"Apa maksud ucapan mu Nyi Sekar Mirah?
Apa orang yang baru datang itu juga ikut memperebutkan pusaka yang muncul di makam keramat Gunung Budeg?", tanya seorang lelaki paruh baya yang memakai baju merah tua dengan ikat kepala coklat. Sorot mata lelaki berusia sekitar 5 dasawarsa ini terlihat tajam seperti mata seekor elang, sementara kuku jari jemari tangannya memanjang dengan warna hitam yang semakin menambah kesan sangar pada lelaki berjenggot lebat itu.
"Tentu saja, burung tua..
Dilihat dari segi manapun, dua orang itu adalah pendekar. Hanya saja mungkin baru turun gunung, tapi mata batin ku tak bisa mengukur seberapa tinggi kemampuan beladiri nya. Dan ini yang menjadi ku khawatir", sahut perempuan cantik yang disebut dengan nama Nyi Sekar Mirah itu segera.
Nyi Sekar Mirah adalah salah satu pendekar dunia persilatan cukup di segani setelah era Panji Watugunung tidak malang melintang lagi karena menjadi Raja Panjalu. Perempuan cantik namun cukup berumur itu terkenal dengan sebutan Dewi Selendang Merah. Kemunculan nya selama satu dasawarsa terakhir ini cukup membuat nya di hargai sebagai salah satu tokoh aliran putih dari kawasan Kadipaten Karang Anom selatan. Konon katanya, kemampuan perempuan cantik dari Padepokan Gunung Kapur Selatan ini sangat menakutkan karena bisa menaksir kemampuan beladiri seorang pendekar hingga dia selalu selamat dari maut.
"Ah aku tidak peduli..
Kalau dia berani menghalangi jalan ku, akan ku cabik cabik tubuh nya dengan Kuku Rajawali ku", ujar seorang lelaki paruh baya itu dengan penuh keyakinan.
Lelaki paruh baya ini adalah Mpu Kagendra atau yang lebih di kenal dengan sebutan Pendekar Rajawali Selatan. Namanya cukup di kenal di kawasan Kadipaten Karang Anom dan Kadipaten Tanggulangin sebagai pendekar aliran putih meski kadang di suka berbuat seenaknya.
Mereka berdua datang ke tempat itu atas undangan seorang kawan mereka yang bernama Wicitrawirya atau juga yang di kenal sebagai Pendekar Cambuk Api karena tersiarnya kabar munculnya pusaka di makam keramat Gunung Budeg pad setiap malam bulan purnama.
Wanua Sumping yang berada di bawah kaki Gunung Budeg mendadak menjadi tempat yang ramai dengan kehadiran para pendekar, baik dari golongan hitam maupun putih. Semuanya berniat untuk mendapatkan benda pusaka itu yang konon katanya adalah sebilah keris pusaka yaitu Keris Nagasasra. Konon kabarnya, setiap orang yang memiliki Keris Nagasasra akan mampu menjadi seorang penguasa di Bumi Jawadwipa. Karena itu banyak sekali para pejabat dan pemimpin daerah berusaha keras untuk mendapatkan keris pusaka itu demi melanggengkan kekuasaan mereka.
Bagi pendekar golongan hitam, nilai keris pusaka ini bisa jadi di tukar dengan ratusan kepeng emas dan perak, juga bisa sebidang tanah lungguh untuk tempat membangun perguruan. Sedangkan bagi golongan putih, mereka cenderung ingin mengamankan barang pusaka ini agar tidak jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat.
"Kau jangan sombong, burung tua...
Mata batin ku tak bisa mengukur seberapa tinggi kemampuan beladiri yang bercaping tinggi besar itu. Itu yang menjadi sebab kekhawatiran ku", ujar Nyi Sekar Mirah sembari menghela nafas panjang.
"Seharusnya bukan dua orang bercaping itu saja Nyi..
Coba kau lihat ke arah pintu", ujar Pendekar Rajawali Selatan sedikit berbisik. Nyi Sekar Mirah langsung menoleh ke arah pintu warung makan dan sepasang mata nya langsung membeliak lebar.
Seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan memanggul kapak masuk ke dalam tempat itu bersama seorang wanita dengan dandanan menyeramkan yang tinggi nya hanya sedada si pembawa kapak besar. Si lelaki bertubuh tinggi besar itu berwajah aneh dengan gigi depan ompong dan rambut botak separuh. Bajunya yang hitam nampak lusuh seperti lama tak di cuci, juga ada beberapa lobang dan sobekan di sana-sini semakin menambah kesan garang sang empunya pakaian. Sebuah bopeng menghiasi pipi kiri sang pria tinggi besar. Sementara itu si perempuan bertubuh pendek ini terlihat tajam mata nya, riasan wajah nya yang suram di tambah bibirnya yang hitam semakin terlihat seperti seorang penyihir.
"Sepasang Setan Aneh Laut Selatan, Brajadenta dan Dewi Racun Hitam.
Ada urusan apa mereka kemari?", gumam Nyi Sekar Mirah sambil mendengus keras.
"Sial..
Makin lama makin banyak para pendekar yang datang ke tempat ini. Brengsek!", gerutu Mpu Kagendra yang merutuki sendiri beratnya perebutan Keris Nagasasra.
Di sudut ruangan warung makan, Panji Tejo Laksono menikmati hidangan makan siang nya dengan nikmat. Hanya Gayatri yang terlihat memperhatikan keadaan sekelilingnya sembari menikmati makanan yang tersaji. Ekor mata Gayatri berulang kali melirik ke arah Sepasang Setan Aneh Laut Selatan dari sudut caping bambu nya.
"Kenapa kau terus melirik ke arah mereka Gayatri? Ada yang salah?", ujar Panji Tejo Laksono sambil menggigit kepala ikan lele bakar yang dia pesan.
"Dua orang itu adalah Sepasang Setan Aneh Laut Selatan. Mereka berdua jarang sekali keluar dari sarangnya di Goa Karang Popoh. Kalau sampai datang ke tempat ini, pasti ada sesuatu yang menarik Taji..
Dua orang tua berbaju merah di pojokan sana juga pendekar yang cukup punya nama di dunia persilatan. Mereka adalah Dewi Selendang Merah dan Pendekar Rajawali Selatan. Mereka berkumpul di sini, bukankah ini mencurigakan?", Gayatri sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya sambil bicara.
"Mereka terus menatap ke arah kita sejak kita masuk ke dalam warung makan ini, Gayatri.
Tapi menurutku yang paling berbahaya adalah kakek tua bertubuh bungkuk di sudut timur itu. Dia memiliki aura hitam yang menakutkan", balas Panji Tejo Laksono dengan tenang.
"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini, Taji..
Mereka semua adalah pendekar pendekar berilmu tinggi. Tak mudah menghadapi mereka jika mereka mengeroyok sekaligus", Gayatri meraih kendi air minum dan menuangkan air ke dalam dalam cangkir. Perempuan yang menyamar sebagai laki laki itu segera meneguk air minum untuk menghilangkan dahaga.
"Ini justru semakin menarik Gayatri..
Aku yakin ada sesuatu yang tengah mereka incar di tempat ini. Aku penasaran dengan itu semua", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis sambil memberi isyarat pada seorang pelayan warung makan agar berjalan mendekatinya.
"Bagaimana pendekar? Apa masakan kami enak?", tanya si pelayan warung makan itu dengan ramah.
"Tentu saja, masakan kalian sangat enak...
Eh aku ingin bertanya sesuatu pada mu. Kalau kau bisa menjawabnya, ini akan jadi milik mu", Panji Tejo Laksono langsung membuka gengaman tangan nya dan sebuah kepeng perak ada disana. Mata sang pelayan langsung melebar.
"Silahkan pendekar, aku akan berusaha untuk menjawabnya", ujar si pelayan warung makan dengan cepat.
"Kenapa Wanua ini begitu ramai? Bahkan warung makan saja sampai penuh begini?", Panji Tejo Laksono menatap wajah si pelayan.
"Ah itu mudah Kisanak..
Beberapa pekan yang lalu muncul sebuah keris pusaka di atas makam keramat Gunung Budeg. Sesepuh Wanua dan beberapa Resi mencoba untuk mendapatkan senjata itu namun tak ada yang berhasil.
Nah dari berita itu ratusan orang berdatangan ke tempat ini. Kemunculan pusaka itu tepat pada bulan purnama, itu dua hari lagi sekarang pendekar.
