Pertapaan Bukit Rance

Mendengar perintah Ki Suratimantra semua orang di markas Kelompok Bulan Sabit Darah itu langsung mulai bersiap untuk berangkat.

Namun saat senja menghilang di ganti dengan malam yang gelap, hujan deras tiba-tiba mengguyur sekitar wilayah itu bercampur angin kencang dan petir yang menyambar. Suara guntur yang menakutkan membuat semua orang menjadi ragu untuk bergerak.

Jleeegggeeerrrr!!

Kembali suara guntur bergemuruh di sertai oleh petir yang menyambar. Hujan lebat terus turun dengan derasnya seperti di tumpahkan dari langit oleh Batara Indra.

"Kakang Suratimantra..

Bagaimana ini? Hujan lebat ini sangat berbahaya bagi kita jika memaksakan diri untuk ke Pertapaan Bukit Rance", ujar Mantrayaksa sembari menatap wajah Ki Suratimantra seakan meminta persetujuan untuk tidak berangkat. Meskipun bertubuh lebih tinggi dan lebih kekar dari Suratimantra, namun Mantrayaksa lebih penakut di banding kakak seperguruan nya itu.

"Sebaiknya kita tunda sebentar Kakang..

Bukannya aku takut dengan petir tapi kalau hanya kita yang memaksakan diri, keadaan kita tidak akan menguntungkan jika harus berhadapan dengan rajawali tua itu. Apalagi ada juga Dewi Selendang Merah, dia lebih licik daripada aku.

Aku minta kakang berpikir dulu sebelum kita bergerak", ujar Kaligenjong yang bertubuh kurus namun memiliki kumis tebal dan rambut gimbal yang di kuncir kuda.

Hemmmmmmm...

"Kalau begitu kita tunggu hujan ini mereda Genjong..

Paluombo adalah saudara kita. Kematian nya harus di bayar dengan nyawa mereka", ujar Ki Suratimantra sembari mengepalkan tangannya erat-erat.

Hujan terus mengguyur wilayah itu dengan deras.

Sementara itu di Pertapaan Bukit Rance, Panji Tejo Laksono tengah berdiri menatap rinai hujan deras yang bercampur dengan beberapa kali kilat dan sambaran petir ke bumi.

"Anak muda,

Kau sedang melamun?"

Suara berat dari sosok lelaki sepuh berjenggot panjang itu sontak mengagetkan Panji Tejo Laksono. Caping bambu nya di lepas hingga wajah tampan sang pangeran muda ini terlihat jelas oleh Mpu Kerta yang menyapa nya.

"Ah tidak Resi Mpu Kerta..

Aku hanya tiba tiba ingat dengan guru ku saat memandang air hujan ini. Oh iya kenapa Resi belum juga beristirahat? Bukankah tadi Resi sempat terluka dalam pertarungan?", Panji Tejo Laksono mengalihkan pembicaraan antara mereka.

"Hanya luka dalam ringan, nanti istirahat sebentar juga sudah pulih lagi..

Aku pribadi berterimakasih kepada mu atas pertolongan mu tadi siang. Kalau kau tidak menyelamatkan nyawa ku tepat waktu, mungkin aku sudah mati di tangan Paluombo", Mpu Kerta tersenyum tipis.

"Hanya pertolongan kecil Resi..

Kebetulan saja aku yang paling dekat dengan Resi jadi bisa membantu tepat waktu", Panji Tejo Laksono tersenyum sembari mengangguk.

"Ah sifat mu memang rendah hati, anak muda.

Kau benar benar mengingatkan pada sosok menantu ku yang tampan dan rendah hati. Kebetulan kau juga tampan dan sedikit banyak mirip dengannya hehehehe", Mpu Kerta terkekeh kecil sambil menatap wajah Panji Tejo Laksono.

"Aku tidak paham dengan maksud omongan mu Resi", Panji Tejo Laksono sedikit kebingungan.

"Hehehehe..

Mungkin kau belum tahu bahwa aku adalah mertua Raja Panjalu, Prabu Jayengrana. Putri ku yang bernama Dewi Sasikirana atau punya nama lain Dewi Srimpi adalah salah satu selir dari Maharaja Panjalu itu, anak muda", ujar Mpu Kerta dengan penuh rasa bangga.

'Jadi dia adalah kakek dari adhi Manggala Seta', batin Panji Tejo Laksono.

Panji Tejo Laksono sedikit terkejut mendengar penuturan Mpu Kerta namun dengan cepat dia menyembunyikan perasaan kagetnya dengan menundukkan wajahnya sebentar.

"Wah ternyata Resi Mpu Kerta adalah mertua Gusti Prabu Jitendrakara rupanya..

Aku sungguh tidak menduga nya. Maafkan aku jika aku kurang bersikap sopan kepada mertua Raja Panjalu", ucap Panji Tejo Laksono sembari membungkukkan badannya pada Mpu Kerta.

"Kau tidak perlu repot-repot terlalu sopan pada ku anak muda..

