Samaran

****

Tiga purnama kemudian..

....

Whuunggg whuungg...

Blllaaammmmmmmm!!!

Sebuah lobang sebesar kerbau tercipta di tanah saat ledakan keras itu terdengar.

"Bagus sekali Pangeran...

Sekarang serang aku dengan seluruh tenaga dalam mu", ucap Begawan Ganapati sambil mengusap peluh yang membasahi pipinya yang keriput.

'Baru tiga purnama berlatih, tapi kecepatan pemahaman nya begitu tinggi. Pangeran muda ini pasti sehebat ayahnya di masa depan ', batin Begawan Ganapati.

Panji Tejo Laksono langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada. Merentangkan nya dengan cepat lalu kedua telapak tangan menangkup di dada. Kedua matanya menutup rapat.

Sinar merah kebiruan langsung menyelimuti seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Menciptakan udara panas yang menakutkan dan angin menderu berseliweran layak nya badai dengan Panji Tejo Laksono sebagai pusat pusaran. Kedua tangan nya dilingkupi sinar merah kebiruan yang membentuk lingkaran bergulung gulung.

Saat mata Panji Tejo Laksono terbuka, kilatan mata berubah menjadi merah seperti mata naga yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.

Ini adalah Ajian Dewa Naga Langit, ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dipelajari oleh Panji Tejo Laksono selama hampir tiga purnama terakhir. Bersamaan dengan itu, Begawan Ganapati juga mengajari Ilmu Pedang Tanpa Bayangan. Ilmu permainan pedang yang sangat serasi bila di gabungkan dengan Ajian Sepi Angin, yang di dapatkan Panji Watugunung dari Padepokan Padas Putih.

Tiga purnama ini, Begawan Ganapati benar benar menempa tubuh Panji Tejo Laksono dengan keras. Malam hari dia harus bersemedi tanpa boleh ketiduran, pagi berlatih jurus, siang hari berbagai latihan tubuh seperti memanggul batu dalam keranjang naik turun bukit hingga sore, setelah itu berlatih jurus lagi hingga senja.

Jika di Padepokan Padas Putih masih ada toleransi dari para guru karena posisi nya sebagai putra sulung Prabu Jayengrana, maka itu tidak ada di masa pelatihan Begawan Ganapati. Dia benar-benar di tempa tanpa pandang bulu.

Kedua pengawalnya Siwikarna dan Jaluwesi sampai tidak tega melihat penderitaan yang dialami oleh Panji Tejo Laksono hingga memohon kepada Begawan Ganapati untuk sedikit memberi kelonggaran pada anak raja Panjalu itu namun kakek tua renta itu tak bergeming sedikitpun. Pelatihan nya justru lebih keras lagi hingga memaksa Siwikarna dan Jaluwesi terpaksa menutup mulut mereka rapat-rapat agar Begawan Ganapati tidak menambah pelatihan Panji Tejo Laksono.

Tumenggung Ludaka 2 pekan sekali berkunjung ke tempat itu sambil membawa berita mengenai kondisi terakhir di seputar istana Kotaraja Kadiri.

Dari berita yang disampaikan oleh Tumenggung Ludaka, Panji Tejo Laksono tahu perkembangan terbaru juga desas desus yang beredar luas di kalangan masyarakat. Dari Tumenggung Ludaka pula Panji Tejo Laksono tahu bahwa Prabu Jitendrakara alias Panji Watugunung mengerahkan senopati andalan Kerajaan Panjalu, Warigalit untuk menumpas kelompok pembunuh Bulan Sabit Darah.

Meski berita tentang Panji Tejo Laksono masih hidup, tapi tidak menyurutkan langkah Maharaja Panjalu itu untuk membasmi mereka. Setelah markas besar mereka di perbatasan antara Kadipaten Karang Anom dan Tanah Perdikan Lodaya di hancurkan, Senopati Warigalit terus memburu mereka dengan bantuan pasukan Garuda Panjalu di bawah pimpinan adik iparnya, Tumenggung Jarasanda. Mereka mampu menyudutkan kelompok itu hingga satu purnama terakhir tidak berani melakukan aksi pembunuhan lagi.

Haaaaaarrrrrgggggghhhhhh!!

Teriak Panji Tejo Laksono dengan keras. Angin panas semakin membesar dua kali lipat pertanda Panji Tejo Laksono telah mencapai puncak Ajian Dewa Naga Langit.

"Pangeran, sekarang saatnya!", teriak Begawan Pasopati yang langsung membuat Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kanannya ke arah batu hitam sebesar gajah yang ada di dekat air terjun kecil.

Whhhhuuuuuummmmm..

Blllaaammmmmmmm!!!!

Batu hitam sebesar gajah itu langsung hancur berkeping keping. Panji Tejo Laksono meluncur turun ke bawah sambil menata nafasnya. Begawan Ganapati tersenyum lebar sembari berjalan mendekati Panji Tejo Laksono.

"Kau benar benar berbakat untuk menjadi seorang pendekar pilih tanding di masa depan, Pangeran ..

