Puguh senang sekali diajak oleh Ki Poyo. Terutama sekali diajak naik kereta dan melihat para prajurit berlatih di halaman samping.
Di sela sela waktu mengantarkan perbekalan untuk para prajurit, Puguh mencuri curi kesempatan untuk melihat apa saja yang dilakukan oleh para prajurit selama mereka berlatih, walaupun hanya sekilas sekilas, karena bila ketahuan melihat para prajurit berlatih, akan dimarahi.
Pada siang menjelang sore, Puguh diajak Ki Poyo ke sungai yang letaknya cukup jauh dari komplek Kademangan. Disana mereka memandikan kereta beserta kudanya sekalian. Mereka cukup lama berada di situ. Karena sekalian menunggu kering, kereta serta kudanya dan juga sekalian menunggu waktu untuk mengambil kembali peralatan perbekalan para prajurit. Kecuali ada tugas lain yang harus dikerjakan Ki Poyo akan didatangi oleh prajurit yang diutus oleh Ki Demang.
Di sungai itu, Puguh cukup leluasa untuk melihat lihat keadaan sekitar sungai. Dia banyak bertanya pada Ki Poyo dan Ki Poyo pun dengan senang hati menjelaskan pada Puguh.
Hingga akhirnya sore hari, mereka pulang ke Kademangan. Sesampainya di kamarnya, Puguh mendapati kamarnya masih kosong, simboknya belum pulang.
Sambil menunggu waktu simboknya pulang, Puguh kembali mengulang cara mengatur pernafasan yang kemaren malam dia coba. Karena dia merasakan, hal itu bisa membuat pikirannya tenang.
Mengatur pernafasan yang dilakukan kali ini berlangsung lebih lama. Karena dia tidak dalam keadaan lapar seperti kemaren. Sebab selama bersama Ki Poyo tadi, Puguh disediakan berbagai macam makanan.
Karena lelah seharian bersama Ki Poyo, setelah mengatur pernafasan beberapa lama, Puguh kembali tertidur dalam posisi duduk bersila. Hingga akhirnya pada tengah malam, simboknya pulang dengan membawa makanan, Puguh tidak terlalu antusias dengan makanan yang dibawa simboknya, tetapi lebih bersemangat bercerita tentang semua yang dia kerjakan bersama Ki Poyo.
"Kamu harus nurut sama pakdhe Poyo, agar pakdhe Poyo tidak mendapatkan marah karena kesalahanmu," nasehat simboknya.
Puguh hanya mengangguk senang, karena simboknya tidak melarangnya untuk bersama Ki Poyo.
---------- o ----------
Hari demi hari berlalu dan tanpa terasa sudah sepuluh hari Puguh menjalani semua yang dia lakukan, baik saat bersama Ki Poyo maupun saat di kamar sendirian.
Berhari hari menemani Ki Poyo, Puguh mendapatkan banyak sekali pengetahuan.
Baru sepuluh hari berlalu, tetapi terlihat, tubuh Puguh sudah terlihat tidak kurus lagi. Karena selama bersama Ki Poyo, Puguh tidak pernah kekurangan makanan. Dan yang tanpa dia dan simboknya sadari, berkat melatih pernafasannya, tubuh Puguh lebih terlihat tegap walaupun dia baru berusia enam tahun. Dan juga nafasnya lebih panjang.
----- o -----
Pada hari berikutnya, seperti biasa, Puguh menunggu datangnya Ki Poyo di gerbang ceketheng. Sejak pagi pagi sekali dia sudah mandi dan meminta ganti pakaian pada simboknya.
Puguh sudah menunggu beberapa lama. Tetapi sampai dengan hari menjelang siang, Ki Poyo belum muncul juga.
Puguh menjadi bingung, apa yang harus dia lakukan. Puguh pun melangkah melewati gerbang seketheng untuk melihat, mungkin Ki Poyo berada di luar. Tetap tidak ada. Akhirnya Puguh semakin keluar, melewati para prajurit yang sedang berlatih. Karena para prajurit beberapa hari ini sudah terbiasa melihat Puguh lewat bersama dengan Ki Poyo, maka Puguh didiamkan saja, tidak ditegur ataupun dimarahi.
Puguh mencari sampai ke gapura gerbang depan, tetapi tetap Ki Poyo tidak ada. Para prajurit penjaga gerbang pun juga sudah menganggap biasa dengan kehadiran Puguh, karena seringnya Puguh lewat bersama Ki Poyo.
"Apa mungkin pakdhe sudah ke sungai ya ?" kata Puguh dalam hati.
Akhirnya Puguh nekad mencari Ki Poyo ke sungai tempat beberapa hari ini dia bermain main setiap di ajak Ki Poyo.
