Beberapa saat kemudian, di depan mereka berdiri berjajar empat siluman blacan. Dengan besar dan tinggi tubuh yang dua kali dari kucing biasa, kucing hutan atau yang biasa disebut dengan blacan itu terlihat sangat liar dan buas. Dengan tubuh mirip dengan harimau namun jauh lebih kecil, dan juga terdapat garis merah menyala di kedua bola matanya.
Widura, Puguh dan keempat murid lainnya menghentikan langkah mereka. Mereka sedang berusaha berkonsentrasi membaca keadaan sekitarnya.
Walaupun hanya siluman blancan, namun sudah cukup membuat mereka berenam sedikit gugup.
"Ingat ! Tetap berdekatan dan jangan ada yang lari, walau dalam keadaan apapun !" bisik Widura lagi.
Kemudian, dua siluman blacan yang berdiri di pinggir kiri kanan, maju mendekati mereka berenam.
"Ingat ! Siapapun yang berdiri paling dekat, usahakan bisa memukul tengkuk atau kedua mata mereka !" Widura mengingatkan.
Tiba tiba, kedua blacan yang berjalan mendekat itu berlari dan melompat untuk menerkam.
Hhrrrrr ..... !
Namun, situasinya tidak semudah seperti apa yang diucapkan.
Widura dan seorang murid utama yang lain yang berdiri paling depan, merasa kesulitan menyarangkan pukulan mereka ke arah tengkuk ataupun kedua matanya. Pukulan mereka berdua hanya bisa hanya bisa mengenai samping tubuh siluman blacan.
Buuuggghhh ! Buuuggghhh !
Kedua siluman blacan itu terjajar kembali ke belakang. Sedangkan Widura dan satu murid utama yang berhasil mendaratkan pukulannya, merasakan sedikit sakit dan kesemutan.
Seperti mempunyai formasi menyerang, dua siluman blacan yang lainnya ikut maju.
Keempat siluman blacan itu berlari mendekat dan memudian melompat menerkam melayangkan cakarannya.
Dari empat siluman blacan itu, tiga siluman selalu dihadapi oleh tiga murid utama. Tenaga dalam yang mereka miliki, sudah lebih dari cukup untuk bisa melawan siluman siluman itu.
Yang terlihat kepayahan adalah Darutama dan Kaneko. Mereka berdua memaksakan diri untuk selalu maju dan tidak memberi peluang pada Puguh untuk ikut melawan.
Karena tingkat tenaga dalam mereka yang belum setinggi ketiga senior mereka. Sehingga sebentar saja, keduanya sudah terlihat kelelahan dan kedua lengan mereka sudah mendapatkan beberapa luka cakaran.
Pada suatu kesempatan, keempat siluman itu berlari mendekat dan melompat ke arah mereka secara bersamaan. Karena Widura dan kedua murid utama yang lain sedang fokus pada lawannya masing masing, mereka bertiga tidak sempat memperhatikan, saat Darutama dan Kaneko sudah kehabisan tenaga dalam mereka, sehingga saat satu siluman melompat ke arah mereka, mereka hanya mampu memandang namun tubuh sudah enggan bergerak.
Darutama dan Kaneko sudah pucat mukanya karena takutnya ketika tiba tiba ada yang berkelebat dan menghantam siluman yang mendekati mereka.
Buuuggghhh !!!
Bruuuaaakkk !!!
Siluman yang terkena hantaman itu terlempar dengan keras dan menghantam pohon yang berdiri di belakangnya, kemudian melorot jatuh dan tidak bergerak lagi dengan kepala pecah. Siluman itu mati. Tepatnya, siluman itu mati setelah terkena pukulan.
Melihat satu temannya jatuh dan tewas, ketiga siluman yang lainnya sejenak menatap dengan tajam, seolah memastikan kematian temannya.
Sedangkan ketiga murid utama, menoleh ke arah darimana siluman tadi terlempar. Mereka melihat Puguh berdiri diantara Darutama dan Kaneko, yang terlihat begitu kelelahan.
Terlihat Puguh agak terengah engah dengan posisi tangan seperti seorang yang habis memukul.
Memang, saat melihat Darutama dan Kaneko yang sudah tidak berdaya karena kehabisan tenaga dalam, Puguh yang berdiri di antara mereka berdua, reflek mengayunkan pukulan tangan kanannya, saat melihat satu siluman melompat dan siap menerkam ke arah mereka bertiga. Pukulan tangan kanannya tepat mengenai dahi, tepat di atas kedua mata siluman itu.
