Panji Tejo Laksono berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan tali tambang yang mengekang tubuhnya. Kedelapan orang anggota Gerombolan Serigala Abu-abu memang mengalirkan tenaga dalam mereka pada tali tambang yang mereka lemparkan. Dengan menggunakan seluruh tenaga dalam nya, Panji Tejo Laksono menekan punggung kudanya hingga tubuhnya terangkat. Kuda hitam itu langsung berlari hingga Panji Tejo Laksono melompat turun sambil membebaskan diri.
Begitu berhasil lolos, Panji Tejo Laksono langsung mencabut pedang nya. Kemudian membabatkan pedang yang dialiri tenaga dalam kearah tambang yang baru saja mengikat tubuh nya.
Blllaaaaaarrr!!!
Kedelapan orang anak buah Besari terpental saat tali tambang meledak dan putus. Melihat itu, Besari pimpinan Gerombolan Serigala Abu-abu langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil mengayunkan senjata cakar besi nya ke arah punggung sang pangeran muda.
Shrraaaakkkkhhhh!!
Panji Tejo Laksono yang merasakan hawa dingin berdesir dari belakang, langsung menangkis sabetan cakar besi Besari.
Thrrriiinnnggggg!!
Bunga api kecil tercipta saat dua senjata beradu. Panji Tejo Laksono langsung melebarkan kakinya, tubuhnya merendah sambil menahan cakar besi Besari kemudian mengayunkan pedangnya kearah depan. Besari ikut terdorong maju mengikuti gerakan pedang Panji Tejo Laksono. Dengan cepat Panji Tejo Laksono langsung berdiri dan melayangkan tendangan keras kearah pinggang Besari.
Bhhhuuuuuuggggh...
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Besari meraung keras sambil terhuyung huyung kesamping saat tendangan keras Panji Tejo Laksono menghajar pinggangnya. Semenjak itu, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Gayatri yang masih berdiri di dekat kuda nya dengan memegangi pedang dengan kedua tangannya.
"Kau tenang saja, aku akan melindungi mu", tutur Panji Tejo Laksono setelah berdiri di dekat Gayatri. Perempuan yang berdandan layaknya seorang lelaki itu mengangguk mengerti. Meski takut, dia berusaha menguatkan hati nya.
Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah dua orang anggota Gerombolan Serigala Abu-abu yang masih berdiri sementara yang lain muntah darah segar setelah berbenturan tenaga dalam. Dengan gerakan cepat, Panji Tejo Laksono langsung membabatkan pedang bilah dua warna nya pada dua orang itu.
Chrraaasssshhh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Jerit kesakitan terdengar dari mulut dua orang anggota Gerombolan Serigala Abu-abu yang baru saja berdiri. Mereka berdua tidak menyangka bahwa hari itu akan menjadi akhir hidup mereka setelah Panji Tejo Laksono menebas leher mereka berdua dengan satu tebasan cepat. Dua orang anggota Gerombolan Serigala Abu-abu itu langsung roboh bersimbah darah.
Melihat anak buah nya berjatuhan, Besari melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan cakar besi nya bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.
Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg!!
Pangeran muda dari Kadiri itu dengan mudah menangkis dan menghindari sabetan cakar besi Besari yang menyerangnya dengan brutal. Hampir 10 jurus berlalu dengan cepat.
Besari dengan sepenuh tenaga mengayunkan cakar besi nya ke arah leher Panji Tejo Laksono yang melesat cepat kearah nya. Melihat itu Panji Tejo Laksono langsung merubah gerakan tubuhnya dengan menekuk lutut hingga sambaran cakar besi Besari menyambar angin kosong satu jengkal diatas kepala nya.
Tiba-tiba saja tangan kiri Panji Tejo Laksono sudah berwarna merah menyala seperti api. Dia menggunakan Ajian Tapak Dewa Api ajaran Resi Mpu Sakri. Tangan kiri Panji Tejo Laksono langsung menghantam dada kanan Besari yang terbuka pertahanan nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Besari langsung terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Dia tewas tanpa sempat bersuara dengan dada kanan gosong seperti terbakar api.
