Puguh dan Widura terdiam beberapa saat. Namun tatapan mata mereka memperlihatkan, kalau mereka berusaha secepatnya mempelajari situasi tempat yang mereka lalui.
Tempat tumbuhnya kayu hitam adalah dataran kecil dengan tanah yang berwarna hitam pekat, yang dikelilingi oleh tanah berlumpur yang sangat luas dan airnya juga berwarna hitam pekat. Di tanah berlumpur itu juga ditumbuhi pohon pohon perdu yang mempunyai cabang dan ranting yang sangat banyak dan mempunyai ketinggian sekitar tiga depa. Sebagian akar pohon perdu itu ada yang muncul ke permukaan.
Yang membuat tanah berlumpur itu sulit untuk dilalui, karena pohon pohon perdu tumbuhnya tidak beraturan, sehingga jika melewatinya harus berkelok kelok.
"Ini tanah berlumpur dan airnya berwarna hitam pekat. Berarti, jika menyeberang tanah berlumpur ini, seharusnya sudah sampai di tempat tumbuhnya kayu hitam," kata Puguh dalam hati.
"Bagaimana pendapatmu, adi Puguh ?" tanya Widura pada Puguh.
Semenjak pertarungan melawan dua ekor ular siluman kemaren, pandangan Widura terhadap Puguh jauh berbeda. Walaupun Puguh masih kecil dengan usianya yang tujuh tahun lebih sedikit, sekarang ini Widura memandang Puguh sebagai teman seperjuangan, bukan lagi sebagai yuniornya dalam perguruan.
"Dari tiga hal yang ada, menurut perkiraan saya, yang paling berbahaya adalah jalur pohon, kakang," jawab Puguh, "Maaf kalau perkiraan saya salah."
"Sama, adi Puguh. Aku juga mempunyai perkiraan begitu. Air berwarna hitam pekat dan berlumpur itu kelihatannya menakutkan, namun, asal kita mau berkotor kotor sedikit, akan lebih aman kita melaluinya," sambung Widura, "Cuma kalau kita melalui jalur tanah berlumpur, akan berkelok kelok, memakan waktu lama dan ada kemungkinan kita akan tersesat."
"Belum lagi, kemungkinan ada bahaya lain, kakang Widura," kata Puguh.
"Kita istirahat dulu adi Puguh. Karena kita tidak tahu seberapa luas, tanah berlumpur ini !" kata Widura.
"Baiklah kakang Widura !" jawab Puguh.
Mereka berdua akhirnya duduk beristirahat sambil berusaha memulihkan tenaga dalamnya.
----- o -----
Satu jam kemudian, Puguh dan Widura sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Mereka berdua mulai menyusuri tanah berlumpur yang kedalamannya berbeda beda. Kadang di satu tempat lumpurnya setinggi lutut, kadang harus melewati lumpur yang kedalamannya setinggi pinggang Puguh, bahkan sempat melewati yang kedalamannya seleher Puguh.
Selama berjalan menyusuri tanah berlumpur, relatif lancar dan aman, tidak ada hambatan, walaupun Puguh dan Widura merasakan seperti ada yang mengawasi dari pohon perdu yang mereka lewati.
Akhirnya, setelah sekitar dua jam mereka menyusuri tanah berlumpur, dataran kecil tempat tumbuhnya kayu hitam terlihat di depan mata.
Puguh dan Widura naik perlahan lahan ke daratan kecil. Mereka berdua langsung melihat lihat keadaan sekitar dengan penuh waspada, terutama memperhatikan keadaan pohon yang tumbuh di dataran kecil itu.
Dengan berjalan maju perlahan, mereka mencoba mencari apa yang menjadi tugas mereka.
Sebentar saja, akhirnya mereka menemukan pohon kayu hitam yang sudah tumbang ke arah tanah berlumpur dan sebagian besar batangnya masuk ke dalam lumpur hitam.
Dengan hati hati, mereka berdua mendekati batang pohon tumbang itu. Setelah menemukan bagian batang pohon yang ciri cirinya sesuai dengan yang dimaksudkan oleh guru mereka, Ki Bajrapadsa, mereka pun dengan cepat memilih yang besarnya sebesar paha orang dewasa dan memotong batang kayu hitam itu dengan golok mereka, karena mereka berdua ingin secepatnya keluar dari hutan Alas Ombo.
Baru saja selesai memotong batang pohon yang mereka angkat dari dalam lumpur dan baru saja hendak mengikatnya, tiba tiba terdengar suara geraman yang sangat berat disertai getaran keras ditanah yang terasa seperti gempa.
Gggrrr !!!
Puguh dan Widura yang sangat terkejut, segera saling mendekat dan pandang mata mereka sibuk mencari arah sumber suara.
