"Maharesi Sanata Dharma?
Aku tidak pernah mendengar tentang nama mu Maharesi. Mungkin aku yang kurang pengetahuan, mohon Maharesi menerangkan", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Aku hidup sejaman dengan Eyang mu, Lokapala..
Dia menitipkan Keris Nagasasra ini karena pusaka ini mengandung Wahyu Makutarama. Ayahmu Prabu Jayengrana tidak memerlukan keris pusaka ini karena dia adalah titisan Wisnu setelah Airlangga. Tapi kau sebagai keturunan nya harus memegang keris pusaka ini sebagai kunci kelanggengan wangsa Isyana memerintah Tanah Jawadwipa ini, Panji Tejo Laksono", ujar sukma Maharesi Sanata Dharma sambil tersenyum tipis.
"Darimana Maharesi Sanata Dharma tahu siapa aku dan keluargaku?", Panji Tejo Laksono semakin kebingungan.
"Hehehehe kau benar-benar lugu, Tejo Laksono..
Aku hanya sisa roh yang menjaga keris pusaka ini sebelum sampai pada pemilik aslinya. Eyang mu Lokapala adalah bapak nya para raja dinasti Isyana ini, memberikan sebagian hasil tapa brata nya kepada ku sebagai kekuatan untuk menjaga Keris Nagasasra.
Karena itu, sukma ku bisa bertahan ratusan warsa hingga aku tahu semua kejadian yang terjadi di Tanah Jawadwipa ini dari jaman Lokapala hingga saat ini, Tejo Laksono..
Sekarang terimalah Wahyu Makutarama yang ada dalam Keris Nagasasra. Selanjutnya yang memimpin Tanah Jawadwipa adalah kau dan keenam keturunan ku sebelum Wahyu Makutarama muncul kembali ke jagad mayapada ini, bocah bagus", ujar Maharesi Sanata Dharma sambil menyentuh bahu kanan Panji Tejo Laksono yang membuat sang pangeran muda langsung duduk bersila.
Tanpa bisa bergerak, Panji Tejo Laksono merasakan sesuatu yang panas menjalar ke bahu kanan nya. Perlahan, sebuah rajah berbentuk mahkota yang terbuat dari huruf huruf suci sansekerta memancarkan sinar kuning keemasan tercipta di bahu kanan Panji Tejo Laksono. Rasa panas menyengat bercampur sakit yang luar biasa membuat Panji Tejo Laksono harus mati-matian berusaha untuk menahan nya. Keringat dingin mengucur dari dahi sang pangeran muda. Begitu rajah berbentuk mahkota tercipta sempurna, Panji Tejo Laksono langsung merasakan hawa sejuk dan nyaman.
Bersamaan dengan itu, Keris Nagasasra masuk ke dalam raga sang pangeran muda ini.
"Dengan manjing nya Keris Nagasasra dalam badan mu, kelak kau dan keenam keturunan mu akan menjadi Raja di Tanah Jawadwipa ini, Tejo Laksono.
Keris pusaka itu juga berguna sebagai pelindung tubuh mu dari segala jenis ilmu hitam yang mungkin mengancam jiwa mu di masa depan. Dia juga meningkatkan kekuatan tenaga dalam mu. Kau bisa menggunakannya untuk senjata jika kau membutuhkan.
Tugas ku sudah selesai, saat nya aku kembali ke Swargaloka untuk hidup di alam keabadian", ujar Maharesi Sanata Dharma sambil tersenyum simpul.
Panji Tejo Laksono yang berdiri setelah menerima Wahyu Makutarama, menghormat pada sukma Maharesi Sanata Dharma yang memudar dan menghilang dari pandangan mata. Rajah berbentuk mahkota dewa itu juga menghilang di punggung kanan Panji Tejo Laksono, menyatu dengan tubuh sang pangeran muda.
Bersamaan dengan itu, waktu berjalan kembali seperti sedia kala.
Melihat keris pusaka menghilang, semua orang terperanjat tak percaya. Semua pandangan mata para pendekar langsung tertuju pada Panji Tejo Laksono.
"Bangsat tengik!
Kemana keris pusaka tadi? Kenapa dia tiba tiba menghilang?", teriak Brajadenta sambil menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang terakhir mencoba untuk mendapatkan benda pusaka itu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, keris itu tiba-tiba saja menghilang", jawab Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Dusta!
Pasti kau menyembunyikan keris pusaka itu. Cepat serahkan keris itu pada ku", Brajadenta mengulurkan tangannya ke arah Panji Tejo Laksono.
