Begawan Ganapati

Dua prajurit penjaga ruang pribadi raja langsung menyembah pada Panji Watugunung sebelum pergi. Setelah itu Demung Gumbreg pun undur diri setelah di wanti wanti oleh Prabu Jayengrana untuk tidak buka mulut soal peristiwa yang menimpa Pangeran Panji Tejo Laksono.

Senopati Warigalit masuk ke dalam ruang pribadi raja saat Panji Watugunung tengah termenung di atas kursi kayu jati nya.

"Sembah bakti saya, Dhimas Prabu", ujar Senopati Warigalit sembari menghormat pada Panji Watugunung.

"Aku terima Kakang..

Silahkan duduk", jawab Panji Watugunung segera.

"Daulat Gusti Prabu Jitendrakara", ujar Senopati Warigalit yang kemudian duduk bersila di lantai ruang pribadi raja Panjalu. Suara jangkrik dan belalang bersahutan menandakan musim penghujan akan segera tiba. Sesekali suara burung malam terdengar dari ranting pohon cemara.

"Kakang Senopati Warigalit,

Apa Kakang pernah mendengar tentang Kelompok pembunuh bayaran Bulan Sabit Darah?", tanya Panji Watugunung sambil menatap ke arah kakak seperguruan nya itu.

"Mohon ampun Dhimas Prabu,

Kelompok Bulan Sabit Darah adalah kelompok pembunuh bayaran yang terkenal. Mereka menjadi momok bagi para pejabat di wilayah timur Negeri Panjalu ini. Setahu ku, kelompok ini memiliki markas di beberapa tempat tapi yang terbesar ada wilayah Tanah Perdikan Lodaya.

Kelompok ini cukup licik karena sering berpindah tempat secara berkala untuk menghindari upaya pembasmian oleh pejabat di wilayah mereka.

Apa Dhimas Prabu ada sesuatu yang harus aku kerjakan dengan kelompok pembunuh bayaran ini?", Senopati Warigalit menghormat pada Panji Watugunung usai menjawab pertanyaan sang raja.

Hemmmmmmm...

Terdengar suara dengusan nafas dingin dari Panji Watugunung. Ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiran nya.

"Aku harap kakang bisa menumpas para pembunuh bayaran ini. Keberadaan mereka ibarat duri dalam daging bagi keamanan di wilayah Kerajaan Panjalu.

Jujur saja, Paman Mapatih Jayakerti sudah menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai warangka praja Panjalu karena merasa sudah terlalu sepuh. Aku ingin Kakang Warigalit yang menduduki posisi Paman Jayakerti itu, tapi sebagai tanda jasa nya kakang harus cepat menumpas Kelompok Bulan Sabit Darah agar aku tidak kesulitan menjawab pertanyaan Dewan Sapta Prabu mengenai alasan ku mengangkat mu menjadi Mapatih.

Apakah kakang bersedia melakukan nya?", Panji Watugunung menatap ke arah Senopati Warigalit.

"Ini adalah berkah tersendiri bagi saya Dhimas Prabu.. Saya selalu bersedia untuk melakukan tugas apapun yang Dhimas Prabu berikan, entah itu ada atau tidaknya penghargaan dari pihak istana Katang-katang.

Semua hidup ku adalah untuk mengikuti mu, Dhimas Prabu", Warigalit menghormat pada Panji Watugunung.

"Kakang benar benar membuat ku bangga sebagai saudara seperguruan mu..

Oh iya, bagaimana kabar Kangmbok Ratri dan Rara Wilis Kakang? Aku sudah lama tidak main ke rumah mu hehehehe", Panji Watugunung terkekeh kecil saat berbicara.

"Ratri baik baik saja, Dhimas Prabu.. Kalau Rara Wilis ya kau tahu sendiri lah, gadis kecil itu benar benar keras kepala seperti ibunya waktu gadis dulu...

Terimakasih sudah menanyakan perihal keluarga ku Dhimas", ujar Warigalit sambil tersenyum simpul.

"Hahhh dunia ini cepat sekali berputar ya Kakang..

Padahal baru kemarin rasanya kita bertualang hingga ke Galuh Pakuan, tapi ternyata sudah sekitar 2 dasawarsa berlalu. Kita semakin tua Kakang", Prabu Jitendrakara alias Panji Watugunung menatap langit malam yang gelap.

"Benar Dhimas Prabu..

Sesuatu yang lama akan di ganti dengan yang baru. Begitulah hukum kehidupan yang terjadi pada diri kita", ujar Senopati Warigalit sambil tersenyum tipis.

Mereka berdua bercengkrama dengan nostalgia masa lalu saat muda dengan penuh keakraban.

Malam semakin larut. Desir angin dari selatan berhembus sepoi-sepoi seakan membuai seisi bumi Panjalu dalam buaian mimpi indah untuk hari esok.

Keesokan paginya, Senopati Warigalit dibantu oleh Tumenggung Landung dan Demung Rajegwesi, mulai menata prajurit pilihan yang akan di persiapkan untuk melakukan penumpasan kelompok pembunuh bayaran Bulan Sabit Darah.

