Kera siluman yang merasa terkejut dan geram ada yang menendang tengkuknya, segera berbalik ke arah kiri ke arah Puguh mendaratkan tubuhnya.
"Gggrrr !!! Anak manusia ! Akan ku cabik cabik tubuhmu !" teriak kera siluman yang kemudian melompat ke arah Puguh.
Dengan sekali menjejakkan kaki, tubuh kera siluman melesat cepat dan segera menerjang Puguh dengan hantaman tangan kanan dan kiri bertubi tubi.
Buuummm ! Buuummm ! Buuummm !
Mendapatkan serangan beruntun dari kera siluman itu, Puguh terpontang panting menghindarinya dengan meloncat ataupun menggulingkan tubuhnya ke tanah.
Tanpa Puguh sadari, arah menghindarnya dari serangan kera siluman semakin mendekat ke arah pohon kayu hitam terbesar yang tumbuh di tengah tengah daratan tanah hitam.
Sementara itu, karena serangannya tidak ada yang mengenai sasaran, kera itu semakin kalap.
Sambil menghembuskan nafas dengan kasar, kera siluman itu menyerang dengan sepenuh tenaga. Puguh pun kembali pontang panting meloncat dan berjumpalitan untuk menghindar.
Hingga suatu saat, gerakan meloncatnya bisa tersusul oleh ayunan tangan kanan kera siluman, sehingga kepalan tangan kanan kera siluman yang sebesar kepala Puguh lebih, tepat mengenai perut Puguh.
Buuuggghhh !!!
Aaauuuggghhh !!!
Terkena dorongan pukulan tangan kanan kera siluman, tubuh Puguh terlempar jauh hingga jatuh ke kubangan lumpur hitam yang kebetulan mengandung air hitam cukup banyak.
Bluuuppp !!!
Tubuh Puguh tercebur dan langsung tenggelam di dalam lumpur hitam.
Sementara itu, Widura yang sejak tadi melihat Puguh terpontang panting menghadapi serangan, sangat terkejut melihat tubuh Puguh yang terlempar dan tercebur ke dalam ke dalam kubangan lumpur hitam.
Segera saja Widura melompat menjauh dari kera siluman sambil membawa balok kayu hitam.
Walaupun dalam hati kecilnya Widura tidak tega dengan keadaan Puguh, namun dia harus sesegera mungkin memyelamatkan diri.
Karena tidak mungkin dia melawan kera siluman itu sendirian, setelah Puguh terjatuh ke dalam lumpur hitam dan tidak terlihat muncul lagi ke permukaan. Sehingga akan sia sia pengorbanan Puguh, andaikata dia nekad melawan kera siluman itu.
Sementara itu, kera siluman itu tidak menyadari kalau Widura sudah melompat pergi dan sudah jauh dari dataran tanah hitam. Karena perhatian kera siluman itu tersita dengan jatuhnya Puguh ke dalam kubangan lumpur hitam.
Dengan nafas terengah engah, kera siluman memperhatikan terus permukaan kubangan lumpur hitam.
Melihat manusia yang menjadi lawannya tidak muncul ke permukaan setelah beberapa lama, kera siluman itu dengan kalap menyahut apapun yang berada di sekitarnya dan melemparkannya ke dalam kubangan lumpur hitam. Batu hitam, batang kayu hitam, dilemparkan ke dalam kubangan lumpur hitam tempat tubuh Puguh tadi tercebur. Semua yang lemparkan oleh kera siluman itu tenggelam. Disitulah keistimewaan kayu hitam. Tidak seperti kayu yang lainnya, kayu hitam akan tenggelam jika dimasukkan ke dalam air.
Sementara itu di dalam lumpur hitam. Ternyata kubangan lumpur hitam itu cukup dalam dan penuh dengan akar akar kayu hitam baik besar ataupun kecil.
Tubuh Puguh meluncur semakin ke dalam. Setelah tubuhnya terhenti meluncur ke dalam karena tertahan oleh satu akar yang cukup besar, Puguh berusaha naik ke atas. Namun karena banyak akar akar yang saling malang melintang, Puguh kesulitan untuk mencari jalan berenang ke atas.
Baru saja hendak berusaha ke atas, tiba tiba banyak benda benda yang meluncur ke arahnya. Kembali tubuh Puguh terdorong semakin ke dalam oleh batu, batang pohon hitam yang dilemparkan oleh kera siluman.
Akhirnya tubuh Puguh tenggelam sampai ke dasar.
Dalam keadaan di dalam lumpur hitam, Puguh merambat mencari dinding lubang kubangan lumpur hitam dengan mata tertutup rapat.
Dengan mata terpejam rapat dan menahan nafas, Puguh berusaha mencari apapun yang bisa digunakan untuk pegangan.