Yang jadi Raja itu menantu ku. Aku benar benar bangga dan kagum pada nya. Seorang lelaki yang memiliki kesaktian linuwih namun bersahaja dan cerdas memimpin negeri besar namun tetap di cintai rakyat nya karena kerendahan hati dan budi pekertinya. Aku hanya berdoa semoga penerusnya kelak adalah seorang yang setingkat dengan nya atau jika tidak bisa tak berbeda jauh dengan menantu ku itu dalam memimpin negeri ini", Mpu Kerta menatap rintik hujan deras yang terus mengguyur Bukit Rance.

Panji Tejo Laksono termangu mendengar harapan dari Mpu Kerta.

"Eh ngomong apa aku ini..

Kau sudah makan anak muda?", Mpu Kerta menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.

"Sudah tadi bersama kawan-kawan yang lain, Resi", jawab Panji Tejo Laksono cepat.

"Baguslah kalau begitu..

Sudah malam, sebaiknya kau beristirahat anak muda. Aku permisi dulu", Mpu Kerta segera berbalik arah dan menuju tempat kediamannya.

Panji Tejo Laksono terus memandangi tubuh tua Mpu Kerta hingga menghilang di balik pintu kediaman nya. Kata kata Mpu Kerta tentang harapan nya untuk penerus tahta Kerajaan Panjalu terus terngiang di telinganya.

'Aku tidak boleh mengecewakan harapan semua warga Kerajaan Panjalu', batin Panji Tejo Laksono sambil kembali menatap ke arah rinai hujan deras.

Malam semakin larut. Udara dingin bercampur derasnya air hujan yang mengguyur membuat suasana semakin sunyi di Pertapaan Bukit Rance.

Pagi menjelang tiba. Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa sang Surya akan segera terbit di ufuk timur. Namun kenyataannya tebalnya mendung hitam di awal musim penghujan ini mampu menghalangi sinar sang raja siang untuk menghangatkan seisi bumi.

Setelah berhenti sejenak, hujan deras kembali mengguyur wilayah Kadipaten Karang Anom Selatan. Hingga membuat persawahan terendam air yang naik karena tanah tidak mampu menyerapnya. Para penghuni Pertapaan Bukit Rance pun sama sekali tidak bisa beraktivitas seperti biasa nya. Mereka terpaksa harus berdiam diri di rumah sambil berharap hujan deras itu akan segera mereda.

Panji Tejo Laksono memanfaatkan kesempatan itu untuk mempelajari beberapa lontar ilmu pengetahuan dan keagamaan yang ada di kediaman Mpu Sumba dan Mpu Kerta.

Dua pandita tua itu dengan senang hati meminjamkan beberapa lontar catatan ilmu pengetahuan seperti Kitab Kutaramanawa dan Kitab terjemahan Mahabharata yang merupakan salinan dari Pertapaan Palah yang merupakan pusat keagamaan terbesar di wilayah Kerajaan Panjalu.

Gayatri terus mencuri pandang ke arah Panji Tejo Laksono yang serius membaca lembar demi lembar lontar kitab yang di pinjam nya. Pun juga Arini mengagumi sosok Panji Tejo Laksono yang cerdas memahami isi kitab yang di bacanya.

Hujan deras itu benar benar membawa berkah tersendiri bagi Panji Tejo Laksono.

Meski sebentar terang, namun hujan deras kembali turun dari langit. Orang jaman dahulu menyebutnya dengan sebutan timbreng yang menjadi awal musim penghujan.

Arini membawakan satu nampan berisi beberapa potong pisang rebus dan singkong rebus yang masih mengepulkan asap tipis pertanda baru diangkat dari kuali.

"Taji Lelono..

Berhenti dulu membacanya. Isi perut mu agar kau tidak masuk angin", ujar Arini sembari meletakkan nampan itu ke atas meja kecil yang ada di serambi kediaman utama Pertapaan Bukit Rance.

"Terimakasih Arini. Kau tahu saja kalau perut ku mulai lapar", jawab Panji Tejo Laksono sembari melipat lembar daun lontar itu dan segera duduk bersila di lantai serambi.

"Apa boleh buat, di dapur cuma ada singkong dan pisang untuk di masak. Punya uang pun juga percuma karena tidak bisa kemana-mana karena hujan deras ini", sahut Arini sembari tersenyum tipis.

"Ini juga untuk menghangatkan perut mu Taji", ucap Gayatri yang datang sembari membawa secangkir wedang jahe dan kendi air minum. Gadis cantik yang menyamar sebagai laki laki itu segera meletakkan barang bawaan nya keatas meja kecil.

"Wah kalian semua benar benar baik pada ku. Terimakasih ya", Panji Tejo Laksono langsung menyambar sepotong pisang rebus lalu menyeruput wedang jahe yang masih panas.

Arini tersenyum simpul pada Panji Tejo Laksono namun segera membuang muka saat melihat Gayatri. Sepertinya kedua gadis cantik itu bersaing keras untuk mendapatkan perhatian dari Panji Tejo Laksono.

Hingga menjelang sore, hujan deras masih belum menunjukkan tanda-tanda mau mereda. Para penghuni Pertapaan Bukit Rance pun terpaksa menggunakan apapun yang ada di dapur untuk mengisi perut. Beberapa cantrik terpaksa hujan-hujanan untuk mencabut beberapa pohon singkong untuk mengganjal perut mereka karena tidak mungkin juga menumbuk padi karena simpanan mereka di lumbung harus di jemur dulu sebelum di tumbuk.

