****
Tiga purnama kemudian..
....
Whuunggg whuungg...
Blllaaammmmmmmm!!!
Sebuah lobang sebesar kerbau tercipta di tanah saat ledakan keras itu terdengar.
"Bagus sekali Pangeran...
Sekarang serang aku dengan seluruh tenaga dalam mu", ucap Begawan Ganapati sambil mengusap peluh yang membasahi pipinya yang keriput.
'Baru tiga purnama berlatih, tapi kecepatan pemahaman nya begitu tinggi. Pangeran muda ini pasti sehebat ayahnya di masa depan ', batin Begawan Ganapati.
Panji Tejo Laksono langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada. Merentangkan nya dengan cepat lalu kedua telapak tangan menangkup di dada. Kedua matanya menutup rapat.
Sinar merah kebiruan langsung menyelimuti seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Menciptakan udara panas yang menakutkan dan angin menderu berseliweran layak nya badai dengan Panji Tejo Laksono sebagai pusat pusaran. Kedua tangan nya dilingkupi sinar merah kebiruan yang membentuk lingkaran bergulung gulung.
Saat mata Panji Tejo Laksono terbuka, kilatan mata berubah menjadi merah seperti mata naga yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
Ini adalah Ajian Dewa Naga Langit, ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dipelajari oleh Panji Tejo Laksono selama hampir tiga purnama terakhir. Bersamaan dengan itu, Begawan Ganapati juga mengajari Ilmu Pedang Tanpa Bayangan. Ilmu permainan pedang yang sangat serasi bila di gabungkan dengan Ajian Sepi Angin, yang di dapatkan Panji Watugunung dari Padepokan Padas Putih.
Tiga purnama ini, Begawan Ganapati benar benar menempa tubuh Panji Tejo Laksono dengan keras. Malam hari dia harus bersemedi tanpa boleh ketiduran, pagi berlatih jurus, siang hari berbagai latihan tubuh seperti memanggul batu dalam keranjang naik turun bukit hingga sore, setelah itu berlatih jurus lagi hingga senja.
Jika di Padepokan Padas Putih masih ada toleransi dari para guru karena posisi nya sebagai putra sulung Prabu Jayengrana, maka itu tidak ada di masa pelatihan Begawan Ganapati. Dia benar-benar di tempa tanpa pandang bulu.
Kedua pengawalnya Siwikarna dan Jaluwesi sampai tidak tega melihat penderitaan yang dialami oleh Panji Tejo Laksono hingga memohon kepada Begawan Ganapati untuk sedikit memberi kelonggaran pada anak raja Panjalu itu namun kakek tua renta itu tak bergeming sedikitpun. Pelatihan nya justru lebih keras lagi hingga memaksa Siwikarna dan Jaluwesi terpaksa menutup mulut mereka rapat-rapat agar Begawan Ganapati tidak menambah pelatihan Panji Tejo Laksono.
Tumenggung Ludaka 2 pekan sekali berkunjung ke tempat itu sambil membawa berita mengenai kondisi terakhir di seputar istana Kotaraja Kadiri.
Dari berita yang disampaikan oleh Tumenggung Ludaka, Panji Tejo Laksono tahu perkembangan terbaru juga desas desus yang beredar luas di kalangan masyarakat. Dari Tumenggung Ludaka pula Panji Tejo Laksono tahu bahwa Prabu Jitendrakara alias Panji Watugunung mengerahkan senopati andalan Kerajaan Panjalu, Warigalit untuk menumpas kelompok pembunuh Bulan Sabit Darah.
Meski berita tentang Panji Tejo Laksono masih hidup, tapi tidak menyurutkan langkah Maharaja Panjalu itu untuk membasmi mereka. Setelah markas besar mereka di perbatasan antara Kadipaten Karang Anom dan Tanah Perdikan Lodaya di hancurkan, Senopati Warigalit terus memburu mereka dengan bantuan pasukan Garuda Panjalu di bawah pimpinan adik iparnya, Tumenggung Jarasanda. Mereka mampu menyudutkan kelompok itu hingga satu purnama terakhir tidak berani melakukan aksi pembunuhan lagi.
Haaaaaarrrrrgggggghhhhhh!!
Teriak Panji Tejo Laksono dengan keras. Angin panas semakin membesar dua kali lipat pertanda Panji Tejo Laksono telah mencapai puncak Ajian Dewa Naga Langit.
"Pangeran, sekarang saatnya!", teriak Begawan Pasopati yang langsung membuat Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kanannya ke arah batu hitam sebesar gajah yang ada di dekat air terjun kecil.
Whhhhuuuuuummmmm..
Blllaaammmmmmmm!!!!
