Happy reading ❤️
🌟🌟
"Mas yudha mengikuti jeanny ya?" tanya Bella, dengan nada suara menuduh yudha.
"Tidak! Mas sudah dulu berada di sini, Mas tidak mengikuti kalian" Yudha mengelak tuduhan Bella.
"Bohong! Mas pasti menguntit jeanny kan? Mas, Mas itu sudah menikah, Mas sudah punyai istri. urus saja istri mas, apalagi istri mas itu sedang hamil. Jangan buat anak saja yang mas mau, begitu istri hamil, tidak mau mengurus," cerocos valerie panjang lebar, tanpa bisa di rem. Perkataannya bisa membuat telinga panas mendengar, terutama telinga yudha.
Wajah Yudha spontan berubah, wajahnya muram. Pandangan matanya tertuju kearah Jeanny, mata Jeanny yang berembun membuat Yudha sedih. Perbuatan yang tidak disengajanya, telah melukai hati gadis yang sangat di cintainya tersebut.
"Anak itu bukan anakku Jean, percayalah Jean. Wanita itu bukan wanita baik-baik, Mas di jebak...!" seru yudha dengan putus asa.
"Terserahlah, apa yang ingin mas katakan. Jean tidak perduli lagi, hubungan kita sudah berakhir. Mas yudha, tolong jangan ganggu Jeanny." Jeanny mengantupkan kedua tangannya didepan dadanya, memohon agar yudha berhenti untuk mengikutinya, dan menguntit kemana dia pergi.
Jeanny tahu, pertemuan ini bukan kebetulan. Tapi karena yudha sengaja mengikutinya.
Jeanny berlalu dari hadapan yudha, setelah mengeluarkan uneg-unegnya.
"Jean...!" panggil yudha, seraya ingin mengikuti Jeanny. Tetapi, Bella dan Valerie. Menghalangi Yudha.
"Aahh..! kenapa kalian menghalangiku? tolonglah...! aku ingin bicara dengan Jeanny," ucap Yudha dengan memohon kepada Bella dan Valerie, Yudha sudah sangat putus asa.
"No! Mas Yudha tidak bisa bicara dengan teman kami lagi, Mas Yudha sudah kehilangan hak untuk bicara dengan Jeanny," ujar Valerie sambil berkacak pinggang didepan Yudha.
"Betul! Mas harus melupakan Jeanny, mulai sekarang ini. Titik..." Bella menimpali ucapan Valerie.
"Tapi aku mencintai Jeanny, aku tidak bisa melupakannya."
"Mas Yudha itu sudah menikah, tolong. Hargai perasaan Jeanny, jangan sampai nanti Jeanny dituduh orang sebagai perusak rumah tangga mas Yudha dengan sang istri," ujar Bella.
"Ayo Val." Bella menarik tangan Valerie meninggalkan Yudha yang terpangu.
"Argh..!" teriak Yudha dengan menghentakkan kakinya ke atas pasir.
Sedangkan mobil yang dikemudikan oleh Valerie, sudah meninggalkan pantai.
Tinggal Yudha dengan hati yang nelangsa, meratapi nasibnya.
"Kenapa! kenapa nasibku sial begini..!"
*
Yudha masih sibuk membujuk Jeanny, agar mau mendengar apa yang dikatakannya. Yulia, sang istri kini berada di rumah Yudha. Kedatangan Yulia, untuk mengadu kepada kedua orangtuanya Yudha. Mengenai kehidupan rantangnya, baru berusia dua hari.
"Ma, Pa. Sejak menikah, kami tidak pernah tinggal satu atap. Pernikahan apa ini?" tanya Yulia kepada Papa dan Mama Yudha.
"Apa yang harus kami katakan, Yudha sudah dewasa. Kami tidak berhak mencampuri lagi urusannya," ucap Mama Yudha, Susan.
"Sebagai orang tua, seharusnya Papa dan Mama menyuruh Yudha untuk mengurus istrinya. Yulia sedang hamil, ini cucu Papa dan Mama," ucap Yulia.
"Semoga, jika tidak anak Yudha. Akan aku tuntut ." suara hati Mama Yudha kesal, dengan ucapan Yulia.
"Waktu Yulia menggoda Yudha, apa kau Yulia tidak memikirkan. Apa yang akan Yulia alami, dengan memaksa seseorang untuk memilikinya?" pertanyaan nyelekit dari Mama Yudha, membuat Yulia menundukkan kepalanya.
"Beginilah, tunggu beberapa hari ini. Kami akan berusaha untuk membujuknya, tapi kami tidak ingin memberikan harapan palsu. yudha itu sekarang ini, tidak bisa di ajak bicara," kata Papa Yudha.
"Begini Pa, Ma. Yulia ingin tinggal di sini." Yulia mengutarakan niatnya untuk tinggal bersama dengan Yudha, di rumah orang tuanya Yudha.
Kedua orangtuanya Yudha saling pandang, kebingungan terlihat dari raut wajah keduanya. Bagaimanapun, Yulia sudah menjadi menantunya.