Apakah itu sudah cukup untuk membuat ku mendapatkan kepeng perak itu kisanak?", ucap si pelayan warung makan itu dengan sopan. Panji Tejo Laksono langsung memberikan sekeping kepeng perak itu pada si pelayan. Senyum lebar segera terukir di bibir nya.
"Satu lagi, apa ada tempat yang di sewakan di Wanua ini?
Kami butuh tempat untuk bermalam", tanya Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Tempat bermalam ya?
Aku dengar rumah Ki Renggos ada tempat untuk bermalam jika hanya dua orang saja. Kalau Kisanak ingin kesana sembari menunggu bulan purnama besok malam, kisanak tinggal ikuti terus jalan ini. Nanti sebelum rumah besar punya Lurah Wanua Sumping ini, itulah rumah Ki Renggos", jawab si pelayan yang kemudian berlalu menuju ke belakang.
Usai membayar makanan mereka, Panji Tejo Laksono dan Gayatri bergegas keluar dari warung makan. Beberapa pasang mata terus mengawasi gerak-gerik mereka hingga Panji Tejo Laksono dan Gayatri menghilang dari pandangan.
Sesuai dengan petunjuk dari si pelayan warung makan, Panji Tejo Laksono dan Gayatri menuju ke rumah Ki Renggos yang ada di sebelah kediaman Lurah Wanua Sumping, Mpu Tirta.
Kedatangan mereka di sambut oleh seorang lelaki sepuh berkumis putih dengan tatapan mata teduh dan senyum ramah yang tengah membersihkan dedaunan pohon yang gugur di halaman. Dia adalah Ki Renggos, salah seorang sesepuh Wanua Sumping.
"Permisi Kisanak...
Apa benar ini kediaman Ki Renggos?", tanya Panji Tejo Laksono sembari membuka caping bambu yang menutupi sebagian wajah nya. Gayatri pun melakukan hal yang sama.
"Benar sekali, anak muda..
Siapa kalian? Dan tujuan apa kemari?", Ki Renggos menatap wajah mereka dengan senyum terukir di wajah sepuh nya.
"Saya Taji Lelono Ki, ini kawan seperjalanan saya Gayatri..
Kami ingin menginap di tempat Ki Renggos ini selama dua hari jika masih ada tempat", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.
"Pasti dari omongan Si Toyo, pelayan warung makan itu ya? Hehehehe...
Tempat nya ada kog. Kalian cukup bayar satu orang 2 kepeng perak untuk dua hari. Urusan makanan, kalian berikan 5 kepeng perunggu untuk sekali makan", ujar Ki Renggos seraya menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.
Tanpa banyak bicara, Panji Tejo Laksono langsung memberikan 5 kepeng perak pada Ki Renggos. Kakek tua itu tersenyum lebar sembari menerima duit pembayaran sewa tempat nya.
Ki Renggos segera berseru keras dan seorang lelaki bertubuh gemuk pendek berlari menuju ke arah nya. Rupanya lelaki muda ini adalah juru rawat kuda. Dia segera menuntun kuda Panji Tejo Laksono dan Gayatri ke kandang.
Siang itu langsung bercakap-cakap tentang banyak hal termasuk munculnya pusaka di makam keramat Gunung Budeg yang misterius. Ki Renggos sendiri yang pernah menjadi bagian dari upaya pengambilan keris pusaka itu menuturkan bahwa beberapa Resi dan pandita yang ikut pun tak mampu menyentuh Keris Nagasasra yang ada di sana.
"Menurut Resi Padmanaba, hanya orang yang memiliki trah raja atau yang memiliki Wahyu Makutarama saja yang bisa mengambil pusaka itu.
Aku juga tidak tahu apa itu Wahyu Makutarama tapi menurut Resi Padmanaba, orang yang mampu menyentuh Keris Nagasasra itu kelak yang akan menjadi penguasa Tanah Jawadwipa beserta 6 keturunan nya", ujar Ki Renggos sambil mengelus kumis nya yang memutih.
"Jadi mungkin saja Keris Nagasasra itu adalah sarana Wahyu Makutarama untuk menjadi penguasa, Ki Renggos?", tanya Gayatri yang masih penasaran.
