Happy reading 😍
🌹🌹🌹
"Agra...!"
Suara pria memanggil, dan melambaikan tangannya.
Agra menoleh kearah orang yang memanggilnya, dan kemudian. Agra melangkah menuju orang yang memanggilnya tersebut.
"Welcome home brother," ucap pria tersebut, setelah Agra berada didepannya dan duduk.
Keduanya saling berjabat tangan.
"Mana yang lain? Apa hanya kau yang rutin ke sini?" tanya Agra, karena hanya melihat Albert seorang yang duduk.
"Tuh!" Jemari Albert menunjuk kearah lapangan, dan terlihat dua kuda sedang lari mengelilingi lapangan. Dan penunggangnya, seorang laki-laki dan wanita.
"Michael dan, siapa temannya itu? Kekasihnya ...?" Agra tidak mengenali teman wanita Michael yang berkuda bersamanya.
"Bergaul Agra! apa kau lupa dengan Eva," ujar Albert.
"Eva? apa dia sudah kembali? dia tinggal di Aussie kan?"
"Kau terlalu lama bertapa, sehingga kau sudah melupakan kami. Sahabatmu ini" ujar Albert.
"Aku sibuk bekerja, bukan seperti kalian. Yang masih suka bersenang-senang, aku punya anak yang harus aku biayai," ujar Agra.
Albert tertawa, mendengar perkataan Agra.
"Kau tidak masuk kantor selama sebulan juga, kau tidak akan jatuh miskin Agra. Tidak seperti kami," ujar Albert.
"Merendah terus." balas Agra Barend.
Gadis yang mereka bicarakan tadi sudah turun dari atas tunggangan kuda kesayangan, setelah melihat keberadaan Agra duduk dipinggir lapangan bersama dengan Albert.
"Agra..!" Eva langsung menubruk kan dirinya ketubuh Agra, sehingga. Eva berakhir di atas paha Agra.
"Hei.. Eva! kau bukan anak kecil, yang harus duduk di pangkuan Agra..!" seru Michael yang tadi bersama dengan Eva menunggang kuda.
"Hih..iri ya? Agra saja tidak marah, ya kan Agra?" tangan Eva melingkar di leher Agra, hingga membuat Agra tidak nyaman.
"Eva, kenapa badanmu berat sekali? pahaku mati rasa." sindir Agra.
Eva spontan berdiri dari paha Agra, dan memberikan tatapan mata yang kesal. Karena Agra mengatakan tubuhnya yang gendut.
Michael dan Albert tertawa lebar, mendengar perkataan Agra. Mereka tahu, Agra tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Eva.
"Aku langsing begini, kau katakan aku gendut..!" seru Eva dengan berkacak pinggang melotot menatap Agra.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, aku tidak pernah bohong. Tanya pada mereka berdua," ucap Agra dengan menunjuk kearah kedua temannya.
Albert dan Michael menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang dikatakan oleh Agra.
"Di matamu itu, hanya Malika yang nomor satu. Gadis yang berada disekitar mu, hanyalah fatamorgana." ujar Eva seraya meletakkan bokongnya di kursi didekat Agra.
Bibir Eva manyun, karena kesal pada Agra.
"Cinta pertama yang tidak pernah akan pudar, walaupun dia sudah menjadi bidadari surga. Iya kan Agra," ucap Michael.
Agra menyesap kopinya, sembari menganggukkan kepalanya.
"Apa tidak ada tempat aku didalam sini Agra?" tanya Eva dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Agra.
"No..!" seru Agra dan mendorong wajah Eva dari depan wajahnya.
"Sial! sampai kapan kau menolak pesonaku Agra." gumam Eva.
"Sampai kau bosan." Albert yang menjawab pertanyaan Eva, sedangkan Agra hanya diam.
"Bagaimana jika aku tidak bosan, aku tidak akan lelah menunggu pintu hatimu ini terbuka untuk aku Agra. Sebelum kedatangan Malika, aku yang pertama menyukaimu," ucap Eva tanpa malu mengungkapkan perasaannya didepan kedua temannya.
Mereka berempat, teman dari mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sehingga, mereka tidak ada yang sakit hati. Jika ada salah satu dari mereka bicara yang sedikit nyeleneh, karena mereka berempat tahu. Itu hanyalah gurauan antara mereka.
