Dua orang pengikut si kepala plontos langsung mengayunkan hantaman ke arah Panji Tejo Laksono. Untuk menghindari kerusakan warung makan, Panji Tejo Laksono langsung berkelit ke samping dan melompat keluar warung makan. Satu kali salto di udara dan mendarat dengan sempurna di halaman warung makan, menunggu kedatangan Rompal dan Bongkeng. Sementara Gombang mencekal lengan sosok bercaping bambu yang ternyata adalah seorang gadis cantik yang menyamar sebagai laki laki.
Dengan kasar, Gombang menarik si gadis berpakaian layaknya laki laki ini ke halaman. Pemilik warung makan dan pelayan nya yang ketakutan, bersembunyi di bawah meja dapur.
Melihat lawan sudah bersiap, Bongkeng langsung mencabut golok nya begitu juga dengan Rompal. Mereka segera membabatkan goloknya ke arah Panji Tejo Laksono.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!
Dua tebasan golok kencang mengincar nyawa. Dengan gerakan cepat, Panji Tejo Laksono langsung memutar badannya di udara menghindari sabetan golok yang mengincar kaki dan lehernya. Saat yang bersamaan, Panji Tejo Laksono melayangkan tendangan keras kearah Rompal dan pukulan ke arah dada Bongkeng.
Bhuuukkkhhh dhiesshhhhhhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Dua pengikut si kepala plontos Gombang langsung terpelanting ke dua arah yang berlawanan. Mereka menghantam tanah dengan keras lalu muntah darah segar.
Melihat dua pengikutnya di jatuhkan dengan sekali serang, Gombang langsung menotok tubuh gadis cantik berbaju layaknya seorang lelaki yang bernama Gayatri itu. Lantas memutar golok besar nya dan melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil menebaskan senjatanya.
Whhuuuuuuuggggh!
Dengan cepat, Panji Tejo Laksono langsung berkelit menghindari tebasan golok besar Gombang hingga golok besar itu menancap di tanah. Sedikit memutar, Panji Tejo Laksono langsung melayangkan sepakan keras kearah punggung Gombang.
Bhuuukkkhhh!!
Gombang nyaris terjungkal ke depan namun si kepala plontos berbadan besar itu segera menggunakan golok besar nya yang menancap sebagai tumpuan dan melayangkan tendangan beruntun ke arah Panji Tejo Laksono.
Dasshhhhhhh dhaaaasssshhh!!
Satu siku tangan kiri menangkis tendangan beruntun Gombang. Lalu Panji Tejo Laksono melompat mundur dengan bersalto beberapa kali ke belakang.
Gombang mendengus keras lalu dengan cepat mencabut golok besar nya. Lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos itu langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono.
Segera Panji Tejo Laksono menepak sarung pedang pemberian Begawan Ganapati yang terikat pada punggungnya.
Plllaaakkkkk!!
Pedang bergagang kayu hitam dengan ukiran sulur itu melesat keluar dari sarungnya. Panji Tejo Laksono langsung menghentak tanah. Tubuh pangeran muda dari Kadiri ini melenting tinggi ke udara, menyambar gagang pedang berbilah dua warna itu lalu meluncur turun sembari membabatkan pedang nya ke arah Gombang.
Mendapat serangan balik Panji Tejo Laksono, Gombang mengayunkan golok besar menangkis tebasan pedang Panji Tejo Laksono.
Thrrriiinnnggggg!!
Benturan keras dua senjata terdengar nyaring. Panji Tejo Laksono bersalto sekali di udara, mendarat dengan cepat dan kembali melesat ke arah Gombang yang baru saja memutar tubuhnya.
Menggunakan Ajian Sepi Angin dipadukan dengan Ilmu Pedang Tanpa Bayangan, Panji Tejo Laksono menyerang dengan bertubi-tubi.
Thriiiinnngggggg thriiiinnngggggg!!