Keesokan harinya nya, setelah hampir dua hari hujan deras mengguyur tanpa henti, menjelang tengah hari perlahan matahari mulai terlihat di langit. Meski mendung tebal masih menggantung di langit, namun setidaknya hujan telah berhenti.

Beberapa tanaman palawija seperti jagung banyak yang roboh karena terlalu banyak air menggenang. Cabai dan sayuran lain pun turut layu karena tanah benar benar berair.

Setelah menahan diri hampir dua hari lamanya, Ki Suratimantra bersama Mantrayaksa dan Kaligenjong beserta 10 anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang berilmu tinggi bergerak menuju ke arah Pertapaan Bukit Rance yang ada di timur hutan jati dengan menunggang kuda mereka masing-masing.

Jalanan yang becek dengan sisa lumpur dari hujan deras dua hari kemarin membuat sepatu kuda mereka menancap dalam tanah, meninggalkan bekas di sepanjang jalan menuju ke arah Pertapaan Bukit Rance. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka memilih untuk menepi karena takut terkena terjangan kuda mereka.

Selepas tengah hari, Ki Suratimantra dan kawan-kawan nya sudah sampai di kaki Bukit Rance. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh nya, ketigabelas orang itu melesat cepat kearah lereng Utara Bukit Rance yang menjadi tempat Pertapaan Bukit Rance.

Jleeggg!!

Jleeggg!!

Jlleeeegghh!!

Ketigabelas orang itu mendarat di halaman pertapaan. Kedatangan mereka langsung membuat kepanikan para cantrik dan para penghuni Pertapaan Bukit Rance.

Ki Kagendra yang melihat kedatangan mereka langsung melesat cepat ke halaman pertapaan disusul oleh Nyi Sekar Mirah. Panji Tejo Laksono dan Gayatri juga Adijaya dan Arini pun ikut bergegas ke halaman pertapaan bersama Mpu Kerta dan Mpu Sumba.

"Oh rupanya kalian masih bercokol di tempat ini, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari kalian, Burung tua dan selendang butut!", ujar Ki Suratimantra sembari menunjuk ke arah Ki Kagendra dan Nyi Sekar Mirah.

"Suratimantra...

Nyali mu besar juga berani datang ke tempat ini. Apa kau sudah bosan berbuat kejahatan hingga ingin menyerahkan diri?", Ki Kagendra menatap wajah Ki Suratimantra sembari tersenyum tipis.

Phhuuuiiiiiihhhhh...

"Menyerahkan diri katamu?!!

Lagakmu seperti jagoan nomor satu di Tanah Jawadwipa ini, Burung tua! Sekalipun Prabu Jayengrana sekalipun datang ke tempat ini, atau bahkan Dewa Siwa sendiri yang ingin menangkap ku, aku tidak akan pernah menyerah!

Hari ini aku datang untuk menuntut balas kematian saudara ku Paluombo, Kagendra. Kau bersiaplah untuk mati!", teriak Ki Suratimantra sembari mengepalkan tangannya erat-erat.

"Siapa yang akan mati masih belum tahu, Suratimantra...

Kalau kau yakin bisa mengalahkan ku, pasti kau tidak akan membawa bantuan sebanyak ini bukan? Hehehehe ", Ki Kagendra menyeringai lebar.

"Bedebah!

Hari ini akan ku buat kau jadi burung panggang", teriak Ki Suratimantra sembari menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Ki Kagendra.

Bersamaan dengan pergerakan Ki Suratimantra, para pengikutnya ikut menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.

Pertarungan sengit segera terjadi di depan Pertapaan Bukit Rance.

Panji Tejo Laksono langsung mencabut pedang dua warna nya dan menyongsong serangan dari dua orang pengikut Ki Suratimantra yang bersenjatakan pedang.

Thrrraaannnnggggg!

Satu tangkisan pedang membuat denting nyaring yang memekakkan telinga. Setelah menangkis tebasan pedang salah satu penyerang sembari menghindari sabetan pedang yang mengincar kakinya, Panji Tejo Laksono melompat mundur beberapa langkah. Menggabungkan Ajian Sepi Angin dan Ilmu Pedang Tanpa Bayangan, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah seorang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang mengayunkan pedangnya kearah leher Panji Tejo Laksono.

Pemuda tampan itu segera merendahkan tubuhnya sembari membabatkan pedang nya ke arah perut lawan.

Chrraaasssshhh!!

Auuuggghhhhh!!

Lawan menjerit keras saat pedang sang pangeran Panjalu menebas pinggang. Pria bertubuh kekar itu langsung roboh dengan usus terburai.

Tak berhenti sampai disitu saja, Panji Tejo Laksono langsung bergerak cepat ke arah lawan kedua. Sekuat tenaga, sang pengikut Ki Suratimantra langsung mengayunkan pedangnya kearah bahu kiri Panji Tejo Laksono namun sang murid Begawan Ganapati itu dengan cepat berkelit menghindar sambil menebaskan pedangnya kearah lengan kanan lawannya.

Chrrraaaaaaakkk..

Aaaarrrgggggghhhhh!!!

