"Mati kenapa Mbreg? Kog pakai mati segala?", Tumenggung Ludaka menatap heran kearah Demung Gumbreg yang wajahnya sudah mirip porselen cina saking pucatnya.
"I-itu duit jatah makan sama uang saku perjalanan kemari Lu..
Selain itu aku juga tidak membawa duit lagi. Terus bagaimana cara nya aku pulang ke Kotaraja Kadiri Lu?", Demung Gumbreg kebingungan setengah mati.
"Ya naik kuda to Mbreg..
Masak kau mau jalan kaki? Kota Lodaya ke Kotaraja Kadiri bisa sepekan loh jika kamu jalan kaki", ucap Tumenggung Ludaka dengan santainya.
"Eh kampret, kalau itu aku juga tahu..
Masalah nya, aku tidak punya duit lagi untuk beli makanan dan ongkos perahu Lu. Itu yang aku pikirkan", Demung Gumbreg kesal dengan sikap kawan karibnya itu.
"Minta saja dengan Gusti Pangeran Arya Tanggung, pasti di kasih Mbreg", Tumenggung Ludaka tersenyum simpul.
"Dasar gak punya rasa setia kawan..
Mau di taruh dimana muka aku Ludaka, kalau aku sampai minta uang saku pada Gusti Pangeran Arya Tanggung. Kau ini ya benar benar mengesalkan", Gumbreg semakin kesal. Sepertinya Tumenggung Ludaka berhasil membuat Demung Gumbreg mati kutu.
"Ya di kepala Mbreg, masak di pantat?
Makanya kalau uang saku pas-pasan jangan sok royal pakai kasih saweran pada tledek. Sekarang kebingungan sendiri kan?", Tumenggung Ludaka tersenyum tipis.
"Kau juga ikut menonton, memangnya gak ikut nyawer?", tanya Demung Gumbreg segera.
"Woh aku sudah menyadari kalau acara seperti itu pasti menguras isi kantong, Mbreg..
Makanya duitnya aku tinggal di dalam kamar", jawab Tumenggung Ludaka sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar licik!
Tapi aku juga heran ya Lu..
Kog bisa ya aku tanpa sadar menyerahkan semua duit ku pada tledek itu ya. Aku merasa ada yang tidak beres dengan para penari itu", Gumbreg mengernyitkan keningnya.
"Iya, aku juga merasakan itu. Tapi sekarang itu tak penting lagi. Sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.
Sekarang kau pikir cara mu pulang ke Kadiri. Tak perlu menyesali yang sudah terjadi", ujar Tumenggung Ludaka segera.
"Benar juga kata kata mu Lu..
Eh duit mu kan masih ada bukan? Aku pinjam duit mu Lu untuk pulang ke Kadiri. Bayaran purnama depan aku kembalikan", Gumbreg memelas.
"Kau yakin purnama depan kau kembalikan?", Tumenggung Ludaka seakan tak percaya.
"Tentu saja Lu..
Masak kau tidak percaya pada ku sih? Kita berkawan karib puluhan tahun", ujar Demung Gumbreg dengan cepat.
"Ah orang yang berhutang selalu begitu awalnya. Manis di depan, busuk belakangan.
Tapi tidak masalah jika bulan depan tak kau kembalikan Mbreg. Aku tinggal bilang ke Juminten soal duitmu yang habis di pakai buat saweran tayub hahahaha", Tumenggung Ludaka tertawa terpingkal-pingkal.
'Dasar teman tak setia. Begitu gembira melihat aku menderita', gerutu Gumbreg dalam hati.
Pagi itu rombongan tamu kehormatan dari Istana Kotaraja Kadiri meninggalkan istana Lodaya. Pangeran Arya Tanggung melepaskan kepergian mereka hingga pintu gerbang istana Tanah Perdikan Lodaya.
Sementara itu di kediaman Nyi Kembang Jenar, Panji Tejo Laksono dan Gayatri berpamitan kepada sang empunya rumah. Mereka melanjutkan perjalanan ke arah barat melewati hutan jati yang lebat di barat Kota Lodaya.
