Menuju Kadipaten Karang Anom

"Mati kenapa Mbreg? Kog pakai mati segala?", Tumenggung Ludaka menatap heran kearah Demung Gumbreg yang wajahnya sudah mirip porselen cina saking pucatnya.

"I-itu duit jatah makan sama uang saku perjalanan kemari Lu..

Selain itu aku juga tidak membawa duit lagi. Terus bagaimana cara nya aku pulang ke Kotaraja Kadiri Lu?", Demung Gumbreg kebingungan setengah mati.

"Ya naik kuda to Mbreg..

Masak kau mau jalan kaki? Kota Lodaya ke Kotaraja Kadiri bisa sepekan loh jika kamu jalan kaki", ucap Tumenggung Ludaka dengan santainya.

"Eh kampret, kalau itu aku juga tahu..

Masalah nya, aku tidak punya duit lagi untuk beli makanan dan ongkos perahu Lu. Itu yang aku pikirkan", Demung Gumbreg kesal dengan sikap kawan karibnya itu.

"Minta saja dengan Gusti Pangeran Arya Tanggung, pasti di kasih Mbreg", Tumenggung Ludaka tersenyum simpul.

"Dasar gak punya rasa setia kawan..

Mau di taruh dimana muka aku Ludaka, kalau aku sampai minta uang saku pada Gusti Pangeran Arya Tanggung. Kau ini ya benar benar mengesalkan", Gumbreg semakin kesal. Sepertinya Tumenggung Ludaka berhasil membuat Demung Gumbreg mati kutu.

"Ya di kepala Mbreg, masak di pantat?

Makanya kalau uang saku pas-pasan jangan sok royal pakai kasih saweran pada tledek. Sekarang kebingungan sendiri kan?", Tumenggung Ludaka tersenyum tipis.

"Kau juga ikut menonton, memangnya gak ikut nyawer?", tanya Demung Gumbreg segera.

"Woh aku sudah menyadari kalau acara seperti itu pasti menguras isi kantong, Mbreg..

Makanya duitnya aku tinggal di dalam kamar", jawab Tumenggung Ludaka sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Dasar licik!

Tapi aku juga heran ya Lu..

Kog bisa ya aku tanpa sadar menyerahkan semua duit ku pada tledek itu ya. Aku merasa ada yang tidak beres dengan para penari itu", Gumbreg mengernyitkan keningnya.

"Iya, aku juga merasakan itu. Tapi sekarang itu tak penting lagi. Sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.

Sekarang kau pikir cara mu pulang ke Kadiri. Tak perlu menyesali yang sudah terjadi", ujar Tumenggung Ludaka segera.

"Benar juga kata kata mu Lu..

Eh duit mu kan masih ada bukan? Aku pinjam duit mu Lu untuk pulang ke Kadiri. Bayaran purnama depan aku kembalikan", Gumbreg memelas.

"Kau yakin purnama depan kau kembalikan?", Tumenggung Ludaka seakan tak percaya.

"Tentu saja Lu..

Masak kau tidak percaya pada ku sih? Kita berkawan karib puluhan tahun", ujar Demung Gumbreg dengan cepat.

"Ah orang yang berhutang selalu begitu awalnya. Manis di depan, busuk belakangan.

Tapi tidak masalah jika bulan depan tak kau kembalikan Mbreg. Aku tinggal bilang ke Juminten soal duitmu yang habis di pakai buat saweran tayub hahahaha", Tumenggung Ludaka tertawa terpingkal-pingkal.

'Dasar teman tak setia. Begitu gembira melihat aku menderita', gerutu Gumbreg dalam hati.

Pagi itu rombongan tamu kehormatan dari Istana Kotaraja Kadiri meninggalkan istana Lodaya. Pangeran Arya Tanggung melepaskan kepergian mereka hingga pintu gerbang istana Tanah Perdikan Lodaya.

Sementara itu di kediaman Nyi Kembang Jenar, Panji Tejo Laksono dan Gayatri berpamitan kepada sang empunya rumah. Mereka melanjutkan perjalanan ke arah barat melewati hutan jati yang lebat di barat Kota Lodaya.

Hutan jati itu memang tengah meranggas karena musim kemarau panjang melanda kawasan Tanah Perdikan Lodaya. Daun-daun kering berserakan dimana-mana. Meskipun jalan itu adalah jalan utama yang menghubungkan wilayah Tanah Perdikan Lodaya, namun jalan itu adalah jalan yang jarang di lewati para pedagang maupun orang yang hendak ke Kadipaten Karang Anom maupun sebaliknya. Mereka umumnya memilih melewati jalan memutar lewat beberapa kampung di tepi sungai Brantas seperti Wanua Besole. Di samping karena hutan nya yang luas, ada banyak binatang buas yang sering muncul di kawasan hutan jati itu.

Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus memacu kuda mereka menyusuri jalan yang membelah hutan jati ini. Hingga hampir matahari diatas kepala, mereka masih belum bertemu seorang pun di jalan itu.

Saat hampir memasuki tepi hutan, sebuah pemandangan yang kurang sedap sedang terjadi di depan mata Panji Tejo Laksono dan Gayatri.

Serombongan pedagang tengah di kepung puluhan lelaki bertubuh kekar dengan tampang sangar. Rupanya para pedagang ini tengah menjadi korban perampokan di siang bolong.

Dua orang berbadan gempal menyeret seorang lelaki paruh baya berkumis tipis ke depan seorang lelaki berwajah bengis. Sepertinya lelaki paruh baya itu adalah pimpinan para pedagang, terlihat dari pakaian nya yang terbuat dari bahan mahal. Sementara anak buah perampok yang lain tampak nya baru menghabisi nyawa para pengawal sang pedagang. Terlihat 4 mayat bergelimpangan bersimbah darah di dekat mereka.

"Ampuni aku, Kisanak..

Kau boleh ambil semua dagangan ku, tapi aku mohon lepaskan aku dan putri ku", ujar Ki Wongsodirjo, sang saudagar kaya sembari menahan rasa sakit pada pipinya yang lebam setelah kena gampar salah seorang anggota perampok.

Phuihhhh..

"Tadi lagakmu seperti orang tak takut mati. Sekarang kau mirip dengan kucing manis yang ketahuan mencuri ikan asin.

Hei Wongsodirjo,

Hari ini aku akan membuat hidup mu menderita hingga rasanya pengen mati secepat nya. Kalian berdua, seret perempuan itu kemari", ujar si pimpinan perampok dengan keras. Dua orang lelaki berpakaian serba hitam langsung menggelandang tangan seorang wanita muda ke depan si pimpinan perampok. Si gadis muda berwajah cantik itu meronta berusaha melepaskan diri namun usahanya sia-sia karena tenaganya tak sepadan dengan dua orang perampok yang menggelandang nya.

"Ma-mau apa kalian? Lepaskan putri ku keparat!", maki Ki Wongsodirjo dengan geram.

Si kepala perampok itu menyeringai lebar dan dengan kasar menyentuh pipi si gadis muda.

"Tenang saja, Wongsodirjo..

Putri cantik mu ini malam ini akan ku tiduri. Sudah lama aku tidak bercinta dengan gadis muda. Pasti akan sangat menggairahkan huahahahahahaha", tawa si pimpinan perampok yang bernama Ki Tambir langsung pecah diikuti oleh para anggota kelompok perampok.

"Chuuiiiiiiihhhh..

Siapa juga yang mau dengan mu tua bangka? Lebih baik aku mati daripada menjadi budak nafsu mu", si gadis muda itu meludahi wajah Ki Tambir. Sorot mata Ki Tambir langsung berubah bengis.

"Gadis sial!

Rupanya kau perlu mendapat pelajaran", teriak Ki Tambir dengan garang.

Plllaaakkkkk!!

Aaauuuuggggghhhhh!!

Si gadis muda itu langsung roboh saat tamparan keras pimpinan kelompok perampok itu mengenai wajahnya. Pipi kanan putri saudagar kaya itu langsung bengkak.

"Jangan lupa disini aku yang berkuasa. Setelah aku puas menikmati tubuh mu malam ini, maka anak buah ku juga akan mencicipi kehangatan tubuh mu, perempuan sundal!", teriak Ki Tambir sembari mengayunkan tangan kanannya untuk menampar pipi sang gadis muda kedua kalinya.

Belum sempat dia sampai, sebuah ranting kering melesat cepat kearah nya dan menangkis tamparan ke arah pipi sang putri pedagang.

Brakk...

Kuatnya lemparan ranting kering membuat tangan Ki Tambir terdorong mundur. Pimpinan perampok itu segera mendengus keras dan melihat ke sekelilingnya. Saat matanya terpaku pada sepasang pemuda yang memakai caping bambu melompat turun dari kudanya, Ki Tambir segera mengerti bahwa salah satu dari mereka adalah pelakunya.

"Keparat!

Ada yang mau jadi pahlawan kesiangan rupanya. Sudah bosan hidup ya?", teriak Ki Tambir yang membuat beberapa anggota perampok itu langsung bergerak mengepung Panji Tejo Laksono dan Gayatri. Suara Ki Tambir seperti isyarat bagi mereka untuk siap bertaruh nyawa.

"Seorang lelaki perkasa menganiaya seorang wanita tak berdaya, betapa rendahnya sifat mu hai durjana...

Kalau kau merasa lebih bijak, kenapa hanya berani menindas orang yang lebih lemah dari mu?", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul dari balik caping bambu yang menutupi sebagian wajah nya yang tampan.

"Tutup mulut mu, bangsat!