Pria bertubuh gempal itu langsung menjerit keras waktu pedang dua warna Panji Tejo Laksono menebas lengan kanan nya. Potongan lengan kanan yang masih memegang pedang itu jatuh ke tanah dan si empunya terhuyung-huyung mundur sembari membekap luka potong di tangan kanannya.

Tanpa membuang kesempatan, Panji Tejo Laksono kembali melesat cepat ke samping kanan lawan dan dengan cepat menusuk bawah rusuk lawan.

Jllleeeeeppppphhh..

Aaaarrrgggggghhhhh!!!

Lawan tersungkur bersimbah darah saat Panji Tejo Laksono mencabut pedang nya dari tubuh lawan nya.

Di sisi lain, Nyi Sekar Mirah yang di keroyok oleh Mantrayaksa dan Kaligenjong keteteran karena kekompakan dua orang berperawakan sangar itu.

Nyi Sekar Mirah merunduk menghindari sabetan golok besar Mantrayaksa.

Whhhuuuggghhhh!!

Perempuan cantik yang telah berumur itu lolos dari sabetan maut golok besar Mantrayaksa namun Kaligenjong yang melihat celah, langsung menghantamkan tangan kanannya yang diliputi asap putih tebal berbau busuk kearah bahu kanan Nyi Sekar Mirah.

Berusaha menahan serangan dadakan Kaligenjong, Nyi Sekar Mirah yang kaget menggunakan selendang merah nya untuk bertahan.

Blllaaammmmmmmm!!

Nyi Sekar Mirah muntah darah segar dan tubuhnya melayang mundur ke belakang. Panji Tejo Laksono yang baru selesai menghabisi nyawa seorang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah langsung menyambar tubuh Nyi Sekar Mirah sebelum menghantam tanah.

"Nyi Dewi, kau tidak apa-apa?", tanya Panji Tejo Laksono yang di balas anggukan kepala dari Nyi Sekar Mirah. Perempuan paruh baya itu segera mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.

"Si kurus itu bagian ku, Taji.

Kau urus yang tinggi besar itu", ujar Nyi Sekar Mirah segera.

"Baik Nyi Dewi", balas Panji Tejo Laksono sembari mengalihkan pandangannya pada Mantrayaksa yang terus memutar golok besar nya. Dengan satu kali tarikan nafas, Mantrayaksa melompat tinggi ke udara dan meluncur turun sembari menebaskan golok besar nya ke arah Nyi Sekar Mirah dan Panji Tejo Laksono hingga kedua orang itu langsung berpencar menghindar.

Bhhuuuuummmmmmhh!!

Tanah bergetar saat terjadi ledakan dahsyat terdengar saat golok besar Mantrayaksa menghantam tanah. Panji Tejo Laksono melenting tinggi usai menjejak tanah dengan keras.

Dengan menggunakan jurus ke tujuh Ilmu Pedang Tanpa Bayangan, Panji Tejo Laksono meluncur turun ke arah Mantrayaksa yang baru saja menghantam tanah dengan golok besar nya. Pria bertubuh tinggi besar itu berupaya keras menangkis sabetan pedang Panji Tejo Laksono yang bergerak cepat ke arah nya.

Thrrraaannnnggggg..

Blllaaammmmmmmm!!

Mantrayaksa dan Panji Tejo Laksono sama sama terdorong mundur beberapa langkah ke belakang saat dua senjata mereka yang di lambari tenaga dalam beradu. Tak ingin membuang waktu, Panji Tejo Laksono kembali melesat cepat kearah Mantrayaksa dengan menggunakan Ajian Sepi Angin nya.

Melihat itu, Mantrayaksa mengayunkan golok besar nya ke arah perut Panji Tejo Laksono. Secepat kilat, Panji Tejo Laksono merubah gerakan tubuhnya dan melompat tinggi sembari menyabetkan pedangnya kearah leher Mantrayaksa.

Whhhuuuggghhhh..!!

Mantrayaksa mencoba untuk berkelit menghindari sabetan pedang Panji Tejo Laksono. Dia berhasil menyelamatkan lehernya tapi punggung nya masih terkena tajamnya bilah pedang.

Shrraaaakkkkhhhh..

Aaauuuuggggghhhhh!!!

Mantrayaksa meraung keras saat pedang Panji Tejo Laksono merobek punggungnya. Darahnya segera mengucur dari luka yang ada di punggung. Sambil merasakan perih di punggung nya, Mantrayaksa mengacungkan golok besar nya ke arah Panji Tejo Laksono.

"Akan ku potong potong tubuh mu, keparat!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Selamat siang semuanya, selamat beraktifitas.

