Mendengar perintah Ki Suratimantra semua orang di markas Kelompok Bulan Sabit Darah itu langsung mulai bersiap untuk berangkat.
Namun saat senja menghilang di ganti dengan malam yang gelap, hujan deras tiba-tiba mengguyur sekitar wilayah itu bercampur angin kencang dan petir yang menyambar. Suara guntur yang menakutkan membuat semua orang menjadi ragu untuk bergerak.
Jleeegggeeerrrr!!
Kembali suara guntur bergemuruh di sertai oleh petir yang menyambar. Hujan lebat terus turun dengan derasnya seperti di tumpahkan dari langit oleh Batara Indra.
"Kakang Suratimantra..
Bagaimana ini? Hujan lebat ini sangat berbahaya bagi kita jika memaksakan diri untuk ke Pertapaan Bukit Rance", ujar Mantrayaksa sembari menatap wajah Ki Suratimantra seakan meminta persetujuan untuk tidak berangkat. Meskipun bertubuh lebih tinggi dan lebih kekar dari Suratimantra, namun Mantrayaksa lebih penakut di banding kakak seperguruan nya itu.
"Sebaiknya kita tunda sebentar Kakang..
Bukannya aku takut dengan petir tapi kalau hanya kita yang memaksakan diri, keadaan kita tidak akan menguntungkan jika harus berhadapan dengan rajawali tua itu. Apalagi ada juga Dewi Selendang Merah, dia lebih licik daripada aku.
Aku minta kakang berpikir dulu sebelum kita bergerak", ujar Kaligenjong yang bertubuh kurus namun memiliki kumis tebal dan rambut gimbal yang di kuncir kuda.
Hemmmmmmm...
"Kalau begitu kita tunggu hujan ini mereda Genjong..
Paluombo adalah saudara kita. Kematian nya harus di bayar dengan nyawa mereka", ujar Ki Suratimantra sembari mengepalkan tangannya erat-erat.
Hujan terus mengguyur wilayah itu dengan deras.
Sementara itu di Pertapaan Bukit Rance, Panji Tejo Laksono tengah berdiri menatap rinai hujan deras yang bercampur dengan beberapa kali kilat dan sambaran petir ke bumi.
"Anak muda,
Kau sedang melamun?"
Suara berat dari sosok lelaki sepuh berjenggot panjang itu sontak mengagetkan Panji Tejo Laksono. Caping bambu nya di lepas hingga wajah tampan sang pangeran muda ini terlihat jelas oleh Mpu Kerta yang menyapa nya.
"Ah tidak Resi Mpu Kerta..
Aku hanya tiba tiba ingat dengan guru ku saat memandang air hujan ini. Oh iya kenapa Resi belum juga beristirahat? Bukankah tadi Resi sempat terluka dalam pertarungan?", Panji Tejo Laksono mengalihkan pembicaraan antara mereka.
"Hanya luka dalam ringan, nanti istirahat sebentar juga sudah pulih lagi..
Aku pribadi berterimakasih kepada mu atas pertolongan mu tadi siang. Kalau kau tidak menyelamatkan nyawa ku tepat waktu, mungkin aku sudah mati di tangan Paluombo", Mpu Kerta tersenyum tipis.
"Hanya pertolongan kecil Resi..
Kebetulan saja aku yang paling dekat dengan Resi jadi bisa membantu tepat waktu", Panji Tejo Laksono tersenyum sembari mengangguk.
"Ah sifat mu memang rendah hati, anak muda.
Kau benar benar mengingatkan pada sosok menantu ku yang tampan dan rendah hati. Kebetulan kau juga tampan dan sedikit banyak mirip dengannya hehehehe", Mpu Kerta terkekeh kecil sambil menatap wajah Panji Tejo Laksono.
"Aku tidak paham dengan maksud omongan mu Resi", Panji Tejo Laksono sedikit kebingungan.
"Hehehehe..
