Kawan Baru

"Maharesi Sanata Dharma?

Aku tidak pernah mendengar tentang nama mu Maharesi. Mungkin aku yang kurang pengetahuan, mohon Maharesi menerangkan", ujar Panji Tejo Laksono segera.

"Aku hidup sejaman dengan Eyang mu, Lokapala..

Dia menitipkan Keris Nagasasra ini karena pusaka ini mengandung Wahyu Makutarama. Ayahmu Prabu Jayengrana tidak memerlukan keris pusaka ini karena dia adalah titisan Wisnu setelah Airlangga. Tapi kau sebagai keturunan nya harus memegang keris pusaka ini sebagai kunci kelanggengan wangsa Isyana memerintah Tanah Jawadwipa ini, Panji Tejo Laksono", ujar sukma Maharesi Sanata Dharma sambil tersenyum tipis.

"Darimana Maharesi Sanata Dharma tahu siapa aku dan keluargaku?", Panji Tejo Laksono semakin kebingungan.

"Hehehehe kau benar-benar lugu, Tejo Laksono..

Aku hanya sisa roh yang menjaga keris pusaka ini sebelum sampai pada pemilik aslinya. Eyang mu Lokapala adalah bapak nya para raja dinasti Isyana ini, memberikan sebagian hasil tapa brata nya kepada ku sebagai kekuatan untuk menjaga Keris Nagasasra.

Karena itu, sukma ku bisa bertahan ratusan warsa hingga aku tahu semua kejadian yang terjadi di Tanah Jawadwipa ini dari jaman Lokapala hingga saat ini, Tejo Laksono..

Sekarang terimalah Wahyu Makutarama yang ada dalam Keris Nagasasra. Selanjutnya yang memimpin Tanah Jawadwipa adalah kau dan keenam keturunan ku sebelum Wahyu Makutarama muncul kembali ke jagad mayapada ini, bocah bagus", ujar Maharesi Sanata Dharma sambil menyentuh bahu kanan Panji Tejo Laksono yang membuat sang pangeran muda langsung duduk bersila.

Tanpa bisa bergerak, Panji Tejo Laksono merasakan sesuatu yang panas menjalar ke bahu kanan nya. Perlahan, sebuah rajah berbentuk mahkota yang terbuat dari huruf huruf suci sansekerta memancarkan sinar kuning keemasan tercipta di bahu kanan Panji Tejo Laksono. Rasa panas menyengat bercampur sakit yang luar biasa membuat Panji Tejo Laksono harus mati-matian berusaha untuk menahan nya. Keringat dingin mengucur dari dahi sang pangeran muda. Begitu rajah berbentuk mahkota tercipta sempurna, Panji Tejo Laksono langsung merasakan hawa sejuk dan nyaman.

Bersamaan dengan itu, Keris Nagasasra masuk ke dalam raga sang pangeran muda ini.

"Dengan manjing nya Keris Nagasasra dalam badan mu, kelak kau dan keenam keturunan mu akan menjadi Raja di Tanah Jawadwipa ini, Tejo Laksono.

Keris pusaka itu juga berguna sebagai pelindung tubuh mu dari segala jenis ilmu hitam yang mungkin mengancam jiwa mu di masa depan. Dia juga meningkatkan kekuatan tenaga dalam mu. Kau bisa menggunakannya untuk senjata jika kau membutuhkan.

Tugas ku sudah selesai, saat nya aku kembali ke Swargaloka untuk hidup di alam keabadian", ujar Maharesi Sanata Dharma sambil tersenyum simpul.

Panji Tejo Laksono yang berdiri setelah menerima Wahyu Makutarama, menghormat pada sukma Maharesi Sanata Dharma yang memudar dan menghilang dari pandangan mata. Rajah berbentuk mahkota dewa itu juga menghilang di punggung kanan Panji Tejo Laksono, menyatu dengan tubuh sang pangeran muda.

Bersamaan dengan itu, waktu berjalan kembali seperti sedia kala.

Melihat keris pusaka menghilang, semua orang terperanjat tak percaya. Semua pandangan mata para pendekar langsung tertuju pada Panji Tejo Laksono.

"Bangsat tengik!

Kemana keris pusaka tadi? Kenapa dia tiba tiba menghilang?", teriak Brajadenta sambil menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang terakhir mencoba untuk mendapatkan benda pusaka itu.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, keris itu tiba-tiba saja menghilang", jawab Panji Tejo Laksono dengan cepat.

"Dusta!

Pasti kau menyembunyikan keris pusaka itu. Cepat serahkan keris itu pada ku", Brajadenta mengulurkan tangannya ke arah Panji Tejo Laksono.

"Apa yang harus aku serahkan? Kalaupun aku bisa mendapatkan nya, tidak mungkin ku berikan kepada mu", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis dari balik caping bambu nya.

"Dasar keparat!

Cari mati kau rupanya!", teriak Brajadenta sambil melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan kapak besar nya.

Whhhuuuggghhhh!!!!

Panji Tejo Laksono langsung melenting tinggi ke udara menghindari serangan kapak besar dari Sepasang Setan Aneh Laut Selatan hingga serangan yang dilakukan hanya menebas udara kosong. Dengan gerakan seringan kapas, Panji Tejo Laksono berdiri di atas sebuah pohon perdu.

