Happy reading 😍
🌹🌹🌹
Api membesar, membakar semua hadiah yang diberikan oleh Yudha kepada Jeanny. terlihat mata Jeanny berkaca-kaca, ketika memandang hadiah yang diberikan oleh Yudha terbakar habis dilalap api yang membara.
"Aku tidak membutuhkanmu, kau jahat Yudha... kau sangat jahat. Kau telah menghianati kisah cinta kita, aku sangat membencimu, sangat...sangat...sangat membencimu..!"
Setelah bara api tidak menyisakan apapun lagi, yang ada hanya sisa-sisa pembakaran berupa debu hitam. Jeanny pergi meninggalkan halaman belakang, dia kembali masuk dalam kamarnya. Untuk melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu, Jeanny sudah mulai tidur. Tetapi, terbangun kembali. Saat tiba-tiba, Jeanny teringat. Bahwa hadiah yang diberikan oleh Yudha kepadanya, belum dibakarnya. Dan kotak yang berisi barang-barang tersebut masih teronggok disudut kamarnya.
Karena itu ditengah malam, saat semua orang sudah terlelap dalam tidur. Jeanny keluar, untuk membakar semua kenangan yang diberikan Yudha kepadanya.
Kini, barang-barang kenangan pemberian Yudha sudah tidak ada tersisa. kenangan yang tersisa hanya ada dalam memori Jeanny, yang belum bisa hilang.
*
*
Akhirnya, keesokan paginya. Drama yang ditampilkan oleh sang putri, Lisa. Berhasil meluluhkan hati dan perasaan Agra, dia mau untuk menghantarkan Lisa pertama sekali sekolah.
"Opa, hari ini. Lisa mulai sekolah. Dan Papa yang akan mengantar Lisa sekolah," ucap Lisa pada sang opa.
"Ih iya! cucu opa senang ya?" tanya Abraham pada Lisa.
"Senang Opa," sahut Lisa.
"Agra, pagi ini ada meeting kan?" tanya Abraham pada Agra, karena seharusnya. Abraham yang menghadiri meeting tersebut, tetapi karena Abraham sudah mengundurkan diri dari semua urusan perusahaan. Agra yang menghadiri meeting tersebut.
"Sudah Agra suruh Jerry untuk memundurkan jadwal meeting Pa."
Obut dan Oma Lisa saling berbagi pandangan, ada senyum tipis dibibir keduanya. Karena misi mereka untuk membuat Agra menghantarkan Lisa ke sekolah berhasil.
***
Mobil yang dikemudikan sendiri oleh Agra memecah kemacetan jalanan.
"Papa, Lisa sudah sekolah. Lisa senang, Lisa akan banyak teman," ujar Lisa, yang duduk didepan di samping Agra. Papanya.
"Katanya senang, tapi. Kenapa wajahnya, Papanya lihat tidak seceria biasanya?" Agra mengusap rambut putrinya, yang hari ini diikat ekor kuda.
"Senang, tapi. Lisa sedih juga."
"Kenapa? Apa tidak suka dengan sekolahnya? Kalau tidak suka, biar Papa cari sekolah yang Princess Papa suka," ujar Agra.
"Tidak Papa! Lisa suka dengan sekolah ini," ucap Lisa dengan cepat.
"Terus, kenapa sedih?" selidik Agra, kesedihan apa yang dialami oleh putri kecilnya tersebut.
"Karena Lisa tidak punya Mama, dulu. Saat sekolah di Belanda, Lisa hanya diantar BI Anah. Sedangkan teman-teman Lisa, diantar oleh Mama mereka."
"Karena Mama Lisa sudah menjadi bidadari surga, Mama Malika menatap Lisa dari atas sana," ucap Agra.
"Tapi Lisa mau Mama di sini, di samping Lisa. Mengantarkan Lisa sekolah, menyisir rambut Lisa. Lisa tidak mau, Mama menjadi bidadari surga."
Deg...
Agra bingung, sekarang ini. Lisa sangat pandai berkata-kata, dulu. Lisa hanya bicara seadanya saja, kini. Gaya bicara Lisa tidak mencerminkan anak berusia 5 tahun, yang belum begitu mengerti merangkaikan kata-kata.
Kini, kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya. Kata-kata yang menuntut, untuk diperhatikan oleh Agra.
"Kenapa sekarang kata-kata Lisa seperti anak tidak seusianya, apa aku terlalu fokus dengan pekerjaan. Sehingga tidak mengetahui perkembangannya." Suara hati Agra.( Agra, kau tidak tahu. Doktrin kedua Omanya sudah memasuki otak kecil putrimu😄 tunggu saja, apalagi yang diinginkan Lisa.)
"Mama juga ingin bersama Lisa, tapi bagaimana lagi. Tuhan lebih sayang kepada mama Lisa, Mama Malika," ucap Agra dengan lembut pada putrinya.