Hutan jati itu memang tengah meranggas karena musim kemarau panjang melanda kawasan Tanah Perdikan Lodaya. Daun-daun kering berserakan dimana-mana. Meskipun jalan itu adalah jalan utama yang menghubungkan wilayah Tanah Perdikan Lodaya, namun jalan itu adalah jalan yang jarang di lewati para pedagang maupun orang yang hendak ke Kadipaten Karang Anom maupun sebaliknya. Mereka umumnya memilih melewati jalan memutar lewat beberapa kampung di tepi sungai Brantas seperti Wanua Besole. Di samping karena hutan nya yang luas, ada banyak binatang buas yang sering muncul di kawasan hutan jati itu.
Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus memacu kuda mereka menyusuri jalan yang membelah hutan jati ini. Hingga hampir matahari diatas kepala, mereka masih belum bertemu seorang pun di jalan itu.
Saat hampir memasuki tepi hutan, sebuah pemandangan yang kurang sedap sedang terjadi di depan mata Panji Tejo Laksono dan Gayatri.
Serombongan pedagang tengah di kepung puluhan lelaki bertubuh kekar dengan tampang sangar. Rupanya para pedagang ini tengah menjadi korban perampokan di siang bolong.
Dua orang berbadan gempal menyeret seorang lelaki paruh baya berkumis tipis ke depan seorang lelaki berwajah bengis. Sepertinya lelaki paruh baya itu adalah pimpinan para pedagang, terlihat dari pakaian nya yang terbuat dari bahan mahal. Sementara anak buah perampok yang lain tampak nya baru menghabisi nyawa para pengawal sang pedagang. Terlihat 4 mayat bergelimpangan bersimbah darah di dekat mereka.
"Ampuni aku, Kisanak..
Kau boleh ambil semua dagangan ku, tapi aku mohon lepaskan aku dan putri ku", ujar Ki Wongsodirjo, sang saudagar kaya sembari menahan rasa sakit pada pipinya yang lebam setelah kena gampar salah seorang anggota perampok.
Phuihhhh..
"Tadi lagakmu seperti orang tak takut mati. Sekarang kau mirip dengan kucing manis yang ketahuan mencuri ikan asin.
Hei Wongsodirjo,
Hari ini aku akan membuat hidup mu menderita hingga rasanya pengen mati secepat nya. Kalian berdua, seret perempuan itu kemari", ujar si pimpinan perampok dengan keras. Dua orang lelaki berpakaian serba hitam langsung menggelandang tangan seorang wanita muda ke depan si pimpinan perampok. Si gadis muda berwajah cantik itu meronta berusaha melepaskan diri namun usahanya sia-sia karena tenaganya tak sepadan dengan dua orang perampok yang menggelandang nya.
"Ma-mau apa kalian? Lepaskan putri ku keparat!", maki Ki Wongsodirjo dengan geram.
Si kepala perampok itu menyeringai lebar dan dengan kasar menyentuh pipi si gadis muda.
"Tenang saja, Wongsodirjo..
Putri cantik mu ini malam ini akan ku tiduri. Sudah lama aku tidak bercinta dengan gadis muda. Pasti akan sangat menggairahkan huahahahahahaha", tawa si pimpinan perampok yang bernama Ki Tambir langsung pecah diikuti oleh para anggota kelompok perampok.
"Chuuiiiiiiihhhh..
Siapa juga yang mau dengan mu tua bangka? Lebih baik aku mati daripada menjadi budak nafsu mu", si gadis muda itu meludahi wajah Ki Tambir. Sorot mata Ki Tambir langsung berubah bengis.
"Gadis sial!
Rupanya kau perlu mendapat pelajaran", teriak Ki Tambir dengan garang.
Plllaaakkkkk!!
Aaauuuuggggghhhhh!!
Si gadis muda itu langsung roboh saat tamparan keras pimpinan kelompok perampok itu mengenai wajahnya. Pipi kanan putri saudagar kaya itu langsung bengkak.
"Jangan lupa disini aku yang berkuasa. Setelah aku puas menikmati tubuh mu malam ini, maka anak buah ku juga akan mencicipi kehangatan tubuh mu, perempuan sundal!", teriak Ki Tambir sembari mengayunkan tangan kanannya untuk menampar pipi sang gadis muda kedua kalinya.
Belum sempat dia sampai, sebuah ranting kering melesat cepat kearah nya dan menangkis tamparan ke arah pipi sang putri pedagang.
Brakk...
Kuatnya lemparan ranting kering membuat tangan Ki Tambir terdorong mundur. Pimpinan perampok itu segera mendengus keras dan melihat ke sekelilingnya. Saat matanya terpaku pada sepasang pemuda yang memakai caping bambu melompat turun dari kudanya, Ki Tambir segera mengerti bahwa salah satu dari mereka adalah pelakunya.