Tidak sia sia aku mengajari mu", ujar Begawan Ganapati sambil menepuk-nepuk pundak Panji Tejo Laksono.

"Semua ini karena bimbingan guru", Panji Tejo Laksono menghormat pada Begawan Ganapati.

"Bagus, kerendahan hati seperti itu yang aku suka dari mu pangeran..

Ingat pesan ku untuk tetap rendah hati meski kau mungkin lebih unggul dibandingkan orang lain. Ingat lah, diatas langit masih ada langit", petuah Begawan Ganapati sambil tersenyum simpul.

"Murid memahami petuah dari guru", jawab Panji Tejo Laksono dengan sopan.

Mereka berdua lantas berjalan beriringan menuju ke pondok kayu beratap daun kelapa tempat tinggal mereka selama ini. Siwikarna langsung menggelar alas duduk untuk Panji Tejo Laksono dan Begawan Ganapati, sementara Jaluwesi langsung mengulurkan kendi air minum pada junjungan mereka.

"Pangeran Tejo Laksono,

Aku rasa sudah cukup aku menurunkan ilmu ku pada mu. Tiga purnama ini kau sudah berusaha keras dan hasil yang kau capai juga luar biasa. Orang biasa tak ada yang mampu menguasai Ajian Dewa Naga Langit hanya dalam waktu singkat seperti mu. Aku saja butuh waktu lebih dari 1 dasawarsa untuk mempelajari ilmu itu hingga tahap ketiga.

Kau harus turun gunung, dan sebagai guru mu aku minta tanda bakti mu sebagai murid dengan topo ngrame selama 40 hari. Kau tidak boleh menggunakan jati diri mu sebagai pangeran Kadiri, juga tidak boleh mengungkapkan nya sebelum 40 hari itu selesai.

Apa kau sanggup?", tanya Begawan Ganapati sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono.

"Sanggup guru..

Tapi jika aku turun gunung, guru selanjutnya akan tetap tinggal disini bukan?", Panji Tejo Laksono benar benar ingin tahu.

"Hehehehe soal itu tak perlu kau khawatir kan.. Yang penting ilmu dari guru ku sudah aku wariskan, selanjutnya aku bisa tenang bertapa untuk mencapai moksa..

Oh iya hampir lupa, ada satu benda yang akan ku berikan pada mu", usai berkata demikian Begawan Ganapati masuk ke dalam kamar peristirahatan nya dan mengambil sebuah pedang dengan gagang hitam.

"Pedang ini dulu menemani ku berkelana di dunia persilatan timur. Bawalah sampai kau menemukan senjata pusaka yang cocok dengan mu suatu saat nanti", Begawan Ganapati menyerahkan pedang itu pada Panji Tejo Laksono.

"Terimakasih banyak Guru..

Semua ajaran guru akan ku ingat selamanya", ujar Panji Tejo Laksono segera.

Setelah itu, Panji Tejo Laksono menulis sebuah surat untuk di berikan pada Prabu Jayengrana. Siwikarna dan Jaluwesi merengek ingin mengikuti Panji Tejo Laksono namun pangeran muda ini ingin menjalani topo ngrame nya seorang diri.

Siwikarna dan Jaluwesi terpaksa mengalah dan mengikuti perintah Panji Tejo Laksono untuk mengantar Nawala nya ke Kotaraja Kadiri. Siang itu juga mereka bersiap siap untuk meninggalkan pondok kayu tempat pelatihan Panji Tejo Laksono.

"Guru,

Murid mohon pamit. Aku harap Sang Hyang Akarya Jagat akan memberikan umur panjang pada guru agar suatu saat nanti kita masih bisa bertemu", Panji Tejo Laksono menyembah pada Begawan Ganapati.

"Berhati hati lah pangeran..

Jaga diri mu baik-baik", ujar Begawan Ganapati sambil tersenyum simpul.

Dengan langkah kaki mantap, Panji Tejo Laksono melangkah menuju ke arah selatan. Sedangkan Siwikarna dan Jaluwesi menuju ke arah barat. Begawan Ganapati menatap kepergian Panji Tejo Laksono dengan penuh rasa haru.

Sekejap kemudian, Begawan Ganapati melesat ke arah puncak Gunung Kelud untuk kembali melanjutkan pertapaan nya.

Panji Tejo Laksono terus melesat ke arah pucuk pucuk pohon yang tumbuh subur di lereng Gunung Kelud. Suasana hijau nan sejuk terasa sejauh mata memandang.

Tanpa disadari Panji Tejo Laksono, dia berjalan menuju Kadipaten Seloageng dimana penguasa nya adalah Adipati Tejo Sumirat, kakek nya dari pihak sang ibu Maharani Anggarawati.

Usai melewati hutan lebat yang banyak di huni oleh binatang buas, Panji Tejo Laksono sampai di sebuah perkampungan yang bernama Pacuh dengan raman (lurah) bernama Mpu Wungku.

Para peladang dan petani yang sedang menanam padi dan jagung di lahan mereka sedikit kaget melihat kedatangan Panji Tejo Laksono. Bukan karena Panji Tejo Laksono seram tapi justru karena ketampanan pemuda itu.