Dari para telik sandi maupun Pasukan Lowo Bengi, mereka mengumpulkan berita keberadaan markas kelompok itu yang kini bermukim di sekitar Alas Jati di perbatasan antara Kadipaten Karang Anom dan Tanah Perdikan Lodaya.

Maka hari itu juga di kirim lah dua berita ke Tanah Perdikan Lodaya dan Kadipaten Karang Anom lewat merpati surat.

Di bantu Tumenggung Landung, Senopati Warigalit menyusun rencana penyerbuan itu dengan membagi pasukannya menjadi dua.

Satu bagian bergerak dari timur, lainnya menggempur dari barat. Setelah semua persiapan beres, sekitar 1500 orang prajurit pilihan bergerak cepat menuju ke arah selatan Panjalu di bawah pimpinan Senopati Warigalit, Tumenggung Landung dan Demung Rajegwesi.

Nun jauh di timur, di pondok kayu beratap daun kelapa yang dianyam..

Panji Tejo Laksono membuka mata nya setelah hampir sehari semalam tertidur oleh bantuan si kakek tua yang menyelamatkan nyawa nya. Rasa lapar yang menyerangnya membuat sang pangeran ini bangun dari tempat tidur nya. Anehnya seluruh tubuh nya terasa lebih bugar di banding dengan kemarin.

Pemuda tampan itu segera bergegas keluar dari kamar tidur. Saat membuka pintu pondok kayu, si kakek tua bertubuh sedikit kurus itu sudah berdiri dengan bantuan tongkat nya di halaman pondok. Kakek tua itu menatap ke arah langit selatan yang dihiasi oleh mendung tebal berwarna abu-abu.

"Kau sudah bangun anak muda?", si kakek tua itu bertanya tanpa menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.

"Sudah Kisanak, terimakasih atas pertolongan mu kemarin. Aku benar benar berhutang nyawa pada mu", Panji Tejo Laksono membungkukkan badannya pada kakek tua itu.

"Lantas apa rencana mu selanjutnya?", kini kakek tua itu menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang nampak tenang di belakang nya.

"Tentu saja pulang ke istana Kadiri, Kisanak. Aku tidak mau Kanjeng Ibu Anggarawati khawatir dengan keadaan ku", Panji Tejo Laksono langsung menjawab pertanyaan tanpa ragu-ragu.

"Dengan ilmu kanuragan segitu, kau kembali ke istana Kadiri, bukankah kau sama saja dengan mencari mati? Apa kau sudah tak ingin hidup lagi?", tanya si kakek tua itu yang kini telah membalik badannya.

"Apa maksud mu Kisanak? Aku tidak mengerti", jawab Panji Tejo Laksono dengan cepat.

"Dunia ini kejam, anak muda. Yang kuat akan menindas yang lemah, yang menang akan menundukkan yang kalah. Tak semua yang kelihatan baik akan selalu baik, mereka yang di dekat mu pun belum tentu suka dengan mu. Bisa jadi sekarang mereka menghormati mu karena posisi mu, tapi jika ada kesempatan kau pasti akan di hancurkan", ujar kakek tua sambil menghela nafas panjang.

Mendengar penuturan itu, Panji Tejo Laksono langsung teringat pada dua orang pembunuh bayaran yang nyaris merenggut nyawanya kemarin. Dalam hati dia membenarkan ucapan kakek tua itu.

"Tapi aku tidak mau ibu ku khawatir dengan keselamatan ku, kakek tua.

Ijinkan aku untuk pulang ke Kadiri", Panji Tejo Laksono menghormat pada kakek tua itu segera.

"Huhhh.. Dasar bodoh..

Baiklah kalau kau memaksa, tapi kau boleh meninggalkan tempat ini jika kau bisa menjatuhkan ku dalam 10 jurus", kini kakek tua itu menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono sambil melakukan kuda-kuda ilmu silatnya.

"Kau jangan memaksa ku, kakek tua..

Aku tidak ingin menyakiti mu", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat.

"Perkara siapa yang disakiti, kita masih belum tahu. Majulah bila memang kau bisa diandalkan", kakek tua itu mulai membuka tangan nya.

Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung menggebrak maju dengan cepat. Satu ayunan tangan kanannya menyerang ke arah kepala si kakek tua.

Whhhuuuggghhhh!!

Kakek tua renta itu bergerak lincah menghindari hantaman tangan Panji Tejo Laksono.

"1 jurus anak muda", ujar si kakek tua sambil tersenyum tipis.

Mendengar itu, Panji Tejo Laksono semakin mempercepat gerakannya dan menyerang si kakek tua dengan pukulan beruntun.

Whuuutt whuuthhh!

"2 jurus...

3 jurus anak muda, ayolah yang serius ", si kakek tua bertubuh kurus itu masih bergerak lincah menghindari hantaman dan tendangan Panji Tejo Laksono dengan Ilmu Silat Padas Putih nya.

" 4 jurus...

5 jurus..

6 jurus...

Ah kau payah sekali ternyata", oceh si kakek tua dengan cepat.

