Happy reading 😍
🌹🌹🌹
Tunggu di sini, papa pakai baju dulu," kata Agra pada putrinya, lalu kemudian. Agra masuk kedalam walk on closet.
"Jangan lama-lama Pa...!" seru Lisa.
"Baik my princess," sahut Agra dari dalam walk in closet.
Agra keluar dari dalam walk in closet, dan duduk di sofa. Diangkatnya Lisa keatas pangkuannya.
"Ada apa little princess?" tanya Agra sembari mengelus rambut Lisa yang panjang dan bergelombang.
"Besok Lisa mulai sekolah, Lisa ingin Papa yang mengantarkan Lisa." Lisa menoleh menatap wajah Papanya, saat berbicara. Tatapan mata polosnya menatap wajah Agra dengan lekat.
"Besok? sepertinya, besok Papa ada meeting," ucap Agra.
Karena besok, awal dia bekerja dengan full untuk menggantikan posisi Papanya di pucuk pimpinan perusahaan sebagai CEO, PT Star.
"Ih.. Papa!" raut wajah Lisa berubah, raut wajah yang tadinya cerah. Kini, wajah itu berubah. Wajah cantiknya kini dihiasi bibir yang manyun.
Dua sudut bola matanya kini sudah mulai berkaca-kaca, entah apa yang dibisikkan oleh kedua Omanya. Sehingga, Lisa sampai ingin mengeluarkan air mata.
"Sayang, my princess. Besok dengan Oma saja ya," ucap Agra, Papa Lisa.
"Lisa mau dengan Papa, teman-teman yang lain pasti dengan Papa dan Mama. Lisa hanya punya Papa, sedangkan Mama tidak ada." ucap Lisa dengan kepala menunduk, dan suara yang lirih.
Tes..
Air mata Lisa jatuh menerpa tangan Agra yang memeluknya.
Deg..
Agra melihat tangannya, yang dijatuhi air mata sang putri. Perasaan Agra langsung sedih, dia tidak pernah melihat putri kecilnya menangis karena penolakannya. Selama ini, dia selalu menuruti semua keinginan sang putri. Sehingga, Lisa tidak sempat untuk menitikkan air matanya.
Tanpa disadari oleh Agra, ada dua pasang telinga yang menguping apa yang terjadi didalam kamar. Karena Lisa tidak menutup pintu kamar Papanya dengan rapat, atas permintaan kedua biang drama. Yaitu Obut dan Oma Alma.
"Baiklah, besok Papa akan menghantarkan putri cantik Papa ini." Agra melabuhkan bibirnya di pucuk rambut putrinya.
"Hore..!" Lisa gembira, mendengar ucapan Papanya.
Karena terlalu gembira, Lisa mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke wajah Papanya. Hingga Agra tertawa-tawa terpingkal-pingkal.
Diluar kamar.
Dua Oma Lisa senang, karena satu misi mereka berhasil. Yaitu, menyuruh Agra menghantarkan Lisa ke sekolah.
"Ma, misi kita berhasil. Ayo, nanti. Kita ketahuan menguping di sini," ujar Alma, dan menarik tangan sang mertua. Untuk menjauh dari pintu kamar putranya, Agra.
"Ehem..." terdengar suara dehem dari belakang mereka, membuat keduanya mematung seketika.
"Kita ketahuan Ma." bisik Alma pada mertuanya.
"Kita tidak berada didepan kamar Agra lagi, dia tidak tahu kan kita menguping. Jangan buat dia curiga." balas sang mertua, Gracia. Pada menantunya.
Keduanya memutar tumitnya, dan melihat siapa yang berada dihadapan keduanya.
"Abraham..!" seru Gracia, dengan lega. Tangannya mengelus dada.
"Papa ini, membuat kaki Alma gemetar saja," ujar Alma, istri Abraham.
"Ayo, apa yang kalian lakukan berdua didepan kamar Agra? Abra perhatikan, kalian berdua asik menguping?"
"Tidak ada menguping, betul kan Alma? Kita tidak menguping, tadi kami melihat ada kotoran di pintu kamar Agra. Sepertinya, para maid luput membersihkan disela-sela pegangan pintu," ucap Mama Abraham mengelak dari tuduhan sang putra.
"Betul! Mama lagi tidak merencanakan sesuatu kan?" selidik Abraham sambil menatap wajah Mama dan sang istri dengan lekat.
"Betul! suer..!" Gracia mengacungkan dua jarinya didepan wajah putranya.
"Alma?" kini Abraham mengalihkan pandangannya kepada sang istri, matanya memicing menyelidiki kecurigaannya kepada dua wanita yang dilihatnya lama berdiri didepan pintu kamar putranya. Agra.
