Happy reading 🥰
🌟🌟🌟
Agra Barend tiba di ruangannya, setelah memenangkan pikiran. Hari ini, untuk pertama sekali, dia masuk kedalam perusahaan yang selama ini dikelola oleh Papanya Abraham Barend. Seorang pengusaha yang bergerak di bidang pertambangan dan perhotelan.
Sedangkan Agra, tinggal di Belanda. Mengelola perusahaan cabang di negara Belanda.
Sekarang, Abraham Barend memanggil sang putra pulang. Setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, mengurus perusahaan milik keluarga Barend di sana. Negara asal keluarga Barend.
Agra meletakkan bokongnya di kursi kerjanya, dan menekan remote untuk mengunci pintu ruang kerjanya. Kemudian tangannya mengambil bingkai yang ada di atas mejanya, lalu memandanginya gambar tersebut dengan lekat.
"Maaf Malika, hari ini. Aku tidak bisa mengunjungimu, karena aku sudah tidak tinggal di Belanda lagi. Papa menarik aku kembali, tapi jangan khawatir. Tiga bulan lagi, aku akan mengunjungimu," ucap Agra sambil menatap gambar seorang wanita sedang mengendong bayi, menatap kearah kamera sembari tersenyum.
Malika, istri Agra. Meninggal 4 tahun yang lalu di Belanda, saat putrinya baru berusia 1 tahun. Agra menyalahkan dirinya, karena kesibukannya dengan perusahaan. Membuat dia lalai dan lupa, pada hari kecelakaan dan membuat Malika meninggal. Hari itu, ulang tahun Malika. Dan Agra juga lupa, dia ada janji dengan Malika untuk makan malam. Untuk merayakan ulangtahunnya, karena. Agra Barend sedang sibuk bertemu dengan kliennya
"Maaf, aku tidak bisa menjagamu." gumam Agra dengan suara yang penuh dengan penyesalan, karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Malika.
Sejak kelahiran Lisa, sang putri. Agra terlalu sibuk dengan urusan perusahaan, hubungannya dengan Malika merenggang. Entah apa yang terjadi, sehingga keduanya seperti orang yang menikah karena perjodohan.
Tok..tok..
Lamunan Agra terputus.
Agra mengambil remote, dan membuka pintu untuk orang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Seorang pemuda masuk dengan membawa berkas-berkas yang harus dipelajari oleh Agra, karena ini hari pertama Agra memegang tampuk kepemimpinan di perusahaan.
"Selamat pagi Tuan, ini semua berkas yang harus Tuan pelajari." Jerry, sang sekretaris meletakkan berkas yang dibawanya kepada Agra.
"Apa berkas ini semua, tidak ada didalam komputer?" tanya Agra heran, saat Jerry memberikan kertas didalam map. Untuk dia periksa.
"Ada Tuan, tapi biasanya Tuan Abraham lebih suka membaca berkas secara manual. Karena Tuan Abraham, tidak suka membaca di komputer," jawab Jerry, kenapa dia memberikan berupa berkas kepada Agra untuk di pelajari.
"Aku tidak suka, mulai sekarang. Aku ingin semua ada didalam komputer." titah Agra dengan suara yang datar dan mata yang tajam menatap wajah Jerry.
"Aku bukan Tuan Abraham, aku beda. Aku tidak ingin kertas berantakan di atas meja..!" tegaskan Agra, apa yang diinginkannya dalam bekerja. Dia berbeda-beda dengan Papanya, yang semula menghandle semua urusan perusahaan yang berpusat di Indonesia. Sedangkan Agra sibuk dengan masa kehilangan sang istri di luar negeri sembari mengurus usaha keluarga Barend di Belanda.
"Baik Tuan, saya akan mengirim semua file ke email anda Tuan," ucap Jerry.
"Terima kasih," ucap Agra pada Jerry.
"Permisi Tuan." Jerry menundukkan sedikit kepalanya, sebelum keluar dari dalam ruang kerja Agra Barend.
"Jerry, tunggu..!" panggil Agra pada sekretarisnya.
"Ya Tuan." Jerry menghentikan langkahnya, dan memutar badannya menghadap sang Boss. Agra Barend.
"Carikan sekolah?" titah Agra Barend pada sang sekretaris.
"Sekolah?" Jerry bingung dengan permintaan sang Boss.
"Iya sekolah! kenapa? apa kau tidak bisa melakukan permintaan yang tidak sulit itu?" tanya Agra Barend dengan tatapan mata yang tajam menatap Jerry.
"Bukan Tuan! tapi sekolah untuk siapa?" tanya Jerry.
"Putriku, apa kau lupa bahwa aku punya putri?" Agra memberikan tatapan mata yang tajam pada sang sekretaris.
"Maaf Tuan, saya bukan lupa. Tapi saya tidak mengira, Nona Lisa sudah akan masuk sekolah," ujar Jerry.