Gombang yang mengandalkan kekuatan tubuh nya sama sekali bukan tandingan Panji Tejo Laksono yang mengandalkan kecepatan tinggi untuk menghadapi nya.
5 jurus berlalu, dan dua luka sayatan pada punggung dan lengan atas kiri Gombang membuat pria bertubuh gempal itu semakin kehabisan nafas. Luka nya terus mengeluarkan darah, dan dia masih harus bertahan menghadapi serangan serangan Panji Tejo Laksono yang semakin lama semakin cepat.
Rompal dan Bongkeng yang menyaksikan pertarungan sengit itu semakin khawatir dengan keselamatan Gombang majikannya. Di sisi lain, Gayatri yang masih terkena totokan Gombang, menyunggingkan senyum tipis.
Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Gombang sambil menyabetkan pedangnya.
Whhhheeeetttth!
Gombang kembali mengangkat golok besar nya untuk menahan sabetan pedang Panji Tejo Laksono.
Thrrraaannnnggggg!!
Gerakan Gombang yang menggunakan kedua tangan untuk memegang gagang golok besar nya menciptakan pertahanan di sisi kanan nya terbuka. Dengan cepat Panji Tejo Laksono langsung memanfaatkan kesempatan itu dengan melayangkan pukulan keras yang di lambari tenaga dalam kearah dada kanan Gombang.
Bhuuukkkhhh..
Aarrrggghhhhhhhhh!!!
Gombang langsung terpental ke belakang dan jatuh terduduk. Pria berkepala plontos itu megap-megap mengatur nafasnya yang sesak karena dadanya sakit seakan di timpa balok kayu besar.
Hooeeeggghh!!
Darah segar keluar dari mulut Gombang. Pria bertubuh gempal itu muntah berulang kali. Arya Pethak berjalan perlahan mendekati Gombang sambil memutar pedangnya.
"Am-ampuni aku pendekar..
Aku mengaku kalah!!", ujar Gombang dengan wajah penuh rasa takut. Dia harus mengakui keunggulan Panji Tejo Laksono agar nyawanya selamat.
Hemmmmmmm...
"Sekarang baru mengaku kalah setelah di hajar ya? Dasar keparat!!
Sekarang coba katakan alasan mu kenapa kau ingin membawa gadis itu ke kota Kadipaten Seloageng? Apa kesalahannya?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Gombang yang masih membekap dadanya yang terasa remuk redam.
"A-aku adalah orang suruhan Juragan Wirakrama dari Kota Kadipaten Seloageng. Gadis itu adalah anak juragan Wirakrama yang kabur dari rumah karena mau di nikahkan dengan putra Tumenggung Sindupati.
Kami sudah mencarinya kemana-mana. Kemarin ada yang melihat dia di sekitar tempat ini dengan menyamar sebagai laki laki.
Aku mengatakan yang sejujurnya, pendekar", ujar Gombang dengan cepat.
"Kau tidak boleh memaksa orang untuk mengikuti keinginan mu, gundul..
Pulanglah ke Juragan Wirakrama mu dan bilang kalau tidak menemukan yang kau cari. Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran", ujar Panji Tejo Laksono dengan nada penuh ancaman.
Mendengar ucapan itu, Gombang langsung berdiri dan berjalan tertatih ke arah selatan diikuti oleh dua pengikutnya. Tak berapa lama kemudian mereka menghilang dari pandangan.
Panji Tejo Laksono kemudian berjalan menuju ke arah Gayatri. Menatap sebentar wajah cantik perempuan itu sebelum akhirnya melepaskan totokan Gombang.
Thukk thukk!!
Gayatri langsung menarik napas lega lalu mengibaskan tangannya yang kaku akibat totokan Gombang sementara itu Panji Tejo Laksono langsung masuk ke dalam warung makan.
"Maaf ya Ki sudah membuat rejeki mu berkurang.
Ini untuk bayar makanan ku dan pengganti meja mu yang rusak. Aku permisi dulu", ujar Panji Tejo Laksono sambil menaruh dua kepeng perak ke depan pemilik warung makan itu.
