Dua prajurit penjaga ruang pribadi raja langsung menyembah pada Panji Watugunung sebelum pergi. Setelah itu Demung Gumbreg pun undur diri setelah di wanti wanti oleh Prabu Jayengrana untuk tidak buka mulut soal peristiwa yang menimpa Pangeran Panji Tejo Laksono.
Senopati Warigalit masuk ke dalam ruang pribadi raja saat Panji Watugunung tengah termenung di atas kursi kayu jati nya.
"Sembah bakti saya, Dhimas Prabu", ujar Senopati Warigalit sembari menghormat pada Panji Watugunung.
"Aku terima Kakang..
Silahkan duduk", jawab Panji Watugunung segera.
"Daulat Gusti Prabu Jitendrakara", ujar Senopati Warigalit yang kemudian duduk bersila di lantai ruang pribadi raja Panjalu. Suara jangkrik dan belalang bersahutan menandakan musim penghujan akan segera tiba. Sesekali suara burung malam terdengar dari ranting pohon cemara.
"Kakang Senopati Warigalit,
Apa Kakang pernah mendengar tentang Kelompok pembunuh bayaran Bulan Sabit Darah?", tanya Panji Watugunung sambil menatap ke arah kakak seperguruan nya itu.
"Mohon ampun Dhimas Prabu,
Kelompok Bulan Sabit Darah adalah kelompok pembunuh bayaran yang terkenal. Mereka menjadi momok bagi para pejabat di wilayah timur Negeri Panjalu ini. Setahu ku, kelompok ini memiliki markas di beberapa tempat tapi yang terbesar ada wilayah Tanah Perdikan Lodaya.
Kelompok ini cukup licik karena sering berpindah tempat secara berkala untuk menghindari upaya pembasmian oleh pejabat di wilayah mereka.
Apa Dhimas Prabu ada sesuatu yang harus aku kerjakan dengan kelompok pembunuh bayaran ini?", Senopati Warigalit menghormat pada Panji Watugunung usai menjawab pertanyaan sang raja.
Hemmmmmmm...
Terdengar suara dengusan nafas dingin dari Panji Watugunung. Ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiran nya.
"Aku harap kakang bisa menumpas para pembunuh bayaran ini. Keberadaan mereka ibarat duri dalam daging bagi keamanan di wilayah Kerajaan Panjalu.
Jujur saja, Paman Mapatih Jayakerti sudah menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai warangka praja Panjalu karena merasa sudah terlalu sepuh. Aku ingin Kakang Warigalit yang menduduki posisi Paman Jayakerti itu, tapi sebagai tanda jasa nya kakang harus cepat menumpas Kelompok Bulan Sabit Darah agar aku tidak kesulitan menjawab pertanyaan Dewan Sapta Prabu mengenai alasan ku mengangkat mu menjadi Mapatih.
Apakah kakang bersedia melakukan nya?", Panji Watugunung menatap ke arah Senopati Warigalit.
"Ini adalah berkah tersendiri bagi saya Dhimas Prabu.. Saya selalu bersedia untuk melakukan tugas apapun yang Dhimas Prabu berikan, entah itu ada atau tidaknya penghargaan dari pihak istana Katang-katang.
Semua hidup ku adalah untuk mengikuti mu, Dhimas Prabu", Warigalit menghormat pada Panji Watugunung.
"Kakang benar benar membuat ku bangga sebagai saudara seperguruan mu..
Oh iya, bagaimana kabar Kangmbok Ratri dan Rara Wilis Kakang? Aku sudah lama tidak main ke rumah mu hehehehe", Panji Watugunung terkekeh kecil saat berbicara.
"Ratri baik baik saja, Dhimas Prabu.. Kalau Rara Wilis ya kau tahu sendiri lah, gadis kecil itu benar benar keras kepala seperti ibunya waktu gadis dulu...