"Keparat!
Ada yang mau jadi pahlawan kesiangan rupanya. Sudah bosan hidup ya?", teriak Ki Tambir yang membuat beberapa anggota perampok itu langsung bergerak mengepung Panji Tejo Laksono dan Gayatri. Suara Ki Tambir seperti isyarat bagi mereka untuk siap bertaruh nyawa.
"Seorang lelaki perkasa menganiaya seorang wanita tak berdaya, betapa rendahnya sifat mu hai durjana...
Kalau kau merasa lebih bijak, kenapa hanya berani menindas orang yang lebih lemah dari mu?", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul dari balik caping bambu yang menutupi sebagian wajah nya yang tampan.
"Tutup mulut mu, bangsat!
Di tempat ini akulah penguasa nya. Jika kau tidak ingin bernasib sama seperti mereka, serahkan harta benda mu lalu pergi dari sini", ujar Ki Tambir dengan lantang.
Hemmmmmmm
"Kau perampok rupanya...
Jadi kau penyebab para pedagang dan orang orang Kadipaten Karang Anom tidak berani melewati tempat ini. Kalau begitu, aku bereskan saja kalian para perusuh", Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah salah seorang anggota perampok yang mengepung nya setelah berkata.
Gerakan sang pendekar muda bercaping bambu ini di luar batas pemahaman para perampok. Satu teriakan keras terdengar dan seorang perampok terjungkal dengan muntah darah.
Saat yang lain masih terperangah melihat kawan nya roboh, terdengar lagi suara jerit kesakitan dari seorang perampok yang lain yang ikut ambruk dengan leher patah.
Ajian Sepi Angin memang membuat pengguna nya mampu bergerak cepat melebihi batas kemampuan ilmu meringankan tubuh para pendekar biasa.
Para perampok yang lain langsung menghunus senjata mereka masing-masing dan bersiap untuk menghadapi lawan. Ki Tambir sendiri langsung mencabut gagang pedang nya yang tersimpan di pinggangnya.
Berturut-turut terdengar jerit kesakitan dan raungan keras diikuti dengan robohnya para anggota perampok, membuat suasana menjadi terbalik. Jika tadi mereka merasa jumawa dengan keunggulan mereka dalam jumlah dan kemampuan beladiri, kali ini para perampok yang tersisa justru ketakutan akan menjadi korban selanjutnya dari kemampuan silat sang pendekar bercaping bambu.
Seorang perampok melihat datangnya serangan Panji Tejo Laksono, langsung mengayunkan goloknya ke arah lawan. Namun mudah saja Panji Tejo Laksono berkelit menghindari kemudian melayangkan pukulan keras kearah rahang sang perampok. Satu kawan nya mencoba untuk membabat punggung Panji Tejo Laksono yang mengarah ke dirinya, tapi sebuah sinar berwarna putih kebiruan dari Gayatri melesat cepat kearah lehernya.
Chrraaasssshhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!
Dua orang perampok langsung tersungkur dalam sekali gerakan Panji Tejo Laksono. Senyum tipis muncul di bibir Panji Tejo Laksono melihat pembokong nya tewas bersimbah darah. Pangeran muda dari Kadiri ini melenting tinggi ke udara, bersalto sekali dan mendarat dengan selamat lalu merubah gerakan tubuhnya. Pendekar muda itu kembali melesat ke arah anggota perampok yang tersisa.
Sementara itu Ki Wongsodirjo yang melihat kejadian itu diam diam menaruh harapan besar agar sang pendekar bercaping bambu mampu membantai para perampok pimpinan Ki Tambir. Begitu juga dengan putri nya dan beberapa orang pesuruh Ki Wongsodirjo berdoa dalam hati mereka, agar sang pendekar dengan cepat mengatasi perusuh di Alas Lodaya itu.
Ki Tambir menggeram keras. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu segera mencabut pedangnya dan menghadang laju pergerakan Panji Tejo Laksono dengan satu sabetan pedang berlapis tenaga dalam.
Shreeeeettttthhh!!
Selarik sinar putih melesat ke arah Panji Tejo Laksono beriringan dengan angin dingin menderu kencang. Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung menjejak tanah dengan keras, melenting tinggi ke udara menghindari sinar putih yang mengancam.
Blllaaaaaarrr!!!