Karena kebingungan arah, Panji Tejo Laksono segera mendekati salah petani yang tengah menanam jagung.

"Permisi Kisanak, numpang tanya..

Daerah ini apa namanya ya? Maaf saya baru tersesat", tanya Arya Pethak dengan sopan.

Sekilas sang petani ini menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono seakan tak percaya dengan omongan nya. Lalu dengan acuh tak acuh dia menjawab.

"Kau bukan orang sini ya?

Kalau ada apa-apa aku tidak mau disalahkan. Kau tanya saja pada Lurah kami, Mpu Wungku. Kau jalan lurus saja. Kanan jalan ada rumah besar yang ada pohon sawo nya. Kau tanya saja disana", si petani paruh baya itu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan membuat lobang pada bedengan jagung.

Mendengar nasehat itu, Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke arah selatan.

Sesuai petunjuk petani tadi, Panji Tejo Laksono sampai di rumah yang disebut. Seorang lelaki bertubuh pendek nampak duduk bersama dengan dua orang lelaki bertubuh tegap yang memakai ikat kepala hitam. Panji Tejo Laksono langsung bergegas masuk ke dalam halaman rumah. Kedatangan Panji Tejo Laksono langsung membuat dua lelaki bertubuh tegap di samping lelaki bertubuh pendek.

"Permisi Kisanak, saya mau tanya. Apa betul disini kediaman Lurah Mpu Wungku?", kembali Panji Tejo Laksono bertanya dengan sopan.

"Betul anak muda, ini rumah ku Lurah Wanua Pacuh..

Ada apa kau mencari ku?", sambil tersenyum tipis, lelaki bertubuh pendek yang bernama Mpu Wungku itu mengamati Panji Tejo Laksono.

"Maaf jika aku mengganggu Ki Lurah..

Aku ingin bertanya, ini daerah mana? Maksud ku masuk wilayah Kadipaten mana?", tanya Panji Tejo Laksono segera.

"Oh seperti nya kau orang asing ya?

Ini adalah Wanua Pacuh, wilayah Pakuwon Palah yang merupakan bagian dari Kadipaten Seloageng.

Kalau boleh tau siapa namamu? Sebagai Lurah aku berhak mengetahui orang asing yang masuk ke wilayah ku", Mpu Wungku masih tersenyum tipis.

"Namaku....

Tee... eh ngomong apa aku ini. Nama ku Taji Lelono. Iya nama ku Taji Lelono Ki Lurah", jawab Panji Tejo Laksono yang nyaris keceplosan menyebutkan nama nya. Dia pun mengarang sebuah nama sebagai samarannya.

"Darimana asal mu Taji Lelono?", Mpu Wungku masih tersenyum tipis.

"Asal ku dari timur Kotaraja Kadiri. Tadi aku salah ambil tikungan jalan setelah pulang dari rumah guru ku hingga tersesat sampai kemari", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.

"Baiklah,

Kalau kau ingin kembali ke rumah mu, kau jalan lurus saja. Setelah masuk kota pakuwon, kau ambil kiri. Kau tinggal ikuti jalan itu nanti sampai di Kotaraja Kadiri", ujar Mpu Wungku dengan cepat.

"Terimakasih atas bantuannya Ki Lurah.. Kau begitu aku mohon pamit dulu", Panji Tejo Laksono membungkukkan badannya sembari berlalu menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Ki Lurah Mpu Wungku.

Setelah Panji Tejo Laksono berlalu, dua orang bertubuh tegap langsung bertanya pada Mpu Wungku.

"Ki Lurah, kenapa kau memberi tahu jalan pada nya? Harus nya tadi dia kita tangkap karena aku curiga bahwa dia adalah anggota perampok yang sedang dicari oleh pemerintah Pakuwon Palah", ujar si lelaki bertubuh tegap yang merupakan jagabhaya itu.

"Kita tidak boleh asal menuduh orang, jagabhaya..

Kelihatannya dia orang baik. Juga seperti seorang pendekar yang baru turun gunung. Lebih baik tidak macam-macam dengan nya kalau tidak ingin ada masalah. Kalaupun benar dia anggota perampok yang meresahkan masyarakat itu, biar prajurit Pakuwon Palah yang mengurusi nya", sahut Mpu Wungku sambil kembali duduk bersila di tempatnya. Mendengar jawaban itu, jagabhaya itu langsung terdiam seketika.

Panji Tejo Laksono terus melangkahkan kakinya menuju ke selatan. Rasa haus dan lapar mulai menyerangnya. Tapi pemuda tampan itu terus berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh sang Lurah Desa Pacuh.

Begitu memasuki jalan raya, Panji Tejo Laksono melihat sebuah warung makan yang sedang di kunjungi beberapa orang. Meski tidak banyak, sewaktu di tempat pelatihan, Siwikarna dan Jaluwesi memberikan sejumlah kepeng perak yang lumayan banyak. Dengan langkah kaki tegak, dia melangkah masuk ke dalam warung makan.