Di tempat ini akulah penguasa nya. Jika kau tidak ingin bernasib sama seperti mereka, serahkan harta benda mu lalu pergi dari sini", ujar Ki Tambir dengan lantang.

Hemmmmmmm

"Kau perampok rupanya...

Jadi kau penyebab para pedagang dan orang orang Kadipaten Karang Anom tidak berani melewati tempat ini. Kalau begitu, aku bereskan saja kalian para perusuh", Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah salah seorang anggota perampok yang mengepung nya setelah berkata.

Gerakan sang pendekar muda bercaping bambu ini di luar batas pemahaman para perampok. Satu teriakan keras terdengar dan seorang perampok terjungkal dengan muntah darah.

Saat yang lain masih terperangah melihat kawan nya roboh, terdengar lagi suara jerit kesakitan dari seorang perampok yang lain yang ikut ambruk dengan leher patah.

Ajian Sepi Angin memang membuat pengguna nya mampu bergerak cepat melebihi batas kemampuan ilmu meringankan tubuh para pendekar biasa.

Para perampok yang lain langsung menghunus senjata mereka masing-masing dan bersiap untuk menghadapi lawan. Ki Tambir sendiri langsung mencabut gagang pedang nya yang tersimpan di pinggangnya.

Berturut-turut terdengar jerit kesakitan dan raungan keras diikuti dengan robohnya para anggota perampok, membuat suasana menjadi terbalik. Jika tadi mereka merasa jumawa dengan keunggulan mereka dalam jumlah dan kemampuan beladiri, kali ini para perampok yang tersisa justru ketakutan akan menjadi korban selanjutnya dari kemampuan silat sang pendekar bercaping bambu.

Seorang perampok melihat datangnya serangan Panji Tejo Laksono, langsung mengayunkan goloknya ke arah lawan. Namun mudah saja Panji Tejo Laksono berkelit menghindari kemudian melayangkan pukulan keras kearah rahang sang perampok. Satu kawan nya mencoba untuk membabat punggung Panji Tejo Laksono yang mengarah ke dirinya, tapi sebuah sinar berwarna putih kebiruan dari Gayatri melesat cepat kearah lehernya.

Chrraaasssshhh!!

Aaauuuuggggghhhhh!!

Dua orang perampok langsung tersungkur dalam sekali gerakan Panji Tejo Laksono. Senyum tipis muncul di bibir Panji Tejo Laksono melihat pembokong nya tewas bersimbah darah. Pangeran muda dari Kadiri ini melenting tinggi ke udara, bersalto sekali dan mendarat dengan selamat lalu merubah gerakan tubuhnya. Pendekar muda itu kembali melesat ke arah anggota perampok yang tersisa.

Sementara itu Ki Wongsodirjo yang melihat kejadian itu diam diam menaruh harapan besar agar sang pendekar bercaping bambu mampu membantai para perampok pimpinan Ki Tambir. Begitu juga dengan putri nya dan beberapa orang pesuruh Ki Wongsodirjo berdoa dalam hati mereka, agar sang pendekar dengan cepat mengatasi perusuh di Alas Lodaya itu.

Ki Tambir menggeram keras. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu segera mencabut pedangnya dan menghadang laju pergerakan Panji Tejo Laksono dengan satu sabetan pedang berlapis tenaga dalam.

Shreeeeettttthhh!!

Selarik sinar putih melesat ke arah Panji Tejo Laksono beriringan dengan angin dingin menderu kencang. Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung menjejak tanah dengan keras, melenting tinggi ke udara menghindari sinar putih yang mengancam.

Blllaaaaaarrr!!!

Ledakan keras terdengar saat sinar putih yang berasal dari sabetan pedang Ki Tambir menghajar pohon jati yang daunnya meranggas. Meskipun tidak roboh, pohon jati itu hancur separuh batang.

Masih di udara Panji Tejo Laksono dengan cepat menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api ke arah Ki Tambir.

Whuuutt!

Selarik sinar merah menyala berhawa panas menerabas cepat kearah Ki Tambir. Pimpinan perampok itu langsung menyilangkan pedang nya ke depan dada untuk menahan serangan yang dilepaskan Panji Tejo Laksono.

Blllaaammmmmmmm!!!

Ki Tambir terdorong mundur sejauh 2 tombak. Darah segar segera mengalir keluar dari sudut bibirnya. Sementara 2 anak buah nya yang berbadan langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan kapak besar mereka begitu sang pendekar bercaping bambu mendarat di tanah.

Whuuuggghh whuuthhh!!

Sekali hentakan, tubuh Panji Tejo Laksono berputar cepat menghindari sabetan kapak besar yang mengarah pada leher dan kaki nya. Tangan Panji Tejo Laksono langsung menghantam punggung lawan yang menyerang kaki dengan Ajian Tapak Dewa Api.

Blllaaammmmmmmm!!

