Ki Renggos yang baru saja pulang dari rumah kawan nya untuk membeli beberapa ekor ayam dan dua ikat padi bersama sang istri, sedikit terkejut melihat Panji Tejo Laksono yang tengah di kerubungi 4 orang gadis desa. Sepasang suami istri itu saling berpandangan sejenak sebelum mereka tersenyum penuh arti.
"Waduh waduh...
Rara Gendhis, Rara Kusuma.. Kalian kog ada di rumah ku ada kepentingan apa? Apa ada sesuatu yang penting dari Ki Lurah?", tanya Ki Renggos yang membuat dua putri kepala desa itu langsung menoleh ke arah Ki Renggos yang baru saja meletakkan barang bawaan nya.
"Ah anu Ki, ini ada sedikit jajan pasar dari Kanjeng Romo.. Kan sawah bengkok romo baru saja panen, jadi kami di tugaskan untuk membagikan jajan pasar ke warga sekeliling rumah.
Kebetulan saja aku bertemu dengan keponakan Ki Renggos ini, jadi kami memberikan kepadanya", alasan Rara Gendhis sambil tersenyum malu-malu.
"Keponakan?", Ki Renggos dan istri saling berpandangan mendengar ucapan Rara Gendhis.
"Lha bukankah ini adalah keponakan Ki Renggos? Atau aku salah menyebutkan?", Rara Gendhis segera menatap ke arah Ki Renggos dan istri.
Belum sempat Ki Renggos menjawab, Panji Tejo Laksono langsung bergerak dan berdiri di samping Ki Renggos. Pangeran muda ini segera tersenyum lebar sebelum berbicara.
"Iya aku memang keponakan nya Ki Renggos. Aku baru datang hari ini dari Kadiri. Jadi sudah barang tentu kalian tidak pernah melihat ku disini, benar kan Ki?", Panji Tejo Laksono mengedipkan sebelah matanya ke arah Ki Renggos. Laki laki sepuh itu segera mengerti dan buru buru menyahut.
"Hehehehe... Iya Taji Lelono ini memang keponakan ku dari Kotaraja Kadiri.
Ya sudah kalian lanjutkan obrolan kalian, kami mau membawa barang belanjaan kami masuk dulu ya", ujar Ki Renggos sembari tersenyum tipis.
Sepanjang sore hari itu, keempat gadis desa itu terus berusaha menarik perhatian Panji Tejo Laksono namun sang pangeran muda ini hanya menanggapi mereka sebatas menghargai. Sementara itu Gayatri lebih banyak diam sambil sesekali melirik ke arah Panji Tejo Laksono yang di kerumuni empat gadis muda.
Menjelang senja mereka kembali ke rumah masing-masing. Dengan gaya centilnya penggemar dadakan Panji Tejo Laksono itu berpamitan kepada sang pangeran muda. Setelah mereka pergi, Panji Tejo Laksono menarik nafas lega. Gayatri pun tersenyum penuh kemenangan melihat para penggemar dadakan itu pergi.
Malam segera turun begitu rona jingga senja di cakrawala langit barat menghilang. Suara burung malam terdengar bersahutan mengiringi para kelelawar yang mencari makanan. Suara riuh jangkrik dan belalang bersahutan semakin membuat malam itu terasa sunyi. Sang rembulan malam yang hampir bulat sempurna nampak indah di langit timur.
Di pinggiran Wanua Sumping, pada sebuah rumah yang cukup besar, beberapa orang tengah berbincang tentang banyak nya para pendekar yang mulai berdatangan ke tempat itu sembari menikmati suguhan singkong rebus dan pisang matang.
Diantaranya adalah Nyi Sekar Mirah, Ki Kagendra dan Wicitrawirya. Selain itu ada sepasang muda-mudi yang turut bergabung. Mereka berdua adalah Adijaya dan Arini, murid Wicitrawirya yang merupakan salah satu sesepuh Padepokan Bambu Kuning di Utara Kotaraja Kadipaten Karang Anom.
"Langkah kita akan semakin berat untuk mendapatkan pusaka itu, Wicitrawirya..