"Apa kau tidak ada perkataan yang lain, selain itu-itu saja. Setiap kita bertemu, perasaan cinta yang kau ucapkan terus. Aku sendiri, sudah bosan terus mengucapkan penolakan," ucap Agra tanpa ada perasaan bersalah, karena sekali lagi. Telah menolak Eva.( Eva tebal muka kali ya, di dunia nyata. Apakah ada wanita seperti Eva? banyak 😀✌️)
"Jika kau bosan, mengucapkan penolakan. Bagaimana jika kau ganti dengan ucapan penerimaan," ujar Michael dengan tertawa lebar.
"Betul, perkataan mu sekali ini. Sangat benar." Eva senang mendengar perkataan Michael.
"Bagaimana, jika kau yang menerima cinta gadis tidak waras ini," ujar Agra pada Michael.
"Agra! tega ya, kau mengatakan sahabatmu ini sebagai gadis tidak waras..!" seru Eva dengan mendelik kan matanya, menatap Agra.
Agra biasa saja menanggapinya, karena dia tahu. Eva tidak pernah marah, walaupun dia tidak menerima pernyataan cintanya. Karena Agra tahu, siapa pria yang ada dalam hati Eva.
"Sudah! jangan ada pengungkapan rasa cinta lagi, dan kau Eva. Cari pria yang waras, kau tahu. Otak Agra itu tidak bisa berpaling dari almarhum istri tercinta, dia akan menduren seumur hidupnya. Tidak ada celah untuk kau masuk," kata Albert.
Eva mengerucutkan bibirnya.
"Minum, dinginkan hatimu." Michael memberikan juicy pada Eva.
Eva mengambilnya dan meneguk habis, dengan sekali teguk. Kemudian, Eva meletakkan gelasnya ke atas meja didepannya.
"Aku mau mandi, Agra. Apa kau mau ikut?" tanya Eva dengan tatapan mata menggoda Agra, jemari tangannya mengelus lengan Agra dengan lembut.
"Ini gadis, tidak bisa jika tidak menggoda Agra. Sana mandi, badanmu sudah bau keringat kuda yang sangat menyengat" usir Albert sembari mengedikkan kedua bahunya, karena geli melihat tingkah Eva seperti wanita penggoda. Menurut Albert.
"Sialan kau...!" Eva kesal, dan menendang tulang kering kaki Albert.
"Aauw..!" pekik Albert, yang tidak mengira mendapatkan tendangan dari Eva. Si gadis tomboy, sahabat mereka bertiga.
"Rasain...!" Eva berlalu dari hadapan ketiganya.
Begitu Eva meninggalkan mereka bertiga, Albert bertanya. Mengenai pesan yang dikirim Agra padanya.
"Pesan yang kau kirim tadi, aku tidak mengerti. apa ada yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Albert pada Agra.
"Ada orang yang ingin bermain-main denganku, dan mengirim teror," kata Agra.
"Bermain-main?" tanya Michael seraya menarik kursi yang diduduki ke dekat Agra berada.
"Lihatlah." Agra menunjukkan gambar dalam ponselnya kepada kedua temannya.
"Gila, itu gambar mu Agra.? sudah pasti, pasti persaingan bisnis..!" seru Michael, setelah melihat gambar yang ditunjukkan oleh Agra.
"Bisa kau mencari tahu, Kerjaan siapa ini ?" tanya Agra pada Albert.
"Kirim ke ponselku Agra, biar aku selidik," ujar Albert.
Karena Albert seorang lawyer, banyak orang yang dikenalnya. Dari orang yang baik, sampai orang yang jahat dan orang yang benar-benar jahat.
"Siapa kira-kira orang yang kau curigai?" tanya Albert.
"Tidak ada, aku merasa tidak ada musuh," jawab Agra.
"Apa ini semua sudah kau beritahu pada Om Abraham?" tanya Michael.
"Belum, aku tidak ingin Papa pusing memikirkan ini semua," ucap Agra Bareng.
"Kalau melihat apa yang dikirim oleh orang ini, sepertinya. Kau yang dibencinya," ujar Albert.
"Betul, karena hanya gambarmu yang di gunting dan diberi cat merah. Mungkin saja, ada saingan bisnis yang tidak suka denganmu Agra." timpal Michael.
"Aku merasa, tidak pernah menyinggung perasaan orang lain. Dengan para klien, aku mempunyai hubungan yang baik," kata Agra.
*
*
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Ciciajadeh Ciciajadeh
siapa kira2 ya???🤔🤔🤔🤔
2023-10-04
0
AR Althafunisa
bukan musuh nya aku Arga yang meneror mu 🤣
makanya, jangan dingin kali kau Arga sama diriku 😆😅
2023-07-22
0
Bzaa
semoga cepat terungkap siapa yg menteror
2023-07-02
0