Melihat kawan-kawannya terbunuh, Bendol berusaha untuk kabur. Panji Tejo Laksono langsung menendang jangkar bertali bekas senjata anak buah Besari ke arah Bendol.
Bhuuukkkhhh...
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Bendol terjungkal ke depan dengan kepala hancur tertimpa besi jangkar bertali milik temannya. Dia tewas seketika.
Gayatri yang tidak pernah melihat pemandangan seperti itu langsung muntah muntah. Perutnya mual melihat genangan darah dan orang orang meregang nyawa.
Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti dan berjalan mendekati Gayatri yang gemetar badan nya.
"Dunia luar itu keras, Gayatri..
Saat kau tak lebih kuat dari lawan mu, maka kau yang akan bernasib seperti ini. Sebaiknya kau kembali ke kota Kadipaten Seloageng. Dunia persilatan ini bukan tempat mu", ujar Panji Tejo Laksono seraya berjalan ke arah kuda nya yang sedang berdiri di pinggir jalan seolah menunggu kedatangan sang majikan.
Sekali hentakan, Panji Tejo Laksono langsung melompat ke atas kuda nya.
"Taji, tunggu...
Aku tetap ikut dengan mu", teriak Gayatri sambil menyeka mulutnya kemudian melompat ke atas kuda nya. Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu. Meninggalkan mayat mayat anggota Gerombolan Serigala Abu-abu yang kini hanya tinggal sejarah.
Mereka berdua terus memacu kudanya kearah selatan. Di Wanua Ranja, mereka menuju ke arah dermaga penyeberangan yang menghubungkan wilayah Kadipaten Seloageng dengan Tanah Perdikan Lodaya.
Seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar tengah mengibaskan caping bambu nya saat Panji Tejo Laksono datang. Karena jalur penyeberangan itu sepi, dia bisa sedikit beristirahat.
"Kisanak mau menyeberang?", tanya laki laki paruh baya itu sambil berdiri menatap ke arah wajah tampan Panji Tejo Laksono.
"Iya Ki..
Berapa biayanya?", tanya Panji Tejo Laksono dengan cepat. Hari sudah menjelang sore, sebentar lagi senja akan turun, jika tidak cepat bisa bisa mereka bermalam di hutan.
"Dua kepeng perak saja Kisanak. Saya juga hampir mau pulang ini", ujar tukang perahu itu sambil tersenyum tipis.
Setelah Panji Tejo Laksono, Gayatri dan kedua kuda mereka naik rakit bambu, kakek tua itu segera menjalankan alat penyeberangan itu membelah Sungai Brantas yang berair sedikit kecoklatan.
Tak berapa lama kemudian, Panji Tejo Laksono dan Gayatri sudah turun dari rakit. Mereka berdua segera memacu kuda mereka melesat cepat menyusuri jalan setapak di tepi hutan jati di timur kota Lodaya. Tepat pada senja hari, mereka masuk tapal batas kota Lodaya, yang merupakan wilayah kepangeranan merdeka.
Suasana kota Lodaya sore begitu indah. Para penduduk masih banyak yang berlalu lalang di jalan. Beberapa warung makan justru terlihat ramai oleh pengunjung. Sembari melihat kehidupan sehari-hari masyarakat dari dekat, Panji Tejo Laksono menjalankan kuda nya perlahan ke arah tengah kota bersama Gayatri.
Di timur istana Lodaya, Panji Tejo Laksono menghentikan langkah kaki kuda nya di sebuah rumah besar dengan tulisan besar terpampang di gapura nya. Penginapan Kembang Jambu.
"Selamat datang di Penginapan Kembang Jambu, pendekar..
Apa ada yang bisa kami bantu untuk kalian?", ujar seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut buncit.
"Aku ingin 2 kamar tidur untuk semalam. Juga makanan untuk dua orang, tolong di antar ke kamar.
Berapa biayanya?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Kalau cuma semalam tentu Kisanak akan rugi sebab puncak kemeriahan acara nya adalah besok siang dan besok malam", ujar lelaki bertubuh tambun itu sambil tersenyum.
"Apa yang kau maksud puncak acara kisanak? Coba terangkan kepada ku?", Panji Tejo Laksono menatap heran kearah si lelaki bertubuh tambun itu.