Brajadenta mendengus keras lalu menerjang maju ke Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan kapak besar nya. Kembali Panji Tejo Laksono berkelit lincah menghindari ayunan kapak besar Brajadenta.

Whhhuuuggghhhh...

Blllaaaaaarrr!!!!

Pohon perdu tempat berpijak Panji Tejo Laksono langsung hancur terkena hantaman kapak besar Brajadenta. Pria bertubuh tinggi besar itu terus memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan serangan yang mematikan.

Wicitrawirya, Ki Kagendra dan Nyi Sekar Mirah menatap pertarungan itu dengan takjub. Baru kali ini ada seorang pendekar yang begitu mudah menghindari serangan Brajadenta.

"Ajian Sepi Angin...

Pendekar bercaping bambu itu menggunakan Ajian Sepi Angin", ujar Ki Kagendra sembari terus menatap ke arah pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Brajadenta.

Mendengar ucapan Ki Kagendra, Wicitrawirya dan Nyi Sekar Mirah saling berpandangan sejenak.

"Kalau begitu, dia pasti anak murid Padepokan Padas Putih di Kadiri. Sebab Ajian Sepi Angin adalah ilmu andalan padepokan aliran putih itu.

Kalau begitu bisa di pastikan bahwa pendekar bercaping bambu itu dari golongan putih", ujar Nyi Sekar Mirah dengan cepat sembari terus menatap ke arah pertarungan.

"Sepertinya dia sudah mendapatkan senjata pusaka itu. Asalkan tidak jatuh ke tangan pendekar golongan hitam, walaupun bukan kita yang mendapatkan, aku tidak keberatan.

Ayo kita bantu dia", Wicitrawirya menggenggam gagang sepasang pedang pendek di pinggangnya.

"Tunggu Wicitrawirya,

Coba lihat dulu. Sepertinya pendekar bercaping bambu itu dari tadi hanya bermain-main dengan Brajadenta. Kelihatannya ilmu beladiri nya diatas Brajadenta", ucap Ki Kagendra sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono yang baru saja menghindari tebasan kapak besar Brajadenta.

Pria bertubuh tinggi besar itu ngos-ngosan mengatur nafasnya. Gerakan lincah tubuh Panji Tejo Laksono benar benar sulit untuk di dekati.

"Bangsat!!

Huh huhh kalau jagoan jangan lompat kesana kemari seperti monyet. Ayo mengadu ilmu!", teriak Brajadenta sambil menyeka keringat di dahinya. Tubuhnya yang tinggi besar dengan membawa kapak yang besar pula benar benar menguras tenaga Brajadenta.

"Aku tidak harus bertarung dengan mu..

Tapi jika kau memaksa, aku tidak akan segan segan lagi", Panji Tejo Laksono mencabut pedang bilah dua warna nya.

Brajadenta menyeringai lebar sambil mengayunkan kapak besar nya ke arah kepala Panji Tejo Laksono. Kali ini pangeran muda dari Kadiri ini tidak menghindar tapi menahan serangan lawan dengan menangkis nya.

Thhraaaangggggggg!!

Brajadenta terkejut bukan main. Meski sekuat tenaga dia menekan kapak besar nya, namun senjata besar itu sama sekali tidak bergerak kearah Panji Tejo Laksono.

Melihat pasangan nya kesulitan, Dewi Racun Hitam diam diam segera melemparkan dua buah jarum hitam ke arah Panji Tejo Laksono yang masih yang masih menahan tekanan kapak besar Brajadenta.

Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!

Gayatri yang melihat gerakan mencurigakan dari perempuan bertubuh pendek itu langsung melemparkan senjata rahasianya. Udara di sekeliling tubuh Gayatri menjadi dingin, lalu tercipta bilah es tajam. Sekali hentakan, bilah es tajam itu segera melesat cepat memapak serangan Dewi Racun Hitam.

Thrangg trrakkk!!!

Dua jarum berwarna hitam dari Dewi Racun Hitam langsung pecah berantakan saat beradu dengan bilah es tajam dari Gayatri. Sedangkan sisa bilah es tajam menerabas cepat kearah Dewi Racun Hitam.

"Bangsat kau!!!", maki Dewi Racun Hitam sembari melompat mundur menghindari serangan Gayatri.

Di sisi lain, pertarungan Brajadenta dengan Panji Tejo Laksono telah berlangsung puluhan jurus.

Brajadenta menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi nya ke kapak besar nya ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan lincah Panji Tejo Laksono berkelit ke samping sembari membabatkan pedang nya.

Terlambat Brajadenta menghindar dari sabetan pedang Panji Tejo Laksono.

Chhrrrraaaaaassss!!

Aaaarrrgggggghhhhh!!

Pedang Panji Tejo Laksono memotong lengan kiri Brajadenta yang terlambat menghindar. Lengan kiri pria bertubuh tinggi besar itu putus. Dia terhuyung huyung mundur sambil membekap lukanya.

Panji Tejo Laksono bermaksud mengakhiri pertarungan dengan melesat cepat kearah Brajadenta yang terluka parah. Namun Dewi Racun Hitam yang melihat pasangan nya terluka langsung melemparkan 4 jarum beracun nya ke arah Panji Tejo Laksono.

Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!