Si perampok langsung tersungkur dengan punggung gosong seperti terbakar api. Sementara satu anggota perampok yang menyerang leher, terbunuh oleh sinar putih kebiruan sebuah pisau terbang yang di lemparkan oleh Gayatri.

Kini anggota kelompok perampok itu tinggal menyisakan Ki Tambir dan seorang lelaki bertubuh gempal yang mencoba membantu nya kabur dengan tertatih menjauhi tempat itu.

Dua buah sinar putih kebiruan dari Gayatri melesat cepat kearah punggung Ki Tambir dan seorang pengikutnya. Dua orang terakhir Kelompok perampok Alas Lodaya langsung roboh ke tanah meregang nyawa. Hari itu kelompok perampok yang meresahkan masyarakat itu berakhir di tangan Panji Tejo Laksono dan Gayatri.

Ki Wongsodirjo beserta putrinya dan para pesuruh nya langsung mendatangi Panji Tejo Laksono dan Gayatri begitu para perampok itu terbunuh semuanya.

"Terimakasih banyak atas pertolongannya pendekar. Kalau tidak ada kalian, entah bagaimana nasib kami di tangan para penjahat itu", ujar Ki Wongsodirjo sambil menunduk hormat.

"Sudahlah Ki..

Kami hanya kebetulan lewat saja. Nasib kalian semua tidak bergantung pada kami tapi pada takdir Hyang Akarya Jagat. Lain kali kalau melakukan perjalanan jauh dengan membawa barang dagangan, sebaiknya kau bawa juga pengawal yang banyak untuk melindungi diri", jawab Panji Tejo Laksono sambil berjalan ke arah kudanya. Begitu pula dengan Gayatri.

Mereka berdua segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kuda mereka ke arah barat meninggalkan Ki Wongsodirjo dan rombongan.

"Sungguh pendekar yang mulia. Semoga Hyang Widhi Wasa selalu melindungi perjalanan mereka", gumam Ki Wongsodirjo sambil menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono dan Gayatri.

Dua orang bercaping bambu itu terus bergerak cepat menuju ke barat. Lewat tengah hari, mereka sampai di Wanua Sumping yang masuk dalam wilayah Kadipaten Karang Anom.

Di pasar wanua itu, mereka berdua segera menghentikan kuda mereka pada sebuah warung makan yang terlihat ramai dikunjungi oleh pelanggan. Sepertinya hari itu adalah hari pasaran di tempat itu karena keramaian mereka sebanding dengan pasar besar di Kota Pakuwon.

Masuknya Panji Tejo Laksono dan Gayatri langsung menarik perhatian beberapa pengunjung yang lebih dulu ada disana. Sepertinya mereka juga para pendekar terlihat dari dandanan juga beberapa senjata yang mereka bawa.

Seorang wanita cantik namun berumur dengan baju merah terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Gayatri. Terdengar suara perlahan dari bibirnya.

"Ada lagi yang ikut meramaikan persaingan"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Selamat pagi semua nya..

Mohon maaf jika update nya telat. Author nya masih sibuk dengan urusan rumah 🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Mahayabank

Mahayabank

Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌

2024-03-30

0

Mahayabank

Mahayabank

/Good//Good//Good//Moon//Moon/

2024-03-30

0

Mahayabank

Mahayabank

Persaingan.......