"Terimakasih pendekar... Kau sungguh mulia.. Semoga Hyang Akarya Jagat selalu melindungi mu", ujar lelaki paruh baya pemilik warung makan itu segera.
Panji Tejo Laksono segera mengangguk, mengambil buntalan kain hitam tempat baju ganti nya dan menyambar separuh ikan goreng yang masih tersisa di piringnya tadi. Sambil bersiul riang, dia melangkah keluar dari tempat itu.
"Kisanak pendekar,
Tunggu aku!", kata Gayatri yang segera menyusul langkah Panji Tejo Laksono sembari menyambar caping bambu nya.
"Ada urusan apa kau mengikuti ku? Bukankah para centeng bapak mu itu sudah pergi?", tanya Panji Tejo Laksono sambil terus melangkah ke arah timur.
"Aku belum berterimakasih kepada mu atas pertolongan yang kau berikan", ujar Gayatri sambil berjalan di atas Panji Tejo Laksono. Gadis itu kembali mengenakan caping bambu yang menutupi sebagian wajah nya.
"Aku tidak perlu ucapan terima kasih mu. Aku menghajar mereka karena mengganggu makan siang ku. Itu saja.
Sekarang kau pergi sana, jangan menggangguku", usir Panji Tejo Laksono acuh tak acuh terhadap kehadiran Gayatri.
"Eh tidak boleh begitu, namanya hutang budi harus di bayar. Kau boleh mengusirku setelah aku membalasnya", Gayatri ngeyel mengikuti langkah Panji Tejo Laksono.
"Haeeehhhhh dasar perempuan.. Terserah kau saja", ujar Panji Tejo Laksono sambil terus melangkah. Mendengar jawaban itu, Gayatri tersenyum lebar.
"Eh siapa namamu? Aku belum tahu nama mu dari tadi", tanya Gayatri yang segera menjajarkan langkahnya di samping Panji Tejo Laksono.
"Nama ku Taji Lelono. Kau sendiri siapa?", Panji Tejo Laksono terus melangkah sambil bertanya.
"Aku Gayatri. Setelah ini kemana tujuan mu?", kembali Gayatri melontarkan pertanyaan.
"Aku sendiri tidak tahu. Ikuti saja kemana angin berhembus", jawab Panji Tejo Laksono singkat.
Mereka berdua terus berjalan ke arah timur.
Tak berapa lama serombongan orang berkuda dengan beberapa pedati penuh dengan dagangan berpapasan dengan mereka. Setelah memperoleh ijin dari sang pemimpin rombongan, Panji Tejo Laksono dan Gayatri menumpang pedati yang menuju ke arah kota Pakuwon Palah.
Hari telah menjelang sore ketika rombongan itu sampai di kota.
Pakuwon Palah adalah kota kecil yang cukup makmur di Utara Kadipaten Seloageng. Kota ini sengaja di bangun untuk merawat salah satu bangunan keagamaan yang di tujukan Sang Hyang Palah atau juga Dewa Siwa. Kota kecil ini cukup ramai dikunjungi oleh para pelancong maupun para brahmana yang ingin memperdalam ilmu agama Hindu.
Rombongan yang di tumpangi Panji Tejo Laksono menghentikan langkah kaki pedati mereka di istana Akuwu Palah karena isi pedati ini adalah upeti dan pajak dari sebuah Wanua di barat kota untuk Akuwu Palah.
Usai berterima kasih, Panji Tejo Laksono dan Gayatri melangkahkan kaki mereka ke arah timur. Tujuan utama Panji Tejo Laksono adalah menuju ke Pakuwon Bedander kemudian ke Tanah Perdikan Lodaya untuk melihat keadaan adik sepupunya di istana Tanah Perdikan Lodaya. Bibi Panji Tejo Laksono dari pihak ayah, Dewi Anggraini menikah dengan Pangeran Arya Tanggung, penguasa Tanah Perdikan Lodaya. Sepupu nya yang bernama Rara Kinanti ini konon kabarnya adalah wanita paling cantik di tanah Perdikan Lodaya.