Desir angin kencang berhawa dingin menyertai 4 jarum beracun dari Dewi Racun Hitam. Panji Tejo Laksono segera ubah gerakan tubuhnya, melompat mundur sembari memutar pedang menangkis jarum beracun.

Thriiiinnngggggg thriiiinnngggggg!!

Jarum beracun bermentalan saat di tangkis pedang Panji Tejo Laksono. Dewi Racun Hitam memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tubuh Brajadenta dan Sepasang Setan Aneh Laut Selatan itu kabur menghilang di kegelapan malam.

Saat Iblis Bungkuk Gunung Katu hendak maju, terdengar keriuhan langkah kaki mendekat juga teriakan para prajurit Kadipaten Karang Anom yang dipimpin oleh Ganggadara dan Tumenggung Walungan. Dia yang merupakan buronan prajurit Kadipaten Karang Anom langsung mendengus keras.

"Anak muda,

Kali ini aku biarkan kau lolos. Lain kali aku tidak akan melepaskan mu", teriak Iblis Bungkuk Gunung Katu sambil melompat turun ke arah lereng terjal Gunung Budeg di selatan dan menghilang di balik kegelapan malam.

Melihat mereka pergi, Panji Tejo Laksono yang tidak ingin berhubungan dengan orang orang Kadipaten Karang Anom langsung menarik tangan Gayatri dan melesat ke arah barat laut sembari menyarungkan kembali pedang ke punggung nya. Wicitrawirya, Ki Kagendra dan Nyi Sekar Mirah yang ingin mengenal lebih jauh pendekar bercaping bambu itu langsung menyusul mereka ke arah dua orang itu pergi.

Ganggadara dan Tumenggung Walungan yang sampai di puncak Gunung Budeg sama sekali tidak melihat seorang pun ada disana. Hanya sebuah potongan tangan kiri yang tergeletak dan bekas bekas pertarungan yang belum lama terjadi.

"Sepertinya kita terlambat, Paman Tumenggung", ujar Ganggadara yang masih menata nafas sembari melihat sekeliling tempat itu yang sepi.

"Benar Gusti Pangeran..

Sebaiknya kita segera turun dari tempat ini dan melaporkan kejadian ini pada Gusti Adipati Windupati", Tumenggung Walungan menghormat pada Ganggadara. Mereka berdua segera turun dari puncak Gunung Budeg beserta para prajurit Kadipaten Karang Anom.

Di sisi lain, Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus melesat cepat diantara pepohonan yang tumbuh di selatan Wanua Sumping. Di belakang mereka, Wicitrawirya, Nyi Sekar Mirah dan Ki Kagendra mengejar dengan sepenuh tenaga.

Di tepi Wanua Sumping, Panji Tejo Laksono menghentikan gerakannya. Pun Gayatri ikut berhenti. Panji Tejo Laksono ingin mengetahui maksud dari mereka yang mengejarnya.

Jleeggg jleeggg jleeggg!!

Tiga bayangan itu langsung berhenti tepat di hadapan Panji Tejo Laksono.

"Apa maksud kalian mengejar kami? Apa ingin membalas kekalahan orang yang aku potong lengannya tadi?", tanya Panji Tejo Laksono dengan cepat.

"Ah jangan salah sangka, pendekar muda..

Kami hanya ingin mengenal mu lebih jauh agar di kemudian hari kita bisa berteman", jawab Wicitrawirya segera.

"Sungguh?

Atau kalian sengaja mendekati ku untuk merebut keris pusaka dari makam keramat itu?", Panji Tejo Laksono penuh kewaspadaan.

"Tidak sama sekali, pendekar muda.

Kami yakin keris pusaka itu berada di tangan orang yang benar karena kau juga dari golongan putih", sahut Nyi Sekar Mirah sambil berjalan mendekati Panji Tejo Laksono.

"Darimana kau tahu kalau aku pendekar golongan putih?", tanya Panji Tejo Laksono tanpa mengurangi rasa kewaspadaan nya.

"Aku melihat tadi kau menggunakan Ajian Sepi Angin. Hanya satu perguruan silat golongan putih yang mengajarkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi itu pada muridnya yaitu Padepokan Padas Putih.

Karena kau murid Padepokan Padas Putih maka sudah pasti kau sealiran dengan kami.

Perkenalkan namaku Ki Kagendra. Orang persilatan mengenali ku sebagai Pendekar Rajawali Selatan. Dia Nyi Sekar Mirah atau yang lebih di kenal dengan sebutan Dewi Selendang Merah. Sedangkan yang berkumis tebal ini Wicitrawirya si Pendekar Cambuk Api", jawab Ki Kagendra memperkenalkan kawan kawan nya.

Mendengar penuturan Ki Kagendra, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Gayatri.

"Tak aku sangka bisa mengenal para pendekar tersohor di wilayah selatan Kerajaan Panjalu.

Aku Gayatri dan kawan ku Taji Lelono sangat tersanjung ", ujar Gayatri yang pernah mendengar nama besar mereka sambil membuka caping bambu nya sebagai tanda dia menerima perkenalan dari ketiga orang tersebut. Panji Tejo Laksono pun ikut membuka caping bambu nya.

"Kau seorang perempuan?", tanya Nyi Sekar Mirah sambil menatap Gayatri seakan tak percaya.