Tadi siang aku melihat Sepasang Setan Aneh Laut Selatan datang ke tempat ini", ujar Ki Kagendra sambil menatap wajah Wicitrawirya yang masih terlihat muda dengan kumis tebal nya.
"Bukan itu saja, burung tua..
Aku tadi sempat melihat kehadiran Iblis Bungkuk Gunung Katu di warung makan itu. Tokoh besar golongan hitam itu suka membantai orang tanpa alasan. Kalaupun kita berhasil mendapatkan keris pusaka itu selanjutnya lawan kita adalah mereka. Ini tentu sangat berbahaya.
Kepandaian ku tak lebih tinggi dari Iblis tua itu. Kalau pun bisa mengalahkan nya, pasti juga akan luka parah", sahut Nyi Sekar Mirah yang terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Maka dari itu, kita harus bekerjasama untuk bisa mendapatkan keris pusaka itu sekaligus menghadapi tantangan tokoh tokoh golongan hitam itu..
Aku yakin kita bersama bisa mengalahkan mereka", ujar Wicitrawirya sembari memelintir ujung kumis tebal nya.
"Kami juga akan membantu guru", ujar Adijaya yang juga mendapat anggukan kepala dari Arini.
"Lantas bagaimana dengan dua orang bercaping bambu itu, Dewi Selendang Merah?
Apa mereka berpihak pada mereka atau kita?", tanya Ki Kagendra alias Pendekar Rajawali Selatan sembari menatap ke arah perempuan cantik yang tengah duduk di sebelahnya.
"Aku tidak tahu, burung tua..
Semoga saja mereka berasal dari aliran putih juga agar kita tidak perlu repot-repot mencari cara untuk menghadapi mereka", sahut Nyi Sekar Mirah yang nampak menghela nafas panjang.
****
Jauh di Kotaraja Kadiri, di Istana Katang-katang..
Di ruang pribadi Panji Watugunung, sang Maharaja Panjalu tengah menghadapi ketiga permaisuri nya. Panji Watugunung duduk diatas kursi kebesarannya sedangkan ketiga permaisuri yakni Dewi Anggarawati, Ayu Galuh dan Dewi Naganingrum duduk di ketiga kursi yang lebih rendah. Keempat selir sang raja yaitu Ratna Pitaloka, Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti turut hadir dan duduk bersimpuh di samping para permaisuri.
Dua pangeran muda yaitu Pangeran Jayawarsa dan Pangeran Jayagiri juga tak ketinggalan ada di sana.
Di hadapannya, Senopati Warigalit, Senopati Narapraja, Senopati Tunggul Arga, juga beberapa tumenggung andalan Kerajaan Panjalu seperti Tumenggung Landung, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Sindupraja dan Tumenggung Jarasanda nampak duduk bersila di lantai ruang pribadi raja. Dua Demung utama yaitu Demung Gumbreg dan Demung Rajegwesi nampak berada di barisan paling ujung. Beberapa Mahamantri seperti Mpu Rakai Kepung, Mpu Saketi dan Mapatih Jayakerti juga tampak hadir di antara mereka. Beberapa pejabat seperti Dang Acharya Ring Kasaiwan, Dang Acharya Ring Kasogatan, Sang Pamgat dan beberapa Juru juga ikut hadir di tempat itu.
Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana atau juga dikenal sebagai Prabu Jitendrakara nampak menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Tujuan aku kumpulkan kalian semua malam ini adalah untuk mendengarkan keputusan ku mengenai pengganti Paman Jayakerti yang menginginkan untuk mundur dari jabatan nya sebagai warangka praja Panjalu.
Aku sebelumnya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Paman Jayakerti atas pengabdiannya bagi Kerajaan Panjalu, sejak masih dalam pimpinan Gusti Prabu Samarawija hingga sampai saat ini. Sebagai penghargaan ku atas pengabdian Paman Jayakerti, separuh tanah di Pakuwon Watugaluh akan memberikan upeti nya kepada Paman Jayakerti sebagai pesangon purna tugas nya", ujar Panji Watugunung sembari mengangkat tangan kanannya ke arah Mapatih Jayakerti.
"Terimakasih atas hadiah yang Gusti Prabu Jayengrana berikan kepada hamba", Mapatih Jayakerti menghaturkan sembah nya kepada Panji Watugunung.
