Hari hari terus berlalu. Den Roro telah sembuh dari sakitnya.
Hari ini Den Roro terus menerus merengek pada ibunya, Ndoro Ageng untuk diperbolehkan keluar rumah besar untuk melihat anak laki laki kecil yang katanya anaknya Nyi Traju, orang yang merawatnya selama sakit.
Den Roro menjadi sangat penasaran karena selama sakit, beberapa kali Nyi Traju bercerita tentang anaknya yang bernama Puguh. Den Roro sangat penasaran karena selama ini hanya ada Den Bagus kakaknya yang berusia sembilan tahun yang menjadi teman mainnya dan tidak ada anak kecil lainnya. Itupun hanya kadang kadang, karena sebagai anak laki laki, Den Bagus harus melakukan banyak latihan yang memang untuk anak laki laki.
Sebagian besar waktunya, Den Bagus habiskan untuk berlatih kanuragan, berlatih menunggang kuda, berlatih memanah, berlatih sastra dan masih ada banyak hal yang harus mulai dia latih.
Hal itu menyebabkan Den Roro jarang bermain bersama dengan kakaknya itu, sehingga Den Roro menjadi kesepian dan bosan hanya bermain main dengan pengasuhnya.
Den Roro sendiri sekarang ini berusia tujuh tahun. Hanya terpaut setengah tahun dengan Puguh. Masa usia yang mulai ingin tahu segalanya. Ingin tahu dunia luar. Seperti halnya Den Roro yang terus meminta pada Ndoro Ageng agar diperbolehkan mencari teman.
Akhirnya, karena rengekannya yang terus menerus, Ndoro Ageng mengijinkannya untuk bermain dengan anak Nyi Traju yang katanya bernama Puguh.
Segera saja Den Roro mencari Nyi Traju dan meminta Nyi Traju untuk membawa anaknya ke rumah besar agar dia ada teman bermainnya.
"Besuk pagi ya Den Roro," kata Nyi Traju, "Wayah wayah begini biasanya Puguh sudah diajak oleh Ki Poyo."
"Tidak ! Aku ingin melihatnya sekarang !" kata Den Roro nekad sambil melangkah keluar dari rumah besar menuju halaman samping tempat para prajurit berlatih. Nyi Traju mengikutinya dari belakang.
Saat itu kebetulan Ki Poyo belum jadwalnya memandikan kuda dan kereta, sehinggaKi Poyo dan Puguh berada di tepi lapangan samping tempat para prajurit berlatih.
Puguh sedang sibuk membantu Ki Poyo menyiapkan perbekalan bagi para prajurit yang berlatih.
Bersamaan dengan itu, Den Roro tiba di tepi lapangan samping. Dilihatnya ada dua orang yang sedang sibuk menyunggi, membawa tempat perbekalan dengan meletakkan di atas kepalanya.
"Itukah anak kecil anak Mbok Traju ?" kata Den Roro dalam hati, "Badannya kurus."
Kemudian Den Roro dengan tanpa ragu ragu, mendekat ke arah Puguh.
"Namamu Puguh ya ?" tanya Den Roro tiba tiba.
Puguh yang sedang agak keberatan dengan barang bawaannya, terkejut mendengar ada yang menyebut namanya. Karena keterkejutannya sampai Puguh berlaku kurang sopan terhadap Den Roro.
"Iya, nama saya Puguh," kata Puguh.
"Sssttt ..... le, yang sopan sama Den Roro," sahut Ki Poyo.
Den Roro seolah tidak menghiraukan ucapan Ki Poyo. Hatinya terlalu senang akan ada teman bermain.
"Ayo ikut denganku," ajak Den Roro dengan melambaikan tangan kanannya ke arah Puguh.
Puguh hanya bisa mengikuti kemana Den Roro berjalan. Sedangkan Ki Poyo hanya bisa memandangi punggung mereka yang berjalan meninggalkan mereka sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Sesampainya di pendopo rumah besar, Den Roro berhenti dan badannya berbalik menghadap ke puguh.
"Kamu Puguh kan, anak Mbok Traju ?" kata Den Roro, " Panggil aku Den Roro. Kamu menemani aku bermain di sini."
Puguh hanya bisa mengangguk dan menjawab, "Nggih."
Akhirnya Puguh menemani Den Roro bermain main sampai sore. Semua permainan yang diinginkan Den Roro, dicobanya, walaupun seringnya Puguh tidak paham bagaimana permainan itu.
----- ○ -----
Waktu berjalan dengan pelan tapi pasti. Tidak terasa, sudah enam bulan Puguh menjalani hari harinya.