Semangat 💪💪💪

Terpopuler

Comments

Mahayabank

Mahayabank

Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌

2024-04-01

0

Mahayabank

Mahayabank

/Good//Good//Good//Ok//Ok/

2024-04-01

0

rajes salam lubis

rajes salam lubis

lanjutkan

2023-09-16

1

lihat semua
Episodes
1 Prahara Jurang Menjing
2 Begawan Ganapati
3 Samaran
4 Kota Pakuwon Palah
5 Gerombolan Serigala Abu-abu
6 Tanah Perdikan Lodaya
7 Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8 Gending Pemikat Sukma
9 Pertarungan Di Tengah Sawah
10 Menuju Kadipaten Karang Anom
11 Makam Keramat Gunung Budeg
12 Makam Keramat Gunung Budeg 2
13 Kawan Baru
14 Hutan Jati Perbatasan
15 Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16 Pertapaan Bukit Rance
17 Pertapaan Bukit Rance 2
18 Pakuwon Widoro
19 Akuwu Durjana
20 Akuwu Durjana 2
21 Rahasia Gayatri
22 Tantangan
23 Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24 Kidung Cinta Endang Patibrata
25 Mimpi
26 Tuduhan Mata-mata
27 Setan Gunung Wilis
28 Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29 Panggil Aku Wiro
30 Guru Untuk Wiropati
31 Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32 Salah Paham
33 Palupi dan Luh Jingga
34 Melawan Jerangkong Api
35 Pencuri
36 Istana Kotaraja
37 Ayah dan Anak
38 Pedang Naga Api
39 Bagian
40 Pertempuran Sungai Lawor
41 Pertempuran Sungai Lawor 2
42 Pertempuran Sungai Lawor 3
43 Pertempuran Sungai Lawor 4
44 Perayaan
45 Pangeran Dari Kadiri
46 Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47 Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48 Pengelana dari Jauh
49 Sama Gilanya
50 Perguruan Tapak Suci
51 Luh Jingga dan Gayatri
52 Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53 Utusan Istana Kadiri
54 Taruhan
55 Karena Arak
56 Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57 Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58 Kembar Tapi Beda
59 Kejutan Besar
60 Lelaki Tua Berjari Buntung
61 Pertarungan yang Melelahkan
62 Maling Hati
63 Tahanan
64 Istana Kadipaten Kalingga
65 Tantangan dari Danapati
66 Adu Jago Ilmu Beladiri
67 Tugas
68 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71 Berangkat ke Tanah Tiongkok
72 Pelabuhan Tumasik
73 Perompak Bendera Hitam
74 Pangeran Suryavarman
75 Kecantikan Putri Champa
76 Malam Panjang
77 Kota Lin'an
78 Penginapan Musim Semi
79 Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80 Siapa Kau Sebenarnya?
81 Gumbreg Melawan Gu Heng
82 Pesta
83 Tubuh Emas
84 Dewa Pedang Wang Chun Yang
85 Putri Lan
86 Raja Serigala Gosong
87 Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88 Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89 Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90 Stempel Giok Naga
91 Nona Besar Song
92 Pertarungan
93 Pencuri Angin
94 Pencuri Angin 2
95 Menuju ke Kota Kaifeng
96 Hati Tiga Wanita Cantik
97 Hua Mei dan Gui Wu
98 Sekte Lembah Hantu
99 Ayu Ratna Palsu
100 Tamu Tak Diundang
101 Melawan Hauw Tian
102 Melawan Hauw Tian 2
103 Lawan Lama Ayah
104 Pertarungan di Kuil Shaolin
105 Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106 Tiga Pukulan
107 Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108 Ilmu Semesta Yin Yang
109 Di Tepi Jurang Terjal
110 Masalah di Kota Luoyang
111 Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114 Rumah Makan Bunga Persik
115 Ilmu Sembilan Matahari
116 Dewi Topeng Waja
117 Ajian Gelap Sayuto
118 Melawan Luo Fan
119 Melawan Luo Fan 2
120 Kaisar Huizong
121 Bara Api Dendam dari Rajapura
122 Pendekar Berpedang Butut
123 Mapanji Jayagiri
124 Siluman Rawa Seribu Teratai
125 Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126 Balada Penari Tledek
127 Jasa Pengawalan Bendera Naga
128 Si Ular Kecil
129 Cinta Tak Harus Memiliki
130 Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131 Lawan Yang Sepadan
132 Pimpinan Pasukan
133 Salah Paham
134 Madu
135 Istana Kalingga
136 Ikatan Sepuluh Cincin
137 Ikatan Sepuluh Cincin 2
138 Ikatan Sepuluh Cincin 3
139 Kejutan Yang Tidak Terduga
140 Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141 Suasana Kadipaten Rajapura
142 Bajak Laut Tsang
143 Bajak Laut Tsang 2
144 Gegabah
145 Benteng Pertahanan Karangwuluh
146 Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147 Siapa Dia?
148 Persiapan di Kalingga
149 Bantaran Kali Comal
150 Rajapura adalah Lawan
151 Para Penantang
152 Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153 Pesona Putri China
154 Telik Sandi
155 Pengorbanan Nyi Kenikir
156 Penyerbuan Rajapura
157 Diatas Langit Masih Ada Langit
158 Apa Mau Mu?
159 Ilmu Pangiwa
160 Kematian Junggul Mertalaya
161 Pertempuran Sesungguhnya
162 Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163 Rencana
164 Pilihan
165 Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166 Pertarungan di Malam Buta
167 Rencana Selanjutnya
168 Membangun Kembali Rajapura
169 Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170 Prasangka
