Sejak dulu, bahkan saat ini pun masih, terjadi persaingan antara kademangan satu dengan yang lainnya. Yang menjadi akar permasalahan persaingan antar kademangan pun juga sangat kompleks. Dari kepentingan ekonomi sampai kepentingan politik.
Pada suatu saat, Ki Demang Pandan Ireng dipanggil menghadap ke Kadipaten.
Dalam perjalanan ke kadipaten, dikawal oleh dua belas prajurit yang dipimpin oleh dua pimpinan prajurit salah satunya Ki Trajutomo.
Sebenarnya Ki Demang Pandan Ireng juga bisa ilmu kanuragan dan sakti. Tetapi, sebagai seorang demang tetap butuh pengawalan prajurit untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya.
Hal itu juga untuk membedakan orang biasa yang menjadi pendekar dan sakti, dengan penguasa suatu daerah yang sama sama sakti.
Saat menghadap ke kadipaten, Ki Demang Pandan Ireng mendapat kepercayaan untuk memasok bahan makanan ke kadipaten. Hal ini menimbulkan rasa iri dari demang demang lainnya.
Dalam perjalanan pulang, saat rombongan Ki Demang Pandan Ireng melewati Alas Jati Mare, dihadang oleh rombongan dari kademangan Watu Wot yang bekerja sama dengan rombongan kademangan Waringin Putih. Tidak terelakkan lagi, terjadi pertempuran di antara mereka.
Dalam pertempuran itu, prajurit prajurit Kademangan Pandan Ireng yang berjumlah dua belas orang harus menghadapi gabungan prajurit dari Kademangan Watu Wot dan Kademangan Waringin Putih yang berjumlah dua puluh orang.
Walaupun sudah membunuh sepuluh prajurit lawan, situasi di medan pertempuran tetap tidak menguntungkan para prajurit Kademangan Pandan Ireng, karena mereka pun sudah kehilangan separuh kekuatannya.
Merasa tidak mungkin untuk bertahan dengan keadaan itu, Ki Trajutomo sebagai salah satu pimpinan prajurit, segera menyuruh pimpinan prajurit yang satunya untuk segera membawa lari Ki Demang Pandan Ireng sementara Ki Trajutomo akan menahan lawan semampunya sampai Ki Demang Pandan Ireng benar benar sudah aman.
Pemimpin prajurit itu sebenarnya hendak membantah dan menjawab apa yang dikatakan oleh Ki Trajutomo. Namun pikirannya bekerja dengan cepat.
Benar juga. Keselamatan dan nyawa Ki Demang Pandan Ireng adalah yang paling utama.
Akhirnya dengan mengesampingkan kata hatinya dan jiwa ksatrianya, pemimpin prajurit itu dengan beberapa prajurit pengawal yang dia pilih, segera mundur dari pertempuran dan segera lari menjauh, sejauh yang bisa mereka usahakan.
Sementara itu, Ki Trajutomo dan dua prajurit yang masih tinggal, berusaha menahan sepuluh prajurit gabungan dua kademangan.
Setelah berhasil membunuh empat lagi prajurit lawan, akhirnya Ki Trajutomo dan dua prajurit yang tersisa gugur dalam pertempuran.
Berita itu bisa dipastikan kebenarannya setelah sehari kemudian, Ki Poyo diutus oleh Ki Demang Pandan Ireng untuk mengambil jasad para prajurit Kademangan Pandan Ireng yang gugur.
Karena memandang jasa Ki Trajutomo yang besar, Ki Demang Pandan Ireng mengijinkan Nyi Traju dan Puguh yang saat itu masih berumur tiga tahun untuk tinggal di Kademangan dan menjadikan Nyi Traju sebagai tukang keluarga Kademangan, hingga sampai sekarang ini.
Hari telah menjelang sore, saat Ki Poyo selesai bercerita tentang ayahnya Puguh, Ki Trajutomo. Mereka pun segera berkemas untuk membawa pulang kereta dan kuda yang sudah kering.
----- v -----
Tibalah hari dimana Ki Demang Pandan Ireng harus mengantarkan bahan makanan ke Kadipaten.
Selain dikawal oleh selusin prajurit Kadipaten yang ditugaskan untuk menjemput dan menjaga keamanan bahan makanan, Ki Demang Pandan Ireng juga masih membawa selusin prajurit kademangan kepercayaannya yang di pimpin oleh dua pemimpin prajurit, untuk mengawal iring iringan bahan makanan yang jumlahnya mencapai empat kereta.