"Apa yang harus aku serahkan? Kalaupun aku bisa mendapatkan nya, tidak mungkin ku berikan kepada mu", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis dari balik caping bambu nya.
"Dasar keparat!
Cari mati kau rupanya!", teriak Brajadenta sambil melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan kapak besar nya.
Whhhuuuggghhhh!!!!
Panji Tejo Laksono langsung melenting tinggi ke udara menghindari serangan kapak besar dari Sepasang Setan Aneh Laut Selatan hingga serangan yang dilakukan hanya menebas udara kosong. Dengan gerakan seringan kapas, Panji Tejo Laksono berdiri di atas sebuah pohon perdu.
Brajadenta mendengus keras lalu menerjang maju ke Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan kapak besar nya. Kembali Panji Tejo Laksono berkelit lincah menghindari ayunan kapak besar Brajadenta.
Whhhuuuggghhhh...
Blllaaaaaarrr!!!!
Pohon perdu tempat berpijak Panji Tejo Laksono langsung hancur terkena hantaman kapak besar Brajadenta. Pria bertubuh tinggi besar itu terus memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan serangan yang mematikan.
Wicitrawirya, Ki Kagendra dan Nyi Sekar Mirah menatap pertarungan itu dengan takjub. Baru kali ini ada seorang pendekar yang begitu mudah menghindari serangan Brajadenta.
"Ajian Sepi Angin...
Pendekar bercaping bambu itu menggunakan Ajian Sepi Angin", ujar Ki Kagendra sembari terus menatap ke arah pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Brajadenta.
Mendengar ucapan Ki Kagendra, Wicitrawirya dan Nyi Sekar Mirah saling berpandangan sejenak.
"Kalau begitu, dia pasti anak murid Padepokan Padas Putih di Kadiri. Sebab Ajian Sepi Angin adalah ilmu andalan padepokan aliran putih itu.
Kalau begitu bisa di pastikan bahwa pendekar bercaping bambu itu dari golongan putih", ujar Nyi Sekar Mirah dengan cepat sembari terus menatap ke arah pertarungan.
"Sepertinya dia sudah mendapatkan senjata pusaka itu. Asalkan tidak jatuh ke tangan pendekar golongan hitam, walaupun bukan kita yang mendapatkan, aku tidak keberatan.
Ayo kita bantu dia", Wicitrawirya menggenggam gagang sepasang pedang pendek di pinggangnya.
"Tunggu Wicitrawirya,
Coba lihat dulu. Sepertinya pendekar bercaping bambu itu dari tadi hanya bermain-main dengan Brajadenta. Kelihatannya ilmu beladiri nya diatas Brajadenta", ucap Ki Kagendra sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono yang baru saja menghindari tebasan kapak besar Brajadenta.
Pria bertubuh tinggi besar itu ngos-ngosan mengatur nafasnya. Gerakan lincah tubuh Panji Tejo Laksono benar benar sulit untuk di dekati.
"Bangsat!!
Huh huhh kalau jagoan jangan lompat kesana kemari seperti monyet. Ayo mengadu ilmu!", teriak Brajadenta sambil menyeka keringat di dahinya. Tubuhnya yang tinggi besar dengan membawa kapak yang besar pula benar benar menguras tenaga Brajadenta.
"Aku tidak harus bertarung dengan mu..
Tapi jika kau memaksa, aku tidak akan segan segan lagi", Panji Tejo Laksono mencabut pedang bilah dua warna nya.
Brajadenta menyeringai lebar sambil mengayunkan kapak besar nya ke arah kepala Panji Tejo Laksono. Kali ini pangeran muda dari Kadiri ini tidak menghindar tapi menahan serangan lawan dengan menangkis nya.
Thhraaaangggggggg!!
Brajadenta terkejut bukan main. Meski sekuat tenaga dia menekan kapak besar nya, namun senjata besar itu sama sekali tidak bergerak kearah Panji Tejo Laksono.
Melihat pasangan nya kesulitan, Dewi Racun Hitam diam diam segera melemparkan dua buah jarum hitam ke arah Panji Tejo Laksono yang masih yang masih menahan tekanan kapak besar Brajadenta.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Gayatri yang melihat gerakan mencurigakan dari perempuan bertubuh pendek itu langsung melemparkan senjata rahasianya. Udara di sekeliling tubuh Gayatri menjadi dingin, lalu tercipta bilah es tajam. Sekali hentakan, bilah es tajam itu segera melesat cepat memapak serangan Dewi Racun Hitam.
Thrangg trrakkk!!!