"Ki,

Satu nasi sama lauknya ikan ya", ujar Panji Tejo Laksono sambil meletakkan bokong nya ke kursi kayu yang ada di pojokan.

"Siap Den..

Tunggu sebentar ya?", ujar si pemilik warung yang merupakan seorang lelaki paruh baya yang bekerja di bantu seorang anak gadis yang memakai dandanan rakyat jelata.

Tak lama berselang, sang gadis pelayan warung itu sudah mengantarkan pesanan Panji Tejo Laksono. Melihat paras muka Panji Tejo Laksono yang diatas rata-rata, si gadis muda itu tersenyum manis sembari meletakkan piring ke depan sang pangeran muda.

Saat Panji Tejo Laksono sedang asyik menikmati pesanan nya, seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah seram, kepala plontos dan jambang lebat masuk ke dalam warung makan itu bersama dua orang pengikutnya. Kumis tebal nya nampak menakutkan. Beberapa orang pengunjung langsung memilih keluar dari warung makan itu , karena takut dengan si lelaki plontos yang membawa sebuah golok besar. Hingga hanya tersisa seorang bercaping bambu di sudut ruangan warung dan Panji Tejo Laksono yang sedang asyik menikmati gurihnya ikan goreng.

"Ternyata kau sembunyi di sini, Gayatri..

Ayo sekarang ikut aku pulang ke Kota Kadipaten Seloageng. Juragan Wirakrama pasti akan senang jika kau pulang", teriak si kepala plontos sambil menyeringai lebar menatap sosok bercaping bambu yang ada di sudut ruangan warung makan.

"Aku tidak sudi pulang ke Seloageng, Gombang.

Aku tidak mau menjadi bahan permainan politik Kanjeng Romo. Pergi kau jangan pedulikan aku", sahut sosok bercaping bambu itu yang ternyata adalah seorang wanita.

"Sudi tidak sudi, aku akan tetap membawa mu pulang ke Seloageng.

Bongkeng, Rompal..

Seret perempuan itu segera. Cepat!", perintah si lelaki bertubuh plontos itu dengan keras. Dua orang pengikut si kepala plontos langsung bergerak menyergap si sosok bercaping bambu itu dengan cepat. Namun si sosok bercaping bambu yang di panggil Gayatri itu dengan cepat berontak hingga si Bongkeng terjengkang dan menabrak meja makan Panji Tejo Laksono.

Brraaakkkk!!

Meja makan itu langsung hancur tertabrak tubuh Bongkeng. Untung saja Panji Tejo Laksono langsung menyelamatkan piring nya hingga nasi nya yang tinggal separuh tidak tumpah.

Panji Tejo Laksono menoleh ke arah si plontos dengan geram karena mereka mengacaukan acara makan siang nya.

"Bisa tidak kalian baik-baik bertindak agar tidak menggangu kenyamanan orang lain?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah si kepala plontos yang bernama Gombang.

"Tutup mulut mu, pemuda tengik!

Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan kami", hardik Si Gombang sembari melotot ke arah Panji Tejo Laksono.

"Aku tidak akan ikut campur jika kalian bertindak baik baik. Aku lihat nisanak itu juga tidak mau ikut dengan mu. Sebaiknya kalian lepaskan dia sebelum aku bertindak tegas terhadap kalian", Panji Tejo Laksono meletakkan piring nya keatas meja makan di sudut ruangan.

Phhuuuiiiiiihhhhh..

"Bocah kemarin sore mau sok pahlawan di depan ku, hahahahahahaha", tawa keras Gombang langsung berderai di sambut si Bongkeng dan Rompal. Gombang mendengus keras sebelum berkata dengan suara lantang.

"Bongkeng, Rompal..

Beri dia pelajaran!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Selamat malam semuanya, selamat beristirahat.

Jangan lupa jaga kesehatan.

Terpopuler

Comments

Mahayabank

Mahayabank

Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌

2024-03-26

0

Mahayabank

Mahayabank

/Good//Good//Good//Ok//Ok//Moon/

2024-03-26

0

Mahayabank

Mahayabank

bongkeng dan rompal bisa memberi pelajaran rupanya.../Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-03-26