Papa Yudha menarik napasnya, sebelum berkata.
"Baiklah, Ma..." suaminya memberikan kode kepada sang istri.
Susan, Mama Yudha mengerti kode yang diberikan oleh sang suami.
Yulia senang, karena diizinkan untuk tinggal bersama Yudha.
"Ayo, istirahatlah di kamar Yudha. Biasanya Yudha, malam baru pulang," ujar Susan, Mama Yudha.
Dengan perasaan yang senang, Yulia mengikuti Mama mertuanya menuju kamar Yudha.
Mama Yudha membuka pintu kamar putranya, dan mempersilakan Yulia untuk masuk.
"Beristirahat."
kemudian, Mama Yudha meninggalkan Yulia.
"Akhirnya, aku berada di kamarmu Mas Yudha."
Yulia mengitari pandangannya, melihat dekorasi kamar Yudha.
"Sangat bagus, sekarang. Aku sudah di sini, sebentar lagi. Aku akan menghuni dalam hati dan pikiranmu mas, gadis itu tidak akan ada dalam pikiran dan hatimu. Hanya nama Yulia Larasati yang ada." gumam Yulia sembari mendudukkan bokongnya di ranjang Yudha.
Yulia kemudian merebahkan tubuhnya, tangannya mengambil bantal dan mencium bau bantal tersebut.
"Bau harummu berada di bantal ini mas." ucap Yulia dengan suara lembut.
"Suka..suka! aku suka..!" seru Yulia seraya tertawa sendiri.
*
*
Tok..tok..
Pintu ruang kerja Agra terbuka, dengan masuknya Jerry.
"Tuan, ini ada kiriman paket," ujar Jerry, dan meletakkan paket diatas meja kerja sang Boss.
"Paket? Siapa pengirimnya?" tanya Agra.
"Tidak ada Tuan," sahut Jerry.
"Buka." titah Agra pada Jerry.
Jerry mengambil paket tersebut, dan membukanya.
Dan.
Mata Jerry membesar, saat melihat apa isi paket yang dibukanya tersebut.
Agra yang sedang sibuk dengan laptopnya, tidak melihat ekspresi wajah Jerry yang kaget.
"Apa isinya?" tanya Agra, tanpa melihat pada Jerry.
"Tuan, lihatlah..!" Jerry mengangkat kotak yang berisi paket tersebut, dan menunjukkan isi dari kotak tersebut.
"Apa?" Agra mengalihkan pandangannya dari laptop, kepada Jerry.
Jerry tidak menjawab pertanyaan sang Boss, Jerry mendekatkan kotak tersebut. Agar Agra Barend, sang Boss melihat sendiri. Apa isi paket tersebut.
"Damn...!!" umpat Agra Barend, sembari mendorong kotak yang dipegang Jerry. Sehingga, kotak tersebut meluncur jatuh keatas lantai.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Agra dengan suara yang penuh dengan kemarahan.
Agra Barend melangkah memutar meja kerjanya, dan kemudian jongkok. Dan melihat kembali isi kotak yang sudah keluar dari dalam dan berhamburan dilantai.
"Tuan, jangan sentuh.!" seru Jerry, saat melihat. Tangan Agra Barend, sang Boss ingin memegang gambarnya yang tergunting dan sudah tidak berbentuk lagi. Dan berwarna merah, seperti darah dituang ke atas gambar tersebut.
Agra Barend menarik tangannya kembali, setelah mendapatkan peringatan dari sang sekretaris. Jerry.
"Jerry, selidik! siapa yang mengirim paket ini. Bawa keluar....!" titah Agra pada Jerry.
"Tunggu." titah Agra.
Agra mengambil ponselnya, dan membidik gambar dirinya yang tersiram warna merah. Seolah-olah, warna merah itu darah. Tapi tidak, warna merah itu hanya cat.
"Pergilah." Agra mengibaskan tangannya.
"Baik Tuan," ujar Jerry.
Jerry mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, untuk memegang paket tersebut. Lalu kemudian membawanya keluar.
Agra Barend kembali duduk, dan memijat keningnya.
"Siapa yang ingin bermain-main dengan Agra Barend? sampai aku tahu, siapa orang yang ingin bermain-main denganku..! siap-siap orang itu, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri." gumam Agra Barend, dengan kedua tangannya saling meremas. Sehingga terlihat urat-urat dari jemari tangannya menonjol.
Agra mengambil ponselnya, dan mengirim pesan. Dan kemudian, Agra berdiri dari duduknya. Dan melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya.
*
*
...Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
zahra ou
selingkuhan istrinya kali. bisa jd lisa jg bkn ank nya. krn diawal ada kalimat aku tdk akan mnyalahkanmu krn selingkuh
2023-10-27
0
Bzaa
tuntasin ga... biar terbuka, siapa istri mu sebenarnya
2023-07-02
0
Devi Sihotang Sihotang
jdi penasaran thor
2023-06-25
0