Mungkin kau belum tahu bahwa aku adalah mertua Raja Panjalu, Prabu Jayengrana. Putri ku yang bernama Dewi Sasikirana atau punya nama lain Dewi Srimpi adalah salah satu selir dari Maharaja Panjalu itu, anak muda", ujar Mpu Kerta dengan penuh rasa bangga.
'Jadi dia adalah kakek dari adhi Manggala Seta', batin Panji Tejo Laksono.
Panji Tejo Laksono sedikit terkejut mendengar penuturan Mpu Kerta namun dengan cepat dia menyembunyikan perasaan kagetnya dengan menundukkan wajahnya sebentar.
"Wah ternyata Resi Mpu Kerta adalah mertua Gusti Prabu Jitendrakara rupanya..
Aku sungguh tidak menduga nya. Maafkan aku jika aku kurang bersikap sopan kepada mertua Raja Panjalu", ucap Panji Tejo Laksono sembari membungkukkan badannya pada Mpu Kerta.
"Kau tidak perlu repot-repot terlalu sopan pada ku anak muda..
Yang jadi Raja itu menantu ku. Aku benar benar bangga dan kagum pada nya. Seorang lelaki yang memiliki kesaktian linuwih namun bersahaja dan cerdas memimpin negeri besar namun tetap di cintai rakyat nya karena kerendahan hati dan budi pekertinya. Aku hanya berdoa semoga penerusnya kelak adalah seorang yang setingkat dengan nya atau jika tidak bisa tak berbeda jauh dengan menantu ku itu dalam memimpin negeri ini", Mpu Kerta menatap rintik hujan deras yang terus mengguyur Bukit Rance.
Panji Tejo Laksono termangu mendengar harapan dari Mpu Kerta.
"Eh ngomong apa aku ini..
Kau sudah makan anak muda?", Mpu Kerta menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.
"Sudah tadi bersama kawan-kawan yang lain, Resi", jawab Panji Tejo Laksono cepat.
"Baguslah kalau begitu..
Sudah malam, sebaiknya kau beristirahat anak muda. Aku permisi dulu", Mpu Kerta segera berbalik arah dan menuju tempat kediamannya.
Panji Tejo Laksono terus memandangi tubuh tua Mpu Kerta hingga menghilang di balik pintu kediaman nya. Kata kata Mpu Kerta tentang harapan nya untuk penerus tahta Kerajaan Panjalu terus terngiang di telinganya.
'Aku tidak boleh mengecewakan harapan semua warga Kerajaan Panjalu', batin Panji Tejo Laksono sambil kembali menatap ke arah rinai hujan deras.
Malam semakin larut. Udara dingin bercampur derasnya air hujan yang mengguyur membuat suasana semakin sunyi di Pertapaan Bukit Rance.
Pagi menjelang tiba. Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa sang Surya akan segera terbit di ufuk timur. Namun kenyataannya tebalnya mendung hitam di awal musim penghujan ini mampu menghalangi sinar sang raja siang untuk menghangatkan seisi bumi.
Setelah berhenti sejenak, hujan deras kembali mengguyur wilayah Kadipaten Karang Anom Selatan. Hingga membuat persawahan terendam air yang naik karena tanah tidak mampu menyerapnya. Para penghuni Pertapaan Bukit Rance pun sama sekali tidak bisa beraktivitas seperti biasa nya. Mereka terpaksa harus berdiam diri di rumah sambil berharap hujan deras itu akan segera mereda.
Panji Tejo Laksono memanfaatkan kesempatan itu untuk mempelajari beberapa lontar ilmu pengetahuan dan keagamaan yang ada di kediaman Mpu Sumba dan Mpu Kerta.
Dua pandita tua itu dengan senang hati meminjamkan beberapa lontar catatan ilmu pengetahuan seperti Kitab Kutaramanawa dan Kitab terjemahan Mahabharata yang merupakan salinan dari Pertapaan Palah yang merupakan pusat keagamaan terbesar di wilayah Kerajaan Panjalu.
Gayatri terus mencuri pandang ke arah Panji Tejo Laksono yang serius membaca lembar demi lembar lontar kitab yang di pinjam nya. Pun juga Arini mengagumi sosok Panji Tejo Laksono yang cerdas memahami isi kitab yang di bacanya.