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Jurang Menjing
2 Begawan Ganapati
3 Samaran
4 Kota Pakuwon Palah
5 Gerombolan Serigala Abu-abu
6 Tanah Perdikan Lodaya
7 Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8 Gending Pemikat Sukma
9 Pertarungan Di Tengah Sawah
10 Menuju Kadipaten Karang Anom
11 Makam Keramat Gunung Budeg
12 Makam Keramat Gunung Budeg 2
13 Kawan Baru
14 Hutan Jati Perbatasan
15 Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16 Pertapaan Bukit Rance
17 Pertapaan Bukit Rance 2
18 Pakuwon Widoro
19 Akuwu Durjana
20 Akuwu Durjana 2
21 Rahasia Gayatri
22 Tantangan
23 Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24 Kidung Cinta Endang Patibrata
25 Mimpi
26 Tuduhan Mata-mata
27 Setan Gunung Wilis
28 Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29 Panggil Aku Wiro
30 Guru Untuk Wiropati
31 Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32 Salah Paham
33 Palupi dan Luh Jingga
34 Melawan Jerangkong Api
35 Pencuri
36 Istana Kotaraja
37 Ayah dan Anak
38 Pedang Naga Api
39 Bagian
40 Pertempuran Sungai Lawor
41 Pertempuran Sungai Lawor 2
42 Pertempuran Sungai Lawor 3
43 Pertempuran Sungai Lawor 4
44 Perayaan
45 Pangeran Dari Kadiri
46 Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47 Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48 Pengelana dari Jauh
49 Sama Gilanya
50 Perguruan Tapak Suci
51 Luh Jingga dan Gayatri
52 Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53 Utusan Istana Kadiri
54 Taruhan
55 Karena Arak
56 Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57 Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58 Kembar Tapi Beda
59 Kejutan Besar
60 Lelaki Tua Berjari Buntung
61 Pertarungan yang Melelahkan
62 Maling Hati
63 Tahanan
64 Istana Kadipaten Kalingga
65 Tantangan dari Danapati
66 Adu Jago Ilmu Beladiri
67 Tugas
68 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71 Berangkat ke Tanah Tiongkok
72 Pelabuhan Tumasik
73 Perompak Bendera Hitam
74 Pangeran Suryavarman
75 Kecantikan Putri Champa
76 Malam Panjang
77 Kota Lin'an
78 Penginapan Musim Semi
79 Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80 Siapa Kau Sebenarnya?
81 Gumbreg Melawan Gu Heng
82 Pesta
83 Tubuh Emas
84 Dewa Pedang Wang Chun Yang
85 Putri Lan
86 Raja Serigala Gosong
87 Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88 Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89 Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90 Stempel Giok Naga
91 Nona Besar Song
92 Pertarungan
93 Pencuri Angin
94 Pencuri Angin 2
95 Menuju ke Kota Kaifeng
96 Hati Tiga Wanita Cantik
97 Hua Mei dan Gui Wu
98 Sekte Lembah Hantu
99 Ayu Ratna Palsu
100 Tamu Tak Diundang
101 Melawan Hauw Tian
102 Melawan Hauw Tian 2
103 Lawan Lama Ayah
104 Pertarungan di Kuil Shaolin
105 Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106 Tiga Pukulan
107 Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108 Ilmu Semesta Yin Yang
109 Di Tepi Jurang Terjal
110 Masalah di Kota Luoyang
111 Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114 Rumah Makan Bunga Persik
115 Ilmu Sembilan Matahari
116 Dewi Topeng Waja
117 Ajian Gelap Sayuto
118 Melawan Luo Fan
119 Melawan Luo Fan 2
120 Kaisar Huizong
121 Bara Api Dendam dari Rajapura
122 Pendekar Berpedang Butut
123 Mapanji Jayagiri
124 Siluman Rawa Seribu Teratai
125 Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126 Balada Penari Tledek
127 Jasa Pengawalan Bendera Naga
128 Si Ular Kecil
129 Cinta Tak Harus Memiliki
130 Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131 Lawan Yang Sepadan
132 Pimpinan Pasukan
133 Salah Paham
134 Madu
135 Istana Kalingga
136 Ikatan Sepuluh Cincin
137 Ikatan Sepuluh Cincin 2
138 Ikatan Sepuluh Cincin 3
139 Kejutan Yang Tidak Terduga
140 Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141 Suasana Kadipaten Rajapura
142 Bajak Laut Tsang
143 Bajak Laut Tsang 2
144 Gegabah
145 Benteng Pertahanan Karangwuluh
146 Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147 Siapa Dia?
148 Persiapan di Kalingga
149 Bantaran Kali Comal
150 Rajapura adalah Lawan
151 Para Penantang
152 Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153 Pesona Putri China
154 Telik Sandi
155 Pengorbanan Nyi Kenikir
156 Penyerbuan Rajapura
157 Diatas Langit Masih Ada Langit
158 Apa Mau Mu?
159 Ilmu Pangiwa
160 Kematian Junggul Mertalaya
161 Pertempuran Sesungguhnya
162 Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163 Rencana
164 Pilihan
165 Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166 Pertarungan di Malam Buta
167 Rencana Selanjutnya
168 Membangun Kembali Rajapura
169 Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170 Prasangka
171 Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172 Menuju ke Kota Kalingga
173 Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174 Resi Sanggabuana
175 Suara Tanpa Wujud