Terimakasih sudah menanyakan perihal keluarga ku Dhimas", ujar Warigalit sambil tersenyum simpul.
"Hahhh dunia ini cepat sekali berputar ya Kakang..
Padahal baru kemarin rasanya kita bertualang hingga ke Galuh Pakuan, tapi ternyata sudah sekitar 2 dasawarsa berlalu. Kita semakin tua Kakang", Prabu Jitendrakara alias Panji Watugunung menatap langit malam yang gelap.
"Benar Dhimas Prabu..
Sesuatu yang lama akan di ganti dengan yang baru. Begitulah hukum kehidupan yang terjadi pada diri kita", ujar Senopati Warigalit sambil tersenyum tipis.
Mereka berdua bercengkrama dengan nostalgia masa lalu saat muda dengan penuh keakraban.
Malam semakin larut. Desir angin dari selatan berhembus sepoi-sepoi seakan membuai seisi bumi Panjalu dalam buaian mimpi indah untuk hari esok.
Keesokan paginya, Senopati Warigalit dibantu oleh Tumenggung Landung dan Demung Rajegwesi, mulai menata prajurit pilihan yang akan di persiapkan untuk melakukan penumpasan kelompok pembunuh bayaran Bulan Sabit Darah.
Dari para telik sandi maupun Pasukan Lowo Bengi, mereka mengumpulkan berita keberadaan markas kelompok itu yang kini bermukim di sekitar Alas Jati di perbatasan antara Kadipaten Karang Anom dan Tanah Perdikan Lodaya.
Maka hari itu juga di kirim lah dua berita ke Tanah Perdikan Lodaya dan Kadipaten Karang Anom lewat merpati surat.
Di bantu Tumenggung Landung, Senopati Warigalit menyusun rencana penyerbuan itu dengan membagi pasukannya menjadi dua.
Satu bagian bergerak dari timur, lainnya menggempur dari barat. Setelah semua persiapan beres, sekitar 1500 orang prajurit pilihan bergerak cepat menuju ke arah selatan Panjalu di bawah pimpinan Senopati Warigalit, Tumenggung Landung dan Demung Rajegwesi.
Nun jauh di timur, di pondok kayu beratap daun kelapa yang dianyam..
Panji Tejo Laksono membuka mata nya setelah hampir sehari semalam tertidur oleh bantuan si kakek tua yang menyelamatkan nyawa nya. Rasa lapar yang menyerangnya membuat sang pangeran ini bangun dari tempat tidur nya. Anehnya seluruh tubuh nya terasa lebih bugar di banding dengan kemarin.
Pemuda tampan itu segera bergegas keluar dari kamar tidur. Saat membuka pintu pondok kayu, si kakek tua bertubuh sedikit kurus itu sudah berdiri dengan bantuan tongkat nya di halaman pondok. Kakek tua itu menatap ke arah langit selatan yang dihiasi oleh mendung tebal berwarna abu-abu.
"Kau sudah bangun anak muda?", si kakek tua itu bertanya tanpa menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.
"Sudah Kisanak, terimakasih atas pertolongan mu kemarin. Aku benar benar berhutang nyawa pada mu", Panji Tejo Laksono membungkukkan badannya pada kakek tua itu.
"Lantas apa rencana mu selanjutnya?", kini kakek tua itu menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang nampak tenang di belakang nya.
"Tentu saja pulang ke istana Kadiri, Kisanak. Aku tidak mau Kanjeng Ibu Anggarawati khawatir dengan keadaan ku", Panji Tejo Laksono langsung menjawab pertanyaan tanpa ragu-ragu.
"Dengan ilmu kanuragan segitu, kau kembali ke istana Kadiri, bukankah kau sama saja dengan mencari mati? Apa kau sudah tak ingin hidup lagi?", tanya si kakek tua itu yang kini telah membalik badannya.