Geram Panji Tejo Laksono mendengar omongan si kakek tua yang terkesan menghinanya. Mula nya dia setengah hati bertarung melawan kakek tua itu, namun kini dia mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya.

Kedua tangan Panji Tejo Laksono langsung bersedekap di depan dada, mulut pemuda tampan itu komat kamit membaca mantra Ajian Tapak Dewa Api yang sudah di pelajari dari Resi Mpu Sakri yang juga guru ayahnya. Kakek tua itu menurunkan ilmu itu, setahun yang lalu sebelum dia meninggal.

Kedua tangan Panji Tejo Laksono diliputi oleh sinar merah menyala seperti api yang kemudian berkumpul di telapak tangan nya.

"Tapak Dewa Api..

Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt!!"

Selarik sinar merah menyala menerabas cepat kearah kakek tua itu.

Whhhuuuggghhhh!!!

Blllaaammmmmmmm!!!

Kakek tua renta itu dengan tenang nya bersalto mundur menghindari Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono.

"Jurus ke tujuh, anak muda..

Kau terlalu payah!!", ujar si kakek tua bertubuh kurus itu yang segera membuat Panji Tejo Laksono marah. Dengan cepat ia menghantamkan kedua telapak tangan nya bertubi-tubi kearah si kakek tua itu segera.

Whuuutt whuuthhh whuuussshh!!

Tiga sinar merah menyala menerabas cepat kearah kakek tua.

"Ini adalah jurus mu yang ke delapan, sembilan dan sepuluh anak muda. Sekarang giliran ku untuk menyerang", ucap kakek tua yang mendadak lenyap saat tiga sinar merah menyala hampir mengenainya.

Blllaaammmmmmmm blammmmm blammmmm!!!!

Tiga ledakan dahsyat terdengar hingga ke tengah hutan. Burung burung beterbangan ketakutan mendengar bunyi nyaring itu.

Panji Tejo Laksono yang baru melepaskan tiga hantaman beruntun, terkejut setengah mati saat melihat tiba-tiba si kakek muncul di hadapan nya dan menghantam perutnya dengan cepat.

Bhhhuuuuuuggggh..

Oooouuuugggghhhhhh!!!

Putra Raja Panjalu itu langsung meringkuk menahan rasa sakit di perut nya. Seluruh organ dalam nya terasa bergeser dari tempatnya.

"Kau lemah anak muda..

Kemampuan beladiri mu hanya seujung kuku hitam ku. Di dunia ini ada banyak pendekar yang jauh lebih hebat daripada aku..

Salah satu nya adalah ayahmu, Raja Panjalu itu. Kau tahu kenapa Panjalu sangat tenang dan damai 1 dasawarsa terakhir ini? Karena mereka memiliki raja yang adil bijaksana juga sakti mandraguna.

Kalau kau pulang ke Kadiri dengan keadaan seperti ini, kau hanya menambah beban Prabu Jayengrana semakin besar. Sebagai putra sulung nya, seharusnya kau mampu menjadi pengayom seterusnya bagi Kerajaan Panjalu ini", ujar si kakek tua itu sambil berjongkok di depan Panji Tejo Laksono.

Mendengar ucapan itu, Panji Tejo Laksono langsung termenung. Dia tidak ingin menjadi beban bagi ayah ibunya, juga merasa tanggung jawab kerajaan Panjalu ini ada di pundaknya. Perlahan Panji Tejo Laksono berlutut di hadapan kakek tua itu. Kemudian bersujud padanya.

"Ajari aku kakek tua..

Ajari aku menjadi lebih kuat untuk menjadi seorang yang mampu menjaga bumi Panjalu ini", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat.

"Hehehehe...

Akhirnya kau mengerti juga. Baiklah aku Begawan Ganapati bukan orang yang suka ingin di hormati. Mulai hari ini kau adalah murid ku.

Sekarang bangunlah, pangeran.. Di tempat ini aku akan menempa mu menjadi jagoan pilih tanding di masa depan", ujar kakek tua yang mengaku bernama Begawan Ganapati itu sambil mengangkat bahu Panji Tejo Laksono.

Selanjutnya mereka berdua makan pagi dengan makanan sederhana yang ada di sekitar tempat itu. Meskipun Panji Tejo Laksono adalah pangeran di istana Kadiri, dia sudah terbiasa dengan menu makan sederhana karena hampir 5 warsa dia tinggal di Padepokan Padas Putih yang tidak membedakan murid berdasarkan kasta mereka.

Saat matahari sepenggal naik ke langit, 7 orang berpakaian layaknya prajurit mendekati tempat itu.

Mereka adalah Tumenggung Ludaka dan keenam prajurit nya.

Rupanya mereka bermalam di hutan dalam upaya pencarian hilang nya Panji Tejo Laksono. Pagi tadi saat baru saja hendak meneruskan pencarian, mereka mendengar suara pertempuran yang menggunakan ilmu ajian kanuragan tingkat tinggi. Merasa penasaran mereka mencari ke arah sumber suara dan menemukan tempat itu.