Batu hitam sebesar gajah itu langsung hancur berkeping keping. Panji Tejo Laksono meluncur turun ke bawah sambil menata nafasnya. Begawan Ganapati tersenyum lebar sembari berjalan mendekati Panji Tejo Laksono.
"Kau benar benar berbakat untuk menjadi seorang pendekar pilih tanding di masa depan, Pangeran ..
Tidak sia sia aku mengajari mu", ujar Begawan Ganapati sambil menepuk-nepuk pundak Panji Tejo Laksono.
"Semua ini karena bimbingan guru", Panji Tejo Laksono menghormat pada Begawan Ganapati.
"Bagus, kerendahan hati seperti itu yang aku suka dari mu pangeran..
Ingat pesan ku untuk tetap rendah hati meski kau mungkin lebih unggul dibandingkan orang lain. Ingat lah, diatas langit masih ada langit", petuah Begawan Ganapati sambil tersenyum simpul.
"Murid memahami petuah dari guru", jawab Panji Tejo Laksono dengan sopan.
Mereka berdua lantas berjalan beriringan menuju ke pondok kayu beratap daun kelapa tempat tinggal mereka selama ini. Siwikarna langsung menggelar alas duduk untuk Panji Tejo Laksono dan Begawan Ganapati, sementara Jaluwesi langsung mengulurkan kendi air minum pada junjungan mereka.
"Pangeran Tejo Laksono,
Aku rasa sudah cukup aku menurunkan ilmu ku pada mu. Tiga purnama ini kau sudah berusaha keras dan hasil yang kau capai juga luar biasa. Orang biasa tak ada yang mampu menguasai Ajian Dewa Naga Langit hanya dalam waktu singkat seperti mu. Aku saja butuh waktu lebih dari 1 dasawarsa untuk mempelajari ilmu itu hingga tahap ketiga.
Kau harus turun gunung, dan sebagai guru mu aku minta tanda bakti mu sebagai murid dengan topo ngrame selama 40 hari. Kau tidak boleh menggunakan jati diri mu sebagai pangeran Kadiri, juga tidak boleh mengungkapkan nya sebelum 40 hari itu selesai.
Apa kau sanggup?", tanya Begawan Ganapati sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Sanggup guru..
Tapi jika aku turun gunung, guru selanjutnya akan tetap tinggal disini bukan?", Panji Tejo Laksono benar benar ingin tahu.
"Hehehehe soal itu tak perlu kau khawatir kan.. Yang penting ilmu dari guru ku sudah aku wariskan, selanjutnya aku bisa tenang bertapa untuk mencapai moksa..
Oh iya hampir lupa, ada satu benda yang akan ku berikan pada mu", usai berkata demikian Begawan Ganapati masuk ke dalam kamar peristirahatan nya dan mengambil sebuah pedang dengan gagang hitam.
"Pedang ini dulu menemani ku berkelana di dunia persilatan timur. Bawalah sampai kau menemukan senjata pusaka yang cocok dengan mu suatu saat nanti", Begawan Ganapati menyerahkan pedang itu pada Panji Tejo Laksono.
"Terimakasih banyak Guru..
Semua ajaran guru akan ku ingat selamanya", ujar Panji Tejo Laksono segera.
Setelah itu, Panji Tejo Laksono menulis sebuah surat untuk di berikan pada Prabu Jayengrana. Siwikarna dan Jaluwesi merengek ingin mengikuti Panji Tejo Laksono namun pangeran muda ini ingin menjalani topo ngrame nya seorang diri.
Siwikarna dan Jaluwesi terpaksa mengalah dan mengikuti perintah Panji Tejo Laksono untuk mengantar Nawala nya ke Kotaraja Kadiri. Siang itu juga mereka bersiap siap untuk meninggalkan pondok kayu tempat pelatihan Panji Tejo Laksono.
"Guru,
Murid mohon pamit. Aku harap Sang Hyang Akarya Jagat akan memberikan umur panjang pada guru agar suatu saat nanti kita masih bisa bertemu", Panji Tejo Laksono menyembah pada Begawan Ganapati.
"Berhati hati lah pangeran..
Jaga diri mu baik-baik", ujar Begawan Ganapati sambil tersenyum simpul.
Dengan langkah kaki mantap, Panji Tejo Laksono melangkah menuju ke arah selatan. Sedangkan Siwikarna dan Jaluwesi menuju ke arah barat. Begawan Ganapati menatap kepergian Panji Tejo Laksono dengan penuh rasa haru.
Sekejap kemudian, Begawan Ganapati melesat ke arah puncak Gunung Kelud untuk kembali melanjutkan pertapaan nya.
Panji Tejo Laksono terus melesat ke arah pucuk pucuk pohon yang tumbuh subur di lereng Gunung Kelud. Suasana hijau nan sejuk terasa sejauh mata memandang.