Setelah berjalan kaki cukup lama, akhirnya Puguh sampai di sungai. Di sana pun dia tidak mendapati adanya Ki Poyo. Karena kelelahan setelah berjalan cukup jauh, Puguh pun duduk di batu di pinggir sungai untuk beristirahat. Batu tempat biasanya dia menaruh pakaiannya saat dia bermain main di sungai.
Sungai tempat Ki Poyo dan Puguh mencuci kereta dan memandikan kuda itu masih termasuk bagian hulu, karena masih dekat dengan sumber mata airnya. Sehingga airnya masih sangat jernih. Karena daerah belakang komplek Kademangan itu termasuk dataran luas sehingga aliran sungainya tidak terlalu deras walaupun ada bagian bagian sungai yang cukup dalam.
Sambil duduk di atas batu, Puguh melihat lihat keadaan sungai. Saat sepi tidak ada orang atau hewan yang masuk ke sungai, air sungai jadi kelihatan jernih. Begitu jernihnya sehingga bebatuan di dasar sungai terlihat.
Akhirnya muncul rasa ingin masuk dan bermain di sungai. Kemudian, dengan cepat Puguh melepas semua pakaiannya dan hanya menyisakan ****** yang tetap dipakainya untuk masuk ke dalam air sungai.
Setelah Puguh mendekat ke sungai, ternyata bebatuan di dasar sungai yang airnya sangat jernih, menyajikan pemandangan yang indah dan menarik rasa penasarannya.
Begitu asyiknya bermain main di sungai, terutama melihat bebatuan di dasar sungai, tanpa disadarinya, Puguh sampai ditempat yang agak dalam, sehingga harus menyelam untuk bisa melihat dasar sungai.
Cukup lama Puguh menyelam dan berpindah pindah tempat. Puguh tidak menyadari, betapa dia setiap menyelam, bisa cukup lama, bisa tiga hingga lima menit. Hal itu karena, tanpa sadar dia berlatih olah pernafasan setiap malamnya.
Bagi orang biasa yang melihat Puguh, anak kecil yang baru berusia enam tahun menyelam bisa sampai lima menit bahkan lebih, akan takjub.
Tanpa terasa, Puguh bermain main di sungai hingga sore hari. Diapun pulang dan sampai di gerbang Kademangan menjelang petang. Dengan tergesa gesa Puguh masuk ke Kademangan dan segera menuju me kamarnya karena takut dimarahi oleh simboknya.
Sesampai di kamarnya, ternyata simboknya juga belum pulang. Akhirnya seperti malam malam sebelumnya, Puguh melewati malam itu sendirian, karena saat tengah malam simboknya baru pulang.
Tengah malam saat simboknya pulang, seperti biasa Puguh sudah tertidur hingga dibangunkan oleh simboknya untuk makan makanan yang dibawa oleh simboknya.
Sambil makan Puguh menanyakan pada simboknya, kenapa Ki Poyo tidak mengajaknya mengantar perbekalan.
Nyi Traju menjelaskan kalau Ki Poyo pagi pagi sekali harus mengantar tabib yang mengobati Den Roro ke Kadipaten untuk mencari bahan ramuan obat dan malam hari baru pulang.
Nyi Traju juga menjelaskan pada Puguh anaknya, kalau tugas utamanya adalah tukang pijat Kademangan, sehingga sampai saat Den Roro sembuh pun harus tetap siap di Dalem Ageng rumah utama Kademangan.
----- o -----
Tanpa terasa enam bulan berlalu. Hari demi hari selalu Puguh lewati dengan kegiatan yang secara tidak langsung membentuk kekuatan fisiknya. Malam hari dia pakai untuk melatih pernafasannya sambil menunggu simboknya pulang. Pagi hingga sore hari dia gunakan untuk berenang dan menyelam di sela sela waktu membantu Ki Poyo saat diajak ke sungai. Kadang diajak oleh Ki Poyo melihat prajurit berlatih, kemudian malamnya mencoba meniru gerakan yang dia lihat.
Akhirnya Puguh tumbuh menjadi anak yang lincah dan gesit. Walaupun usianya baru enam setengah tahun dan badannya kecil dan agak kurus, tetapi terlihat lebih tegap dan lebih kuat dibanding anak anak seusianya.
__________ ◇ __________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 325 Episodes
Comments
Taufiq Sabila
Penderitaan yg bagus... hanya mesti sabar karena pace nya cenderung lambat... tapi kayaknya menjanjikan ceritanya...
2024-02-12
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Joosss Tenan...!! 👍👍
2023-04-13
1
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
2023-04-13
1