Dua jarum berwarna hitam dari Dewi Racun Hitam langsung pecah berantakan saat beradu dengan bilah es tajam dari Gayatri. Sedangkan sisa bilah es tajam menerabas cepat kearah Dewi Racun Hitam.
"Bangsat kau!!!", maki Dewi Racun Hitam sembari melompat mundur menghindari serangan Gayatri.
Di sisi lain, pertarungan Brajadenta dengan Panji Tejo Laksono telah berlangsung puluhan jurus.
Brajadenta menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi nya ke kapak besar nya ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan lincah Panji Tejo Laksono berkelit ke samping sembari membabatkan pedang nya.
Terlambat Brajadenta menghindar dari sabetan pedang Panji Tejo Laksono.
Chhrrrraaaaaassss!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Pedang Panji Tejo Laksono memotong lengan kiri Brajadenta yang terlambat menghindar. Lengan kiri pria bertubuh tinggi besar itu putus. Dia terhuyung huyung mundur sambil membekap lukanya.
Panji Tejo Laksono bermaksud mengakhiri pertarungan dengan melesat cepat kearah Brajadenta yang terluka parah. Namun Dewi Racun Hitam yang melihat pasangan nya terluka langsung melemparkan 4 jarum beracun nya ke arah Panji Tejo Laksono.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Desir angin kencang berhawa dingin menyertai 4 jarum beracun dari Dewi Racun Hitam. Panji Tejo Laksono segera ubah gerakan tubuhnya, melompat mundur sembari memutar pedang menangkis jarum beracun.
Thriiiinnngggggg thriiiinnngggggg!!
Jarum beracun bermentalan saat di tangkis pedang Panji Tejo Laksono. Dewi Racun Hitam memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tubuh Brajadenta dan Sepasang Setan Aneh Laut Selatan itu kabur menghilang di kegelapan malam.
Saat Iblis Bungkuk Gunung Katu hendak maju, terdengar keriuhan langkah kaki mendekat juga teriakan para prajurit Kadipaten Karang Anom yang dipimpin oleh Ganggadara dan Tumenggung Walungan. Dia yang merupakan buronan prajurit Kadipaten Karang Anom langsung mendengus keras.
"Anak muda,
Kali ini aku biarkan kau lolos. Lain kali aku tidak akan melepaskan mu", teriak Iblis Bungkuk Gunung Katu sambil melompat turun ke arah lereng terjal Gunung Budeg di selatan dan menghilang di balik kegelapan malam.
Melihat mereka pergi, Panji Tejo Laksono yang tidak ingin berhubungan dengan orang orang Kadipaten Karang Anom langsung menarik tangan Gayatri dan melesat ke arah barat laut sembari menyarungkan kembali pedang ke punggung nya. Wicitrawirya, Ki Kagendra dan Nyi Sekar Mirah yang ingin mengenal lebih jauh pendekar bercaping bambu itu langsung menyusul mereka ke arah dua orang itu pergi.
Ganggadara dan Tumenggung Walungan yang sampai di puncak Gunung Budeg sama sekali tidak melihat seorang pun ada disana. Hanya sebuah potongan tangan kiri yang tergeletak dan bekas bekas pertarungan yang belum lama terjadi.
"Sepertinya kita terlambat, Paman Tumenggung", ujar Ganggadara yang masih menata nafas sembari melihat sekeliling tempat itu yang sepi.
"Benar Gusti Pangeran..
Sebaiknya kita segera turun dari tempat ini dan melaporkan kejadian ini pada Gusti Adipati Windupati", Tumenggung Walungan menghormat pada Ganggadara. Mereka berdua segera turun dari puncak Gunung Budeg beserta para prajurit Kadipaten Karang Anom.
Di sisi lain, Panji Tejo Laksono dan Gayatri terus melesat cepat diantara pepohonan yang tumbuh di selatan Wanua Sumping. Di belakang mereka, Wicitrawirya, Nyi Sekar Mirah dan Ki Kagendra mengejar dengan sepenuh tenaga.
Di tepi Wanua Sumping, Panji Tejo Laksono menghentikan gerakannya. Pun Gayatri ikut berhenti. Panji Tejo Laksono ingin mengetahui maksud dari mereka yang mengejarnya.
Jleeggg jleeggg jleeggg!!
Tiga bayangan itu langsung berhenti tepat di hadapan Panji Tejo Laksono.
"Apa maksud kalian mengejar kami? Apa ingin membalas kekalahan orang yang aku potong lengannya tadi?", tanya Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Ah jangan salah sangka, pendekar muda..