"Benar, Gayatri..
Bukan hanya Resi Padmanaba saja yang bilang seperti itu tapi juga para resi yang ikut mencoba untuk mengambil Keris Nagasasra itu pada purnama kemarin", jawab Ki Renggos kemudian.
"Semakin menarik. Tapi aku yakin siapa pun yang bisa mendapatkan Keris Nagasasra itu pasti akan menjadi incaran para pendekar yang hadir di tempat ini. Entah dengan jalan apapun, mereka pasti berupaya untuk mendapatkan nya", Panji Tejo Laksono menimpali.
Sepanjang siang hari itu, Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus berupaya mengorek keterangan dari Ki Renggos.
Setelah cukup berbincang, menjelang sore Panji Tejo Laksono berjalan menuju ke tempat mandi yang berupa sebuah kolam kecil di belakang kediaman Ki Renggos yang terletak di tepi sungai kecil.
Sesampainya di tepi sungai kecil, Panji Tejo Laksono langsung menjadi perhatian para gadis Wanua Sumping yang tengah mandi disana. Salah seorang diantara nya adalah dua putri Lurah Wanua Sumping, Rara Gendhis dan Rara Kusuma. Dua kembang desa itu menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono nyaris tak berkedip.
Panji Tejo Laksono langsung mengangguk hormat pada gadis gadis desa itu kemudian menuju tempat mandi yang khusus untuk para lelaki.
"Wah tampan sekali, seperti melihat Dewa Kamajaya turun dari langit", ujar seorang gadis desa yang tengah mencuci baju di situ.
"Benar katamu..
Aku belum pernah melihat pemuda setampan ini di wanua kita. Pasti dia pendatang atau mungkin kerabat orang wanua kita", sahut seorang gadis yang bertubuh gendut.
"Kau yang tukang intip pemuda mandi tentu hapal dengan wajah pemuda disini.
Kusuma, Gendhis...
Apa kalian juga tidak tahu siapa pemuda tampan itu?", si gadis pencuci baju menoleh ke arah Rara Kusuma dan Rara Gendhis.
"Aku tidak tahu sama sekali. Mungkin Kangmbok Gendhis yang tahu", Rara Kusuma menoleh ke arah kakak perempuannya.
"Aku malah lebih tidak tahu lagi, Kusuma..
Tapi dia tadi datang dari arah pekarangan Ki Renggos. Jangan-jangan dia adalah tamu nya Ki Renggos atau sanak saudara nya barangkali", ujar Rara Gendhis segera. Ketiga gadis desa lainnya saling berpandangan mendengar ucapan Rara Gendhis.
Tak berapa lama kemudian, Panji Tejo Laksono kembali melewati para gadis desa itu berkerumun sembari memamerkan senyum manis nya yang mampu membuat hati para gadis desa itu meleleh.
Hari semakin sore. Sebentar lagi senja turun karena langit barat mulai tampak memerah. Panji Tejo Laksono dan Gayatri yang sedang duduk di serambi kediaman Ki Renggos, dikagetkan dengan kedatangan 4 orang gadis desa yang membawa beraneka makanan.
"Permisi Kisanak,
Apa Ki Renggos nya ada?", tanya Rara Gendhis sambil tersenyum manis.
"Ki Renggos nya sedang keluar bersama istri. Baru saja mereka berangkat", jawab Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Oh begitu..
Aku membawakan sedikit makanan untuk Ki Renggos. Di suruh romo ku. Kebetulan sawah bengkok romo baru saja panen, jadi dia membuat selamatan. Silahkan di cicipi", ujar Rara Gendhis sambil mengulurkan nampan bambu yang berisi aneka jajanan. Rara Kusuma dan dua kawannya pun ikut menyodorkan bakul bambu mereka pada Panji Tejo Laksono.
Melihat keempat gadis desa itu mengerubungi Panji Tejo Laksono, Gayatri mendengus dingin sembari bergumam dalam hati.
"Chuuiiiiiiihhhh...
Dasar tidak tahu malu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat makan sahur.. Tak terasa ya sudah mau lebaran 🤣✌️🙏😁👍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌
2024-03-31
1
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2024-03-31
0
Mahayabank
/Good//Good//Good//Ok//Ok/
2024-03-30
0