Begitu melihat Panji Tejo Laksono masih hidup, Tumenggung Ludaka dan keenam prajurit nya langsung mendekati Panji Tejo Laksono dan Begawan Ganapati.

"Gusti Pangeran Tejo Laksono...

Puja Sang Hyang Akarya Jagat, terimakasih banyak atas karunia mu. Hamba sangat gembira Gusti Pangeran masih hidup.

Maafkan ketidakmampuan hamba menjaga Gusti Pangeran dari Kelompok Bulan Sabit Darah", Tumenggung Ludaka langsung menyembah pada Panji Tejo Laksono yang juga kaget melihat kedatangan perwira tinggi prajurit Panjalu itu.

"Darimana Paman Ludaka tahu kalau aku ada disini?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Tumenggung Ludaka yang kini duduk bersila di hadapan nya.

Tumenggung Ludaka segera menceritakan tentang pencarian mereka hingga ke dasar Jurang Menjing dan akhirnya menemukan Panji Tejo Laksono di tempat itu.

"Mari Gusti Pangeran, hamba antar pulang ke istana Katang-katang.

Gusti Ratu Anggarawati dan Gusti Prabu Jayengrana pasti sangat merindukan kehadiran mu", ujar Tumenggung Ludaka mengakhiri ceritanya.

"Aku tidak bisa pulang sekarang, Paman..

Kalau aku pulang sekarang hanya akan menjadi tambahan beban Kanjeng Romo Prabu Jayengrana. Aku akan berlatih meningkatkan kemampuan beladiri ku di tempat ini bersama guru ku, Begawan Ganapati.

Asal paman tahu, ada orang dalam istana Kadiri yang tidak ingin aku pulang ke Kadiri. Kelompok Bulan Sabit Darah yang berusaha membunuh ku adalah utusan mereka", Panji Tejo Laksono menatap ke arah langit biru di barat.

APPAAAAA??!!!

Terkejut Tumenggung Ludaka dan keenam prajurit Panjalu yang mengikuti nya mendengar penuturan Panji Tejo Laksono.

"Da-darimana Gusti Pangeran tahu semua itu?", Tumenggung Ludaka benar benar tidak menyangka bahwa perkiraan nya menjadi kenyataan.

Panji Tejo Laksono kemudian menceritakan tentang percakapan nya dengan dua pembunuh yang berhadapan dengan nya sesaat sebelum dia jatuh ke dalam Jurang Menjing.

Hemmmmmmm...

"Ini sesuai dengan dugaan hamba, Gusti Pangeran.

Kalau begitu saya harus melaporkan ini pada Gusti Prabu Jayengrana", ujar Tumenggung Ludaka segera.

"Jangan gegabah dalam bertindak Paman..

Gerakan mereka sangat-sangat rapi hingga sulit di pastikan siapa saja yang terlibat dalam masalah ini.

Aku minta paman Ludaka pulang ke Kadiri, sampaikan kepada Kanjeng Romo Prabu bahwa aku baik baik saja. Paman Gumbreg pasti sudah menceritakan semua nya.

Dan minta ayah ku untuk berhati-hati dalam bertindak agar tidak membuat para pelaku kejahatan ini membekukan diri.

Bila saatnya tiba, aku akan kembali ke istana Kadiri", ucap Panji Tejo Laksono dengan penuh keyakinan.

Mendengar tekad Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka memilih untuk mengalah. Namun dia menugaskan kepada dua prajurit nya yang bernama Siwikarna dan Jaluwesi untuk membantu semua kebutuhan Panji Tejo Laksono selama di tempat itu. Awal mulanya Panji Tejo Laksono menolak, tapi dia kalah berdebat dengan Tumenggung Ludaka dan akhirnya menerima pengaturan yang dilakukan oleh Tumenggung Ludaka.

Siang itu juga, Tumenggung Ludaka dan keempat pengikut nya meninggalkan tempat itu untuk pulang ke Kadiri.

Begawan Ganapati menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono yang masih memandang ke arah perginya Tumenggung Ludaka.

"Pangeran Tejo Laksono,

Pelatihan mu dimulai dari sekarang"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Mahayabank

