Happy reading guys.
🌟🌟🌟
"Melakukan apa yang Tante dan Om katakan, untuk melanjutkan hubungan dengan Yudha," ujar Jeanny.
"Jeng." Susan menatap kearah Amira, Mama Jeanny. Dia mengharap Amira mau membujuk Jeanny, agar mau merubah keputusannya untuk berpisah dengan Yudha. Putranya, yang masih sangat mencintai Jeanny.
"Maaf Jeng Susan, kami tidak ingin mempengaruhi apa yang sudah menjadi keputusan putri kami," ujar Amira, Mama Jeanny.
"Pak Andre, kami masih ingin berbesan dengan keluarga Pak Andre," ujar Hendra, Papa Yudha.
"Maaf Pak, keputusan putri saya Jeanny. Keputusan yang sangat saya dukung, saya tidak ingin nantinya. Putri saya di cap sebagai gadis tidak benar, karena telah menganggu rumah tangga Yudha dan istrinya," ucap Hendra.
"Maaf Tante, saya tidak bisa kembali pada Yudha. Apalagi di suruh merawat anaknya dengan wanita lain, saya tidak..tidak mungkin bisa melakukannya. Saya harap, Tante dan Om jangan mengharapkan Jeanny dan Yudha untuk bersatu. Permisi." selesai berkata, Jeanny berdiri dan beranjak menuju lantai atas. Di mana kamarnya berada.
Sepeninggal Jeanny, orangtuanya Yudha terus berusaha untuk membujuk Mama dan Papa Jeanny. Agar mau membujuk Jeanny.
"Jeng Amira, tolonglah..!" Susan, Mama Yudha mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Saya ti..." ucap Amira terhenti, saat terdengar suara pria dari depan pintu.
"Tidak! saya tidak akan izinkan, Jeanny kembali pada laki-laki berengsek seperti Yudha..!" seorang pria dengan memakai baju pilot berdiri tegak, memandang kearah dua orang tamu orangtuanya.
Empat pasang mata melihat kearah pintu, melihat pria yang berpakaian pilot berdiri didepan pintu dengan tatapan yang sinis menatap wajah tamu orangtuanya.
"Jamie..!" seru Amira, saat melihat putra sulungnya Jamie Adhitama.
Jamie masuk dan memberi salam pada Mama dan Papanya, dan pada orangtuanya Yudha juga.
Jamie duduk di samping Papanya.
"Jamie tidak setuju, kalian meminta Jeanny tetap bersama dengan Yudha..!" seru Jamie.
"Jamie tahu, apa yang terjadi pada Jeanny?" tanya Mamanya, yang heran. Karena, pagi tadi. Jamie mengatakan, akan terbang ke bagian timur Indonesia.
"Papa menghubungi Jamie tadi Maa, dan Jamie meminta tukar jadwal terbang dengan rekan kerja yang lain," ucap Jamie.
"Nak Jamie, tolong pertimbangan lagi. Keluarga kita sudah saling kenal sangat lama," ucap Papa Yudha dengan suara yang lembut.
"Begini Om, jika anak Om mengalami apa yang dialami oleh Jeanny. Apa Om akan mengizinkan putri Om kembali pada pria yang sudah menyakitinya?" tanya Jamie dengan nada suara yang datar.
Kedua orangtua Yudha menunduk, keduanya mencerna. Apa yang dikatakan oleh Jamie.
"Kenapa Om, Tante? tidak bisa menjawab? pasti Om dan Tante tidak akan setuju kan, putri Om dan Tante mempunyai suami pria yang tidak kuat imannya. Apa pun alasannya, Yudha mengaku kalau dia di jebak. Tetap, perbuatan Yudha sudah menyakiti hati adik saya..!" ucap Jamie dengan tegas.
"Apa Mama dan Papa setuju, jika Jeanny kembali melanjutkan pernikahan. Setelah wanita itu melahirkan?" tanya Jamie, pada kedua orang tuanya.
"Tidak..!" jawab Papa Jamie, Andre.
"Mama juga tidak, Jeanny juga sudah menolak tadi Jamie," ucap Mama Jamie.
"Maafkan kami, tapi. Kami masih mengharap, ada keajaiban. Jeanny akan membuka pintu hatinya untuk putra kami, Yudha," ucap Mama Yudha, Susan.
Akhirnya, kedua orangtuanya Yudha meninggalkan kediaman keluarga Jeanny. Dengan membawa kekecewaan yang mendalam, apa yang mereka harapkan saat datang tadi. Jeanny akan menerima permintaan mereka tidak terwujud.
"Mana Jean Maa?" tanya Jamie.
"Kamar, biarkan dia dulu beristirahat," ucap Amira, Mamanya.
"Baiklah, Jamie mau kekamar dulu," ujar Jamie, lalu kemudian meninggalkan kedua orangtuanya yang masih berdiri di teras. Menatap kepergian mobil yang membawa kedua orangtua Yudha.
