Kota Pakuwon Palah

Dua orang pengikut si kepala plontos langsung mengayunkan hantaman ke arah Panji Tejo Laksono. Untuk menghindari kerusakan warung makan, Panji Tejo Laksono langsung berkelit ke samping dan melompat keluar warung makan. Satu kali salto di udara dan mendarat dengan sempurna di halaman warung makan, menunggu kedatangan Rompal dan Bongkeng. Sementara Gombang mencekal lengan sosok bercaping bambu yang ternyata adalah seorang gadis cantik yang menyamar sebagai laki laki.

Dengan kasar, Gombang menarik si gadis berpakaian layaknya laki laki ini ke halaman. Pemilik warung makan dan pelayan nya yang ketakutan, bersembunyi di bawah meja dapur.

Melihat lawan sudah bersiap, Bongkeng langsung mencabut golok nya begitu juga dengan Rompal. Mereka segera membabatkan goloknya ke arah Panji Tejo Laksono.

Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!

Dua tebasan golok kencang mengincar nyawa. Dengan gerakan cepat, Panji Tejo Laksono langsung memutar badannya di udara menghindari sabetan golok yang mengincar kaki dan lehernya. Saat yang bersamaan, Panji Tejo Laksono melayangkan tendangan keras kearah Rompal dan pukulan ke arah dada Bongkeng.

Bhuuukkkhhh dhiesshhhhhhh!!

Aaauuuuggggghhhhh!!!

Dua pengikut si kepala plontos Gombang langsung terpelanting ke dua arah yang berlawanan. Mereka menghantam tanah dengan keras lalu muntah darah segar.

Melihat dua pengikutnya di jatuhkan dengan sekali serang, Gombang langsung menotok tubuh gadis cantik berbaju layaknya seorang lelaki yang bernama Gayatri itu. Lantas memutar golok besar nya dan melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil menebaskan senjatanya.

Whhuuuuuuuggggh!

Dengan cepat, Panji Tejo Laksono langsung berkelit menghindari tebasan golok besar Gombang hingga golok besar itu menancap di tanah. Sedikit memutar, Panji Tejo Laksono langsung melayangkan sepakan keras kearah punggung Gombang.

Bhuuukkkhhh!!

Gombang nyaris terjungkal ke depan namun si kepala plontos berbadan besar itu segera menggunakan golok besar nya yang menancap sebagai tumpuan dan melayangkan tendangan beruntun ke arah Panji Tejo Laksono.

Dasshhhhhhh dhaaaasssshhh!!

Satu siku tangan kiri menangkis tendangan beruntun Gombang. Lalu Panji Tejo Laksono melompat mundur dengan bersalto beberapa kali ke belakang.

Gombang mendengus keras lalu dengan cepat mencabut golok besar nya. Lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos itu langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono.

Segera Panji Tejo Laksono menepak sarung pedang pemberian Begawan Ganapati yang terikat pada punggungnya.

Plllaaakkkkk!!

Pedang bergagang kayu hitam dengan ukiran sulur itu melesat keluar dari sarungnya. Panji Tejo Laksono langsung menghentak tanah. Tubuh pangeran muda dari Kadiri ini melenting tinggi ke udara, menyambar gagang pedang berbilah dua warna itu lalu meluncur turun sembari membabatkan pedang nya ke arah Gombang.

Mendapat serangan balik Panji Tejo Laksono, Gombang mengayunkan golok besar menangkis tebasan pedang Panji Tejo Laksono.

Thrrriiinnnggggg!!

Benturan keras dua senjata terdengar nyaring. Panji Tejo Laksono bersalto sekali di udara, mendarat dengan cepat dan kembali melesat ke arah Gombang yang baru saja memutar tubuhnya.

Menggunakan Ajian Sepi Angin dipadukan dengan Ilmu Pedang Tanpa Bayangan, Panji Tejo Laksono menyerang dengan bertubi-tubi.

Thriiiinnngggggg thriiiinnngggggg!!

Gombang yang mengandalkan kekuatan tubuh nya sama sekali bukan tandingan Panji Tejo Laksono yang mengandalkan kecepatan tinggi untuk menghadapi nya.

5 jurus berlalu, dan dua luka sayatan pada punggung dan lengan atas kiri Gombang membuat pria bertubuh gempal itu semakin kehabisan nafas. Luka nya terus mengeluarkan darah, dan dia masih harus bertahan menghadapi serangan serangan Panji Tejo Laksono yang semakin lama semakin cepat.

Rompal dan Bongkeng yang menyaksikan pertarungan sengit itu semakin khawatir dengan keselamatan Gombang majikannya. Di sisi lain, Gayatri yang masih terkena totokan Gombang, menyunggingkan senyum tipis.

Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Gombang sambil menyabetkan pedangnya.

Whhhheeeetttth!

Gombang kembali mengangkat golok besar nya untuk menahan sabetan pedang Panji Tejo Laksono.

Thrrraaannnnggggg!!