"Benar Dewi Selendang Merah.

Aku terpaksa menyamar sebagai laki laki untuk menghindari pengejaran dari ayah ku", jawab Gayatri sembari membungkuk hormat.

"Nah karena kita sudah saling mengenal, sebaiknya kita mengobrol di tempat ku. Tidak nyaman terlalu lama disini. Aku takut iblis tua itu masih memburu mu, Taji", ujar Wicitrawirya sembari tersenyum tipis.

Mendengar ucapan itu, semua orang merasa setuju dan bergegas melesat cepat kearah kediaman Wicitrawirya di pinggir utara Wanua Sumping. Gayatri dan Panji Tejo Laksono langsung mengikuti langkah kawan baru mereka.

Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah yang cukup besar yang di sewa oleh Wicitrawirya untuk persiapan perebutan benda pusaka itu. Mereka segera berkumpul di serambi kediaman itu dengan duduk bersila. Lampu minyak jarak membantu penerangan yang cukup karena cahaya bulan purnama begitu cerah malam hari itu.

Malam itu mereka mengobrol banyak hal termasuk jati diri Panji Tejo Laksono. Namun pangeran muda ini hanya mengatakan bahwa dia sedang menjalani topo ngrame sebagai tanda penghormatan kepada gurunya yang meminta dia untuk menegakkan kebenaran selama 40 hari.

"Jadi ini tepat dua pekan kau menjalani topo ngrame mu, Taji?", tanya Nyi Sekar Mirah alias Dewi Selendang Merah segera.

"Benar Nyi Dewi..

Jadi mohon maaf tidak bisa berterus terang tentang apa dan siapa Taji Lelono saat ini", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.

Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba dari arah luar dua orang laki perempuan melesat cepat kearah serambi. Mereka berdua adalah Adijaya dan Arini yang ikut ke Gunung Budeg tapi di perintahkan Wicitrawirya untuk mengikuti pergerakan prajurit Kadipaten Karang Anom.

Mata Arini langsung terpaku pada wajah tampan Panji Tejo Laksono yang sedang berbicara dengan Nyi Sekar Mirah.

'Tampan sekali pendekar muda ini'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Masih suasana lebaran maszeeehh..

Monggo silahkan merapat ke gubug nya author..