Di timur kota Palah, mereka berdua bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang terjatuh sembari menggendong bakul bambu yang berisi singkong.
Panji Tejo Laksono menolong sang wanita paruh baya itu segera.
"Terimakasih atas bantuannya, Den..
Denmas ini mau kemana? Sebentar lagi gelap. Hutan di timur tapal batas kota ini bukan wilayah aman untuk di lewati jika malam tiba loh", ujar wanita paruh baya itu.
"Kami ini pengelana Nyi, sudah biasa menghadapi bahaya.
Yah kalau pun nanti harus tidur di tengah hutan, itu bukan hal yang menakutkan", jawab Gayatri sambil memasukkan umbi umbi singkong itu ke dalam bakul bambu. Panji Tejo Laksono langsung memanggul bakul bambu yang berisi singkong itu dan mengantar perempuan paruh baya yang bernama Nyi Sumi itu ke rumah nya bersama Gayatri.
Panji Tejo Laksono menurunkan bakul bambu berisi umbi singkong itu ke depan rumah yang sederhana namun terlihat bersih dan rapi. Seorang lelaki sepuh keluar dari rumah menyambut kedatangan Nyi Sumi.
"Kau sudah pulang Nyi?
Mereka ini siapa?", tanya lelaki sepuh yang bernama Ki Wongso itu segera. Dia adalah suami Nyi Sumi.
"Mereka berdua adalah orang yang menolong ku, Ki.. Tadi aku jatuh dan dua orang ini yang membantu ku.
Malam ini biar mereka menginap di sini ya Ki. Sudah lama rumah kita sepi", ujar Nyi Sumi pada Ki Wongso yang segera disambut senyum oleh lelaki sepuh itu.
"Tentu saja, Nyi..
Semakin ramai semakin bagus hehehe", sambut Ki Wongso yang kemudian mempersilahkan Panji Tejo Laksono dan Gayatri untuk masuk.
Malam itu mereka berbincang tentang banyak hal. Ki Wongso sendiri bercerita bahwa semasa muda dulu dia adalah prajurit Kadipaten Seloageng. Namun karena usia sepuh, dia memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan hidup menyepi di wilayah kecil ini. Meski telah purna tugas, namun kecintaan nya terhadap negeri ini tidak berubah bahkan seorang putra nya menjadi prajurit di Seloageng. Panji Tejo Laksono dan Gayatri mendengar cerita itu dengan senang hati.
Saat mereka tengah asyik berbincang, tiba tiba saja terdengar suara bunyi kentongan yang di tabuh bertalu-talu.
Thonggg thong thongg thonggg!!
"Ki Ki.. Ada titir lagi Ki..
Jangan jangan para perampok itu muncul lagi. Aduh bagaimana ini Ki?", Nyi Sumi langsung panik mendengar suara kentongan bertalu-talu ini.
"Kau tenang saja Nyi..
Prajurit Pakuwon Palah pasti sudah bersiaga. Kau jangan panik menghadapi situasi seperti ini", ujar Ki Wongso yang segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sebilah golok yang di gantung pada dinding rumah.
"Sebaiknya kalian tenang dulu ya Ki, Nyi..
Aku akan keluar melihat situasi. Kalian bertiga jangan keluar dari dalam rumah ini", Panji Tejo Laksono langsung menyambar pedang nya, membuka pintu rumah sederhana itu dan melesat cepat kearah sumber suara itu. Begitu Panji Tejo Laksono sampai di pos jaga, seorang lelaki paruh baya sedang memukul kentongan dengan cepat. Ada 3 orang lain yang juga telah sampai di tempat itu. Terlihat asap tebal mengepul dari sebuah rumah yang terbakar di timur pos jaga.
Segera orang berduyun-duyun datang dan bahu membahu memadamkan api.