176 Kedatangan Prabu Jayengrana
177 Wejangan
178 Malam Pertama
179 Tanah Lungguh
180 Ajian Bayu Swara
181 Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182 Kelompok Bulan Sabit Darah
183 Sebelas Bayangan
184 Ksatria Lama
185 Upacara Penyucian Jiwa
186 Persiapan Penobatan
187 Dukungan
188 Paksijandu dan Nalini
189 Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190 Penjara
191 Hidup atau Mati
192 Jimat Keong Buntet
193 Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194 Panji Manggala Seta
195 Pakuwon Weling
196 Di Pertapaan Panumbangan
197 Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198 Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199 Tantangan Ki Pancatnyana
200 Pedang Tulang Iblis
201 Maharesi Padmanaba
202 Syarat dari Dyah Kirana
203 Dyah Kirana
204 Ajian Chanda Bhirawa
205 Istri Kelima
206 Kediaman Lurah Wanua Ranja
207 Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208 Ki Kalawisesa dan Wigati
209 Tawon Raksasa
210 Akhir Sebuah Dendam
211 Iblis Gunung Kawi
212 Nawala dari Prabu Jayengrana
213 Kedewasaan Gayatri
214 Kroco
215 Dewa dari Kahyangan
216 Menuju Pakuwon Tumapel
217 Kawan Baru
218 Lelaki Di Dalam Kabut
219 Malam di Tepi Hutan
220 Titah Prabu Jayengrana
221 Pendekar Golok Angin
222 Sandyakala di Langit Seloageng
223 Sandyakala di Langit Seloageng 2
224 Racun Penghancur Hati
225 Situasi Genting
226 Mengejar Penculik Ayu Ratna
227 Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228 Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229 Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230 Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231 Persiapan
232 Bantuan dari Lodaya
233 Saatnya Telah Tiba
234 Rencana Kedua
235 Senjata Cadangan Jenggala
236 Siapa Dia Sebenarnya?
237 Kemenangan di Selatan
238 Pasukan Gajah
239 Pimpinan Sementara
240 Mimpi Dewi Anggarawati
241 Orang-orang Wanua Karang Pulut
242 Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243 Perang Kota Kunjang
244 Perang Kota Kunjang 2
245 Perang Kota Kunjang 3
246 Perang Kota Kunjang 4
247 Perang Kota Kunjang 5
248 Akhir Perang Kota Kunjang
249 Akhir Perang Kota Kunjang 2
250 Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251 Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252 Bidadari Gunung Arjuna
253 Pangeran Ganeshabrata
254 Bantuan Yang Di Janjikan
255 Akhir Peperangan
256 Tabir Yang Mulai Tersingkap
257 Kembali ke Kotaraja Daha
258 Mulut Seorang Pelacur
259 Putri Akuwu
260 Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261 Intrik Istana
262 Bukan Pendekar Sembarangan
263 Pulang ke Seloageng
264 Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265 Permintaan Eyang
266 Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267 Dewi Anggrek Bulan
268 Gerimis
269 Ki Jatmika
270 Kisah Kelam Anggrek Perak
271 Wangsit
272 Pertapaan Gunung Penanggungan
273 Rajah Smaradahana
274 Menuju Kotaraja Kahuripan
275 Putri Uttejana
276 Adu Jago
277 Bidadari Bertopeng Perak
278 Melawan Nini Raga Setan
279 Ajian Malih Rupa
280 Bahaya Besar
281 Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282 Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283 Mpu Purwa
284 Keruwetan Demung Gumbreg
285 Warung Kembang Sore
286 Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287 Istana Perut Bumi
288 Istana Perut Bumi 2
289 Wanita Berambut Api
290 Jati Diri Dyah Kirana
291 Jati Diri Dyah Kirana 2
292 Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295 Dewi Lembah Wilis
296 Dewi Lembah Wilis 2
297 Dewi Lembah Wilis 3
298 Hutan Larangan
299 Wujud Yang Tidak Berjasad
300 Cerita Sepasang Kekasih
301 Para Penghadang
302 Adipati Arya Natakusuma
303 Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304 Sayembara Panjalu
305 Mencari Pujaan Hati
306 Pendopo Agung Istana Katang-katang
307 Setan Berwujud Manusia
308 Melawan Prabu Gendarmanik
309 Melawan Prabu Gendarmanik 2
310 Gayatri Hamil?
311 Lodaya Menagih Janji
312 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316 Perubahan
317 Singgasana Panjalu
318 Lelaki Tua Berambut Merah
319 Demung Gumbreg
320 Rencana Busuk Para Pejabat
321 Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322 Ulah Rara Kinanti
323 Utusan dari Anjuk Ladang
324 Iblis Bukit Manoreh
325 Malam Pertama Rara Kinanti
326 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328 Keangkuhan
329 Woro dan Wati
330 Menuju Ke Barat
331 Perbatasan Kadipaten Lewa
332 Rampok Kelabang Merah
333 Salah Masuk
334 Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338 Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339 Rencana Selanjutnya
340 Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341 Teka Teki
342 Putri Pertama
343 Murid Padepokan Padas Putih
344 Saudara Seperguruan
345 Bupati Baru Gelang-gelang
346 Hal Yang Ditunggu
347 Kadiri Kesaput Surup