*
*
Alma dan Mama mertuanya sedang berada dihalaman belakang, begitu Jeanny meninggalkan kediaman keluarga Barend. Keduanya langsung bicara panjang lebar membahas Jeanny, gadis yang dibawa sang cucu. Dan diakui sang cucu sebagai Mamanya.
"Ma, bagaimana menurut Mama dengan gadis tadi? apa masuk sebagai kriteria sebagai calon Mama Lisa?" tanya Alma.
"Perasaan Mama, gadis tadi gadis yang baik. Beda dengan Malika," jawab Gracia, Mama mertua Alma.
"Maa, jangan ingat Malika lagi. Dia sudah tidak ada," ujar Alma, pada Mama mertuanya. Yang setiap mengingat Malika, selalu kesal.
"Agra cucu bodo, terlalu mencintai istrinya itu. Dia tidak tahu, apa yang dilakukan istrinya itu dibelakangnya..!" ngedumel Gracia.
"Maa, jangan dibahas lagi. Nanti Agra dengar, dan marah lagi. Apa Mama mau, dia tidak pergi," ujar Alma.
"Mama kesal dengan anak itu, sudah dibilang. Malika bukan gadis yang baik, tapi tetap menikahinya dengan diam-diam."
"Itulah cinta Ma, di mata Agra. Malika, wanita yang paling sempurna," ujar Alma.
"Kecantikan, dia sempurna. Attitude, zero..!" seru Oma Agra Barend dengan ketus.
Gracia Barend, sangat tidak setuju. Saat Agra, sang cucu menjalin kasih dengan Malika. Yang saat itu, Malika bekerja sebagai sekretaris. Dan Agra Barend jatuh cinta, dan menikah diam-diam di negara Belanda. Setelah, Malika hamil. Baru Agra mempublikasikan pernikahannya dan membuat Gracia membenci Malika, karena Gracia menganggap. Malika gadis yang membuat Agra menjauh dari keluarganya.
"Apa yang dibahas dua wanita tercantik milik Barend ini?"
Tiba-tiba terdengar suara bariton dari belakang keduanya, membuat kepala keduanya menoleh ke asal suara.
Dibelakang mereka, Abraham Barend. Pria yang sebentar lagi akan memasuki usia 58 tahun, tetapi masih terlihat gagah. Walaupun disisi rambutnya sudah terlihat rambut memutih.
"Papa..!" Alma sontak berdiri dan beranjak mendekati Abraham. Dan kemudian memeluk lengan sang suami dengan erat.
"Kenapa Papa pulang tidak bilang-bilang?" tanya Alma.
"Surprise..!" sahut Abraham Barend, menanggapi pertanyaan sang istri.
"Ihh! Papa." gumam Alma.
Keduanya melangkah mendekati Gracia, dan kemudian. Abraham memberi Salim pada Mamanya dan mengecup kedua pipinya. Lalu, Abraham dan Alma duduk didekat mama Gracia.
"Kenapa pulang tidak kasih kabar? katanya seminggu di Malaysia," ujar Mama Abraham, Gracia.
"Semua urusan sudah selesai tidak sampai seminggu, untuk apa Abra di sana lagi," ujar Abraham sembari membuka jasnya, dan memberikannya pada sang istri.
Alma berdiri, dan meninggalkan Abraham dan Gracia.
"Bagaimana? siapa yang bermain di sana?" tanya Gracia pada Abraham.
"Bagian keuangan, dan manajer. Mereka bekerja sama," sahut Abraham sembari mengulung lengan bajunya sampai ke siku.
"Ganti saja pimpinan di sana, atau tutup. Jika tidak bisa dipertahankan lagi, untuk apa buka cabang perusahaan. Jika tidak bisa dihandle." ucap Gracia pada Abraham. Putranya.
"Maa, apa Jerry saja kita kirim untuk mengurus perusahaan di Malaysia?" tanya Abraham.
"Jangan Paa, Jerry tetap menjadi sekretaris Agra," ujar Alma yang datang dengan membawa minuman dan cemilan untuk Gracia dan Abraham.
"Tutup saja!" titah Gracia.
"Iya Paa." timpal Alma, menyetujui usul sang mertua untuk menutup anak perusahaan mereka di negeri Jiran.
"Apa tidak sayang?" tanya Abraham seraya menatap wajah Mama dan sang istri.
"Untuk apa sayang, jika mengenyangkan orang," ucap Gracia.
"Baiklah." akhirnya, Abraham mengikuti kehendak dua wanita yang sangat disayanginya. Yaitu Alma, sang istri. Dan Gracia Barend, Mamanya sendiri.
*
*
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Wo Lee Meyce
gitu dong jean punya prinsip,,sekali di sakiti akan terulang lagi,,cint boleh asal jgan bodoh🤗
2023-10-03
0
💕Bernadet Wulandari💕
kenapa harus malika namanya? jadi ingat iklan kecap. 😂😂😂
2023-09-09
0
fifid dwi ariani
trus sabar
2023-07-26
0