Hari demi hari, mereka bertiga menjalani kehidupan di Padepokan Macan Kumbang. Banyak hal hal baru yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat atau alami di Kademangan. Terutama bagi Den Bagus dan Den Roro, yang terbiasa hidup serba mudah, semua serba disiapkan.
Selama hampir enam bulan, Puguh menjalani kehidupan yang paling berat. Sebagai murid di Padepokan, selain mengurus dirinya sendiri, dia juga harus membantu emban yang mengurus semua keperluan Den Bagus dan Den Roro.
Di Padepokan Macan Kumbang, mereka juga bertemu dengan anak atau keluarga dari Kademangan lain. Secara diam diam, terjadi persaingan di antara mereka. Persaingan kekuatan ataupun persaingan berebut pengaruh pada murid murid yang lain.
Persaingan ataupun permusuhan yang terjadi antar penguasa Kademangan, ternyata berimbas dan terjadi pula dalam pergaulan murid murid Padepokan.
Den Bagus dan Den Roro, yang telah dikenal seluruh murid dan guru guru Padepokan Macan Kumbang, diam diam sering dimusuhi oleh murid murid Padepokan yang berasal dari keluarga Kademangan Waringin Putih.
Memang akhir akhir ini, Ki Demang Waringin Putih sering membuat masalah dengan Ki Demang Pandan Ireng, walaupun tidak secara langsung. Namun gelagat itu bisa dibaca.
----- o -----
Pada suatu siang selesai latihan kanuragan di lapangan padepokan, di pinggir lapangan di bawah pohon, Puguh sedang membantu membereskan alat alat latihan Den Bagus dan Den Roro.
Tiba tiba lewat tiga anak anak seusia Den Bagus. Mereka adalah anak anak dari Ki Demang Waringin Putih, yaitu Wirayoga, anak sulung yang usianya sekitar sembilan setengah tahun. Dan kedua adik kembarnya, Wirayuda dan Anjani yang berusia tujuh tahun.
Saat tepat di depan Den Bagus, mereka bertiga mentertawakan Den Bagus.
"Haha ha ha ..... Heiii anak manja, mau pulang ya ? Apa mau ganti popok ?" tanya Wirayoga.
Mendengar kata kata itu, Den Bagus diam saja.
Melihat Den Bagus tidak terpancing omongan, kemudian Wirayoga mendekati Puguh. Tiba tiba kakinya menendang buntalan yang sudah dirapikan oleh Puguh, hingga berantakan kembali.
"Heiii ! Apa yang kau lakukan ! Kenapa kau menendang barang barang kami ?" kata Den Bagus agak keras.
"Terus kenapa ? Kamu tidak terima ?" jawab Wirayoga.
"Rapikan lagi semua yang kau buat berantakan !" teriak Den Bagus.
"Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan !" jawab Wirayoga lagi sambil badannya dipepetkan ke badan Den Bagus.
"Kau jangan sekali kali berani denganku !" bisik Wirayoga di dekat telinga Den Bagus.
Tangan Den Bagus sudah sangat gemetaran hendak melepaskan pukulan, namun dia masih menahan diri.
Melihat Den Bagus tidak terpancing, Wirayoga mengira, Den Bagus takut padanya. Maka, dengan kedua tangannya, Den Bagus didorong hingga terhuyung huyung ke belakang.
"Hei ! Kita tidak ada permasalahan ! Kenapa engkau mengganggu kami ?" kata Den Bagus.
"Kita memang tidak ada permasalahan ! Tetapi kalian adalah masalah bagi kami !" jawab Wirayoga sambil telapak tangan kanannya mendorong keras dada Den Bagus.
Buggghhh !!!
Den Bagus jatuh terjengkang. Baru saja Den Bagus jongkok dan hendak berdiri, tiba tiba kaki kanan Wirayoga menendang ke arah dada Den Bagus.
Mengetahui ada yang hendak menendang dadanya, reflek Den Bagus menghindar sambil menggeser tubuhnya dan kemudian berdiri lagi dan bersiap apabila ada serangan lagi.
Melihat bocah di depannya bisa menghindari tendangannya, Wirayoga bertambah membabi buta menyerangnya.
Akhirnya terjadi pertarungan, karena Den Bagus tidak hanya menghindar, namun juga mulai membalas serangan Wirayoga.
Walaupun lebih muda dan baru sebentar berguru di Padepokan Macan Kumbang, namun Den Bagus bisa mengimbangi Wirayoga.
Hal itu membuat Wirayoga semakin tersulut emosinya, hingga akhirnya Wirayoga menghunus goloknya.
Melihat itu, Puguh segera mengingatkan Den Bagus.