Mahayabank

Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌

2024-03-26

1

Mahayabank

Mahayabank

/Good//Good//Good//Ok//Ok/

2024-03-26

0

Mahayabank

Mahayabank

Mantaaap /Ok//Ok/

2024-03-26

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Jurang Menjing
2 Begawan Ganapati
3 Samaran
4 Kota Pakuwon Palah
5 Gerombolan Serigala Abu-abu
6 Tanah Perdikan Lodaya
7 Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8 Gending Pemikat Sukma
9 Pertarungan Di Tengah Sawah
10 Menuju Kadipaten Karang Anom
11 Makam Keramat Gunung Budeg
12 Makam Keramat Gunung Budeg 2
13 Kawan Baru
14 Hutan Jati Perbatasan
15 Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16 Pertapaan Bukit Rance
17 Pertapaan Bukit Rance 2
18 Pakuwon Widoro
19 Akuwu Durjana
20 Akuwu Durjana 2
21 Rahasia Gayatri
22 Tantangan
23 Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24 Kidung Cinta Endang Patibrata
25 Mimpi
26 Tuduhan Mata-mata
27 Setan Gunung Wilis
28 Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29 Panggil Aku Wiro
30 Guru Untuk Wiropati
31 Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32 Salah Paham
33 Palupi dan Luh Jingga
34 Melawan Jerangkong Api
35 Pencuri
36 Istana Kotaraja
37 Ayah dan Anak
38 Pedang Naga Api
39 Bagian
40 Pertempuran Sungai Lawor
41 Pertempuran Sungai Lawor 2
42 Pertempuran Sungai Lawor 3
43 Pertempuran Sungai Lawor 4
44 Perayaan
45 Pangeran Dari Kadiri
46 Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47 Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48 Pengelana dari Jauh
49 Sama Gilanya
50 Perguruan Tapak Suci
51 Luh Jingga dan Gayatri
52 Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53 Utusan Istana Kadiri
54 Taruhan
55 Karena Arak
56 Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57 Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58 Kembar Tapi Beda
59 Kejutan Besar
60 Lelaki Tua Berjari Buntung
61 Pertarungan yang Melelahkan
62 Maling Hati
63 Tahanan
64 Istana Kadipaten Kalingga
65 Tantangan dari Danapati
66 Adu Jago Ilmu Beladiri
67 Tugas
68 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71 Berangkat ke Tanah Tiongkok
72 Pelabuhan Tumasik
73 Perompak Bendera Hitam
74 Pangeran Suryavarman
75 Kecantikan Putri Champa
76 Malam Panjang
77 Kota Lin'an
78 Penginapan Musim Semi
79 Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80 Siapa Kau Sebenarnya?
81 Gumbreg Melawan Gu Heng
82 Pesta
83 Tubuh Emas
84 Dewa Pedang Wang Chun Yang
85 Putri Lan
86 Raja Serigala Gosong
87 Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88 Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89 Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90 Stempel Giok Naga
91 Nona Besar Song
92 Pertarungan
93 Pencuri Angin
94 Pencuri Angin 2
95 Menuju ke Kota Kaifeng
96 Hati Tiga Wanita Cantik
97 Hua Mei dan Gui Wu
98 Sekte Lembah Hantu
99 Ayu Ratna Palsu
100 Tamu Tak Diundang
101 Melawan Hauw Tian
102 Melawan Hauw Tian 2
103 Lawan Lama Ayah
104 Pertarungan di Kuil Shaolin
105 Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106 Tiga Pukulan
107 Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108 Ilmu Semesta Yin Yang
109 Di Tepi Jurang Terjal
110 Masalah di Kota Luoyang
111 Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114 Rumah Makan Bunga Persik
115 Ilmu Sembilan Matahari
116 Dewi Topeng Waja
117 Ajian Gelap Sayuto
118 Melawan Luo Fan
119 Melawan Luo Fan 2
120 Kaisar Huizong
121 Bara Api Dendam dari Rajapura
122 Pendekar Berpedang Butut
123 Mapanji Jayagiri
124 Siluman Rawa Seribu Teratai
125 Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126 Balada Penari Tledek
127 Jasa Pengawalan Bendera Naga
128 Si Ular Kecil
129 Cinta Tak Harus Memiliki
130 Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131 Lawan Yang Sepadan
132 Pimpinan Pasukan
133 Salah Paham
134 Madu
135 Istana Kalingga
136 Ikatan Sepuluh Cincin
137 Ikatan Sepuluh Cincin 2
138 Ikatan Sepuluh Cincin 3
139 Kejutan Yang Tidak Terduga
140 Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141 Suasana Kadipaten Rajapura
142 Bajak Laut Tsang
143 Bajak Laut Tsang 2
144 Gegabah
145 Benteng Pertahanan Karangwuluh
146 Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147 Siapa Dia?
148 Persiapan di Kalingga
149 Bantaran Kali Comal
150 Rajapura adalah Lawan
151 Para Penantang
152 Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153 Pesona Putri China
154 Telik Sandi
155 Pengorbanan Nyi Kenikir
156 Penyerbuan Rajapura
157 Diatas Langit Masih Ada Langit
158 Apa Mau Mu?
159 Ilmu Pangiwa
160 Kematian Junggul Mertalaya
161 Pertempuran Sesungguhnya
162 Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163 Rencana
164 Pilihan
165 Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166 Pertarungan di Malam Buta
167 Rencana Selanjutnya
168 Membangun Kembali Rajapura
169 Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170 Prasangka
171 Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172 Menuju ke Kota Kalingga