171 Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172 Menuju ke Kota Kalingga
173 Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174 Resi Sanggabuana
175 Suara Tanpa Wujud
176 Kedatangan Prabu Jayengrana
177 Wejangan
178 Malam Pertama
179 Tanah Lungguh
180 Ajian Bayu Swara
181 Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182 Kelompok Bulan Sabit Darah
183 Sebelas Bayangan
184 Ksatria Lama
185 Upacara Penyucian Jiwa
186 Persiapan Penobatan
187 Dukungan
188 Paksijandu dan Nalini
189 Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190 Penjara
191 Hidup atau Mati
192 Jimat Keong Buntet
193 Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194 Panji Manggala Seta
195 Pakuwon Weling
196 Di Pertapaan Panumbangan
197 Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198 Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199 Tantangan Ki Pancatnyana
200 Pedang Tulang Iblis
201 Maharesi Padmanaba
202 Syarat dari Dyah Kirana
203 Dyah Kirana
204 Ajian Chanda Bhirawa
205 Istri Kelima
206 Kediaman Lurah Wanua Ranja
207 Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208 Ki Kalawisesa dan Wigati
209 Tawon Raksasa
210 Akhir Sebuah Dendam
211 Iblis Gunung Kawi
212 Nawala dari Prabu Jayengrana
213 Kedewasaan Gayatri
214 Kroco
215 Dewa dari Kahyangan
216 Menuju Pakuwon Tumapel
217 Kawan Baru
218 Lelaki Di Dalam Kabut
219 Malam di Tepi Hutan
220 Titah Prabu Jayengrana
221 Pendekar Golok Angin
222 Sandyakala di Langit Seloageng
223 Sandyakala di Langit Seloageng 2
224 Racun Penghancur Hati
225 Situasi Genting
226 Mengejar Penculik Ayu Ratna
227 Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228 Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229 Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230 Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231 Persiapan
232 Bantuan dari Lodaya
233 Saatnya Telah Tiba
234 Rencana Kedua
235 Senjata Cadangan Jenggala
236 Siapa Dia Sebenarnya?
237 Kemenangan di Selatan
238 Pasukan Gajah
239 Pimpinan Sementara
240 Mimpi Dewi Anggarawati
241 Orang-orang Wanua Karang Pulut
242 Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243 Perang Kota Kunjang
244 Perang Kota Kunjang 2
245 Perang Kota Kunjang 3
246 Perang Kota Kunjang 4
247 Perang Kota Kunjang 5
248 Akhir Perang Kota Kunjang
249 Akhir Perang Kota Kunjang 2
250 Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251 Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252 Bidadari Gunung Arjuna
253 Pangeran Ganeshabrata
254 Bantuan Yang Di Janjikan
255 Akhir Peperangan
256 Tabir Yang Mulai Tersingkap
257 Kembali ke Kotaraja Daha
258 Mulut Seorang Pelacur
259 Putri Akuwu
260 Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261 Intrik Istana
262 Bukan Pendekar Sembarangan
263 Pulang ke Seloageng
264 Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265 Permintaan Eyang
266 Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267 Dewi Anggrek Bulan
268 Gerimis
269 Ki Jatmika
270 Kisah Kelam Anggrek Perak
271 Wangsit
272 Pertapaan Gunung Penanggungan
273 Rajah Smaradahana
274 Menuju Kotaraja Kahuripan
275 Putri Uttejana
276 Adu Jago
277 Bidadari Bertopeng Perak
278 Melawan Nini Raga Setan
279 Ajian Malih Rupa
280 Bahaya Besar
281 Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282 Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283 Mpu Purwa
284 Keruwetan Demung Gumbreg
285 Warung Kembang Sore
286 Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287 Istana Perut Bumi
288 Istana Perut Bumi 2
289 Wanita Berambut Api
290 Jati Diri Dyah Kirana
291 Jati Diri Dyah Kirana 2
292 Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295 Dewi Lembah Wilis
296 Dewi Lembah Wilis 2
297 Dewi Lembah Wilis 3
298 Hutan Larangan
299 Wujud Yang Tidak Berjasad
300 Cerita Sepasang Kekasih
301 Para Penghadang
302 Adipati Arya Natakusuma
303 Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304 Sayembara Panjalu
305 Mencari Pujaan Hati
306 Pendopo Agung Istana Katang-katang
307 Setan Berwujud Manusia
308 Melawan Prabu Gendarmanik
309 Melawan Prabu Gendarmanik 2
310 Gayatri Hamil?
311 Lodaya Menagih Janji
312 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316 Perubahan
317 Singgasana Panjalu
318 Lelaki Tua Berambut Merah
319 Demung Gumbreg
320 Rencana Busuk Para Pejabat
321 Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322 Ulah Rara Kinanti
323 Utusan dari Anjuk Ladang
324 Iblis Bukit Manoreh
325 Malam Pertama Rara Kinanti
326 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328 Keangkuhan
329 Woro dan Wati
330 Menuju Ke Barat
331 Perbatasan Kadipaten Lewa
332 Rampok Kelabang Merah
333 Salah Masuk
334 Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338 Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339 Rencana Selanjutnya
340 Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341 Teka Teki
342 Putri Pertama
343 Murid Padepokan Padas Putih
344 Saudara Seperguruan
345 Bupati Baru Gelang-gelang