"Sudahlah Den, mari kita pulang, tidak usah menanggapinya," kata Puguh pada Den Bagus.
Mendengar perkataan Puguh, Den Bagus terdiam dan gerak tubuhnya mengatakan kalau dia tidak ingin melanjutkan bertarung, walaupun dia juga belum mundur.
Tetapi mendengar kata kata itu dan melihat siapa yang berkata, membuat Wirayoga semakin meledak amarahnya. Akhirnya amarahnya dilampiaskan pada Puguh.
"Kamu hanya batur ! Tidak usah ikut campur !" teriak Wirayoga sambil mengayunkan goloknya mengarah ke kepala Puguh.
Den Bagus yang berdiri di depan Puguh namun terhalang oleh Wirayoga yang membelakanginya, hanya bisa berteriak. Demikian juga Den Roro yang berdiri di belakang Puguh hanya bisa menjerit.
"Puguh !!! Awaaasss !!!
Di saat yang bersamaan, Puguh melihat ada bahaya yang mengancam dirinya. Tanpa dia sadari syaraf syaraf seluruh tubuhnya yang tanpa sengaja cukup terlatih, reflek bekerja merespon tanda bahaya dari otaknya.
Syaraf syaraf matanya bekerja hingga Puguh bisa melihat dengan jelas gerakan golok. Kaki Puguh bergerak menghindar disertai gerakan tangan kanan yang menghantam mengenai tepat pada pergelangan tangan kanan Wirayoga yang sedang mengayunkan golok. Golok Wirayoga terlempar jatuh.
Paaaccckkk !!!
Praaannnggg !!!
Kemudian, dengan pangkal bahu kanannya, Puguh mendorong dada Wirayoga yang menyebabkan tubuh Wirayoga terlempar ke belakang dan jatuh terlentang.
Buggghhh !!! Bruuukkk !!!
Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka semua hanya melihat, tiba tiba tubuh Wirayoga terjengkang ke belakang dengan golok terlepas dari genggamannya.
Untuk beberapa saat, Wirayoga merasakan sesak di bagian dadanya dan kesulitan bernafas, hingga hanya terdiam dengan mata melotot dan tangan kiri menekan nekan dadanya.
Wirayuda segera mendekat dan membantu kakaknya denga memijit pijit punggung Wirayoga. Sedangkan Anjani, yang sebenarnya tidak suka dengan perbuatan kakaknya, diam saja sambil matanya memandang ke arah semua yang dilakukan Puguh.
Sementara, Puguh yang sudah membereskan buntalan yang akan dibawanya, segera mengajak Den Bagus dan Den Roro berjalan pergi dari tempat itu.
Setelah hilang rasa sesak di dadanya, Wirayoga segera memaksakan diri berdiri. Sambil terhuyung huyung, Wirayoga memandang ke arah Puguh serta Den Roro dan Den Bagus pergi sambil berteriak.
"Heeeiii !!! Budaaakkk !!! Awas kau ! Kalau ketemu lagi, kuhajar kau !"
"Sudahlah kakang ! Kenapa kakang senang membuat masalah dengan mereka !" kata Anjani sambil beranjak pergi.
"Kalian ! Adik yang tidak bisa membela kakaknya !" teriak Wirayoga yang tidak digubris oleh Anjani. Sedangkan Wirayuda diam saja kemudian menyusul ke arah Anjani pergi.
----- o -----
Puguh serta Den Bagus dan Den Roro sampai di bangunan tempat anak anak Ki Demang Pandan Ireng tinggal.
Setelah meletakkan peralatan latihan milik Den Bagus dan Den Roro pada rak penyimpanan, Puguh segera beranjak ke belakang, ke arah kamar dekat dapur tempat dia tidur.
Namun, baru beberapa langkah Puguh berjalan, Den Roro memanggilnya.
"Puguh, kemarilah sebentar !" kata Den Roro.
Puguh pun menghentikan langkahnya dan mendekat ke arah Den Roro.
"Iya Den Roro, ada apa ?" tanya Puguh.
Den Roro melangkah mendekati Puguh, dan melihat ke seluruh tubuh Puguh.
"Bagaimana, apakah ada yang terluka dengan tubuhmu ?" tanya Den Roro.
"Tidak Den Roro. Tidak ada yang terluka," jawab Puguh.
"Syukurlah," kata Den Roro lagi.
Kemudian Puguh segera kembali melangkah ke arah belakang, menuju ke kamarnya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
Made Budi Astawa
/Grin/
2023-10-04
1
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪💪
2023-04-19
1
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Maantaapp...!! 👍👍
2023-04-19
1