173 Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174 Resi Sanggabuana
175 Suara Tanpa Wujud
176 Kedatangan Prabu Jayengrana
177 Wejangan
178 Malam Pertama
179 Tanah Lungguh
180 Ajian Bayu Swara
181 Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182 Kelompok Bulan Sabit Darah
183 Sebelas Bayangan
184 Ksatria Lama
185 Upacara Penyucian Jiwa
186 Persiapan Penobatan
187 Dukungan
188 Paksijandu dan Nalini
189 Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190 Penjara
191 Hidup atau Mati
192 Jimat Keong Buntet
193 Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194 Panji Manggala Seta
195 Pakuwon Weling
196 Di Pertapaan Panumbangan
197 Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198 Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199 Tantangan Ki Pancatnyana
200 Pedang Tulang Iblis
201 Maharesi Padmanaba
202 Syarat dari Dyah Kirana
203 Dyah Kirana
204 Ajian Chanda Bhirawa
205 Istri Kelima
206 Kediaman Lurah Wanua Ranja
207 Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208 Ki Kalawisesa dan Wigati
209 Tawon Raksasa
210 Akhir Sebuah Dendam
211 Iblis Gunung Kawi
212 Nawala dari Prabu Jayengrana
213 Kedewasaan Gayatri
214 Kroco
215 Dewa dari Kahyangan
216 Menuju Pakuwon Tumapel
217 Kawan Baru
218 Lelaki Di Dalam Kabut
219 Malam di Tepi Hutan
220 Titah Prabu Jayengrana
221 Pendekar Golok Angin
222 Sandyakala di Langit Seloageng
223 Sandyakala di Langit Seloageng 2
224 Racun Penghancur Hati
225 Situasi Genting
226 Mengejar Penculik Ayu Ratna
227 Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228 Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229 Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230 Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231 Persiapan
232 Bantuan dari Lodaya
233 Saatnya Telah Tiba
234 Rencana Kedua
235 Senjata Cadangan Jenggala
236 Siapa Dia Sebenarnya?
237 Kemenangan di Selatan
238 Pasukan Gajah
239 Pimpinan Sementara
240 Mimpi Dewi Anggarawati
241 Orang-orang Wanua Karang Pulut
242 Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243 Perang Kota Kunjang
244 Perang Kota Kunjang 2
245 Perang Kota Kunjang 3
246 Perang Kota Kunjang 4
247 Perang Kota Kunjang 5
248 Akhir Perang Kota Kunjang
249 Akhir Perang Kota Kunjang 2
250 Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251 Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252 Bidadari Gunung Arjuna
253 Pangeran Ganeshabrata
254 Bantuan Yang Di Janjikan
255 Akhir Peperangan
256 Tabir Yang Mulai Tersingkap
257 Kembali ke Kotaraja Daha
258 Mulut Seorang Pelacur
259 Putri Akuwu
260 Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261 Intrik Istana
262 Bukan Pendekar Sembarangan
263 Pulang ke Seloageng
264 Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265 Permintaan Eyang
266 Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267 Dewi Anggrek Bulan
268 Gerimis
269 Ki Jatmika
270 Kisah Kelam Anggrek Perak
271 Wangsit
272 Pertapaan Gunung Penanggungan
273 Rajah Smaradahana
274 Menuju Kotaraja Kahuripan
275 Putri Uttejana
276 Adu Jago
277 Bidadari Bertopeng Perak
278 Melawan Nini Raga Setan
279 Ajian Malih Rupa
280 Bahaya Besar
281 Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282 Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283 Mpu Purwa
284 Keruwetan Demung Gumbreg
285 Warung Kembang Sore
286 Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287 Istana Perut Bumi
288 Istana Perut Bumi 2
289 Wanita Berambut Api
290 Jati Diri Dyah Kirana
291 Jati Diri Dyah Kirana 2
292 Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295 Dewi Lembah Wilis
296 Dewi Lembah Wilis 2
297 Dewi Lembah Wilis 3
298 Hutan Larangan
299 Wujud Yang Tidak Berjasad
300 Cerita Sepasang Kekasih
301 Para Penghadang
302 Adipati Arya Natakusuma
303 Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304 Sayembara Panjalu
305 Mencari Pujaan Hati
306 Pendopo Agung Istana Katang-katang
307 Setan Berwujud Manusia
308 Melawan Prabu Gendarmanik
309 Melawan Prabu Gendarmanik 2
310 Gayatri Hamil?
311 Lodaya Menagih Janji
312 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316 Perubahan
317 Singgasana Panjalu
318 Lelaki Tua Berambut Merah
319 Demung Gumbreg
320 Rencana Busuk Para Pejabat
321 Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322 Ulah Rara Kinanti
323 Utusan dari Anjuk Ladang
324 Iblis Bukit Manoreh
325 Malam Pertama Rara Kinanti
326 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328 Keangkuhan
329 Woro dan Wati
330 Menuju Ke Barat
331 Perbatasan Kadipaten Lewa
332 Rampok Kelabang Merah
333 Salah Masuk
334 Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338 Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339 Rencana Selanjutnya
340 Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341 Teka Teki
342 Putri Pertama
343 Murid Padepokan Padas Putih
344 Saudara Seperguruan
345 Bupati Baru Gelang-gelang