2024-03-30

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Jurang Menjing
2 Begawan Ganapati
3 Samaran
4 Kota Pakuwon Palah
5 Gerombolan Serigala Abu-abu
6 Tanah Perdikan Lodaya
7 Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8 Gending Pemikat Sukma
9 Pertarungan Di Tengah Sawah
10 Menuju Kadipaten Karang Anom
11 Makam Keramat Gunung Budeg
12 Makam Keramat Gunung Budeg 2
13 Kawan Baru
14 Hutan Jati Perbatasan
15 Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16 Pertapaan Bukit Rance
17 Pertapaan Bukit Rance 2
18 Pakuwon Widoro
19 Akuwu Durjana
20 Akuwu Durjana 2
21 Rahasia Gayatri
22 Tantangan
23 Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24 Kidung Cinta Endang Patibrata
25 Mimpi
26 Tuduhan Mata-mata
27 Setan Gunung Wilis
28 Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29 Panggil Aku Wiro
30 Guru Untuk Wiropati
31 Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32 Salah Paham
33 Palupi dan Luh Jingga
34 Melawan Jerangkong Api
35 Pencuri
36 Istana Kotaraja
37 Ayah dan Anak
38 Pedang Naga Api
39 Bagian
40 Pertempuran Sungai Lawor
41 Pertempuran Sungai Lawor 2
42 Pertempuran Sungai Lawor 3
43 Pertempuran Sungai Lawor 4
44 Perayaan
45 Pangeran Dari Kadiri
46 Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47 Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48 Pengelana dari Jauh
49 Sama Gilanya
50 Perguruan Tapak Suci
51 Luh Jingga dan Gayatri
52 Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53 Utusan Istana Kadiri
54 Taruhan
55 Karena Arak
56 Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57 Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58 Kembar Tapi Beda
59 Kejutan Besar
60 Lelaki Tua Berjari Buntung
61 Pertarungan yang Melelahkan
62 Maling Hati
63 Tahanan
64 Istana Kadipaten Kalingga
65 Tantangan dari Danapati
66 Adu Jago Ilmu Beladiri
67 Tugas
68 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71 Berangkat ke Tanah Tiongkok
72 Pelabuhan Tumasik
73 Perompak Bendera Hitam
74 Pangeran Suryavarman
75 Kecantikan Putri Champa
76 Malam Panjang
77 Kota Lin'an
78 Penginapan Musim Semi
79 Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80 Siapa Kau Sebenarnya?
81 Gumbreg Melawan Gu Heng
82 Pesta
83 Tubuh Emas
84 Dewa Pedang Wang Chun Yang
85 Putri Lan
86 Raja Serigala Gosong
87 Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88 Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89 Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90 Stempel Giok Naga
91 Nona Besar Song
92 Pertarungan
93 Pencuri Angin
94 Pencuri Angin 2
95 Menuju ke Kota Kaifeng
96 Hati Tiga Wanita Cantik
97 Hua Mei dan Gui Wu
98 Sekte Lembah Hantu
99 Ayu Ratna Palsu
100 Tamu Tak Diundang
101 Melawan Hauw Tian
102 Melawan Hauw Tian 2
103 Lawan Lama Ayah
104 Pertarungan di Kuil Shaolin
105 Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106 Tiga Pukulan
107 Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108 Ilmu Semesta Yin Yang
109 Di Tepi Jurang Terjal
110 Masalah di Kota Luoyang
111 Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114 Rumah Makan Bunga Persik
115 Ilmu Sembilan Matahari
116 Dewi Topeng Waja
117 Ajian Gelap Sayuto
118 Melawan Luo Fan
119 Melawan Luo Fan 2
120 Kaisar Huizong
121 Bara Api Dendam dari Rajapura
122 Pendekar Berpedang Butut
123 Mapanji Jayagiri
124 Siluman Rawa Seribu Teratai
125 Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126 Balada Penari Tledek
127 Jasa Pengawalan Bendera Naga
128 Si Ular Kecil
129 Cinta Tak Harus Memiliki
130 Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131 Lawan Yang Sepadan
132 Pimpinan Pasukan
133 Salah Paham
134 Madu
135 Istana Kalingga
136 Ikatan Sepuluh Cincin
137 Ikatan Sepuluh Cincin 2
138 Ikatan Sepuluh Cincin 3
139 Kejutan Yang Tidak Terduga
140 Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141 Suasana Kadipaten Rajapura
142 Bajak Laut Tsang
143 Bajak Laut Tsang 2
144 Gegabah
145 Benteng Pertahanan Karangwuluh
146 Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147 Siapa Dia?
148 Persiapan di Kalingga
149 Bantaran Kali Comal
150 Rajapura adalah Lawan
151 Para Penantang
152 Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153 Pesona Putri China
154 Telik Sandi
155 Pengorbanan Nyi Kenikir
156 Penyerbuan Rajapura
157 Diatas Langit Masih Ada Langit
158 Apa Mau Mu?
159 Ilmu Pangiwa
160 Kematian Junggul Mertalaya
161 Pertempuran Sesungguhnya
162 Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163 Rencana
164 Pilihan
165 Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166 Pertarungan di Malam Buta
167 Rencana Selanjutnya
168 Membangun Kembali Rajapura
169 Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170 Prasangka
171 Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172 Menuju ke Kota Kalingga
173 Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174 Resi Sanggabuana
175 Suara Tanpa Wujud