Ledakan keras terdengar saat sinar putih yang berasal dari sabetan pedang Ki Tambir menghajar pohon jati yang daunnya meranggas. Meskipun tidak roboh, pohon jati itu hancur separuh batang.
Masih di udara Panji Tejo Laksono dengan cepat menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api ke arah Ki Tambir.
Whuuutt!
Selarik sinar merah menyala berhawa panas menerabas cepat kearah Ki Tambir. Pimpinan perampok itu langsung menyilangkan pedang nya ke depan dada untuk menahan serangan yang dilepaskan Panji Tejo Laksono.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ki Tambir terdorong mundur sejauh 2 tombak. Darah segar segera mengalir keluar dari sudut bibirnya. Sementara 2 anak buah nya yang berbadan langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan kapak besar mereka begitu sang pendekar bercaping bambu mendarat di tanah.
Whuuuggghh whuuthhh!!
Sekali hentakan, tubuh Panji Tejo Laksono berputar cepat menghindari sabetan kapak besar yang mengarah pada leher dan kaki nya. Tangan Panji Tejo Laksono langsung menghantam punggung lawan yang menyerang kaki dengan Ajian Tapak Dewa Api.
Blllaaammmmmmmm!!
Si perampok langsung tersungkur dengan punggung gosong seperti terbakar api. Sementara satu anggota perampok yang menyerang leher, terbunuh oleh sinar putih kebiruan sebuah pisau terbang yang di lemparkan oleh Gayatri.
Kini anggota kelompok perampok itu tinggal menyisakan Ki Tambir dan seorang lelaki bertubuh gempal yang mencoba membantu nya kabur dengan tertatih menjauhi tempat itu.
Dua buah sinar putih kebiruan dari Gayatri melesat cepat kearah punggung Ki Tambir dan seorang pengikutnya. Dua orang terakhir Kelompok perampok Alas Lodaya langsung roboh ke tanah meregang nyawa. Hari itu kelompok perampok yang meresahkan masyarakat itu berakhir di tangan Panji Tejo Laksono dan Gayatri.
Ki Wongsodirjo beserta putrinya dan para pesuruh nya langsung mendatangi Panji Tejo Laksono dan Gayatri begitu para perampok itu terbunuh semuanya.
"Terimakasih banyak atas pertolongannya pendekar. Kalau tidak ada kalian, entah bagaimana nasib kami di tangan para penjahat itu", ujar Ki Wongsodirjo sambil menunduk hormat.
"Sudahlah Ki..
Kami hanya kebetulan lewat saja. Nasib kalian semua tidak bergantung pada kami tapi pada takdir Hyang Akarya Jagat. Lain kali kalau melakukan perjalanan jauh dengan membawa barang dagangan, sebaiknya kau bawa juga pengawal yang banyak untuk melindungi diri", jawab Panji Tejo Laksono sambil berjalan ke arah kudanya. Begitu pula dengan Gayatri.
Mereka berdua segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kuda mereka ke arah barat meninggalkan Ki Wongsodirjo dan rombongan.
"Sungguh pendekar yang mulia. Semoga Hyang Widhi Wasa selalu melindungi perjalanan mereka", gumam Ki Wongsodirjo sambil menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono dan Gayatri.
Dua orang bercaping bambu itu terus bergerak cepat menuju ke barat. Lewat tengah hari, mereka sampai di Wanua Sumping yang masuk dalam wilayah Kadipaten Karang Anom.
Di pasar wanua itu, mereka berdua segera menghentikan kuda mereka pada sebuah warung makan yang terlihat ramai dikunjungi oleh pelanggan. Sepertinya hari itu adalah hari pasaran di tempat itu karena keramaian mereka sebanding dengan pasar besar di Kota Pakuwon.
Masuknya Panji Tejo Laksono dan Gayatri langsung menarik perhatian beberapa pengunjung yang lebih dulu ada disana. Sepertinya mereka juga para pendekar terlihat dari dandanan juga beberapa senjata yang mereka bawa.
Seorang wanita cantik namun berumur dengan baju merah terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Gayatri. Terdengar suara perlahan dari bibirnya.
"Ada lagi yang ikut meramaikan persaingan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat pagi semua nya..
Mohon maaf jika update nya telat. Author nya masih sibuk dengan urusan rumah 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌
2024-03-30
0
Mahayabank
/Good//Good//Good//Moon//Moon/
2024-03-30
0
Mahayabank
Persaingan.......
2024-03-30
0