"Selanjutnya Paman Jayakerti akan tetap menjadi sentana Kerajaan Panjalu dengan jabatan Mahamantri karena aku masih membutuhkan nasehat nya untuk menjalankan roda pemerintahan ke depannya..
Sedangkan untuk mengisi jabatan Mapatih, aku telah memutuskan untuk mengangkat Kakang Warigalit sebagai Mapatih Kerajaan Panjalu yang berikutnya. Ini berdasarkan pertimbangan ku juga nasehat beberapa anggota Dewan Sapta Prabu mengenai siapa pengganti Paman Jayakerti.
.
Kakang Warigalit sudah banyak berjasa membantu ku dalam mempertahankan kerajaan Panjalu ini dari serangan Kerajaan Jenggala juga rongrongan para penguasa daerah yang ingin memberontak terhadap pemerintah pusat Panjalu", sambung Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.
"Warigalit berterima kasih atas kepercayaan Dhimas Prabu Jayengrana. Seluruh tenaga dan pikiran ku akan ku persembahkan untuk membantu Kerajaan Panjalu ke depannya", Warigalit langsung menyembah pada Panji Watugunung.
Semua orang nampak senang mendengar ucapan Panji Watugunung kecuali tiga orang yang nampak kurang suka dengan keputusan Sang Maharaja. Namun mereka tidak berani untuk membantah sabda sang raja.
Malam itu beberapa orang pejabat bergeser dari jabatannya. Selain Warigalit dan Jayakerti, Senopati Narapraja diangkat menjadi Panglima Agung prajurit Panjalu menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Warigalit. Sementara Tumenggung Jarasanda diangkat menjadi senopati Kerajaan Panjalu karena wakil Panglima Agung harus diisi oleh dua orang. Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu selanjutnya di pegang oleh Rajegwesi dengan jabatan baru sebagai tumenggung.
"Aku dengar dari laporan telik sandi di Pelabuhan Hujung Galuh, bahwa beberapa kapal berbendera Dinasti Song di daratan Tiongkok telah berlabuh. Menurut laporan, mereka ingin menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan dengan negeri negeri di tanah Jawadwipa.
Menurut kalian, apa yang harus kita lakukan? Aku ingin mendengar pendapat kalian", Panji Watugunung mengelus kumis nya sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling orang yang ada di dalam ruang pribadi Raja.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Jika mereka ingin berdagang dengan negeri kita, itu akan meningkatkan kemakmuran rakyat di masa depan. Asalkan saling menguntungkan, kita tentu saja tidak boleh membuang kesempatan ini", ujar Mahamantri Jayakerti sembari menghormat pada Panji Watugunung.
"Benar kata Paman Jayakerti, Dhimas Prabu..
.
Selain sebagai mitra dagang yang mumpuni, dukungan mereka terhadap Kerajaan Panjalu bisa meningkatkan kekuatan Panjalu agar tidak dipandang sebelah mata oleh kerajaan kerajaan lain di Nusantara. Sebagai kerajaan besar yang menguasai separuh lebih Tanah Jawadwipa, kita juga perlu menjalin kerjasama ini. Bukan hanya dengan Dinasti Song, tapi juga kerajaan lain seperti Sriwijaya di Swarnabhumi, Bedahulu di Pulau Bali, Tanjungpura di Tanah Borneo, Kerajaan Melayu di Tanah Semenanjung Malaka, Negeri Champa di Daratan Utara, juga dengan Negeri negeri di Tanah Hindus dan Persia", sambung Mapatih Warigalit segera.
.
Hemmmmmmm..
"Kalau begitu, kalian semua dengarkan titahku..
Persiapkan segala sesuatu nya dengan bijak. Aku tidak mau mereka kecewa dengan sikap kita jika sampai kemari", perintah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", semua orang yang hadir di ruang pribadi Raja menghormat bersamaan pada Panji Watugunung. Satu persatu mulai mundur dari tempat itu setelah menyembah pada Panji Watugunung hingga menyisakan Panji Watugunung dan ketujuh istri nya.