Badannya terlihat semakin tegap, walau tetap sedikit kurus. Itu karena setiap hari Puguh menjalani hari harinya dengan kegiatan yang tanpa disengaja membentuk tubuhnya menjadi lebih kuat dibanding anak anak biasa seumurannya.
Bahkan walaupun usianya masih tujuh tahun, tetapi kekuatan dan kecepatannya tidak kalah dari anak berusia sepuluh tahun.
Setiap malam tiba Puguh mengulang ulang cara bernafas yang dia coba. Bahkan dia melakukan olah pernafasan itu dengan berbagai posisi. Kadang dengan kepala di bawah dan kaki di atas dengan tubuh disandarkan di dinding kamar. Kadang dengan menggantung dengan kedua kaki di palang kayu dekat tempat tidurnya. Terkadang saat diajak Ki Poyo memandikan kuda dan kereta ke sungai, dia bermain menyelam dan menahan nafas selama mungkin di dasar sungai.
Saat menemani bermain Den Roro, Puguh sering melihat para prajurit berlatih dengan gerakan gerakan tertentu dan dengan senjata yang beraneka jenis.
Saat di kamarnya, Puguh seringkali mencoba gerakan gerakan yang pernah dia lihat. Bahkan, di balik semak semak dekat sungai, Puguh menyimpan beberapa kayu yang dia buat menyerupai senjata yang pernah dia lihat. Di semak semak itu, Puguh menyimpan kayu yang dia buat menyerupai senjata tombak, senjata pedang, senjata golok.
Apalagi Ki Poyo yang sangat sayang pada Puguh, sering membantu membuatkannya dan membiarkan Puguh sesukanya dan sepuasnya melakukan dan meniru gerakan gerakan prajurit yang dilihatnya, saat di daerah tepi sungai, tanpa pernah melarangnya.
Sehingga tanpa ada orang lain yang mengetahuinya, Puguh, anak yang baru berusia tujuh tahun, mempunyai tubuh yang kuat, gesit dan lincah serta sudah bisa memainkan tehnik tehnik menggunakan beberapa senjata.
----- ○ -----
Pada suatu hari saat masih pagi pagi sekali, Puguh diajak Ki Poyo ke tempat Ki Poyo tinggal, di deretan kandang kuda belakang komplek bangunan Kademangan. Hal ini Ki Poyo lakukan agar tidak kedahuluan Den Roro mengajak Puguh bermain.
Karena Ki Poyo ingin mengajak Puguh ke sungai memandikan kuda dan kereta.
Puguh dengan cekatan membantu Ki Poyo memasang kuda pada kereta dan menyiapkan keperluan yang lain.
Setelah mereka berdua mengambil perbekalan di dapur untuk diantarkan pada prajurit prajurit di beberapa tempat, mereka berdua segera menuju hulu sungai yang berada cukup jauh di belakang komplek bangunan Kademangan.
Sesampai di sungai, seperti biasa mereka memandikan kuda dan keretanya. Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Puguh bermain main di sungai, di tepi sungai sepuasnya.
Saat hari memasuki tengah hari, mereka belum pulang. Ki Poyo sengaja mengajak Puguh untuk duduk di bebatuan pinggir sungai.
"Dia sudah semakin besar, sudah saatnya aku menceritakan tentang bapaknya," kata Ki Poyo dalam hati.
"Ngger Puguh, apakah simbokmu pernah bercerita tentang bapakmu ?" tanya Ki Poyo sambil mengajak Puguh untuk mendekat.
Puguh menatap Kk Poyo dengan tajam. Kemudian kepalanya bergerak menggeleng.
"Sini, pakdhe ceritakan tentang bapakmu," kata Ki Poyo lagi.
Kemudian Ki Poyo bercerita.
Suami Nyi Traju atau bapaknya Puguh yang nama lengkapnya Trajutomo, dulunya adalah seorang prajurit andalan Kademangan Pandan Ireng.
Oleh Ki Demang Pandan Ireng, Ki Trajutomo sangat dipercaya dan selalu disuruh mengawalnya kemanapun Ki Demang Pandan Ireng pergi ke luar Kademangan.
Selain jujur, berani dan setia, Ki Trajutomo mempunyai ilmu silat setingkat dengan pimpinan prajurit Kademangan.
__________ ◇ __________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
cupa
pengawal yg dipercaya, keluarganya dibiarkan dikandang kuda beuh..
2025-03-28
0
Sibuhuan Buhuan
mantap thor
2024-03-01
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ayoo dukung novel ini, dengan cara: Like, Koment, Vote, Hadiah dan Gift 🌹 👍👍💪💪💪
2023-04-13
1