"Apa maksud mu Kisanak? Aku tidak mengerti", jawab Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Dunia ini kejam, anak muda. Yang kuat akan menindas yang lemah, yang menang akan menundukkan yang kalah. Tak semua yang kelihatan baik akan selalu baik, mereka yang di dekat mu pun belum tentu suka dengan mu. Bisa jadi sekarang mereka menghormati mu karena posisi mu, tapi jika ada kesempatan kau pasti akan di hancurkan", ujar kakek tua sambil menghela nafas panjang.
Mendengar penuturan itu, Panji Tejo Laksono langsung teringat pada dua orang pembunuh bayaran yang nyaris merenggut nyawanya kemarin. Dalam hati dia membenarkan ucapan kakek tua itu.
"Tapi aku tidak mau ibu ku khawatir dengan keselamatan ku, kakek tua.
Ijinkan aku untuk pulang ke Kadiri", Panji Tejo Laksono menghormat pada kakek tua itu segera.
"Huhhh.. Dasar bodoh..
Baiklah kalau kau memaksa, tapi kau boleh meninggalkan tempat ini jika kau bisa menjatuhkan ku dalam 10 jurus", kini kakek tua itu menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono sambil melakukan kuda-kuda ilmu silatnya.
"Kau jangan memaksa ku, kakek tua..
Aku tidak ingin menyakiti mu", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Perkara siapa yang disakiti, kita masih belum tahu. Majulah bila memang kau bisa diandalkan", kakek tua itu mulai membuka tangan nya.
Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung menggebrak maju dengan cepat. Satu ayunan tangan kanannya menyerang ke arah kepala si kakek tua.
Whhhuuuggghhhh!!
Kakek tua renta itu bergerak lincah menghindari hantaman tangan Panji Tejo Laksono.
"1 jurus anak muda", ujar si kakek tua sambil tersenyum tipis.
Mendengar itu, Panji Tejo Laksono semakin mempercepat gerakannya dan menyerang si kakek tua dengan pukulan beruntun.
Whuuutt whuuthhh!
"2 jurus...
3 jurus anak muda, ayolah yang serius ", si kakek tua bertubuh kurus itu masih bergerak lincah menghindari hantaman dan tendangan Panji Tejo Laksono dengan Ilmu Silat Padas Putih nya.
" 4 jurus...
5 jurus..
6 jurus...
Ah kau payah sekali ternyata", oceh si kakek tua dengan cepat.
Geram Panji Tejo Laksono mendengar omongan si kakek tua yang terkesan menghinanya. Mula nya dia setengah hati bertarung melawan kakek tua itu, namun kini dia mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya.
Kedua tangan Panji Tejo Laksono langsung bersedekap di depan dada, mulut pemuda tampan itu komat kamit membaca mantra Ajian Tapak Dewa Api yang sudah di pelajari dari Resi Mpu Sakri yang juga guru ayahnya. Kakek tua itu menurunkan ilmu itu, setahun yang lalu sebelum dia meninggal.
Kedua tangan Panji Tejo Laksono diliputi oleh sinar merah menyala seperti api yang kemudian berkumpul di telapak tangan nya.
"Tapak Dewa Api..
Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt!!"
Selarik sinar merah menyala menerabas cepat kearah kakek tua itu.
Whhhuuuggghhhh!!!
Blllaaammmmmmmm!!!
Kakek tua renta itu dengan tenang nya bersalto mundur menghindari Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono.
"Jurus ke tujuh, anak muda..
Kau terlalu payah!!", ujar si kakek tua bertubuh kurus itu yang segera membuat Panji Tejo Laksono marah. Dengan cepat ia menghantamkan kedua telapak tangan nya bertubi-tubi kearah si kakek tua itu segera.
Whuuutt whuuthhh whuuussshh!!
Tiga sinar merah menyala menerabas cepat kearah kakek tua.
"Ini adalah jurus mu yang ke delapan, sembilan dan sepuluh anak muda. Sekarang giliran ku untuk menyerang", ucap kakek tua yang mendadak lenyap saat tiga sinar merah menyala hampir mengenainya.