Tanpa disadari Panji Tejo Laksono, dia berjalan menuju Kadipaten Seloageng dimana penguasa nya adalah Adipati Tejo Sumirat, kakek nya dari pihak sang ibu Maharani Anggarawati.
Usai melewati hutan lebat yang banyak di huni oleh binatang buas, Panji Tejo Laksono sampai di sebuah perkampungan yang bernama Pacuh dengan raman (lurah) bernama Mpu Wungku.
Para peladang dan petani yang sedang menanam padi dan jagung di lahan mereka sedikit kaget melihat kedatangan Panji Tejo Laksono. Bukan karena Panji Tejo Laksono seram tapi justru karena ketampanan pemuda itu.
Karena kebingungan arah, Panji Tejo Laksono segera mendekati salah petani yang tengah menanam jagung.
"Permisi Kisanak, numpang tanya..
Daerah ini apa namanya ya? Maaf saya baru tersesat", tanya Arya Pethak dengan sopan.
Sekilas sang petani ini menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono seakan tak percaya dengan omongan nya. Lalu dengan acuh tak acuh dia menjawab.
"Kau bukan orang sini ya?
Kalau ada apa-apa aku tidak mau disalahkan. Kau tanya saja pada Lurah kami, Mpu Wungku. Kau jalan lurus saja. Kanan jalan ada rumah besar yang ada pohon sawo nya. Kau tanya saja disana", si petani paruh baya itu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan membuat lobang pada bedengan jagung.
Mendengar nasehat itu, Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke arah selatan.
Sesuai petunjuk petani tadi, Panji Tejo Laksono sampai di rumah yang disebut. Seorang lelaki bertubuh pendek nampak duduk bersama dengan dua orang lelaki bertubuh tegap yang memakai ikat kepala hitam. Panji Tejo Laksono langsung bergegas masuk ke dalam halaman rumah. Kedatangan Panji Tejo Laksono langsung membuat dua lelaki bertubuh tegap di samping lelaki bertubuh pendek.
"Permisi Kisanak, saya mau tanya. Apa betul disini kediaman Lurah Mpu Wungku?", kembali Panji Tejo Laksono bertanya dengan sopan.
"Betul anak muda, ini rumah ku Lurah Wanua Pacuh..
Ada apa kau mencari ku?", sambil tersenyum tipis, lelaki bertubuh pendek yang bernama Mpu Wungku itu mengamati Panji Tejo Laksono.
"Maaf jika aku mengganggu Ki Lurah..
Aku ingin bertanya, ini daerah mana? Maksud ku masuk wilayah Kadipaten mana?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Oh seperti nya kau orang asing ya?
Ini adalah Wanua Pacuh, wilayah Pakuwon Palah yang merupakan bagian dari Kadipaten Seloageng.
Kalau boleh tau siapa namamu? Sebagai Lurah aku berhak mengetahui orang asing yang masuk ke wilayah ku", Mpu Wungku masih tersenyum tipis.
"Namaku....
Tee... eh ngomong apa aku ini. Nama ku Taji Lelono. Iya nama ku Taji Lelono Ki Lurah", jawab Panji Tejo Laksono yang nyaris keceplosan menyebutkan nama nya. Dia pun mengarang sebuah nama sebagai samarannya.
"Darimana asal mu Taji Lelono?", Mpu Wungku masih tersenyum tipis.
"Asal ku dari timur Kotaraja Kadiri. Tadi aku salah ambil tikungan jalan setelah pulang dari rumah guru ku hingga tersesat sampai kemari", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.
"Baiklah,
Kalau kau ingin kembali ke rumah mu, kau jalan lurus saja. Setelah masuk kota pakuwon, kau ambil kiri. Kau tinggal ikuti jalan itu nanti sampai di Kotaraja Kadiri", ujar Mpu Wungku dengan cepat.
"Terimakasih atas bantuannya Ki Lurah.. Kau begitu aku mohon pamit dulu", Panji Tejo Laksono membungkukkan badannya sembari berlalu menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Ki Lurah Mpu Wungku.
Setelah Panji Tejo Laksono berlalu, dua orang bertubuh tegap langsung bertanya pada Mpu Wungku.
"Ki Lurah, kenapa kau memberi tahu jalan pada nya? Harus nya tadi dia kita tangkap karena aku curiga bahwa dia adalah anggota perampok yang sedang dicari oleh pemerintah Pakuwon Palah", ujar si lelaki bertubuh tegap yang merupakan jagabhaya itu.
"Kita tidak boleh asal menuduh orang, jagabhaya..
Kelihatannya dia orang baik. Juga seperti seorang pendekar yang baru turun gunung. Lebih baik tidak macam-macam dengan nya kalau tidak ingin ada masalah. Kalaupun benar dia anggota perampok yang meresahkan masyarakat itu, biar prajurit Pakuwon Palah yang mengurusi nya", sahut Mpu Wungku sambil kembali duduk bersila di tempatnya. Mendengar jawaban itu, jagabhaya itu langsung terdiam seketika.