Rengginang dan tape ketan nya masih banyak

😁😁😁😁

Terpopuler

Comments

Mahayabank

Mahayabank

Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌

2024-04-01

0

Mahayabank

Mahayabank

/Good//Good//Good//Ok//Ok/

2024-04-01

0

Mahayabank

Mahayabank

/Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-04-01

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Jurang Menjing
2 Begawan Ganapati
3 Samaran
4 Kota Pakuwon Palah
5 Gerombolan Serigala Abu-abu
6 Tanah Perdikan Lodaya
7 Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8 Gending Pemikat Sukma
9 Pertarungan Di Tengah Sawah
10 Menuju Kadipaten Karang Anom
11 Makam Keramat Gunung Budeg
12 Makam Keramat Gunung Budeg 2
13 Kawan Baru
14 Hutan Jati Perbatasan
15 Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16 Pertapaan Bukit Rance
17 Pertapaan Bukit Rance 2
18 Pakuwon Widoro
19 Akuwu Durjana
20 Akuwu Durjana 2
21 Rahasia Gayatri
22 Tantangan
23 Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24 Kidung Cinta Endang Patibrata
25 Mimpi
26 Tuduhan Mata-mata
27 Setan Gunung Wilis
28 Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29 Panggil Aku Wiro
30 Guru Untuk Wiropati
31 Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32 Salah Paham
33 Palupi dan Luh Jingga
34 Melawan Jerangkong Api
35 Pencuri
36 Istana Kotaraja
37 Ayah dan Anak
38 Pedang Naga Api
39 Bagian
40 Pertempuran Sungai Lawor
41 Pertempuran Sungai Lawor 2
42 Pertempuran Sungai Lawor 3
43 Pertempuran Sungai Lawor 4
44 Perayaan
45 Pangeran Dari Kadiri
46 Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47 Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48 Pengelana dari Jauh
49 Sama Gilanya
50 Perguruan Tapak Suci
51 Luh Jingga dan Gayatri
52 Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53 Utusan Istana Kadiri
54 Taruhan
55 Karena Arak
56 Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57 Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58 Kembar Tapi Beda
59 Kejutan Besar
60 Lelaki Tua Berjari Buntung
61 Pertarungan yang Melelahkan
62 Maling Hati
63 Tahanan
64 Istana Kadipaten Kalingga
65 Tantangan dari Danapati
66 Adu Jago Ilmu Beladiri
67 Tugas
68 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70 Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71 Berangkat ke Tanah Tiongkok
72 Pelabuhan Tumasik
73 Perompak Bendera Hitam
74 Pangeran Suryavarman
75 Kecantikan Putri Champa
76 Malam Panjang
77 Kota Lin'an
78 Penginapan Musim Semi
79 Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80 Siapa Kau Sebenarnya?
81 Gumbreg Melawan Gu Heng
82 Pesta
83 Tubuh Emas
84 Dewa Pedang Wang Chun Yang
85 Putri Lan
86 Raja Serigala Gosong
87 Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88 Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89 Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90 Stempel Giok Naga
91 Nona Besar Song
92 Pertarungan
93 Pencuri Angin
94 Pencuri Angin 2
95 Menuju ke Kota Kaifeng
96 Hati Tiga Wanita Cantik
97 Hua Mei dan Gui Wu
98 Sekte Lembah Hantu
99 Ayu Ratna Palsu
100 Tamu Tak Diundang
101 Melawan Hauw Tian
102 Melawan Hauw Tian 2
103 Lawan Lama Ayah
104 Pertarungan di Kuil Shaolin
105 Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106 Tiga Pukulan
107 Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108 Ilmu Semesta Yin Yang
109 Di Tepi Jurang Terjal
110 Masalah di Kota Luoyang
111 Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113 Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114 Rumah Makan Bunga Persik
115 Ilmu Sembilan Matahari
116 Dewi Topeng Waja
117 Ajian Gelap Sayuto
118 Melawan Luo Fan
119 Melawan Luo Fan 2
120 Kaisar Huizong
121 Bara Api Dendam dari Rajapura
122 Pendekar Berpedang Butut
123 Mapanji Jayagiri
124 Siluman Rawa Seribu Teratai
125 Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126 Balada Penari Tledek
127 Jasa Pengawalan Bendera Naga
128 Si Ular Kecil
129 Cinta Tak Harus Memiliki
130 Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131 Lawan Yang Sepadan
132 Pimpinan Pasukan
133 Salah Paham
134 Madu
135 Istana Kalingga
136 Ikatan Sepuluh Cincin
137 Ikatan Sepuluh Cincin 2
138 Ikatan Sepuluh Cincin 3
139 Kejutan Yang Tidak Terduga
140 Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141 Suasana Kadipaten Rajapura
142 Bajak Laut Tsang
143 Bajak Laut Tsang 2
144 Gegabah
145 Benteng Pertahanan Karangwuluh
146 Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147 Siapa Dia?
148 Persiapan di Kalingga
149 Bantaran Kali Comal
150 Rajapura adalah Lawan
151 Para Penantang
152 Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153 Pesona Putri China
154 Telik Sandi
155 Pengorbanan Nyi Kenikir
156 Penyerbuan Rajapura
157 Diatas Langit Masih Ada Langit
158 Apa Mau Mu?
159 Ilmu Pangiwa
160 Kematian Junggul Mertalaya
161 Pertempuran Sesungguhnya
162 Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163 Rencana
164 Pilihan
165 Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166 Pertarungan di Malam Buta
167 Rencana Selanjutnya
168 Membangun Kembali Rajapura
169 Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170 Prasangka
171 Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172 Menuju ke Kota Kalingga