"Tuhan sangat jahat ya Pa, kenapa Tuhan mengambil mama Lisa. Padahal, Lisa sangat ingin tidur bersama mama. Mandi bersama mama, jalan-jalan juga bersama mama. Semua bersama Mama dan Papa." ucap Lisa dengan nada suara yang sangat sedih terdengar ditelinga Agra.
"Sayang, tidak boleh mengatakan Tuhan jahat. Tuhan tidak jahat, itu semua sudah rencana dari Tuhan untuk mama Malika. Itu sudah takdir, walaupun hanya sebentar. Waktu yang diberikan Tuhan kepada Mama Malika untuk mengurus Lisa,Tapi. Mama Malika sangat menyayangi Lisa," kata Agra.
"Lisa tidak ingat Pa."
"Karena waktu itu, Lisa masih berumur 1 tahun pasti tidak ingat," kata Agra.
"Pa, apa Lisa bisa minta Mama baru? Mama yang bisa selamanya bersama dengan Lisa?" tanya Lisa seraya menatap wajah Papanya yang fokus dengan kemudinya.
"Hah...!" Agra kaget, mendengar permintaan putrinya, Lisa.
"Siapa yang mengajari Lisa untuk mengatakan apa yang baru Lisa katakan tadi ?" tanya Agra, yang tidak yakin. Perkataan yang baru saja keluar dari mulut Lisa dari pemikirannya sendiri.
Agra curiga, ada orang yang mengajari Lisa untuk mengatakan padanya mengenai Mama baru.
"Tidak ada yang mengajari, itu semua karena Lisa ingin punya Mama," jawab Lisa.
"Sayang, Lisa itu punya Mama. Tapi, Mama Lisa itu sudah dipanggil oleh Tuhan. Karena Tuhan lebih sayang dengan mama Malika," kata Agra.
"Tuhan enggak sayang sama Lisa, karena mama Lisa telah dipanggil Tuhan. karena itu, Lisa ingin punya Mama baru. Boleh ya Pa, Lisa punya Mama yang baru?" mohon Lisa.
"Ahh! pusing." gumam Agra.
"kenapa Lisa ingin punya mama? di rumah ada Oma dan Obut, dan bik Anah. Lisa tidak kekurangan kasih sayang, Papa dan Opa juga sangat menyayangi Lisa," kata Agra.
"Itu beda Pa, Lisa ingin punya Mama. Lisa ingin punya adik juga, seperti adik Devan. Anak Tante Lala."
"Hah..!" lagi-lagi Agra terkejut dengan apa yang keluar dari mulut putrinya.
"Ini pasti Mama dan Oma yang mengajari Lisa." suara hati Agra.
Mobil sampai didepan sekolah, perbincangan keduanya berhenti. Agra senang, karena terhindar dari permintaan yang tidak mungkin terpenuhinya.
Agra keluar terlebih dahulu, baru membukakan pintu untuk Lisa keluar.
Agra menggandeng tangan putrinya, dan satu tangannya menenteng tas sekolah Lisa.
"lihat Pa, semua teman Lisa diantar oleh Mama dan Papanya. Sedangkan Lisa, hanya diantar oleh Papa sendiri."
"Walaupun Lisa hanya diantar oleh papa, tapi papa Lisa sangat ganteng kan?"
"Ih..papa! muji diri sendiri, Papa teman-teman Lisa juga ganteng-ganteng dan cool lagi," ujar Lisa.
"Tidak ah! masih gantengan Papa lagi," ujar Agra tidak mau kalah.
Tiba-tiba langkah kaki Lisa berhenti berjalan, tangannya mencengkram erat tangan Papanya.
"Ayo sayang, kenapa berhenti?" tanya Papanya.
Lisa berhenti, karena melihat. Ada beberapa anak yang menangis, karena ditinggal oleh orangtuanya.
"Lisa nggak mau sekolah," ucap Lisa dengan suara yang pelan.
"Apa? tidak mau sekolah, tapi. Kenapa? Lisa jangan takut." Agra tahu, Lisa takut. Karena melihat beberapa anak yang menangis.
Raut wajah Lisa sudah ingin menangis, pegangan tangannya pada tangan Papanya semakin erat. Karena takut, Papanya pergi meninggalkannya sendirian. Apalagi, saat dia tidak melihat keberadaan Jeanny diantara guru-guru yang menyambut kedatangan peserta didik.
*
*
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Iin Karmini
knapa aku mlh kasian sma yudha...dia kan betul" d jebak sma wanita siluman itu..
2023-08-05
0
Bzaa
Lisa semangat nak😘
2023-07-02
0
Bzaa
semangat Jen... yakin semua akan indah pada waktunya 😆
2023-07-02
0