Gerakan Gombang yang menggunakan kedua tangan untuk memegang gagang golok besar nya menciptakan pertahanan di sisi kanan nya terbuka. Dengan cepat Panji Tejo Laksono langsung memanfaatkan kesempatan itu dengan melayangkan pukulan keras yang di lambari tenaga dalam kearah dada kanan Gombang.

Bhuuukkkhhh..

Aarrrggghhhhhhhhh!!!

Gombang langsung terpental ke belakang dan jatuh terduduk. Pria berkepala plontos itu megap-megap mengatur nafasnya yang sesak karena dadanya sakit seakan di timpa balok kayu besar.

Hooeeeggghh!!

Darah segar keluar dari mulut Gombang. Pria bertubuh gempal itu muntah berulang kali. Arya Pethak berjalan perlahan mendekati Gombang sambil memutar pedangnya.

"Am-ampuni aku pendekar..

Aku mengaku kalah!!", ujar Gombang dengan wajah penuh rasa takut. Dia harus mengakui keunggulan Panji Tejo Laksono agar nyawanya selamat.

Hemmmmmmm...

"Sekarang baru mengaku kalah setelah di hajar ya? Dasar keparat!!

Sekarang coba katakan alasan mu kenapa kau ingin membawa gadis itu ke kota Kadipaten Seloageng? Apa kesalahannya?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Gombang yang masih membekap dadanya yang terasa remuk redam.

"A-aku adalah orang suruhan Juragan Wirakrama dari Kota Kadipaten Seloageng. Gadis itu adalah anak juragan Wirakrama yang kabur dari rumah karena mau di nikahkan dengan putra Tumenggung Sindupati.

Kami sudah mencarinya kemana-mana. Kemarin ada yang melihat dia di sekitar tempat ini dengan menyamar sebagai laki laki.

Aku mengatakan yang sejujurnya, pendekar", ujar Gombang dengan cepat.

"Kau tidak boleh memaksa orang untuk mengikuti keinginan mu, gundul..

Pulanglah ke Juragan Wirakrama mu dan bilang kalau tidak menemukan yang kau cari. Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran", ujar Panji Tejo Laksono dengan nada penuh ancaman.

Mendengar ucapan itu, Gombang langsung berdiri dan berjalan tertatih ke arah selatan diikuti oleh dua pengikutnya. Tak berapa lama kemudian mereka menghilang dari pandangan.

Panji Tejo Laksono kemudian berjalan menuju ke arah Gayatri. Menatap sebentar wajah cantik perempuan itu sebelum akhirnya melepaskan totokan Gombang.

Thukk thukk!!

Gayatri langsung menarik napas lega lalu mengibaskan tangannya yang kaku akibat totokan Gombang sementara itu Panji Tejo Laksono langsung masuk ke dalam warung makan.

"Maaf ya Ki sudah membuat rejeki mu berkurang.

Ini untuk bayar makanan ku dan pengganti meja mu yang rusak. Aku permisi dulu", ujar Panji Tejo Laksono sambil menaruh dua kepeng perak ke depan pemilik warung makan itu.

"Terimakasih pendekar... Kau sungguh mulia.. Semoga Hyang Akarya Jagat selalu melindungi mu", ujar lelaki paruh baya pemilik warung makan itu segera.

Panji Tejo Laksono segera mengangguk, mengambil buntalan kain hitam tempat baju ganti nya dan menyambar separuh ikan goreng yang masih tersisa di piringnya tadi. Sambil bersiul riang, dia melangkah keluar dari tempat itu.

"Kisanak pendekar,

Tunggu aku!", kata Gayatri yang segera menyusul langkah Panji Tejo Laksono sembari menyambar caping bambu nya.

"Ada urusan apa kau mengikuti ku? Bukankah para centeng bapak mu itu sudah pergi?", tanya Panji Tejo Laksono sambil terus melangkah ke arah timur.

"Aku belum berterimakasih kepada mu atas pertolongan yang kau berikan", ujar Gayatri sambil berjalan di atas Panji Tejo Laksono. Gadis itu kembali mengenakan caping bambu yang menutupi sebagian wajah nya.

"Aku tidak perlu ucapan terima kasih mu. Aku menghajar mereka karena mengganggu makan siang ku. Itu saja.

Sekarang kau pergi sana, jangan menggangguku", usir Panji Tejo Laksono acuh tak acuh terhadap kehadiran Gayatri.

"Eh tidak boleh begitu, namanya hutang budi harus di bayar. Kau boleh mengusirku setelah aku membalasnya", Gayatri ngeyel mengikuti langkah Panji Tejo Laksono.

"Haeeehhhhh dasar perempuan.. Terserah kau saja", ujar Panji Tejo Laksono sambil terus melangkah. Mendengar jawaban itu, Gayatri tersenyum lebar.

"Eh siapa namamu? Aku belum tahu nama mu dari tadi", tanya Gayatri yang segera menjajarkan langkahnya di samping Panji Tejo Laksono.

"Nama ku Taji Lelono. Kau sendiri siapa?", Panji Tejo Laksono terus melangkah sambil bertanya.

"Aku Gayatri. Setelah ini kemana tujuan mu?", kembali Gayatri melontarkan pertanyaan.