346 Hal Yang Ditunggu
347 Kadiri Kesaput Surup
348 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354 Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prahara Jurang Menjing
2
Begawan Ganapati
3
Samaran
4
Kota Pakuwon Palah
5
Gerombolan Serigala Abu-abu
6
Tanah Perdikan Lodaya
7
Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8
Gending Pemikat Sukma
9
Pertarungan Di Tengah Sawah
10
Menuju Kadipaten Karang Anom
11
Makam Keramat Gunung Budeg
12
Makam Keramat Gunung Budeg 2
13
Kawan Baru
14
Hutan Jati Perbatasan
15
Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16
Pertapaan Bukit Rance
17
Pertapaan Bukit Rance 2
18
Pakuwon Widoro
19
Akuwu Durjana
20
Akuwu Durjana 2
21
Rahasia Gayatri
22
Tantangan
23
Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24
Kidung Cinta Endang Patibrata
25
Mimpi
26
Tuduhan Mata-mata
27
Setan Gunung Wilis
28
Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29
Panggil Aku Wiro
30
Guru Untuk Wiropati
31
Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32
Salah Paham
33
Palupi dan Luh Jingga
34
Melawan Jerangkong Api
35
Pencuri
36
Istana Kotaraja
37
Ayah dan Anak
38
Pedang Naga Api
39
Bagian
40
Pertempuran Sungai Lawor
41
Pertempuran Sungai Lawor 2
42
Pertempuran Sungai Lawor 3
43
Pertempuran Sungai Lawor 4
44
Perayaan
45
Pangeran Dari Kadiri
46
Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47
Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48
Pengelana dari Jauh
49
Sama Gilanya
50
Perguruan Tapak Suci
51
Luh Jingga dan Gayatri
52
Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53
Utusan Istana Kadiri
54
Taruhan
55
Karena Arak
56
Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57
Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58
Kembar Tapi Beda
59
Kejutan Besar
60
Lelaki Tua Berjari Buntung
61
Pertarungan yang Melelahkan
62
Maling Hati
63
Tahanan
64
Istana Kadipaten Kalingga
65
Tantangan dari Danapati
66
Adu Jago Ilmu Beladiri
67
Tugas
68
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71
Berangkat ke Tanah Tiongkok
72
Pelabuhan Tumasik
73
Perompak Bendera Hitam
74
Pangeran Suryavarman
75
Kecantikan Putri Champa
76
Malam Panjang
77
Kota Lin'an
78
Penginapan Musim Semi
79
Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80
Siapa Kau Sebenarnya?
81
Gumbreg Melawan Gu Heng
82
Pesta
83
Tubuh Emas
84
Dewa Pedang Wang Chun Yang
85
Putri Lan
86
Raja Serigala Gosong
87
Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88
Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89
Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90
Stempel Giok Naga
91
Nona Besar Song
92
Pertarungan
93
Pencuri Angin
94
Pencuri Angin 2
95
Menuju ke Kota Kaifeng
96
Hati Tiga Wanita Cantik
97
Hua Mei dan Gui Wu
98
Sekte Lembah Hantu
99
Ayu Ratna Palsu
100
Tamu Tak Diundang
101
Melawan Hauw Tian
102
Melawan Hauw Tian 2
103
Lawan Lama Ayah
104
Pertarungan di Kuil Shaolin
105
Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106
Tiga Pukulan
107
Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108
Ilmu Semesta Yin Yang
109
Di Tepi Jurang Terjal
110
Masalah di Kota Luoyang
111
Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114
Rumah Makan Bunga Persik
115
Ilmu Sembilan Matahari
116
Dewi Topeng Waja
117
Ajian Gelap Sayuto
118
Melawan Luo Fan
119
Melawan Luo Fan 2
120
Kaisar Huizong
121
Bara Api Dendam dari Rajapura
122
Pendekar Berpedang Butut
123
Mapanji Jayagiri
124
Siluman Rawa Seribu Teratai
125
Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126
Balada Penari Tledek
127
Jasa Pengawalan Bendera Naga
128
Si Ular Kecil
129
Cinta Tak Harus Memiliki
130
Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131
Lawan Yang Sepadan
132
Pimpinan Pasukan
133
Salah Paham
134
Madu
135
Istana Kalingga
136
Ikatan Sepuluh Cincin
137
Ikatan Sepuluh Cincin 2
138
Ikatan Sepuluh Cincin 3
139
Kejutan Yang Tidak Terduga
140
Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141
Suasana Kadipaten Rajapura
142
Bajak Laut Tsang
143
Bajak Laut Tsang 2
144
Gegabah
145
Benteng Pertahanan Karangwuluh
146
Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147
Siapa Dia?
148
Persiapan di Kalingga
149
Bantaran Kali Comal
150
Rajapura adalah Lawan
151
Para Penantang
152
Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153
Pesona Putri China
154
Telik Sandi
155
Pengorbanan Nyi Kenikir
156
Penyerbuan Rajapura
157
Diatas Langit Masih Ada Langit
158
Apa Mau Mu?
159
Ilmu Pangiwa
160
Kematian Junggul Mertalaya
161
Pertempuran Sesungguhnya
162
Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163
Rencana
164
Pilihan
165
Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166
Pertarungan di Malam Buta
167
Rencana Selanjutnya
168
Membangun Kembali Rajapura
169
Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170
Prasangka
171
Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172
Menuju ke Kota Kalingga
173
Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174