348 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354 Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prahara Jurang Menjing
2
Begawan Ganapati
3
Samaran
4
Kota Pakuwon Palah
5
Gerombolan Serigala Abu-abu
6
Tanah Perdikan Lodaya
7
Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8
Gending Pemikat Sukma
9
Pertarungan Di Tengah Sawah
10
Menuju Kadipaten Karang Anom
11
Makam Keramat Gunung Budeg
12
Makam Keramat Gunung Budeg 2
13
Kawan Baru
14
Hutan Jati Perbatasan
15
Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16
Pertapaan Bukit Rance
17
Pertapaan Bukit Rance 2
18
Pakuwon Widoro
19
Akuwu Durjana
20
Akuwu Durjana 2
21
Rahasia Gayatri
22
Tantangan
23
Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24
Kidung Cinta Endang Patibrata
25
Mimpi
26
Tuduhan Mata-mata
27
Setan Gunung Wilis
28
Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29
Panggil Aku Wiro
30
Guru Untuk Wiropati
31
Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32
Salah Paham
33
Palupi dan Luh Jingga
34
Melawan Jerangkong Api
35
Pencuri
36
Istana Kotaraja
37
Ayah dan Anak
38
Pedang Naga Api
39
Bagian
40
Pertempuran Sungai Lawor
41
Pertempuran Sungai Lawor 2
42
Pertempuran Sungai Lawor 3
43
Pertempuran Sungai Lawor 4
44
Perayaan
45
Pangeran Dari Kadiri
46
Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47
Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48
Pengelana dari Jauh
49
Sama Gilanya
50
Perguruan Tapak Suci
51
Luh Jingga dan Gayatri
52
Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53
Utusan Istana Kadiri
54
Taruhan
55
Karena Arak
56
Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57
Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58
Kembar Tapi Beda
59
Kejutan Besar
60
Lelaki Tua Berjari Buntung
61
Pertarungan yang Melelahkan
62
Maling Hati
63
Tahanan
64
Istana Kadipaten Kalingga
65
Tantangan dari Danapati
66
Adu Jago Ilmu Beladiri
67
Tugas
68
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71
Berangkat ke Tanah Tiongkok
72
Pelabuhan Tumasik
73
Perompak Bendera Hitam
74
Pangeran Suryavarman
75
Kecantikan Putri Champa
76
Malam Panjang
77
Kota Lin'an
78
Penginapan Musim Semi
79
Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80
Siapa Kau Sebenarnya?
81
Gumbreg Melawan Gu Heng
82
Pesta
83
Tubuh Emas
84
Dewa Pedang Wang Chun Yang
85
Putri Lan
86
Raja Serigala Gosong
87
Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88
Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89
Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90
Stempel Giok Naga
91
Nona Besar Song
92
Pertarungan
93
Pencuri Angin
94
Pencuri Angin 2
95
Menuju ke Kota Kaifeng
96
Hati Tiga Wanita Cantik
97
Hua Mei dan Gui Wu
98
Sekte Lembah Hantu
99
Ayu Ratna Palsu
100
Tamu Tak Diundang
101
Melawan Hauw Tian
102
Melawan Hauw Tian 2
103
Lawan Lama Ayah
104
Pertarungan di Kuil Shaolin
105
Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106
Tiga Pukulan
107
Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108
Ilmu Semesta Yin Yang
109
Di Tepi Jurang Terjal
110
Masalah di Kota Luoyang
111
Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114
Rumah Makan Bunga Persik
115
Ilmu Sembilan Matahari
116
Dewi Topeng Waja
117
Ajian Gelap Sayuto
118
Melawan Luo Fan
119
Melawan Luo Fan 2
120
Kaisar Huizong
121
Bara Api Dendam dari Rajapura
122
Pendekar Berpedang Butut
123
Mapanji Jayagiri
124
Siluman Rawa Seribu Teratai
125
Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126
Balada Penari Tledek
127
Jasa Pengawalan Bendera Naga
128
Si Ular Kecil
129
Cinta Tak Harus Memiliki
130
Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131
Lawan Yang Sepadan
132
Pimpinan Pasukan
133
Salah Paham
134
Madu
135
Istana Kalingga
136
Ikatan Sepuluh Cincin
137
Ikatan Sepuluh Cincin 2
138
Ikatan Sepuluh Cincin 3
139
Kejutan Yang Tidak Terduga
140
Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141
Suasana Kadipaten Rajapura
142
Bajak Laut Tsang
143
Bajak Laut Tsang 2
144
Gegabah
145
Benteng Pertahanan Karangwuluh
146
Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147
Siapa Dia?
148
Persiapan di Kalingga
149
Bantaran Kali Comal
150
Rajapura adalah Lawan
151
Para Penantang
152
Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153
Pesona Putri China
154
Telik Sandi
155
Pengorbanan Nyi Kenikir
156
Penyerbuan Rajapura
157
Diatas Langit Masih Ada Langit
158
Apa Mau Mu?
159
Ilmu Pangiwa
160
Kematian Junggul Mertalaya
161
Pertempuran Sesungguhnya
162
Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163
Rencana
164
Pilihan
165
Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166
Pertarungan di Malam Buta
167
Rencana Selanjutnya
168
Membangun Kembali Rajapura
169
Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170
Prasangka
171
Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172
Menuju ke Kota Kalingga
173
Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174
Resi Sanggabuana
175
Suara Tanpa Wujud
176