"Betul Pa, kami belum melakukan apa-apa." Alma juga mengacungkan dua jari tengahnya.
"Belum?" tanya Abraham dengan kata belum yang diucapkan sang istri.
"Ih.. alma, lugu apa bodo?" dalam benak Gracia, yang kesal. Karena Alma keceplosan mengucapkan kata BELUM.
"Sudah..sudah mama sudah ngantuk, ayo Alma masih banyak yang harus kita kerjakan. Dan kau Abraham, kami tidak ada menyembunyikan apapun juga darimu." Gracia menarik tangan Alma sang menantu dari hadapan Abraham. Gracia takut, sang menantu keceplosan bicara lagi.
"Pasti ada yang kalian sembunyikan ? sangat mencurigakan." gumam Abraham, setelah mama dan sang istri pergi meninggalkannya.
"Aku harus mencari tahu apa yang disembunyikan oleh keduanya?" Abraham mengelus dagunya, berpikir apa yang disembunyikan oleh Mama dan istrinya.
*
*
Yudha sampai rumah sudah larut malam, semua penghuni rumah sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Yudha melangkahkan kakinya menuju kamarnya, lalu dia membuka pintu kamar. Dan matanya langsung terbelalak, ketika melihat tubuh seorang wanita berada di atas ranjangnya.
Dengan langkah lebar, Yudha mendekati ranjangnya. Dan betapa terkejutnya Yudha, saat melihat orang yang tidur diatas ranjangnya.
"Wanita siluman..! kenapa dia berada di atas ranjangku? kenapa dia di sini, di rumahku? sialan..! Aku berusaha untuk menghindarinya, dia datang ke rumahku." geram Yudha.
"kenapa Mama dan Papa mengijinkan dia masuk ke dalam kamarku? dasar perempuan siluman serigala..! pasti dia merengek-rengek dan meneteskan air mata palsu nya dihadapan mama dan papa, sehingga Mama dan Papa tidak tega mengusirnya."
Dengan perasaan kesal, Yudha keluar meninggalkan kamarnya. Dia tidak ingin berada di dalam kamar yang sama dengan Yulia semenitpun, bisa-bisa dia akan menghabisi Yulia malam ini juga dengan tangannya sendiri.
Dengan perasaan yang sangat kesal Yudha masuk kembali ke dalam mobilnya, mobilnya meluncur meninggalkan kediaman orang tuanya.
"Sialan kau Yulia..!" pekik Yudha dengan suara keras, tangannya memukul-mukul kemudi mobil. Saking kesalnya, melihat Yulia berada di rumahnya.
Dengan kecepatan tinggi Yudha mengemudikan mobilnya, dia tidak peduli umpatan yang diberikan pengemudi mobil yang lain. Karena Yudha mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan, untuk melampiaskan kekesalannya terhadap Yulia yang datang ke rumahnya tanpa diketahuinya.
Yudha membawa mobilnya menuju salah satu hotel, malam ini dia berencana untuk menginap di hotel. Untuk menenangkan diri, dari masalah yang dihadapinya.
*
*
Tengah malam, Jeanny keluar dari dalam kamarnya. Dia membawa kotak yang berisi hadiah yang diberikan Yudha, semasa mereka berpacaran.
Jeanny berniat untuk membakarnya malam ini, Jeanny berjalan menuju halaman belakang. Lalu kemudian, Jeanny meletakkan kotak tersebut. Jeanny menyiram sedikit bensin, dan akhirnya kotak tersebut terbakar.
Apa yang dilakukan Jeanny, tidak luput dari pandangan sepasang mata dari atas balkon. pandangan mata tersebut, adalah pandangan mata Abang Jeanny. Yaitu Jamie.
Sejak Jeanny keluar dari dalam kamarnya, membawa kotak. Jamie sudah mengamati sang adik. ingin mengetahui apa yang dilakukan adiknya di tengah malam buta.
"Bakar lah semua kenangan laki-laki itu, hapuskan laki-laki itu dalam benakmu Jean." gumam Jamie, lalu kemudian. Jamie masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Jeanny yang menatap api melalap barang-barang pemberian mantan kekasih.
*
*
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
ahyuun.e
owhh jngan" cowo yg i suka sama temen agra si jemie kakak jean
2023-10-21
0
Bzaa
mantan = bekas
bekas = barang2 tidak terpakai
barang2 tidak terpakai=sampah
sampah = dibuang ato dibakar .
tindakanmu 100% benar Jean...
buka pembaran baru dan..
semangat 💪😘.
2023-07-02
1
TK
semangat Lisa, Oma, obut 😍😍😍
2022-04-24
4