Penglihatan mereka terhenti saat mereka melihat ke arah tengah tengah dataran kecil itu, dimana tumbuh pohon kayu hitam terbesar di dataran kecil.
Pohon itu mempunyai keliling sekitar lima depa atau dekapan lima orang dewasa yang saling berpegangan tangan. Di batang paling bawah pohon kayu hitam terbesar itu, terlihat bayangan setinggi sekitar dua kali tinggi tubuh manusia dewasa dengan dua titik merah menyala.
Puguh dan Widura merasakan getaran bahaya saat melihat dua nyala merah dari bayangan itu.
Belum juga hilang rasa terkejutnya, mereka berdua tambah dikejutkan lagi dwngan adanya suara.
"Gggrrr ...... !!! Manusia ! Apa maksud medatanganmu ke sini !"
Bersamaan dengan selesainya suara itu, terdengar suara berdebum seperti sesuatu yang sangat berat jatuh ke tanah.
Buuummm !!!
Puguh dan Widura kembali merasakan getaran di tanah yang mereka injak. Kemudian terjadi debuman yang sedikit lebih lemah dari yang pertama tadi, namun berulang ulang.
Buuummm ! Buuummm ! Buuummm !
Puguh dan Widura sampai harus mendongakkan kepala mereka untuk melihat.
Sesaat kemudian, di depan mereka berdiri menjulang seekor kera siluman dengan tinggi dua kali tinggi tubuh manusia dewasa.
Kera siluman itu berbulu lebat dengan warna hitam pekat. Matanya mencorong berwarna merah menyala. Mulutnya menyeringai Memperlihatkan dua pasang taring yang besar dan panjang.
"Gggrrr .... !!! Manusia ! Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku !" tanya kera siluman itu.
Widura dan Puguh tambah terkejut melihat kera siluman itu bisa berbicara.
"Gggrrr ... ! Jaaa .... waaabbb !!!" teriak kera itu.
"Aaa ... kami ... hanya hendak ... mengambil batang kayu hitam !" jawab Widura.
"Selama aku yang menjaga daerah ini, tidak ada yang diijinkan mengambil apapun dari tempat ini !" bentak kera siluman itu.
"Tinggalkan tempat ini !" bentak kera siluman itu lagi sambil semakin mendekat ke tempat Puguh dan Widura, "Atau kalian kujadikan pupuk tanaman ini !"
Puguh dan Widura masih diam saja. Mereka masih belum mempunyai ids apa yang akan mereka lakukan menghadapi situasi yang tidak mereka harapkan ini.
"Dasar manusia !!!" teriak kera siluman sambil meloncat dengan ringannya ke arah Puguh dan Widura.
Walaupun bertubuh tinggi besar, ternyata kera siluman itu bisa bergerak dengan cepat.
Sekali meloncat, kera siluman itu hampir mencapai tempat dimana Puguh dan Widura berdiri, sambil melayangkan tangan kanannya yang terkepal.
"Menghindar adi Puguh !" teriak Widura melihat sebuah tangan besar hendak menghantam mereka.
Puguh meloncat ke kiri, sedangkan Widura meloncat ke kanan dan secara kebetulan mendarat ke arah tergeletaknya kayu yang rencananya akan mereka bawa.
Baaammm !!!
Hantaman tangan kanan kera siluman itu mengenai tanah hitam tempat Puguh dan Widura tadi berdiri.
Begitu hantamannya tidak mengenai sasaran, kera itu menggeram sambil menghadap ke arah Widura.
Gggrrr ... !!!
Posisi Widura menjadi terjepit antara tanah berlumpur dan kera siluman.
Dengan sekali melompat, kedua kaki kera siluman itu mendarat di tepat di tempat Widura berdiri.
Buuummm !!!
Untung Widura segera melompat ke belakang, sehingga terhindar dari terjangan kaki kera siluman itu dan mendarat tepat di samping potongan batang kayu hitam.
Namun, ternyata posisi Widura mendarat semakin membuat dirinya terpojok.
Sementara, kera siluman itu semakin geram saat injakannya tidak mengenai sasaran dan meraung dengan keras, sambil kedua tangannya diangkat ke atas.
Gggrrr .... Aaarrrggghhh !!!
Tiba tiba kera siluman itu terdorong ke depan dua langkah saat ada yang menghantam tengkuknya.
Bruuuaaakkk !!!
"Kakang Widura, cepat bawa pergi kayu hitam itu ! Biar kusibukkan kera sialan ini !" teriak Puguh sambil melayang mendarat di arah sebelah kiri kera siluman, setelah kedua kakinya berhasil menghantam tengkuk kera siluman hingga terdorong dua langkah.
__________ ◇ __________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
indra surya dharma
600
2025-04-04
0
Bagus Prakoso
kedatanganmu thor?
2024-07-05
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Jooosssss 👍
2024-02-26
0