173 Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174 Resi Sanggabuana
175 Suara Tanpa Wujud
176 Kedatangan Prabu Jayengrana
177 Wejangan
178 Malam Pertama
179 Tanah Lungguh
180 Ajian Bayu Swara
181 Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182 Kelompok Bulan Sabit Darah
183 Sebelas Bayangan
184 Ksatria Lama
185 Upacara Penyucian Jiwa
186 Persiapan Penobatan
187 Dukungan
188 Paksijandu dan Nalini
189 Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190 Penjara
191 Hidup atau Mati
192 Jimat Keong Buntet
193 Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194 Panji Manggala Seta
195 Pakuwon Weling
196 Di Pertapaan Panumbangan
197 Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198 Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199 Tantangan Ki Pancatnyana
200 Pedang Tulang Iblis
201 Maharesi Padmanaba
202 Syarat dari Dyah Kirana
203 Dyah Kirana
204 Ajian Chanda Bhirawa
205 Istri Kelima
206 Kediaman Lurah Wanua Ranja
207 Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208 Ki Kalawisesa dan Wigati
209 Tawon Raksasa
210 Akhir Sebuah Dendam
211 Iblis Gunung Kawi
212 Nawala dari Prabu Jayengrana
213 Kedewasaan Gayatri
214 Kroco
215 Dewa dari Kahyangan
216 Menuju Pakuwon Tumapel
217 Kawan Baru
218 Lelaki Di Dalam Kabut
219 Malam di Tepi Hutan
220 Titah Prabu Jayengrana
221 Pendekar Golok Angin
222 Sandyakala di Langit Seloageng
223 Sandyakala di Langit Seloageng 2
224 Racun Penghancur Hati
225 Situasi Genting
226 Mengejar Penculik Ayu Ratna
227 Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228 Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229 Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230 Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231 Persiapan
232 Bantuan dari Lodaya
233 Saatnya Telah Tiba
234 Rencana Kedua
235 Senjata Cadangan Jenggala
236 Siapa Dia Sebenarnya?
237 Kemenangan di Selatan
238 Pasukan Gajah
239 Pimpinan Sementara
240 Mimpi Dewi Anggarawati
241 Orang-orang Wanua Karang Pulut
242 Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243 Perang Kota Kunjang
244 Perang Kota Kunjang 2
245 Perang Kota Kunjang 3
246 Perang Kota Kunjang 4
247 Perang Kota Kunjang 5
248 Akhir Perang Kota Kunjang
249 Akhir Perang Kota Kunjang 2
250 Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251 Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252 Bidadari Gunung Arjuna
253 Pangeran Ganeshabrata
254 Bantuan Yang Di Janjikan
255 Akhir Peperangan
256 Tabir Yang Mulai Tersingkap
257 Kembali ke Kotaraja Daha
258 Mulut Seorang Pelacur
259 Putri Akuwu
260 Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261 Intrik Istana
262 Bukan Pendekar Sembarangan
263 Pulang ke Seloageng
264 Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265 Permintaan Eyang
266 Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267 Dewi Anggrek Bulan
268 Gerimis
269 Ki Jatmika
270 Kisah Kelam Anggrek Perak
271 Wangsit
272 Pertapaan Gunung Penanggungan
273 Rajah Smaradahana
274 Menuju Kotaraja Kahuripan
275 Putri Uttejana
276 Adu Jago
277 Bidadari Bertopeng Perak
278 Melawan Nini Raga Setan
279 Ajian Malih Rupa
280 Bahaya Besar
281 Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282 Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283 Mpu Purwa
284 Keruwetan Demung Gumbreg
285 Warung Kembang Sore
286 Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287 Istana Perut Bumi
288 Istana Perut Bumi 2
289 Wanita Berambut Api
290 Jati Diri Dyah Kirana
291 Jati Diri Dyah Kirana 2
292 Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294 Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295 Dewi Lembah Wilis
296 Dewi Lembah Wilis 2
297 Dewi Lembah Wilis 3
298 Hutan Larangan
299 Wujud Yang Tidak Berjasad
300 Cerita Sepasang Kekasih
301 Para Penghadang
302 Adipati Arya Natakusuma
303 Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304 Sayembara Panjalu
305 Mencari Pujaan Hati
306 Pendopo Agung Istana Katang-katang
307 Setan Berwujud Manusia
308 Melawan Prabu Gendarmanik
309 Melawan Prabu Gendarmanik 2
310 Gayatri Hamil?
311 Lodaya Menagih Janji
312 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315 Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316 Perubahan
317 Singgasana Panjalu
318 Lelaki Tua Berambut Merah
319 Demung Gumbreg
320 Rencana Busuk Para Pejabat
321 Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322 Ulah Rara Kinanti
323 Utusan dari Anjuk Ladang
324 Iblis Bukit Manoreh
325 Malam Pertama Rara Kinanti
326 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327 Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328 Keangkuhan
329 Woro dan Wati
330 Menuju Ke Barat
331 Perbatasan Kadipaten Lewa
332 Rampok Kelabang Merah
333 Salah Masuk
334 Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337 Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338 Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339 Rencana Selanjutnya
340 Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341 Teka Teki
342 Putri Pertama
343 Murid Padepokan Padas Putih
344 Saudara Seperguruan
345 Bupati Baru Gelang-gelang
346 Hal Yang Ditunggu
347 Kadiri Kesaput Surup