"Aku sendiri tidak tahu. Ikuti saja kemana angin berhembus", jawab Panji Tejo Laksono singkat.

Mereka berdua terus berjalan ke arah timur.

Tak berapa lama serombongan orang berkuda dengan beberapa pedati penuh dengan dagangan berpapasan dengan mereka. Setelah memperoleh ijin dari sang pemimpin rombongan, Panji Tejo Laksono dan Gayatri menumpang pedati yang menuju ke arah kota Pakuwon Palah.

Hari telah menjelang sore ketika rombongan itu sampai di kota.

Pakuwon Palah adalah kota kecil yang cukup makmur di Utara Kadipaten Seloageng. Kota ini sengaja di bangun untuk merawat salah satu bangunan keagamaan yang di tujukan Sang Hyang Palah atau juga Dewa Siwa. Kota kecil ini cukup ramai dikunjungi oleh para pelancong maupun para brahmana yang ingin memperdalam ilmu agama Hindu.

Rombongan yang di tumpangi Panji Tejo Laksono menghentikan langkah kaki pedati mereka di istana Akuwu Palah karena isi pedati ini adalah upeti dan pajak dari sebuah Wanua di barat kota untuk Akuwu Palah.

Usai berterima kasih, Panji Tejo Laksono dan Gayatri melangkahkan kaki mereka ke arah timur. Tujuan utama Panji Tejo Laksono adalah menuju ke Pakuwon Bedander kemudian ke Tanah Perdikan Lodaya untuk melihat keadaan adik sepupunya di istana Tanah Perdikan Lodaya. Bibi Panji Tejo Laksono dari pihak ayah, Dewi Anggraini menikah dengan Pangeran Arya Tanggung, penguasa Tanah Perdikan Lodaya. Sepupu nya yang bernama Rara Kinanti ini konon kabarnya adalah wanita paling cantik di tanah Perdikan Lodaya.

Di timur kota Palah, mereka berdua bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang terjatuh sembari menggendong bakul bambu yang berisi singkong.

Panji Tejo Laksono menolong sang wanita paruh baya itu segera.

"Terimakasih atas bantuannya, Den..

Denmas ini mau kemana? Sebentar lagi gelap. Hutan di timur tapal batas kota ini bukan wilayah aman untuk di lewati jika malam tiba loh", ujar wanita paruh baya itu.

"Kami ini pengelana Nyi, sudah biasa menghadapi bahaya.

Yah kalau pun nanti harus tidur di tengah hutan, itu bukan hal yang menakutkan", jawab Gayatri sambil memasukkan umbi umbi singkong itu ke dalam bakul bambu. Panji Tejo Laksono langsung memanggul bakul bambu yang berisi singkong itu dan mengantar perempuan paruh baya yang bernama Nyi Sumi itu ke rumah nya bersama Gayatri.

Panji Tejo Laksono menurunkan bakul bambu berisi umbi singkong itu ke depan rumah yang sederhana namun terlihat bersih dan rapi. Seorang lelaki sepuh keluar dari rumah menyambut kedatangan Nyi Sumi.

"Kau sudah pulang Nyi?

Mereka ini siapa?", tanya lelaki sepuh yang bernama Ki Wongso itu segera. Dia adalah suami Nyi Sumi.

"Mereka berdua adalah orang yang menolong ku, Ki.. Tadi aku jatuh dan dua orang ini yang membantu ku.

Malam ini biar mereka menginap di sini ya Ki. Sudah lama rumah kita sepi", ujar Nyi Sumi pada Ki Wongso yang segera disambut senyum oleh lelaki sepuh itu.

"Tentu saja, Nyi..

Semakin ramai semakin bagus hehehe", sambut Ki Wongso yang kemudian mempersilahkan Panji Tejo Laksono dan Gayatri untuk masuk.

Malam itu mereka berbincang tentang banyak hal. Ki Wongso sendiri bercerita bahwa semasa muda dulu dia adalah prajurit Kadipaten Seloageng. Namun karena usia sepuh, dia memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan hidup menyepi di wilayah kecil ini. Meski telah purna tugas, namun kecintaan nya terhadap negeri ini tidak berubah bahkan seorang putra nya menjadi prajurit di Seloageng. Panji Tejo Laksono dan Gayatri mendengar cerita itu dengan senang hati.

Saat mereka tengah asyik berbincang, tiba tiba saja terdengar suara bunyi kentongan yang di tabuh bertalu-talu.

Thonggg thong thongg thonggg!!

"Ki Ki.. Ada titir lagi Ki..

Jangan jangan para perampok itu muncul lagi. Aduh bagaimana ini Ki?", Nyi Sumi langsung panik mendengar suara kentongan bertalu-talu ini.

"Kau tenang saja Nyi..

Prajurit Pakuwon Palah pasti sudah bersiaga. Kau jangan panik menghadapi situasi seperti ini", ujar Ki Wongso yang segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sebilah golok yang di gantung pada dinding rumah.

"Sebaiknya kalian tenang dulu ya Ki, Nyi..