176 Kedatangan Prabu Jayengrana
177 Wejangan
178 Malam Pertama
179 Tanah Lungguh
180 Ajian Bayu Swara
181 Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182 Kelompok Bulan Sabit Darah
183 Sebelas Bayangan
184 Ksatria Lama
185 Upacara Penyucian Jiwa
186 Persiapan Penobatan
187 Dukungan
188 Paksijandu dan Nalini
189 Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190 Penjara
191 Hidup atau Mati
192 Jimat Keong Buntet
193 Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194 Panji Manggala Seta
195 Pakuwon Weling
196 Di Pertapaan Panumbangan
197 Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198 Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199 Tantangan Ki Pancatnyana
200 Pedang Tulang Iblis
201 Maharesi Padmanaba
202 Syarat dari Dyah Kirana
203 Dyah Kirana
204 Ajian Chanda Bhirawa
205 Istri Kelima
206 Kediaman Lurah Wanua Ranja
207 Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208 Ki Kalawisesa dan Wigati
209 Tawon Raksasa
210 Akhir Sebuah Dendam
211 Iblis Gunung Kawi
212 Nawala dari Prabu Jayengrana
213 Kedewasaan Gayatri
214 Kroco
215 Dewa dari Kahyangan
216 Menuju Pakuwon Tumapel
217 Kawan Baru
218 Lelaki Di Dalam Kabut
219 Malam di Tepi Hutan
220 Titah Prabu Jayengrana
221 Pendekar Golok Angin
222 Sandyakala di Langit Seloageng
223 Sandyakala di Langit Seloageng 2
224 Racun Penghancur Hati
225 Situasi Genting
226 Mengejar Penculik Ayu Ratna
227 Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228 Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229 Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230 Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231 Persiapan
232 Bantuan dari Lodaya
233 Saatnya Telah Tiba
234 Rencana Kedua
235 Senjata Cadangan Jenggala
236 Siapa Dia Sebenarnya?
237 Kemenangan di Selatan
238 Pasukan Gajah
239 Pimpinan Sementara
240 Mimpi Dewi Anggarawati
241 Orang-orang Wanua Karang Pulut
242 Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243 Perang Kota Kunjang
244 Perang Kota Kunjang 2
245 Perang Kota Kunjang 3
246 Perang Kota Kunjang 4
247 Perang Kota Kunjang 5
248 Akhir Perang Kota Kunjang
249 Akhir Perang Kota Kunjang 2
250 Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251 Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252 Bidadari Gunung Arjuna
253 Pangeran Ganeshabrata
254 Bantuan Yang Di Janjikan
255 Akhir Peperangan
256 Tabir Yang Mulai Tersingkap
257 Kembali ke Kotaraja Daha
258 Mulut Seorang Pelacur
259 Putri Akuwu
260 Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261 Intrik Istana
262 Bukan Pendekar Sembarangan
263 Pulang ke Seloageng
264 Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265 Permintaan Eyang
266 Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267 Dewi Anggrek Bulan
268 Gerimis
269 Ki Jatmika
270 Kisah Kelam Anggrek Perak
271 Wangsit
272 Pertapaan Gunung Penanggungan
273 Rajah Smaradahana
274 Menuju Kotaraja Kahuripan
275 Putri Uttejana
276 Adu Jago
277 Bidadari Bertopeng Perak
278 Melawan Nini Raga Setan
279 Ajian Malih Rupa
280 Bahaya Besar
281 Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282 Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283 Mpu Purwa
284 Keruwetan Demung Gumbreg
285 Warung Kembang Sore
286 Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287 Istana Perut Bumi
288 Istana Perut Bumi 2
289 Wanita Berambut Api
290 Jati Diri Dyah Kirana
291 Jati Diri Dyah Kirana 2
292 Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295 Dewi Lembah Wilis
296 Dewi Lembah Wilis 2
297 Dewi Lembah Wilis 3
298 Hutan Larangan
299 Wujud Yang Tidak Berjasad
300 Cerita Sepasang Kekasih
301 Para Penghadang
302 Adipati Arya Natakusuma
303 Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304 Sayembara Panjalu
305 Mencari Pujaan Hati
306 Pendopo Agung Istana Katang-katang
307 Setan Berwujud Manusia
308 Melawan Prabu Gendarmanik
309 Melawan Prabu Gendarmanik 2
310 Gayatri Hamil?
311 Lodaya Menagih Janji
312 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316 Perubahan
317 Singgasana Panjalu
318 Lelaki Tua Berambut Merah
319 Demung Gumbreg
320 Rencana Busuk Para Pejabat
321 Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322 Ulah Rara Kinanti
323 Utusan dari Anjuk Ladang
324 Iblis Bukit Manoreh
325 Malam Pertama Rara Kinanti
326 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328 Keangkuhan
329 Woro dan Wati
330 Menuju Ke Barat
331 Perbatasan Kadipaten Lewa
332 Rampok Kelabang Merah
333 Salah Masuk
334 Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338 Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339 Rencana Selanjutnya
340 Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341 Teka Teki
342 Putri Pertama
343 Murid Padepokan Padas Putih
344 Saudara Seperguruan
345 Bupati Baru Gelang-gelang
346 Hal Yang Ditunggu
347 Kadiri Kesaput Surup