346 Hal Yang Ditunggu
347 Kadiri Kesaput Surup
348 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354 Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prahara Jurang Menjing
2
Begawan Ganapati
3
Samaran
4
Kota Pakuwon Palah
5
Gerombolan Serigala Abu-abu
6
Tanah Perdikan Lodaya
7
Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8
Gending Pemikat Sukma
9
Pertarungan Di Tengah Sawah
10
Menuju Kadipaten Karang Anom
11
Makam Keramat Gunung Budeg
12
Makam Keramat Gunung Budeg 2
13
Kawan Baru
14
Hutan Jati Perbatasan
15
Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16
Pertapaan Bukit Rance
17
Pertapaan Bukit Rance 2
18
Pakuwon Widoro
19
Akuwu Durjana
20
Akuwu Durjana 2
21
Rahasia Gayatri
22
Tantangan
23
Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24
Kidung Cinta Endang Patibrata
25
Mimpi
26
Tuduhan Mata-mata
27
Setan Gunung Wilis
28
Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29
Panggil Aku Wiro
30
Guru Untuk Wiropati
31
Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32
Salah Paham
33
Palupi dan Luh Jingga
34
Melawan Jerangkong Api
35
Pencuri
36
Istana Kotaraja
37
Ayah dan Anak
38
Pedang Naga Api
39
Bagian
40
Pertempuran Sungai Lawor
41
Pertempuran Sungai Lawor 2
42
Pertempuran Sungai Lawor 3
43
Pertempuran Sungai Lawor 4
44
Perayaan
45
Pangeran Dari Kadiri
46
Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47
Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48
Pengelana dari Jauh
49
Sama Gilanya
50
Perguruan Tapak Suci
51
Luh Jingga dan Gayatri
52
Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53
Utusan Istana Kadiri
54
Taruhan
55
Karena Arak
56
Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57
Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58
Kembar Tapi Beda
59
Kejutan Besar
60
Lelaki Tua Berjari Buntung
61
Pertarungan yang Melelahkan
62
Maling Hati
63
Tahanan
64
Istana Kadipaten Kalingga
65
Tantangan dari Danapati
66
Adu Jago Ilmu Beladiri
67
Tugas
68
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71
Berangkat ke Tanah Tiongkok
72
Pelabuhan Tumasik
73
Perompak Bendera Hitam
74
Pangeran Suryavarman
75
Kecantikan Putri Champa
76
Malam Panjang
77
Kota Lin'an
78
Penginapan Musim Semi
79
Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80
Siapa Kau Sebenarnya?
81
Gumbreg Melawan Gu Heng
82
Pesta
83
Tubuh Emas
84
Dewa Pedang Wang Chun Yang
85
Putri Lan
86
Raja Serigala Gosong
87
Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88
Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89
Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90
Stempel Giok Naga
91
Nona Besar Song
92
Pertarungan
93
Pencuri Angin
94
Pencuri Angin 2
95
Menuju ke Kota Kaifeng
96
Hati Tiga Wanita Cantik
97
Hua Mei dan Gui Wu
98
Sekte Lembah Hantu
99
Ayu Ratna Palsu
100
Tamu Tak Diundang
101
Melawan Hauw Tian
102
Melawan Hauw Tian 2
103
Lawan Lama Ayah
104
Pertarungan di Kuil Shaolin
105
Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106
Tiga Pukulan
107
Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108
Ilmu Semesta Yin Yang
109
Di Tepi Jurang Terjal
110
Masalah di Kota Luoyang
111
Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114
Rumah Makan Bunga Persik
115
Ilmu Sembilan Matahari
116
Dewi Topeng Waja
117
Ajian Gelap Sayuto
118
Melawan Luo Fan
119
Melawan Luo Fan 2
120
Kaisar Huizong
121
Bara Api Dendam dari Rajapura
122
Pendekar Berpedang Butut
123
Mapanji Jayagiri
124
Siluman Rawa Seribu Teratai
125
Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126
Balada Penari Tledek
127
Jasa Pengawalan Bendera Naga
128
Si Ular Kecil
129
Cinta Tak Harus Memiliki
130
Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131
Lawan Yang Sepadan
132
Pimpinan Pasukan
133
Salah Paham
134
Madu
135
Istana Kalingga
136
Ikatan Sepuluh Cincin
137
Ikatan Sepuluh Cincin 2
138
Ikatan Sepuluh Cincin 3
139
Kejutan Yang Tidak Terduga
140
Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141
Suasana Kadipaten Rajapura
142
Bajak Laut Tsang
143
Bajak Laut Tsang 2
144
Gegabah
145
Benteng Pertahanan Karangwuluh
146
Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147
Siapa Dia?
148
Persiapan di Kalingga
149
Bantaran Kali Comal
150
Rajapura adalah Lawan
151
Para Penantang
152
Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153
Pesona Putri China
154
Telik Sandi
155
Pengorbanan Nyi Kenikir
156
Penyerbuan Rajapura
157
Diatas Langit Masih Ada Langit
158
Apa Mau Mu?
159
Ilmu Pangiwa
160
Kematian Junggul Mertalaya
161
Pertempuran Sesungguhnya
162
Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163
Rencana
164
Pilihan
165
Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166
Pertarungan di Malam Buta
167
Rencana Selanjutnya
168
Membangun Kembali Rajapura
169
Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170
Prasangka
171
Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172
Menuju ke Kota Kalingga
173
Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174