Aku akan keluar melihat situasi. Kalian bertiga jangan keluar dari dalam rumah ini", Panji Tejo Laksono langsung menyambar pedang nya, membuka pintu rumah sederhana itu dan melesat cepat kearah sumber suara itu. Begitu Panji Tejo Laksono sampai di pos jaga, seorang lelaki paruh baya sedang memukul kentongan dengan cepat. Ada 3 orang lain yang juga telah sampai di tempat itu. Terlihat asap tebal mengepul dari sebuah rumah yang terbakar di timur pos jaga.

Segera orang berduyun-duyun datang dan bahu membahu memadamkan api.

Melihat itu semua, Panji Tejo Laksono merasa curiga. Pangeran muda itu langsung melompat tinggi ke udara dan mendarat di atas sebuah pohon waru yang merupakan pohon paling tinggi di sekitar tempat itu.

Cahaya bulan separuh di atas langit timur membantu penglihatan Panji Tejo Laksono yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling kawasan pemukiman penduduk ini.

Dan benar saja, saat perhatian semua orang teralihkan pada kebakaran, sekelompok orang berpakaian hitam-hitam nampak berlari cepat kearah timur tapal batas kota yang merupakan hutan kecil.

Satu kali tarikan nafas, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah sekelompok orang itu. Menggunakan Ajian Sepi Angin, tubuhnya yang ringan langsung bisa menyusul mereka yang berjarak sekitar 300 depa jauhnya.

Whhhuuuggghhhh!!

Jleeggg!!

"Berhenti kalian!", ujar Panji Tejo Laksono sambil menatap tajam ke arah sekelompok orang berpakaian hitam-hitam yang berjumlah tujuh orang.

Kemunculan Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba membuat tujuh orang berpakaian hitam-hitam yang membawa buntalan kain besar di punggungnya itu langsung terkejut bukan main.

"Si-siapa kau? Apa urusanmu menghentikan kami", hardik seorang lelaki yang memakai topeng kayu berukir wajah monyet.

"Maling maling busuk seperti kalian tidak perlu tahu siapa namaku...

Letakkan barang yang kalian curi dan pergi dari sini. Jika tidak mau, jangan salahkan aku bertindak tegas pada kalian", ujar Panji Tejo Laksono sambil menghunus pedangnya.

"Hah hanya seorang saja berani menggertak kami yang bertujuh..

Kawan-kawan, cincang dia!", teriak seorang yang lain yang memakai topeng kayu bergambar wajah raksasa. Mendengar ucapan itu, keenam orang pencuri berpakaian hitam-hitam itu langsung mencabut senjata mereka masing-masing setelah meletakkan barang bawaan mereka.

Mereka segera mengepung Panji Tejo Laksono dari segala penjuru. Melihat itu Panji Tejo Laksono menyeringai tipis sambil bersiap siap. Dia berniat menggunakan jurus ke 12 Ilmu Pedang Tanpa Bayangan yang bernama Jurus Pedang Kilat Tanpa Lawan.

Saat seorang berpakaian hitam-hitam membabatkan goloknya ke arah Panji Tejo Laksono, pangeran muda ini langsung berkelit menghindari golok yang mengincar lehernya. Dia dengan cepat langsung menusukkan pedang bilah dua warna nya kearah perut lawannya.

Jllleeeeeppppphhh!!!

Aaauuuuggggghhhhh!!!

Si topeng monyet itu langsung tersungkur dengan perut robek. Belum sempat kawannya bereaksi dengan kematian si topeng monyet, satu tebasan pedang secepat kilat langsung merobek tubuh mereka.

Chhrrrraaaaaassss!!

Jerit kesakitan terdengar mulut mulut para lelaki bertopeng yang mengepung Panji Tejo Laksono. Hanya dalam dua gebrakan saja, tujuh orang berpakaian hitam-hitam itu tersungkur bersimbah darah.

Panji Tejo Laksono langsung membersihkan darah yang menempel pada bilah pedang nya dengan cara mengusapkan nya pada baju para pencuri nekat ini. Sebelum pergi, Panji Tejo Laksono menatap ke sekeliling nya sambil berkata pelan.

"Aku sudah memperingatkan kalian"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Update nya gak teratur jam nya ya? Harap maklum ya, lagi bulan puasa. Banyak kegiatan kawan hehehe😁😁🙏🙏✌️✌️