Diberi tugas untuk menyediakan bahan makanan untuk Kadipaten adalah suatu kepercayaan, maka dari itu, Ki Demang Pandan Ireng mengajak serta seluruh keluarganya. Sehingga seluruh rombongan menjadi enam kereta yang terdiri dari empat kereta memuat barang dan dua kereta membawa keluarga Ki Demang Pandan Ireng.
Dalam rombongan keluarga itu, selain emban pembantu termasuk juga Nyi Traju. Atas permintaan Den Roro, Puguh akhirnya diajak juga untuk menemani Den Roro selama dalam perjalanan.
Kereta yang paling depan, dikendarai oleh salah satu prajurit yang didampingi oleh salah satu pemimpin prajurit, diisi Ki Demang Pandan Ireng dan istrinya.
Sedangkan kereta kedua diisi oleh kedua anak Ki Demang Pandan Ireng yaitu Den Roro dan Den Bagus, serta tiga orang emban dan Puguh. Kereta itu dikendarai oleh Ki Poyo.
Rombongan itu didahului oleh para prajurit Kadipaten sebagai rombongan paling depan. Sedangkan prajurit kademangan menyebar di samping kiri kanan dan belakang rombongan.
Hanya membutuhkan waktu setengah hari, rombongan Ki Demang Pandan Ireng sampai di Kadipaten.
Mereka disambut dan diterima oleh salah satu wakil keluarga Adipati dan disediakan rumah untuk menginap. Karena baru esok harinya mereka disuruh menghadap ke Adipati.
----- v -----
Setelah tiga hari berada di Kadipaten, rombongan Ki Demang Pandan Ireng pulang. Mereka dikawal oleh prajurit Kadipaten sampai dengan tapal batas ibukota Kadipaten.
Setelah tinggal rombongan Kademangan, barisan kereta dirubah. Dua kereta barang di depan dan dua kereta barang yang lainnya di belakang. Sedangkan dua kereta yang memuat keluarga Kademangan berada di tengah tengah.
Sambil menunggu kedatangan prajurit Kademangan yang bertugas menyusul dan menjemput rombongan Ki Demang Pandan Ireng.
Baru saja mereka meninggalkan perbatasan, rombongan Ki Demang Pandan Ireng dihadang oleh rombongan orang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala kain hitam berjumlah sekitar tiga puluh orang.
Tanpa bertanya ataupun ada basa basi tegur sapa, para penghadang berpakaian serba hitam itu langsung menyerang.
Karena jumlah rombongan yang banyak, namun jumlah prajurit pengawalnya kalah banyak membuat suasananya histeris dan kacau. Walaupun para prajurit sudah berusaha menjaga keselamatan anggota rombongan, namun karena kalah jumlah, membuat para penghadang bisa menerobos dan mendekati kereta penumpang.
Sementara itu, di dalam kereta yang ditumpangi oleh Puguh. Den Bagus, Den Roro, Puguh dan ketiga emban mendengar teriakan teriakan di luar. Dalam hati, mereka bertanya tanya ada apakah yang terjadi di luar.
Tiba tiba terdengar suara Ki Poyo yang kepalanya melongok ke dalam kereta.
"Semuanya, apapun yang terjadi di luar dan apapun yang kalian dengar, jangan ada yang keluar dari kereta !" kata Ki Poyo.
Sesaat kemudian, mereka mendengar suara berdentingan senjata tajam beradu.
Traaang ! Traaang ! Traaang ! Traaang !
Puguh dan Den Bagus duduk mematung. Sementara Den Roro sudah didekap oleh Nyi Traju karena menangis ketakutan. Demikian juga dua emban yang lain, matanya sudah sembab penuh dengan air mata karena menahan tangis.
Tiba tiba terdengar suara kain penutup kereta sobek terkena senjata tajam.
Breeettt ! Breeettt !
Dari kain yang terkoyak terkena senjata golok, tiba tiba muncul sesosok orang berbaju serba hitam dengan penutup kepala kain hitam dan memegang golok yang sudah memerah bilah goloknya karena terkena darah.
Saat orang itu hendak masuk, Den Bagus memberanikan diri memukul kepala orang itu.
Plaaak !!!
Orang itu terkejut dan dengan mata melotot, memandang ke arah Den Bagus dengan pandangan penuh hawa membunuh.
"Bocah kurang ajar ! Akan aku habisi kalian semua !" teriak orang itu sambil mengayunkan goloknya.
__________ ◇ __________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Joosss Tenan...!! 👍👍
2023-04-19
1
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪💪
2023-04-19
1
BaronMhk
lanjutkan
2023-02-12
1