"Loh bukannya kau kemari ingin melihat acara pesta hiburan rakyat yang di selenggarakan setahun sekali di Kota Lodaya?", tanya si pria bertubuh tambun itu segera.
"Kami ini pengelana dari Kerajaan Panjalu, Kisanak..
Tidak tahu adat istiadat Tanah Perdikan Lodaya. Makanya aku bertanya pada mu", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.
"Oh pantas saja kalau begitu..
Begini Kisanak, di Tanah Perdikan Lodaya setiap purnama ke 6 tahun Saka diadakan perayaan untuk Dewi Sri, sang Dewi pertanian dengan jamasan pusaka dan hiburan rakyat selama satu pekan. Besok adalah hari terakhir hiburan rakyat, bersama dengan jamasan pusaka. Nah malamnya ada hiburan penutup dari Kesenian Tayub dari Pakuwon Ngrowo yang sangat kondang. Aku pernah melihat penampilan mereka, pokoknya mantap banget. Penari nya cantik cantik dan yang paling menarik adalah kembang kesenian tayub itu, Rara Pujiwati.
Rugi pokok nya kalau sampai tidak menonton pertunjukan mereka", ujar si lelaki bertubuh tambun itu dengan penuh semangat.
Mendengar penuturan itu, Panji Tejo Laksono mengelus dagunya.
'Aku sudah lama tidak melihat pertunjukan kesenian. Tidak ada salahnya sesekali menghibur diri', batin Panji Tejo Laksono.
"Baiklah, aku pesan sampai besok malam. Berapa biayanya Kisanak?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Benar benar pria sejati..
Cukup 4 kepeng perak, pendekar. Itu sudah termasuk makan malam selama 2 malam. Kalau sarapan dan makan siang, itu lain hitungan", jawab si lelaki tambun dengan cepat
Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti. Malam itu mereka menginap di penginapan Kembang Jambu dengan tenang.
****
"Mbreg..
Kau sudah mendapat perintah dari Gusti Prabu Jayengrana belum?", tanya Tumenggung Ludaka begitu memasuki kediaman perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun itu.
"Belum Lu..
Memang perintah apa? Kog tidak ada yang memberi tahu aku", jawab Demung Gumbreg segera. Pria gendut itu langsung berjalan menghampiri kawan karibnya itu.
"Gusti Prabu Jayengrana menyuruh aku dan kamu untuk berangkat ke Tanah Perdikan Lodaya. Mewakili Gusti Prabu menghadiri undangan dari Pangeran Arya Tanggung di acara tahunan mereka. Gusti Prabu sedang persiapan menerima kedatangan utusan dari Negeri Tiongkok, jadi tidak bisa hadir", jawab Tumenggung Ludaka sambil mendudukkan dirinya di kursi kayu beranda rumah Gumbreg.
"Kapan berangkat nya Lu? Kog mendadak begitu sih?", ujar Demung Gumbreg sambil mengelus jenggotnya.
"Ya sebenarnya sudah dari kemarin perintah nya cuma aku kira kamu sudah di beri tahu.
Kita berangkat besok pagi saja. Urusan pengawal sudah aku tata, kita cukup berdua dengan 10 prajurit juga sudah cukup", Ludaka mengelus kumis tebal nya.
"Hiburan rakyat nya apa Lu? Biasanya acara seperti itu pasti ada hiburannya kan?", Demung Gumbreg menatap ke arah Tumenggung Ludaka.
"Kau ini masih mikir hiburan..
Apa mau kau di hajar Juminten lagi seperti tempo hari saat kau ketahuan ikut menari bersama tledek cantik di rumah Gusti Senopati Warigalit ha?", Tumenggung Ludaka mendengus keras.
"Sssssttttttttt jangan keras keras kalau ngomong Lu...
Kita itu pejabat istana negara, dimana harga diri ku kalau ada yang dengar aku di gebuki istri ku? Kau ini benar-benar tidak setia kawan", Demung Gumbreg meletakkan telunjuknya di depan bibir sambil mendelik ke arah kawan karibnya itu.
"Eh semua orang juga tahu kalau kau itu lelaki yang takut dengan istri Mbreg hehehe..", Tumenggung Ludaka terkekeh geli.