Hujan deras itu benar benar membawa berkah tersendiri bagi Panji Tejo Laksono.
Meski sebentar terang, namun hujan deras kembali turun dari langit. Orang jaman dahulu menyebutnya dengan sebutan timbreng yang menjadi awal musim penghujan.
Arini membawakan satu nampan berisi beberapa potong pisang rebus dan singkong rebus yang masih mengepulkan asap tipis pertanda baru diangkat dari kuali.
"Taji Lelono..
Berhenti dulu membacanya. Isi perut mu agar kau tidak masuk angin", ujar Arini sembari meletakkan nampan itu ke atas meja kecil yang ada di serambi kediaman utama Pertapaan Bukit Rance.
"Terimakasih Arini. Kau tahu saja kalau perut ku mulai lapar", jawab Panji Tejo Laksono sembari melipat lembar daun lontar itu dan segera duduk bersila di lantai serambi.
"Apa boleh buat, di dapur cuma ada singkong dan pisang untuk di masak. Punya uang pun juga percuma karena tidak bisa kemana-mana karena hujan deras ini", sahut Arini sembari tersenyum tipis.
"Ini juga untuk menghangatkan perut mu Taji", ucap Gayatri yang datang sembari membawa secangkir wedang jahe dan kendi air minum. Gadis cantik yang menyamar sebagai laki laki itu segera meletakkan barang bawaan nya keatas meja kecil.
"Wah kalian semua benar benar baik pada ku. Terimakasih ya", Panji Tejo Laksono langsung menyambar sepotong pisang rebus lalu menyeruput wedang jahe yang masih panas.
Arini tersenyum simpul pada Panji Tejo Laksono namun segera membuang muka saat melihat Gayatri. Sepertinya kedua gadis cantik itu bersaing keras untuk mendapatkan perhatian dari Panji Tejo Laksono.
Hingga menjelang sore, hujan deras masih belum menunjukkan tanda-tanda mau mereda. Para penghuni Pertapaan Bukit Rance pun terpaksa menggunakan apapun yang ada di dapur untuk mengisi perut. Beberapa cantrik terpaksa hujan-hujanan untuk mencabut beberapa pohon singkong untuk mengganjal perut mereka karena tidak mungkin juga menumbuk padi karena simpanan mereka di lumbung harus di jemur dulu sebelum di tumbuk.
Keesokan harinya nya, setelah hampir dua hari hujan deras mengguyur tanpa henti, menjelang tengah hari perlahan matahari mulai terlihat di langit. Meski mendung tebal masih menggantung di langit, namun setidaknya hujan telah berhenti.
Beberapa tanaman palawija seperti jagung banyak yang roboh karena terlalu banyak air menggenang. Cabai dan sayuran lain pun turut layu karena tanah benar benar berair.
Setelah menahan diri hampir dua hari lamanya, Ki Suratimantra bersama Mantrayaksa dan Kaligenjong beserta 10 anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang berilmu tinggi bergerak menuju ke arah Pertapaan Bukit Rance yang ada di timur hutan jati dengan menunggang kuda mereka masing-masing.
Jalanan yang becek dengan sisa lumpur dari hujan deras dua hari kemarin membuat sepatu kuda mereka menancap dalam tanah, meninggalkan bekas di sepanjang jalan menuju ke arah Pertapaan Bukit Rance. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka memilih untuk menepi karena takut terkena terjangan kuda mereka.
Selepas tengah hari, Ki Suratimantra dan kawan-kawan nya sudah sampai di kaki Bukit Rance. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh nya, ketigabelas orang itu melesat cepat kearah lereng Utara Bukit Rance yang menjadi tempat Pertapaan Bukit Rance.
Jleeggg!!
Jleeggg!!
Jlleeeegghh!!
Ketigabelas orang itu mendarat di halaman pertapaan. Kedatangan mereka langsung membuat kepanikan para cantrik dan para penghuni Pertapaan Bukit Rance.