Blllaaammmmmmmm blammmmm blammmmm!!!!
Tiga ledakan dahsyat terdengar hingga ke tengah hutan. Burung burung beterbangan ketakutan mendengar bunyi nyaring itu.
Panji Tejo Laksono yang baru melepaskan tiga hantaman beruntun, terkejut setengah mati saat melihat tiba-tiba si kakek muncul di hadapan nya dan menghantam perutnya dengan cepat.
Bhhhuuuuuuggggh..
Oooouuuugggghhhhhh!!!
Putra Raja Panjalu itu langsung meringkuk menahan rasa sakit di perut nya. Seluruh organ dalam nya terasa bergeser dari tempatnya.
"Kau lemah anak muda..
Kemampuan beladiri mu hanya seujung kuku hitam ku. Di dunia ini ada banyak pendekar yang jauh lebih hebat daripada aku..
Salah satu nya adalah ayahmu, Raja Panjalu itu. Kau tahu kenapa Panjalu sangat tenang dan damai 1 dasawarsa terakhir ini? Karena mereka memiliki raja yang adil bijaksana juga sakti mandraguna.
Kalau kau pulang ke Kadiri dengan keadaan seperti ini, kau hanya menambah beban Prabu Jayengrana semakin besar. Sebagai putra sulung nya, seharusnya kau mampu menjadi pengayom seterusnya bagi Kerajaan Panjalu ini", ujar si kakek tua itu sambil berjongkok di depan Panji Tejo Laksono.
Mendengar ucapan itu, Panji Tejo Laksono langsung termenung. Dia tidak ingin menjadi beban bagi ayah ibunya, juga merasa tanggung jawab kerajaan Panjalu ini ada di pundaknya. Perlahan Panji Tejo Laksono berlutut di hadapan kakek tua itu. Kemudian bersujud padanya.
"Ajari aku kakek tua..
Ajari aku menjadi lebih kuat untuk menjadi seorang yang mampu menjaga bumi Panjalu ini", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Hehehehe...
Akhirnya kau mengerti juga. Baiklah aku Begawan Ganapati bukan orang yang suka ingin di hormati. Mulai hari ini kau adalah murid ku.
Sekarang bangunlah, pangeran.. Di tempat ini aku akan menempa mu menjadi jagoan pilih tanding di masa depan", ujar kakek tua yang mengaku bernama Begawan Ganapati itu sambil mengangkat bahu Panji Tejo Laksono.
Selanjutnya mereka berdua makan pagi dengan makanan sederhana yang ada di sekitar tempat itu. Meskipun Panji Tejo Laksono adalah pangeran di istana Kadiri, dia sudah terbiasa dengan menu makan sederhana karena hampir 5 warsa dia tinggal di Padepokan Padas Putih yang tidak membedakan murid berdasarkan kasta mereka.
Saat matahari sepenggal naik ke langit, 7 orang berpakaian layaknya prajurit mendekati tempat itu.
Mereka adalah Tumenggung Ludaka dan keenam prajurit nya.
Rupanya mereka bermalam di hutan dalam upaya pencarian hilang nya Panji Tejo Laksono. Pagi tadi saat baru saja hendak meneruskan pencarian, mereka mendengar suara pertempuran yang menggunakan ilmu ajian kanuragan tingkat tinggi. Merasa penasaran mereka mencari ke arah sumber suara dan menemukan tempat itu.
Begitu melihat Panji Tejo Laksono masih hidup, Tumenggung Ludaka dan keenam prajurit nya langsung mendekati Panji Tejo Laksono dan Begawan Ganapati.
"Gusti Pangeran Tejo Laksono...
Puja Sang Hyang Akarya Jagat, terimakasih banyak atas karunia mu. Hamba sangat gembira Gusti Pangeran masih hidup.