Resi Sanggabuana
175
Suara Tanpa Wujud
176
Kedatangan Prabu Jayengrana
177
Wejangan
178
Malam Pertama
179
Tanah Lungguh
180
Ajian Bayu Swara
181
Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182
Kelompok Bulan Sabit Darah
183
Sebelas Bayangan
184
Ksatria Lama
185
Upacara Penyucian Jiwa
186
Persiapan Penobatan
187
Dukungan
188
Paksijandu dan Nalini
189
Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190
Penjara
191
Hidup atau Mati
192
Jimat Keong Buntet
193
Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194
Panji Manggala Seta
195
Pakuwon Weling
196
Di Pertapaan Panumbangan
197
Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198
Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199
Tantangan Ki Pancatnyana
200
Pedang Tulang Iblis
201
Maharesi Padmanaba
202
Syarat dari Dyah Kirana
203
Dyah Kirana
204
Ajian Chanda Bhirawa
205
Istri Kelima
206
Kediaman Lurah Wanua Ranja
207
Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208
Ki Kalawisesa dan Wigati
209
Tawon Raksasa
210
Akhir Sebuah Dendam
211
Iblis Gunung Kawi
212
Nawala dari Prabu Jayengrana
213
Kedewasaan Gayatri
214
Kroco
215
Dewa dari Kahyangan
216
Menuju Pakuwon Tumapel
217
Kawan Baru
218
Lelaki Di Dalam Kabut
219
Malam di Tepi Hutan
220
Titah Prabu Jayengrana
221
Pendekar Golok Angin
222
Sandyakala di Langit Seloageng
223
Sandyakala di Langit Seloageng 2
224
Racun Penghancur Hati
225
Situasi Genting
226
Mengejar Penculik Ayu Ratna
227
Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228
Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229
Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231
Persiapan
232
Bantuan dari Lodaya
233
Saatnya Telah Tiba
234
Rencana Kedua
235
Senjata Cadangan Jenggala
236
Siapa Dia Sebenarnya?
237
Kemenangan di Selatan
238
Pasukan Gajah
239
Pimpinan Sementara
240
Mimpi Dewi Anggarawati
241
Orang-orang Wanua Karang Pulut
242
Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243
Perang Kota Kunjang
244
Perang Kota Kunjang 2
245
Perang Kota Kunjang 3
246
Perang Kota Kunjang 4
247
Perang Kota Kunjang 5
248
Akhir Perang Kota Kunjang
249
Akhir Perang Kota Kunjang 2
250
Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251
Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252
Bidadari Gunung Arjuna
253
Pangeran Ganeshabrata
254
Bantuan Yang Di Janjikan
255
Akhir Peperangan
256
Tabir Yang Mulai Tersingkap
257
Kembali ke Kotaraja Daha
258
Mulut Seorang Pelacur
259
Putri Akuwu
260
Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261
Intrik Istana
262
Bukan Pendekar Sembarangan
263
Pulang ke Seloageng
264
Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265
Permintaan Eyang
266
Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267
Dewi Anggrek Bulan
268
Gerimis
269
Ki Jatmika
270
Kisah Kelam Anggrek Perak
271
Wangsit
272
Pertapaan Gunung Penanggungan
273
Rajah Smaradahana
274
Menuju Kotaraja Kahuripan
275
Putri Uttejana
276
Adu Jago
277
Bidadari Bertopeng Perak
278
Melawan Nini Raga Setan
279
Ajian Malih Rupa
280
Bahaya Besar
281
Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282
Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283
Mpu Purwa
284
Keruwetan Demung Gumbreg
285
Warung Kembang Sore
286
Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287
Istana Perut Bumi
288
Istana Perut Bumi 2
289
Wanita Berambut Api
290
Jati Diri Dyah Kirana
291
Jati Diri Dyah Kirana 2
292
Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295
Dewi Lembah Wilis
296
Dewi Lembah Wilis 2
297
Dewi Lembah Wilis 3
298
Hutan Larangan
299
Wujud Yang Tidak Berjasad
300
Cerita Sepasang Kekasih
301
Para Penghadang
302
Adipati Arya Natakusuma
303
Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304
Sayembara Panjalu
305
Mencari Pujaan Hati
306
Pendopo Agung Istana Katang-katang
307
Setan Berwujud Manusia
308
Melawan Prabu Gendarmanik
309
Melawan Prabu Gendarmanik 2
310
Gayatri Hamil?
311
Lodaya Menagih Janji
312
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316
Perubahan
317
Singgasana Panjalu
318
Lelaki Tua Berambut Merah
319
Demung Gumbreg
320
Rencana Busuk Para Pejabat
321
Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322
Ulah Rara Kinanti
323
Utusan dari Anjuk Ladang
324
Iblis Bukit Manoreh
325
Malam Pertama Rara Kinanti
326
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328
Keangkuhan
329
Woro dan Wati
330
Menuju Ke Barat
331
Perbatasan Kadipaten Lewa
332
Rampok Kelabang Merah
333
Salah Masuk
334
Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338
Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339
Rencana Selanjutnya
340
Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341
Teka Teki
342
Putri Pertama
343
Murid Padepokan Padas Putih
344
Saudara Seperguruan
345
Bupati Baru Gelang-gelang
346
Hal Yang Ditunggu
347
Kadiri Kesaput Surup
348
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354
Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!