Ki Kagendra yang melihat kedatangan mereka langsung melesat cepat ke halaman pertapaan disusul oleh Nyi Sekar Mirah. Panji Tejo Laksono dan Gayatri juga Adijaya dan Arini pun ikut bergegas ke halaman pertapaan bersama Mpu Kerta dan Mpu Sumba.
"Oh rupanya kalian masih bercokol di tempat ini, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari kalian, Burung tua dan selendang butut!", ujar Ki Suratimantra sembari menunjuk ke arah Ki Kagendra dan Nyi Sekar Mirah.
"Suratimantra...
Nyali mu besar juga berani datang ke tempat ini. Apa kau sudah bosan berbuat kejahatan hingga ingin menyerahkan diri?", Ki Kagendra menatap wajah Ki Suratimantra sembari tersenyum tipis.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Menyerahkan diri katamu?!!
Lagakmu seperti jagoan nomor satu di Tanah Jawadwipa ini, Burung tua! Sekalipun Prabu Jayengrana sekalipun datang ke tempat ini, atau bahkan Dewa Siwa sendiri yang ingin menangkap ku, aku tidak akan pernah menyerah!
Hari ini aku datang untuk menuntut balas kematian saudara ku Paluombo, Kagendra. Kau bersiaplah untuk mati!", teriak Ki Suratimantra sembari mengepalkan tangannya erat-erat.
"Siapa yang akan mati masih belum tahu, Suratimantra...
Kalau kau yakin bisa mengalahkan ku, pasti kau tidak akan membawa bantuan sebanyak ini bukan? Hehehehe ", Ki Kagendra menyeringai lebar.
"Bedebah!
Hari ini akan ku buat kau jadi burung panggang", teriak Ki Suratimantra sembari menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Ki Kagendra.
Bersamaan dengan pergerakan Ki Suratimantra, para pengikutnya ikut menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
Pertarungan sengit segera terjadi di depan Pertapaan Bukit Rance.
Panji Tejo Laksono langsung mencabut pedang dua warna nya dan menyongsong serangan dari dua orang pengikut Ki Suratimantra yang bersenjatakan pedang.
Thrrraaannnnggggg!
Satu tangkisan pedang membuat denting nyaring yang memekakkan telinga. Setelah menangkis tebasan pedang salah satu penyerang sembari menghindari sabetan pedang yang mengincar kakinya, Panji Tejo Laksono melompat mundur beberapa langkah. Menggabungkan Ajian Sepi Angin dan Ilmu Pedang Tanpa Bayangan, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah seorang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang mengayunkan pedangnya kearah leher Panji Tejo Laksono.
Pemuda tampan itu segera merendahkan tubuhnya sembari membabatkan pedang nya ke arah perut lawan.
Chrraaasssshhh!!
Auuuggghhhhh!!
Lawan menjerit keras saat pedang sang pangeran Panjalu menebas pinggang. Pria bertubuh kekar itu langsung roboh dengan usus terburai.
Tak berhenti sampai disitu saja, Panji Tejo Laksono langsung bergerak cepat ke arah lawan kedua. Sekuat tenaga, sang pengikut Ki Suratimantra langsung mengayunkan pedangnya kearah bahu kiri Panji Tejo Laksono namun sang murid Begawan Ganapati itu dengan cepat berkelit menghindar sambil menebaskan pedangnya kearah lengan kanan lawannya.
Chrrraaaaaaakkk..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Pria bertubuh gempal itu langsung menjerit keras waktu pedang dua warna Panji Tejo Laksono menebas lengan kanan nya. Potongan lengan kanan yang masih memegang pedang itu jatuh ke tanah dan si empunya terhuyung-huyung mundur sembari membekap luka potong di tangan kanannya.
Tanpa membuang kesempatan, Panji Tejo Laksono kembali melesat cepat ke samping kanan lawan dan dengan cepat menusuk bawah rusuk lawan.
Jllleeeeeppppphhh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Lawan tersungkur bersimbah darah saat Panji Tejo Laksono mencabut pedang nya dari tubuh lawan nya.