348 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354 Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prahara Jurang Menjing
2
Begawan Ganapati
3
Samaran
4
Kota Pakuwon Palah
5
Gerombolan Serigala Abu-abu
6
Tanah Perdikan Lodaya
7
Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8
Gending Pemikat Sukma
9
Pertarungan Di Tengah Sawah
10
Menuju Kadipaten Karang Anom
11
Makam Keramat Gunung Budeg
12
Makam Keramat Gunung Budeg 2
13
Kawan Baru
14
Hutan Jati Perbatasan
15
Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16
Pertapaan Bukit Rance
17
Pertapaan Bukit Rance 2
18
Pakuwon Widoro
19
Akuwu Durjana
20
Akuwu Durjana 2
21
Rahasia Gayatri
22
Tantangan
23
Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24
Kidung Cinta Endang Patibrata
25
Mimpi
26
Tuduhan Mata-mata
27
Setan Gunung Wilis
28
Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29
Panggil Aku Wiro
30
Guru Untuk Wiropati
31
Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32
Salah Paham
33
Palupi dan Luh Jingga
34
Melawan Jerangkong Api
35
Pencuri
36
Istana Kotaraja
37
Ayah dan Anak
38
Pedang Naga Api
39
Bagian
40
Pertempuran Sungai Lawor
41
Pertempuran Sungai Lawor 2
42
Pertempuran Sungai Lawor 3
43
Pertempuran Sungai Lawor 4
44
Perayaan
45
Pangeran Dari Kadiri
46
Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47
Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48
Pengelana dari Jauh
49
Sama Gilanya
50
Perguruan Tapak Suci
51
Luh Jingga dan Gayatri
52
Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53
Utusan Istana Kadiri
54
Taruhan
55
Karena Arak
56
Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57
Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58
Kembar Tapi Beda
59
Kejutan Besar
60
Lelaki Tua Berjari Buntung
61
Pertarungan yang Melelahkan
62
Maling Hati
63
Tahanan
64
Istana Kadipaten Kalingga
65
Tantangan dari Danapati
66
Adu Jago Ilmu Beladiri
67
Tugas
68
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71
Berangkat ke Tanah Tiongkok
72
Pelabuhan Tumasik
73
Perompak Bendera Hitam
74
Pangeran Suryavarman
75
Kecantikan Putri Champa
76
Malam Panjang
77
Kota Lin'an
78
Penginapan Musim Semi
79
Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80
Siapa Kau Sebenarnya?
81
Gumbreg Melawan Gu Heng
82
Pesta
83
Tubuh Emas
84
Dewa Pedang Wang Chun Yang
85
Putri Lan
86
Raja Serigala Gosong
87
Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88
Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89
Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90
Stempel Giok Naga
91
Nona Besar Song
92
Pertarungan
93
Pencuri Angin
94
Pencuri Angin 2
95
Menuju ke Kota Kaifeng
96
Hati Tiga Wanita Cantik
97
Hua Mei dan Gui Wu
98
Sekte Lembah Hantu
99
Ayu Ratna Palsu
100
Tamu Tak Diundang
101
Melawan Hauw Tian
102
Melawan Hauw Tian 2
103
Lawan Lama Ayah
104
Pertarungan di Kuil Shaolin
105
Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106
Tiga Pukulan
107
Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108
Ilmu Semesta Yin Yang
109
Di Tepi Jurang Terjal
110
Masalah di Kota Luoyang
111
Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114
Rumah Makan Bunga Persik
115
Ilmu Sembilan Matahari
116
Dewi Topeng Waja
117
Ajian Gelap Sayuto
118
Melawan Luo Fan
119
Melawan Luo Fan 2
120
Kaisar Huizong
121
Bara Api Dendam dari Rajapura
122
Pendekar Berpedang Butut
123
Mapanji Jayagiri
124
Siluman Rawa Seribu Teratai
125
Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126
Balada Penari Tledek
127
Jasa Pengawalan Bendera Naga
128
Si Ular Kecil
129
Cinta Tak Harus Memiliki
130
Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131
Lawan Yang Sepadan
132
Pimpinan Pasukan
133
Salah Paham
134
Madu
135
Istana Kalingga
136
Ikatan Sepuluh Cincin
137
Ikatan Sepuluh Cincin 2
138
Ikatan Sepuluh Cincin 3
139
Kejutan Yang Tidak Terduga
140
Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141
Suasana Kadipaten Rajapura
142
Bajak Laut Tsang
143
Bajak Laut Tsang 2
144
Gegabah
145
Benteng Pertahanan Karangwuluh
146
Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147
Siapa Dia?
148
Persiapan di Kalingga
149
Bantaran Kali Comal
150
Rajapura adalah Lawan
151
Para Penantang
152
Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153
Pesona Putri China
154
Telik Sandi
155
Pengorbanan Nyi Kenikir
156
Penyerbuan Rajapura
157
Diatas Langit Masih Ada Langit
158
Apa Mau Mu?
159
Ilmu Pangiwa
160
Kematian Junggul Mertalaya
161
Pertempuran Sesungguhnya
162
Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163
Rencana
164
Pilihan
165
Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166
Pertarungan di Malam Buta
167
Rencana Selanjutnya
168
Membangun Kembali Rajapura
169
Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170
Prasangka
171
Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172
Menuju ke Kota Kalingga
173
Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174
Resi Sanggabuana
175
Suara Tanpa Wujud
176