"Kangmas Prabu,
Sudah lama seperti nya kita tidak berpetualang ya? Hah aku kangen masa muda kita", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum tipis.
"Bukan cuma kau, Anggarawati..
Aku juga pengen berkelana seperti dulu. Pengen rasanya mengunjungi makam orang tua ku di Bojonegoro", sahut Ratna Pitaloka segera.
"Kanjeng Romo juga sudah lama tidak kemari, aku jadi pengen menjenguk mereka di Wengker", imbuh Cempluk Rara Sunti.
"Eh Kangmbok Pitaloka dan kau Anggarawati dan Cempluk Rara Sunti,
Kalian ini seperti bocah kemarin sore saja ya pakai acara merajuk pada Kakang Prabu Jayengrana. Kakang Prabu itu tugasnya banyak ya, sebagai pengayom Kerajaan Panjalu. Jangan membebani pikiran Kakang Prabu Jayengrana dengan rengekan kalian.
Kakang Watugunung,
Jangan dengarkan ocehan mereka. Kakang sebaiknya memikirkan sesuatu yang lebih penting. Oh iya Kakang Prabu, kapan kita berkunjung ke Wanua Padelegan lagi?", Sekar Mayang tersenyum manis pada Panji Watugunung.
"Ehhh Teh Mayang kumaha ieu?
Yang lain mah di suruh menahan diri, sementara dia sendiri justru malah mengajak Akang Kasep ke Padelegan", omel Dewi Naganingrum segera. Dewi Srimpi tersenyum simpul mendengar omelan Dewi Naganingrum.
"Memang begitu adat Kangmbok Sekar Mayang, Naganingrum..
Masak kau masih belum hapal juga?", timpal Ayu Galuh sambil tersenyum tipis.
Panji Watugunung tersenyum mendengar celotehan ketujuh istri nya.
Malam semakin larut. Sang rembulan bersinar terang di langit malam seakan ingin mengusir kegelapan malam yang menyelimuti seluruh jagat raya.
****
Keesokan paginya, matahari pagi bersinar cerah di langit timur kawasan Kadipaten Karang Anom. Burung burung prenjak dan tekukur berkicau riang di dahan pohon sawo besar pada halaman rumah Ki Renggos.
Panji Tejo Laksono yang baru selesai membersihkan diri melihat Ki Renggos dan istri tengah berbincang sembari menyapu halaman rumah yang nampak kotor dengan daun daun kering yang berguguran. Panji Tejo Laksono segera mendekati mereka.
"Ada masalah apa Ki? Kelihatannya ada yang serius ya?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Ini Denmas Taji.. Istri ku baru pulang dari pasar. Katanya tadi melihat serombongan prajurit Kadipaten Karang Anom datang ke arah balai Wanua Sumping. Katanya mereka di pimpin oleh Ganggadara, putra Adipati Windupati dan Tumenggung Walungan.
Sepertinya masalah pusaka di makam keramat itu semakin menyebar luas", jawab Ki Renggos sambil menghela nafas berat.
"Loh bukannya jika sudah ada yang mendapatkan, permasalahan akan selesai Ki?", Panji Tejo Laksono mengernyitkan dahi nya.
"Tidak semudah itu, Denmas...
Begitu ada yang berhasil mendapatkan keris pusaka itu, mereka akan berusaha merebut nya. Tak peduli dengan cara apapun akan di tempuh", ujar Ki Renggos dengan cepat.
Hemmmmmmm..
'Perburuan keris pusaka ini semakin menarik banyak perhatian. Aku harus mengambilnya agar tidak menjadi petaka bagi para pendekar', batin Panji Tejo Laksono.
Sepanjang hari itu, Panji Tejo Laksono dan Gayatri mempersiapkan diri. Meski ada gangguan dari keempat gadis desa yang terus mencoba mencari perhatian dari Panji Tejo Laksono, selebihnya tidak ada masalah yang berarti.
Menjelang senja puluhan orang pendekar baik dari golongan hitam maupun putih bergerak menuju ke arah sebuah bukit yang di sebut warga Wanua Sumping sebagai Gunung Budeg.
Bukit berbatu itu cukup terjal dan sulit untuk di daki. Hanya pendekar yang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi saja yang bisa dengan mudah menjangkau puncak nya.