Terpopuler

Comments

Ni De

Ni De

koj sesuai judulya

2024-05-12

1

Mahayabank

Mahayabank

Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌

2024-03-26

0

Mahayabank

Mahayabank

/Good//Good//Good//Ok//Ok/

2024-03-26

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Jurang Menjing
2 Begawan Ganapati
3 Samaran
4 Kota Pakuwon Palah
5 Gerombolan Serigala Abu-abu
6 Tanah Perdikan Lodaya
7 Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8 Gending Pemikat Sukma
9 Pertarungan Di Tengah Sawah
10 Menuju Kadipaten Karang Anom
11 Makam Keramat Gunung Budeg
12 Makam Keramat Gunung Budeg 2
13 Kawan Baru
14 Hutan Jati Perbatasan
15 Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16 Pertapaan Bukit Rance
17 Pertapaan Bukit Rance 2
18 Pakuwon Widoro
19 Akuwu Durjana
20 Akuwu Durjana 2
21 Rahasia Gayatri
22 Tantangan
23 Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24 Kidung Cinta Endang Patibrata
25 Mimpi
26 Tuduhan Mata-mata
27 Setan Gunung Wilis
28 Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29 Panggil Aku Wiro
30 Guru Untuk Wiropati
31 Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32 Salah Paham
33 Palupi dan Luh Jingga
34 Melawan Jerangkong Api
35 Pencuri
36 Istana Kotaraja
37 Ayah dan Anak
38 Pedang Naga Api
39 Bagian
40 Pertempuran Sungai Lawor
41 Pertempuran Sungai Lawor 2
42 Pertempuran Sungai Lawor 3
43 Pertempuran Sungai Lawor 4
44 Perayaan
45 Pangeran Dari Kadiri
46 Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47 Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48 Pengelana dari Jauh
49 Sama Gilanya
50 Perguruan Tapak Suci
51 Luh Jingga dan Gayatri
52 Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53 Utusan Istana Kadiri
54 Taruhan
55 Karena Arak
56 Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57 Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58 Kembar Tapi Beda
59 Kejutan Besar
60 Lelaki Tua Berjari Buntung
61 Pertarungan yang Melelahkan
62 Maling Hati
63 Tahanan
64 Istana Kadipaten Kalingga
65 Tantangan dari Danapati
66 Adu Jago Ilmu Beladiri
67 Tugas
68 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71 Berangkat ke Tanah Tiongkok
72 Pelabuhan Tumasik
73 Perompak Bendera Hitam
74 Pangeran Suryavarman
75 Kecantikan Putri Champa
76 Malam Panjang
77 Kota Lin'an
78 Penginapan Musim Semi
79 Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80 Siapa Kau Sebenarnya?
81 Gumbreg Melawan Gu Heng
82 Pesta
83 Tubuh Emas
84 Dewa Pedang Wang Chun Yang
85 Putri Lan
86 Raja Serigala Gosong
87 Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88 Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89 Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90 Stempel Giok Naga
91 Nona Besar Song
92 Pertarungan
93 Pencuri Angin
94 Pencuri Angin 2
95 Menuju ke Kota Kaifeng
96 Hati Tiga Wanita Cantik
97 Hua Mei dan Gui Wu
98 Sekte Lembah Hantu
99 Ayu Ratna Palsu
100 Tamu Tak Diundang
101 Melawan Hauw Tian
102 Melawan Hauw Tian 2
103 Lawan Lama Ayah
104 Pertarungan di Kuil Shaolin
105 Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106 Tiga Pukulan
107 Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108 Ilmu Semesta Yin Yang
109 Di Tepi Jurang Terjal
110 Masalah di Kota Luoyang
111 Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114 Rumah Makan Bunga Persik
115 Ilmu Sembilan Matahari
116 Dewi Topeng Waja
117 Ajian Gelap Sayuto
118 Melawan Luo Fan
119 Melawan Luo Fan 2
120 Kaisar Huizong
121 Bara Api Dendam dari Rajapura
122 Pendekar Berpedang Butut
123 Mapanji Jayagiri
124 Siluman Rawa Seribu Teratai
125 Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126 Balada Penari Tledek
127 Jasa Pengawalan Bendera Naga
128 Si Ular Kecil
129 Cinta Tak Harus Memiliki
130 Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131 Lawan Yang Sepadan
132 Pimpinan Pasukan
133 Salah Paham
134 Madu
135 Istana Kalingga
136 Ikatan Sepuluh Cincin
137 Ikatan Sepuluh Cincin 2
138 Ikatan Sepuluh Cincin 3
139 Kejutan Yang Tidak Terduga
140 Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141 Suasana Kadipaten Rajapura
142 Bajak Laut Tsang
143 Bajak Laut Tsang 2
144 Gegabah
145 Benteng Pertahanan Karangwuluh
146 Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147 Siapa Dia?
148 Persiapan di Kalingga
149 Bantaran Kali Comal
150 Rajapura adalah Lawan
151 Para Penantang
152 Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153 Pesona Putri China
154 Telik Sandi
155 Pengorbanan Nyi Kenikir
156 Penyerbuan Rajapura
157 Diatas Langit Masih Ada Langit
158 Apa Mau Mu?
159 Ilmu Pangiwa
160 Kematian Junggul Mertalaya
161 Pertempuran Sesungguhnya
162 Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163 Rencana
164 Pilihan
165 Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166 Pertarungan di Malam Buta
167 Rencana Selanjutnya
168 Membangun Kembali Rajapura
169 Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170 Prasangka