Resi Sanggabuana
175
Suara Tanpa Wujud
176
Kedatangan Prabu Jayengrana
177
Wejangan
178
Malam Pertama
179
Tanah Lungguh
180
Ajian Bayu Swara
181
Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182
Kelompok Bulan Sabit Darah
183
Sebelas Bayangan
184
Ksatria Lama
185
Upacara Penyucian Jiwa
186
Persiapan Penobatan
187
Dukungan
188
Paksijandu dan Nalini
189
Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190
Penjara
191
Hidup atau Mati
192
Jimat Keong Buntet
193
Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194
Panji Manggala Seta
195
Pakuwon Weling
196
Di Pertapaan Panumbangan
197
Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198
Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199
Tantangan Ki Pancatnyana
200
Pedang Tulang Iblis
201
Maharesi Padmanaba
202
Syarat dari Dyah Kirana
203
Dyah Kirana
204
Ajian Chanda Bhirawa
205
Istri Kelima
206
Kediaman Lurah Wanua Ranja
207
Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208
Ki Kalawisesa dan Wigati
209
Tawon Raksasa
210
Akhir Sebuah Dendam
211
Iblis Gunung Kawi
212
Nawala dari Prabu Jayengrana
213
Kedewasaan Gayatri
214
Kroco
215
Dewa dari Kahyangan
216
Menuju Pakuwon Tumapel
217
Kawan Baru
218
Lelaki Di Dalam Kabut
219
Malam di Tepi Hutan
220
Titah Prabu Jayengrana
221
Pendekar Golok Angin
222
Sandyakala di Langit Seloageng
223
Sandyakala di Langit Seloageng 2
224
Racun Penghancur Hati
225
Situasi Genting
226
Mengejar Penculik Ayu Ratna
227
Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228
Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229
Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231
Persiapan
232
Bantuan dari Lodaya
233
Saatnya Telah Tiba
234
Rencana Kedua
235
Senjata Cadangan Jenggala
236
Siapa Dia Sebenarnya?
237
Kemenangan di Selatan
238
Pasukan Gajah
239
Pimpinan Sementara
240
Mimpi Dewi Anggarawati
241
Orang-orang Wanua Karang Pulut
242
Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243
Perang Kota Kunjang
244
Perang Kota Kunjang 2
245
Perang Kota Kunjang 3
246
Perang Kota Kunjang 4
247
Perang Kota Kunjang 5
248
Akhir Perang Kota Kunjang
249
Akhir Perang Kota Kunjang 2
250
Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251
Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252
Bidadari Gunung Arjuna
253
Pangeran Ganeshabrata
254
Bantuan Yang Di Janjikan
255
Akhir Peperangan
256
Tabir Yang Mulai Tersingkap
257
Kembali ke Kotaraja Daha
258
Mulut Seorang Pelacur
259
Putri Akuwu
260
Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261
Intrik Istana
262
Bukan Pendekar Sembarangan
263
Pulang ke Seloageng
264
Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265
Permintaan Eyang
266
Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267
Dewi Anggrek Bulan
268
Gerimis
269
Ki Jatmika
270
Kisah Kelam Anggrek Perak
271
Wangsit
272
Pertapaan Gunung Penanggungan
273
Rajah Smaradahana
274
Menuju Kotaraja Kahuripan
275
Putri Uttejana
276
Adu Jago
277
Bidadari Bertopeng Perak
278
Melawan Nini Raga Setan
279
Ajian Malih Rupa
280
Bahaya Besar
281
Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282
Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283
Mpu Purwa
284
Keruwetan Demung Gumbreg
285
Warung Kembang Sore
286
Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287
Istana Perut Bumi
288
Istana Perut Bumi 2
289
Wanita Berambut Api
290
Jati Diri Dyah Kirana
291
Jati Diri Dyah Kirana 2
292
Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295
Dewi Lembah Wilis
296
Dewi Lembah Wilis 2
297
Dewi Lembah Wilis 3
298
Hutan Larangan
299
Wujud Yang Tidak Berjasad
300
Cerita Sepasang Kekasih
301
Para Penghadang
302
Adipati Arya Natakusuma
303
Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304
Sayembara Panjalu
305
Mencari Pujaan Hati
306
Pendopo Agung Istana Katang-katang
307
Setan Berwujud Manusia
308
Melawan Prabu Gendarmanik
309
Melawan Prabu Gendarmanik 2
310
Gayatri Hamil?
311
Lodaya Menagih Janji
312
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316
Perubahan
317
Singgasana Panjalu
318
Lelaki Tua Berambut Merah
319
Demung Gumbreg
320
Rencana Busuk Para Pejabat
321
Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322
Ulah Rara Kinanti
323
Utusan dari Anjuk Ladang
324
Iblis Bukit Manoreh
325
Malam Pertama Rara Kinanti
326
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328
Keangkuhan
329
Woro dan Wati
330
Menuju Ke Barat
331
Perbatasan Kadipaten Lewa
332
Rampok Kelabang Merah
333
Salah Masuk
334
Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338
Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339
Rencana Selanjutnya
340
Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341
Teka Teki
342
Putri Pertama
343
Murid Padepokan Padas Putih
344
Saudara Seperguruan
345
Bupati Baru Gelang-gelang
346
Hal Yang Ditunggu
347
Kadiri Kesaput Surup
348
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354
Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!