Panji Tejo Laksono terus melangkahkan kakinya menuju ke selatan. Rasa haus dan lapar mulai menyerangnya. Tapi pemuda tampan itu terus berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh sang Lurah Desa Pacuh.
Begitu memasuki jalan raya, Panji Tejo Laksono melihat sebuah warung makan yang sedang di kunjungi beberapa orang. Meski tidak banyak, sewaktu di tempat pelatihan, Siwikarna dan Jaluwesi memberikan sejumlah kepeng perak yang lumayan banyak. Dengan langkah kaki tegak, dia melangkah masuk ke dalam warung makan.
"Ki,
Satu nasi sama lauknya ikan ya", ujar Panji Tejo Laksono sambil meletakkan bokong nya ke kursi kayu yang ada di pojokan.
"Siap Den..
Tunggu sebentar ya?", ujar si pemilik warung yang merupakan seorang lelaki paruh baya yang bekerja di bantu seorang anak gadis yang memakai dandanan rakyat jelata.
Tak lama berselang, sang gadis pelayan warung itu sudah mengantarkan pesanan Panji Tejo Laksono. Melihat paras muka Panji Tejo Laksono yang diatas rata-rata, si gadis muda itu tersenyum manis sembari meletakkan piring ke depan sang pangeran muda.
Saat Panji Tejo Laksono sedang asyik menikmati pesanan nya, seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah seram, kepala plontos dan jambang lebat masuk ke dalam warung makan itu bersama dua orang pengikutnya. Kumis tebal nya nampak menakutkan. Beberapa orang pengunjung langsung memilih keluar dari warung makan itu , karena takut dengan si lelaki plontos yang membawa sebuah golok besar. Hingga hanya tersisa seorang bercaping bambu di sudut ruangan warung dan Panji Tejo Laksono yang sedang asyik menikmati gurihnya ikan goreng.
"Ternyata kau sembunyi di sini, Gayatri..
Ayo sekarang ikut aku pulang ke Kota Kadipaten Seloageng. Juragan Wirakrama pasti akan senang jika kau pulang", teriak si kepala plontos sambil menyeringai lebar menatap sosok bercaping bambu yang ada di sudut ruangan warung makan.
"Aku tidak sudi pulang ke Seloageng, Gombang.
Aku tidak mau menjadi bahan permainan politik Kanjeng Romo. Pergi kau jangan pedulikan aku", sahut sosok bercaping bambu itu yang ternyata adalah seorang wanita.
"Sudi tidak sudi, aku akan tetap membawa mu pulang ke Seloageng.
Bongkeng, Rompal..
Seret perempuan itu segera. Cepat!", perintah si lelaki bertubuh plontos itu dengan keras. Dua orang pengikut si kepala plontos langsung bergerak menyergap si sosok bercaping bambu itu dengan cepat. Namun si sosok bercaping bambu yang di panggil Gayatri itu dengan cepat berontak hingga si Bongkeng terjengkang dan menabrak meja makan Panji Tejo Laksono.
Brraaakkkk!!
Meja makan itu langsung hancur tertabrak tubuh Bongkeng. Untung saja Panji Tejo Laksono langsung menyelamatkan piring nya hingga nasi nya yang tinggal separuh tidak tumpah.
Panji Tejo Laksono menoleh ke arah si plontos dengan geram karena mereka mengacaukan acara makan siang nya.
"Bisa tidak kalian baik-baik bertindak agar tidak menggangu kenyamanan orang lain?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah si kepala plontos yang bernama Gombang.
"Tutup mulut mu, pemuda tengik!
Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan kami", hardik Si Gombang sembari melotot ke arah Panji Tejo Laksono.
"Aku tidak akan ikut campur jika kalian bertindak baik baik. Aku lihat nisanak itu juga tidak mau ikut dengan mu. Sebaiknya kalian lepaskan dia sebelum aku bertindak tegas terhadap kalian", Panji Tejo Laksono meletakkan piring nya keatas meja makan di sudut ruangan.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Bocah kemarin sore mau sok pahlawan di depan ku, hahahahahahaha", tawa keras Gombang langsung berderai di sambut si Bongkeng dan Rompal. Gombang mendengus keras sebelum berkata dengan suara lantang.
"Bongkeng, Rompal..
Beri dia pelajaran!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat malam semuanya, selamat beristirahat.
Jangan lupa jaga kesehatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌
2024-03-26
0
Mahayabank
/Good//Good//Good//Ok//Ok//Moon/
2024-03-26
0
Mahayabank
bongkeng dan rompal bisa memberi pelajaran rupanya.../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-03-26
0