171 Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172 Menuju ke Kota Kalingga
173 Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174 Resi Sanggabuana
175 Suara Tanpa Wujud
176 Kedatangan Prabu Jayengrana
177 Wejangan
178 Malam Pertama
179 Tanah Lungguh
180 Ajian Bayu Swara
181 Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182 Kelompok Bulan Sabit Darah
183 Sebelas Bayangan
184 Ksatria Lama
185 Upacara Penyucian Jiwa
186 Persiapan Penobatan
187 Dukungan
188 Paksijandu dan Nalini
189 Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190 Penjara
191 Hidup atau Mati
192 Jimat Keong Buntet
193 Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194 Panji Manggala Seta
195 Pakuwon Weling
196 Di Pertapaan Panumbangan
197 Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198 Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199 Tantangan Ki Pancatnyana
200 Pedang Tulang Iblis
201 Maharesi Padmanaba
202 Syarat dari Dyah Kirana
203 Dyah Kirana
204 Ajian Chanda Bhirawa
205 Istri Kelima
206 Kediaman Lurah Wanua Ranja
207 Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208 Ki Kalawisesa dan Wigati
209 Tawon Raksasa
210 Akhir Sebuah Dendam
211 Iblis Gunung Kawi
212 Nawala dari Prabu Jayengrana
213 Kedewasaan Gayatri
214 Kroco
215 Dewa dari Kahyangan
216 Menuju Pakuwon Tumapel
217 Kawan Baru
218 Lelaki Di Dalam Kabut
219 Malam di Tepi Hutan
220 Titah Prabu Jayengrana
221 Pendekar Golok Angin
222 Sandyakala di Langit Seloageng
223 Sandyakala di Langit Seloageng 2
224 Racun Penghancur Hati
225 Situasi Genting
226 Mengejar Penculik Ayu Ratna
227 Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228 Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229 Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230 Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231 Persiapan
232 Bantuan dari Lodaya
233 Saatnya Telah Tiba
234 Rencana Kedua
235 Senjata Cadangan Jenggala
236 Siapa Dia Sebenarnya?
237 Kemenangan di Selatan
238 Pasukan Gajah
239 Pimpinan Sementara
240 Mimpi Dewi Anggarawati
241 Orang-orang Wanua Karang Pulut
242 Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243 Perang Kota Kunjang
244 Perang Kota Kunjang 2
245 Perang Kota Kunjang 3
246 Perang Kota Kunjang 4
247 Perang Kota Kunjang 5
248 Akhir Perang Kota Kunjang
249 Akhir Perang Kota Kunjang 2
250 Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251 Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252 Bidadari Gunung Arjuna
253 Pangeran Ganeshabrata
254 Bantuan Yang Di Janjikan
255 Akhir Peperangan
256 Tabir Yang Mulai Tersingkap
257 Kembali ke Kotaraja Daha
258 Mulut Seorang Pelacur
259 Putri Akuwu
260 Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261 Intrik Istana
262 Bukan Pendekar Sembarangan
263 Pulang ke Seloageng
264 Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265 Permintaan Eyang
266 Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267 Dewi Anggrek Bulan
268 Gerimis
269 Ki Jatmika
270 Kisah Kelam Anggrek Perak
271 Wangsit
272 Pertapaan Gunung Penanggungan
273 Rajah Smaradahana
274 Menuju Kotaraja Kahuripan
275 Putri Uttejana
276 Adu Jago
277 Bidadari Bertopeng Perak
278 Melawan Nini Raga Setan
279 Ajian Malih Rupa
280 Bahaya Besar
281 Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282 Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283 Mpu Purwa
284 Keruwetan Demung Gumbreg
285 Warung Kembang Sore
286 Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287 Istana Perut Bumi
288 Istana Perut Bumi 2
289 Wanita Berambut Api
290 Jati Diri Dyah Kirana
291 Jati Diri Dyah Kirana 2
292 Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295 Dewi Lembah Wilis
296 Dewi Lembah Wilis 2
297 Dewi Lembah Wilis 3
298 Hutan Larangan
299 Wujud Yang Tidak Berjasad
300 Cerita Sepasang Kekasih
301 Para Penghadang
302 Adipati Arya Natakusuma
303 Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304 Sayembara Panjalu
305 Mencari Pujaan Hati
306 Pendopo Agung Istana Katang-katang
307 Setan Berwujud Manusia
308 Melawan Prabu Gendarmanik
309 Melawan Prabu Gendarmanik 2
310 Gayatri Hamil?
311 Lodaya Menagih Janji
312 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316 Perubahan
317 Singgasana Panjalu
318 Lelaki Tua Berambut Merah
319 Demung Gumbreg
320 Rencana Busuk Para Pejabat
321 Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322 Ulah Rara Kinanti
323 Utusan dari Anjuk Ladang
324 Iblis Bukit Manoreh
325 Malam Pertama Rara Kinanti
326 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328 Keangkuhan
329 Woro dan Wati
330 Menuju Ke Barat
331 Perbatasan Kadipaten Lewa
332 Rampok Kelabang Merah
333 Salah Masuk
334 Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338 Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339 Rencana Selanjutnya
340 Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341 Teka Teki
342 Putri Pertama
343 Murid Padepokan Padas Putih
344 Saudara Seperguruan
345 Bupati Baru Gelang-gelang