Kami hanya ingin mengenal mu lebih jauh agar di kemudian hari kita bisa berteman", jawab Wicitrawirya segera.
"Sungguh?
Atau kalian sengaja mendekati ku untuk merebut keris pusaka dari makam keramat itu?", Panji Tejo Laksono penuh kewaspadaan.
"Tidak sama sekali, pendekar muda.
Kami yakin keris pusaka itu berada di tangan orang yang benar karena kau juga dari golongan putih", sahut Nyi Sekar Mirah sambil berjalan mendekati Panji Tejo Laksono.
"Darimana kau tahu kalau aku pendekar golongan putih?", tanya Panji Tejo Laksono tanpa mengurangi rasa kewaspadaan nya.
"Aku melihat tadi kau menggunakan Ajian Sepi Angin. Hanya satu perguruan silat golongan putih yang mengajarkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi itu pada muridnya yaitu Padepokan Padas Putih.
Karena kau murid Padepokan Padas Putih maka sudah pasti kau sealiran dengan kami.
Perkenalkan namaku Ki Kagendra. Orang persilatan mengenali ku sebagai Pendekar Rajawali Selatan. Dia Nyi Sekar Mirah atau yang lebih di kenal dengan sebutan Dewi Selendang Merah. Sedangkan yang berkumis tebal ini Wicitrawirya si Pendekar Cambuk Api", jawab Ki Kagendra memperkenalkan kawan kawan nya.
Mendengar penuturan Ki Kagendra, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Gayatri.
"Tak aku sangka bisa mengenal para pendekar tersohor di wilayah selatan Kerajaan Panjalu.
Aku Gayatri dan kawan ku Taji Lelono sangat tersanjung ", ujar Gayatri yang pernah mendengar nama besar mereka sambil membuka caping bambu nya sebagai tanda dia menerima perkenalan dari ketiga orang tersebut. Panji Tejo Laksono pun ikut membuka caping bambu nya.
"Kau seorang perempuan?", tanya Nyi Sekar Mirah sambil menatap Gayatri seakan tak percaya.
"Benar Dewi Selendang Merah.
Aku terpaksa menyamar sebagai laki laki untuk menghindari pengejaran dari ayah ku", jawab Gayatri sembari membungkuk hormat.
"Nah karena kita sudah saling mengenal, sebaiknya kita mengobrol di tempat ku. Tidak nyaman terlalu lama disini. Aku takut iblis tua itu masih memburu mu, Taji", ujar Wicitrawirya sembari tersenyum tipis.
Mendengar ucapan itu, semua orang merasa setuju dan bergegas melesat cepat kearah kediaman Wicitrawirya di pinggir utara Wanua Sumping. Gayatri dan Panji Tejo Laksono langsung mengikuti langkah kawan baru mereka.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah yang cukup besar yang di sewa oleh Wicitrawirya untuk persiapan perebutan benda pusaka itu. Mereka segera berkumpul di serambi kediaman itu dengan duduk bersila. Lampu minyak jarak membantu penerangan yang cukup karena cahaya bulan purnama begitu cerah malam hari itu.
Malam itu mereka mengobrol banyak hal termasuk jati diri Panji Tejo Laksono. Namun pangeran muda ini hanya mengatakan bahwa dia sedang menjalani topo ngrame sebagai tanda penghormatan kepada gurunya yang meminta dia untuk menegakkan kebenaran selama 40 hari.
"Jadi ini tepat dua pekan kau menjalani topo ngrame mu, Taji?", tanya Nyi Sekar Mirah alias Dewi Selendang Merah segera.
"Benar Nyi Dewi..
Jadi mohon maaf tidak bisa berterus terang tentang apa dan siapa Taji Lelono saat ini", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba dari arah luar dua orang laki perempuan melesat cepat kearah serambi. Mereka berdua adalah Adijaya dan Arini yang ikut ke Gunung Budeg tapi di perintahkan Wicitrawirya untuk mengikuti pergerakan prajurit Kadipaten Karang Anom.
Mata Arini langsung terpaku pada wajah tampan Panji Tejo Laksono yang sedang berbicara dengan Nyi Sekar Mirah.
'Tampan sekali pendekar muda ini'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Masih suasana lebaran maszeeehh..
Monggo silahkan merapat ke gubug nya author..
Rengginang dan tape ketan nya masih banyak
😁😁😁😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2024-04-01
0
Mahayabank
/Good//Good//Good//Ok//Ok/
2024-04-01
0
Mahayabank
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-04-01
0