Kedatangan Prabu Jayengrana
177
Wejangan
178
Malam Pertama
179
Tanah Lungguh
180
Ajian Bayu Swara
181
Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182
Kelompok Bulan Sabit Darah
183
Sebelas Bayangan
184
Ksatria Lama
185
Upacara Penyucian Jiwa
186
Persiapan Penobatan
187
Dukungan
188
Paksijandu dan Nalini
189
Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190
Penjara
191
Hidup atau Mati
192
Jimat Keong Buntet
193
Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194
Panji Manggala Seta
195
Pakuwon Weling
196
Di Pertapaan Panumbangan
197
Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198
Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199
Tantangan Ki Pancatnyana
200
Pedang Tulang Iblis
201
Maharesi Padmanaba
202
Syarat dari Dyah Kirana
203
Dyah Kirana
204
Ajian Chanda Bhirawa
205
Istri Kelima
206
Kediaman Lurah Wanua Ranja
207
Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208
Ki Kalawisesa dan Wigati
209
Tawon Raksasa
210
Akhir Sebuah Dendam
211
Iblis Gunung Kawi
212
Nawala dari Prabu Jayengrana
213
Kedewasaan Gayatri
214
Kroco
215
Dewa dari Kahyangan
216
Menuju Pakuwon Tumapel
217
Kawan Baru
218
Lelaki Di Dalam Kabut
219
Malam di Tepi Hutan
220
Titah Prabu Jayengrana
221
Pendekar Golok Angin
222
Sandyakala di Langit Seloageng
223
Sandyakala di Langit Seloageng 2
224
Racun Penghancur Hati
225
Situasi Genting
226
Mengejar Penculik Ayu Ratna
227
Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228
Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229
Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231
Persiapan
232
Bantuan dari Lodaya
233
Saatnya Telah Tiba
234
Rencana Kedua
235
Senjata Cadangan Jenggala
236
Siapa Dia Sebenarnya?
237
Kemenangan di Selatan
238
Pasukan Gajah
239
Pimpinan Sementara
240
Mimpi Dewi Anggarawati
241
Orang-orang Wanua Karang Pulut
242
Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243
Perang Kota Kunjang
244
Perang Kota Kunjang 2
245
Perang Kota Kunjang 3
246
Perang Kota Kunjang 4
247
Perang Kota Kunjang 5
248
Akhir Perang Kota Kunjang
249
Akhir Perang Kota Kunjang 2
250
Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251
Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252
Bidadari Gunung Arjuna
253
Pangeran Ganeshabrata
254
Bantuan Yang Di Janjikan
255
Akhir Peperangan
256
Tabir Yang Mulai Tersingkap
257
Kembali ke Kotaraja Daha
258
Mulut Seorang Pelacur
259
Putri Akuwu
260
Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261
Intrik Istana
262
Bukan Pendekar Sembarangan
263
Pulang ke Seloageng
264
Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265
Permintaan Eyang
266
Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267
Dewi Anggrek Bulan
268
Gerimis
269
Ki Jatmika
270
Kisah Kelam Anggrek Perak
271
Wangsit
272
Pertapaan Gunung Penanggungan
273
Rajah Smaradahana
274
Menuju Kotaraja Kahuripan
275
Putri Uttejana
276
Adu Jago
277
Bidadari Bertopeng Perak
278
Melawan Nini Raga Setan
279
Ajian Malih Rupa
280
Bahaya Besar
281
Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282
Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283
Mpu Purwa
284
Keruwetan Demung Gumbreg
285
Warung Kembang Sore
286
Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287
Istana Perut Bumi
288
Istana Perut Bumi 2
289
Wanita Berambut Api
290
Jati Diri Dyah Kirana
291
Jati Diri Dyah Kirana 2
292
Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295
Dewi Lembah Wilis
296
Dewi Lembah Wilis 2
297
Dewi Lembah Wilis 3
298
Hutan Larangan
299
Wujud Yang Tidak Berjasad
300
Cerita Sepasang Kekasih
301
Para Penghadang
302
Adipati Arya Natakusuma
303
Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304
Sayembara Panjalu
305
Mencari Pujaan Hati
306
Pendopo Agung Istana Katang-katang
307
Setan Berwujud Manusia
308
Melawan Prabu Gendarmanik
309
Melawan Prabu Gendarmanik 2
310
Gayatri Hamil?
311
Lodaya Menagih Janji
312
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316
Perubahan
317
Singgasana Panjalu
318
Lelaki Tua Berambut Merah
319
Demung Gumbreg
320
Rencana Busuk Para Pejabat
321
Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322
Ulah Rara Kinanti
323
Utusan dari Anjuk Ladang
324
Iblis Bukit Manoreh
325
Malam Pertama Rara Kinanti
326
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328
Keangkuhan
329
Woro dan Wati
330
Menuju Ke Barat
331
Perbatasan Kadipaten Lewa
332
Rampok Kelabang Merah
333
Salah Masuk
334
Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338
Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339
Rencana Selanjutnya
340
Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341
Teka Teki
342
Putri Pertama
343
Murid Padepokan Padas Putih
344
Saudara Seperguruan
345
Bupati Baru Gelang-gelang
346
Hal Yang Ditunggu
347
Kadiri Kesaput Surup
348
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354
Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!