"Cari sekolah taman kanak-kanak, cari dekat dengan rumah. Biar, tidak sulit untuk mengantarkannya ke sekolah," ujar Agra Barend.
"Baik Tuan, ada yang lain Tuan?" tanya Jerry.
"Tidak ada." Agra mengibaskan tangannya, agar Jerry meninggalkan ruangan kerjanya.
Setelah Jerry meninggalkan ruangan kerjanya, Agra kembali mengambil bingkai foto berisi gambar sang istri dan putrinya. Kembali menatap dan mengusap gambar sang istri, seakan-akan jemarinya mengusap wajah sang istri secara langsung.
"Malika, Lisa sudah akan memasuki bangku sekolah. Tak terasa, lima tahun telah berlalu," ujar Agra dan mengeluarkan sapu tangan dari dalam laci meja kerjanya.
"Maafkan aku, aku tidak..." gumamnya Agra terhenti, tangannya yang yang memegang sapu tangan milik Malika didekatkannya ke hidungnya, sang istri.(sudah empat tahun, apa tidak sudah hilang bau Malika Agra😀 pasti bau apek )
Agra Barend terus bermonolog, sembari memandang gambar sang istri.
"Maaf..maaf..aku sudah berusaha untuk menata hati ini, tapi. Apa yang kau..." Agra menghentikan ucapannya, dengan cepat tangannya memasukkan saputangan dan gambar Malika kedalam laci meja kerja.
Tangannya menutup laci meja kerjanya dengan keras.
"Aku tidak salah, kau telah mengkhianati aku.." geram Agra.
*
*
*
Agra keluar dari dalam ruang kerjanya, pandangan matanya lurus. Tidak terlihat senyum di bibirnya, beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Mereka menampilkan senyum kepada Agra Barend, tetapi. Agra Barend hanya menampilkan wajah datar dan dingin, tidak ada senyum balasan dari bibir sang Boss. Membuat karyawan wanita yang ingin menggaet Boss yang sudah menyandang predikat duda selama 4 tahun, hanya bisa mengumpat kesal di belakang Boss nya tersebut.
"Ih..! aku sudah menampilkan senyum, Pak Agra seperti tidak melihat keberadaan kita didepannya." gerutu seorang karyawan yang bernama Zoya di pantry, yang sempat berpapasan dengan Agra didepan lift. Saat dia ingin kebagian pantry.
"Kau sudah kehilangan akal, berani sekali kau melirik Pak Boss," ujar temannya.
"Apa yang harus ditakuti? Pak Agra pria yang singel dan kaya, mungkin saja aku bisa mengisi kekosongan hatinya," ucap Zoya dengan percaya diri yang tinggi.
"Hahaha...! apa kau mengharapkan Pak Agra melirik keberadaanmu, jangan berharap." Mia, teman satu divisinya mengejek Zoya.
"Ini Zoya, gadis tercantik di Perusahaan ini..!" ujar Zoya, membanggakan diri sendiri.
"Huh..! kau itu kalah dengan kecantikan istri Pak Agra Barend," ujar Mia.
"Untuk apa cantik, jika sudah mati. Tidak ada gunanya." cetus Zoya.
"Jaga perkataan mu, jangan sampai Pak Boss mendengar. Tamat riwayatmu di perusahaan ini." ingatkan Mia pada teman rekan satu timnya tersebut.
"Ada yang salah dengan perkataan ku? apa yang aku katakan, benar! istrinya sudah meninggal..!"
"Zoya, Pak Boss sangat mencintai istrinya. Dia tidak suka, jika ada orang yang menyebut istrinya." ingatkan Mia pada Zoya.
"Lihat saja, begitu dia melihat kecantikan ku. Dia pasti akan melupakan istrinya yang sudah menjadi santapan cacing," ujar Zoya dan kemudian tertawa meninggalkan Mia di ruang pantry.
"Kau sudah kehilangan akal sehat Zoya, bangunlah! sebelum terlambat..!" seru Mia kepada Zoya yang belum jauh meninggalkan ruang pantry.
Zoya menghentikan langkahnya, dan memutar tumitnya. Kini dia menghadap Mia yang berdiri didepan pintu ruang pantry.
"Aku tidak bermimpi, lihat saja. Aku akan menjadi Nyonya Boss," ucap Zoya dengan suara sekecil mungkin, bagaimanapun. Zoya tidak ingin dipecat, dia masih membutuhkan pekerjaan. Tetapi akal sehatnya, terkadang melupakan hal itu.
*
*
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕Bernadet Wulandari💕
zoya kedelai sombong banget lu.
2023-09-09
0
Iin Karmini
gimana sih konsepnya paaak....ga bsa move on karna bucin tpi d selip sakitnya d khianati gitu??
2023-08-05
1
Windarti08
wah udah gilla keknya si Agra... tadi masih terbucin-bucin sm Alm istrinya, sekarang terlihat geram marah
jadi Malika mengkhianati Agra kah dulu?
2023-07-26
0