Maafkan ketidakmampuan hamba menjaga Gusti Pangeran dari Kelompok Bulan Sabit Darah", Tumenggung Ludaka langsung menyembah pada Panji Tejo Laksono yang juga kaget melihat kedatangan perwira tinggi prajurit Panjalu itu.
"Darimana Paman Ludaka tahu kalau aku ada disini?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Tumenggung Ludaka yang kini duduk bersila di hadapan nya.
Tumenggung Ludaka segera menceritakan tentang pencarian mereka hingga ke dasar Jurang Menjing dan akhirnya menemukan Panji Tejo Laksono di tempat itu.
"Mari Gusti Pangeran, hamba antar pulang ke istana Katang-katang.
Gusti Ratu Anggarawati dan Gusti Prabu Jayengrana pasti sangat merindukan kehadiran mu", ujar Tumenggung Ludaka mengakhiri ceritanya.
"Aku tidak bisa pulang sekarang, Paman..
Kalau aku pulang sekarang hanya akan menjadi tambahan beban Kanjeng Romo Prabu Jayengrana. Aku akan berlatih meningkatkan kemampuan beladiri ku di tempat ini bersama guru ku, Begawan Ganapati.
Asal paman tahu, ada orang dalam istana Kadiri yang tidak ingin aku pulang ke Kadiri. Kelompok Bulan Sabit Darah yang berusaha membunuh ku adalah utusan mereka", Panji Tejo Laksono menatap ke arah langit biru di barat.
APPAAAAA??!!!
Terkejut Tumenggung Ludaka dan keenam prajurit Panjalu yang mengikuti nya mendengar penuturan Panji Tejo Laksono.
"Da-darimana Gusti Pangeran tahu semua itu?", Tumenggung Ludaka benar benar tidak menyangka bahwa perkiraan nya menjadi kenyataan.
Panji Tejo Laksono kemudian menceritakan tentang percakapan nya dengan dua pembunuh yang berhadapan dengan nya sesaat sebelum dia jatuh ke dalam Jurang Menjing.
Hemmmmmmm...
"Ini sesuai dengan dugaan hamba, Gusti Pangeran.
Kalau begitu saya harus melaporkan ini pada Gusti Prabu Jayengrana", ujar Tumenggung Ludaka segera.
"Jangan gegabah dalam bertindak Paman..
Gerakan mereka sangat-sangat rapi hingga sulit di pastikan siapa saja yang terlibat dalam masalah ini.
Aku minta paman Ludaka pulang ke Kadiri, sampaikan kepada Kanjeng Romo Prabu bahwa aku baik baik saja. Paman Gumbreg pasti sudah menceritakan semua nya.
Dan minta ayah ku untuk berhati-hati dalam bertindak agar tidak membuat para pelaku kejahatan ini membekukan diri.
Bila saatnya tiba, aku akan kembali ke istana Kadiri", ucap Panji Tejo Laksono dengan penuh keyakinan.
Mendengar tekad Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka memilih untuk mengalah. Namun dia menugaskan kepada dua prajurit nya yang bernama Siwikarna dan Jaluwesi untuk membantu semua kebutuhan Panji Tejo Laksono selama di tempat itu. Awal mulanya Panji Tejo Laksono menolak, tapi dia kalah berdebat dengan Tumenggung Ludaka dan akhirnya menerima pengaturan yang dilakukan oleh Tumenggung Ludaka.
Siang itu juga, Tumenggung Ludaka dan keempat pengikut nya meninggalkan tempat itu untuk pulang ke Kadiri.
Begawan Ganapati menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono yang masih memandang ke arah perginya Tumenggung Ludaka.
"Pangeran Tejo Laksono,
Pelatihan mu dimulai dari sekarang"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2024-03-26
1
Mahayabank
/Good//Good//Good//Ok//Ok/
2024-03-26
0
Mahayabank
Mantaaap /Ok//Ok/
2024-03-26
0