Happy reading 😍
🌹🌹🌹
"Lisa kan anak pemberani, kenapa harus takut," ucap Agra.
Lisa melepaskan pegangan tangan Papanya, kini dia memeluk paha Papanya. Lisa menyembunyikan wajahnya dibelakang tubuh Agra.
"Lisa tidak mau sekolah, Lisa mau pulang. Lisa enggak mau sekolah." Lisa tetap kekeuh, tidak ingin masuk ke dalam sekolah.
"Lisa..!" terdengar suara menyebut nama Lisa, membuat Lisa menoleh suara yang memanggil namanya.
Dan.
"Ma..ee Miss Jeanny..!" seru Lisa, raut wajahnya kini sudah terlihat berbeda. Yang tadinya ingin menangis, kini tidak ada lagi mendung diraut wajahnya.
"Ayo masuk Lisa," ujar Jeanny.
"Maaf Pak, yang mengantar hanya bisa sampai disini saja. tidak bisa masuk ke dalam kelas," kata Jeanny pada Agra.
"Sepertinya aku pernah melihat Papa Lisa, tapi dimana ya?" dalam benak Lisa. Saat melihat wajah Agra, yang pernah dilihatnya. Tapi Jeanny lupa, pernah bertemu dimana.
Wajah Agra datar, saat bertatap dengan Jeanny. Berbeda, jika dia berbagi pandangan dengan Lisa. Putri kecilnya.
Agra mengalihkan pandangannya kepada Lisa kembali.
"Bagaimana Lisa, apa masih mau sekolah atau kita pulang saja?" tanya Agra.
"Sekolah papa! Lisa mau pintar," ujar Lisa, lupa Lisa. Tadinya ia ingin pulang, kini. Setelah melihat keberadaan Jeanny, Lisa tidak ingin pulang.
"Pulang, kenapa?" tanya Jeanny pada Lisa.
"Lisa takut, karena Lisa tidak ada melihat Miss Jeanny ini tadi," ucap Lisa.
"oh.. tadi Miss Jeanny masih mengurus teman-teman Lisa yang lain."
"Ini papa Lisa lo, Papa Lisa ganteng kan?" tanya Lisa pada Jeanny, membuat Jeanny bingung. Harus menjawab apa, begitu juga dengan Agra. Dia juga malu dengan Lisa yang ceplas-ceplos.
"Lisa jangan begitu," ujar Agra.
"Hihihi..! Papa malu ya?" Lisa cekikikan, dan menutupi mulutnya dengan jemari tangannya.
"Miss, kenalkan. ini Papa Lisa. Pa, ini Miss Jeanny. Miss Jeanny ini, Mama baru yang Lisa inginkan Pa...!" seru Lisa, tanpa bisa di rem apa yang ingin dikatakannya. Meluncur sesukanya dari dalam mulutnya.
Deg..
Mata Jeanny bulat dengan sempurna, mendengar ucapan Jeanny. Kedua pipinya merah merona, dia tidak mengira mendengar perkataan yang keluar dari dalam mulut Lisa.
"Lisa..!" Agra mendelik menatap Putri, dia takut. Apa dikatakan oleh Lisa, diajarkan oleh dirinya.
"Maaf Miss jeanny, saya tidak ada mengajarkan apa yang dikatakan oleh Lisa barusan," ucap Agra.
"It's oke Pak," ucap Jeanny.
"Jangan katakan yang tadi lagi ya, nanti kira orang. Papa yang mengajarkan Lisa semua itu."
Lisa menganggukkan kepalanya, Lisa sedikit mendongak melihat ke arah wajah Papanya. Dia tahu, Papanya marah. Mendengar apa yang dikatakan olehnya tadi.
"Ayo Lisa, kita masuk ke dalam kelas. Teman-teman sudah berada di dalam kelas semuanya. Bilang bye...bye pada papanya sayang," kata Jeanny pada Lisa.
"Belajar yang rajin ya Lisa, jangan nakal. Dan jangan bertengkar dengan teman, oke."
"Oke papa," sahut Lisa.
"Malika, lihatlah. Putri kita sudah sekolah, jika kau ada. Lisa pasti senang sekali. kita berdua yang mengantarkannya sekolah, Putri kita sudah sangat pandai berbicara Malika. Dia suka bicara sepertimu Malika," ucap Agra dalam hati, seraya menatap Lisa masuk kedalam gedung sekolah. Dan hilang dari pandangan mata Agra. Baru Agra pergi meninggalkan lingkungan sekolah.
Agra tidak masuk ke dalam mobilnya, dia menghampiri mobil yang mengikutinya sejak dia keluar dari kediamannya. Agra tahu, mobil itu adalah mobil bodyguard yang dititahkan oleh Albert untuk menjaga keluarganya.
Melihat kedatangan Agra, orang yang berada di dalam mobil keluar.
"kalian tetap berada di sini, awasi putri saya." titah Agra kepada kedua bodyguard kiriman dari Albert.