Saat dada sudah terasa penuh dan serasa hendak meledak, tiba tiba tangan Puguh menemukan sebuah dinding. Dengan kedua tangannya, Puguh merambati dinding itu.
Setelah merambat beberapa langkah, tangan Puguh tidak merasakan permukaan dinding lagi, sehingga tubuhnya seperti terdorong meluncur ke depan. Ternyata tubuh Puguh masuk ke dalam sebuah lubang yang menyerupai lorong.
Dalam keadaan yang gelap pekat, Puguh berusaha mendorong tubuhnya naik ke atas.
Beberapa saat kemudian, tubuh Puguh yang meluncur ke atas, rasanya seperti sampai di permukaan, karena Puguh tidak lagi merasakan tekanan lumpur pada wajahnya.
Merasa mendapatkan udara, Puguh segera menghirup nafas kuat kuat melalui mulutnya. Setelah jantung dan peredaran darahnya mendapatkan asupan udara lagi, Puguh seperti bertenaga lagi. Segera saja Puguh berenang dalam lumpur ke adah depan, berharap segera menemukan tepi kubangan.
Setelah beberapa saat berenang, tubuh Puguh terantuk benda keras, yang sepertinya pinggir kubangan lumpur. Segera saja Puguh berusaha naik ke tempat yang keras yang sepertinya daratan.
Setelah seluruh tubuhnya terangkat dari lumpur hitam, Puguh terdiam sambil menarik nafas sebanyak mungkin berulang ulang, sampai pernafasannya normal kembali.
Dengan kedua tangan yang gemetar hebat karena menahan nafas dalam waktu yang cukup lama, Puguh mencoba membersihkan wajahnya terutama kelopak matanya dari lumpur yang menutupinya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Puguh bisa sedikit melihat dengan mata yang disipitkan.
Dengan perlahan lahan, sambil berjongkok, Puguh memutar tubuhnya mencari sumber penerangan. Tetapi sampai berputar penuh, Puguh tidak menemukan setitik pun sinar.
Ketika dengan tidak sengaja mendongakkan kepalanya, Puguh melihat setitik sinar yang nampaknya berada cukup jauh dari tempat Puguh sekarang.
Kemudian Puguh berdiri dengan pelan pelan. Matanya berusaha menyesuaikan dengan kegelapan yang hanya di sinari setitik sinar yang cukup jauh.
Setelah matanya bisa sedikit menyesuaikan, Puguh mencoba melangkah ke depan dengan telapak tangan kiri terbuka di depan badan.
Tiba tiba telapak tangan kirinya yang terbuka menyentuh benda keras yang sepertinya sebuah dinding. Dengan merambat dalam keremangan, Puguh menyusuri dinding tersebut. Dinding tersebut tidak rata, namun kadang ada yang menonjol kadang ada yang berlekuk ke dalam.
Setelah beberapa waktu, Puguh belum juga menemukan ujung dinding. Tetapi Puguh merasakan, sepertinya dinding itu melingkar.
Untuk memastikan apakah benar dinding itu memutar, Puguh mencoba kembali menyusuri dinding setelah terlebih dahulu menandai dinding tempat awal dia bergerak berjalan menyusur.
Sambil menghitung langkah kesampingnya, Puguh terus saja meraba dinding. Ketika sampai pada hitungan ke dua puluh,Puguh mendapati dinding yang dia tandai. Akhirnya Puguh menyadari, dirinya secara tidak sengaja masuk ke ruangan yang berbentuk lingkaran.
Tanpa terasa, sudah selama hampir seharian Puguh berada di dalam ruangan dengan dinding melingkar itu.
Matanya sudah mulai terbiasa dengan meremangan ruangan itu.
Puguh melihat, seluruh dinding yang mengelilingi ruangan itu berwarna hitam pekat.
Setelah mencoba memeriksa keadaan ruangan itu, Puguh menemukan sebuah batu besar dengan permukaan atas yang datar setinggi pinggangnya, terletak di tengah tengah ruangan. Di sekeliling batu besar itu di keempat sudut, terdapat sebentuk tiang yang entah terbuat dari batu atau kayu, Puguh belum bisa memastikan. Keempat tiang sebesar badannya itu tingginya berbeda beda.
Setelah merasa tidak menemukan hal hal baru lagi, akhirnya Puguh naik ke atas batu datar dan membaringkan tubuhnya untuk sekedar beristirahat. Tanpa disadarinya, Puguh tertidur selama beberapa waktu.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
Muhamad Syamsuri
keren
2024-04-21
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Jooosssss 👍👍
2024-02-26
0
Tamburelo
terlalu sering menggunakan kata ' setelah', kalau bisa hindari atau ganti dgn kata lain yg artinya mendekati. selamat berkarya thor.
2023-02-11
7