Kedatangan Prabu Jayengrana
177
Wejangan
178
Malam Pertama
179
Tanah Lungguh
180
Ajian Bayu Swara
181
Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182
Kelompok Bulan Sabit Darah
183
Sebelas Bayangan
184
Ksatria Lama
185
Upacara Penyucian Jiwa
186
Persiapan Penobatan
187
Dukungan
188
Paksijandu dan Nalini
189
Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190
Penjara
191
Hidup atau Mati
192
Jimat Keong Buntet
193
Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194
Panji Manggala Seta
195
Pakuwon Weling
196
Di Pertapaan Panumbangan
197
Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198
Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199
Tantangan Ki Pancatnyana
200
Pedang Tulang Iblis
201
Maharesi Padmanaba
202
Syarat dari Dyah Kirana
203
Dyah Kirana
204
Ajian Chanda Bhirawa
205
Istri Kelima
206
Kediaman Lurah Wanua Ranja
207
Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208
Ki Kalawisesa dan Wigati
209
Tawon Raksasa
210
Akhir Sebuah Dendam
211
Iblis Gunung Kawi
212
Nawala dari Prabu Jayengrana
213
Kedewasaan Gayatri
214
Kroco
215
Dewa dari Kahyangan
216
Menuju Pakuwon Tumapel
217
Kawan Baru
218
Lelaki Di Dalam Kabut
219
Malam di Tepi Hutan
220
Titah Prabu Jayengrana
221
Pendekar Golok Angin
222
Sandyakala di Langit Seloageng
223
Sandyakala di Langit Seloageng 2
224
Racun Penghancur Hati
225
Situasi Genting
226
Mengejar Penculik Ayu Ratna
227
Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228
Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229
Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231
Persiapan
232
Bantuan dari Lodaya
233
Saatnya Telah Tiba
234
Rencana Kedua
235
Senjata Cadangan Jenggala
236
Siapa Dia Sebenarnya?
237
Kemenangan di Selatan
238
Pasukan Gajah
239
Pimpinan Sementara
240
Mimpi Dewi Anggarawati
241
Orang-orang Wanua Karang Pulut
242
Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243
Perang Kota Kunjang
244
Perang Kota Kunjang 2
245
Perang Kota Kunjang 3
246
Perang Kota Kunjang 4
247
Perang Kota Kunjang 5
248
Akhir Perang Kota Kunjang
249
Akhir Perang Kota Kunjang 2
250
Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251
Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252
Bidadari Gunung Arjuna
253
Pangeran Ganeshabrata
254
Bantuan Yang Di Janjikan
255
Akhir Peperangan
256
Tabir Yang Mulai Tersingkap
257
Kembali ke Kotaraja Daha
258
Mulut Seorang Pelacur
259
Putri Akuwu
260
Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261
Intrik Istana
262
Bukan Pendekar Sembarangan
263
Pulang ke Seloageng
264
Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265
Permintaan Eyang
266
Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267
Dewi Anggrek Bulan
268
Gerimis
269
Ki Jatmika
270
Kisah Kelam Anggrek Perak
271
Wangsit
272
Pertapaan Gunung Penanggungan
273
Rajah Smaradahana
274
Menuju Kotaraja Kahuripan
275
Putri Uttejana
276
Adu Jago
277
Bidadari Bertopeng Perak
278
Melawan Nini Raga Setan
279
Ajian Malih Rupa
280
Bahaya Besar
281
Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282
Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283
Mpu Purwa
284
Keruwetan Demung Gumbreg
285
Warung Kembang Sore
286
Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287
Istana Perut Bumi
288
Istana Perut Bumi 2
289
Wanita Berambut Api
290
Jati Diri Dyah Kirana
291
Jati Diri Dyah Kirana 2
292
Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295
Dewi Lembah Wilis
296
Dewi Lembah Wilis 2
297
Dewi Lembah Wilis 3
298
Hutan Larangan
299
Wujud Yang Tidak Berjasad
300
Cerita Sepasang Kekasih
301
Para Penghadang
302
Adipati Arya Natakusuma
303
Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304
Sayembara Panjalu
305
Mencari Pujaan Hati
306
Pendopo Agung Istana Katang-katang
307
Setan Berwujud Manusia
308
Melawan Prabu Gendarmanik
309
Melawan Prabu Gendarmanik 2
310
Gayatri Hamil?
311
Lodaya Menagih Janji
312
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316
Perubahan
317
Singgasana Panjalu
318
Lelaki Tua Berambut Merah
319
Demung Gumbreg
320
Rencana Busuk Para Pejabat
321
Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322
Ulah Rara Kinanti
323
Utusan dari Anjuk Ladang
324
Iblis Bukit Manoreh
325
Malam Pertama Rara Kinanti
326
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328
Keangkuhan
329
Woro dan Wati
330
Menuju Ke Barat
331
Perbatasan Kadipaten Lewa
332
Rampok Kelabang Merah
333
Salah Masuk
334
Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338
Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339
Rencana Selanjutnya
340
Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341
Teka Teki
342
Putri Pertama
343
Murid Padepokan Padas Putih
344
Saudara Seperguruan
345
Bupati Baru Gelang-gelang
346
Hal Yang Ditunggu
347
Kadiri Kesaput Surup
348
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354
Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!