Ketiga murid senior itu sangat terkejut dan seperti tidak percaya, kalau yang membunuh siluman tadi Puguh, dan hanya dengan sekali pukul.
"Bagus ! Ayo maju, bantu kakang menghabisi mereka, adi Puguh !" kata Widura untuk menutupi keterkejutannya dan keheranannya.
"Eehhh ... baik kakang," jawab Puguh yang juga tidak percaya dengan hasil pukulannya.
Puguh bergeser maju mendekat ke arah ketiga seniornya berdiri.
Bersamaan dengan itu, ketiga siluman yang masih hidup itu sudah berlari kembali dan siap untuk melompat dan menerkam ke arah mereka.
Kembali ketiga seniornya berusaha menyambut datangnya serangan siluman dengan kekuatan pukulan mereka, yang seperti mendapatkan suntikan tenaga baru, melihat Puguh yunior mereka mampu memukul dan membunuh satu siluman.
Buuuggghhh ! Buuuggghhh !
Dua siluman yang dipukul Widura dan seorang murid senior, terdorong mundur hingga beberapa langkah. Sementara yang seekor lagi harus mengalami sial, disambut dengan pukulan tangan kanan Puguh.
Bruuuaaakkk !!!
Buuummm !!!
Kembali satu siluman terlempar cukup jauh dan kemudian jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi.
Melihat satu temannya kembali jatuh terbunuh, kedua siluman yang tersisa menjadi gentar. Gerakan mereka menjadi asal dan tidak teratur.
Keadaan itu dimanfaatkan oleh Widura dan kedua temannya untuk mencecar kedua siluman itu dengan serangan pukulan berkali kali. Hingga akhirnya kedua siluman blacan itu juga tewas terbunuh setelah mendapatkan banyak pukulan.
Setelah siluman blacan terbunuh semua, Widura mengumpulkan keempat tubuh siluman itu dan kemudian membakarnya.
Selain itu, melihat keadaan Darutama dan Kaneko, mereka tidak dapat langsung melanjutkan perjalanan. Sehingga terpaksa mereka berhenti dulu di tempat itu sambil menunggu Darutama dan Kaneko memulihkan tenaga dalamnya.
Untuk menjaga agar tidak ada binatang buas dan siluman yang mendekat, mereka membuat api unggun dari ranting ranting kering yang banyak berserakan di sekitar mereka. Walaupun sebenarnya, api tidak akan bisa mengusir siluman yang datang.
Tanpa mereka sadari, ternyata Darutama dan Kaneko butuh waktu seharian untuk memulihkan tenaga dalam mereka. Sehingga mereka bertahan disitu sambil beristirahat dan bersemedi sampai pagi hari berikutnya.
Setelah Darutama dan Kaneko pulih sebagian besar tenaga dalamnya, Widura menanyakan kesiapan mereka berdua.
"Adi Darutama dan adi Kaneko, apakah kalian tetap akan ikut melanjutkan perjalanan ini ? Apabila kalian ragu, kalian bisa pulang, mumpung ini masih di tepi hutan," tanya Widura.
"Kami masih sanggup untuk menyelesaikan tugas ini, kakang," jawab mereka berdua.
"Baiklah. Nanti sesudah matahari terbit, kita lanjutkan perjalanan. Ingat ! Kita harus tetap dalam kelompok ! Jangan ada yang memisahkan diri ! Kita tidak tahu, bahaya apa lagi dan siluman apa lagi yang akan menghadang kita. Atau mungkin ada binatang buas yang mengintai kita," kata Widura menjelaskan panjang lebar.
Setelah mereka selesai mempersiapkan semua yang mereka butuhkan, mereka berenam kembali melanjutkan perjalanan masuk ke hutan.
Mereka berenam merasakan, semakin melangkah ke dalam, suasana semakin bertambah gelap dan suhu udara terasa semakin dingin.
Semua hal itu, dikarenakan pohon pohonan semakin rapat dan semakin besar besar.
Namun keadaan itu tidak menyurutkan langkah mereka dalam memasuki hutan guna menyelesaikan tugas yang dibebankan pada mereka.
__________ ◇ __________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Pokoke Mantaapp 👍👍
2024-02-26
0
Gatot Suharyono
cerita bagus, bahasa halus enak bacanya !
2023-10-01
2
Budi Efendi
mantap thorrr
2023-02-28
1