Melihat itu semua, Panji Tejo Laksono merasa curiga. Pangeran muda itu langsung melompat tinggi ke udara dan mendarat di atas sebuah pohon waru yang merupakan pohon paling tinggi di sekitar tempat itu.
Cahaya bulan separuh di atas langit timur membantu penglihatan Panji Tejo Laksono yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling kawasan pemukiman penduduk ini.
Dan benar saja, saat perhatian semua orang teralihkan pada kebakaran, sekelompok orang berpakaian hitam-hitam nampak berlari cepat kearah timur tapal batas kota yang merupakan hutan kecil.
Satu kali tarikan nafas, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah sekelompok orang itu. Menggunakan Ajian Sepi Angin, tubuhnya yang ringan langsung bisa menyusul mereka yang berjarak sekitar 300 depa jauhnya.
Whhhuuuggghhhh!!
Jleeggg!!
"Berhenti kalian!", ujar Panji Tejo Laksono sambil menatap tajam ke arah sekelompok orang berpakaian hitam-hitam yang berjumlah tujuh orang.
Kemunculan Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba membuat tujuh orang berpakaian hitam-hitam yang membawa buntalan kain besar di punggungnya itu langsung terkejut bukan main.
"Si-siapa kau? Apa urusanmu menghentikan kami", hardik seorang lelaki yang memakai topeng kayu berukir wajah monyet.
"Maling maling busuk seperti kalian tidak perlu tahu siapa namaku...
Letakkan barang yang kalian curi dan pergi dari sini. Jika tidak mau, jangan salahkan aku bertindak tegas pada kalian", ujar Panji Tejo Laksono sambil menghunus pedangnya.
"Hah hanya seorang saja berani menggertak kami yang bertujuh..
Kawan-kawan, cincang dia!", teriak seorang yang lain yang memakai topeng kayu bergambar wajah raksasa. Mendengar ucapan itu, keenam orang pencuri berpakaian hitam-hitam itu langsung mencabut senjata mereka masing-masing setelah meletakkan barang bawaan mereka.
Mereka segera mengepung Panji Tejo Laksono dari segala penjuru. Melihat itu Panji Tejo Laksono menyeringai tipis sambil bersiap siap. Dia berniat menggunakan jurus ke 12 Ilmu Pedang Tanpa Bayangan yang bernama Jurus Pedang Kilat Tanpa Lawan.
Saat seorang berpakaian hitam-hitam membabatkan goloknya ke arah Panji Tejo Laksono, pangeran muda ini langsung berkelit menghindari golok yang mengincar lehernya. Dia dengan cepat langsung menusukkan pedang bilah dua warna nya kearah perut lawannya.
Jllleeeeeppppphhh!!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Si topeng monyet itu langsung tersungkur dengan perut robek. Belum sempat kawannya bereaksi dengan kematian si topeng monyet, satu tebasan pedang secepat kilat langsung merobek tubuh mereka.
Chhrrrraaaaaassss!!
Jerit kesakitan terdengar mulut mulut para lelaki bertopeng yang mengepung Panji Tejo Laksono. Hanya dalam dua gebrakan saja, tujuh orang berpakaian hitam-hitam itu tersungkur bersimbah darah.
Panji Tejo Laksono langsung membersihkan darah yang menempel pada bilah pedang nya dengan cara mengusapkan nya pada baju para pencuri nekat ini. Sebelum pergi, Panji Tejo Laksono menatap ke sekeliling nya sambil berkata pelan.
"Aku sudah memperingatkan kalian"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Update nya gak teratur jam nya ya? Harap maklum ya, lagi bulan puasa. Banyak kegiatan kawan hehehe😁😁🙏🙏✌️✌️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Ni De
koj sesuai judulya
2024-05-12
1
Mahayabank
Mantaaap...Lanjuuuut lagiiee 👌👌👌
2024-03-26
0
Mahayabank
/Good//Good//Good//Ok//Ok/
2024-03-26
0