346 Hal Yang Ditunggu
347 Kadiri Kesaput Surup
348 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354 Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prahara Jurang Menjing
2
Begawan Ganapati
3
Samaran
4
Kota Pakuwon Palah
5
Gerombolan Serigala Abu-abu
6
Tanah Perdikan Lodaya
7
Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8
Gending Pemikat Sukma
9
Pertarungan Di Tengah Sawah
10
Menuju Kadipaten Karang Anom
11
Makam Keramat Gunung Budeg
12
Makam Keramat Gunung Budeg 2
13
Kawan Baru
14
Hutan Jati Perbatasan
15
Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16
Pertapaan Bukit Rance
17
Pertapaan Bukit Rance 2
18
Pakuwon Widoro
19
Akuwu Durjana
20
Akuwu Durjana 2
21
Rahasia Gayatri
22
Tantangan
23
Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24
Kidung Cinta Endang Patibrata
25
Mimpi
26
Tuduhan Mata-mata
27
Setan Gunung Wilis
28
Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29
Panggil Aku Wiro
30
Guru Untuk Wiropati
31
Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32
Salah Paham
33
Palupi dan Luh Jingga
34
Melawan Jerangkong Api
35
Pencuri
36
Istana Kotaraja
37
Ayah dan Anak
38
Pedang Naga Api
39
Bagian
40
Pertempuran Sungai Lawor
41
Pertempuran Sungai Lawor 2
42
Pertempuran Sungai Lawor 3
43
Pertempuran Sungai Lawor 4
44
Perayaan
45
Pangeran Dari Kadiri
46
Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47
Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48
Pengelana dari Jauh
49
Sama Gilanya
50
Perguruan Tapak Suci
51
Luh Jingga dan Gayatri
52
Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53
Utusan Istana Kadiri
54
Taruhan
55
Karena Arak
56
Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57
Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58
Kembar Tapi Beda
59
Kejutan Besar
60
Lelaki Tua Berjari Buntung
61
Pertarungan yang Melelahkan
62
Maling Hati
63
Tahanan
64
Istana Kadipaten Kalingga
65
Tantangan dari Danapati
66
Adu Jago Ilmu Beladiri
67
Tugas
68
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71
Berangkat ke Tanah Tiongkok
72
Pelabuhan Tumasik
73
Perompak Bendera Hitam
74
Pangeran Suryavarman
75
Kecantikan Putri Champa
76
Malam Panjang
77
Kota Lin'an
78
Penginapan Musim Semi
79
Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80
Siapa Kau Sebenarnya?
81
Gumbreg Melawan Gu Heng
82
Pesta
83
Tubuh Emas
84
Dewa Pedang Wang Chun Yang
85
Putri Lan
86
Raja Serigala Gosong
87
Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88
Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89
Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90
Stempel Giok Naga
91
Nona Besar Song
92
Pertarungan
93
Pencuri Angin
94
Pencuri Angin 2
95
Menuju ke Kota Kaifeng
96
Hati Tiga Wanita Cantik
97
Hua Mei dan Gui Wu
98
Sekte Lembah Hantu
99
Ayu Ratna Palsu
100
Tamu Tak Diundang
101
Melawan Hauw Tian
102
Melawan Hauw Tian 2
103
Lawan Lama Ayah
104
Pertarungan di Kuil Shaolin
105
Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106
Tiga Pukulan
107
Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108
Ilmu Semesta Yin Yang
109
Di Tepi Jurang Terjal
110
Masalah di Kota Luoyang
111
Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114
Rumah Makan Bunga Persik
115
Ilmu Sembilan Matahari
116
Dewi Topeng Waja
117
Ajian Gelap Sayuto
118
Melawan Luo Fan
119
Melawan Luo Fan 2
120
Kaisar Huizong
121
Bara Api Dendam dari Rajapura
122
Pendekar Berpedang Butut
123
Mapanji Jayagiri
124
Siluman Rawa Seribu Teratai
125
Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126
Balada Penari Tledek
127
Jasa Pengawalan Bendera Naga
128
Si Ular Kecil
129
Cinta Tak Harus Memiliki
130
Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131
Lawan Yang Sepadan
132
Pimpinan Pasukan
133
Salah Paham
134
Madu
135
Istana Kalingga
136
Ikatan Sepuluh Cincin
137
Ikatan Sepuluh Cincin 2
138
Ikatan Sepuluh Cincin 3
139
Kejutan Yang Tidak Terduga
140
Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141
Suasana Kadipaten Rajapura
142
Bajak Laut Tsang
143
Bajak Laut Tsang 2
144
Gegabah
145
Benteng Pertahanan Karangwuluh
146
Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147
Siapa Dia?
148
Persiapan di Kalingga
149
Bantaran Kali Comal
150
Rajapura adalah Lawan
151
Para Penantang
152
Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153
Pesona Putri China
154
Telik Sandi
155
Pengorbanan Nyi Kenikir
156
Penyerbuan Rajapura
157
Diatas Langit Masih Ada Langit
158
Apa Mau Mu?
159
Ilmu Pangiwa
160
Kematian Junggul Mertalaya
161
Pertempuran Sesungguhnya
162
Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163
Rencana
164
Pilihan
165
Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166
Pertarungan di Malam Buta
167
Rencana Selanjutnya
168
Membangun Kembali Rajapura
169
Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170
Prasangka
171
Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172
Menuju ke Kota Kalingga
173
Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174