"Kampret kau Lu..
Tapi aku heran juga ya Lu, dulu sebelum menikah Dhek Jum itu lemah lembut dan keibuan banget. Setelah menikah dan punya anak si Besur dan Kresnawati kenapa sikapnya garang seperti macan beranak gitu ya?", Gumbreg berkeluh kesah tentang kehidupannya.
"Punya suami seperti kamu ya memang harus di kerasi , kalau Juminten tidak galak bisa bisa kau seenak udel mu yang bodong itu..
Wong sudah punya istri secantik Juminten saja kau masih berani lirik sana sini kog, padahal rupa mu ya seperti irisan gedebok pisang begitu", Tumenggung Ludaka terkekeh kecil sambil melirik Gumbreg yang mulai kesal.
"Itu mulut mu memang beracun ya Lu, pinter banget bikin orang kesal..
Kau ini kawan ku atau bukan sih?", gerutu Demung Gumbreg sambil mendengus keras.
"Tentu saja aku kawan mu, Mbreg..
Kalau aku musuh mu sudah ku bocorkan sama Juminten perihal kau menggoda pelayan wa...", belum sempat Tumenggung Ludaka menyelesaikan omongannya, Demung Gumbreg segera melesat cepat dan membungkam mulutnya. Dari arah pintu belakang, muncul Juminten.
"Eh ada tamu to.. Sudah dari tadi Gusti Tumenggung Ludaka?", sapa Juminten dengan ramah.
"Heeemmmpppphhhhh hemmmph", suara Tumenggung Ludaka tidak jelas karena di tutup tangan Demung Gumbreg.
"Dia baru saja datang Dhek Jum..
Sana bikinkan minuman untuk tamu kita ini", usir Demung Gumbreg segera.
"Memang Kakang Demung ada urusan apa dengan Tumenggung Ludaka? Kog pakai bekap mulut segala?", tanya Juminten sedikit heran dengan tingkah laku suami nya.
"Urusan rahasia negara. Perempuan gak boleh dengar masalah ini. Sudah ke dapur sana, bikinkan minuman ", perintah Demung Gumbreg dengan cepat. Mendengar itu, Juminten segera balik badan dan menuju dapur. Demung Gumbreg menarik nafas lega usai Juminten menghilang di balik pintu.
Pleetaaakkk!!
"Aduh Lu, kenapa kau menjitak ku?", ujar Gumbreg yang langsung melepaskan bekapan tangannya di mulut Ludaka, berganti mengelus kepalanya.
"Eh setan alas, kau nyaris membuat ku mati pingsan karena bekapan tangan mu itu semprul", maki Tumenggung Ludaka sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Yaaahhh maaf Lu.. Habis nya kau ngomong mirip kuali bocor.. Untung aku sempat melihat kedatangan Dhek Jum. Coba kalau sampai Dhek Jum dengar omongan mu tadi.
Bisa bisa aku kena pukul palang pintu rumah lagi Lu", sahut Gumbreg seketika.
"Makanya kalau masih takut dengan istri, jangan sok genit menggoda perempuan lain..
Ya sudah aku mau pulang, sudah malam. Besok kita berangkat pagi pagi Mbreg", ucap Tumenggung Ludaka sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Kenapa harus pagi pagi sih Lu?
Tidak bisa siang sedikit ya?", tawar Demung Gumbreg.
"Aku tidak menerima tawar menawar dengan tugas yang di berikan oleh Gusti Prabu Jayengrana, Mbreg..
Pokoknya aku besok pagi pagi kemari, kalau sampai kau bangun kesiangan atau malah belum bangun tidur sama sekali, kau tahu apa yang akan ku lakukan Mbreg", Tumenggung Ludaka menyeringai lebar menatap ke arah Demung Gumbreg.
"Akan ku beri tahu Juminten soal kau menggoda pelayan warung makan Nyi Karti", imbuh Tumenggung Ludaka sambil melangkah keluar dari kediaman sang perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun itu.
Gumbreg pucat seketika.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat malam semuanya, selamat beristirahat.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2024-03-26
1
Mahayabank
/Moon//Moon//Moon/
2024-03-26
0
Mahayabank
ajuuur jum..../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-03-26
0