Sebuah makam tua dengan tatanan batu bata yang di tumbuhi lumut ada di puncak Gunung Budeg sisi timur. Sebuah pohon beringin besar menaungi makam tua itu seakan memayungi nya dari terpaan angin dan sinar matahari. Kesan angker dan menyeramkan begitu terasa saat menatap makam keramat itu hingga membuat bulu kuduk berdiri.
Dari bawah puluhan pendekar dan prajurit Kadipaten Karang Anom yang dipimpin oleh Ganggadara dan Tumenggung Walungan bergegas mendaki undakan batu yang menuju puncak. Hanya 8 bayangan yang dengan mudah melesat cepat kearah puncak Gunung Budeg saat matahari terbenam di ufuk barat. Semburat jingga kemerahan senja menandakan bahwa sebentar lagi malam akan segera tiba.
Ke delapan sosok itu adalah Nyi Sekar Mirah, Ki Kagendra, Wicitrawirya, Sepasang Setan Aneh Laut Selatan, Iblis Bungkuk Gunung Katu dan sepasang pendekar bercaping bambu yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono dan Gayatri. Mereka semua berdiri di sekitar makam keramat dengan jarak sekitar 2 sampai 4 tombak.
Begitu bulan purnama muncul di langit timur, cahaya kuning keemasan muncul di atas makam keramat. Orang yang pertama melesat cepat kearah makam keramat itu adalah Wicitrawirya yang berdiri paling dekat dengan makam. Tangan Wicitrawirya langsung menyambar ke arah keris pusaka Nagasasra yang memancarkan cahaya kuning keemasan.
Whhhuuuuuttttthhhh...!!
Bukannya dapat yang dicari, tapi tangan Wicitrawirya malah menembus keris pusaka Nagasasra. Kembali Wicitrawirya mencoba meraih benda pusaka itu namun tak juga berhasil.
.
"Hehehehe..
Wicitrawirya, kau pikir keris pusaka itu berjodoh dengan mu ha? Keris pusaka itu adalah milik ku", ujar Iblis Bungkuk Gunung Katu sambil menyeringai lebar.
Wicitrawirya mundur, membiarkan Iblis Bungkuk Gunung Katu untuk mencoba mendapatkan benda pusaka itu. Namun hasilnya nihil. Berkali kali usaha lelaki bertubuh bungkuk itu tidak membuahkan hasil.
Semua orang berganti mencoba untuk meraih gagang keris pusaka itu namun tak seorang pun berhasil mendapatkannya. Tinggal Panji Tejo Laksono saja yang masih belum mencobanya. Semua mata mengarah kepada Panji Tejo Laksono yang perlahan maju mendekati Keris Nagasasra.
Panji Tejo Laksono menyembah pada Keris Nagasasra, sebelum memajukan tangan kanannya ke gagang keris pusaka itu. Saat Panji Tejo Laksono berhasil menyentuh gagang Keris Nagasasra, mendadak seluruh waktu berhenti di kawasan Gunung Budeg.
Dari dalam makam keramat muncul asap putih yang selanjutnya berubah menjadi sesosok kakek tua berbaju putih seperti pertapa dengan jenggot panjang. Kakek tua itu segera tersenyum lebar menatap Panji Tejo Laksono yang kebingungan dengan semua hal yang sedang terjadi.
"Siapakah kakek ini sebenarnya? Apa yang sedang terjadi sekarang ini? Kenapa tiba-tiba waktu berhenti?", berondongan pertanyaan terucap dari bibir Panji Tejo Laksono. Kakek tua itu tersenyum tipis sebelum berbicara.
"Aku adalah Maharesi Sanata Dharma"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ebez sekeluarga mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H bagi semua umat Islam di seluruh Indonesia..
Bila ada salah tutur kata maupun tingkah laku yang kurang menyenangkan, mohon dimaafkan.
Sekali lagi Minal Aidzin Walfaidzin mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagiiieee 👌👌👌
2024-04-01
1
Mahayabank
/Good//Good//Good//Ok//Ok/
2024-04-01
1
Mahayabank
Samansama...
2024-04-01
1