348 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353 Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354 Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prahara Jurang Menjing
2
Begawan Ganapati
3
Samaran
4
Kota Pakuwon Palah
5
Gerombolan Serigala Abu-abu
6
Tanah Perdikan Lodaya
7
Pemuda Tampan Bercaping Bambu
8
Gending Pemikat Sukma
9
Pertarungan Di Tengah Sawah
10
Menuju Kadipaten Karang Anom
11
Makam Keramat Gunung Budeg
12
Makam Keramat Gunung Budeg 2
13
Kawan Baru
14
Hutan Jati Perbatasan
15
Sisa Kelompok Bulan Sabit Darah
16
Pertapaan Bukit Rance
17
Pertapaan Bukit Rance 2
18
Pakuwon Widoro
19
Akuwu Durjana
20
Akuwu Durjana 2
21
Rahasia Gayatri
22
Tantangan
23
Wiku Sesat dan Sepasang Pedang Pembunuh dari Gunung Wilis
24
Kidung Cinta Endang Patibrata
25
Mimpi
26
Tuduhan Mata-mata
27
Setan Gunung Wilis
28
Hasrat Terlarang Dewi Ambarwati
29
Panggil Aku Wiro
30
Guru Untuk Wiropati
31
Dendam Kesumat dari Tanah Blambangan
32
Salah Paham
33
Palupi dan Luh Jingga
34
Melawan Jerangkong Api
35
Pencuri
36
Istana Kotaraja
37
Ayah dan Anak
38
Pedang Naga Api
39
Bagian
40
Pertempuran Sungai Lawor
41
Pertempuran Sungai Lawor 2
42
Pertempuran Sungai Lawor 3
43
Pertempuran Sungai Lawor 4
44
Perayaan
45
Pangeran Dari Kadiri
46
Kembang Istana Kadipaten Kalingga
47
Iblis Picak dari Sungai Wulayu
48
Pengelana dari Jauh
49
Sama Gilanya
50
Perguruan Tapak Suci
51
Luh Jingga dan Gayatri
52
Akhir Hidup Kelelawar Mata Iblis
53
Utusan Istana Kadiri
54
Taruhan
55
Karena Arak
56
Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang
57
Wasesodirjo dan Raden Sindupati
58
Kembar Tapi Beda
59
Kejutan Besar
60
Lelaki Tua Berjari Buntung
61
Pertarungan yang Melelahkan
62
Maling Hati
63
Tahanan
64
Istana Kadipaten Kalingga
65
Tantangan dari Danapati
66
Adu Jago Ilmu Beladiri
67
Tugas
68
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 1)
69
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 2)
70
Pertarungan di Istana Kalingga (bagian 3)
71
Berangkat ke Tanah Tiongkok
72
Pelabuhan Tumasik
73
Perompak Bendera Hitam
74
Pangeran Suryavarman
75
Kecantikan Putri Champa
76
Malam Panjang
77
Kota Lin'an
78
Penginapan Musim Semi
79
Hadangan Perampok Gunung Lima Singa
80
Siapa Kau Sebenarnya?
81
Gumbreg Melawan Gu Heng
82
Pesta
83
Tubuh Emas
84
Dewa Pedang Wang Chun Yang
85
Putri Lan
86
Raja Serigala Gosong
87
Perayaan Danau Naga ( bagian 1 )
88
Perayaan Danau Naga ( bagian 2 )
89
Perayaan Danau Naga ( bagian 3 )
90
Stempel Giok Naga
91
Nona Besar Song
92
Pertarungan
93
Pencuri Angin
94
Pencuri Angin 2
95
Menuju ke Kota Kaifeng
96
Hati Tiga Wanita Cantik
97
Hua Mei dan Gui Wu
98
Sekte Lembah Hantu
99
Ayu Ratna Palsu
100
Tamu Tak Diundang
101
Melawan Hauw Tian
102
Melawan Hauw Tian 2
103
Lawan Lama Ayah
104
Pertarungan di Kuil Shaolin
105
Pertarungan di Kuil Shaolin 2
106
Tiga Pukulan
107
Kisah Pilu Sepasang Kekasih
108
Ilmu Semesta Yin Yang
109
Di Tepi Jurang Terjal
110
Masalah di Kota Luoyang
111
Pelajaran untuk Fan Zhong Yan
112
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou
113
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou 2
114
Rumah Makan Bunga Persik
115
Ilmu Sembilan Matahari
116
Dewi Topeng Waja
117
Ajian Gelap Sayuto
118
Melawan Luo Fan
119
Melawan Luo Fan 2
120
Kaisar Huizong
121
Bara Api Dendam dari Rajapura
122
Pendekar Berpedang Butut
123
Mapanji Jayagiri
124
Siluman Rawa Seribu Teratai
125
Siluman Rawa Seribu Teratai 2
126
Balada Penari Tledek
127
Jasa Pengawalan Bendera Naga
128
Si Ular Kecil
129
Cinta Tak Harus Memiliki
130
Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga
131
Lawan Yang Sepadan
132
Pimpinan Pasukan
133
Salah Paham
134
Madu
135
Istana Kalingga
136
Ikatan Sepuluh Cincin
137
Ikatan Sepuluh Cincin 2
138
Ikatan Sepuluh Cincin 3
139
Kejutan Yang Tidak Terduga
140
Para Prajurit Penjaga Perbatasan
141
Suasana Kadipaten Rajapura
142
Bajak Laut Tsang
143
Bajak Laut Tsang 2
144
Gegabah
145
Benteng Pertahanan Karangwuluh
146
Tanah Jawadwipa, Aku Kembali..
147
Siapa Dia?
148
Persiapan di Kalingga
149
Bantaran Kali Comal
150
Rajapura adalah Lawan
151
Para Penantang
152
Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan
153
Pesona Putri China
154
Telik Sandi
155
Pengorbanan Nyi Kenikir
156
Penyerbuan Rajapura
157
Diatas Langit Masih Ada Langit
158
Apa Mau Mu?
159
Ilmu Pangiwa
160
Kematian Junggul Mertalaya
161
Pertempuran Sesungguhnya
162
Empat Calon Istri Panji Tejo Laksono
163
Rencana
164
Pilihan
165
Situasi Istana Kadipaten Rajapura
166
Pertarungan di Malam Buta
167
Rencana Selanjutnya
168
Membangun Kembali Rajapura
169
Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan
170
Prasangka
171
Adu Pedang di Depan Gerbang Istana
172
Menuju ke Kota Kalingga
173
Persiapan Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna
174
Resi Sanggabuana
175
Suara Tanpa Wujud
176
Kedatangan Prabu Jayengrana
177
Wejangan
178
Malam Pertama
179
Tanah Lungguh
180
Ajian Bayu Swara
181
Wasiat Terakhir Sang Adipati Sepuh
182
Kelompok Bulan Sabit Darah
183
Sebelas Bayangan
184
Ksatria Lama
185
Upacara Penyucian Jiwa
186
Persiapan Penobatan
187
Dukungan
188
Paksijandu dan Nalini
189
Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono
190
Penjara
191
Hidup atau Mati
