenaga dengan Ki Kagendra. Pria paruh baya itu langsung muntah darah karena masih terdorong meski sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam nya. Segera dia berteriak lantang.
"Sekarang!!!"
Mendengar aba aba Ki Kagendra, Panji Tejo Laksono dan Gayatri langsung melesat cepat kearah kepala babi hutan besar itu dan menusukkan senjata tajam mereka ke arah mata babi hutan besar itu.
Jllleeeeeppppphhh...
Nggguuuiiiikkkk!!!!!!
Babi hutan besar itu menjerit keras. Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Ki Kagendra langsung melompat menjauh dari babi hutan besar yang terus meloncat-loncat kesakitan. Darah segar terus mengucur dari kedua mata babi hutan besar itu. Tak berapa lama kemudian gerakan nya melemah dan roboh ke tanah.
Perlahan babi hutan besar itu berubah wujud kembali menjadi Ki Suratimantra dengan kedua matanya mengeluarkan darah. Setelah mengejang hebat sebentar, Ki Suratimantra tewas bersimbah darah.
Sementara itu dua orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa, langsung melesat turun dari lereng Bukit Rance saat melihat Ki Suratimantra terbunuh oleh Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Ki Kagendra. Mereka menghilang di balik rimbun pepohonan dan semak belukar yang tumbuh subur di lereng Bukit Rance.
Ki Kagendra segera berjalan menuju ke arah Nyi Sekar Mirah yang masih pingsan di tepi pagar. Tangan pria paruh baya itu segera memeriksa urat nadi sang perempuan cantik itu. Begitu mengetahui Nyi Sekar Mirah hanya pingsan, seulas senyum tersungging di bibir Ki Kagendra. Dia segera membopong tubuh Nyi Sekar Mirah ke serambi utama Pertapaan Bukit Rance untuk mendapatkan pertolongan.
Panji Tejo Laksono juga memapah Gayatri yang berjalan sedikit terhuyung huyung karena sempat terkena hantaman kaki belakang babi hutan besar itu. Mereka segera bergegas menuju ke arah serambi dimana semua orang yang terluka mendapat pengobatan.
Mpu Sumba segera memerintahkan kepada para cantrik dan murid Pertapaan Bukit Rance untuk mengurusi mayat mayat anggota Kelompok Bulan Sabit Darah dan Ki Suratimantra.
Sore itu hujan deras kembali mengguyur wilayah Bukit Rance dan sekitarnya.
Setelah tiga hari beristirahat di Pertapaan Bukit Rance untuk memulihkan luka dalam Gayatri akibat amukan Ki Suratimantra, Panji Tejo Laksono akhirnya bisa meneruskan perjalanan nya.
Selama tiga hari, Panji Tejo Laksono menggunakan waktu untuk belajar dan terus belajar berbagai ilmu tata negara dan hukum yang di pinjamkan oleh Mpu Sumba dan Mpu Kerta. Kedua pandita tua itu senang sekali melihat semangat Panji Tejo Laksono dalam belajar sembari menunggu kesembuhan Gayatri.
Nyi Sekar Mirah dan Ki Kagendra serta Adijaya dan Arini yang lebih cepat pulih, sudah meninggalkan Bukit Rance untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Aku mohon pamit, Resi..
Terimakasih banyak sudah berbaik hati pada kami selama disini", ujar Panji Tejo Laksono yang kemudian membungkuk hormat kepada Mpu Sumba dan Mpu Kerta yang mengantar Panji Tejo Laksono dan Gayatri di kaki Bukit Rance.
"Itu tidak seberapa pendekar muda..
Kalau suatu hari kalian lewat tempat ini, pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk kalian", ujar Mpu Sumba dengan cepat.
"Aku doakan semoga kalian berdua selalu dalam lindungan Hyang Akarya Jagat.
Selamat jalan, Taji Lelono", timpal Mpu Kerta sembari tersenyum tipis.
Panji Tejo Laksono dan Gayatri langsung melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kuda tunggangan mereka ke arah barat.
Setelah melewati hutan jati tempat pertarungan mereka tempo hari, Panji Tejo Laksono terus menggebrak kudanya memasuki wilayah Kadipaten Tanggulangin diikuti oleh Gayatri.
Begitu sampai di persimpangan jalan, Panji Tejo Laksono menarik tali kekang kudanya. Gayatri pun mengikuti nya dan bertanya kepada Panji Tejo Laksono.
"Kita akan kemana Taji?", Gayatri menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Sambil mengusap dagunya, pangeran muda itu berkata,
"Kita akan ke Wengker"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2024-04-03
0
rajes salam lubis
lanjutkan mantap
2023-09-16
2
Mr. jooosss
lanjuuut terus
2023-04-21
1