"Baik tuan."
*
*
Di kediaman Yudha, Yulia terbangun. Dia kaget, saat melihat. Dia tidak berada didalam kamarnya.
"Aku lupa, ternyata aku tidur di kamar Mas Yudha. tapi dimana Mas Yudha? apa dia tidak pulang? atau aku tidak tahu, karena aku ketiduran ketika dia pulang?"
Yulia bangkit dari ranjang, dan keluar dari dalam kamar Yudha untuk mencari keberadaan Yudha. Yulia celingukan mencari keberadaan Yudha, Tapi orang yang dicari tidak terlihat batang hidungnya. Dia hanya melihat keberadaan Mama Yudha yang sedang berada di dapur.
"Pagi Ma." sapa Yulia.
"Pagi," jawab Mama Yudha, tanpa melihat kearah Yulia yang berada di belakangnya.
"Ma, apa Mas Yudha tidak balik?" tanya Yulia.
Mama juga tidak tahu, sejak Mama bangun pagi tadi. Yudha sudah tidak ada, dan mobilnya juga tidak ada," jawab Mama Yudha.
"Apa Mas Yudha tidak kembali Ma?" tanya Yulia.
"Mungkin," sahut Mama Yudha.
"Gara-gara kau, anakku tidak pulang." suara hati Mama Yudha.
"Apa kau tidak bekerja Yulia?" tanya Susan, Mama Yudha.
"Tidak Ma, Yulia mengambil cuti. Karena Yulia ingin mencari Mas Yudha."
Susan Mama Yudha, memutar badannya. Kini dia menghadap ke arah Yulia yang duduk di kursi makan.
"Yulia biarkan Yudha menenangkan diri dulu, jika dia sudah tenang. Dia pasti akan kembali, kalau kau terus mencarinya dan mengejarnya. Dia akan semakin menjauhimu," kata Mama Yudha.
"Tapi sampai kapan Ma, di kantor dia juga terus menghindari Yulia. Yulia bosan terus selalu mengalah, sedangkan mas Yudha selalu menghindar. Yulia ingin bermanja-manja dengan suami Yulia Ma, anak yang Yulia kandung ini. Sangat ingin diperhatikan oleh Papanya. Tapi, Mas Yudha sangat cuek. ini anaknya Ma, cucu mama..!"
"Di kantor dan rumah, Mas Yudha selalu menghindar," ucap Yulia lagi.
"Kau jangan sampai mengganggunya di kantor Yulia, kalian selesaikan di luar kantor. Tidak bagus, dilihat rekan-rekan kerja kalian. Jika kalian bertengkar di kantor, saya tidak akan memaafkanmu Yulia, jika sampai Yudha dipecat dari tempat kerjanya. Akibat perbuatanmu yang mengganggunya."
"Mama mengancam Yulia?
"Saya tidak mengancammu Yulia, saya hanya mengingatkan mu. Untuk berhati-hati dalam bertindak dikantor, jangan sampai masalah yang terjadi pada kalian berdua. Akan berdampak dengan pekerjaan kalian, dan bisa merugikan kalian sendiri."
"Apa kau mau dipecat Yulia? tidak kan?"
"Kau harus bersabar menghadapi Yudha, Pernikahan yang terpaksa harus dilakukannya. Dia harus melepaskan gadis yang di cintanya, itu semua tidak mudah," ucap Susan, Mama Yudha menasehati Yulia.
"Sabar...sabar...sabar terus! kesabaran Yulia ada batasnya Ma," jawab Yulia.
"Tambah saja kesabaranmu, itu kan baru 3 sabarmu. tambah saja menjadi 10 mungkin," ucap Susan, Mama Yudha dengan santai.
karena kesal mendengar ucapan Mama Yudha, Yulia pergi meninggalkan rumah kediaman Yudha. Tanpa pamit, kepada Mama Yudha. Susan.
"Pergi tanpa pamit, dasar gadis tidak waras..!" Mama Yudha kesal melihat Yulia pergi meninggalkan rumahnya, tanpa pamit.
"Dasar menantu durhaka." omel Mama Yudha.
"Mimpi apa aku, sampai mendapatkan menantu durhaka seperti itu."
*
*
...Bersambung...
*
*
Hai..kakak-kakak reading setia dilapakku, author mau mengucapkan terima kasih yang sudah setia mengikuti karya author dari cerita pertama sampai cerita yang ini.
Author akan memberikan
🌹🌹Give away nih..🌹🌹
Untuk tiga pembaca setia yang beruntung.
Tunggu...! sampai cerita ini tamat ya🙏
Bantu like, komentar dan hadiah jika berkenan 😍 🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Esther Lestari
o....itu Agra yg dipeluk Jeany pas ada petir
2023-09-19
0
Ita Xiaomi
Pernah kamu peluk saat ada petir. Lupa ya? 😁
2023-06-24
1
Itin
readers
2023-04-17
0