Resi Sanggabuana
175
Suara Tanpa Wujud
176
Kedatangan Prabu Jayengrana
177
Wejangan
178
Malam Pertama
179
Tanah Lungguh
180
Ajian Bayu Swara
181
Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182
Kelompok Bulan Sabit Darah
183
Sebelas Bayangan
184
Ksatria Lama
185
Upacara Penyucian Jiwa
186
Persiapan Penobatan
187
Dukungan
188
Paksijandu dan Nalini
189
Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190
Penjara
191
Hidup atau Mati
192
Jimat Keong Buntet
193
Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194
Panji Manggala Seta
195
Pakuwon Weling
196
Di Pertapaan Panumbangan
197
Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198
Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199
Tantangan Ki Pancatnyana
200
Pedang Tulang Iblis
201
Maharesi Padmanaba
202
Syarat dari Dyah Kirana
203
Dyah Kirana
204
Ajian Chanda Bhirawa
205
Istri Kelima
206
Kediaman Lurah Wanua Ranja
207
Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208
Ki Kalawisesa dan Wigati
209
Tawon Raksasa
210
Akhir Sebuah Dendam
211
Iblis Gunung Kawi
212
Nawala dari Prabu Jayengrana
213
Kedewasaan Gayatri
214
Kroco
215
Dewa dari Kahyangan
216
Menuju Pakuwon Tumapel
217
Kawan Baru
218
Lelaki Di Dalam Kabut
219
Malam di Tepi Hutan
220
Titah Prabu Jayengrana
221
Pendekar Golok Angin
222
Sandyakala di Langit Seloageng
223
Sandyakala di Langit Seloageng 2
224
Racun Penghancur Hati
225
Situasi Genting
226
Mengejar Penculik Ayu Ratna
227
Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228
Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229
Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231
Persiapan
232
Bantuan dari Lodaya
233
Saatnya Telah Tiba
234
Rencana Kedua
235
Senjata Cadangan Jenggala
236
Siapa Dia Sebenarnya?
237
Kemenangan di Selatan
238
Pasukan Gajah
239
Pimpinan Sementara
240
Mimpi Dewi Anggarawati
241
Orang-orang Wanua Karang Pulut
242
Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243
Perang Kota Kunjang
244
Perang Kota Kunjang 2
245
Perang Kota Kunjang 3
246
Perang Kota Kunjang 4
247
Perang Kota Kunjang 5
248
Akhir Perang Kota Kunjang
249
Akhir Perang Kota Kunjang 2
250
Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251
Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252
Bidadari Gunung Arjuna
253
Pangeran Ganeshabrata
254
Bantuan Yang Di Janjikan
255
Akhir Peperangan
256
Tabir Yang Mulai Tersingkap
257
Kembali ke Kotaraja Daha
258
Mulut Seorang Pelacur
259
Putri Akuwu
260
Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261
Intrik Istana
262
Bukan Pendekar Sembarangan
263
Pulang ke Seloageng
264
Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265
Permintaan Eyang
266
Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267
Dewi Anggrek Bulan
268
Gerimis
269
Ki Jatmika
270
Kisah Kelam Anggrek Perak
271
Wangsit
272
Pertapaan Gunung Penanggungan
273
Rajah Smaradahana
274
Menuju Kotaraja Kahuripan
275
Putri Uttejana
276
Adu Jago
277
Bidadari Bertopeng Perak
278
Melawan Nini Raga Setan
279
Ajian Malih Rupa
280
Bahaya Besar
281
Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282
Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283
Mpu Purwa
284
Keruwetan Demung Gumbreg
285
Warung Kembang Sore
286
Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287
Istana Perut Bumi
288
Istana Perut Bumi 2
289
Wanita Berambut Api
290
Jati Diri Dyah Kirana
291
Jati Diri Dyah Kirana 2
292
Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295
Dewi Lembah Wilis
296
Dewi Lembah Wilis 2
297
Dewi Lembah Wilis 3
298
Hutan Larangan
299
Wujud Yang Tidak Berjasad
300
Cerita Sepasang Kekasih
301
Para Penghadang
302
Adipati Arya Natakusuma
303
Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304
Sayembara Panjalu
305
Mencari Pujaan Hati
306
Pendopo Agung Istana Katang-katang
307
Setan Berwujud Manusia
308
Melawan Prabu Gendarmanik
309
Melawan Prabu Gendarmanik 2
310
Gayatri Hamil?
311
Lodaya Menagih Janji
312
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316
Perubahan
317
Singgasana Panjalu
318
Lelaki Tua Berambut Merah
319
Demung Gumbreg
320
Rencana Busuk Para Pejabat
321
Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322
Ulah Rara Kinanti
323
Utusan dari Anjuk Ladang
324
Iblis Bukit Manoreh
325
Malam Pertama Rara Kinanti
326
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328
Keangkuhan
329
Woro dan Wati
330
Menuju Ke Barat
331
Perbatasan Kadipaten Lewa
332
Rampok Kelabang Merah
333
Salah Masuk
334
Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338
Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339
Rencana Selanjutnya
340
Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341
Teka Teki
342
Putri Pertama
343
Murid Padepokan Padas Putih
344
Saudara Seperguruan
345
Bupati Baru Gelang-gelang
346
Hal Yang Ditunggu
347
Kadiri Kesaput Surup
348
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354
Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!