Di sisi lain, Nyi Sekar Mirah yang di keroyok oleh Mantrayaksa dan Kaligenjong keteteran karena kekompakan dua orang berperawakan sangar itu.
Nyi Sekar Mirah merunduk menghindari sabetan golok besar Mantrayaksa.
Whhhuuuggghhhh!!
Perempuan cantik yang telah berumur itu lolos dari sabetan maut golok besar Mantrayaksa namun Kaligenjong yang melihat celah, langsung menghantamkan tangan kanannya yang diliputi asap putih tebal berbau busuk kearah bahu kanan Nyi Sekar Mirah.
Berusaha menahan serangan dadakan Kaligenjong, Nyi Sekar Mirah yang kaget menggunakan selendang merah nya untuk bertahan.
Blllaaammmmmmmm!!
Nyi Sekar Mirah muntah darah segar dan tubuhnya melayang mundur ke belakang. Panji Tejo Laksono yang baru selesai menghabisi nyawa seorang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah langsung menyambar tubuh Nyi Sekar Mirah sebelum menghantam tanah.
"Nyi Dewi, kau tidak apa-apa?", tanya Panji Tejo Laksono yang di balas anggukan kepala dari Nyi Sekar Mirah. Perempuan paruh baya itu segera mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Si kurus itu bagian ku, Taji.
Kau urus yang tinggi besar itu", ujar Nyi Sekar Mirah segera.
"Baik Nyi Dewi", balas Panji Tejo Laksono sembari mengalihkan pandangannya pada Mantrayaksa yang terus memutar golok besar nya. Dengan satu kali tarikan nafas, Mantrayaksa melompat tinggi ke udara dan meluncur turun sembari menebaskan golok besar nya ke arah Nyi Sekar Mirah dan Panji Tejo Laksono hingga kedua orang itu langsung berpencar menghindar.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Tanah bergetar saat terjadi ledakan dahsyat terdengar saat golok besar Mantrayaksa menghantam tanah. Panji Tejo Laksono melenting tinggi usai menjejak tanah dengan keras.
Dengan menggunakan jurus ke tujuh Ilmu Pedang Tanpa Bayangan, Panji Tejo Laksono meluncur turun ke arah Mantrayaksa yang baru saja menghantam tanah dengan golok besar nya. Pria bertubuh tinggi besar itu berupaya keras menangkis sabetan pedang Panji Tejo Laksono yang bergerak cepat ke arah nya.
Thrrraaannnnggggg..
Blllaaammmmmmmm!!
Mantrayaksa dan Panji Tejo Laksono sama sama terdorong mundur beberapa langkah ke belakang saat dua senjata mereka yang di lambari tenaga dalam beradu. Tak ingin membuang waktu, Panji Tejo Laksono kembali melesat cepat kearah Mantrayaksa dengan menggunakan Ajian Sepi Angin nya.
Melihat itu, Mantrayaksa mengayunkan golok besar nya ke arah perut Panji Tejo Laksono. Secepat kilat, Panji Tejo Laksono merubah gerakan tubuhnya dan melompat tinggi sembari menyabetkan pedangnya kearah leher Mantrayaksa.
Whhhuuuggghhhh..!!
Mantrayaksa mencoba untuk berkelit menghindari sabetan pedang Panji Tejo Laksono. Dia berhasil menyelamatkan lehernya tapi punggung nya masih terkena tajamnya bilah pedang.
Shrraaaakkkkhhhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Mantrayaksa meraung keras saat pedang Panji Tejo Laksono merobek punggungnya. Darahnya segera mengucur dari luka yang ada di punggung. Sambil merasakan perih di punggung nya, Mantrayaksa mengacungkan golok besar nya ke arah Panji Tejo Laksono.
"Akan ku potong potong tubuh mu, keparat!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat siang semuanya, selamat beraktifitas.
Semangat 💪💪💪
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌
2024-04-01
0
Mahayabank
/Good//Good//Good//Ok//Ok/
2024-04-01
0
rajes salam lubis
lanjutkan
2023-09-16
1