192
Jimat Keong Buntet
193
Lelaki Bertudung Hitam dan Si Tabib Putih
194
Panji Manggala Seta
195
Pakuwon Weling
196
Di Pertapaan Panumbangan
197
Tewasnya Sang Pimpinan Ketujuh
198
Nyi Dadap Segara dan Ki Pancatnyana
199
Tantangan Ki Pancatnyana
200
Pedang Tulang Iblis
201
Maharesi Padmanaba
202
Syarat dari Dyah Kirana
203
Dyah Kirana
204
Ajian Chanda Bhirawa
205
Istri Kelima
206
Kediaman Lurah Wanua Ranja
207
Perempuan Cantik Berkemben Hijau
208
Ki Kalawisesa dan Wigati
209
Tawon Raksasa
210
Akhir Sebuah Dendam
211
Iblis Gunung Kawi
212
Nawala dari Prabu Jayengrana
213
Kedewasaan Gayatri
214
Kroco
215
Dewa dari Kahyangan
216
Menuju Pakuwon Tumapel
217
Kawan Baru
218
Lelaki Di Dalam Kabut
219
Malam di Tepi Hutan
220
Titah Prabu Jayengrana
221
Pendekar Golok Angin
222
Sandyakala di Langit Seloageng
223
Sandyakala di Langit Seloageng 2
224
Racun Penghancur Hati
225
Situasi Genting
226
Mengejar Penculik Ayu Ratna
227
Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )
228
Padepokan Ular Siluman ( bagian 2 )
229
Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )
230
Pasukan Jenggala Mulai Bergerak
231
Persiapan
232
Bantuan dari Lodaya
233
Saatnya Telah Tiba
234
Rencana Kedua
235
Senjata Cadangan Jenggala
236
Siapa Dia Sebenarnya?
237
Kemenangan di Selatan
238
Pasukan Gajah
239
Pimpinan Sementara
240
Mimpi Dewi Anggarawati
241
Orang-orang Wanua Karang Pulut
242
Orang-orang Wanua Karang Pulut 2
243
Perang Kota Kunjang
244
Perang Kota Kunjang 2
245
Perang Kota Kunjang 3
246
Perang Kota Kunjang 4
247
Perang Kota Kunjang 5
248
Akhir Perang Kota Kunjang
249
Akhir Perang Kota Kunjang 2
250
Benteng Pertahanan Wanua Sungging
251
Rencana Busuk Mapanji Jayawarsa
252
Bidadari Gunung Arjuna
253
Pangeran Ganeshabrata
254
Bantuan Yang Di Janjikan
255
Akhir Peperangan
256
Tabir Yang Mulai Tersingkap
257
Kembali ke Kotaraja Daha
258
Mulut Seorang Pelacur
259
Putri Akuwu
260
Sepasang Iblis Pemotong Kepala
261
Intrik Istana
262
Bukan Pendekar Sembarangan
263
Pulang ke Seloageng
264
Pasar Besar Kota Gelang-gelang
265
Permintaan Eyang
266
Utusan Padepokan Anggrek Bulan
267
Dewi Anggrek Bulan
268
Gerimis
269
Ki Jatmika
270
Kisah Kelam Anggrek Perak
271
Wangsit
272
Pertapaan Gunung Penanggungan
273
Rajah Smaradahana
274
Menuju Kotaraja Kahuripan
275
Putri Uttejana
276
Adu Jago
277
Bidadari Bertopeng Perak
278
Melawan Nini Raga Setan
279
Ajian Malih Rupa
280
Bahaya Besar
281
Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan
282
Menantang Para Petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah
283
Mpu Purwa
284
Keruwetan Demung Gumbreg
285
Warung Kembang Sore
286
Nyi Kembang Sore Sang Ratu Pemikat
287
Istana Perut Bumi
288
Istana Perut Bumi 2
289
Wanita Berambut Api
290
Jati Diri Dyah Kirana
291
Jati Diri Dyah Kirana 2
292
Pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana
293
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )
294
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 2 )
295
Dewi Lembah Wilis
296
Dewi Lembah Wilis 2
297
Dewi Lembah Wilis 3
298
Hutan Larangan
299
Wujud Yang Tidak Berjasad
300
Cerita Sepasang Kekasih
301
Para Penghadang
302
Adipati Arya Natakusuma
303
Misteri Hilangnya Dewi Sekar Kedaton
304
Sayembara Panjalu
305
Mencari Pujaan Hati
306
Pendopo Agung Istana Katang-katang
307
Setan Berwujud Manusia
308
Melawan Prabu Gendarmanik
309
Melawan Prabu Gendarmanik 2
310
Gayatri Hamil?
311
Lodaya Menagih Janji
312
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 1 )
313
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 2 )
314
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 3 )
315
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )
316
Perubahan
317
Singgasana Panjalu
318
Lelaki Tua Berambut Merah
319
Demung Gumbreg
320
Rencana Busuk Para Pejabat
321
Kebimbangan Hati Adipati Anjuk Ladang
322
Ulah Rara Kinanti
323
Utusan dari Anjuk Ladang
324
Iblis Bukit Manoreh
325
Malam Pertama Rara Kinanti
326
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga
327
Janda Sinting dari Lembah Selaksa Bunga 2
328
Keangkuhan
329
Woro dan Wati
330
Menuju Ke Barat
331
Perbatasan Kadipaten Lewa
332
Rampok Kelabang Merah
333
Salah Masuk
334
Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis
335
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 1 )
336
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )
337
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )
338
Suasana Kadipaten Anjuk Ladang
339
Rencana Selanjutnya
340
Mengorek Keterangan dari Mpu Klinting
341
Teka Teki
342
Putri Pertama
343
Murid Padepokan Padas Putih
344
Saudara Seperguruan
345
Bupati Baru Gelang-gelang
346
Hal Yang Ditunggu
347
Kadiri Kesaput Surup
348
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 1 )
349
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 2 )
350
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 3 )
351
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 4 )
352
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 5 )
353
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )
354
Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Parakrama Digjaya Uttunggadewa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!